Pemuda jelmaan titan itu tidak menyadari sosok kehitaman yang ada di persimpangan lorong.

"Tunggu, Aka-chin, tunggu aku—"

WUUNG

ZRAAAT

Akashi membeku ditempat. Mendengar suara itu, dengan cepat ia menoleh kebelakang.

BRUK

"Atsushi..?"

.

.

CURSE OF KUROKO

Genre : Tragedy/Mystery

Rate : T masuk (M)

Setting : AU!Teiko High

Warnings : Typo(s) , OOC nyelip, horror nyelip, gore bkin jantungan, rate menjerumus ke (M) , de-el-el

.

.

#Happy Reading!

.

.

Sudah saya katakan, fic ini menjerumus ke gore (M) , kalau Anda masih punya nyali membaca fic ini, scroll ke bawah, nikmati fic saya, kalau nyali Anda ciut, silakan tekan tombol back, daripada nanti tidak bisa tidur…

Ameru Sawada & Genjirou Sawada—

.

.

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

FanFiction © Ameru-Genjirou-Sawada

TLUK

GLUNDUNG

Akashi membeku ditempat. Ia tak percaya baru saja ia ingin cepat-cepat pulang kerumah, sekarang ia berhadapan lagi dengan hal ini.

"Atsushi—" Suara Akashi terasa tercekat. Walaupun ia disebut absolute, tetap ia juga manusia biasa.

Kini didepan kakinya, kepala Murasakibara yang terpenggal menggelinding mulus menuju ujung sepatunya. Sementara tubuhnya tertinggal sekitar 1 meter dibelakangnya. Darah berceceran dilantai dan terciprat sebagian di dinding.

Setelah mengumpulkan pundi keberanian, Akashi melangkahkan kakinya melewati kepala itu, lalu berjalan mendekati sebilah kapak yang tertancap didinding yang penuh cipratan darah Murasakibara.

Ia menoleh kekanan. Kapak tadi melayang dari arah sana, Akashi yakin. Namun apa yang emperor eyes-nya lihat adalah, kegelapan. Tidak ada sosok apapun dilorong itu. Lorong itu gelap. Namun kapak itu melayang mulus dan memenggal kepala jelmaan raksasa itu.

Lelucon. Tidak mungkin kapak dengan kekuatan bulan(*) bisa mengarah lurus kearah Murasakibara. Pastilah ada sosok yang melemparnya. Sekalipun sosok itu lari, Akashi pasti bisa merasakan keberadaannya dan mengejarnya. Namun, emperor eyes-nya tidak menangkap sosok manusia apapun disana. Apakah kapak itu melayang sendiri?

Ingat tentang 'Kutukan Kuroko' yang diceritakan Riko-san?

Tiba-tiba perkataan yang sempat Kise lontarkan itu terbesit lagi dalam benak Akashi. Ya, sejak mereka mengais-ngais tentang rumor kutukan itu, satu-persatu korban mulai berjatuhan. Namun selama ini Akashi tidak pernah mendengar korban dari kutukan ini. Mengapa baru sekarang kutukan itu nampak?

Ja—jangan-jangan kita sudah dikutuk—ssu…!

Akashi bukannya penakut. Akashi bukannya percaya dengan hal semacam itu. Namun jika hal-nya seperti ini, ini merupakan ancaman jiwa.

Tapi tentu aparat polisi tidak akan percaya.

Pernyataan itu muncul dalam diri Akashi. Dan memang benar, tentu aparat hukum tidak akan mau mendengar hal yang tidak berbau fakta ini. Dan pada akhirnya, kejadian ini hanya dianggap kasus bunuh diri semata.

Padahal sesuatu yang gelap sedang mengincar mereka.

Si surai merah kembali mendapat kecamuk dalam hatinya. Berpikir sekeras apapun juga tidak ada gunanya, karena cepat atau lambat, semua dari mereka pasti akan habis tak tersisa. Dan jika korban terakhir sudah ditentukan, sosok itu pasti akan menampakkan wujudnya yang sebenarnya.

Menutup matanya sebentar. Menyembunyikan manik scarlet-gold itu sejenak. Menghirup udara yang kini ditambah anyirnya darah Murasakibara. Pertama, Kagami Taiga, kedua, Midorima Shitarou, ketiga, Murasakibara Atsushi. Dan Akashi merasa bahwa korban keempat sudah muncul.

Merogoh saku celananya, diambilnya flip phone berwarna marun itu, ia tekan beberapa angka, sebelum menempelkannya pada telinga kanannnya.

"Hallo, polisi.."

.

.


~~~CURSE OF KUROKO~~~


Mobil polisi bersama medis datang 30 menit setelah Akashi menelepon mereka. Aparat medis segera menggotong mayat Murasakibara, lalu sempat menanyai Akashi sejenak.

"Terimakasih atas kerjasamanya, nak, kabari kami bila ada kejadian lainnya.." Ujar salah satu polisi itu dan melangkah meninggalkan Akashi yang diam berdiri. Bunyi sirine ambulance berdengung memecah sore di Teiko.

"Akashi." Akashi menoleh dan mendapati Hyuuga Junpei berdiri tak jauh dibelakangnya. Ia menatap mobil polisi dan ambulance yang bergerak menjauh.

"Jadi, hari ini ada dua korban.." Pernyataan Hyuuga barusan membuat Akashi agak terhenyak. Apa katanya, dua?

Seakan dapat membaca tatapan Akashi, Hyuuga menjawab, "Aku menemukan mayat Riko ditangga lantai 2, dengan kondisi kepalanya sudah remuk.." Jelasnya. Akashi hanya diam.

Ia tidak menatap kakak kelasnya itu sementara, sebelum ia membuka mulut lagi, "Bukankah ini aneh, Hyuuga-senpai.." Katanya. Bisa Akashi tebak kalau Hyuuga sedang mengangguk setuju.

"Aku tahu, aku sudah memeringatkan Riko, namun sepertinya Riko sudah mendapat tulahnya.." Hyuuga menaikkan bingkai kacamatanya. Dari tatapannya sepertinya ia sudah lelah.

"Berhati-hatilah, Hyuuga-senpai, " Ujar Akashi, "Antara kau, aku, Daiki, dan Ryota.." Ia gulir maniknya kebawah, menerawang tanah yang ia pijak.

Ini memang bukan seperti Akashi. Tapi, tidak ada salahnya memeringatkan sebelum semuanya terlambat.

"Terimakasih, Akashi." Lalu Hyuuga berjalan meninggalkan Akashi. Meninggalkan Akashi yang tengah menatap tajam langit sore itu.

.

.


~~~CURSE OF KUROKO~~


Esoknya para siswa kembali gempar mendengar kabar pembunuhan lain selain Kagami dan Midorima. Pihak sekolah yang mulai khawatir dengan keamanan sekolah yang terancam, mengumpulkan para murid di aula sekolah dan memberi sedikit pemberitahuan mengenai pentingnya membangun pertahanan diri. Smeua murid mendengarkan dengan seksama.

Setelahnya, jam pelajaran kembali dilanjutkan. Namun naas (atau membahagiakan) untuk kelas 7-C karena sang guru matematika yang menyebalkan secara kebetulan tidak hadir dikarenakan sakit.

Kise, Akashi, dan Aomine duduk saling melingkar. Kise yang mendengar Riko dan Murasakibara menjadi korban berikutnya kembali merinding. Ia menjerit ketakutan,

"HANYA TINGGAL KITA BEREMPAT DAN HYUUGA-SAN SAJA—SSU!" Jeritnya. Aomine menghadiahi Kise jitakan di dahinya.

"Tenanglah, Ryota, " Akashi berusaha menenangkan, dengan nada dinginnya, "Dan maksudmu empat?"

"Ya, kita bertiga, Tetsuyacchi, dan Hyuuga-san.." Ujar Kise polos. Akashi menghela napas.

"Ryota, Tetsuya bertemu kita setelah kita mengetahui rumor itu, jadi jelas ia tidak ada hubungannya dengan kita.." Jelas Akashi.

"Eh, wah.., curang juga.." Celetuk Aomine. Entah ia yang sepertinya paling tenang—atau cuek—menanggapi hal ini.

"Ada apa?" Tiba-tiba saja Tetsuya muncul dan membuat Aomine hampir terjungkal dari kursinya.

"Tetsu! Mengangetkan saja! Sejak kapan kau disini?" Aomine sewot.

Tetsuya hanya menatap datar, "Sejak tadi, Aomine-kun.." Dan dibalas geraman kesal Aomine.

"Kalau begitu, temani aku ke kantin, Tetsu.." Lalu Aomine menggaet Tetsuya menuju kantin. Meninggalkan Kise dan Akashi.

"Hee, padahal aku juga mau ikut.." Kekeh Kise.

.

Setelah membeli roti sandwich, Aomine dan Tetsuya berjalan berdampingan. Tetsuya sendari tadi hanya diam seraya menyesap vanilla milkshake yang ia beli. Aomine melirik malas.

"Apa Tetsu tahu tentang 'Kutukan Kuroko' ?" Celetuk Aomine tiba-tiba. Tetsuya menatap sepasang biru tua itu datar.

"Apa?"

"Rumor ke-13 SMA ini.." Balas Aomine.

"Tidak tahu, tidak pernah dengar.." Tukas Tetsuya, lalu ia kembali menyesap minuman yang sendari tadi ia pegang. Aomine mengerjap heran.

Namun ia memutuskan untuk tidak menanyai lagi

.

.


Kau tidak sadar kalau kaulah mangsaku berikutnya…


Karena hari ini ada rapat guru mendadak, jam pelajaran dipotong dan murid pulang lebih awal. Namun Kise yang masih jengah memutuskan untuk bermain basket sejenak.

Ia frutasi. Ia kesal, mengapa teman-temannya bisa mati dengan cara yang begitu mengenaskan. Apa ini ulah pembunuh bayara ataukah ulah orang yang sakit jiwa? Entah, namun firasat Kise mengatakan kalau pembunuhan ini sudah direncanakan.

'Argh, aku bingung sekali….' Memang otak Kise tidaklah sepintar Midorima ataupun Akashi, memikirkan hal ini saja membuat kepalanya pusing.

DUK

Manik madu Kise mengerjap tatkala melihat bola basket menggelinding dan mengenai ujung sepatunya.

"Ah, Kise-kun, " Kise menengadah dan menemukan Tetsuya sedang berdiri di lapangan basket. Lengan baju sekolahnya ia singsingkan agar tidak terkesan gerah. Baru kali ini Kise melihat Tetsuya bermain basket.

"Kise-kun, bisa tolong kemari.." Kise terkesiap. Ia segera melangkah maju.

Sejenak Tetsuya terdiam, ekspresinya nampak tak terbaca. Ketika Kise sudah didepannya,

"Tetsuyacchi, ini bolanya.." Tetsuya tersadar dan segera menerima bola itu, "Ah, arigatou, Kise-kun.."

"Doumo. Aku baru melihat Tetsuyacchi bermain basket.." Ujar Kise dengan rautnya yang senang. Tetsuya hanya diam. Melihat punggung Kise yang melangkah menjauh.

"Nah, Tetsuyacchi, pass!" Kise memasang kuda-kuda. Tetsuya masih diam. Ia tahu bahwa Kise mengajaknya untuk one-on-one dengannya.

Seringai.

"Eh? Tetsuyacchi—" Kise terheran melihat ekspresi Tetsuya yang berubah. Ia merasakan juga bahwa udara disekitarnya mendadak dingin.

"Bagus." Kise menelan ludah. Apa ini? Perasaan ini—

"Tetsuya—"

BUAAGH

Wajah Kise seketika terhantam oleh bola basket dengan kekuatan besar. Rasanya seperti dihantam pass oleh Aomine atau Murasakibara. Sakit sekali. Dan Kise jatuh tersungkur dibawah ring basket itu. Hidungnya mengeluarkan darah.

"Khuhuhu.." Terdengar tawa aneh dari mulut Tetsuya. Ekspresinya menggelap.

"Tetsu..yacchi.." Sembari menahan sakit di wajahnya, Kise berusaha menyadarkan Tetsuya.

"Khuhuhu, kau mangsaku berikutnya, Kise-kun…" Sekelabat, bola basket yang menggelinding bebas menuju Tetsuya ia ambil lagi, dan ia lemparkan menuju ring basket yang berada tepat dibawah Kise. Sial, Kise tak sempat menghindar.

BRAAK

Dan Tetsuya menghilang begitu saja.

.

.


~~~CURSE OF KUROKO~~~


Akashi dan Aomine berjalan berdampingan dipersimpangan jalan dalam diam. Mereka saling larut dalam pikiran mereka.

"Jangan sampai kau lengah, Daiki, " Aomine melirik Akashi yang membuka mulutnya, "Kita sudah dikutuk, apapun bisa terjadi.." Lanjutnya.

"Aku tahu, tapi kenapa kau menanggapinya begitu serius.." Aomine menggaruk tengkuknya gusar. Ia sudah cukup jenuh mendengar hal itu.

"Jangan anggap remeh, Daiki, ini perintah." Akashi tak kalah gusar mendengar jawaban Aomine. Terkesan tidak serius.

"Aku tahu, cukup, Akashi.." Aomine pun berjalan menuju zebracross. Akashi hanya menatap datar.

"Awas, nak!" Seorang bapak-bapak menghardik kearah Aomine. Akashi yang terkejut mengedarkan pandangannya kesekitar.

CKIIIT

O-oh, tidak. Ada sebuah truk yang melaju tidak terkendali. Dan dijalan sana hanya ada Aomine.

"DAIKI! MINGGIR!" Hardik Akashi keras. Cukup keras hingga Aomine menengok.

"Haah, apaan si—"

BRAAK

==TBC==


Hueehehehhe, korban lagee! Korban lagee! \(=w=)/ Puas sekali akhirnya bisa apdet stelah leha2 dirumah /padahal udh kea babu dirumah, hiks/ _( :'3 _/

Hem, sptnya akan mendekati akhir fic, yaa.., tidak terasa fic ini hampir selesai, ya, karena berkat para reader-sama smua.., fic ini bisa berjalan lancar \( :'3 v/

Oke! Sampai jumpa di chapter 007!

SPECIAL THANKS :

NOZOMI RIZUKI 1414 || KUROYUKI31 || || RALLFREECSS || CHWANGKYUH EVIL BERRY || DEVIL.X REINI || KUROSHI SATSUMI || MISAMIME || SHIROHARA YUKINA || SHOUJO RECORD || || NAMIKA RAHMA|| PINGKAN || VANDQ || ELFARIZY || EQA SKYLIGHT || 96RUI || VANILLACHOCO || KUROAMALIA || BROKENWINGS2602 || GOLDEN EYE LASHES || RYCHIZUU || SCARLETJACKET || .5 || THALIA TETSUNA || LOLICONKAWAII || FLOW LOVE || MIHARU || SALMAASUKA || KITAMI MISAKI || XOXO-VANILLA || RA CHAN243 || THE RED BLOODY SCISSORS || VALENCIAKIARA00 || HOTORI HANA || KIRIKA || AKASHIKI KAZUYUKI || YUURI-PYONN || DENODEN || LAWHIVE ||

==AND YOU ALL!==


SPOILER!—

Hanya tersisa ia dan Hyuuga. Entah ia atau Hyuuga yang akan lebih dulu dijemput kematian…

"Heh, kalian terlalu pasrah. Aku pasti tidak akan terkena kutukan itu..!"

"…sekalipun kau sudah dicap oleh 'Kuroko' …"

"Lho, aku 'kan.."

"…si 'Kuroko' itu.."

CHAPTER 007 ON-GOING—!