"Kudengar dari para pemain klub basket.., Riko-senpai berteman dengan salah satu temannya.." Katanya. Riko mengangguk.

"Iya, namanya Tetsuya, sekelas dengan Akashi-kun dan yang lain.., anaknya pemalu dan berwajah datar.." Mendengar itu, air muka Furihata berubah.

"Se—senpai baik-baik saja, kan?" Tanyanya. Riko mengangkat sebelas alis.

"Apa maksudmu, Furihata-kun? Aku baik-baik saja.." Elak Riko. Furihata mulai merinding, "Ha—habisnya—"

"Di sekolah kita 'kan tidak ada siswa bernama Tetsuya!"

.

.

CURSE OF KUROKO

Genre : Tragedy/Mystery

Rate : T..?

Setting : AU!Teiko High

Warnings : Typo(s) , alur kepanjangan, horror ga kerasa, OOC nyelip, de-el-el

.

.

#Happy Reading!

.

.

Kuroko no Basuke Fujimaki Tadatoshi

FanFiction Ameru-Genjirou-Sawada

"Shintarou, buku yang kau pinjam dariku—" Akashi terdiam tatkala melihat kelas 7-C sepi. Gorden kelas menyibak kasar seiring pergerakan angin sore yang makin liar. Harusnya, ada seseorang yang masih disini.

"Shintarou.." Akashi melihat tas milik Midorima masih tergantung pada gantungan tas disamping meja. Lucky item Midorima, yaitu kalung rosario, masih tergeletak diatas meja milik Midorima.

Matahari makin turun menujukkan waktu yang semakin petang. Burung gagak berterbangan dan bernyanyi, menambah suasana sore yang sepi di gedung sekolah itu. Sementara disini, Akashi masih berkecamuk dengan pikirannya yang genius. Kejadian seperti ini, waktu itu Kagami menghilang dan ditemukan terpenggal dan termutilasi. Apakah MIdorima..?

Menepis pikiran negative itu, Akashi segera menyampirkan jersey basketnya dan memutuskan untuk meninggalkan ruang kelas tersebut.

.

.


~~~CURSE OF KUROKO~~~


Mereka berjalan beriringan menuju sebuah lorong yang sepi dan gelap dilantai 3. Sudah sore, dan lorong itu semakin gelap dan minim pencahayaan. Midorima perkiraan ini adalah sekitar ruang lab seni dan PKK.

Namun yang membingungkan Midorima adalah, alasan Tetsuya membawanya kesini. Apa Tetsuya ketinggalan sesuatu? Tapi, seingatnya hari ini tidak ada pelajaran seni ataupun PKK, mengapa harus kesini?

"Oy, Tetsuya, " Midorima memutuskan untuk memecah keheningan diantara mereka.

"Khuhuhu.." Apa? Suara tawa apa itu? Apa Tetsuya?

"Oy, Tetsuya!" Midorima memanggil lebih keras, membuat Tetsuya menoleh kearahnya.

"Ada apa, Midorima-kun?" Tanya Kuroko balik. Wajahnya tetap sama seperti biasanya, nada bicaranya juga. Apa tawa aneh tadi hanyalah angin lalu?

"Ah, tidak, nodayo." Midorima menjawab. Tetsuya menatap sebentar Midorima sebelum berbalik, "Midorima-kun.."

"Ya?" Hijau bertemu blue sky.

"…mati adalah satu-satunya jalan…"

"Ap—"

.

.


~~~CURSE OF KUROKO~~~


Riko terhenyak mendengar pengakuan Furihata. Apa? Tidak ada yang bernama Tetsuya?

"Kau…pasti bercanda, Furihata-kun.." Riko kembali mengelak pernyataan Furihata. Namun, Furihata menggeleng.

"Akhir-akhir ini banyak yang melihat kalian berjalan. Namun, kalian..nampak hanya bicara pada angin…" Jelas Furihata meyakinkan. Riko masih diam.

"…Riko-senpai..?"

"Aku tidak percaya. Maaf, Furihata-kun, aku pulang dulu.." Ucap Riko seraya bangkit dan meninggalkan Furihata.

Manik coklat Furihata menatap langkah ketua jurnalistik itu yang semakin menjauh pergi. Maniknya sendu menatap punggung senpainya tersebut.

"…apa jangan-jangan..."

.


Waktu menunjukkan pukul 7 lebih 15 menit. Walau langit sudah berubah gelap dan hanya ditemani cahaya sang rembulan dan lampu neon kota, suasana tetap terasa gelap dan sepi. Akashi masih berkutat dengan buku yang tadi, dipinjam Midorima. Sekarang ia bertanya-tanya mengenai keberadaan anggota team basketnya itu.

Apa dia sudah pulang? Entah kenapa, emperor mendapat rasa bahwa seusatu akan terjadi diantara mereka.

"Seijuuro, bisa ibu bicara padamu?" Akashi Tsukiko memasuki ruang tamu dimana Akashi duduk membaca buku. Tanpa menjawab sang ibu duduk diseberang Akashi.

"Ada sesuatu, bu?" Tanya Akashi singkat—masih terpaku pada buku yang ia baca. Tsukiko hanya menatap anak tunggalnya itu.

"Kau tentu tahu Midorima Shintarou.." Akashi langsung mendongak mendengar nama Midorima disebut. Ada apa dengan si kepala hijau itu?

"Ibu, bicara yang jelas.." Tukas Akashi dingin.

"Ibunya tadi menelepon, sampai sekarang ia belum pulang.." Akashi menutup bukunya. Menimbulkan suara berdebam yang agak keras.

"Apa?"

"Bukankah kau pulang sore tadi? Kau melihatnya..?" Tanya Tsukiko sekali lagi pada putra tunggalnya itu.

Hening. Akashi tidak menjawab, dan Tsukiko tidak melanjutkan lagi pertanyaannya.

Ini, kini Akashi yakin ada sesuatu yang terjadi. Tapi, apa? Akashi benar-benar clueless.

"Maaf, bu, aku tidak tahu." Akashi membuka buku yang tadi ia tutup. Tsukiko masih diam menatap Akashi yang mulai asyik dengan buku itu.

"Kau yakin, Seijuuro?"

"Ibu tidak percaya padaku?" Akashi balik bertanya. Tsukiko memutuskan untuk pergi meninggalkan anaknya itu.

Percaya, iya. Tapi sekarang, dalam hati dan pikiran Akashi, tengah memikirkan.

Apa yang terjadi?

.

.


~~~CURSE OF KUROKO~~~


Akashi masuk kedalam kelas dan langsung disambut kepanikan oleh Kise.

"Akashicchi! Gawat—ssu!" Teriak Kise yang alhasil membuat Akashi kesal, "Ada apa, Ryota? Kau tahu tidak baik pagi-pagi berteriak seperti itu." Ujarnya ketus.

"Bukan saatnya untuk itu—ssu! Ini gawat—ssu!" Kise kembali berteriak. Akashi menaikkan sebelah alisnya.

"Biar kutebak, ini soal Shintarou?" Kise terbengong sebentar, sebelum ia mengangguk lemas.

"Katanya ia tidak pulang…dan sampai sekarang tidak ada yang tahu dimana dia—ssu.." Jelas Kise. Smack! Kekhawatiran Akashi makin menjadi.

"Dan katanya, polisi sedang dalam penyidikan.." Aomine menambahkan. Akashi masih terdiam.

"Selamat pagi." Ucapan selamat pagi dari Tetsuya membuat suasana yang tadinya tegang agak cair.

"Pagi, Tetsu.." Sapa Aomine.

"Tetsuyacchi, apa kemarin Tetsuyacchi melihat Midorimacchi—ssu? Dia kemarin tidak kembali kerumahnya—ssu!" Kise memutuskan untuk bertanya pada Tetsuya. Yang ditanya terdiam, menunduk, dan akhirnya menggeleng pelan.

"Maaf, Kise-kun, aku tidak tahu." Ujar sang baby blue.

Tepat setelah Tetsuya, bel berdentang.

"Pelajaran sehabis ini seni.." Aomine bangkit dari posisi duduknya.

"Iya, lebih baik, lupakan dulu soal Shintarou. Tetap fokus pada pelajaran." Titah Akashi.

.

.


Murid kelas 7-C berjalan menuju lantai 3 dimana terdapat ruang kelas seni. Beberapa anak tampak bercanda ria dan iseng mengganggu teman-temannya.

Anggota GoM berjalan dibarisan belakang. Namun, tak satupun dari mereka yang berbicara. Sepertinya mereka berkutat dengan pikiran mereka sendiri. Tetsuya yang sendari tadi berjalan disamping Aomine pun tidak mengatakan apapun.

Hingga Kise terdiam dan mulai mengendus-endus.

"Hey, kalian mencium itu—ssu?" Tanya Kise pada teman-temannya. Aomine menjawab asal, "Apaan, sih, Kise?!"

"Tunggu, " Akashi memberi perintah untuk diam, "Aku juga menciumnya.., baunya.."

"…anyir.." Murasakibara yang sendari tadi diam berbicara.

"KYAAAA!" Terdengar teriakan salah seorang siswi. Akashi dan yang lainnya berlari menyusul teriakan tadi.

"Ada apa?!" Tanya siswa yang lain.

"ITU—"

Mereka semua terbelalak. Ya Tuhan, ini…

"TI—TIDAK—"

"Shintarou.."

.

.

==TBC==


Hem..mulai aneh, yaa.., dengan fic ini.. *usep2 dagu* siapa lgi ya kira2 korban dri kutukan ini? *evil smirk*

Yak, sampai jumpa di chapter 005!

SPECIAL THANKS :

NOZOMI RIZUKI 1414 || KUROYUKI31 || || RALLFREECSS || CHWANGKYUH EVIL BERRY || DEVIL.X REINI || KUROSHI SATSUMI || MISAMIME || SHIROHARA YUKINA || SHOUJO RECORD || || NAMIKA RAHMA|| PINGKAN || VANDQ || ELFARIZY || EQA SKYLIGHT || 96RUI || VANILLACHOCO || KUROAMALIA || BROKENWINGS2602 || GOLDEN EYE LASHES || RYCHIZUU || SCARLETJACKET || .5 || THALIA TETSUNA || LOLICONKAWAII ||

==AND YOU ALL!==


SPOILER!—

"Aku mulai curiga dengan apa yang sudah terjadi.."

"Ja—jangan-jangan, kita sudah dikutuk—ssu..!"

"Hanya tinggal aku, Atsushi, Ryota, Daiki dan kau, berhati-hatilah."

"Tunggu, Aka-chin, aku ikut—"

"Atsushi?"

CHAPTER 005 ON-GOING—!