The way I love you

Genre : Drama, Hurt

Rating : PG 13 for now!

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Haneul

WARNING: Ff ini mungkin mengerikan buat sebagian orang karena terdapat karakter yang tidak sesuai kehendak orang itu sendiri padahal itu sebagian dari skenario yang sudah author pikirkan. Terdapat banyak typo dan adegan yang tidak masuk akal. Oleh karena itu lebih baik membaca warning ini terlebih dahulu. Sejauh ini para reader untuk ff ini belum ada yang begitu ^_^

Chapter three

Kyuhyun menatap punggung Jaejoong yang saat ini sedang mengantri makanan di konter yang ada di kantin. Sejauh ini menurut pengelihatannya apa yang di takutkan Changmin pada pria manis itu masih belum terbukti. Mungkin itu hanya pendapat Changmin yang dari awal tidak menyukai pria itu. Jaejoong cukup ramah untuk orang yang pertama kali berkenalan. Mereka juga sudah berbicara tentang pribadi masing-masing meski mereka tidak menyinggung masalah keluarga. Jaejoong memang tidak mengenal siapa Kyuhun yang merupakan sahabat dari adik tirinya.

"Mianhae menunggu lama.." Kata Jaejoong sambil tersenyum setelah tiba di samping meja mereka, membawa sebuah nampan yang berisi pesanan Kyuhyun dan juga pesanannya.

Kyuhyun tersenyum lalu membantu Jaejoong, mereka memulai makan siang mereka dengan tenang. Jaejoong cukup bersyukur mendapatkan seorang teman di tempat asing seperti kampus ini. Ia memang tidak pandai dalam urusan bergaul karena Jaejoong termasuk tipe yang tertutup. Di jepang saja ia hanya mempunyai beberapa teman.

"Oh iya, Kyuhyun. Dimana rumahmu?" Tanya Jaejoong sambil tersenyum. Kyuhyun terlihat berfikir, ia lupa kalau Jaejoong akan menanyakan itu.

"Aku tinggal di apartemen sendirian" Jaejoong hanya mengangguk. Ia hanya ingin jauh mengenal teman barunya ini.

"Kalau kau?" Tanya Kyuhyun tiba-tiba. Jaejoong tersenyum seperti biasa.

"Aku tinggal bersama orang tua dan saudara laki-lakiku" Katanya. Kyuhyun bisa melihat kalau Jaejoong cukup sedih ketika mengatakan itu.

"Lain kali aku ke apartemenmu ya, Kyuhyun" Kata Jaejoong. Kyuhyun hanya mengangguk ragu. Ia tidak berbohong tentang tinggal di apartemen, tapi ia belum bicara tentang ini pada Changmin. Mungkin sahabatnya itu akan marah ketika tahu ia berteman dengan Jaejoong.

.

.

.

Yunho keluar dari hotel tempatnya menginap pukul 8 pagi, pergi ke rumah yang ia datangi kemarin. Bukan karena ada masalah tapi ia hanya ingin mengontrol keadaan pria yang sedang tertidur itu.

Yunho mempunyai dendam masa lalu yang tidak pernah bisa ia hilangkan. Semua yang ia dapat di masa muda telah memupuknya menjadi pribadi yang tidak mempunyai hati nurani. Yunho hanya bermain di jalur yang sudah di ciptakan oleh ayahnya dulu.

Ia menyuruh para pengawal berjaga di luar rumah, sedang ia sendiri duduk di kursi samping ranjang. Jari-jarinya saling melekat satu sama lain, tak ada tekanan dan hanya seperti itu.

"Kau adalah teman masa kecilku. Kita bermain bersama seperti anak pada umumnya, selalu mempunyai kesukaan yang sama, dan masih seperti itu saat kita dewasa. Tapi ada satu hal yang kau ambil dariku, membuatku harus mengambil paksa milikmu. Semua, termasuk hidupmu"

Yunho menyeringai, ia merasa puas dengan semua ini. Tak ada yang lebih indah saat dendam yang kita punya, tersalurkan sesuai rencana.

"...Aku tak menyangka, anakmu telah menjeratku. Dan aku membenci itu"

.

.

.

.

Jreng..jreng..jreng

Jaejoong menekan tuts piano dengan random, mencoba menghibur dirinya yang sedang kesepian. Di rumah sebesar ini mungkin hanya dia yang tidak mempunyai aktifitas. Ia baru pulang kuliah dan tak menemukan ibunya di rumah. Pelayan bilang kalau ibunya sedang pergi ke salon seperti biasa.

Changmin keluar dari kamarnya untuk mengambil minum di dapur. Tak sengaja matanya melihat Jaejoong yang sedang melamun di depan piano. Berulang kali pria itu menghela nafas membuat Changmin bingung, ia berdiri di tempatnya cukup lama hingga Jaejoong menoleh dan tersenyum saat melihatnya.

Dengan buru-buru Changmin berjalan menuju kamarnya tapi Jaejoong sudah memanggilnya.

"Changmin, tunggu!" Jaejoong berlari dan berhasil menghalangi langkah Changmin. Changmin berdecih, merasa terganggu oleh orang di depannya. Dengan sekali tampikan, tubuh Jaejoong oleng ke samping.

"Minggir!" Kata Changmin kasar. Jaejoong tak mau, dan ia memegang kaki Changmin, berlutut.

"Aku mohon, Changmin. Setidaknya jadikan aku temanmu" Kata Jaejoong. Changmin menghela nafasnya.

"Kau tahu aku membencimu?"

Jaejoong mengangguk, "Meski aku tak tahu karena apa"

"Karena kau lahir dari wanita jalang itu"

Jaejoong menatap teduh kearah Changmin, "Tapi kenapa kau selalu memanggil Omoni dengan sebutan itu?"

"Wanita penghianat seperti dia harusnya mati!" Setelah berkata itu, Changmin menghentakkan kakinya keras, hingga Jaejoong melepaskan kaki saudara tirinya itu.

BRAK!

Jaejoong menutup matanya lalu menggeleng. Ia tersenyum berusaha menyemangati dirinya sendiri.

"Tidak apa-apa, Jaejoong" Katanya. .

.

.

'Yunho, aku baru saja menyatakan cinta pada seorang gadis, dan dia menerimaku' Yunho hanya tersenyum mendengar itu. Sudah lama sahabatnya itu tidak bicara tentang kekasih.

'Siapa dia?'

'Dia Jihun'

Senyum Yunho menghilang tepat setelah sahabatnya itu menyebut nama wanita yang ia kenal. Entah bagaimana Yunho harus bersikap.

Senang? Marah?

Apa yang akan kau lakukan jika orang yang kau cintai, menerima cinta pria lain? Tentunya kau akan sakit hati.

Yunho menyukai jihun selama 3 tahun, ia tak pernah berani menyatakan cinta pada wanita itu, meski begitu ia terus memberi perhatian padanya. Jihun selalu merespon dengan baik sinyal cinta yang Yunho berikan, membuat Yunho cukup percaya diri dengan itu. Tapi pernyataan sahabatnya tadi membuat ia merasa tertohok. Yunho sudah memberikan uang, waktu dan juga cinta untuk wanita itu, tapi apa yang ia dapat? Hanya sakit hati.

Yunho meremas seprai putih yang membalut ranjang itu. Sudah 20 tahun berlalu, tapi rasa sakit hatinya tak berangsur hilang. Terlebih dulu jihun mati karena sahabatnya itu.

"Kau merenggut apa yang menjadi milikku, sekarang giliranku. Hyunjung"

.

.

.

Semua orang berlari di seluruh rumah itu, berusaha menyelamatkan diri mereka dari musuh yang berhasil memasuki markas sang bos besar. Di sebuah banker yang tersembunyi di belakang lemari, tiga orang dewasa dan satu anak berusia 10 tahun itu berada di dalamnya. Sang anak terus saja menangis karena ketakutan mendengar suara tembakan yang sangat ia benci.

"Hiks aku takut hiks" Kata anak itu sambil menangis. Orang tuanya berjongkok di depannya sambil tersenyum.

"Kau tidak boleh takut, anak Appa bukan penakut" Kata pria dewasa itu. Si wanita dewasa ikut tersenyum.

"Kau disini lah bersama Ahjussi, nanti setelah aman kau bisa keluar"

"Ani Umma, Ani hiks"

"Anak pintar harus menurut" Kata si pria, mencium kening anaknya bergantian dengan istrinya.

"Jaga dia, Eunji" Kata wanita itu pada pria yang berdiri di belakang anaknya, setelah mendapat anggukan kedua orang itu pun keluar dari banker. Anak itu terus meronta ingin menyusul orang tuanya yang sudah menghilang di balik pintu banker.

"APPA...UMMAAAAA"

BRAK

"BRENGSEK!"

Yunho berteriak di dalam ruangan tempat ia berada sebelumnya, dengan kasar menghapus airmatanya. Ia benci dengan kenangan masa lalunya. Ia benci dengan semua yang ada di hidupnya.

.

.

.

Jaejoong melihat sekitar tempatnya berada, sebuah lorong apartemen yang cukup usang. Di depannya Kyuhyun sedang membuka pintu.

"Masuk, Jae" Kata Kyuhyun datar. Jaejoong mengikuti langkah Kyuhyun masuk kedalam apartemen milik sahabatnya itu.

"Duduklah" Jaejoong duduk di sebuah sofa yang kulitnya terkupas di beberapa bagian. Tadi setelah menyuruh Jaejoong duduk, Kyuhyun menghilang di sebuah bilik lalu beberapa saat kemudian ia keluar dengan pakaian yang berbeda.

"Kau ingin minum apa?" Tanya Kyuhyun sambil tersenyum.

"Apa saja"

Kyuhyun membuka kulkas kecilnya, mengeluarkan dua kaleng minuman bersoda. "Mian, aku tinggal sendiri jadi hanya ada minuman ini" Kata Kyuhyun sambil meletakkan satu kaleng minuman yang ia ambil keatas meja depan Jaejoong.

"Ah, iya..." Kata Jaejoong pelan. Ia cukup aneh dengan perkataan Kyuhyun tadi. Saat Kyuhyun membuka kulkas untuk mengambil minuman, Jaejoong yakin melihat banyak kaleng bir di sana. Kyuhyun berusia sama sepertinya yaitu 18 tahun, dan di umur itu belum di perbolehkan minum minuman seperti itu. Ia kira Kyuhyun tinggal bersama orang dewasa.

"Kyu, dimana orang tuamu?"

Kyuhyun hanya menatap Jaejoong cukup lama sebelum menjawab, "Mereka sudah meninggal. Saat aku berusia 10 tahun" Kata Kyuhyun dengan wajah sedih.

Jaejoong menyesal bertanya tentang itu, "Mianhae, aku tak tahu" Kata Jaejoong pelan. Kyuhyun hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Katamu, kau tinggal bersama orang tua dan saudaramu. Bagaimana tinggal dengan orang-orang yang kau sayangi?"

"Tentu saja aku senang" Kata Jaejoong berusaha tersenyum. Kyuhyun tahu, Jaejoong tak bicara yang sesungguhnya.

"Lalu bagaimana dengan saudaramu?"

"Saudaraku? Dia baik dan kami sangat akrab"

"Wah pasti kalian sering bersama" Kata Kyuhyun. Jaejoong hanya tersenyum.

'Seharusnya begitu' Kata Jaejoong dalam hati.

.

.

.

Hari ini Yunho pulang ke Seoul setelah memastikan keadaan di jepang bisa terkendali. Ia memasang beberapa kamera pada ruangan itu yang terhubung dengan laptop miliknya.

"Mana Jaejoong?" Tanya Yunho pada Haneul. Haneul yang sedang membantu Yunho mengganti baju hanya tersenyum.

"Ia sedang kuliah, mungkin sebentar lagi pulang"

"Oh ya, bagaimana kuliahnya?" Tanya Yunho melepas bajunya.

"Entahlah, sepertinya baik-baik saja" Kata Haneul cuek.

"Dia anak yang pintar, tidak seperti anak brengsek itu" Kata Yunho. Haneul tahu siapa yang suaminya maksud.

"Kau terlalu kasar padanya, dia tidak seperti itu"

"Kau selalu membelanya, padahal dia selalu kasar padamu" Sergah Yunho kesal. Haneul menggeleng.

"Aku tahu apa yang membuatnya begitu. Ini memang salah kita, wajar saja dia begitu" Sambung Haneul.

"Sudah hentikan! Jangan bicarakan anak itu" Kata Yunho marah.

Pintu kamar mereka yang tidak tertutup rapat kini menutup sempurna setelah seseorang pergi dari sana.

Jaejoong duduk di atas ranjang, masih di ingat apa yang baru saja ia dengar. Ibu dan ayah tirinya mempunyai salah pada Changmin? Apa itu? Pastinya itu sangat fatal kalau mengingat bagaimana tatapan Changmin padanya.

"Omoni"

.

.

.

Jaejoong lebih banyak diam malam ini, saat ia dan kedua orang tuanya makan malam, Jaejoong hanya melihat pada makan malamnya.

"Kau kenapa, Joongie?" Tanya Haneul pada anaknya. Jaejoong hanya menggeleng sambil tersenyum lemah. Ketika ada yang mengganggu pikirannya, ia akan banyak melamun.

"Bagaimana kuliahmu, Jae?" Tanya Yunho sesudah meminum air putih.

"Baik"

"Lalu kenapa?" Tanya Haneul sedikit memaksa. Jaejoong menghela nafas.

"Aboji, kenapa Changmin tidak kuliah?" Tanya Jaejoong membuat Yunho menatapnya.

"Jangan sebut anak itu..."

"Dia anakmu kan?!" Potong Jaejoong agak membentak, Yunho terkejut dengan itu. Anak yang ia anggap polos ternyata bisa menatapnya tajam.

Yunho tersenyum, "Tentu saja" Jawab Yunho dengan lembut.

"Lalu kenapa kau tampak menganak-tirikannya?" Tanya Jaejoong makin berani.

Yunho memasang wajah datarnya, "Aku tidak suka anak yang pembangkang" Katanya, "Jika kau ingin sepertinya, silahkan. Tapi jangan panggil aku Aboji" Setelahnya Yunho bangun dari duduknya, pergi ke arah kamar tanpa mempedulikan siapapun.

"Jo-joongie" Jaejoong hanya menunduk.

.

.

.

Changmin baru pulang dari apartemen Kyuhyun pukul 11 malam, dengan langkah biasa ia memasuki rumah yang sengaja tidak di kunci oleh maid khusus untuknya. Ketika ia melewati ruang tengah, suara deheman terdengar. Changmin memutar bola matanya jengah, tentu saja malas bertemu dengan Yunho.

"Kau sangat mempermalukan keluarga Jung. Kau memang tak pantas menjadi anakku" Kata Yunho tanpa memandang Changmin dan pandangan matanya terus mengarah pada koran di tangannya.

"Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi sungguh...kau seperti sampah" Lanjut Yunho datar. Changmin mengepalkan tangannya, merasa terhina dengan sebutan itu.

"Kenapa? Jangan karena kau tahu semuanya, kau bisa melawanku. Dengar, bahkan ibumu bertekuk di bawahku" Kata Yunho masih dengan wajah datarnya, kini ia sudah menatap Changmin.

"Kalau aku boleh memilih, aku lebih ingin menjadi gelandangan daripada harus bersamamu" Kata Changmin menatap tajam pada Yunho.

"Wow! Seperti inikah ucapan dari anak yang aku besarkan? Kau sama seperti ayahmu. Bodoh dan tak tahu diri" Kata Yunho tersenyum meledek. Changmin menahan nafas sejenak, berusaha menahan tetes airmata yang ingin keluar dari bola matanya. Selama 18 tahun hidupnya yang tak berarti, orang di depannya ini lebih sering menyakitinya. Changmin membenci Yunho, sangat. Tapi pria itu selalu bisa menjeratnya agar tetap berada di bawah kaki.

Dan Changmin sungguh membenci itu, membenci dirinya yang tak mampu berbuat apa-apa.

"Changmin, kau tetap anakku seperti Jaejoong, tapi aku tak segan menyakiti kalian kalau kalian membantahku. Perintah dan perkataan Jung Yunho adalah benar. Ingat itu" Kata Yunho panjang, kemudian ia berjalan kearah kamarnya.

Changmin menunduk, airmatanya menetes tanpa bisa ia cegah. Changmin tak menginginkan apapun, hanya ingin hidupnya kembali normal seperti 12 tahun lalu. Tentunya dengan menghilangkan iblis itu dari hidupnya.

.

.

.

Entah kenapa dada Jaejoong berdenyut sakit setelah melihat Changmin yang menangis. Ia memang baru datang, tapi ia tahu kalau seseorang telah menyakiti Changmin. Rasa ingin mendekat sekarang jauh lebih kuat. Ia tahu Changmin membutuhkan seseorang yang bisa menjadi teman dan sandaran ketika lemah.

.

.

.

Pagi-pagi sekali Jaejoong sudah selesai membuat roti isi. Ia tersenyum melihat hasil karyanya. Ia sengaja membuatnya untuk Changmin. Ia akan berusaha mulai hari ini.

Tok..tok..

Karena tak ada jawaban, Jaejoong mencoba masuk kedalam kamar Changmin, masuk perlahan kearah tempat tidur dan melihat saudara tirinya sedang meringkuk disana. Jaejoong terkikik melihat Changmin yang tidur berantakkan.

"Seperti anak kecil saja" Gumam Jaejoong. Ia lalu meletakkan roti isi buatannya di atas nakas samping tempat tidur bersama segelas susu. Ia selalu melihat Changmin sarapan dengan roti dan ia berfikir kalau membuat roti isi adalah ide yang bagus. Dengan pelan Jaejoong keluar dari kamar Changmin.

Tak berapa lama kemudian, Changmin membuka matanya lalu duduk. Di usap wajahnya yang tampak buruk karena menangis semalam. Ia merasa tenggorokannya kering , di tolehkan wajahnya kesamping dan menemukan segelas susu juga roti isi yang tak biasanya ada disana. Ia berfikir kalau maid yang membuatkannya, sebelum melihat nama dari orang yang ia kenal, ada pada sebuah kartu yang terselip di bawah gelas susu.

"Untukmu, Changmin. Semoga suka. Jaejoong"

Terdapat tanda senyum pada akhir kalimat. Tanpa sadar Changmin tersenyum melihatnya. Ia belum pernah di buatkan makanan dengan memo yang unik seperti itu dan tentu saja ia senang.

Apa? Senang?

Changmin langsung menggeleng, ia tidak boleh seperti itu, siapa tahu ini hanya jebakan dan ia tidak boleh tertipu.

Tapi, di mata Changmin roti isi itu sangat indah dan menggiurkan, tidak pantas untuk di abaikan. Jika ia memakannya dengan lahap juga tidak ada yang melihatnya.

.

.

.

"Kau terlihat bahagia, Joongie" Kata Haneul sambil tersenyum.

"Apa terlihat?" Tanya Jaejoong dengan bodoh.

"Apa kau sedang jatuh cinta?"

"Ah, Omoni bisa saja" Kata Jaejoong tersipu. Kedua orang itu saling bergurau tanpa tahu seseorang menatap sinis pada mereka.

"Siapa dia?" Tanya Yunho tiba-tiba. Seketika tawa ibu dan anak itu terhenti.

"Ah tidak, Aboji"

"Siapa orang yang membuat anakku bahagia seperti ini?" Tanya Yunho lebih jelas.

'Aku akan membunuhnya'

Ceklek

"Changmin" Panggil Jaejoong ketika melihat Changmin keluar dari kamar. Pria itu tidak mempedulikan panggilan Jaejoong dan terus berjalan ke pintu keluar.

"Dia belum sarapan" Kata Haneul agak sedih.

"Tidak, Omoni. Dia pasti sudah kenyang" Sahut Jaejoong, berlari kedalam kamar Changmin lalu keluar dengan gelas dan piring kosong. Pria manis itu tersenyum, menunjukkan apa yang ia bawa pada orang tuanya.

"Tadi, aku membuatkannya susu dan roti isi, dan ia sudah menghabiskannya" Kata Jaejoong dengan riang, membuat Haneul dan Yunho menatapnya dengan tatapan berbeda.

Haneul dengan tatapan haru sedang Yunho dengan tatapan datar.

'Dia memang istimewah' Kata Yunho dalam hati.

TBC

Di chapter sebelumnya rata-rata readers bingung dengan ff ini. Semoga di chapter ini sedikit mengurangi rasa bingung dan penasaran kalian. Aku tidak berusaha membuat ff ini rumit, hanya ingin membuat sesuatu yang beda saja. Kalau ada yang tidak suka dengan cerita yang aku buat tolong tinggalkan ff ini tanpa pesan. Gomawo ^^

Ah iya, ada yang sudah tahu jalan cerita ff ini? Ayo di tebak. Hehe

Jangan lupa review ya ^_^