The way I love you

Genre : Drama, Romance, Angst

Rating : Nc 17

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Kim Haneul, and other

Warning : di sini sifat Yunho OOC banget dan aku tahu kalau itu mempunyai image yang buruk untuk ff ini tapi aku hanya ingin membuat cerita yang berbeda. Jika ada diantara readers yang kecewa atau pun tidak suka, tolong tinggalkan ff ini. Gomawo ^_^

Author's note : Apakah ini bisa jadi ff minjae? *smirk*

Ada perubahan umur dan waktu kejadian perkara #elah. Umur Changmin 3 tahun lebih tua dari Jaejoong. Hmm apa lagi yah?

Chapter 4

Sebuah botol minuman berhasil tertangkap oleh Changmin, "Thanks, Kyu"

"Benarkah Aboji mu mengatakan itu?" Tanya Kyuhyun yang duduk di samping sahabatnya. Changmin mengangguk sambil meneguk minumannya.

"Dia bisa mengatakan apapun, ketika marah ia akan berkata lembut tapi menyakitkan untuk mengingatkan kita tentang kesalahan" Kata Changmin. Kyuhyun terdiam. Changmin tahu semua tentang Yunho bahkan sifatnya, tapi kenapa sampai saat ini masih saja bertahan, tidak langsung membeberkan semuanya.

'Aku tahu kau menyayanginya' Gumamnya dalam hati. Ia memperhatikan Changmin, melihat pada mata pria itu yang tampak lembab, pasti semalaman ia menangis.

Kyuhyun bertemu Changmin 10 tahun yang lalu, saat menghadiri pemakaman ibu Changmin. Ia melihat seorang pria kecil memakai jas, berdiri di depan nisan sambil memegang setangkai bunga. Setelah meletakkan bunga itu, pria dewasa di belakangnya mengelus rambut Changmin sambil tersenyum ramah.

"Ayo kita pulang" Pria itu menarik tangan Changmin lembut, tapi Kyuhyun agak terganggu dengan pria itu. Ia merasa aneh dengan senyum yang terus di tunjukkan selama pemakaman, meski senyum itu begitu lembut tapi ada maksud tertentu di dalamnya, seperti bentuk kepuasan.

Setelah itu mereka sering bertemu di pemakaman karena ayah Kyuhyun bekerja di sana.

"Aku benar-benar tak habis pikir," Kata Changmin menghentikan lamunan Kyuhyun. "Kenapa anak itu tidak menyerah?" Lanjut Changmin. Ia ingat kejadian pagi tadi.

"Maksudmu, Jaejoong?" Changmin mengangguk.

"Tapi itu tidak mengubah keputusanku. Aku membenci ibunya, maka aku pun membencinya"

"Kau tidak boleh seperti itu, Chwang. Kau mungkin melihat ibunya berselingkuh dengan ayahmu, tapi itu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Jaejoong"

"Iya, tapi bisa saja dia anak hasil hubungan gelap bersama Aboji"

"Aku tidak yakin itu" Kata Kyuhyun. Changmin mengerutkan keningnya.

"Sejak kapan kau berdebat denganku tentang Jaejoong? Bukankah kau tidak peduli?" Selidik Changmin. Kyuhyun melihat kearah lain. Changmin sudah mengenal kyuhyun lama dan pria itu tak bisa berbohong.

"Kau punya rahasia?"

.

.

.

Jaejoong bersiul sambil mencuci piring di dapur. Ia melakukan itu hanya agar dirinya tidak merasa kesepian. Tadi para maid sudah melarangnya melakukan itu, tapi tetap saja ia bersikeras. Kuliah sedang libur dan ia tidak punya kegiatan lain kecuali makan dan tidur, di tambah lagi rumah sebesar ini yang terlihat hanya kesibukan maid. Hari ini ibu dan ayahnya pergi kesebuah pertemuan antar relasi dan meninggalkannya dirumah, sedang Changmin belum pulang.

Brak

Jaejoong tersentak, menoleh lalu terkejut dengan kehadiran Yunho yang berdiri di depan kulkas dengan minuman kalengnya. Ia tidak mendengar kedatangan ayahnya itu.

"A-aboji, kau sudah pulang?" Tanya Jaejoong, ia masih terus mencuci. Yunho mengangguk. Ia langsung melemparkan botol minuman yang sudah kosong ke tempat sampah, lalu berdiri di samping Jaejoong.

"Mana, Omoni?"

"Dia pergi bersama istri-istri relasiku, untuk menjaga kesopanan saja" Kata Yunho. Jaejoong terkejut ketika tangan Yunho berada di atas tangannya, ikut menari di bawah aliran air.

Yunho membantu menggerakkan tangan Jaejoong untuk terus menyuci. Ia tersenyum, senyum yang Jaejoong sukai. Yunho cukup sering tersenyum dan tiap senyum yang ia tunjukkan ada maknanya, tapi senyum tulus seperti sekarang lah yang paling ia sukai.

"Kau pria, tapi tanganmu halus" Komentar Yunho, masih terus menggerakkan tangannya. Jaejoong berdebar. Itu adalah pujian untuknya.

"Apa kau punya kekasih?" Tanya Yunho. Jaejoong menggeleng berlebihan.

"Belum"

"Benarkah?" Tanya Yunho terkejut, "Aku pikir banyak wanita yang menyukaimu"

Jaejoong melihat tangan ayahnya yang masih mengelus pelan tangannya. Jaejoong merasakan rasa geli bercampur getar di hatinya, mungkin karena tak ada yang pernah menyentuhnya seperti itu.

"A-aku tidak suka" Kata Jaejoong.

"Apa?" Tanya Yunho bingung.

Jaejoong menunduk lalu menarik tangannya yang di pegang Yunho, mengeringkannya pada apron yang ia pakai.

"Aku tidak suka wanita" Kata Jaejoong pelan. Yunho tersenyum samar, tentu ia tahu tentang itu. Apapun tentang Jaejoong, ia tahu.

"Wow, aku cukup terkejut" Kata Yunho berpura-pura. Jaejoong tersenyum canggung. Mereka hampir berbicara lagi kalau saja suara gebrakan pintu tidak terdengar.

"Changmin" Panggil Jaejoong ketika melihat Changmin yang baru datang langsung berjalan ke kamar. Jaejoong mengejar Changmin, meninggalkan Yunho yang sedang meremat tangannya.

.

.

.

"Changmin ah" Panggil Jaejoong yang berjalan di belakang Changmin. Sesering pria itu memanggilnya, Changmin tetap tak menyahut atau berhenti melangkah.

"Tunggu!" Jaejoong menyelinap, berdiri di depan Changmin dengan tangan yang mengembang. Kini ia ada di antara Changmin dan pintu kamar. Changmin menatap datar saudara tirinya itu, sedang Jaejoong hanya tersenyum.

"Kau mau mengajakku jalan-jalan?" Tanya Jaejoong tiba-tiba. Changmin mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan pertanyaan itu.

"Apa yang-"

"Aku mau bercerita banyak padamu" Jaejoong menarik tangan Changmin tanpa mendengar penolakan dari pria itu.

Mereka berdua berlalu dari tempat itu, menuju kearah luar. Yunho semakin kesal melihatnya. Ia benci jika ada orang yang mengakrabkan diri dengan anak tirinya itu.

.

.

.

"Hentikan, BRENGSEK!" Changmin menyentakkan tangan Jaejoong setelah mereka tiba di taman. Meski Changmin memperlakukannya kasar tapi Jaejoong tetap tersenyum.

"Bukankah lebih baik jika kita sering keluar bersama?" Tanya Jaejoong, tidak mempedulikan tatapan marah Changmin. Ia melihat sekitar, lalu menemukan mobil penjual es krim, seketika wajahnya semakin merekah.

"Kau tunggu di sini" Kata Jaejoong, lalu berlari kearah mobil itu. Seharusnya Changmin memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur, tapi entah kenapa ia tak menginginkan itu sekarang. Melihat wajah Ceria Jaejoong, membuatnya ingin berlama-lama di sana.

Belum selesai berfikir, Jaejoong sudah kembali dengan dua cup besar es krim. Tak lupa dengan senyum di wajahnya, Ia menyodorkan satu pada Changmin.

"Aku tidak tahu kau suka rasa apa, tapi rasa cokelat tak buruk juga" Kata Jaejoong. Changmin sudah mengambil es krim itu meski tak melakukan apa-apa padanya, sedang Jaejoong terlihat asik menjilati es krimnya.

"Kau tahu, Changmin. Dulu sewaktu kecil Appa sering mengajakku memakan es krim di taman" Kata Jaejoong, ia melihat pada beberapa anak kecil yang sedang bermain, mengingat masa kecilnya dulu.

"Kadang aku merengek padanya ketika ia tak membelikan es krim kesukaanku, meski begitu Appa tidak pernah memarahiku.

Ia menyayangiku melebihi apapun" Kata Jaejoong, bercerita tentang masa kecilnya, saat sang ayah masih bersamanya.

"Jaejoong, kau tahu kemana Ayahmu?" Tanya Changmin. Ia cukup penasaran dengan itu hingga tidak sadar bertanya.

Jaejoong menerawang, "Appa bertengkar dengan Omoni entah karena apa, lalu Omoni membawaku pergi dari rumah"

10 tahun yang lalu...

"Dengar, Haneul. Aku mengatakan yang sejujurnya"

"Kau pikir aku bodoh? Sahabatmu sendiri yang mengatakan itu, dan dia memberiku foto-foto di mana kau berselingkuh dengan pelacur itu" Kata Haneul dengan emosi. Suaminya bingung harus menjelaskan seperti apa lagi. Ia sudah mengatakan yang sejujurnya, tapi istrinya itu masih bersikeras.

"Aku kira kau mencintaiku, tapi ternyata...akh aku membencimu" Haneul langsung menghampiri Jaejoong kecil yang sedang duduk di pojok ruangan, menarik tangan anaknya itu.

"A-aniya, Appa!"

Jaejoong tersentak. Ia seperti tertarik ke dunia nyata. Itu adalah kenangan terakhirnya tentang sang Ayah. Changmin terdiam, mendengar cerita Jaejoong dan setelah ini rahasia tentang mimpi-mimpinya itu akan segera terungkap.

Jadi, apakah pria yang ia lihat waktu itu adalah ayah Jaejoong atau bukan?

"Kau punya foto ayahmu?" Jaejoong menggeleng.

"Wajahnya hanya tersimpan di otakku" Jawab Jaejoong. Changmin melemas, sepertinya ia harus mencari tahu lebih keras.

.

.

.

Yunho melihat laptop miliknya di ruang kerja, membuka arsip foto lamanya yang ia simpan di satu folder dengan kata sandi tentunya.

Banyak foto-foto dirinya saat masih muda, dan ada juga beberapa foto orang yang di sukainya dulu, jihun.

Yunho tersenyum, wanita berparas cantik yang begitu ia kagumi itu terlihat cocok memakai seragam sekolah. Yunho ingat masa-masa itu, masa dimana ia memberikan segalanya untuk wanita itu. Mungkin hanya Jihun yang mengerti Yunho.

Foto terus berganti, kini giliran fotonya bersama seorang pria, saling merangkul dan tertawa, seolah saat itu adalah saat indah bagi mereka.

"Seandainya saja kau tak mengecewakanku, maka saat ini kau hidup bahagia"

Yunho mungkin terlihat tangguh di luar, tapi sebenarnya ia adalah pria rapuh. Hidupnya penuh dengan kekecewaan dan yang terpenting, ia tidak percaya cinta.

Cinta adalah nafsu, begitu pun sebaliknya.

.

.

.

"Changmin, kemarin aku bertanya pada Aboji untuk membiayaimu kuliah, lalu kita bisa bersama tiap saat" Kata Jaejoong dengan bersemangat. Dari tadi ia terus mengoceh, melupakan es krimnya yang sedikit meleleh, lalu menjilatnya hingga termakan setengah, sedangkan Changmin hanya pendengar setia. Pria itu sudah menghabiskan es krimnya lebih cepat. Jaejoong lalu menyodorkan es krimnya, menyuruh Changmin ikut menjilat. Changmin menggeleng lalu Jaejoong tersenyum sambil menjilat es krimnya.

"Kenapa kau ingin dekat denganku?" Tanya Changmin, menoleh pada Jaejoong yang duduk di sampingnya.

"Aku hanya ingin memiliki saudara. Aku benci sepi, aku tidak suka sendiri. Dari dulu aku yang anak tunggal tidak pernah merasakan bermain bersama saudara" Jawab Jaejoong.

"Meski bicaramu kasar, tapi dari sinar matamu aku tak melihat kekerasan. Aku hanya melihat kesepian" Kata Jaejoong. Changmin tercenung. Baru kali ini ada orang yang tahu sifatnya, selain Kyuhyun.

"Sok pintar" Cemooh Changmin. Ia menatap lurus kedepan.

"Yak, aku belajar mengetahui arti ekspresi orang di jepang"

"Bahkan Aboji saja menganggapku sampah" Kata Changmin. Ia ingat sekali wajah ayahnya saat mengatakan itu.

"Changmin, Aboji itu terlalu sulit di tebak ya. Kadang ia bisa menjadi kasar, lalu menjadi halus, dingin dan hangat. Aku tak tahu yang mana sifat aslinya"

"Kalau kau tahu sifat aslinya, aku yakin kau beribu kali akan membencinya" Kata Changmin misterius. Jaejoong memiringkan kepalanya seolah berkata, "Benarkah?"

"Aku bersamanya lebih dari 10 tahun, jadi aku tahu sifatnya"

Jaejoong mengangguk paham. Ia jadi ingat pembicaraannya dengan Yunho yang terputus begitu saja.

'Kekasih? Memang ada yang mau denganku?' Tanya Jaejoong dalam hati.

.

.

.

Di kamar itu seseorang berbaring, dengan selang infus yang menempel pada tangan kirinya, serta masker oksigen yang berada di hidungnya. Disana tidak terdengar bunyi apapun kecuali alat pendeteksi detak jantung. Kamar itu di desain secara khusus seperti rumah sakit, ada beberapa obat dalam botol putih yang berjejer di atas nakas.

Ceklek..

Pintu terbuka, seseorang yang memakai jas hitam masuk kedalam. Ia memeriksa setiap sudut kamar itu, termasuk jendela besar yang ada di sana. Setelah memastikan semuanya aman, ia melihat pada orang yang berbaring itu, menatapnya sendu lalu menempelkan ponsel yang ia pegang ke telinganya, seseorang bicara di sana.

"Ya, Tuan. Semua aman terkendali" Katanya, membuat sang lawan bicara tersenyum puas.

Setelah hubungan telepon berakhir, pria itu melihat kesekitarnya, setelah cukup ia pun keluar dari kamar itu, meninggalkan kembali pria yang masih terlelap tadi.

Beberapa menit kemudian, kedua mata bermanik hitam itu terbuka, orang yang terus tertidur selama beberapa waktu itu kini kembali melihat warna indah dari benda-benda di sekitarnya.

.

.

.

Changmin dan Jaejoong pulang kerumah pada sore hari, setelah puas bercerita segala hal walaupun yang mengambil alih pembicaraan hanya Jaejoong saja. Sesampainya di ruang keluarga, mereka bertemu dengan Yunho dan Haneul yang sedang bersantai. Yunho menatap tajam ke arah Changmin, berbeda sekali dengan Haneul yang melihat kedua anaknya dengan berbinar.

"Omoni, sudah pulang?" Tanya Jaejoong sambil tersenyum.

"Joongie, minnie, kalian pergi bersama? Wah!" Haneul bangun dari duduknya, berdiri di antara anak-anaknya. Changmin berniat pergi tapi Jaejoong menahan tangannya.

"Kau ingat janji kita tadi?" Tanya Jaejoong sambil mengedipkan sebelah matanya. Changmin mendengus kesal.

'Kalau kau tidak mau cepat tua, maka sering-seringlah tersenyum' Changmin mengutuk perkataan itu dan janji yang di ucap setelahnya.

Jaejoong tersenyum lebar, "Perutku sakit" Kata Changmin lalu melepaskan tangan Jaejoong dan berjalan kearah kamarnya.

Haneul menatap kagum sang anak yang akhirnya bisa meluluhkan sikap kasar Changmin. Tapi tentu berbeda dengan pendapat Yunho. Alis pria itu semakin mengerut, tanda bahwa ia tengah kesal.

.

.

.

Someone's POV

hhh hhh hhh

Aku harus segera berlari menjauh. Aku tidak boleh di temukan lagi. Cukup, cukup penderitaan selama 3 tahun ini. Aku manusia, bukan seekor kucing yang seharusnya berada di kandang. Aku membenci diriku yang tidak pernah bisa melarikan diri, semua ini karena obat-obat itu yang membuat tubuhku seakan lumpuh, meski saat pengaruhnya hilang aku bisa bergerak bahkan menghajar orang, tetap saja aku berada di bawah kendali orang-orang itu.

POV end

Pria berpiyama biru itu terus berlari meski nafasnya tersengal dan keringat terus membasahi pakaiannya. Tentu saja ia lemah karena ini kali pertama ia berlari jauh setelah hampir 3 tahun hanya terbaring di tempat tidur.

Kali ini ia tidak boleh menyerah pada waktu. Ia harus bebas dan terlepas dari belenggu yang menjeratnya.

Ia ingat perkataan seseorang 'Kau harus tetap hidup. Pergi dan selamatkan dirimu'

'Tapi bagaimana denganmu?'

'Sudahlah, aku akan tetap disini hingga waktuku tiba'

Ia juga masih ingat wajah menerawang pria itu. Ada sebuah gurat keputusasaan disana.

"Jika kita bertemu lagi, aku akan membalas budi padamu, anak muda" Tekadnya dalam hati.

.

.

.

.

Changmin melamun di atas tempat tidurnya sambil memeluk guling. Ia sedang berfikir kenapa rasa bencinya pada Jaejoong berkurang dan kini berganti rasa peduli. Sejak kapan ia mempunyai sifat itu? Peduli pada orang lain? Bahkan pada dirinya sendiri ia tidak peduli.

Apa mungkin karena ia merasa mereka memiliki kesamaan yaitu, sama-sama menjadi korban keegoisan para orang tua? Ia tidak mengerti. Tapi ia hanya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Jaejoong jika suatu hari nanti tahu yang sebenarnya. Dulu Changmin menganggap ia tidak perlu khawatir pada hidupnya saat sang ibu meninggal, tapi hanya karena tubuhnya kecil, orang-orang di sekitarnya menganggap ia tak mengerti apapun. Saat itu ia tahu dengan jelas bagaimana orang lain menghujatnya dengan kata-kata yang tak pantas di dengar olehnya yang masih berusia 8 tahun.

'Lihat, dia anak haram itu 'kan?'

'Ia pasti malu punya ibu yang tidur dengan adik iparnya sendiri'

'Yah, siapa tahu dia anak dari pamannya itu'

'Anak tak jelas...'

Saat itu ia mendengar semuanya, tapi ketika ia ingin menangis, sebuah tangan menarik wajahnya hingga bertubrukan dengan tubuh seseorang, ia lalu mendongak dan melihat wajah Yunho yang sedang tersenyum.

'Jangan dengarkan mereka. Mereka hanya tak mengerti bagaimana kehidupanmu'

Sejak saat itu ia mulai percaya dengan semua perkataan Yunho. Baginya Yunho lebih dari seorang paman. Tidak salah ia memanggil orang itu sebagai.

'Appa..'

Changmin menegakkan tubuhnya, meremas guling yang terus di peluknya.

Semua kejadian itu terjadi selama 3 tahun, hingga pada malam itu kepercayaannya pada Yunho pun memudar.

Ia menganggap Yunho malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menjaganya, mengeluarkannya dari penderitaan tapi ternyata semua itu salah besar. Yunho adalah malaikat maut, yang serupa dengan iblis, dan yang membuatnya makin benci adalah ketika Yunho berkata padanya tentang sebuah kenyataan.

'Kau tahu, Changmin. Apa yang membuatku ingin merawatmu seperti anakku sendiri? Itu karena, ada kemungkinan darahku mengalir dalam tubuhmu, mengingat aku pernah tidur dengan ibumu' Kata Yunho pada Changmin yang berusia 11 tahun itu.

'...meskipun aku tak yakin kalau yang tidur dengannya hanya aku saja'

Dan Changmin membenci Yunho mulai saat itu, hingga sekarang.

TBC

Aku harap kalian baca warning yang ada di atas itu, karena aku tidak mau ada pihak-pihak yang tersakiti.

Karakter Yunho aku buat bejat disini, tapi kalian harus tahu apa yang membuatnya seperti itu. Dan semua akan terungkap nanti.

Kenapa aku ungkap rahasia itu disini? Karena bukan itu inti dari cerita ini. Nanti kalian akan tahu apa yang akan di perbuat Yunho pada Jaejoong. Hehe.

Ada yang masih belum ngerti disini?

Mengenai waktu. Ibu jj nikah sama Yunho waktu jj umur 8 tahun dan Changmin umur 11 tahun. Ibunya changmin meninggal waktu anaknya umur 8 tahun.

Kalau masih ada yg mau di tanyakan silahkan ke kotak review ^_^

See you next chapter~