.

Your Child

.

.

.

Disclaimer: This fanfic is mine and EXO's belong to The God

.

Genre: Family, Romence, and Drama

.

Warning: GS, OOC, typos, etc.

.

Rated: T

.

Pair: Chanbaek, Kaisoo, Chansoo

.

.

.

Chanhyun selalu iri pada hidup Jongsoo 'teman sekelasnya' yang begitu sempurna

.

.

"The Years After"

.

6 tahun kemudian

.

.

.

.

.

.

Baekhyun berlarian menuju halaman belakang rumah kecil sewaannya. Sudah hampir bertahun-tahun ia tinggal di tempat itu bersama anaknya, Byun Chanhyun. Mereka selalu hidup sederhana dan berkecukupan, karena sejak Chanhyun lahir kedua orang tua Baekhyun yang kaya raya sudah tidak mau lagi mengurusi Baekhyun. Ayahnya menyuruh Baekhyun hidup sendiri. Dengan kata lain mengusirnya secara halus setelah mengetahui tentang kelahiran Chanhyun yang diluar dugaan itu. Hanya ibu Baekhyun saja yang masih sering mengirimi uang dan barang-barang keperluan lainnya.

"Chanhyun-ah, hey kau dimana? Byun Chanhyun, eodie-ya?"

Baekhyun terus menjelajahi halaman rumah kecilnya itu dan menemukan seorang bocah jangkung tengah duduk di sebuah kursi kayu panjang yang sudah lapuk.

Baekhyun mendengus. "Ya, anak nakal, eomma mencarimu huh."

Chanhyun mendongak sekilas. Lalu kembali memainkan robot kayu di tangannya dengan lesu.

Baekhyun mendekati anaknya dan mengusak lembut rambut hitamnya. "Kenapa tidak bersiap ke sekolah eum? Hari ini kan hari pertamamu masuk sekolah dasar."

Chanhyun menggeleng malas. "Aku tidak ingin masuk ke sekolah itu, eomma."

Baekhyun menyentuh lembut pipi anaknya. "Wae?"

"Aku ingin bersekolah di tempat Sehan saja. Disana lebih menyenangkan. Banyak teman-temanku. Sedangkan sekolah yang itu milik orang-orang kaya. Aku tak pantas masuk kesana."

"Ya! Anak eomma tidak boleh bicara seperti itu!"

"Itu benar eomma. Lebih baik aku pindah sekolah saja."

"Aniya!" teriak Baekhyun marah. "Kenapa kau berpikiran seperti itu eoh? Kau ke sekolah untuk belajar. Jangan memikirkan yang lain."

Chanhyun menunduk lesu. "Tetap saja aku tidak mau kesana eomma. Tempat itu hanya untuk orang kaya. Kenapa eomma memaksaku masuk kesana?" rengeknya sedih. "Aku hanya ingin bermain dengan teman-temanku saja."

Baekhyun tersenyum. "Nanti kau juga akan mendapat teman baru disana."

Chanhyun menggeleng. "Mereka berbeda."

"Kau bahkan belum mencobanya." Baekhyun mendesis sembari mencubit pipi gembil anaknya. Pipi itu merupakan warisan darinya.

Chanhyun tak merespon. Tangan kanannya sibuk memainkan robot kayunya yang nyaris patah-patah itu. Bahkan terdapat ceceran lem dimana-mana. Bekas bongkar pasang tangan dan kaki robot yang sering patah setelah bermain.

Baekhyun tersenyum sedih menatap robot di genggaman tangan Chanhyun. "Kau ingin punya robot baru eum?"

Chanhyun mendongak dan tersenyum manis menampilkan gigi putih bersihnya yang berderet rapi. "Ne, eomma. Kemarin Sehan membeli robot baru. Dan itu ada remotenya. Dia bisa berjalan sendiri. Keren kan?"

"Hmm... tentu saja. Chanhyun juga ingin robot seperti milik Sehan?"

Dengan seulas senyum Chanhyun mengangguk. "Ne, tapi Dobi juga masih bagus," katanya sembari memainkan robot kayunya. Namanya Dobi. Chanhyun mendapatkannya sejak ulang tahun ke empat. Robot kayu itu hadiah dari Baekhyun dan Chanhyun sangat menyukainya.

"Kalau kau ingin yang baru kau harus berangkat sekolah dulu. Nanti kalau eomma sudah punya uang, eomma akan membelikannya. Tapi Chanhyun juga harus mengumpulkan uang, ne. Tidak boleh boros. Arasso?"

Chanhyun mengangguk dan tersenyum. Baekhyun terkekeh dan mengusap sayang rambut hitam anaknya. "Jadi sekarang berangkat sekolah?"

"Siap, eomma!" teriak Chanhyun sambil berlarian dengan robotnya.

Baekhyun tersenyum mengikuti langkah kaki anaknya menuju kamar mandi kecil di belakang rumah. "Mau eomma mandikan atau mandi sendiri?"

"Mandi sendiri eomma." Tak lama terdengar suara kecipak air dari dalam kamar mandi.

"Baiklah sepuluh menit lagi anak hebat eomma sudah harus keluar, ne. Eomma siapkan bajumu di kamar."

Baekhyun melangkah menuju kamarnya dan Chanhyun. Dengan seulas senyum mengembang diambilnya setelan seragam biru berpita milik anaknya yang kini masuk sekolah dasar. Seragam itu diletakkannya di atas kasur busa tipis yang setiap malam menjadi tempat tidur mereka.

Baekhyun masih tersenyum. Mata sipitnya menoleh ke arah laci mini di ujung tembok kamar. Baekhyun berjalan ke sana dan membukanya dengan gerakan cepat. Senyumnya langsung hilang melihat beberapa lembar won di dalam sana. Dengan sedih diambilnya sisa uang gajinya bulan ini.

Baekhyun menghela nafas panjang. "Robot milik Sehan itu pasti mahal. Aku tidak punya uang untuk membeli robot seperti itu," gumamnya entah pada siapa.

Beberapa saat kemudian terdengar suara decitan pintu kayu dari belakang. Baekhyun terkesiap dan segera menyembunyikan uangnya ke saku kemeja. Ia berbalik dan melihat putra kecilnya masuk dengan tubuh basah berbalut handuk kecil tipis yang sudah hampir lusuh dan kucel.

"Cepat sekali mandinya. Jangan bilang anak eomma tidak pakai sabun."

Chanhyun mempoutkan bibir. Wajahnya sangat menggemaskan ketika melakukan aegyo. Sama seperti Baekhyun dulu yang pandai memamerkan aegyo imut pada siapa saja.

"Eomma cium saja badanku kalau tidak percaya," Chanhyun tertawa. Kembali gigi berderet rapih itu terlihat di balik senyum lebarnya. Selalu saja senyum Chanyeol terbayang di wajah menggemaskan itu.

Baekhyun terkekeh. "Baiklah eomma percaya. Sekarang Chanhyun pakai baju ne."

"Eum," dan Chanhyun mengangguk menuruti perkataan Baekhyun.

.

.

.

Di sebuah rumah mewah berlantai tiga seorang anak kecil tengah berlarian mengelilingi rumahnya yang luas bak lapangan bandara. Seorang yeoja berusia 27 tahun berlarian mengejar sang bocah.

"Ya! Park Jongsoo, kembali kau eoh! Cepat berangkat sekolah! Eomma tidak mau kau terlambat di hari pertamamu masuk... Ya!" teriak Kyungsoo dengan wajah marah seolah malaikat iblis telah merasuki jiwanya.

Jongsoo tak menggubris sang ibu dan terus berlarian sambil membawa robot mainannya.

"Jongsoo-ya, anak nakal! Cepat kemari!"

"Tidak! Eomma harus menangkapku dulu!" jawab Jongsoo sambil meleletkan lidah dari jauh.

"Chanyeollie, anakmu membuat ulah!" teriak Kyungsoo lagi. Tak lama seorang namja jangkung berusia sama dengan istrinya keluar dari balik tangga dengan setelan jas direkturnya.

"Anak appa harus berangkat sekolah. Kalau tidak, appa akan membuang semua mainanmu chagi." Chanyeol menjawab sambil membenarkan letak dasinya. Melihat itu Kyungsoo segera berlarian membantu Chanyeol membenarkan dasi.

"Lain kali panggil aku untuk hal seperti ini," gumam Kyungsoo sambil tersenyum.

"Ne..." Chanyeol balas tersenyum dan mencium kening Kyungsoo sekilas. Kemudian pandangannya jatuh kembali pada Jongsoo. "Park Jongsoo, cepat berangkat! Seragammu bisa kotor kalau berlarian terus!"

Jongsoo merengut menatap ayahnya. "Appa bilang sekolahan itu milik appa?"

"Ne, appa memang donatur disana."

"Karena itu appa, tidak usah sekolah saja. Kan sekolahan itu milik appa. Jadi kita bebas melakukan apapun." Jongsoo berucap bangga.

"Meskipun begitu kau tetap harus bersekolah. Kau mau jadi anak bodoh?"

Jongsoo menggeleng. "Tidak mau!"

"Nah, dengarkan appa-mu ini." Kyungsoo mengacak rambut dark brown anaknya dan tersenyum. "Kalau tidak mau jadi bodoh maka harus sekolah."

"Tidak. Aku mau main dengan Kamjong saja," jawab Jongsoo sambil memainkan robot super canggihnya yang dibelikan oleh Chanyeol di Jepang pada musim semi dua tahun lalu. Mainan robot itu terancang dengan sangat modern dan didesain khusus oleh teknologi canggih masa kini. Jongsoo sangat menyukainya. Robot yang diberi nama Kamjong oleh Kyungsoo itu bisa berjalan, menggerakkan tangan serta kaki, berbicara, berubah bentuk, bernyanyi, bahkan berolahraga. Jongsoo bahagia sekali ketika ayahnya membelikan robot itu sebagai oleh-oleh dari Jepang.

"Bawa saja Kamjong sebagai temanmu di sekolah nanti," ujar Kyungsoo sambil tersenyum.

Jongsoo mencibir. "Kalau aku mau berangkat sekolah apa aku boleh meminta Kamjong yang baru?"

Kyungsoo baru saja akan menjawab, tapi Chanyeol menyela sesuka hati. "Tentu saja. Apapun yang jagoan kecil appa minta, pasti akan appa belikan. Kau ingin robot berapa hm? Sepuluh? Seratus? Pasti akan appa belikan apapun yang kau mau!"

"Yeay!" Jongsoo berteriak heboh. "Baiklah, aku akan berangkat sekarang appa."

"Bagus! Itu baru jagoan appa!"

.

.

.

Bus mini itu melaju pelan menuju gedung sekolah dasar mewah yang berdiri tegak di ujung jalanan besar Cheongdam. Baekhyun menatap bangunan sekolah itu dari balik kaca dan tersenyum. Sungguh ibunya sangat baik mau menyekolahkan Chanhyun disini. Karena kalau tidak, pasti Baekhyun tidak akan sanggup membiayai sekolah Chanhyun seorang diri. Untuk memasukkannya ke sekolah biasa saja gaji Baekhyun tak cukup. Apalagi sekolah semewah ini. Tentu Baekhyun harus berhutang sana-sini. Padahal hutangnya selama ini saja sudah cukup banyak untuk membiayai keperluan mereka sehari-hari.

Bus itu berhenti tepat di tepi trotoar. Baekhyun menggandeng Chanhyun menuruni bus. Mereka melangkah menuju bangunan sekolah dasar yang terletak di seberang jalan. Bangunan mewah berlantai tiga itu terlihat ramai disana-sini. Mobil-mobil mewah tampak berjejer memenuhi halaman parkir sekolah tersebut. Anak-anak seusia Chanhyun berlalu lalang dengan digandeng kedua orang tua mereka yang kaya raya.

Chanhyun memandangi anak-anak itu dengan tatapan sedih. Ia hanya bisa menggenggam Dobi-nya erat-erat. Seandainya ia juga memiliki orang tua yang lengkap seperti mereka pasti ia sangat bahagia hari ini. Sedikit perasaan kecewa menelusup di hati kecilnya.

Baekhyun menatap Chanhyun dan mengelus surai hitamnya lembut. Baekhyun tahu putra kecilnya itu tengah menatap teman-temannya yang memiliki hidup sempurna. Merasakan penderitaan putranya itu juga membuat hatinya terasa begitu sakit. Baekhyun sedih anaknya harus terlahir menderita. Baekhyun rela jika dirinya yang harus bekerja siang-malam hanya untuk Chanhyun. Tapi Baekhyun tidak akan pernah rela jika terus melihat anaknya menderita karena ia tak memiliki seorang ayah. Tak seperti teman-teman sebayanya.

"Eomma, mereka semua pasti sangat kaya." Chanhyun menatap beberapa anak yang keluar dari mobil mewah bersama orang tuanya.

Baekhyun tersenyum miris. Digenggamnya tangan Chanhyun kuat-kuat. "Kaya atau miskin itu tidak penting, chagi. Yang terpenting adalah kau bersekolah untuk menjadi pintar," jawabnya lembut dan penuh perasaan. Seulas senyum kepalsuan muncul di wajahnya.

Bohong kalau ia tak sedih melihat anak-anak lain di antar dengan mobil mewah sementara Chanhyun hanya berangkat naik bus dan jalan kaki sampai sini. Bohong kalau ia tak sakit melihat tas dan sepatu anak-anak lain yang bermerek sementara Chanhyun hanya mendapatkan sepatu dan tas bekas yang diperolehnya dengan murah di pasar. Bohong kalau ia tersenyum saat anak-anak lain memiliki ayah sementara Chanhyun tak pernah memilikinya. Semuanya bohong. Bohong. Sangat bohong di mata Baekhyun.

Baekhyun tak pernah membayangkan anaknya terlahir seperti ini. Tak pernah. Tapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan berkata bahwa ia harus berjuang keras seorang diri untuk menghidupi anaknya. Untuk membuat senyuman di wajah anaknya. Meski Chanhyun sangat suka tersenyum, tapi senyuman itu selalu ingin membuat Baekhyun menangis. Menangisi mengapa harus anaknya yang memiliki hidup tak sempurna seperti ini. Menangisi pula mengapa ia tak pernah ditakdirkan merasakan indahnya pernikahan, keluarga, dan memiliki seorang suami. Juga anak-anak yang memiliki kasih sayang berlimpah.

Baekhyun kembali memaksakan senyum. Ia berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan putra kecilnya itu. Digenggamnya bahu Chanhyun dengan kuat.

"Dengarkan eomma ne, Chanhyun tidak boleh nakal selama di sekolah. Harus mematuhi perkataan sonsaengnim dan berbuat baik pada semua teman. Arasso?"

Chanhyun mengangguk kecil.

"Kenapa murung? Mana senyum anak eomma?"

Dan Chanhyun pun tersenyum lebar dengan gigi putihnya. Meski setengah hatinya merasa tidak bahagia.

Baekhyun tahu itu, dan ia hanya bisa memeluk tubuh kecil anaknya. Lalu mengelus punggungnya penuh kasih. "Jaga dirimu baik-baik, ne. Nanti kalau sudah bel pulang, Chanhyun jangan pulang ke rumah dulu. Eomma masih bekerja. Datanglah ke tempat Sehan, ne. Chanhyun ingat alamat rumah Oh ahjusshi?" Baekhyun melepas pelukannya dan menatap Chanhyun.

Bocah kecil itu mengangguk. "Tentu, eomma."

"Bagus... anak pintar!" Baekhyun mengacak rambut hitam Chanhyun dan terkekeh. "Nanti jika bertemu nona-nona cantik di dalam halte, katakan saja alamatnya. Biar nona-nona itu membantumu. Jjaa... kalau begitu eomma pergi dulu chagi. Eomma harus bekerja untuk mencari uang. Belajar yang pintar, ne. Ingat pesan eomma."

Chanhyun melambaikan tangan ke arah Baekhyun yang mulai melangkah jauh. Seulas senyum yang tadi ditunjukkannya langsung pudar begitu Baekhyun sudah menghilang dibalik kerumunan orang tua-orang tua lain yang berebut menemani anak mereka.

Chanhyun menunduk sedih menahan tangisnya. Kemudian ia malangkah pelan menyusul langkah beberapa murid lain yang masih setia digandeng kedua orang tua mereka.

.

.

.

Mobil mewah berwarna perak itu melaju kencang dengan Jongsoo yang masih sibuk bermain robot-robotannya di dalam sana. Serta Chanyeol dan Kyungsoo yang duduk di jok depan sambil tertawa meihat tingkah putra kecil mereka itu.

"Kyungsoo-ya, tak terasa Jongsoo sudah masuk sekolah dasar," gumam Chanyeol dan tersenyum.

Kyungsoo membalas senyuman Chanyeol. "Ne, Chanyeollie. Uri Jongsoo sekarang sudah besar. Tidak boleh nakal lagi. Kalau nakal, tidak usah belikan koleksi robot yang baru."

Jongsoo di jok belakang merengut mencuri dengar pembicaraan kedua orang tuanya. "Issh... eomma dan appa kejam sekali! Kalau begitu setelah ini aku tidak mau berangkat sekolah lagi!"

"Ya! Mengapa kau mudah ngambek sih, Jongie?" Chanyeol pura-pura marah.

"Wae?! Kalian jahaattt! Huee..." rengek Jongsoo sambil memukul-mukulkan robot Kamjong-nya ke kaca jendela.

"Tidak boleh begitu, nanti Kamjong rusak!" kali ini suara Kyungsoo.

"Biarkan saja! Aku akan merusak Kamjong agar appa belikan Kamjong yang lain!"

"Tidak boleh seperti itu!"

"Terserah aku!"

Chanyeol menghela nafas panjang. "Baiklah terserah kau saja, Joongie. Tapi besok tetap harus sekolah, ne. Appa tidak mau punya anak pembolos."

"Ne, tapi appa masih mau belikan Kamjong yang baru?"

"Tentu saja, Jongie. Appa akan belikan robot Kamjong itu beserta seluruh tokonya hanya untuk Joongie. Bagaimana? Jongie mau?"

"Yeay! Asyiiik! Appa berjanji? Hari ini ya, appa?"

"Ne, Appa berjanji. Nanti setelah pulang sekolah langsung appa belikan Kamjong yang baru."

"YESSS!" teriak Jongsoo riang. "Gomawo appa!"

Chanyeol hanya menoleh sekilas dan tersenyum lebar. Begitu pula dengan Kyungsoo. Sungguh, Chanyeol adalah suami yang sangat baik. Kyungsoo selalu bersyukur karena memilikinya. Terlebih Chanyeol sangat menyayanginya dan Jongsoo. Sungguh Kyungsoo tak bisa membayangkan bila suatu saat nanti suaminya akan mengetahui sebuah kenyataan yang menyakitkan. Bahwa Jongsoo bukan anak kandungnya. Chanyeol pasti akan sangat hancur saat tahu hal itu.

Kadang Kyungsoo merasa sangat sedih karena selama ini membohongi Chanyeol. Kyungsoo selalu merasa tak pantas mendapatkan Chanyeol yang begitu sempurna. Apalagi dengannya yang sangat menjijikkan itu.

Hampir selama tujuh tahun pernikahan mereka hanya diisi oleh kebohongan. Setidaknya itu yang Kyungsoo rasakan. Karena ia sendiri yang memendam dan mengubur kebohongannya rapat-rapat. Dan ia sendiri yang selalu menanggung semuanya. Tapi Kyungsoo selalu bersyukur sampai saat ini semua berjalan dengan lancar. Ia akan terus memperjuangkan seluruh kebohongannya dan melindungi Jongsoo. Buah hatinya dengan Jongin. Orang yang sangat dicintainya sampai detik ini. Orang yang sangat dinantikannya. Dan sayangnya ia tak pernah kembali.

Kemana janjimu itu Jongin? Sampai saat ini kau tak pernah kembali. Kau membohongiku.

Kyungsoo merasa dadanya sesak ketika mengingat sosok yang selalu hadir di alam mimpinya itu. Malaikatnya yang menghilang.

Kim Jongin.

.

.

.

Jongsoo beranjak turun dari mobil mewah kedua orang tuanya sambil berlarian riang. Pikirannya sudah dipenuhi oleh Tangannya terus memainkan robot canggih yang menyala-nyala itu. Dimainkannya robot-robotan itu dengan hati yang riang. Seakan terbayang bahwa ia akan memiliki lebih banyak robot lagi setelah ini. Begitu asyiknya dia sampai tak sadar seorang bocah seusianya tengah melangkah dengan wajah tertunduk ke arahnya.

BRUGH...

"Kkamjong!" teriak Jongsoo keras. Robot mainannya yang sangat modern itu jatuh dan terlempar ke depan.

Jongsoo menggeram kesal. Pandangannya jatuh pada seorang bocah lelaki yang menggenggam robot kayunya erat-erat. Seragamannya tampak kucel juga tas dan sepatu yang dikenakannya sudah lusuh. Jongsoo menatap bocah itu dengan pandangan keji bercampur jijik. Ia bersiap melemparkan umpatan kemarahannya, tapi seseorang terlebih dulu memarahi bocah miskin yang berdiri di depannya itu.

"Ya! Kau tidak punya mata eoh?!" teriak Chanyeol yang tak terima anaknya ditabrak hingga mainan mahalnya jatuh seperti itu. Terlihat urat kemarahan dibalik wajah tampan tersebut.

"Mi—mi...mianhae... ahjusshi..." lirih bocah itu dengan suara ketakutan.

"Issh... benar-benar! Lain kali kalau jalan pakai matamu dengan benar! Apa kau tidak pernah diajari kedua orang tuamu sopan santun, eoh?"

Bocah itu hanya terus menggenggam robotnya semakin erat tanpa berani mendongakkan wajah. Tubuhnya tampak gemetar ketakutan. Chanyeol tak peduli dan terus membentaknya. Siapa suruh bocah miskin seperti itu mengganggu anaknya yang paling ia sayangi di dunia ini.

"Robot milik Joongie itu sangat mahal! Memang kau bisa menggantinya eoh?!"

Bocah itu menggeleng. "A—aku tidak sengaja..."

"Issh... jinjjahh! Sudah sana pergi! Dasar anak miskin!" bentaknya kasar. Seketika bocah itu melanjutkan langkahnya dengan belari cepat. Chanyeol menatap punggung anak kecil itu dengan kesal. Kemudian ia berlari ke arah anaknya dan memeluk Jongsoo-nya dengan erat.

"Gwaenchana Jongsoo-ya?"

"Ne, appa..." jawab Jongsoo sambil memeluk Kamjong kesayangannya.

Kyungsoo muncul tiba-tiba dari balik mobil. "Ada apa Jongie sayang?" tanyanya khawatir. "Eomma lihat tadi Joongie jatuh."

Jongsoo menggeleng. "Bukan aku. Tapi Kamjong. Itu semua gara-gara bocah menyebalkan itu tadi!" desisnya dengan mata menyalang marah.

Chanyeol masih menatap bayangan bocah yang menjauh menuju gedung sekolah itu. Matanya menatap tajam bocah jangkung tersebut. "Bagaimana bisa sekolah semahal ini menerima siswa miskin seperti itu?! Ckck... benar-benar kebijakan buruk!"

Kyungsoo mengikuti arah pandang Chanyeol. Seorang bocah dengan robot kayu di tangannya tengah berjalan sendirian. Wajahnya tertunduk. Kyungsoo menatapnya dengan pandangan melecehkan. "Benar Chanyeol-ah." Kemudian ia merunduk pada Jongsoo. "Dengar ya, Joongie tidak boleh berteman dengannya. Berteman saja dengan yang lain."

"Ne, bocah-bocah miskin sepeti itu bisa membawa kuman penyakit. Arasso?" tambah Chanyeol sambil mengusak rambut kecoklatan putranya. Tampak sekali bahwa Chanyeol sangat menyayanginya.

"Eum... appa...eomma...Aku juga tidak sudi berteman dengan anak seperti itu!" jawab Jongsoo.

"Anak pintar!" sambut Chanyeol dan mengangkat tangan ke atas. Jongsoo tertawa dan menyambut tangan ayahnya.

"Jja... selamat belajar Jongie!" Kyungsoo mengecup kening anaknya dengan sayang. Chanyeol juga melakukannya. Seolah rasa sayang untuk Jongsoo teramat sangat besar.

.

.

.

To Be Continued...

.

.

.


Kyaaaaaaa... Reyn dataaaaaang bawa lanjutan Your Child. Yeaaay... Reyn seneng banget. Makasih chingu atas review, fav, dan follow-nya. Reyn sangat terharu hehe... Reyn sebenernya cuma iseng lhoh bikin fic ini.. Tapi karena banyak yang mendukung jadi Reyn lanjut hehe ^^

Buat yang masih pengen tahu kelanjutannya. WAJIB REVIEW.

Oke? :D

Hehe... paling tidak tinggalkan jejak chinguu... boleh saran, komen dll. Kalau banyak yang masih ingin dilanjut. Pasti akan Reyn lanjut. :D

Sekali lagi, gomawo, gamsahamnida chinguuuyaa *bow..


Big Thanks to :D

.

.

.

[Guest], [nur991fah], [Bila], [DJ 100], [indaaaaaahhh], [sempaxkristao], [chanbaekjjang], [parklili], [Shallow Lin], [JungJihee], [jgsgdkgxmmzzgz], [SuJuXOXO91], [Nyonya Nam], [pintukamarchanbaek], [dorekyungsoo93], [siska232], [starbucks91],[rifdafairuzs], [younlaycious88], [fera 950224], [byun], [Jung Jungie], [Blacknancho], [hunipples], [TrinCloudSparkyu], [chika love baby baekhyun], [fuawaliyaah], [RapByun], [xoxo], [thyrhyeee], [Yeollbaekk], [zoldyk], [baek yeonra], [wanny], [pomii614], [PandaPandaTaoris], [exindira], [sayakanoicinoe], [sehunpou], [gothiclolita89], [icha likepachulsaklawaenoother], [Chanbaekkie], [Gigi onta], [Guest2]


.

.

.

REVIEW