The way I love you
Genre : Drama, RomAngst
Rating : Nc 17
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Kim Haneul, Kim Hyunjung and many more
Chapter 5
Yunho berdiri di sebuah jendela besar di ruang baca rumahnya, melihat pada pohon yang sudah lama berada di samping jendela itu. Rantingnya menggesek-gesek jendela menciptakan suara yang cukup membuat tenang. Yunho tersenyum. Ia ingin hidupnya selalu tenang seperti ini, tak ada tuntutan apapun dan ia ingin lepas dari segala masalah yang sudah menjadi takdirnya sejak dulu.
Tapi senyumnya dengan cepat menghilang, di gantikan dengan wajah seriusnya seperti biasa.
Ia sadar dan selalu sadar bahwa Tuhan memberikan takdir itu padanya dan ia tidak bisa melepaskannya begitu saja, lalu takdir seperti apa yang tidak bisa menjauh darinya? Menjadi seorang Jung Yunho atau...?
Kring..kring..kring
Yunho dengan cepat berlari kearah meja kerjanya, menjawab telepon rumahnya yang berdering sebelum seseorang mendahuluinya.
"Hallo"
Terdengar engahan nafas dari orang yang meneleponnya itu dan Yunho tahu bahwa ia berada dalam situasi serius.
"BRENGSEK!"
PRAK!
Yunho membanting telepon itu, lalu menjambak rambutnya kesal.
Semua rencana yang telah ia susun selama 3 tahun, hari ini telah hancur dan itu karena kebodohan anak buahnya.
.
.
.
"Yeobo, kau kenapa? Kenapa buru-buru begini?" Tanya Haneul yang bingung karena Yunho memasukkan pakaian kedalam koper dengan terburu-buru. Pria berusia 40 tahun itu tidak menjawab pertanyaan sang istri dan tetap melakukan kegiatannya.
"Aku akan ke jepang malam ini" Kata Yunho setelah menutup kopernya. Ia harus segera tiba di jepang karena kekacauan telah terjadi disana.
"Ta-tapi untuk apa? Kau belum pesan tiket kan?"
"Aku akan pergi dengan pesawat pribadi. Dan kau tak perlu tahu untuk apa" Dan tanpa mempedulikan Haneul, Yunho berjalan cepat ke garasi mobil mewahnya.
Dari jendela kamarnya, Jaejoong melihat kepergian ayah tirinya itu dalam diam. Ia tidak tahu kenapa Yunho pergi terburu-buru seperti itu.
.
.
.
Changmin keluar dari kamarnya untuk membuat susu di dapur, perutnya sedari tadi berbunyi minta di isi, mungkin makan sorenya yang tidak banyak membuatnya cepat lapar. Saat sedang membuka kulkas, Jaejoong masuk kedapur untuk membuat susu juga karena itu memang kebiasaannya. Pria manis itu tersenyum ketika melihat Changmin.
"Kau suka susu juga, Changmin ah?" Tanya Jaejoong, berdiri di samping Changmin yang sedang menuangkan susu.
"Sebenarnya aku ingin sereal" Jawab Changmin cuek lalu kembali ke kulkas untuk menaruh botol susu.
"Sereal untuk makan malam?" Jaejoong cukup kaget dengan itu, karena ia baru mendengar ada yang makan sereal pada malam hari.
Changmin mendelik, "Memang kenapa?"
"Tidak ada, tapi aneh saja" Kata Jaejoong sambil terkekeh.
Setelah selesai meminum susunya, Changmin segera pergi dari dapur untuk kembali kekamarnya, tapi tangan Jaejoong mencegahnya.
"Kau tahu Aboji pergi?" Tanya Jaejoong.
Changmin mengangkat bahunya tak peduli, "Dia sudah biasa seperti itu. Bahkan dia tak pulang berapa hari pun aku tak peduli" Kata Changmin lalu menyentak tangan Jaejoong. Moodnya berubah tak enak ketika mengingat Aboji-nya.
"Kenapa kau begitu membencinya, Changmin? Dia ayahmu" Kata Jaejoong tak habis pikir. Wajah Changmin berubah keras.
"Dia bukan ayahku. Selamanya dia bukan ayahku. Seorang ayah tak akan menyebut anaknya sampah!" Kata Changmin lalu berjalan cepat meninggalkan Jaejoong.
Jaejoong tertunduk. Kenapa keluarga ini begitu rumit. Ia tak mengenal Changmin dan Yunho secara dekat meski mereka satu keluarga karena ia lama tinggal di jepang.
Dulu saat masih di jepang, ia selalu senang ketika membayangkan seperti apa keluarga ideal dalam mimpinya, dan ketika memutuskan untuk kembali ke korea, ia berharap semua mimpi itu menjadi nyata tapi pada kenyataannya semua ini hanya indah di mimpi saja.
"Aku hanya ingin memiliki keluarga yang bahagia, itu saja" Gumamnya sedih.
.
.
.
Yunho tiba di jepang pukul 11 malam dan langsung menuju ke mansion miliknya yang berada di tengah hutan. Ketika ia turun dari helikopternya, para pengawal yang di tugaskan menjaga mansion itu berbaris sambil menunduk hormat. Jumlah mereka sekitar 10 orang. Mereka semua menerka-nerka apa yang akan di lakukan oleh bos besar mereka itu.
Yunho berjalan dengan angkuh di pelataran mansion mewahnya, lalu berhenti di depan barisan anak buahnya.
BUAGH!
Yunho meninju perut salah seorang anak buahnya hingga jatuh terduduk. Kedua tangannya mengepal keras.
"Apa saja kerja kalian disini? KENAPA MENJAGA SATU ORANG SAJA TIDAK BISA?" Tanya Yunho dengan suara kencang. Anak buahnya semakin menunduk.
"Aku membayar kalian untuk menjaga orang itu, lalu kenapa bisa lolos? HAH!" Tanya Yunho lagi semakin kesal.
"Ti-tidak ada yang sadar ka-kalau dia melarikan diri, Tuan" Jawab salah satu anak buahnya. Yunho tertawa singkat.
"Kau pikir dia hantu? Dia hanya pria lemah yang tak pernah keluar selama 3 thn. Kalaupun dia pergi, kalian pasti dengan mudah menemukannya"
"Kami sudah mencarinya di seluruh hutan ini, Tuan, tapi tetap tidak di temukan"
Wajah Yunho semakin mengeras. Semuanya sudah hancur. Orang itu berhasil melarikan diri dan yang ia takutkan jika orang itu kembali kedalam kehidupannya lagi. Ia harus bertindak, tapi sebelum itu ia harus tahu siapa yang membantu orang itu lolos dari pertahanan kuat yang sudah ia ciptakan di sekitar mansion bahkan hutan itu, dan hal itu yang semakin membuatnya murka.
'Seharusnya aku langsung membunuhmu, atau kau akan tahu apa yang akan aku lakukan pada anakmu'
.
.
.
"Omoni, apa Changmin sudah bangun?" Tanya Jaejoong sambil mengunyah sandwich miliknya. Haneul masih asik memotong mengoles roti tawarnya.
"Tadi dia pergi pagi-pagi sekali"
"Kemana?"
"Tidak tahu, bahkan menoleh pada Omoni saja tidak" Kata Haneul cuek karena hal itu sudah biasa.
Jaejoong ingin bertanya tentang Changmin tapi ragu, ia takut salah bicara.
"Eum, Omoni. Aku mau bertanya, boleh?"
Haneul sudah selesai dengan sandwich buatannya dan kini duduk di kursi makan depan Jaejoong.
"Tanya apa?"
"A-apa Changmin bukan anak kandung Aboji?" Tanya Jaejoong yang membuat kunyahan Haneul berhenti.
"Apa maksudmu?"
"I-itu, kenapa Aboji dan Changmin lebih terlihat seperti musuh daripada ayah-anak?"
Haneul terdiam, bingung harus menjawab apa. Bolehkan Jaejoong tahu rahasia itu? Nanti bagaimana kalau Yunho tahu ia menceritakan rahasia itu pada Jaejoong?
Jaejoong melihat keraguan di mata ibunya, "Kalau Omoni tidak bisa cerita tidak apa-apa" Katanya sambil tersenyum.
"Kau benar, Joongie. Changmin bukan anak Yunho" Dan jawaban Haneul itu langsung membuat Jaejoong tercengang.
.
.
.
'Changmin, panggil dia Appa' Kata Junhee yang duduk di atas kursi roda. Changmin yang berusia 3 tahun hanya menatap orang di depannya dengan bingung. Orang yang harus ia panggil Appa itu tersenyum, mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala bocah itu.
'Ayo Changmin, panggil Ahjussi, Appa' Kata orang itu sambil tersenyum manis. Changmin tetap saja bingung, kenapa orang yang ia kenal sebagai paman harus ia panggil ayah? Tapi Changmin saat itu tak bisa menolak karena ia hanya seorang anak kecil.
.
.
.
Wajah Jaejoong cukup tegang mendengar cerita Haneul, ternyata kecurigaanya memang benar.
"Sejak saat itu, Yunho yang merawat Changmin karena ibunya harus di rawat di rumah sakit karena kanker darah yang di deritanya" Lanjut Haneul.
"Jadi..Changmin keponakan Aboji?" Tanya Jaejoong memastikan. Haneul mengangguk mantap.
Tapi masih banyak pertanyaan yg mengganjal di pikiran Jaejoong saat ini termasuk tentang alasan kenapa Changmin bisa membenci Yunho.
.
.
.
Seorang pria berpiyama biru itu memakan dengan lahap roti yang di berikan padanya. Saat ini ia berada di dalam mobil milik seseorang yang sudah menyelamatkannya.
"Pelan-pelan, Ahjussi" Kata seseorang yang duduk di kursi pengemudi. Pria itu mengangguk.
Drrtt..drrrtt..
Ponsel diatas daskboard mobil itu bergetar, ketika nama seseorang muncul di layar, kedua orang itu menahan nafas.
"Ye, Tuan"
.
.
.
Mobil berwarna silver itu berhenti di sebuah bangunan tua mirip kastil, kedua orang keluar dari dalam mobil lalu masuk kedalam bangunan itu, mereka akan menemui seseorang yang akan mengubah semuanya termasuk takdir seseorang.
.
.
.
Bau alkohol tercium menyengat didalam ruangan itu, tiga orang berpakaian hijau dengan masker yang menutupi hidung dan mulut mereka. Seseorang berbaring di sebuah ranjang operasi, wajahnya sedang di bersihkan oleh salah seorang yang memakai masker tadi.
"Apa anda sudah siap?" Orang yang berbaring itu mengangguk mantap dan sebuah jarum bius siap menusuk nadinya.
Ia akan tertidur selama 3 jam dan setelah itu ia harus siap menerima takdir baru yang akan mengubah kehidupannya.
.
.
.
Jaejoong berdiri di depan pintu apartemen Kyuhyun sambil memeluk buku yang cukup tebal. Hari ini hari sabtu dan tidak ada jadwal kuliah, jadi ia bermaksud untuk mengajak Kyuhyun belajar bersama.
Seharusnya ia menghubungi Kyuhyun terlebih dahulu dan lucunya ia tidak tahu nomer ponsel sahabat barunya itu.
Tok..tok..tok..
Sudah berulang kali Jaejoong mengetuk pintu itu tapi tetap tak ada jawaban, apa mungkin Kyuhyun tak ada di rumah?
Jaejoong ingin mengetuk lagi sebelum suara seseorang mengintrupsi.
"Jaejoong"
Jaejoong menoleh lalu tersenyum mendapati teman barunya itu berdiri tepat di belakangnya. Kyuhyun baru pulang dari berbelanja di supermarket.
"Ah, pantas saja tak ada yang membukakan pintu" Jaejoong langsung menghampiri Kyuhyun dan membantu membawa beberapa belanjaan lalu berjalan kearah pintu sambil menunggu Kyuhyun membuka pintu.
Kyuhyun berubah gugup, ia tidak mungkin mengajak Jaejoong masuk kedalam karena ada Changmin yang sedang tidur sambil mendengarkan musik.
"Kenapa, Kyuhyun ah?" Tanya Jaejoong bingung karena Kyuhyun diam di tempat.
"Ah Jae, bagaimana kalau kita pergi ke cafe atau taman untuk belajar? Aku baru saja bersih-bersih dan masih banyak debu, jadi.." Kyuhyun mendapat ide itu spontan. Matanya menatap Jaejoong dengan memohon. Jaejoong tersenyum lalu mengangguk.
"Baiklah" Katanya lalu berjalan mendahului Kyuhyun.
Setelah Jaejoong berjalan agak jauh, Kyuhyun meletakkan belanjaannya di depan pintu. Ia akan menelepon Changmin nanti.
.
.
.
Yunho bersandar di meja bilyar yang ada di dalam mansion miliknya, meminum wine merah kesukaannya. Tadi ia sudah menelepon Minho untuk memberitahukan apa yang telah terjadi, orang kepercayaannya itu harus tahu dan pasti bisa membantunya menemukan orang yang dicarinya.
"Aku tak menyangka kau bisa lolos dariku, Hyun. Tak menyangka dewa akan datang menyelamatkanmu" Kata Yunho dingin. Ia mencium aroma wine di gelas yang ia pegang. Ia benci dengan keadaan yang tidak terkendali seperti ini.
"Tapi jangan kau pikir kau bisa lepas dari genggamanku, karena kartu AS mu ada di tanganku" Katanya lalu menyeringai.
.
.
.
Kyuhyun sudah menelepon Changmin tadi dan sekarang ia bisa tenang karena merasa tidak ada yang curiga. Bukan, bukan ia ingin mengkhianati Changmin atau Jaejoong, tapi ia hanya ingin mencari tahu bagaimana sifat Jaejoong yang sebenarnya karena selama ini Changmin bercerita yang buruk tentang Jaejoong.
Di apartemen Kyuhyun, Changmin sibuk mengunyah roti isi untuk sarapan terlambatnya, ia juga asik memainkan tab milik sahabatnya itu dan sama sekali tidak curiga tentang apapun.
.
.
.
"Lalu bagaimana, uisa? Kapan perbannya bisa di buka?" Tanya seorang pria berjaket hitam itu.
"Mungkin 3-4 hari lagi, tapi untuk sembuh total, butuh waktu dua minggu atau lebih"
Tak apa, yang penting operasinya berjalan lancar, pikir pria itu.
"Baiklah. Terima kasih"
Mereka berempat sama-sama menoleh kearah ranjang tempat seseorang yang masih di pengaruhi obat bius itu berada.
.
.
.
Jaejoong sedang berada di ruang tv saat Changmin pulang sore itu, ia ingin memanggil saudara tirinya itu tapi di urungkan. Ia kembali teringat dengan cerita Haneul tentang Changmin.
'Changmin bukan anak Yunho'
Yang jadi pertanyaannya, apa alasan mereka saling membenci? Apa Changmin memang anak pembangkang sejak kecil? Dan Jaejoong harus mengetahui jawabannya langsung dari Changmin atau Yunho.
.
.
.
Tok..tok..
"Changmin ah, boleh aku masuk?" Tanya Jaejoong dari luar kamar. Changmin baru selesai mandi.
"Pintunya tidak di kunci" Jawabnya setelah memakai kaos dan boxer.
"Kau sedang apa?" Tanya Jaejoong yang memunculkan kepalanya dari balik pintu.
Changmin menunjuk handuknya, "Kau sudah makan?" Tanya Jaejoong yang sudah masuk kedalam kamar Changmin.
"Sudah.." Jawabnya singkat lalu duduk di atas ranjang.
"Eum, untuk yang semalam aku minta maaf ya. Aku tak bermaksud" Kata Jaejoong agak sedih. Changmin menggeleng.
"Tak apa, hanya saja jika sudah menyangkut pria itu aku sangat kesal" Changmin menolehkan kepalanya, tidak ingin melihat pada Jaejoong yang duduk disampingnya.
"Kenapa kau sangat membenci Aboji?" Tanya Jaejoong langsung. Changmin cukup terkejut dengan pertanyaan itu, dan untuk menjawab maka ia harus kembali pada masa lalunya yang suram.
"Tidak ada. Hanya saja orang yang kau hormati sebagai ayah itu lebih berbahaya dari apa yang kau bayangkan" Jawab Changmin, ia lalu menghadap Jaejoong.
"Ia bisa memiliki apa yang ia mau meski itu bukan miliknya, seperti..." Changmin menggantungkan ucapannya, "Ibumu.." Lanjutnya membuat Jaejoong terkejut.
"Ma-maksudmu?"
Changmin tertawa, wajah terkejut Jaejoong sangat lucu, "Wajahmu lucu, haha.."
"Yak Changmin aku serius" Kesal Jaejoong langsung mencubit pinggang Changmin.
Changmin menghentikan tawanya dan memasang wajah serius, "Aku rasa belum waktunya kau tahu, Jae. Kau bisa bertanya pada ibumu tentang itu. Saat itu aku hanya anak kecil berumur 11 tahun yang akan merespon apapun secara spontan" Jawaban Changmin semakin membuat Jaejoong bingung.
.
.
.
Jaejoong sudah keluar dari kamarnya masih dengan wajah penasaran dan Changmin bersikeras tidak ingin cerita dengan alasan ia tidak mau asal cerita karena itu masalah orang dewasa.
"..Tapi aku tumbuh bersama pria itu, Jae. Aku tahu semua tentangnya, watak juga ambisinya. Dia orang yang harus di hindari" Kata Changmin sambil berbaring, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru.
.
.
.
4 hari kemudian..
Perban di wajah orang itu baru saja di lepas, tapi ia masih belum boleh melihat wajahnya di cermin karena masih membutuhkan kesembuhan.
Ia duduk sambil bersandar pada kepala ranjang, melihat pada orang yang berdiri di depan ranjang. Pria bertopi hitam itu membawa sebuah buku yang cukup tebal.
"Sekarang aku akan memberitahu identitas barumu" Kata pria itu.
"Namamu Hwang Yuanmin, umur 41 tahun, lulusan Harvard University, dan bekerja di salah satu perusahaan di berlin. Aku sudah menyusun semuanya, termasuk tentang riwayat hidupmu yang bisa di pastikan itu adalah benar"
Pria diatas ranjang itu tersenyum, ia akan memberikan apa yang orang itu minta ketika ia sudah berhasil mendapatkan miliknya kembali. Ia berjanji.
"Terima kasih, Minho ah" Katanya.
Pria bernama Minho itu mengangguk, pengalamannya tentang hal seperti itu sudah cukup dan ia belajar dengan baik dari bos besarnya yang ambisius itu. Jung Yunho.
.
.
T
B
C
.
.
*readers tepar*
pertanyaan para readers pasti sama yaitu "Kok tambah ngebingungin yah?" dan aku pasti langsung menghela nafas pas baca review itu. Hehe.
Sebenernya mau langsung di kasih tau tapi nanti gak seru, nanti ada klimaksnya ko, tenang aja ^_^
Chap ini lumayan ketebak lah siapa yg bantu tahanan Yunho kabur..dan jawabannya adalah kaki tangan Yunho sendiri. Hoho.
Ayo tebak tahanan Yunho itu siapa? Kalo jawabannya banyak yang bener aku update cepat :-)
Dan rahasia lainnya yang terungkap adalah Changmin bukan anak Yunho. Aku baik kan? Mudah2an chap depan akan terbongkar lagi satu rahasia, tp aku gak janji ya. Hehe . .
Thanks to my beloved readers...ummmaachh~
See you next chapter ^_^
