The way I love you

Genre: Drama,Hurt

Rating: PG 13 for now

Cast:

Jung Yunho - 42 tahun

Kim Jaejoong - 18 tahun

Kim Haneul - 41 tahun

Warning : ini ff pedo dan jika ada yang tidak suka dengan umur para chara harap tidak melanjutkan untuk membaca. Gomawo ^_^

Chapter Two

Jaejoong memandang sekitarnya, tak ada satu orang pun yang ia kenal kecuali Abojinya. Di acara besar seperti gala dinner ini mungkin hanya dirinya yang meminum jus jeruk. Minuman itu tak masuk dalam daftar menu, tapi Yunho menyuruh pelayan mengkhususkan minuman itu untuk sang anak.

Jaejoong melihat ayahnya sedang sibuk berbicara dengan seorang pria asing, berambut pirang dan berwajah Eropa. Lalu ia melihat sang ayah dan pria itu menghampirinya yang sedang duduk di kursi.

"Mr. Sean, kenalkan ini anakku" Kata Yunho sambil tersenyum ramah. Jaejoong cukup terkejut saat Yunho bicara dalam bahasa korea.

Mr. Sean tersenyum lalu mengulurkan tangannya, Jaejoong bangun dari duduknya lalu membalas uluran itu dengan sopan.

"Dia anak yang manis, Mr. Jung" Kata Sean sambil melihat Jaejoong dari atas hingga bawah.

"Tentu saja" Kata Yunho, "Dia puteraku"

"Eum, Jae. Apa kau ingin makan sesuatu?" Tanya Yunho yang melihat Jaejoong hanya minum saja. Jaejoong menggeleng.

"Ah, kau ingin steak? Ambillah di sana" Kata Yunho tegas. Jaejoong tahu Yunho menyuruhnya untuk makan. Tanpa berkata lagi ia pergi ke stand makanan meski ia tidak ingin makan apapun. Yunho tersenyum karena Jaejoong tidak membantahnya.

"Apa kau yakin tidak ingin mempertimbangkannya? Aku rasa penawaranku cukup tinggi" Kata Mr. Sean. Yunho tersenyum.

"Sudah aku katakan, tak bisa melibatkan anakku dalam bisnis kita" Katanya tegas. Sean menghentikan senyum tipisnya dan memasang raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.

"Padahal aku cukup menyukai anakmu itu" Yunho melihat pada Jaejoong. Jari tangannya mengerat meski ia tetap tersenyum.

"Saya..permisi" Yunho langsung menghampiri Jaejoong yang belum memilih apapun, memegang lengan anaknya cukup erat lalu membisikkan sesuatu.

"Kita pulang" Katanya tegas.

Jaejoong hanya menurut ketika ayahnya itu menarik tangannya.

Bruk

Jaejoong tidak tahu penyebab ayahnya bertindak agak kasar, sekarang pun wajah Yunho tampak tak bersahabat.

"A-apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Jaejoong agak takut.

"Tidak" Kata Yunho singkat. Jaejoong hanya bisa diam sambil mengelus lengannya yang sakit akibat di tarik ayahnya itu.

.

.

.

"Jae, ada apa dengan Aboji?" Tanya Haneul yang heran karena Yunho melewatinya begitu saja. Jaejoong menggeleng dan hal itu membuat Haneul khawatir.

"Apa kau membuat kesalahan di pesta tadi?"

"Tidak, Omoni. Tiba-tiba Aboji mengajakku pulang" Jaejoong benar-benar tak tahu alasan Yunho bersikap seperti itu.

Ketika Jaejoong dan Haneul berbicara, seseorang masuk agak mendobrak pintu.

"Wah..wah, para sampah sedang berkumpul, apa ada pesta?" Changmin datang dengan penampilan yang berantakan, ia tampak mabuk.

"Changmin ah" Haneul menghampiri putranya itu, berniat membantunya berjalan.

"Jangan sentuh, bitch!" Seru Changmin tajam, Haneul menjauhkan tangannya dari lengan Changmin.

"Aku tidak sudi di sentuh oleh sampah seperti kalian"

"CHANGMIN!" Ketiga orang itu menoleh pada Yunho yang baru saja membentak. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan 2 kancing bagian atas yang terbuka.

Plak!

Yunho menghampiri Changmin dan menampar anaknya itu hingga tersungkur ke lantai.

"Kau yang sampah! Jangan pernah berkata itu jika kau lebih buruk dari mereka" Kata Yunho marah. Sorot matanya yang tajam bertambah tajam.

Changmin menyeringai, "Setidaknya aku bukan orang yang berlindung di balik topeng" Kata Changmin sinis. Tanpa mempedulikan siapapun ia berjalan sempoyongan menuju kamarnya.

"Yeobo~" Haneul hampir menangis, mengusap dada suaminya agar amarahnya mereda.

"Lain kali jangan pedulikan anak itu" Kata Yunho lalu pergi kembali kekamarnya.

Jaejoong hanya diam, mencoba mencerna maksud dari ucapan Changmin tadi.

Ia merasakan ada banyak rahasia yang tersembunyi dalam keluarga ini, rahasia yang bisa mengungkap semuanya. Dan Jaejoong harus mencari tahu itu.

.

.

.

Yunho masih berada di ruang kerjanya meski ini sudah pukul 12 malam, ia sedang memeriksa sebuah file yang di kirim seseorang padanya. Saat sedang asik, ekor matanya melihat sosok Jaejoong yang melintasi ruang kerjanya. Dengan segera ia keluar untuk melihat anaknya.

Yunho tak menemukan Jaejoong dimanapun kecuali di dapur, ia melihat putranya mengaduk-aduk sesuatu di dalam gelas.

"Jae.." Jaejoong tersentak ketika Yunho memanggilnya, tadi ia masih memejamkan mata.

"A-aboji"

"Sedang apa?" Yunho melihat segelas susu putih didepan Jaejoong.

"Kau suka susu?" Tanya Yunho lagi, menyandarkan sikutnya pada counter dapur. Jaejoong mengangguk.

"Aku selalu minum susu sebelum tidur, padahal tadi aku sudah ketiduran dan terbangun hanya untuk membuatnya hehe" Jaejoong menertawakan dirinya. Ia baru berhenti karena Yunho diam dan hanya melihat padanya. Jaejoong cukup malu di lihat seperti itu.

"Kenapa?" Tanya Yunho heran. Jaejoong menggeleng sambil tersenyum gugup.

Yunho memperhatikan wajah anak tirinya dengan lekat, mencoba menghapal tiap jengkal wajah sempurna itu. Sekilas Jaejoong mirip dengan Haneul tapi ada bagian dari wajah ayahnya di sana.

Yunho seketika ingat pembicaraan dengan Sean malam tadi, mereka saling kenal cukup lama dan tentunya Sean tahu pribadi macam apa Yunho itu.

"Bagaimana kabar Haneul?" Tanya Sean pada Yunho. Yunho yang sedang memperhatikan Jaejoong, menoleh.

"Baik"

"Apa pria yang disana adalah anaknya?" Tanya Sean lagi. Yunho hanya tersenyum, mencoba menjaga wibawa.

"Cantik" Kata Sean sambil menyeringai, "Apa dia seperti ibunya yang seorang...bitch?"

Mendengar kata-kata itu Yunho menoleh lalu menatap tajam kearah teman bisnisnya itu.

"Kau.."

"Kenapa? Santailah, aku hanya bertanya" Sean merangkul pundak Yunho yang langsung di tepis oleh pria tampan itu.

"Aku ingin bicara fakta tentang..."

"Sorry, Mr. Sean. Ini bukan masalahmu" Yunho memotong ucapan Sean dengan formal.

"Kenalkan aku padanya" Sean berjalan kearah Jaejoong, di ikuti Yunho dari belakang.

"Aboji" Panggilan Jaejoong menyadarkan Yunho dari lamunannya.

"Kau..melamun" Yunho menggeleng lalu tersenyum, Jaejoong agak tersentak saat tangan Yunho mengusap rambut belakangnya.

"Sekarang tidurlah" Kata Yunho sebelum pergi meninggalkan Jaejoong yang terdiam.

Jaejoong tidak bisa menebak bagaimana sifat Yunho yang sebenarnya, kadang ayahnya itu dingin dan cuek, kadang juga hangat seperti tadi. Dengan perlahan, diusap rambutnya yang tadi di usap Yunho.

.

.

.

Yunho masuk kedalam kamarnya, melihat Haneul yang sudah terlelap di ranjang. Ia berjalan kearah lemari, membuka kancing kemejanya lalu mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Saat sedang memakai baju, ponselnya di atas nakas berbunyi.

Yunho menatap tajam kearah Id pemanggil pada layar ponselnya.

"Yeoboseyo"

"Tuan"

Yunho melirik kearah Haneul yang masih tertidur dengan posisi sebelumnya, ia pun masuk kedalam kamar mandi.

"Ada apa meneleponku?" Tanya Yunho langsung.

"Kau harus ke jepang, besok pagi" Kata orang di telepon agak cepat. Yunho tahu ada hal buruk yang terjadi.

.

.

.

"Kenapa tiba-tiba, baby?"

Jaejoong menoleh kearah tangga, kedua orang tuanya sedang berbicara sambil berjalan kearahnya yang duduk di kursi makan. Yunho sudah rapih dengan jas kerjanya.

"Entahlah, Jinhwang meneleponku semalam. Mungkin cabang disana membutuhkanku" Kata Yunho sambil duduk di ikuti oleh sang istri. Jaejoong yang tak tahu apapun hanya diam mendengarkan.

Mereka pun sarapan dalam diam, sebelum Changmin datang dengan berisik.

Bruk

Changmin mengambil sepotong roti tawar lalu mengoleskan selai cokelat kesukaannya. Yunho, Haneul dan Jaejoong hanya diam melihat Changmin yang tak menyentuh nasi goreng buatan Jaejoong.

"Changmin ah, kenapa tak makan nasi gorengmu?" Tanya Jaejoong polos. Changmin tak mempedulikan Jaejoong atau siapapun yang ada di ruang makan yang sama dengannya. Hal itu bukan hal aneh bagi Yunho dan Haneul, tapi jelas berbeda bagi Jaejoong.

"Changmin ah"

BRAK

Changmin berdiri tiba-tiba lalu pergi meninggalkan ruang makan dengan roti yang masih tergigit di mulutnya.

Jaejoong hampir bersuara jika Yunho tidak memulainya, "Biarkan saja anak itu. Teruskan makanmu" Kata Yunho santai. Mata Jaejoong terus melihat kearah Changmin berjalan. Ia ingin sekali dekat dengan saudara tirinya itu, tapi seperti ada dinding besar yang berdiri membatasi mereka.

"Aboji mau kemana?" Jaejoong melihat kearah koper yang tadi di bawa Yunho.

"Aboji akan mengunjungi cabang di jepang" Jawab Haneul mewakili Yunho. Wajah Jaejoong berubah ceria mendengar kata Jepang. Ia merindukan teman-temannya disana.

"Aku kesana untuk bekerja" Kata Yunho yang tahu maksud Jaejoong. Seketika wajah Jaejoong berubah masam. Haneul tersenyum, baru beberapa hari meninggalkan Jepang, anaknya itu sudah merindukan tempat ia di besarkan.

Yunho diam-diam melihat pada Jaejoong yang menunduk, bisa gawat kalau Jaejoong ikut, batinnya.

.

.

.

Changmin melihat kearah luar melalui jendela kamarnya, tepat di depan kolam renang, Jaejoong duduk sambil menenggelamkan sebagian kakinya di air. Changmin dulu sangat senang ketika Yunho memperkenalkan seorang anak lelaki yang seumuran dengannya, tapi ketika mengetahui fakta tentang orang-orang di sekitarnya membuat ia kehilangan rasa simpatinya. Ia merasa di bohongi, ia kecewa. Sangat.

Dengan kasar ia menutup gorden jendelanya, kembali pada kegelapan yang sangat ia sukai.

.

.

.

"Changmin, panggil dia Appa" Kata Yoonhe pada Changmin yang masih berusia 5 tahun. Changmin kecil hanya menunduk, tak mengerti kenapa orang yang bukan ayahnya harus ia panggil ayah. Tapi Changmin tak bisa menolak saat itu. Dengan takut-takut ia melihat pada sosok yang akan terus ia lihat selama masa pertumbuhannya. Orang itu berwajah tampan, tersenyum di depannya dengan arti yang tidak ia mengerti untuk anak seumurannya.

Ketika tangan itu terulur, kehidupannya juga berubah.

.

.

.

Di tempat yang serba putih itu, Changmin berdiri di ujung jalan, melihat kearah dua orang yang salah satunya terhimpit ke tembok oleh lainnya. Kedua orang itu saling berkata, tapi dari tempatnya berdiri, tak terdengar suara apapun kecuali bunyi hantaman yang terdengar setelahnya.

"Akh!"

Changmin terbangun dari mimpi dengan keringat membasahi tubuhnya, entah itu sudah mimpi yang sama untuk keberapa kalinya. Yang ia tahu, kenangan itu terus terulang dalam malam-malamnya.

"Fuck! Kau harus membayar hidupku yang sudah terganggu olehmu" Kata Changmin marah, ia mengusap wajahnya kasar.

.

.

.

Yunho tiba di sebuah rumah yang terpisah dari rumah lainnya. Ia di sambut oleh dua orang berpakaian hitam. Kedua orang itu menunduk hormat kearahnya.

"Ikut kami, Tuan" Kata salah satunya. Yunho hanya diam mengikuti kedua pengawal itu.

Di ujung lorong, tepatnya di depan sebuah kamar, berdiri seorang pria yang sangat Yunho kenal.

"Bagaimana, Minho? Apa masih gawat?" Minho menggeleng, lalu membuka pintu kamar yang ada di belakangnya.

"Kami sudah menyuntikkan obat bius dosis tinggi yang anda sarankan, mungkin ia akan bangun dalam beberapa minggu" Kata Minho menjelaskan, mereka berdua berjalan kearah ranjang tempat seseorang terbaring.

Keadaan orang itu tak jauh berbeda dari terakhir kali Yunho melihatnya, masih menyedihkan..atau lebih menyedihkan?

"Mana suster yang kau tugaskan menjaganya?"

"Dia terkena tendangan dari pria ini"

Yunho berdecih, "Terluka karena tendangan orang yang tak berdaya? Lemah sekali" Kata Yunho sinis.

"Mau bagaimana lagi, Tuan? Dia sudah terlanjur mengetahui tentang semua ini. Tak bisa kita menggantinya"

"Aku tahu..walau sangat terpaksa"

Yunho terus melihat kearah pria di atas ranjang. Ketika menemukannya 3 tahun yang lalu, Yunho tahu hal ini yang harus ia lakukan. Ia bisa saja menghilangkannya, tapi ia tidak akan mendapatkan kepuasan untuk itu.

.

.

.

Jaejoong memulai kelas pertamanya di bangku perkuliahan, ia belum mempunyai teman dan hanya duduk sendiri di ujung kelas.

"Hai" Jaejoong mendongkak ketika suara itu menyapanya. Seorang pria berwajah manis tersenyum padanya.

"Hai"

"Siapa namamu?" Tanya pria itu sambil mengulurkan tangannya.

"Kim Jaejoong, kau?"

"Aku, Cho Kyuhyun"

.

.

.

.

TBC

Jeng jeng

Lama ff ini gak berlanjut dan aku datang membawa kelanjutannya. Bagaimana menurut kalian? Membingungkan kah? Tenang, plot ff ini sudah tersusun dengan cara penyelesaiannya.

Kalau banyak yang suka, aku bakal update lanjutannya.

Yang sudah review jangan lupa review lagi ya..dan yang belum review silahkan perkenalkan diri kalian ^^