.
Your Child
.
.
.
Disclaimer: This fanfic is mine and EXO's belong to The God
.
Genre: Family, Romence, and Drama
.
Warning: GS, OOC, typos, etc.
.
Rated: T
.
Pair: Chanbaek, Kaisoo, Chansoo
.
.
.
Chanhyun selalu iri pada hidup Jongsoo 'teman sekelasnya' yang begitu sempurna
.
.
"I Have Appa"
.
.
.
.
.
Bocah kecil berkulit putih dengan surai hitam berponi itu hanya diam sembari memainkan robot kayunya yang diletakkan di kolong meja. Suara riuh anak-anak di sekitarnya seakan tak mengusik sang bocah dalam dunia imajinasinya sendiri. Ia sudah hanyut di kehidupan lamunannya. Bahkan nampaknya anak-anak lain yang ribut dan berisik juga tak mempedulikan kehadiran sang bocah yang duduk di deret pojok paling belakang tersebut.
Sampai tak terasa suara langkah ketukan sepatu terdengar mendekati ruang kelas anak-anak yang ramai tersebut. Seketika suasana menjadi hening. Beberapa anak yang masih setia bergelayut manja pada orang tua mereka segera berlari menuju bangku mini masing-masing.
Pintu kelas ditutup oleh sang guru manis berdimple menawan di pipinya. Beberapa orang tua masih terus mengintip anak mereka dari balik kaca jendela. Ada pula orang tua lain yang segera pulang setelah menitipkan anak-anak mereka pada sang guru.
Suara langkah kaki guru itu semakin dekat. Ia meletakkan buku-bukunya di atas meja. Langsung saja seulas senyum cantik terukir di wajahnya tatkala menatap murid-murid barunya yang masih polos dan lugu.
"Anyeonghasseo..." sapa guru berdimple itu dengan ceria.
"Anyeonghasimnika sonsaengnim..." sambut anak-anak yang duduk berjejer rapi di bangkunya masing-masing dengan ceria.
Kembali sang guru tersenyum memperhatikan murid-muridnya yang lucu. "Zhang Yixing imnida. Mulai hari ini sonsaengnim akan mengajar kalian. Senang bertemu dengan kalian semua anak-anak." Yixing bertepuk tangan heboh dan dibalas tepuk tangan meriah murid-murid kecilnya.
"Ye! Selama belajar harus seperti itu! Tetap semangat, ne!" seru Yixing dengan riang. Anak-anak itu kembali bertepuk tangan dengan wajah-wajah ceria.
"Jadi karena sonsaengnim sudah memperkenalkan diri. Sekarang giliran kalian semua, ne. Sonsaengnim juga ingin mengenal kalian. Jadi kita harus berkenalan," jawab Yixing sambil mengambil buku absen di atas meja. Ia masih terus tersenyum melihat deretan nama yang ada di depannya.
"Concaengnim... concaengnim..." suara cadel seorang gadis kecil bersurai coklat tampak menginterupsi sang guru.
Yixing tersenyum. "Ah ne, ada apa Jinri-ya?" tanyanya pada gadis kecil berkuncir dua itu.
"Apakah kita akan ada pelajaran menggambar?"
"Ye, tentu saja. Kita akan menggambar, menyanyi, mewarnai, dan menari. Bukankah belajar itu asyik?"
"Emm... ne," Jinri mengangguk riang.
"Nah, untuk pelajaran pertama kita hari ini adalah berkenalan. Jadi semuanya harus memperkenalkan diri masing-masing ne. Baiklah kita mulai dari..." Yixing menelusuri bangku muridnya dan tersenyum melihat bocah berkulit tan. Bocah itu pasti Park Jongsoo. Salah satu anak donatur yayasan disini.
"Park Jongsoo..." tunjuk Yixing.
Jongsoo tersenyum bangga. Ia melangkah ke depan kelas dengan tampang angkuh. Kulitnya yang gelap dan sexy membuat beberapa yeoja kecil berbisik tentangnya. Ditambah wajahnya yang tampan itu. Meski baru SD, anak-anak itu tentu tahu namja yang tampan itu seperti apa.
"Baiklah Jongsoo, perkenalkan dirimu pada teman-teman, ne. Sebutkan namamu, orang tuamu, dan cita-citamu." Yixing tersenyum sembari menepuk pundak mungil Jongsoo dan menjauh ke meja guru.
Jongsoo membungkukkan badan. "Anyeonghasseo, Park Jongsoo imnida. Kalian bisa memanggilku Jongsoo. Appa-ku adalah Park Chanyeol. Kalian tentu sudah tahu kan, Park Chanyeol itu siapa?" katanya dengan bangga.
Beberapa anak berwajah polos dengan pipi merahnya menggeleng tak mengerti.
Jongsoo melengos kesal. Sedikit hati kecilnya berteriak tak terima. Ayahnya adalah orang hebat di Seoul. Mana mungkin ada yang tak mengenal ayahnya yang sangat hebat dan kaya raya itu?
Jongsoo tersenyum miring. "Appa adalah direktur besar di Park Coorporation. Sedangkan Eomma adalah chef nomor satu di Korea Selatan," katanya dengan bangga dan senyuman lebar yang angkuh. "Cita-citaku adalah menjadi orang hebat seperti Appa. Suatu saat nanti aku akan menjadi seorang direktur sama sepertinya."
Perkenalan Jongsoo diakhiri dengan sorak sorai tepuk tangan dari teman-temannya. Anak-anak lain tampak terkagum-kagum dan membuka-tutup mulutnya seakan melempar keterkaguman mereka tanpa bisa diungkapkan.
Jongsoo kembali tersenyum angkuh sebelum melangkah menuju bangkunya. Perkenalan anak-anak itu berlanjut. Banyak sekali anak-anak dengan kepribadian aneh dan unik di dalam kelas itu. Sebagian dari mereka memiliki hobi yang tak biasa dan bakat yang menurun dari orang tuanya. Kemudian perkenalan itu sampai di bangku terakhir. Tepat dimana bocah jangkung tengah menunduk dengan menggenggam erat robot kayunya.
"Byun Chanhyun..." Yixing memanggil dengan lirih. Membuat sang bocah mendongak karena kaget.
Chanhyun menatap sekeliling dan mendapati seluruh perhatian di dalam kelas tertuju ke arahnya. Ia segera menunduk untuk mengalihkan pandangannya.
Yixing hanya bisa tersenyum dengan sifat malu anak bertubuh jangkung dengan bentuk telinga yang unik itu. "Ayo Chanhyun-ah, sekarang giliranmu..."
Chanhyun mengungguk pelan. Dengan gerakan lambat didorongnya kursi ke belakang. Ia bangkit pelan-pelan sambil terus menggenggam robot kayunya yang dekil dan kotor. Beberapa anak tampak tak suka melihat robot jelek di tangan bocah itu.
Chanhyun memberanikan diri menghadap teman-temannya. Wajahnya sedikit tertunduk. Tapi ia mampu melihat tatapan mencemooh anak-anak di depannya. Ia hanya terus menggigit bibir sambil berusaha membungkukkan badan sedalam-dalamnya.
"Anyeonghasseo... Byun Chanhyun imnida. Panggil saja aku Chanhyun."
Tak ada sambutan apa-apa. Anak-anak yang duduk berbaris rapi di depannya itu hanya menatap datar tanpa rasa kagum sedikit pun. Dan bahkan tampang mereka ada yang seperti jijik, menghina, dan masih banyak lagi. Melihat tatapan mereka membuat Chanhyun bersedih dan menunduk sembari menggigit bibirnya.
Yixing memaksakan seulas senyum. Dirangkulnya pundak Chanhyun dengan penuh sayang. Yixing juga merasa tak senang dengan sikap murid-murid lainnya seperti itu.
"Jja... sekarang Chanhyun bisa menceritakan hobi Chanhyun dan orang tua Chanhyun."
Chanhyun masih terus menunduk. Tangannya bergerak memainkan robot kayunya. Bibir mungilnya yang kemerahan itu nampak bergetar. "Eommaku bernama Byun Baekhyun. Eomma hanya seorang pegawai caffe. Tapi... eomma sangat giat bekerja," gumamnya dengan raut wajah polos. "Kadang eomma juga mengambil shift malam di hotel sebagai cleaning service. Eomma bilang dia tak pernah lelah bekerja untukku."
"Memang dimana appamu?" tanya seorang anak laki-laki gendut di bangku deret terdepan.
"Appa..." pandangan Chanhyun sedikit menerawang ketika menyebut nama asing itu. Selalu saja hal-hal yang menyangkut ayahnya membuat hatinya bergejolak sedih karena tak pernah mengetahui siapa gerangan ayahnya.
"Iya... dimana appa-mu? Apa tidak membantu eomma-mu bekerja?" tambah gadis kecil berkuncir kuda di samping si anak laki-laki gendut.
Chanhyun menggigit bibirnya. Entah untuk ke berapa kalinya pandangan itu kembali kosong. Dari balik bola mata lebarnya yang terang tersorot kekecewaan dan kesedihan.
Chanhyun menjawab lirih. "Emm... Appa, a—aku belum pernah bertemu dengannya. Eomma bilang, Appa sedang pergi ke luar negri. Appa tidak akan pulang sebelum aku menjadi orang hebat. Jadi aku harus menjadi orang hebat dulu sebelum bertemu dengan appa."
Jawaban polos yang diucapkan oleh Chanhyun itu sontak membuat seisi kelas ramai dipenuhi tawa. Anak-anak di depan Chanhyun itu tertbahk-bahak seolah apa yang diucapkan Chanhyun adalah sebuah lelucan.
Jongsoo yang duduk di barisan kedua menatap Chanhyun dengan pandangan meremehkan. Senyuman miringnya terlihat menakutkan sehingga Chanhyun menunduk dan mencengkram kuat robotnya.
"Mwo?! Mana ada yang seperti itu! Hahaha... bilang saja kau tidak punya ayah!" ejek Jongsoo dengan suara sedikit cadel.
"Benar! Jangan-jangan kau tidak punya ayah, ya?" lagi-lagi beberapa anak mengeluarkan asumsi dari pikiran sempit mereka.
"Sudah jelas tidak punya ayah! Hahaha... kasihan!" sahut Jongsoo cepat.
"Aniya! Aku punya ayah!" teriak Chanhyun tak terima. Tanpa sadar air matanya sudah menetes membasahi pipi. Tak tahan Chanhyun segera berlari keluar dari kelas dengan wajahnya yang telah dipenuhi air mata.
Yixing menatap muridnya dengan iba. Wajahnya tampak panik. Ia menoleh pada murid berkulit tan yang tampak acuh.
"Jongsoo-ya, kau tidak boleh seperti itu!" katanya dengan nada sedikit ketus. Nampaknya Yixing memang sedang dalam amarah. Suara halusnya seakan berubah menjadi suara penuh dendam.
"Memang mengapa sonsaengnim? Apa yang aku bilang benar kan? Dia saja tidak pernah bertemu ayahnya. Sudah jelas berarti dia tak punya ayah." Jongsoo menjawab dengan santai.
Yixing merasa amarahnya semakin naik. Sungguh tak pernah sekali pun terjadi keributan seperti ini saat tahun pertama ajaran dimulai. Apalagi itu kelas yang ditanganinya. Benar-benar hal seperti ini baru pertama kali terjadi. Dan itu di kelas Yixing. Di antara anak-anak yang bahkan baru akan menginjak usia tujuh tahun. Bukannya malah para remaja yang rata-rata berusia tujuh belasan.
Tak mau ambil pusing, Yixing segera berlari menyusul salah satu anak didiknya. Di koridor suasana sudah hening dan sepi. Tak ada siapa-siapa lagi disana kecuali beberapa guru yang berlalu lalang. Yixing memutuskan untuk mencari Chanhyun di lapangan sekolah. Beruntung bocah jangkung itu ada disana. sedang duduk di bangku pinggir lapangan dengan wajah tertunduk sambil memegangi robot kayunya erat-erat.
Yixing berlari mendekat. "Byun Chanhyun... hosh... hosh... Ibu mencarimu. Mengapa kau keluar di jam pelajaran seperti itu eoh?"
Chanhyun tak merespon. Tubuh mungilnya yang tinggi itu nampak bergetar. Suara sesenggukannya terdengar nyaring di teliinga Yixing. Dengan lembut diusapnya punggung bocah yang kini menjadi tanggung jawabnya itu.
"Chanhyun-ah, wae? Mengapa kau jadi menangis hm?" tanya Yixing lembut.
Kembali Chanhyun terisak. "Hiks... hks... aku punya ayah sonsaengnim... hiks... aku punya ayah. Eomma bilang aku punya ayah."
Yixing tersenyum lembut. "Iya, kau punya ayah. Sonsaengnim percaya padamu. Semua orang itu punya ayah."
Wajah mungil itu tampak tertegun. Hidungnya yang agak lebar dan mancung itu nampak memerah. Mata jernihnya penuh dengan tangis air mata.
"Tapi—" Chanhyun meremas Dobi-nya. "Sonsaengnim, kalau aku punya appa... mengapa aku tak pernah bertemu dengan appa?"
Yixing menghela nafas panjang. "Mungkin suatu saat nanti Chanhyun akan bertemu dengan appa. Tapi tidak sekarang. Bukankah eomma-mu tadi bilang seperti itu?"
Chanhyun mengangguk dengan wajah lesu. Yixing masih terus mengelus punggungnya penuh kasih.
"Nah, sekarang Chanhyun tersenyum ne. Tidak boleh bersedih."
Chanhyun pun memaksakan seulas senyum. Yixing menggandeng tangannya menuju kelas. Tempat yang sepertinya tak akan pernah ia sukai.
.
.
.
Baekhyun memasuki sebuah caffe besar yang berdiri tegak di ujung persimpangan jalan raya. Keringat nampak membanjiri wajah yeoja yang meski sudah berusia 26 tahun namun tetap imut itu. Tampak sekali dari wajahnya yang pucat bahwa ia sudah sangat lelah.
"Mianhae, aku terlambat..." ucapnya pada salah seorang yeoja berwajah panda yang tengah membersihkan meja-meja pengunjung.
Zitao nampak mengerucutkan bibir. "Itu sudah biasa jie, masuklah. Ah, si angry birds itu sudah menunggumu sejak tadi."
Baekhyun mengangguk dan segera berjalan menuju ruang ganti. Tak lama ia keluar dengan pakaian bercorak pink dan ungu bertuliskan Wu's Caffe. Kemudian ia melangkahkan kaki jenjangnya menuju dapur sambil mengikat rambutnya ke atas.
"Kau baru datang?" suara yang terkesan dingin itu menginterupsinya begitu saja.
Baekhyun menoleh dan tersenyum pada Bosnya. Kris Wu atau bernama asli Wu Yifan. Namja berwajah dingin itu hanya tersenyum tipis membalas senyuman manis salah seorang pekerjanya yang diam-diam telah disukainya sejak pertama kali bekerja disini.
"Apa kau naik bus lagi?"
Baekhyun memiringkan wajah. "Emm... Memangnya aku bisa naik apalagi?"
"Kau bisa memintaku untuk menjemputmu."
Baekhyun memaksakan senyum. "Tidak, Tuan Wu. Terima kasih," lanjutnya setengah terkekeh.
Kris menyandarkan tubuhnya ke tembok dapur. Matanya terus menatap bagaimana yeoja berwajah manis itu bekerja. Barang sedikit pun tak pernah luput diperhatikan oleh Kris. Ia sangat hafal seluruh hal mengenai Baekhyun. Bagaimana caranya bekerja dengan tekun, senyumannya saat melayani para pelanggan, juga kebaikannya pada semua orang. Kris sudah sangat hafal seluruhnya mengenai Baekhyun.
"Baek jie, pelanggan nomer 4 ingin menambah vanilla pancake dan es krim nokcha." Zitao masuk begitu saja sambil memasukkan selembar kertas pada kotak pesanan. Bibirnya mengerucut kesal tatkala melihat tubuh jangkung atasannya yang menutupi langkahnya.
"Ya, Tuan angry birds! Minggir eoh! Kau menghalangiku bekerja!" kata Zitao seenaknya.
Kris sendiri hanya bisa memasang wajah datar dan memundurkan langkah memberi ruang pada Zitao. Acaranya memandangi sang yeoja pujaan harus rusak gara-gara si panda hitam itu.
"Ya! Aku ini atasanmu! Aku bisa memotong gajimu! Bicaralah lebih sopan!" desis Kris sebal. Zitao langsung memasang wajah puppy-nya. Memberi aegyo yang selalu membuat Kris semakin sebal.
"Hehe... Mian..."
Kris berbalik dan melangkah dengan gusar menuju ruangannya. Selalu saja seperti ini. Setiap hari ia dan pegawainya—Zitao, memang selalu bertengkar tiap kali bertemu. Mereka memang tak pernah akur. Kris sendiri sebenarnya mengakui jika pegawainya itu sangat manis dan bahkan profesional. Hanya anehnya saja mereka sering terlibat adu cekcok. Tapi menurut Kris hal itu malah sudah menjadi makanan wajibnya sehari-hari. Dan baiknya ia memiliki pegawai yang sangat terampil dan pekerja keras yaitu Baekhyun. Sungguh Kris sudah jatuh pada pesona yeoja itu sejak awal. Tapi hubungan mereka bertiga disini hanya sebatas pegawai dan atasan atau malah lebih menjurus ke persahabatan yang tak mereka sadari.
"Hhhh..." Kris menghela nafas panjang. Padahal tadi ia berencana mengajak Baekhyun makan malam bersama. "Huang Zitaooo! Kenapa dia selalu mengacaukan semuanya~" gumamnya sebal.
.
.
.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Chanhyun masih terdiam sambil menenteng tas di punggungnya. Tatapannya beralih pada teman-teman sekelasnya yang berhamburan menuju mobil orang tua mereka. Matanya tampak menerawang ketika melihat pemandangan yang menyedihkan itu.
Andai saja Chanhyun juga dijemput orang tuanya seperti mereka. Pasti menyenangkan sekali. Ditambah lagi menaiki mobil semewah itu. Sungguh seperti mimpi. Tapi kenyataannya Chanhyun hanya seorang anak miskin yang hidup bersama ibunya. Kurang lebih begitulah pikirannya.
Chanhyun menyandarkan tubuhnya di tembok pagar sekolah. Ia melepas tas punggungnya dan mencari-cari Dobi di dalam sana. Tapi sayangnya Dobi tak ada di dalam. Chanhyun memekik kaget.
"Tidak! Dobi! Eodi-ya?" gumamnya sedih.
Chanhyun segera berbalik menuju kelasnya. Mungkin saja Dobi tertinggal di kolong meja. Namun langkahnya terhenti oleh salah seorang teman sekelasnya yang berjalan ke arahnya sambil menggenggam robot kayunya.
"Dobi!" pekik Chanhyun girang.
Si anak kecil berwajah kotak itu tersenyum. "Hai. Namamu Byun Chanhyun kan? Mainanmu ini tertinggal di kolong meja saat kau pergi tadi."
Chanhyun menerima Dobi kembali. Dipeluknya robot kayu itu erat-erat. Si namja kecil di depannya hanya tersenyum menampilkan cengirannya. Chanhyun tersenyum ke arahnya.
"Terima kasih sudah mengembalikan Dobi."
"Emm... ne," bocah itu mengangguk. "Cheonma Chanhyun-ah."
"Namamu siapa?"
"Aku Kim Mindae. Panggil saja aku Dae." Bocah berwajah kotak itu menjulurkan tangan. Chanhyun tersenyum dan menerima uluran tangannya. Mereka sedikit berbincang tentang robot mainan milik masing-masing. Sampai akhirnya suara klakson mobil menghentikan obrolan singkat mereka.
"Ah, appa sudah datang menjemputku," gumam Mindae lirih. Kemudian ia menoleh pada Chanhyun yang tengah menatap kagum mobil jaguar hitam mewah di depannya. Mobil itu milik ayah Mindae. Seorang namja berwajah kotak—sama seperti anaknya yang tengah duduk menunggu di balik setir.
"Chanhyun-ah, pulanglah bersamaku. Appa tak akan keberatan bila aku mengajak temanku," ajak Mindae ramah.
Chanhyun menggeleng. "Aniya. Tidak perlu repot-repot. Aku sudah berjanji pada eomma untuk pulang naik bus itu," tangannya menunjuk sebuah halte kecil di seberang jalan.
Dae terkekeh melihat wajah polos di depannya. "Hem... Baiklah... aku duluan, ne."
Chanhyun mengangguk. Dae segera berlari menaiki mobilnya. Kaca mobil itu nampak turun dan memperlihatkan sosok Dae dan ayahnya tengah melambaikan tangan. Chanhyun membalas mereka sambil tersenyum.
Mobil itu akhirnya menghilang menembus padatnya jalan raya. Senyum di wajah Chanhyun sedikit pudar. Tampak di sekelilingnya masih ramai oleh mobil-mobil mewah yang datang menjemput murid-murid lain.
Chanhyun menunduk guna memperhatikan robot kayunya. "Dobi, kita naik bus ya?" gumamnya pada sang robot. Seolah mendapat jawaban, Chanhyun tersenyum manis. Kemudian ia mulai melangkahkan kaki-kaki mungilnya menuju jalan raya. Dengan bantuan penjaga sekolah, diseberanginya jalanan yang ramai itu pelan-pelan. Lalu ia beranjak menuju halte mini yang ada di depan matanya.
.
.
.
Chanhyun berlarian turun dari bus yang ditumpanginya. Seulas senyum merekah di wajahnya ketika melihat seorang yeoja yang hampir berkepala tiga tengah membersihkan meja-meja makan di luar kedai. Chanhyun segera berlari menghampiri sang yeoja.
"Lu ahjumma!" teriaknya keras.
Yeoja bernama lengkap Xi Luhan itu tersenyum lebar mendapati siapa gerangan yang memanggilnya. "Chanhyun-ah! Kau sudah pulang?" pekiknya tak kalah riang.
Chanhyun mengangguk dan segera menghambur ke pelukan Luhan. "Ahjummaa! Aku tidak ingin bersekolah disanaa..." rengeknya manja.
Luhan mengerucutkan bibir. Disampirkannya lap meja yang dibawanya ke pundak. Kemudian ia berjongkok guna menyetarakan tingginya dengan si bocah.
"Ya! Kau tidak boleh bicara begitu! Eomma bisa sedih."
Chanhyun menunduk. Lagi-lagi tangannya memainkan Dobi. "Tapi memang seperti itu kenyataannya, ahjumma."
"Hey Byun, bersekolahlah dengan benar!" suara datar seseorang menginterupsi kegiatan temu kangen antara Chanhyun dan Luhan.
Chanhyun menoleh dan mendapati seorang namja dewasa berwajah tampan namun datar tengah berdiri di depannya. Kemudian ia berseru, "Hun ahjusshi!"
Oh Sehun terkekeh. Kedua tangannya terangkat guna menjunjung Chanhyun ke udara. "Chanhyun-ah, kajaaa kita makan ramyeon!"
"Kyaaa... ahjusshi! Aku bisa jatuh!" pekik Chanhyun sambil terbahak di dalam dekapan Sehun. "Tapi aku memang lapar..."
"Nah, kalau begitu makanlah dulu." Luhan segera menggandeng tangan Chanhyun ke dalam.
Seperti biasa, suasana Kedai Mie Hunhan selalu ramai oleh pengunjung. Hampir setiap hari Chanhyun selalu mampir kesini sekadar untuk bermain dengan Sehan atau malah membantu pasangan Sehun dan Luhan untuk berjualan. Kadang ia sering membantu mengantarkan pesanan. Dan Luhan akan dengan senang hati memberikan uang jajan tambahan pada Chanhyun atas bantuan yang diberikannya. Sering pula Baekhyun ikut membantu. Tapi belakangan ini ia sibuk karena harus bekerja di dua tempat sekaligus per harinya demi menghidupi kehidupannya dan Chanhyun.
"Hyung, kau sudah pulang?" seorang bocah dengan wajah tak kalah datar seperti ayahnya muncul tiba-tiba dari balik gorden tangga kecil di ujung dapur. Ia berjalan pelan ke arah Chanhyun dan mendudukkan diri di samping si jangkung.
Chanhyun melempar senyuman pada Sehan—bocah yang baru datang itu. "Sehan, ternyata kau sudah pulang."
"Aku kira kau malah pulang lebih siang, hyung."
Chanhyun menggeleng. "Tidak."
"Ah, kajja, aku ingin menunjukkan sesuatu. Sekarang Odult bisa menari," Sehan berkata heboh. Wajahnya yang semula datar kini berubah ceria. Bocah itu memang memiliki kepribadian ganda sejak dulu. Kadang ketika serius, Sehan bisa menampilkan raut wajah datar-sedatarnya seperti Sehun. Lain lagi ketika bahagia, raut wajahnya bisa menjadi sangat ceria seperti Luhan. Memang perpaduan yang aneh. Tapi seperti itulah anak pasangan Hunhan yang berkepribadian unik.
"Ya! Apa yang ada di otak kalian hanya bermain saja?!" Luhan mendengus sembari mengangkat sebuah nampan berisi mangkuk-mangkuk penuh ramyeon hangat. "Makanlah lebih dulu eoh!" suruhnya lembut.
Chanhyun dan Sehan nampak girang dengan menatap mangkuk itu. Kedua bocah berusia hampir tujuh tahun itu segera memposisikan diri masing-masing di atas bangku.
"Gamsahamnida ahjumma..." kata Chanhyun senang.
Luhan terkekeh sembari mengusak lembut rambut aegya sahabatnya itu. "Cheonma... makan yang banyak Chanhyun-ah! Dan kau... Oh Sehan! Jangan sampai kau menyisakan sayuranmu lagi di mangkuk!" tudingnya pura-pura galak.
Sehan mendengus malas. "Ne eomma..."
.
.
.
Keesokan harinya kelas tempat Chanhyun belajar sudah ramai. Chanhyun melangkahkan kaki ke dalam. Suasana begitu riuh. Tampak gerombolan anak-anak tengah mengerumuni sebuah meja. Chanhyun ingat bahwa meja itu milik Jongsoo. Dengan langkah pelan didekatinya gerombolan itu untuk melihat apa yang terjadi.
Chanhyun nampak takjub melihat sebuah robot super canggih yang tengah berjalan-jalan di atas meja Jongsoo. Anak-anak yang lain mengeluarkan raut wajah kagum sama seperti Chanhyun. Robot di depannya ini benar-benar berbanding seratus delapan puluh derajat dengan Dobi kayu miliknya. Robot itu sangat modern dan bisa melakukan apapun. Sedangkan Dobi kayunya bahkan berdiri saja tak bisa. Harus menggunakan penyangga untuk membuatnya berdiri.
Tanpa sadar tangan Chanhyun terulur untuk menyentuh robot itu. Sungguh ia benar-benar kagum dan ingin menyentuhnya. Tapi sebelum tangan kecil Chanhyun sampai untuk menyentuhnya, seseorang telah terlebih dulu berteriak.
"Robot ini sangat mahal!" teriak Jongsoo dengan sombong. "Jangan pernah sekali pun menyentuhnya! Bagaimana kalau ia rusak?!"
Chanhyun segera menurunkan tangan. Wajahnya menunduk ke bawah. Menatap bias cahaya lantai yang bercampur sinar pagi sang mentari. "Maafkan aku—Aku hanya ingin menyentuhnya saja. Robotmu sangat bagus."
"Issh... mengganggu saja!" ujar Jongsoo ketus sambil membawa Kkamjongnya menjauh. Tak lupa ia mengajak teman-teman satu gengnya Taeho dan Mindae. "Ayo pergi saja!"
Taeho mengangguk dan mengikuti langkah Jongsoo. Tapi Mindae tidak. Ia berdiam di samping meja Jongsoo dan beralih menatap Chanhyun. Anak-anak yang mengerumuni meja Jongsoo satu per satu mulai pergi. Tinggalah Chanhyun dan Mindae di deret terdepan meja murid.
"Kau bisa melihat robot punyaku," kata Mindae tersenyum, membuat wajahnya terlihat semakin kotak.
"Benarkah?" tanya Chanhyun tak percaya. Raut wajahnya yang tadi muram kini berubah ceria.
Mindae mengangguk riang. Kemudian mereka memainkan robot Chenchen milik Dae bersama-sama. Bahkan Mindae juga suka dengan Dobi milik Chanhyun. Menurut Dae, robot milik Chanhyun itu sangat unik dan lucu. Meski hanya dari kayu, robot itu tidak kalah bagus dengan robot lainnya. Dan begitulah kedua anak tersebut menghabiskan waktu bersama.
.
.
.
"Chanhyun-ah! Kau harus ikut pulang bersamaku! Kajja..." Mindae terus menarik Chanhyun mendekati mobil mewahnya. Dengan langkah terseret-seret Chanhyun berhasil dibawa paksa mendekati mobil jaguar hitam ayah Mindae yang terparkir di ujung jalanan itu.
"Appa!" pekik Mindae keras. "Ini temanku!"
Jongdae tersenyum lebar ke arah Chanhyun. Ia berjongkok menghadap dua bocah di depannya. "Anyeong. Aku appa Dae."
Chanhyun membungkuk dalam. "Byun Chanhyun imnida. Anyeonghasimnika ahjusshi..."
"Ne, cheonma." Jongdae mengusak pelan rambut teman anaknya itu. "Wah, wajahmu mirip dengan teman ahjusshi."
Mata Chanhyun melebar. "Benarkah?"
"Hem..." Jongdae mengangguk. Lalu menoleh ke arah sang aegy. "Tidakkah kau merasa temanmu mirip sekali dengan Park ahjusshi."
Mindae mencermati wajah Chanhyun sekali lagi. Kulit putih. Bibir merah menawan yang tebal. Mata lebar. Juga hidung yang mancung. Sepertinya ia memang sangat mirip dengan salah satu sahabat ayahnya. "Iya appa, Chanhyun mirip sekali dengan Park ahjusshi."
"Siapa Park ahjusshi?" tanya Chanhyun polos.
"Park ahjusshi itu appa Jongsoo."
Chanhyun mengerjap bingung. Namun mata itu menampakkan sebuah kesedihan. Mendengar nama Jongsoo membuat rasa sakit di hatinya kembali muncul. Ia menunduk sambil menatap Dobi. Berharap perkataan ketus Jongsoo hilang dari pikirannya.
"Hei, Chanhyun-ah! Mengapa kau malah melamun?"
Chanhyun terkaget. Mindae dan ayahnya tengah tersenyum sembari memandang wajahnya. Dari jarak sedekat ini Chanhyun dapat melihat betapa miripnya wajah ayah-anak tesebut. Chanhyun mulai berpikir dalam hati. Jika saja ia punya ayah, akankah wajah mereka semirip Dae dengan ayahnya. Atau malah tidak.
"Ah, appa, kau berjanji mentraktir aku makan es krim! Kalau begitu ajak Chanhyun juga, ne."
"Ye, tentu saja! Kajja!"
Chanhyun tersentak ketika Mindae sudah menariknya memasuki mobil. "Dae-ya, kau ingin membawaku kemana? Aku harus segera pulang."
"Appa yang akan mengantarmu. Tapi kita makan es krim dulu."
"Tidak perlu, Dae-ya. Aku sudah berjanji pada eomma akan langsung pulang," rengek Chanhyun.
"Ayolah sebentar saja! Kau bilang kita berteman?" wajah Mindae mengerucut, membuat pipi bakpaonya semakin tembam.
"Tapi—"
"Dae pasti sangat senang! Ayo makan es krim bersama. Nanti biar ahjusshi yang bicara pada eomma-mu," kali ini Jongdae yang mengajak. Senyuman lebar terpatri di wajah kotaknya.
Chanhyun hanya bisa mengangguk pasrah. Dalam hati sangat mengagumi ayah Mindae yang begitu baik. Padahal kenyataannya mereka orang kaya. Tapi mereka sangat baik. Bahkan Mindae tidak memandang status dalam berteman. Chanhyun senang memiliki teman seperti Dae.
"Duduklah Chanhyun. Ayo appa kita berangkat!" ucap Mindae bersemangat.
Chanhyun tersenyum tipis ke arah Mindae. Matanya terus menjelajah isi di dalam mobil mewah milik keluarga Mindae. Hampir saja ia dibuat terbengong-bengong kagum dengan apa yang ada di dalam sana. TV berukuran kecil, AC, game playstation, dan setumpuk mainan di bawah jok khusus.
"Whoooaa... aku belum pernah naik mobil sebelum ini. Ternyata sangat menyenangkan," ucap Chanhyun polos. "Kau juga bisa bermain disini. Menyenangkan sekali."
Mindae tersenyum. "Kalau begitu naiklah mobil appa setiap hari," katanya terkekeh.
"Benar! Naik saja kalau kau ingin!" sahut Jongdae dari jok depan dengan wajah ceria.
Chanhyun melempar senyum gembira. Kemudian mengikuti Mindae mengambil seperangkat mainan unik nan mewah yang disimpan di bawah jok mobil.
.
.
.
Setelah mengantar anaknya—Mindae, beserta temannya pulang ke rumah, Jongdae segera kembali menuju kantor. Disana ia sudah disambut oleh suara teriakan manja dari Jongsoo yang kini—seperti biasa—tengah bergelayut manja di pelukan sang ayah. Sahabatnya sekaligus atasan kerjanya, Park Chanyeol.
"Jongsoo-ya, aku tadi tidak melihatmu. Apa seharian ini kau tidak bermain bersama Dae?" tanya Jongdae begitu melihat si bocah berkulit tan tengah mengganggu ayahnya bekerja.
Jongsoo mendengus ke arah Jongdae. "Tidak! Aku tidak bermain dengannya! Dia terlalu sibuk dengan si bocah miskin itu!"
Jongdae mengernyit. "Siapa? Chanhyun?"
Jongsoo mengangguk cepat dan menoleh. "Ne, ahjusshi tahu?"
"Hem..." Jongdae mengangguk sambil tersenyum lebar. "Chanhyun itu anak yang baik, kok. Kau juga harus berteman dengannya."
Jongsoo memasang wajah jijik. "Mengapa aku harus berteman dengan anak miskin itu eoh? Isshh... tidak mau! Biar saja kalau Dae mau tertular kuman!"
"Kau ini... jangan bicara seperti itu." Jongdae menasehati dengan lembut. Tapi Jongsoo tetap kekeh dengan pendiriannya dan terus menjelek-jelekkan bocah miskin yang selalu membawa robot kayu di kelasnya itu.
Chanyeol yang tak mengetahui pembicaraan keduanya mengernyit. "Chanhyun? Siapa dia?"
Jongsoo menoleh ke arah sang appa. "Bocah yang menabrakku sampai Kkamjong jatuh waktu itu appa!" jawabnya bercampur sebal.
"Benarkah? Kau sekelas dengannya?" tanya Chanyeol tak percaya.
"Ne, dia sangat menjijikkan dan kumuh!" Jongsoo menjawab dengan seenaknya.
Chanyeol memandang anaknya kaget. Tapi raut wajah anaknya seakan menyuruh sang ayah untuk mempercayainya. Dan Chanyeol hanya mengangguk setelah menimang-nimang. "K—kurasa Dae harus menjauhinya..." ucap Chanyeol pada akhirnya.
"Mwo?!" Jongdae memekik. "Apa-apaan kalian ini?!" ketusnya sembari menggelengkan kepala tak percaya dengan sifat ayah dan anak yang sama persis itu.
Bagaimana bisa mereka menjudge seseorang dari cover luarnya saja? Hey, Jongdae bukan lagi orang bodoh yang tertipu dengan harta semata! Di matanya semua orang itu sama. Dan kebetulan menapaki dunia yang sama pula. Tak ada yang bisa menentukan dimana lapisan mereka berada. Dan Chanyeol beserta anaknya dengan seenak perut menjelek-jelekkan orang miskin.
Huh, harusnya Jongdae menyadari perubahan sikap sahabatnya itu semenjak menikah dengan Kyungsoo. Dulu Chanyeol yang dikenalnya tidak seperti ini. Chanyeol dulu orang yang ramah, suka tersenyum, rajin menolong, dan baik pada siapapun. Jongdae ingat sekali ketika sahabatnya itu berpacaran dengan Baekhyun di masa sekolah. Sifat dan seluruh tabiatnya benar-benar baik. Berbeda dengan saat ini ketika menikah dengan Kyungsoo. Bisa jadi Kyungsoo membawa dampak buruk bagi Chanyeol, pikir Jongdae.
Jongdae masih mengingat dengan jelas dimana dulu sahabatnya benar-benar bahagia saat memiliki pacar seperti Baekhyun. Tapi sayangnya hubungan mereka kandas karena saat itu perusahaan orang tua Chanyeol diambang kehancuran dan saat itu pula hanya Chanyeol yang bisa menyelamatkan perusahaan orang tuanya. Chanyeol dengan terpaksa merelakan masa mudanya terenggut dengan menikahi anak seorang presdir kaya raya bernama Do Kyungsoo. Dan dengan pernikahan itu perusahaan orang tuanya tertolong.
Sejak saat itu Jongdae tak pernah melihat Baekhyun lagi. Gadis imut penebar keceriaan itu menghilang sejak pernikahan Chanyeol dan Kyungsoo yang sangat mendadak dihelat. Jongdae hanya sering mendengar gosip tentang Baekhyun—yang sudah dianggapnya sahabat sendiri. Karena Baekhyun dulu adalah pacar Chanyeol, sahabat karibnya. Maka Jongdae juga menganggap Baekhyun sebagai sahabatnya juga.
Teman-teman seangkatannya bilang bahwa Baekhyun melanjutkan kuliah di Jepang untuk menjadi seorang designer. Karena tak ada alasan lain, Jongdae akhirnya mempercayai gosip klasik itu. Sebenarnya Jongdae sangat menyesali keputusan Baekhyun untuk pergi tiba-tiba tanpa berpamitan. Dan yang lebih disayangkan lagi sikap Chanyeol semenjak kelulusan SMA itu benar-benar berubah. Setiap Jongdae menanyakan sesuatu tentang Baekhyun, itu akan membuat amarah Chanyeol naik. Namja jangkung itu hanya menjawab bahwa setelah hari kelulusan mereka sudah memutuskan untuk berpisah karena mereka harus menempuh jalannya masing-masing.
Setelah hari-hari berlalu, nama Baekhyun perlahan-lahan menghilang dari memori Chanyeol. Jongdae juga tak pernah membahasnya lagi. Mungkin ada sesuatu yang tak bisa diceritakan oleh sang sahabat padanya. Jadi ia menganggap Baekhyun hanyalah salah satu 'mantan' terbaik Chanyeol yang menghilang karena harus meraih cita-citanya. Jongdae tahu persis bahwa Baekhyun adalah seorang yeoja yang terlahir di keluarga terpandang dan pastinya mempunyai cita-cita yang sangat tinggi. Mungkin Jepang adalah tujuannya. Sementara Chanyeol mulai sibuk melanjutkan kuliah sambil belajar mengurus perusahaan sang ayah yang diambang kehancuran. Dan mulai saat itu ia diharuskan bertemu dengan Kyungsoo yang menyandang predikat sebagai calon istrinya.
Jongdae mendengus pelan mengingat betapa rumitnya hidup sang sahabat. Meski pada akhirnya ia juga mengikuti jejak Chanyeol untuk menikah muda bersama pacarnya beberapa bulan setelah kelulusan.
"Ckck... terserah kalian saja! Dae sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Aku mempercayai anakku." Jongdae menyerah dan berjalan menuju mejanya.
Tidak sepertimu anakmu yang manja dan sombong itu, desisnya dalam hati.
.
.
.
To Be Continued...
.
.
.
#HappyBaekhyunDay
Saengil Chukae uri baby Baekkie :D *teriak pake terompet...
Semoga Baek makin berkembang di EXO dan moga-moga suaranya semakin bagus. Jangan lupa banyak-banyak belajar pake nada tinggi plus nada rendah k ChenChen oke :D wkwk...
Happy Birthday juga buat Tao dan Suho yang ultah di bulan Mei :D
Untuk ke depannya kalo liat N Seoul tower gaperlu tereak2 sambil lari2 kek anak kecil ya... Tao-ya... :3 kan udah makin gede yak... harus sadar diri...muehehe...
Untuk Suho tetep jadi leader yang baik yaa... kami cinta uri leadernim yeye :)
Akhirnya chapter 3 diupdate bertepatan sama ultah pacar reyn muehehehe... *lirik si bebek
Okeh Reyn tahu chap ini sedikit krg greget. *pundung *tunyuk2...
Reyn tahu chap ini nggak ada Chanbaek ma Kaisoo selaku main cast :( nangis...huhuuu...
Reyn minta maaf banget klo banyak yang kecewa disini gak ada moment2 para main pair kita...soalnya Ryen masih harus ceritaiin ttg Chanhyun sama Jongsoo dulu...
Sabar ne, next chap bersiap-siaplah melihat masa lalu ChanBaek sama KaiSoo
Kenapa mereka terjebak di dunia cinta yang penuh kebutaan dan akhirnya malah kebablasan?
Trus gimana emang mereka menjalani cinta di masa lalu itu? Agresif banget kah sampe jadi kyk gini? Hohoho...
Okeh, sebentar lagi kalian akan temukan jawabannya :D
Tenang kok, itu cuma sedikit flashback... cerita masih tentang dua malaikat kecil unyu2 kita aka Chanhyun dan Jongsoo :3
Untuk yang masih bertanya-tanya dimana Jongin?
Akan terjawab seiring berjalannya cerita. sebentar lagi kok chingu. Lihat aja :D Jongin akan segera kembali dan nagih anaknya si JongJong itu wkwk...
Jongin akan segera kembali dari Kanada. Huehehe...
Apa yang akan dia lakukan setelah tahu Kyungsoo udah nikah?
Cari tahu sendiri :D
Oke, yang masih tetep mau dilanjut. tetap WAJIB REVIEW ne... paling tidak tinggalkan jejak apapun itu bentuknya :D Reyn sangat menerima segala masukan kalian :))
Sekian, gamsahamnida, gomawooo...
PLEASE REVIEW
Big Thanks and All My Love for:
.
.
.
[salsabilajum] [Guest] [ChanBaek] [RLR14] [Park Oh InFa FaRo] [BLUEFIRE0805] [KaiSoo Fujoshi SNH] [parkchanbyunbaek] [CHanBaek] [nur991fah] [Shallow Lin] [12345] [kaifighter] [Kim Leera] [Jung Eunhee] [Mey Hanazaki] [whyckh2103] [Byun Ryeokyu] [younlaycious88] [LK] [ryu] [HChY] [sayhund] [indaaaaaahhh] [Gmaolrockie] [sehunpou] [Nyonya Nam] [yulisaim] [Nisa0517] [HappyBaek99] [Chan 1916] [ImaCnn] [baekggu] [lidyaNatalia] [kaisoooo] [Yeollbaek] [Nagisa Otakuriri] [Devie LunarkesisPyrokines] [Devi Chaniago9] [fera950224] [TrinCloudSparkyu] [Gigi onta] [Majey Jannah 97] [piyopoyo] [starbucks91] [cindy] [rifdafairuzs] [fuawaliyaah] [mhoyha] [niyoung] [parklili] [yixingcom] [NS Yoonji] [dorekyungsoo93] [ryu] [wanny] [chanbaek shipper] [icha. likepachulsaklawasenoother] [sayakanoicinoe] [Keybum] [chanhyun] [NameBaekkieKyu] [dwiihae] [soogar] [Dj 100] [miao] [byun] [zoldyk] [sarangsil] [PandaPandaTaoris] [exindira]
Semoga tidak ada yang kelupaan ^^ bisa protes kalau belum ditulis... hehe...
Reyn menerima semua masukkan kalian :D REVIEW ne
.
.
.
REVIEW
