LIVE!

By. Hikari 'The Princess Blue'

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Rated : T

Pair : Rumit

Genre : Romance

Summary : Mereka terjerat pusaran hidup yang menggelora. Terperangkap dalam perasaan sendiri. Terjebak dan tak dapat menyangkalnya. Tak bisa menghindar. Dan sampai saat itu tiba, akankah mereka masih dapat mempertahankan eksistensi-nya di dunia Entertainment?

Hallo semuanya, saya kembali mempersembahkan sebuah karya. Semoga kalian semua suka. Tetapi ada sebuah hal penting yang kemarin lupa saya sampaikan.

Tentang inspirasi cerita ini.

Cerita ini terinspirasi dari sebuah Band favorit saya, 'C.N. Blue'. Saya juga memutuskan kota Seoul sebagai kota di fic ini karena 'C.N. Blue' berasal dari Korea. Bermula dari ketertarikan saya pada personilnya, lalu saya coba membayangkan jika semua personil 'C.N. Blue' tanpa sadar menyukai satu orang yang sama. Jika itu terjadi pada saya, tentu saja saya akan bingung memilih antara JongHyun (di fic aka Sasuke) *peluk2 JongHyun* atau YongHwa (di fic aka Kakashi). Personil Band dari 'The Rustle' juga saya sesuaikan dengan 'C.N. Blue' yang memang memiliki dua vocalist yang keduanya juga sama-sama guitarist. Jadi, cerita ini tidak ada hubungannya dengan Film Korea yang saat ini sedang ditayangkan di televisi. Mohon maaf jika ada kesamaan dalam cerita. Terimakasih.

ENJOY FOR READING….

===000===

Chapter 2

Gemerlap lampu kota menghiasi jalanan malam di sudut kota Seoul. Suhu udara yang sangat dingin menyebabkan orang-orang enggan untuk keluar rumah pada waktu hampir tengah malam seperti ini. Sekarang adalah pertengahan musim dingin. Tidak banyak orang yang lalu lalang di jalan menyebabkan jalanan sepi.

Sebuah mobil Volvo hitam melaju dengan kecepatan pelan melewati jalanan yang sepi itu. Di dalam mobil ada dua orang yang lebih memilih untuk bungkam suara. Tidak ada yang bisa mereka katakan. Ini pertama kali mereka bertemu setelah sekian lama mereka berpisah.

"Setelah ini belok kiri," kata Sakura, yang merupakan salah satu dari dua orang dimobil itu.

"Iya, sayang," kata Neji, yang sedang menyetir di mobil itu.

Mata Sakura terbelalak mendengar kata terakhir dari mulut Neji. Kata yang sudah lama tidak dia dengar dari mulut mantan kekasihnya itu.

"Jangan sembarangan memanggilku seperti itu!" kata Sakura dengan wajah datar. Matanya sibuk melihat jalanan. Sebisa mungkin dia tidak ingin menatap Neji.

"Dulu kau selalu suka aku memanggilmu seperti itu," jawab Neji. Mata laki-laki itu juga terus fokus pada jalanan. Sesekali dia melirik Sakura di sebelahnya.

"Aku membencimu," kata Sakura pelan.

"Akan ku buat kau tidak membenciku,"

Sakura mendecih pelan. "Oh ya? Bagaimana caranya?" tanya Sakura dengan nada meremehkan.

"Ku buat kau kembali padaku," jawab Neji, yang lagi-lagi dengan wajah datar.

Kata-kata Neji tadi sukses membuat Sakura menoleh padanya. Sakura menatap Neji dengan pandangan tajam.

"Itu takan pernah terjadi!" kata Sakura dengan nada tegas.

"Hhh, lihat saja nanti,"

"Berhenti! Hentikan mobilnya. Aku mau turun," suara Sakura terdengar bergetar dan pelan. Neji yang menyadari perubahan suara dari Sakura langsung melempar pandangannya ke arah gadis itu. Sakura, dia.., menangis. Neji memberhentikan mobilnya ke tepi kiri jalanan.

"Sakura, aku-"

"Diam kau! Kau pikir bisa seenaknya memainkan perasaanku? Kau pikir apa yang ku rasakan saat dulu kau mencampakanku demi kekasih barumu itu? Kau tidak tahu apa-apa tentang perasaanku! Jangan pernah muncul di depanku lagi! Aku membencimu! AKU MEMBENCIMU, HYUUGA NEJI!" teriak Sakura dengan air mata yang mengalir di pipinya. Sakura turun dari mobil dan membanting pintu mobil itu untuk menutupnya.

Sakura berjalan kaki menuju apartemennya. Daerah ini sudah dekat dengan apartemennya. Neji yang merasa bersalah terus mengikuti dengan menjalankan mobilnya secara pelan di belakang Sakura yang terus berjalan. Bagaimanapun juga, Neji mengkhawatirkan Sakura. Tidak mungkin dia meninggalkan seorang gadis yang notabene adalah mantan pacarnya di tengah jalanan yang sepi ini. Bagaimana jika ada orang jahat? Siapa yang akan menolang Sakura jika dia sendirian jalan kaki tengah malam begini? Neji masih punya hati untuk tidak membiarkan Sakura sendirian saat ini. Lebih tepatnya, Neji tidak ingin meninggalkan Sakura sendirian lagi. Dia sudah cukup menyesal karena dulu pernah mencampakan Sakura hanya karena cinta sesaatnya dengan perempuan lain.

Sakura menyeka air matanya dan mempercepat jalannya. Dia bukannya tidak tahu dari tadi mobil Neji terus mengikutinya. Dia hanya tidak mau marah-marah lagi. Hari ini pikirannya sudah sangat kacau.

Sakura sampai di sebuah bangunan besar. Dia melangkah masuk ke bangunan itu dan menuju apartemennya dilantai dua. Dia tak memperdulikan Neji yang sibuk mengamati tempat tinggal Sakura. Neji berfikir kalau kapan-kapan akan mampir ke tempat ini lagi. Paling tidak sekarang dia sudah mengantar Sakura sampai apartemennya dengan selamat. Neji lalu pergi dengan mobilnya.

Sakura menaiki tangga menuju apartemennya dilantai dua. Sesampainya di ujung tangga, Sakura terkejut melihat seseorang yang duduk di anak tangga terakhir di ujung atas tangga. Wajah orang itu dibenamkan di antara tangannya yang terlipat di atas lututnya yang ditekuk.

"Akira-kun, kau sedang apa?" Sakura mendekat dan menyentuh lengan laki-laki itu.

"Menunggumu," jawab Sasuke sambil mengangkat wajahnya untuk menatap kedua mata emerald Sakura.

Sakura hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan tetangganya itu. Mata Sakura mengerjap-ngerjap seakan tak percaya kalau ini nyata. Sejujurnya Sakura sangat senang karena Akira atau Sasuke menunggunya. Sakura tak mampu berkata-kata. Baginya ini suatu kejutan yang telah lama dia tunggu-tunggu. Dia bahagia hanya karena Sasuke menunggunya. Kerena Sakura sangat tahu, Sasuke bukan orang yang suka menunggu. Ditunggu olehnya adalah sebuah hal besar bagi Sakura.

"Kau menangis ya, Sakura?" tanya Sasuke.

"Eh?" Sakura menyeka air mata yang masih tersisa di matanya, lalu tersenyum kecil pada Sasuke.

"Aku tidak apa-apa. Ini sudah malam, ayo tidur, Akira-kun," ajak Sakura.

"Hn,"
Sakura tersenyum lagi. Senyum yang sangat dipaksakan. Sasuke tahu benar kalau Sakura tidak seperti biasanya. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. Sasuke sebenarnya penasaran dengan sesuatu yang membuat gadis yang dicintainya itu menangis. Sasuke tidak tahan dengan kepura-puraan sakura itu. Sasuke berdiri dan menarik Sakura kedalam pelukannya.

"Menangislah, Sakura," kata Sasuke pelan sambil merengkuh erat tubuh Sakura ke dalam pelukannya. Seketika Sakura mulai menangis terisak. Sasuke mengusap pelan rambut panjang Sakura.

Setelah Sasuke merasa lelah untuk terus berdiri, dia mengajak Sakura duduk bersebelahan di anak tangga terakhir yang tadi diduduki oleh Sasuke. Sakura duduk disebelah kanan Sasuke lalu dia menyenderkan kepalanya di bahu kanan Sasuke. Kemudian Sasuke melingkarkan tangan kanannya untuk merengkuh tubuh Sakura agar semakin mendekat dengan tubuhnya. Beberapa saat mereka dalam keadaan seperti itu tanpa bicara sepatah kata pun. Hanya isak tangis Sakura yang samar-samar masih terdengar.

'Nyaman. Bahu Akira-kun terasa sangat nyaman. Dalam sekejap saja, semua gundah dan pikiran kacau-ku langsung hilang,' pikir Sakura.

Sakura menyeka air matanya lagi. Dia sudah berhenti menangis. Tangan Sasuke yang tadi merangkul tubuh Sakura, kini mulai mengusap-usap kepala Sakura untuk menenangkan gadis itu.

Tiba-tiba Sakura mengangkat wajahnya untuk menatap mata Sasuke.

"Arigatou, Akira-kun," Sakura tersenyum. Kali ini senyumannya begitu tulus. Tidak ada lagi senyum pura-pura dari Sakura.

Sasuke tidak menjawab kata-kata Sakura. Mereka berdua saling menatap. Beberapa saat kemudian, Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura lalu perlahan mengecup bibir Sakura. Terasa lembut bagi Sasuke. Sakura yang kaget dengan perlakuan Sasuke, langsung menarik wajahnya menjauh dari Sasuke.

"A-apa yang kau lakukan, Akira-kun?" tanya Sakura dengan wajah tak percaya.

"Aku.. mencintaimu, Sakura," kata Sasuke lirih namun cukup bisa didengar dengan baik oleh Sakura. Sakura membelalakan matanya. Dia hampir tak percaya dengan apa yang dia dengar.

"Akira-kun," air mata Sakura kembali menetes di pipinya. Kali ini bukan air mata kesedihan tetapi air mata bahagia. Ya! Bagaimanapun ini adalah kata-kata yang selalu dia nantikan dari mulut Akira-nya. Sudah satu tahun Sakura menyimpan perasaan ini pada tetangganya itu. Hari ini seperti mimpi baginya. Dalam sekejap, pernyataan cinta Sasuke telah bisa membuat Sakura lupa dengan pernyataan cinta dari Naruto. Sakura juga seolah lupa dengan pertemuannya dengan Neji tadi. Baginya saat ini begitu indah. Saat-saat yang paling dia nantikan.

"A-aku… juga mencintaimu, Akira-kun," Sakura langsung memeluk Sasuke.

"Jadi? Kau mau jadi kekasihku, Sakura?" tanya Sasuke sambil melepas pelukan Sakura. Sasuke menatap lembut kedua mata emerald Sakura yang telah menjeratnya. Sakura tersenyum.

"Iya, Akira-kun. Aku mau,"

Mendengar itu, mau tidak mau membuat seorang Uchiha Sasuke tersenyum. Sebuah senyum manis dari Sasuke. Senyum yang sangat jarang dilakukan oleh Sasuke. Terlihat semburat merah yang sangat jelas di wajah Sakura karena dia baru pertama kali melihat Sasuke tersenyum seperti itu. Sungguh dia adalah perempuan yang sangat beruntung dapat melihat dan memiliki senyuman dari Sang Pangeran Uchiha. Walaupun kita semua tahu, Sakura mencintai Sasuke sebagai Akira, tetangganya. Bukan Sebagai Sasuke Uchiha yang dipuja oleh semua orang.

Sejenak pandangan mereka bertemu. Sedetik kemudian Sasuke langsung menawan bibir lembut Sakura dalam ciumannya. Bibir yang semula hanya saling mengecup kini saling bertaut. Lidah-lidah mereka menari dalam satu tarian yang indah. Lidah Sasuke merangkak masuk untuk mencecap saliva Sakura, menyapu langit-langit mulut Sakura, dan menggelitik lidah Sakura untuk mengundangnya masuk dalam bibir Sasuke. Kemudian mereka menyudahi ciuman panjang itu untuk mengambil nafas. Nafas mereka terengah-engah. Setelah Sakura sudah bisa mengatur nafasnya dengan baik, lagi-lagi Sasuke membawanya kedalam ciuman yang lebih panjang lagi. Tubuh mereka merapat untuk memperdalam ciuman itu.

===000====

Sebuah lagu milik Younha yang berjudul 'Can't believe it' mengalun indah di sebuah kamar di apartemen Sakura. Lagu itu berasal dari sebuah handphone milik Sakura. Handphone itu ada di meja dekat tempat tidur. Sakura yang sedang tertidur pun merasa terganggu dengan ringtone handphone-nya. Dia tidak membuka matanya. Hanya tangannya yang berusaha menggapai handphone di atas meja sebelah ranjangnya. Setelah dapat, Sakura memencet tombol 'answer' untuk mengangkat telepon.

"Hallo,"

"Sakura! Kau baru bangun yah?" kata suara diseberang telfon.

"Eh? Ibu!" Sakura buru-buru membuka matanya.

"Haah! Sudahlah. Sakura, jangan lupa nanti sore kau harus pulang ke rumah. Ayahmu ingin mengatakan sesuatu,"

"Memangnya ada masalah apa, Bu?"

"Jangan banyak tanya! Pokoknya nanti sore kau harus datang!"

"Iyah," Sakura menutup telponnya dan menaruh handphone-nya ke tempat semula.

Tiba-tiba Sakura merasakan ada seseorang yang memeluknya di tempat tidur. Sakura baru sadar kalau sekarang dia tidak memakai selembar pakaian pun.

"Selamat pagi, sayang," kata laki-laki yang tidur dengan bertelanjang dada di sebelah Sakura.

"Selamat pagi, Akira-kun. Bagaimana tidurmu?" tanya Sakura.

"Hmm.. tidurku.. tak pernah senikmat ini," jawab Sasuke.

Wajah Sakura langsung memerah mengingat apa yang telah mereka lakukan semalam.

"Dasar mesum!" kata Sakura masih dengan wajah semerah tomat.

Sasuke tersenyum pelan dan turun dari ranjang Sakura. Dia memungut kemejanya yang tercecer di bawah ranjang, kemudian memakainya. Sakura hanya bisa melihat kekasih barunya itu sedang mengancingkan kemeja yang dia pakai. Sakura duduk di ranjang dengan selimut yang melilit tubuhnya. Semalam adalah pertama kali dalam hidup mereka berdua. Ya! Sebelumnya, mereka berdua tidak akan pernah mengijinkan orang lain untuk menyentuhnya. Namun entah setan apa yang merasuki mereka semalam, membuat mereka berani untuk melakukan hal yang 'berbahaya'.

Sasuke melangkah dan berdiri di depan Sakura. Sasuke menundukan badannya untuk memberikan kecupan kecil di kening kekasihnya.

"Hari ini aku akan sibuk dengan pekerjaanku. Mungkin dua hari lagi kita baru bisa bertemu. Itu pun hanya di kampus," kata Sasuke.

"Eh? Jadi Akira-kun tidak akan pulang ke apartemen?"

"Hn. Aku tidak pulang ke apartemen untuk lima hari kedepan. Tidak apa-apa kan?" tanya Sasuke.

"Tidak apa-apa. Selama ini juga aku selalu menunggumu pulang," jawab Sakura dengan senyum manisnya.

"Baguslah," Sasuke memberi ciuman singkat dibibir Sakura, kemudian melangkah pergi menuju apartemennya sendiri untuk siap-siap berangkat ke kantornya yang juga menjadi markas 'The Rustle'.

===000===

"Ibu, sebenarnya Ayah mau bicara apa denganku?" tanya Sakura.

"Kau tanya sendiri sajalah. Itu Ayah datang," kata Ibunya Sakura. Mereka sedang berada di rumah keluarga Haruno. Sesuai permintaan ibunya, Sakura datang ke rumah orang tuanya.

"Ayah-"

"Nanti saja. Tunggu sebentar lagi. Nah itu mereka datang!" kata ayah Sakura.

Sakura masih tidak mengerti. 'Siapa yang datang?' pikir Sakura dalam hati.

Kemudian masuklah dua orang suami isteri yang merupakan relasi bisnis ayah Sakura. Lalu ada seorang pemuda yang mengikuti suami istri tersebut dari belakang. Setengah wajah pemuda itu tertutup masker hitam dan memakai kacamata yang sepertinya untuk menutupi mata indahnya.

"Nah, Sakura, kenalkan ini teman baik Ayah. Mereka dari keluarga Hatake,"

Sakura menundukan kepalanya sesaat untuk memberi hormat pada mereka.

"Oh? Apa ini anakmu yang kau ceritakan itu? Wah, manis sekali," kata seorang wanita paruh baya di depan Sakura.

"Iyah. Ayo kita duduk dulu. Kita lanjutkan pembicaraan kita kemarin," ajak ayah Sakura. Kemudian mereka semua duduk di ruang tamu.

"Sakura, kau lihat pemuda yang sedang duduk itu? Dia, calon suamimu," kata ayah Sakura dengan nada santai yang seolah-olah itu adalah hal wajar.

Sakura membelalakan matanya. Tak percaya jika ayahnya semudah itu mengatakan bahwa pemuda itu adalah calon suaminya. Tidak mungkin Sakura tidak kaget, mengingat pemuda aneh itu baru ditemuinya hari ini. Bahkan namanya pun Sakura tidak tahu.

"A-apa ini? Ini pasti salah! Ayah bercanda, 'kan?" tanya Sakura dengan wajah tak percaya.

"Ayah serius. Ah, lebih baik kau ngobrol berdua dengan Kakashi. Perkenalannya di kebun belakang saja. Ayo cepat kalian berdua ke sana," kata ayah Sakura. Mau tidak mau Sakura harus mengikuti perintah ayahnya untuk bicara berdua dengan pemuda tadi di kebun belakang.

===000===

Di kebun belakang rumah kediaman keluarga Haruno, tampak dua orang sedang duduk di bangku taman. Seorang gadis berambut pink dengan seorang pemuda berambut perak yang sebagian mukanya tertutup oleh masker hitam.

"Kau akan menolak perjodohan ini, 'kan?" tanya Sakura pada pemuda itu.

"Tidak ada alasan antuk menolaknya,"

Mata Sakura membulat mendengarnya. Sakura tidak mengira kalau orang itu sama sekali tidak berminat untuk menolak perjodohan ini.

"Tapi kita baru bertemu. Kita juga tidak saling mengenal. Terlebih lagi, aku sudah punya kekasih. Ku rasa alasan itu cukup untuk menolak perjodohan ini,"

"Itu semua kan alasanmu. Aku tidak merasa keberatan dengan perjodohan ini," jawab pemuda itu dengan santai.

"K-kau!"

"Daripada begitu, lebih baik jika sekarang kita saling mengenal, 'kan?"

"Tapi aku tidak tertarik untuk mengenalmu. Maaf, bukannya aku bilang kau tidak menarik. Tapi aku benar-benar tidak bisa menikah denganmu. Aku sangat mencintai kekasihku,"

"Begitu ya? Sayang sekali. Tapi alasan itu tidak cukup untuk mengubah pikiranku agar membatalkan perjodohan kita,"

"Terserah kau! Yang jelas sampai kapan pun aku tidak mau menikah dengan orang aneh yang menutup wajahnya sepertimu!"

"Yareyare... kau keras kepala sekali, Sakura-chan,"

"Jangan seenaknya memanggil namaku seperti itu!" teriak Sakura.

"Hmm, Sakura-chan," pemuda itu menggumam pelan.

"Kau! Berhenti memanggilku seperti itu!"

"Sakura-chan,"

"Diam kau!" bentak Sakura padanya.

"Hahaha.. kalian akrab sekali yaa," kata ayah Sakura yang tiba-tiba telah berdiri di depan mereka. Ibu sakura dan kedua orang tua pemuda itu pun ada di sana.

"Bagaimana, Kakashi? Kau mau menikah dengan Sakura?" tanya ayah pemuda itu.

Sakura menatap pemuda di depannya dengan pandangan memelas yang seolah mengatakan 'kumohon-katakan-tidak'. Pemuda itu tersenyum kecil di balik masker hitamnya.

"Iya, ayah. Aku mau," jawab pemuda itu.

Mata Sakura terbelalak lagi. Dia benar-benar tidak percaya dengan perkataan pemuda itu. Dengan mudahnya dia mengatakan mau untuk menikah dengannya.

Lalu kedua orang tua mereka tertawa senang mendengarnya.

"Kalau begitu kami permisi. Kakashi, ayo kita pulang," kata ibu dari pemuda itu.

Dan sebelum laki-laki bernama Kakashi itu pulang, dia sempat membisikan sesuatu di telinga Sakura.

"Aku pasti akan membuatmu berpaling padaku,"

===000===

Seorang perempuan berambut merah muda tampak berjalan sendirian di tengah keramaian kota. Matanya menerawang jauh ke depan mengingat pertengkaran dengan orang tuanya beberapa jam yang lalu, karena sebuah perjodohan konyol yang ayahnya putuskan dengan seenaknya. Air mata jatuh di pipinya. Ayahnya marah besar karena Sakura menentang keras perjodohan ini. Bagaimanapun juga, Sakura baru saja akan hidup bahagia dengan Akira-nya, tidak mungkin dia melepaskan Akira-nya begitu saja. Dan pertengkaran yang lengkap dengan adu mulut antara Sakura dan Ayahnya pun berakhir dengan perginya Sakura dari rumah itu.

Tiba-tiba Sakura merasa ponselnya bunyi. Segera dia lihat siapa yang menelfon dari layar ponselnya.

Calling…

Akira My Prince

Segera dia tekan tombol 'answer' untuk mengangkat telfon itu.

"Hallo,"

"Sayang? Kau dimana?"

"Aku di jalan. Baru saja mau pulang ke apartemen," jawab Sakura.

"Malam-malam begini?"

"Iya, tadi aku keasyikan ngobrol dengan Ibu sampai lupa waktu," kata Sakura dengan berbohong. Dia tidak ingin Akira-nya khawatir. Sakura hanya berfikir jika masalah perjodohannya dapat dia selsaikan sendiri. Beberapa hari lagi, mungkin ayahnya mengerti kalau Sakura memang benar-benar tidak ingin menikah dengan pemuda tadi.

"Kalau begitu hati-hati ya,"

"Iya" jawab Sakura.

Sasuke menutup telfonnya. Sakura yang sudah selesai dengan ponselnya, hendak menaruhnya di tas lagi ketika ada tiga buah sms yang datang berurutan.

Sakura membacanya satu per satu.

Naruto_baka

10.39 PM

Kau sudah memikirkan jawabanmu baik-baik, Sakura-chan?

Aku menunggumu… ^ ^

Damn_Neji

10.39 PM

Besok jam 4sore. Aku menunggumu di tempat pertama kali kita bertemu.

Aku tidak akan pergi sampai kau datang!

Sampai jumpa di sana…

034547762555

10.40 PM

Oyasumi.. Sakura-chan.

-calon suamimu-

Sakura menatap tak percaya pada layar ponselnya. Bagaimanapun semua orang sukses membuat otaknya menggila. Hanya Saja Sakura tidak tahu kalau masalah ini belum apa-apa. Masih ada masalah besar yang sedang menantinya. Dan sampai saat itu tiba, akankah Sakura masih bisa mempertahankan hubungannya dengan Sasuke? Atau dia akan berpaling pada Naruto? Atau sebaiknya memilih kembali pada Neji? Atau dia akan berubah pikiran dan menerima perjodohannya dengan pemuda tadi?

Semua pilihan ada di tangan Sakura. Dan setiap pilihan punya resiko masing-masing. Menyakiti dan di sakiti. Siapa yang berikutnya akan terluka?

TBC

Akhirnyaaa~ selesai juga Chapter 2.

Gomen kalau ada typo, saya tidak terlalu memperhatikan sih.

Bales review dulu!

NuKaRi-cHAn

Jyah? Kalau dibayangkan emang enak banget jadi Sakura, udah tinggal milih dehh..

Kalau jadi Saku, kamu pilih siapa?

VamPs 9irl

Iya, di chap ini ada SasuSaku, 'kan? *ngelirik cerita di atas*

Haha, gomen kalau ceritanya jadi gaje.

ZoZo

Ituh, Kakashi udah nongol tapi masih dalam versi culun. *geplaked*

Khukhukhu… anda benar! Sakura centric. Saya ajah ampe bingung ngetiknya.

Icha Yukina Clyne

Eh? Endingnya ya? Saya juga bingung sendiri endingnya nanti sama siapa. *getoked* haha..

Salam kenal jugaaa~

Ah, tidak apa-apa. Review sepanjang apa pun akan tetap say abaca kok.

*senyum manis* -reader muntah- haha

Shinji Aishiteru

Lah? Iyah. Saya juga beru nyadar kenapa jadi mirip Drama Korea itu. Hahaha.. tapi beda koo~

Beda kaaan?

Cherry-chan

Kakashi udah ada tuh. *ngelirik fic di atas*

Iya, Sasusaku lagi saling suka. Jadian pula! Ehem-ehem pula!

*digeplak Sasusaku* haha

4ntk4-chan

Iya! Bener Sasusaku, tapi endingnya belum pasti sama sasu. *smirk*

Hihihi

Ccuby hanaaykaa vague

Okeh! Saya lanjutkan koo~

Arigatou karena sudah menyukai karya saya.

Buat yang review pake akun, silahkan liat PM.

Thanks yaa~

Rievectha Herbst, Ame chochoSasu, Miss Uchiwa SasuSaku's Lover, Beby-chan.

Oiyah, saya berencana membuat skuel one shot lemon adegan SasuSaku yang tadi dipotong. Tapi itu baru pemikiran saya sih. Apa itu ide yang buruk?

Jawab lewat review yaa~

Saya tunggu kritik dan sarannya… ^^