Live!
By. Hikari Hyun Arisawa
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Rated : T
Pair : Rumit
Genre : Hurt/comfort, Romance
Summary : Perasaan seorang gadis yang terombang-ambing di tengah kemelut panjang yang melibatkan sebuah band besar, 'The Rustle'. Pada akhirnya, siapa yang akan terluka?
.
Gomen apdet-nya lama. Akhir-akhir ini saya sedang tidak ada ide. Ada yang mau membantu saya mencari ide? #plakk *author tdk brtanggung jwb*
Okeh, Enjoy this one! ^ ^
.
====000====
Chapter 5
Sakura terbangun dari tidurnya. Perlahan dia buka kedua matanya dan berharap apa yang terjadi semalam hanya sebuah mimpi. Dia berharap saat dia membuka matanya semuanya masih sama seperti beberapa hari yang lalu. Tetapi tidak. Sekarang saat dia membuka matanya yang terlihat adalah dinding putih dengan perabot kamar yang tertata rapi. Tentu saja ini bukan kamarnya melainkan kamar tamu di rumah Neji.
Semalam yang terakhir dia ingat adalah saat dia memutuskan untuk ikut dengan Neji. Mendadak kepala Sakura menjadi pusing jika mengingat-ingat kejadian semalam. Dia memijit-mijit pelipisnya dan memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa pening itu.
Sesaat dia mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu kamar ini kemudian membukanya. Hinata.
"Apa tidurmu nyenyak, Sakura-chan?" tanya Hinata.
"Lumayan," jawab Sakura singkat.
Hinata mendekat dan duduk di tepi tempat tidur itu.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Neji-nii tidak mau memberitahuku,"
Sakura terdiam menatap Hinata. Entah apa yang harus dia katakan. Dia tidak mau mengingat kejadian semalam lagi. Perlahan Sakura bangun dan duduk di tempat tidur.
"Apa kau ada masalah dengan Neji-nii?" tanya Hinata lagi.
Kali ini Sakura hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Hinata. Butir-butir air mata mulai turun dari mata emerald Sakura. Seberapa keras pun dia ingin tidak mengingatnya, tetapi kejadian semalam terlalu terekam jelas oleh otaknya.
"Akira-kun...," gumam Sakura lirih.
Cukup lirih namun tetap bisa terdengar oleh Hinata. Seolah nama itu adalah sebuah mantra jahat, Sakura seperti tertusuk ribuan jarum ketika menyebut nama itu. Hatinya sakit. Sakit mengingat hubungan mereka yang baru saja dimulai beberapa hari yang lalu harus berakhir dengan cara yang setragis ini. Benar-benar sangat tidak adil baginya.
Sakura membenamkan wajahnya diantara lututnya yang ditekuk ke atas. Air matanya semakin deras. Nafasnya tersengal-sengal menahan gejolak perasaannya yang ingin menjeritkan nada keputus asaan.
Sementara Hinata hanya menatapnya dengan pandangan bingung. Hinata sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Namun dia bisa melihat kalau sekarang sahabatnya itu sedang sangat terluka. Hinata menepuk-nepuk pelan punggung Sakura. Dia benar-benar tidak tega melihat Sakura menangis terisak sampai seperti itu.
"Aku sedang ingin sendirian, Hinata. Maaf," kata Sakura di sela-sela isak tangisnya.
Hinata mengangguk pelan. "Menangislah sepuasnya, Sakura-chan. Tetapi setelah ini kau harus menceritakannya padaku. Aku tidak ingin melihatmu menderita seperti ini. Berbagilah denganku. Paling tidak itu bisa meringankan bebanmu,"
Sakura langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat. Entah apa yang harus dia lakukan sekarang. Yang jelas dia ingin secepatnya lepas dari kesedihan ini. Mau tidak mau dia harus memaksakan dirinya untuk merelakan hubungannya dengan Sasuke. Walau dia tahu melepasnya adalah hal yang sangat sulit.
"Arigatou Hinata, aku tidak apa-apa," gumam Sakura dengan suara parau.
===000===
"Aku tau baju itu pasti cocok untukmu," kata Hinata pada Sakura yang sedang mencoba baju tidur milik Hinata.
"Ya. Sedikit kebesaran. Tapi tidak apa-apa,"
"Untuk sementara kau disini dulu. Besok sepulang kuliah aku akan ambilkan barang-barang di apartemenmu dan sedikit melihat situasi di rumah orang tuamu," jelas Hinata yang kini telah tahu semua masalahnya dari cerita Sakura.
"Arigatou,"
"Oh iya, tadi Neji-nii bilang dia ingin bicara denganmu,"
"Dimana dia?" tanya Sakura yang memang tidak melihat Neji lagi sejak malam saat Neji membawanya kemari.
"Di kamarnya. Dia baru saja pulang,"
"Boleh aku menemuinya sekarang? Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya,"
"Tentu. Kamarnya lantai 3. Tepat di sebelah kiri tangga,"
"Emh, baiklah." Sakura melangkah keluar kamarnya.
"Sakura-chan," panggil Hinata.
Sakura menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Hinata.
"Ya?"
"Sejujurnya dari dulu... aku sangat menyayangkan berakhirnya hubunganmu dengan Neji-nii," kata Hinata dengan pelan.
"Eh?" mata Sakura membulat. Dia terdiam sesaat.
"Itu sudah lama berlalu, Hinata," kata Sakura sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Mungkin setidaknya kalian bisa memulai sesuatu yang baru,"
"Jangan bercanda, Hinata. Kau tau aku baru saja dicampakkan. Jadi jangan pernah berpikir kalau aku bisa memulai suatu hubungan dalam waktu dekat ini," kata Sakura sambil cepat-cepat melangkah pergi menemui Neji dan meninggalkan Hinata yang masih terdiam.
===000===
Sakura mengetuk pintu kamar Neji beberapa kali. Namun Neji sama sekali tidak membukanya. Akhirnya Sakura memutuskan untuk mencoba membuka kenop pintunya. Tidak terkunci. Sakura pun masuk dan mencari sosok Neji di kamar serba putih itu. Terlihat ranjang besar dengan bad cover berwarna putih bercorak garis-garis horizontal itu masih rapi. Di atas meja kerja Neji pun hanya ada tas kerja yang mungkin baru saja dipakainya. Kamar yang benar-benar rapi.
Entah kenapa Sakura baru sadar kalau selama menjalin hubungan dengan Neji, dia tidak pernah sekali pun ke rumah Neji. Bahkan ini pertama kalinya dia masuk ke dalam kamar mantan kekasihnya itu. Rasanya salama ini Sakura benar-benar tidak terlalu mengenal Neji. Bahkan selama menjadi kekasihnya pun dia tidak begitu memperhatikan sikap Neji.
"Sepertinya tidak salah jika saat itu kau meninggalkanku," gumam Sakura lirih.
Perlahan Sakura mendekat ke meja kerja Neji dan melihat rak buku disebelahnya yang tertata rapi. Perlahan dia membuka laci meja kerja Neji. Ada sebuah bingkai foto berukuran 4R yang tergeletak di dalamnya. Sedikit penasaran dengan foto itu, Sakura mengambilnya. Mata Sakura terbelalak menatap gambar seorang gadis di foto itu. Ya. Foto Sakura ditengah padang rumput. Foto yang dulu diambil saat mereka masih menjalin hubungan. Sakura tidak menyangka kalau Neji masih menyimpannya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya seseorang di belakang Sakura.
Sakura sedikit terkejut dan berbalik untuk melihat orang itu. Neji.
"Eh? Err.. hanya mencarimu. Ada yang ingin ku bicarakan," jawab Sakura dengan gugup.
"Kita bicara dibawah," Neji melangkah meninggalkan kamarnya.
Buru-buru Sakura meletakan bingkai foto tadi dan menyusul Neji menuju lantai bawah.
===000===
"Bagaimana keadaan Akira-kun sekarang?" tanya Sakura yang kini sedang berdiri menatap hamparan gemerlap lampu kota yang terlihat melalui kaca besar. Kaca itu melingkari tepi balkon lantai 2 di rumah Neji.
"Jika yang kau maksud adalah Sasuke, dia baik-baik saja," jawab Neji yang duduk di kursi dekat balkon. Di depan Neji ada sebuah meja yang di atasnya terdapat dua cangkir teh hangat.
"Untuk sementara, jangan keluar dari sini. Kau masih menjadi sorotan utama publik," lanjut Neji.
"Tapi aku ingin menemuinya. Aku harus bicara dengannya," bantah Sakura sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Neji.
"Dia sedang tidak ingin bertemu denganmu. Setidaknya biarkan Sasuke menenangkan diri,"
Sakura terdiam. Dia masih tidak senang dengan jawaban Neji tentang Sasuke yang belum mau menemuinya.
"Apa Naruto juga baik-baik saja?" tanya Sakura.
"Dia masih sedikit lebih baik dari Sasuke," jawab Neji sambil meminum tehnya sedikit.
"Syukurlah,"
Mereka terdiam sesaat untuk memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini.
"Ku lihat di infortaiment, The Rustle membatalkan banyak kontrak untuk satu minggu ke depan. Ada apa dengan semua itu?" tanya Sakura yang memang khawatir dengan keadaan The Rustle pasca kejadian konser mengerikan kemarin.
"Kami hanya sedang tidak bisa tampil bersama," jawab Neji.
"Apa maksudmu? Kenapa bisa begitu?" Sakura terlihat bingung.
"Seharusnya kau sendiri tau alasannya," mata lavender Neji menatap Sakura yang sekarang mulai terlihat gelisah.
"A-apa karena aku?" tanya Sakura dengan nada ragu.
Neji mendengus pelan. "Apa kau pikir ada alasan lain selain itu?"
Sakura terdiam menatap Neji. Wajahnya menampakkan kegelisahan yang mendalam. Dia tidak menyangka dirinya bisa menjadi alasan keretakan hubungan antar anggota The Rustle. Sama sekali dia tidak merasa bangga dengan itu. Malah jika dia bisa memilih, dia tidak ingin mengenal semua personil The Rustle. Sejujurnya hidup Sakura sudah cukup jika dia hidup bersama Akira. Akira tetangganya. Bukan Sasuke Uchiha. Setidaknya itulah yang dia harapkan.
"Aku baru saja menerima ini," Neji memberikan sebuah amplop biru muda pada Sakura.
Perlahan Sakura membuka amplop itu. Terlihat sebuah undangan berwarna biru muda juga. Undangan yang sama dengan undangan yang kemarin ditunjukan oleh Kakashi. Mata Sakura membulat melihat tanggal pertunangannya. Tiga hari lagi. Rasanya dia tak sanggup jika harus membuka undangan itu dan melihat nama dirinya dan Hatake Kakashi ada di sana.
Sementara itu, Neji hanya tersenyum tipis melihat reaksi Sakura. Perlahan dia mengambil undangan itu dari tangan Sakura. Sakura yang masih terlihat terkejut pun tetap terdiam.
"Sudah terlalu malam. Kembalilah ke kamarmu," kata Neji sambil menghabiskan teh di cangkirnya.
Sakura masih terdiam. Sekarang dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
"Sebentar lagi Sasuke pasti menghubungimu," Neji berdiri dan berjalan untuk kembali ke kamarnya.
"Eh?" Sakura terlihat bingung dengan kata-kata Neji.
"Tu-tunggu! Apa maksudmu?" buru-buru Sakura berdiri dan berniat mencegah Neji pergi sebelum menjelaskan maksud kata-katanya tadi.
Tetapi Neji terus melangkah pergi tanpa mempedulikan wajah bingung Sakura. Dengan sedikit kesal, Sakura melangkah kembali ke kamarnya. Buru-buru dia menghempaskan diri di atas ranjangnya. Dia berpikir jika dia tertidur, maka dia bisa berharap nantinya terbangun dengan keadaan normal seperti beberapa hari yang lalu. Tanpa dia harus sembunyi dari publik seperti ini. Walaupun sebenarnya dia tahu itu hal yang tidak realistis.
Tiba-tiba Sakura merasa ponselnya yang berada dia atas meja bergetar. Segera dia melihat siapa yang menelfonnya malam-malam begini. Sakura sangat terkejut menatap layar ponselnya.
Calling…
Akira-kun
.
TBC
====000====
Ah? Bagiamana? Jujur saja saya bingung bagaimana membuat suasana yang tepat pasca konflik di chap kemarin. Gomen kalau jadi aneh. Saya juga bingung sendiri sih dengan cerita ini. Bahkan ending-nya pun masih tidak jelas. ==a
Hahaha…. Apa kalian sudah memikirkan siapa pair yang paling cocok untuk dijadikan ending di fic ini? ^_^
.
Special Thanks for:
Rievectha Herbst, Haruno Nanako, Merai Alixya Kudo, aya-na rifa'i, Vampire 9irL, Via-princess, Rizu Hatake-hime, Shard VLocasters, Kirara Yuukansa, 4ntk4-ch4n, VhieHime, Breakbullet, Ami-chan, UnDeath Reika Last Uchiha, Just Ana, Zozo, gieyoungkyu, Fidy Discrimination, Miss Uchiwa 'Tsuki-Chan, Kazuma B'Tomat, agmichi-chan, valkyria sapphire.
Arigatou….. ^ ^
.
Mind to review?
