Matahari menyeruak masuk dari celah-celah tirai kamar apartemen Kagami. Matanya terbuka perlahan. Setelah mengumpulkan nyawa, ia bangkit dari kasurnya dan membuka tirai coklat itu. Sontak, ia menyipitkan matanya ketika cahaya matahari bertemu dengan mata merahnya.
Shit, umpatnya dalam hati. Baru juga bangun, langsung disambut matahari. Biasanya, Kagami bangun saat matahari masih asik bersembunyi. Dengan terburu-buru, pria yang memiliki apartemen minimalis ini menuju meja kecil di sebelah kasurnya untuk mengecek jam di ponselnya.
Pukul 08.00
Mampus. Ia lupa bahwa hari ini Seirin ada latihan pukul tujuh. Sial. Tidak mau dijadikan perkedel oleh kantokunya itu, Kagami segera bergegas menuju kamar mandi.
Jalanan menuju Maji Burger cukup lengang sore itu. Kagami sesekali menekuk pinggangnya yang terasa pegal setelah dapat 'hadiah' dari kantokunya itu. Selain latihan extra, Kagami juga disuruh pulang terakhir. Nasib.
"Bakagami!" teriak suara yang amat familiar itu ketika Kagami baru mau memasuki Maji Burger.
Kagami memesan burger lebih banyak dari biasanya—yang tentu saja menjadi pusat perhatian—saking laparnya.
Pffffft.
"gile, Bakagami. Banyak banget belinya. Dasar perut karung!" Aomine yang telah duduk berhadapan dengan Kagamipun memandang takjub sambil memegangi perutnya
"bewriwsik! Gwue lwapwar habwis di hukwum katwokwu! " balas Kagami keki
"huahaha, Bakagami. Telan dulu, baru ngomong! Lagian kok bisa?"
Kagami menelan kunyahannya lalu bercerita dengan berapi-api, membuat beberapa orang menengok. Saat Kagami bilang bahwa ia bangun kesiangan, Aomine mengangkat alisnya. Seperti teringat sesuatu
"omong-omong, kemarin malam gue pulang ke apartemen lo. Tapi nggak ada tanda-tanda kehidupan. Gue telp elo juga nggak aktif." Aomine menatap Kagami penuh tanya. Rambut merah itu berpikir sebentar, baru ingat bahwa dia semalam mabuk dan memilih mematikan ponselnya. Ini semua gara-gara keiriannya terhadap perempuan bersama Aomine kemarin.
"uuugh, iya gue ketiduran." jawab Kagami gugup.
"gara-gara itu, gue jadi kena omel abis-abisan dan ketauan bohong, tau! Uang bulanan gue juga di potong," Aomine memasang wajah sebal. Walaupun tidak sepenuhnya sebal, sih.
Kagami mengigit burgernya dengan dramatic, ada rasa bersalah dan nggak enak. Lagipula, Kagami tidak sepenuhnya salah, kok. Kenapa juga Aomine tidak bilang dulu kalau mau menginap?
Namun karena Kagami adalah laki-laki bertanggung jawab, ia menawarkan Aomine untuk pergi belanja kebutuhan bulanan bersamanya dan mentraktirnya lusa sore. Aomine menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"duh, sori, Kagami. Gue gak bisa. Ugh…,"
"ugh…, nyokap rewel minta temenin ke wedding party temannya," lanjut aomine, masih menggaruk-garuk. Cowok berkalung dihadapannyapun mengernyitkan dahinya. Aomine? Menemani Ibunda? Terlebih lagi… ke wedding party? Gak salah? Walaupun disana nanti banyak makanan, tapi Aomine tidak semaruk itu kok ketimbang harus bertemu tante-tante—teman mamanya—akan menanyakan hal itu-itu lagi. Well, bukan masalah buat Kagami. Justru kabar baik buat dompetnya.
"eits, bukan berarti batal ya! Tch. Nanti gue kabari," seakan bisa menembus otak Kagami, Aomine buru-buru nyerocos. Kagami hanya berdehem
Kalau Aomine tidak pergi menemani Ibunya, pasti Kagami tidak akan sial sendiri seperti ini. Hujan deras yang turun tiba-tiba itu hampir membuat baju Kagami basah seluruhnya. Beruntung, Kagami menemukan resto yang cukup penuh dan masuk. Ia mencari tempat duduk lebih ke dalam karena di depan sudah penuh. Langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan beberapa meter di depannya.
Seorang berambut navy blue sedang memiringkan kepalanya ke kanan. Terlihat tangan seseorang menemplok di lehernya.
Nggak mungkin
Kagami pasti lagi berdelusi.
Rambut kuning.
Aomine dan Kise…. Ciuman?
etto... thanks for reading and sorry for the absurdness._.
but again...
mind to review? :D
