The way I love you
Genre : Drama, RomAngst
Rating : Nc 17
Cast : Jung Yunho (41 thn), Kim Jaejoong (18 thn), Shim Changmin (21 thn), Kim Haneul (41 thn), Cho Kyuhyun (21 thn)
Chapter 6
Yunho baru tiba di rumahnya pukul 2 siang, setelah 4 hari berada di Jepang dan ia memutuskan kembali lebih cepat karena perusahaannya di Seoul tidak bisa di tinggal terlalu lama. Jika ia tetap di Jepang pun tak ada gunanya, ia tidak bisa menemukan orang itu secepat yang ia ingin karena ia tahu ada orang lain yang membantu orang itu kabur.
Haneul sedang pergi bersama teman-teman sosialitanya seperti minggu-minggu yang lalu dan Yunho tak pernah protes dengan hobi istrinya itu karena ia tidak punya waktu memikirkan hal seperti itu, bahkan jika Haneul tak pulang beberapa hari pun ia tidak akan risau karena dengan atau tanpa kehadiran istrinya itu tidak akan mempengaruhi hidupnya. Jung Yunho tak butuh orang lain, yang ia inginkan orang lain yang membutuhkannya.
Ketika sedang menyeret kopernya menaiki tangga, pintu depan terbuka oleh seseorang yang baru saja datang. Yunho hampir tak peduli jika saja ia tak melihat siapa orang itu. Senyum tipis tanpa sadar tercipta di bibirnya karena melihat Jaejoong datang sambil membawa buku-buku kuliahnya. Anak tirinya itu baru saja pulang dari kampus dan tak sadar dengan Yunho yang sedang memperhatikannya di atas tangga.
"Jaejoong"
Jaejoong mengangkat wajah setelah namanya di panggil. Ia agak kaget melihat ayahnya yang sudah pulang dari jepang.
"Aboji"
Yunho meninggalkan kopernya di lantai atas tanpa berniat menaruhnya di kamar telebih dahulu. Ia menghampiri Jaejoong yang masih diam di tempat.
"Baru pulang?" Tanya Yunho sambil tersenyum. Jaejoong mengangguk.
"Aboji juga?"
"Yah, urusanku di jepang sudah selesai" Jawab Yunho, Jaejoong menganggukkan kepalanya.
"Ah iya, aku punya hadiah untukmu" Kata Yunho lalu menarik tangan anaknya untuk mengikutinya. Jaejoong yang tak tahu apa-apa hanya mengikuti ayahnya saja.
Setelah sampai di lantai 2, Yunho menyeret kopernya juga Jaejoong masuk kedalam kamarnya.
"Chamkam.." Yunho membuka kopernya, mencari benda yang khusus ia beli untuk Jaejoong. Beberapa menit kemudian Yunho selesai dan menghampiri Jaejoong yang berdiri di depan ranjang, ia menunjukkan sebuah kalung berbandul bunga edelweis.
"Aku menemukan kalung ini di toko yang tak sengaja aku lewati, dan aku berfikir ini cocok untukmu" Kata Yunho sambil mengangkat kalung itu. Jaejoong terdiam. Kalung perak itu cukup manis dan ia suka dengan pola bandulnya.
"Sini, cobalah" Yunho menarik Jaejoong hingga kedepan kaca hias. Pria tampan itu berdiri di belakang Jaejoong sambil tersenyum, mereka saling bertatap lewat kaca.
Perlahan Yunho merapihkan kerah kemeja yang di pakai Jaejoong, membuka kancing atasnya lalu merentangkan kalung itu dan memakaikannya ke leher Jaejoong.
Jaejoong menyentuh kalung yang sudah menggantung di leher jenjangnya lalu tersenyum.
"Ini indah, Aboji" Kata Jaejoong senang. Yunho mengusap kalung itu lalu menyentuh tangan Jaejoong yang masih ada disana.
"Ya, indah dan menawan" Kata Yunho dengan lembut. Jaejoong tak menyadari kemana arah tatapan mata Yunho. Pria tampan itu ingin sekali membuat tanda di sana tapi di tahannya agar Jaejoong tak takut. Ia hanya akan menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya.
"Kau membelikan ini untuk Omoni juga kan?" Tanya Jaejoong dengan polosnya. Yunho terdiam. Moodnya berubah ketika Jaejoong menyebut orang lain disaat hanya ada mereka berdua.
"Tidak. Haneul tidak akan suka benda tak berkelas seperti itu. Ia lebih suka barang-barang bermerk" Nada suara Yunho berubah dingin dan mulai menjauh dari tubuh Jaejoong. Jaejoong yang merasa suasananya berubah menjadi tak enak. Ia tahu ayahnya marah, meski ia tak tahu karena apa. Ia bertanya hal yang wajar dan tidak berfikir itu adalah sebuah kesalahan.
"Aboji, aku..."
"Keluarlah, suruh maid menyiapkan makanan untukku" Kata Yunho yang sibuk dengan pakaian di dalam koper.
Jaejoong mengangguk, lalu keluar dari kamar Yunho. Seperginya sang anak, Yunho terdiam. Ia hanya ingin menciptakan moment berdua dengan Jaejoong, tanpa mengingat orang lain tapi sepertinya itu sulit.
.
.
.
'Yunho..'
Yunho yang sedang berjalan di lorong sekolah itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh pada orang yang memanggil namanya. Orang itu tersenyum lalu berlari ke arahnya.
'Kau ingin ke kantin eoh?' Tanya orang itu yang sudah melangkah bersama Yunho.
'Iya, perutku lapar' Kata Yunho, lalu mendengar apa saja yang di katakan orang itu dalam diam.
Mereka berdua akhirnya tiba di kantin, saat itu semua tempat duduk sudah terisi penuh.
'Aish kenapa tempat ini penuh?' Orang itu sibuk mengedarkan pandangan kesekitar kantin untuk mencari tempat kosong, sedang Yunho terpaku pada satu sosok indah yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Ia adalah Jun jihun.
Yunho tersenyum Tidak ada yang membuatnya bertahan di sekolah ini kecuali gadis cantik itu.
'Apa yang kau lihat, Yunho?' Yunho tetap diam, orang itu mengikuti arah pandangan Yunho dan mengerti apa yang membuat sahabatnya itu diam.
Yunho tak pernah mengatakan siapa gadis yang di sukainya tapi Hyunjung yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil itu tahu hanya lewat tatapan matanya. Yunho jatuh cinta, tapi berulang kali dirinya menolak itu, dan seandainya saja ia lebih jujur maka masa depan mereka tak akan seperti ini.
.
.
.
Jaejoong sudah berdiri di depan pintu kamar Yunho. Tangannya sudah terangkat untuk mengetuk pintu berwarna cokelat itu, tapi ia menghentikannya dengan ragu. Apa tidak apa-apa jika ia memanggil Abojinya?
Jaejoong menggeleng, mencoba memantapkan hatinya, lalu baru satu kali ia mengetuk pintu itu langsung terbuka dengan cepat.
Yunho cukup terkejut melihat sang anak yang terpaku di depan pintu kamarnya. Jaejoong menunduk sambil berkata.
"A-aboji, makanannya sudah siap"
Yunho hanya berdehem lalu berjalan meninggalkan Jaejoong. Seperginya sang ayah, Jaejoong terdiam. Sebenarnya apa yang membuat Yunho marah?
.
.
.
Ceklek..
Minho tersenyum ketika dirinya mendapati seseorang sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Orang yang sudah di selamatkannya itu terlihat sudah sehat meski perban masih melingkar di wajahnya.
"Kau mau kemana, Minho ah?" Tanya orang itu karena melihat Minho keluar sambil menggeret kopernya.
"Aku harus segera tiba di Seoul karena Tuan Yunho sudah disana, aku takut jika ia membutuhkanku tiba-tiba" Kata Minho sambil tersenyum.
"Lalu bagaimana denganku?"
"Ada maid yang akan merawatmu, kau tidak usah takut. Rumah ini aku beli atas nama barumu dan semua yang bekerja disini tidak tahu rahasia kita" Kata Minho. Orang yang bernama Hyunjung itu hanya mengangguk. Sebenarnya bukan itu yang ia takutkan. Ia hanya tidak ingin berlama-lama disini dan berharap Minho membawanya, tapi ia tidak ingin menghancurkan rencana yang sudah Minho susun matang-matang.
"Minho ah, kenapa kau begitu baik padaku?" Tanya Hyunjung.
Minho terdiam. Sudah sewajarnya orang ini menanyakan apa alasannya menolong. Mereka tak saling kenal sebelumnya. Pertama kali melihat wajah Hyunjung ketika tak sengaja melihatnya di laptop milik Yunho. Awalnya ia merasa tak asing dengan wajah itu, dan ternyata sebelumnya ia pernah melihat Hyunjung tertidur di mansion besar Tuannya di Jepang.
Ia tak tahu alasan kenapa Tuannya menyekap orang seperti itu dan setelah mencari tahu akhirnya ia mengerti rencana bos besarnya itu.
Yunho punya dendam masa lalu dengan Hyunjung, sahabatnya. Dan hal itu yang membuat Yunho menyekap Hyunjung selama 3 tahun.
"Entahlah, yang pasti aku masih punya hati nurani, Ahjussi" Kata Minho sopan.
"Lalu kenapa kau tidak langsung membawaku kepada Yunho dan harus mengubah wajahku seperti ini?"
"Kalau seperti itu, berarti kita cari mati. Aku bersama dengan Yunho-sshi sejak lama. Aku tahu bagaimana wataknya. Ia tak akan segan membunuh orang yang menyakitinya"
"Tapi kenapa ia tidak langsung membunuhku?" Hyunjung penasaran dengan itu sejak dulu.
Minho diam. Ia tidak akan menceritakan apa alasan Yunho tak membunuh musuhnya ini.
"Aku tidak tahu" Hanya itu yang bisa ia katakan.
'Karena Tuan Yunho menginginkan anakmu..' Lanjut Minho dalam hati.
.
.
.
Yunho dan Jaejoong makan dalam diam. Tak ada di antara mereka yang berbicara. Jaejoong masih tidak mengerti kenapa Yunho marah. Memang Yunho jarang sekali berbicara dan selalu memasang wajah dingin seperti itu, tapi tetap saja Jaejoong tahu jika ayahnya itu sedang marah.
Brak..
Jaejoong menoleh kearah pintu ketika seseorang membukanya dengan kasar. Sosok Changmin berjalan melewati ruang makan tanpa berniat menyapa dua orang yang ada disana. Tapi harus menghentikan langkahnya ketika namanya di panggil.
"Changmin ah, kau sudah makan?" Tanya Jaejoong dari tempatnya. Changmin menoleh dan matanya langsung bertatapan dengan Yunho.
"Aku tidak lapar" Lalu setelah itu ia melanjutkan langkahnya.
"Untuk apa kau bertanya padanya? Anak itu tidak akan mengerti kalau kau mengkhawatirkannya" Kata Yunho sambil mengunyah makanannya.
Jaejoong diam. Mungkin Changmin tidak ingin makan bersama jika ada Yunho.
Greett..
Yunho berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan Jaejoong sendiri, sedang Jaejoong hanya menghela nafas, tak mengerti harus bagaimana.
.
.
.
Hyunjung berdiri di balkon kamarnya, mencoba menikmati udara malam yang berhembus. Ia menyentuh perban di wajahnya, cukup tak sabar untuk melihat wajah barunya. Ia lalu termenung, mengenang masa lalu yang sudah berjalan di belakang begitu cepat.
'Kau mengkhianatiku, Hyun!' Kata Yunho dengan tatapan tajam. Hyunjung yang berdiri di depannya hanya menggelengkan kepala, mencoba menjelaskan kesalahpahaman ini.
Jihun berdiri di belakang Hyunjung dengan takut karena melihat wajah marah Yunho. Ia benar-benar tak bermaksud mengkhianati Yunho, hanya saja ia sudah mencoba untuk mencintai pria itu, tapi berulang kali hatinya menolak.
Lalu ketika Hyunjung datang mengisi hidupnya, ia merasa menemukan apa yang tidak ia dapatkan dari Yunho, yaitu cinta.
'Seharusnya kau tahu kalau aku mencintai Jihun!'
'Kau tidak pernah mengatakannya padaku, Yunho. Aku tak tahu kalau gadis yang kau maksud itu Jihun' Kata Hyunjung, ia merasakan baju belakangnya di genggam dengan erat oleh Jihun.
Mereka bertiga berada di sebuah gudang kosong yang hanya berisi beberapa kayu usang. Yunho yang mengajak mereka bertemu tanpa tahu apa yang ingin di bicarakan pria itu.
'Aku sudah memberimu segalanya, Jihun ah. Cinta dan uang. Tapi kenapa kau tega mengkhianatiku?' Kali ini Yunho bertanya pada Jihun yang dari tadi diam.
'A-aku tidak, Yun. Kau tak pernah mau mendengar penjelasanku, kau selalu bilang perasaanmu tanpa bertanya bagaimana perasaanku' Kata Jihun jujur.
'Maafkan kami, Yun. Kita bisa membicarakan ini dengan baik'
Yunho yang sudah marah, menolak cara baik yang Hyunjung tawarkan. Ia lalu menodongkan pistol yang sudah dibawanya sejak tadi. Ia mengarahkan ujung pelatuk itu tepat didepan wajah Hyunjung, membuat dua orang yang ada di depannya semakin takut.
'Aku kira kau tahu aku sangat dalam, Hyun. Tapi kau sama seperti orang tuaku yang meninggalkanku sendiri. Kalian semua berbohong dan aku membenci itu'
'Yu-yunho..'
'Harusnya kau tahu apa akibatnya karena telah mengkhianatiku' Kata Yunho sambil mencengkram gagang pistol dengan kedua tangannya.
Dimata Yunho sekarang hanya ada amarah. Ia membenci kenyataaan bahwa orang yang ia cintai, yang sangat ia percaya telah mengecewakannya. Dulu orang tuanya meninggalkannya sendiri bersama seorang pelayan, ia ingin ikut tapi orang tuanya itu malah meninggal dalam keadaan yang tak pernah ia tahu. Ia sebenarnya membenci suara pistol karena suara itu yang ia dengar terakhir kali saat meninggalkan rumahnya dulu.
DORR...
Bruk..
Kedua mata dua orang yang ada di dalam gudang itu terbelalak, ketika tubuh seseorang jatuh ke lantai dengan darah yang mengalir dari dadanya.
'JIHUN AH!' Hyunjung berteriak ketika melihat tubuh gadis itu jatuh setelah menghalangi tubuhnya yang akan di tembak oleh Yunho. Ia tidak menyangka jika semua itu akan terjadi. Tubuhnya berlutut tak berdaya di hadapan orang yang sangat ia cintai.
'JIHUN AH...ANDWEEEEE...'
Hyunjung tersentak. Ia mengeratkan tangannya pada pembatas balkon. Ia membenci kenangan buruk itu. Sejak saat itu ia kehilangan sahabat dan juga orang yang di cintainya.
Dan ia tak pernah lupa dengan kata-kata Yunho saat pemakaman Jihun.
'Kau yang bersalah, Hyun. Kau yang membuat Jihun pergi dan kau yang harus membayar kehilangan ini' Kata Yunho lalu pergi meninggalkannya yang terdiam.
Setelah itu, selama bertahun-tahun Yunho menghilang dan kembali bertemu sekitar 10 tahun yang lalu.
"Yunho ah, aku tahu aku salah, tidakkah kau puas telah membuatku hancur seperti ini? Tolong hentikan" Katanya lirih. Ia sangat merindukan sosok sahabatnya itu, rindu akan tawa yang selalu mereka lakukan sebelum Jihun datang dalam hidup mereka.
.
.
.
Yunho keluar dari ruang rapat di ikuti oleh Minho di belakangnya. Asistennya itu sedang membacakan agenda yang harus ia kerjakan hari ini, termasuk makan siang bersama klien barunya.
"Tuan, kemarin ada yang menelepon saya, dia ingin melakukan kerjasama dengan anda" Kata Minho setelahnya. Saat ini mereka sudah berada diruangan Yunho.
Yunho duduk di kursinya sambil melonggarkan sedikit dasi di lehernya. Ia menatap Minho dengan tatapan datar.
"Apa perusahaannya sangat berpengaruh?"
Minho membuka buku catatannya, "Perusahaan asing bernama Revward Corp, perusahaan penghasil baja dari Swiss"
Yunho terdiam, sepertinya ia mengenal perusahaan itu. "Lalu bagaimana mereka tahu perusahaan kita?" Tanya Yunho yang masih penasaran. Ia hanya ingin melakukan kerjasama dengan perusahaan yang punya kelas di bidangnya, dan tentunya harus menguntungkan Jung Corp.
"Asisten perusahaan itu bilang kalau mereka tahu profil perusahaan kita dari internet" Kata Minho masih membaca buku catatannya, "Lagipula siapa yang tidak kenal Jung's Corp, Tuan?"
"Tidak. Hanya saja kau tahu bagaimana cara kerjaku. Aku tak ingin ambil resiko terlalu besar. Aku ingin sesuatu yang menguntungkan" Kata Yunho, Minho mengangguk paham.
"Dan direktur perusahaan itu ingin bertemu dengan anda" Lanjut Minho.
"Baiklah, kapan?"
"2 minggu lagi, Tuan"
.
.
.
Tadi Jaejoong memaksa Changmin untuk menemaninya berbelanja, meski di warnai aksi penolakan dari pria tampan itu, Changmin tetap saja harus ikut, alhasil di sinilah mereka. Supermarket.
"Aku ingin sekali membuat spagetti spesial yang pernah aku buat di Jepang, tapi di rumah tak ada bahan-bahannya" Jaejoong terus saja mengoceh, sementara Changmin berjalan malas di belakangnya.
"Lalu kenapa aku harus ikut?" Tanya Changmin agak kesal. Sejak mereka lebih akrab, Jaejoong senang sekali mengaturnya.
Jaejoong menghentikan jalannya, lalu menoleh tajam pada Changmin.
"Kau tega melihatku membawa banyak barang? Setelah ini pun aku harus membeli buah" Kata Jaejoong berlebihan. Changmin mendengus.
"Demi Tuhan kau pria, Jae. Kau tak akan mati hanya karena membawa beberapa kantong belanjaan"
"Kau juga pria, Jung Changmin. Dimana rasa kasihanmu?" Tanya Jaejoong sambil menunjuk-nunjuk dada Changmin.
Changmin hanya memutar bola matanya jengah.
Jaejoong kembali mendorong troli sambil memilih bahan-bahan yang ia butuhkan. Saat sedang melihat-lihat, tak sengaja matanya melihat sosok yang cukup di kenalnya. Ia tersenyum setelah yakin kalau matanya tak salah.
"Kyuhyun ah!" Panggil Jaejoong, membuat Kyuhyun dan Changmin menoleh.
Mereka bertiga saling berhadapan. Jaejoong tersenyum senang melihat sahabatnya itu tanpa menyadari keterkejutan di wajah dua orang lainnya.
.
.
.
Yunho duduk di kursi sebuah restoran terkenal, disampingnya Minho sedang sibuk dengan ponsel. Mereka punya janji bertemu dengan klien di tempat itu.
Sudah 15 menit mereka tiba disana. Yunho sibuk membaca ulang profil perusahaan klien yang kemarin di berikan oleh asistennya.
Beberapa menit kemudian, seorang pria berjas hitam memasuki restoran itu. Matanya berpendar ke sekitar restoran sebelum seorang waiters menegurnya.
"Anda sudah melakukan reservasi, Tuan?"
"Tidak. Aku janji bertemu dengan Jung Yunho"
"Oh, Tuan Jung. Beliau ada disana" Pria itu mengikuti arah tunjukan pelayan itu, dan matanya melihat sosok Yunho yang duduk membelakanginya.
Ia menelan ludahnya, lalu mengirim pesan pada Minho, "Aku sudah di belakang kalian" Tulisnya. Minho menerima pesan itu tak lama.
"Selamat siang" Seseorang menyapa mereka dari belakang. Yunho dan Minho menoleh. Seorang pria berjas berdiri disana.
"Hallo, Mr. Jung. Saya Hwang Yuanmin dari Revward Corp" Kata pria bernama Yuanmin itu.
Yunho terlambat merespon uluran tangan pria itu. Ia melihat lama pada klien barunya itu.
"Ada apa, Tuan?" Tanya Yuanmin. Yunho menghilangkan wajah terkejutnya lalu tersenyum.
"Ah, tidak. Saya kira anda teman lama saya, tapi sepertinya hanya mata dan suara anda yg sedikit mirip"
"Benarkah?"
"Ah sudahlah, tak perlu di bahas. Silahkan duduk" Kata Yunho sopan. Ia mencoba menepis perasaan curiga itu dan meyakinkan dirinya kalau...
'Tidak mungkin dia Hyunjung' Katanya dalam hati.
Tanpa disadari, Minho dan Yuanmin saling tersenyum tipis. Ya, semoga saja rencana mereka berhasil.
.
.
T
B
C
.
.
Ini ff update cepet gak? Cepet dong. Haha. Ini baru kelar jam 2 pagi tadi. Kalau nulis ff ini harus bener-bener mood nulis karena 1 chapter itu ditulis dalam jangka waktu beberapa jam saja, kenapa? Karena aku kan suka lupa plot. Hehe.
Ah iya, curhat ini lebih panjang yah. Aku mau jawab pertanyaan readers yg masih bingung ma ff ini.
Q: ko ff ini ngebingungin ya, thor?
A: Aku belum bilang yah kalo ff ini terinspirasi dari film paris yg aku tonton jaman bahela XD n emang cerita d film itu ribet banget tp aku cuma ambil inti cerita kok n itu gak semua, cuma garis besar aja dan apa itu intinya? Masih beberapa chap lg baru aku ungkap. Judul film itu aku lupa, yg pasti mirip sama kisah Yunjae di ff ini.
Q: kasih clue dong biar bisa terawang endingnya.
A: Clue? Emang masih ngambang (?) yah cerita ff ini? Yg pasti ini ff angst tapi happy ending kok ^^
Q: Yah, moment Yunjae minim banget. Minjae lebih banyak.
A: Memang sengaja XD Tapi Minjae bukan moment lover kok, mereka lebih ke saudara.
Q: Incaran Yunho itu Jaejoong atau Changmin?
A: Masa gak tau sih? ^^
Q: Yang jadi tahanan Yunho itu siapa dan kenapa? Kenapa Minho mengkhianati Yunho?
A: Di chapter ini udah jelas kan? Namanya juga udah aku sebut tuh dan jg alasan Minho ada di chap ini.
Ada pertanyaan lain yg belum aku jawab? Sisanya chap depan yah ^^ yg pasti jgn khawatir, di tiap chap semua rahasia pasti aku ungkap kok. Chapter ff ini mudah2an gak banyak biar kalian gak bosen bacanya. Ini ff bukan bertele-tele, tapi pengungkapannya emang harus pelan-pelan.
Sekali lagi Thanks for my beloved readers. Mian author note-nya panjang. Haha.
Keep reading and review ^_^
