The way I love you
Genre: Drama,Hurt
Rating: Pg 13 For now!
Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Kim Haneul
Author: Kim Hyunri
Warning: Cerita ini mungkin biasa di awal,tapi tidak menutup kemungkinan kalau akan ada adegan kekerasan di dalamnya. Apa itu? Akan di ungkap bersama berjalannya cerita.
Summary:
Jaejoong mempunyai ayah baru,tidak pernah tinggal bersama membuatnya harus menyesuaikan diri dengan keluarga barunya. Di tambah dengan kehadiran orang yang tidak menyukainya.
Chapter One,
5 tahun yang lalu..
Pria berkacamata itu menghembuskan asap rokok dari mulut dan hidungnya. Saat ini ia sedang berada di dalam ruangan yang di penuhi dengan barang-barang mewah,di sudut ruangan terdapat lemari besar berisi minuman-minuman beralkohol dengan berbagai merk terkenal.
"Jadi apa yang kau dapatkan,Yon ah?" Tanya pria itu pada wanita berpakaian hitam di depannya. Wanita bernama yon ah itu tersenyum lalu mengulurkan sebuah amplop berwarna cokelat yang ia bawa.
Pria tadi membukanya lalu terperangah melihat isi dari amplop itu. Lembaran-lembaran foto yang menampilkan berbagai pose seseorang. Yon ah mendapatkannya secara sembunyi-sembunyi beberapa hari lalu.
"Dia orang yang anda ingin ketahui"
Pria itu membuka kacamatanya, "Benarkah ini dia?"
"Iya,Tuan"
Pria bermata musang yang bernama Yunho itu menatap tak berkedip pada orang yang ada di foto. Orang yang dulu terakhir kali ia lihat masih kecil.
"Dia..dia tumbuh dengan baik" Kata Yunho,masih melihat foto itu satu persatu, "Dan sangat...cantik"
Yunho tersenyum,tidak salah keputusannya dulu. Perkiraannya memang tak salah,dan sekarang ia akan mendapatkan hasilnya.
"Jaejoong~"
.
.
.
.
Jaejoong menatap sekitar bandara,melihat satu persatu orang yang baru keluar dari pintu kedatangan. Ia belum melihat dua orang yang di tunggunya itu padahal pesawat yang mereka naiki sudah mendarat setengah jam yang lalu.
Haneul menelepon Jaejoong di bandara translit menuju ke seoul,memberitahukan anaknya jam berapa pesawatnya akan mendarat.
Tak lama kemudian,dua orang yang Jaejoong tunggu keluar juga. Haneul tersenyum pada anaknya,sedangkan Yunho memasang wajah biasa sambil melihat kearah Jaejoong.
"Omoni,bogoshippo" Jaejoong memeluk ibunya dengan erat,ia seperti ingin menangis. Selama ini Haneul memang sering mengunjunginya di Jepang tapi tak pernah lama,karena wanita itu harus mengikuti suaminya berdinas keluar negeri.
Jaejoong melepaskan pelukannya lalu tersenyum pada Yunho. Ia kemudian memeluk ayahnya.
"Aboji" Yunho merasa asing dengan panggilan itu. Changmin memang sering memanggilnya seperti itu tapi entah kenapa mendengarnya dari Jaejoong terasa berbeda.
"Selamat datang,anakku" Yunho membalas pelukan Jaejoong lalu Jaejoong pun mengeratkan pelukannya.
"Sudah nanti di rumah kita berpeluk-pelukkan lagi. Ayo kita pulang" Kata Haneul membuat Jaejoong melepaskan pelukannya.
Yunho memperhatikan Jaejoong dari atas hingga bawah,dan apa yang Yon ah beritahukan selama ini memang benar. Jaejoong tumbuh menjadi pria yang sempurna di usianya yang ke 18.
.
.
.
"Apa kau sudah bertemu dengan adikmu?" Tanya Haneul di dalam mobil. Jaejoong yang duduk di samping supir menoleh kebelakang.
"Sudah"
"Apa kalian sudah akrab?" Tanya Haneul lagi. Jaejoong menggeleng sambil tersenyum.
"Tapi Omoni jangan khawatir,perlahan-lahan kami juga akan akrab.." Kata Jaejoong.
"Hampir tidak mungkin" potong Yunho. Kedua orang lainnya menatap bingung kearahnya.
"Kau tidak perlu menutupi sikap Changmin padamu. Aku sebagai ayahnya tahu,orang seperti apa Changmin itu"
Mata Yunho dan Jaejoong bertemu. Jaejoong baru menyadari kalau mata ayahnya sangat indah. Dia langsung buru-buru membenarkan duduknya.
"Joongie,kau tak perlu kecewa..Changmin hanya butuh waktu"
"Iya,Omoni aku mengerti"
.
.
.
.
.
Jaejoong membantu supir membawa barang-barang orang tuanya,sedangkan Yunho berjalan tanpa ada niat membantu.
"Biar saya saja,Tuan"
"Tidak usah,Ahjussi" Jaejoong menggeret 2 koper milik ayah dan ibunya dengan cukup kesulitan. Tapi dengan kerja keras akhirnya ia sampai juga di depan pintu kamar orang tuanya.
Tok tok tok
"Masuk" Seru Yunho dari dalam.
Ceklek
"Mian,Aboji. Aku ingin mengantarkan ini" Kata Jaejoong kemudian setelah membuka pintu. Yunho mengangguk. Ia memperhatikan Jaejoong yang sibuk dengan koper-koper itu. Jaejoong tersenyum setelah selesai,lalu berbalik. Matanya tak berkedip melihat punggung telanjang Yunho di depannya. Mungkin Yunho akan mandi.
"Ada apa?" Tanya Yunho dengan nada biasa. Jaejoong menggeleng lalu pamit untuk pergi. Sepeninggalan Jaejoong,Yunho menatap bayangannya di cermin. Tubuhnya tinggi dan tegap,Haneul sering menyebut tubuhnya sebagai tubuh pria sempurna. Dan wajah tegasnya menambah kesempurnaan itu.
.
.
.
.
Jaejoong pergi ke dapur untuk membantu para pelayan menyiapkan hidangan makan malam untuk ia juga orang tuanya. Jaejoong ingin membuat makanan yang lezat,yang pernah ia praktekkan di Jepang dulu.
"Za!" Jaejoong menatap bangga makanan buatannya yang sekarang sudah tersedia di meja makan.
Ia melihat kearah pintu kamar orang tuanya yang terlihat dari lantai satu sambil tersenyum,ia melarang salah satu maid yang ingin memanggil orang tuanya.
"Biar aku saja" Jaejoong melangkah dengan riang menuju ke kamar orang tuanya.
Sesampainya di depan pintu,senyum Jaejoong menghilang. Ia melihat kedua orang tuanya sedang berciuman sangat dalam seolah-olah ayahnya akan memakan bibir ibunya,meski begitu mata Yunho tetap terbuka dan melihat pada Jaejoong yang terpaku di tempatnya.
Jaejoong menutup pintu kamar didepannya lalu pergi dari sana.
"Mana Nyonya dan Tuan?" Tanya Jinyoung. Jaejoong tersenyum.
"Nanti mereka akan turun"
"Oh,baiklah" Jinyoung pun pergi meninggalkan Jaejoong sendiri.
Jaejoong menggelengkan kepalanya,berusaha menolak semua yang ada di pikirannya.
"Joongie" Jaejoong tersentak,melihat sang ibu yang berdiri di belakangnya.
"Omoni" Haneul tersenyum.
"Ayo kita makan" Haneul duduk terlebih dulu sedangkan Yunho sudah sibuk meminum tehnya. Mata Yunho terpejam,lalu tepat saat membuka mata,yang ia lihat adalah Jaejoong.
Jaejoong kembali terhenyak,lalu terburu-buru duduk di kursi makannya. Ia berusaha tidak melihat pada Yunho karena mata pria itu seolah akan menarik nyawanya keluar.
"Dimana Changmin?" Tanya Jaejoong sambil melihat sekitar.
"Dia tidak akan pulang" Jawab Yunho sambil mengunyah makanannya. Jaejoong melihat raut biasa saat Yunho mengatakan itu.
"Kenapa? Apa selalu begitu?"
"Iya,sayang. Changmin tidak pernah betah berada di rumah" Kata Haneul menjawab.
"Tapi jika ia butuh uang ia akan pulang" Kata Yunho dengan nada dingin.
Jaejoong tak meneruskan pembicaraan ini. Yang ia tahu hal seperti ini menjadi biasa dan tak perlu di khawatirkan,sama seperti yang Yunho ucapkan lewat sorot matanya.
.
.
.
Hari sudah malam,Jaejoong baru sadar waktu karena sibuk membaca buku,ia juga lupa belum meminum susu lalu dalam keadaan mengantuk ia berjalan menuju dapur. Ditengah jalan ia melewati ruangan yang merupakan ruang kerja ayahnya yang lampunya masih menyala. Ia melihat pada sela pintunya,sang ayah sedang berdiri membelakangi pintu dan tampak sedang menelepon.
"Iya,aku belum sempat ke rumahmu...aku baru pulang dari Jerman..ya pasti. Hm,baiklah. Bye" Yunho menyudahi pembicaraannya. Ia merasa saat ini seseorang tengah mengawasinya dan dari bau yang ia cium,tak salah lagi pasti...
"Jaejoong" Jaejoong terantuk pintu di depannya. Yunho membuka pintu,melihat Jaejoong yang tersenyum lucu.
"Mian,aku.."
"Masuklah" Yunho membuka pintunya,mempersilahkan Jaejoong masuk. Jaejoong sedikit ragu tapi ia tetap masuk juga.
Pria manis itu mengedarkan pandangannya,melihat ruang kerja ayahnya yang tampak elegan.
"Kau suka Wine atau Scotch?"
"A-aku tidak minum keduanya" Kata Jaejoong gugup. Yunho menghentikan gerakan tangannya yang akan mengambil gelas wine.
"Ah aku lupa. Sekarang peraturan batas minum wine untuk anak di ubah menjadi 21 tahun" Kata Yunho. Lalu berjalan kearah Jaejoong yang masih berdiri.
"Duduklah,aku ingin bicara denganmu," Kata Yunho, "Sebagai seorang ayah dan anak"
Jaejoong mengangguk. Yunho mempunyai aura yang tak dapat di tolak.
Cukup lama mereka terdiam. Yunho melihat pada Jaejoong,sedang Jaejoong menundukkan wajahnya.
"Kita memang tak akrab sebelumnya,tapi aku ayahmu" Kata Yunho memulai, "Dan kau anakku"
"Dan aku akan mencarikan Universitas yang bagus untukmu. Kau ingin program study apa?"
Jaejoong tersenyum. "Aku suka melukis"
Yunho cukup terkejut, "Dan aku tidak menyukai itu" Kata Yunho tegas. Kali ini Jaejoong yang terkejut. Suaranya mengecil.
"K-enapa?"
"Jaejoong" Yunho memandang lekat mata Jaejoong, "Itu hanya kegiatan bodoh yang di lakukan orang bodoh"
Jaejoong terkejut dengan ucapan Yunho.
"Sama seperti Changmin yang suka bermain sepak bola" Lanjut Yunho.
"Aku menginkan anak-anakku meneruskan kerajaan bisnis seorang Jung. Bukan untuk menghabiskan sisa hidup kalian dengan hal-hal bodoh tadi" Jaejoong terdiam,melihat wajah tegas ayahnya.
"Dan kau pasti tahu kalau Changmin tak bisa di andalkan. Jadi..." Yunho menjeda ucapannya, "Aku mengandalkanmu"
Tubuh Jaejoong sedikit melemah.
"Aku akan melatihmu menjadi orang yang di takuti di dunia bisnis. Sama sepertiku,Jung Yunho"
Jaejoong tahu,hidupnya akan berubah setelah ini.
.
.
.
Jaejoong tidak bisa tidur semalam akibat perbincangan dengan Yunho dan baru tertidur beberapa jam lalu,tapi tadi ibunya menyuruhnya bangun.
"Kantung matamu hitam,sayang" Kata Haneul setelah Jaejoong duduk.
"Semalam aku sulit tidur,Omoni" Katanya lemas. Ia melihat kursi tempat ayahnya biasa duduk dan tak mendapatkan siapapun berada disana.
"Kemana Aboji?"
"Dia pergi pagi-pagi sekali karena ada rapat penting. Dia juga berpesan agar kau siap-siap" Kata Haneul membuat mata Jaejoong terbuka sempurna.
"Untuk apa?"
"Entahlah. Nanti siang ia akan mendaftarkanmu ke salah satu Universitas "
'Jadi yang semalam itu bukan main-main?' Tanya Jaejoong dalam hati. Ia terdiam,apakah ia bisa menjadi seseorang yang ayahnya mau?
.
.
.
Changmin menengadahkan kepalanya keatas ketika rasa seolah melayang di rasakannya. Ia baru saja menelan obat berwarna merah jambu dari temannya.
"Jadi..bagaimana dengan saudara tirimu itu,Changmin?" Tanya Kyuhyun dengan suara parau. Di ruangan yang bercahaya temaram itu,hanya mereka berdua yang masih sadar,sedangkan kelima lainnya sudah tergeletak tak berdaya di lantai.
"Maksudmu anak pelacur itu?"
Kyuhyun tertawa, "Kau selalu memanggilnya begitu,padahal kalian baru bertemu"
"Hei dengar!" Changmin menatap sayu pada Kyuhyun, "Kalau kau melihatnya,kau pasti membencinya. Sama sepertiku"
"Aku heran padamu,kau selalu bilang ingin punya saudara lelaki,tapi sekarang?"
"Akh,aku tak perlu siapapun! Aku hanya perlu uang dan Obat surga itu" Kata Changmin sambil menyeringai.
.
.
.
Jaejoong memandang keluar jendela mobil,memperhatikan satu persatu bangunan yang ia lewati. Saat ini ia dalam perjalanan menuju ke butik yang ayahnya suruh di telepon tadi. Yunho menyuruh supirnya untuk menjemput Jaejoong,sedang lelaki itu menunggu di butik.
Jaejoong tidak bertanya banyak pada ayahnya tadi,karena Yunho hanya bicara seperlunya. Jaejoong mendesah,kenapa ayah tirinya itu bersikap dingin padanya.
"Kita sampai,Tuan"
Lamunan Jaejoong terputus karena suara sang supir. Ia mengangguk lalu merapihkan penampilannya sebelum keluar dari mobil.
"Selamat datang" Seru seorang penjaga butik. Jaejoong tersenyum lalu matanya melihat sekitar.
"Aku.."
"Jaejoong" Jaejoong menoleh ketika suara ayahnya memanggil.
"Ikut aku" Kata Yunho yang langsung pergi meninggalkan Jaejoong. Jaejoong mengikuti Yunho kemanapun ayahnya itu pergi,pindah ke satu deretan pakaian ke deretan yang lainya. Yunho hanya memilih baju-baju yang ada di depannya. Tanpa meminta pendapat pada sang anak yang berada di belakang.
"Aboji.." Jaejoong memanggil Yunho dengan ragu. Yunho menghentikan langkahnya,tanpa membalikkan badan ia menoleh.
"Kau mencari baju model apa?" Tanya Jaejoong mengakrabkan diri dengan ayahnya. Yunho tidak menjawab dan kembali melakukan kegiatannya. Jaejoong menghela nafas. Kalau ia hanya di diamkan seperti ini kenapa ia di suruh datang?
"Besok,kita pergi ke Gala dinner" Kata Yunho tiba-tiba. Jaejoong tercengung. Apa? Gala dinner.
"Ta-tapi.."
"Aku tidak suka di bantah" Kata Yunho dengan nada biasa namun kuat. Jaejoong tahu ia tidak bisa menolak. Setelah itu ia hanya diam,mengikuti Yunho tanpa mengeluh.
"Coba semua pakaian ini" Kata Yunho memberikan beberapa helai pakaian yang sudah ia pilih. Jaejoong dengan terpaksa membawa semua itu kedalam kamar ganti.
.
.
.
Huft,kenapa aku harus menuruti semua perkataannya? Aboji punya sesuatu di mata dan suaranya yang membuat aku tak bisa menolaknya. Oh Tuhan,pribadi seperti apa Aboji itu?
Aku terkejut ketika pintu kamar ganti terbuka,menampilkan sosok Aboji.
"Sudah ku duga. Kau pasti belum mencobanya"
"Aboji.." Kataku sedikit tercekat. Aboji mengambil pakaian-pakaian itu dari tanganku.
.
.
.
Jaejoong terpaku ketika jari-jari panjang Yunho menelusuri kancing kemejanya,membuka satu persatu. Hatinya sudah berteriak dari tadi,tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
Yunho menatap mata Jaejoong dengan tatapan berbeda membuat Jaejoong terpana. Ada kelembutan di dalamnya membuat hati Jaejoong terasa hangat.
"Sudah lama Aboji ingin bertemu denganmu" Kata Yunho sambil menurunkan kemeja yang Jaejoong pakai,lalu menggantikannya dengan kemeja yang tadi ia pilih.
"Kau tumbuh dengan baik,Jaejoong" Kata Yunho, "Tapi tinggimu tidak melebihiku" Lanjutnya. Jaejoong seolah baru tersadar dari lamunannya setelah Yunho selesai mengancingkan kembali kemeja miliknya.
"Tapi kau tetap bukan anak kandungku" Kata-kata Yunho terdengar dingin. Sorot matanya pun berubah.
"Pakaian ini bagus. Kau menyukai semuanya kan? Maka semuanya bisa menjadi milikmu" Kata Yunho lagi,lalu ia pun keluar dari kamar ganti meninggalkan Jaejoong yang masih terdiam.
.
.
.
Sepanjang perjalanan,Jaejoong melamunkan perkataan ayahnya tadi. Semua yang ayahnya katakan tadi memang benar,ia hanya seorang anak tiri.
Jaejoong menoleh ketika terdengar bunyi ponsel yang ternyata berasal dari ponsel ayahnya. Yunho mengangkat telepon dari seseorang yang sangat di kenalnya.
"Kenapa?"
"..."
"Aku bilang jangan menghubungiku terlebih dulu,aku akan kerumahmu nanti. Bye"
Jaejoong bisa melihat tatapan tajam dari Yunho,mungkin mulai sekarang ia harus bisa mengartikan tatapan apa yang terdapat di sorot mata ayahnya.
"Setelah antarkan Jaejoong,kita pergi ke tempat biasa,Ahjussi" Kata Yunho tegas. Lee Ahjussi hanya mengangguk.
Jaejoong tidak berani bertanya walau ia sangat ingin tahu. Kemana ayahnya akan pergi dan bertemu siapa.
.
.
.
Yunho membuka pintu sebuah Apartemen dengan kunci otomatis yang ia miliki.
BRAK
"Yunho!" Seseorang memekik dari dalam. Yunho membuka Jasnya lalu melempar ke sofa terdekat.
"Miss you" Seseorang itu memeluk Yunho dari belakang. Yunho menyeringai.
"Kau memang tidak sabaran Daniel! Karena itu kau harus aku hukum"
Yunho menubrukkan tubuhnya pada tubuh Daniel,mendorongnya hingga jatuh keatas sofa. Ia membutuhkan waktu lama untuk ini.
TBC
Aku tau ff ini membosankan,tapi emang ceritanya lambat di awal. Nanti pas dapat 3 chap bakal lumayan cepet alurnya.
Apa aku menyampaikan karakter Yunho dengan baik di sini? Kalian bisa menebak sendiri,pria macam apa Jung Yunho disini.
Oh iya,sebelum ada yang bertanya,perbedaan umur Yunjae di sini 18 tahun,pedo kah? Hehe
dulu waktu Yunho nikah ma emaknya jj umurnya baru 23,jadi bisa di tebak berapa umur Yunho sekarang ^_^
Bingung? Ayo tanya di review,chap selanjutnya InsyaAllah aku jawab.
Review ne ^_^
