.

Your Child

.

.

.

Disclaimer: This fanfic is mine and EXO's belong to The God

.

Genre: Family, Romence, and Drama

.

Warning: GS, OOC, typos, etc.

.

Rated: T

.

Pair: Chanbaek, Kaisoo, Chansoo

.

.

.

Chanhyun selalu iri pada hidup Jongsoo 'teman sekelasnya' yang begitu sempurna

.

.

"Distance"

.

.

Siang itu suasana Elementary School tempat Jongsoo belajar sudah sedikit sepi. Chanyeol nampak berlarian keluar dari mobil jaguarnya. Tampak sekali bahwa laki-laki dewasa berparas tampan itu sudah penuh oleh keringat yang membanjiri wajahnya. Raut kekecewaan juga terlihat dibalik wajah itu.

Dari jauh nampak seorang laki-laki kecil tengah merengut di belakang bangku sekolah sambil memegang mainan robotnya yang super canggih. Chanyeol mendekatinya dan segera memeluknya erat seolah begitu menyayanginya.

"Mianhae chagiya... Appa sedang ada meeting penting tadi," desis Chanyeol penuh penyesalan.

Jongsoo masih tetap memberengut. "Issh... Menyebalkan! Appa jahat! Appa melupakanku!"

"Bukan begitu chagiya... Appa... Ah, kau tidak mengerti," Chanyeol nampak terbata-bata dalam menjelaskannya. "Meeting ini sangat penting."

"Dan lebih penting dari aku?!" jawab Jongsoo ketus.

"Tidak. Bagi appa kau adalah yang terpenting di dunia!"

Jongsoo menatap ayahnya itu sengit. "Bohong!" marahnya sambil mendorong lengan Chanyeol menjauh.

Chanyeol menghembuskan nafas pelan. "Jongie, maafkan appa. Appa berjanji tak akan lupa jam pulangmu lagi."

"Tidak! Akan aku laporkan pada eomma!"

"Jongie!" Chanyeol meraih buah hatinya itu dan menggendongnya dengan penuh sayang. "Jangan marah, chagiya. Maafkan appa. Apa yang harus kulakukan agar kau tidak marah?"

Jongsoo masih memasang wajah pura-pura marah.

"Bagaimana kalau es krim?"

Jongsoo menggeleng. Tetap bungkam.

"Ah... bagaimana dengan ramyeon hangat di sebuah kedai?"

Anehnya wajah Jongsoo langsung berbinar ceria. "Benarkah appa?"

Chanyeol mengangguk dengan senyuman lebar di wajahnya yang tampan. "Bagaimana? Jongie mau?"

"Ne, mau sekali appa!"

Chanyeol menyentil dahi Jongsoo dengan sayang. "Nah, begitu! Anak hebat appa tidak boleh marah. Kajja kita beli rayeon hangat!"

.

.

.

Chanhyun meletakkan tasnya di kamar Sehan dan segera berlarian ke depan. Suasana kedai mie milik sahabat sang eomma sedang ramai. Tampak antrian pembeli yang cukup panjang di meja pesanan. Sehun—yang sudah dianggap pamannya sendiri itu tengah sibuk mencatat pesanan.

Chanhyun menghampiri bilik dapur dan mendapati Luhan tengah memasak beberapa ramyeon dan bulgogi sayur. "Ahjumma, aku ingin membantu."

Luhan tersenyum manis sambil memotong beberapa sayuran. "Terima kasih Chanhyun-ah. Bisakah kau membantu mengantar dua mangkuk jajangmyeon ini ke meja nomor lima."

Chanhyun mengangguk dan tersenyum. "Baik, ahjumma."

Dengan pelan Chanhyun mengangkat nampan besi berisi dua mangkuk jajangmyeon panas itu menuju salah satu meja pengunjung.

"Silahkan Tuan," ucapnya sambil menurunkan mangkuk-mangkuk di dalam napan sembari tersenyum lebar menampilkan deret gigi putihnya.

Pengunjung wanita itu tersenyum lebar ke arah Chanhyun. "Terima kasih adik kecil."

Chanhyun mengangguk.

"Kau kelas berapa hm?"

"Aku kelas satu SD," Chanhyun menjawab dengan senyuman polosnya.

"Wah, sekecil itu sudah membantu orang tua. Rajin sekali," gumam si wanita salut.

Chanhyun hanya mengulum senyuman tipis. Kemudian berbalik menuju dapur menghampiri sang bibi kesayangannya.

"Sudah?" tanya Luhan tersenyum.

Chanhyun mengangguk riang.

"Baiklah, kalau begitu masih ada beberapa mangkuk."

"Siap ahjumma."

.

.

.

Mobil jaguar mewah itu berhenti di tepi jalanan. Tepat di seberang sana sebuah kedai mini klasik tradisional Korea tampak berdiri dengan tegak. Chanyeol beranjak turun untuk membukakan pintu anaknya.

"Appa, mengapa kita makan disini?" tanya Jongsoo sambil memandang tak suka pada kedai mini yang ada di hadapannya.

Chanyeol menatap anaknya. "Wae? Kata Jongdae ahjusshi itu adalah kedai Mie paling enak yang pernah dicicipinya."

"Selera ahjusshi kotak itu kan sangat payah!" desis Jongsoo kesal. Namun akhirnya ia melangkah turun sambil membanting keras pintu mobil.

Chanyeol tersenyum melihat anaknya yang menyerah. Dengan riang digandengnya aegya berkulit hitam sexy itu. "Kajja Jongie!"

Mereka memasuki kedai itu dan memesan dua mangkuk jajangmyun serta es almond nokcha dan satu kotak susu vanilla untuk Jongsoo. Setelah memesan pesanan, Chanyeol menarik Jongsoo menuju salah satu meja kosong disudut ruangan sederhana tersebut.

"Issh... kedai ini tak ada AC-nya!" geram Jongsoo kesal. Tangannya bergerak mengebutkan kaosnya karena panas.

Chanyeol mengelus rambut kecoklatan anaknya. "Kau tidak suka makan disini eum?"

"Appa sudah tahu tapi tetap memaksaku."

"Kau marah? Nanti Appa akan belikan es krim. Bagaimana?"

Jongsoo nampak menimang-nimang. Akhirnya ia mengangguk. Chanyeol tersenyum pada anaknya.

"Appa aku ingin ke kamar mandi."

"Kau ingin pipis eoh?"

Jongsoo mengangguk dengan wajah polos. Melihat anaknya yang nampak ingin melepaskan hasrat buang air kecilnya dengan segera, Chanyeol bangkit untuk menanyakan pada si pemilik kedai dimana letak kamar mandinya. Tanpa sepengetahuan Chanyeol, Jongsoo mengikutinya dari belakang sambil terus menggigit bibir.

Bocah itu terus menunduk sembari menggigit bibirnya. Sepertinya ia sangat ingin buang air kecil. Tampak dari raut wajahnya yang gelisah. Ia terlalu sibuk menahan, sampai tak sadar bahwa seorang bocah kecil seusianya tengah kesusahan mebawa nampan penuh berisi beberapa mangkuk ramyeon panas. Bocah itu melangkah ke arah Jongsoo yang masih menunduk.

Dan detik selanjutnya hanya suara pecahan kaca dan jerit kesakitan yang terdengar.

CRAANG...

Mangkuk itu berjatuhan ke lantai dan seluruh kuahnya berceceran menjatuhi tubuh Jongsoo yang meringis tertahan di lantai. Tak lama tangisnya mulai pecah. Bocah yang membawa nampan itu nampak ketakutan tak tahu apa yang harus dilakukan.

"Panaaas! Hikss... Appa... hiks... hiks... Appa..." teriak Jongsoo menangis.

"Jongsoo-ya!" Chanyeol yang melihat kejadian itu dari jauh segera berlarian ke arah Jongsoo-nya yang menangis amat kencang.

"Appa hiks... sakiiit... hikss..."

Chanyeol berteriak meminta tolong. Untung saja pemilik kedai itu, Sehun, segera datang membantu. Pandangan Chanyeol beralih pada seorang bocah kecil yang menatap kejadian tersebut sambil menunduk dengan wajah bergetar. Chanyeol menatap bocah itu beringas.

PLAK...

Satu tamparan jatuh melayang pada si bocah. Matanya kini memerah menahan rasa sakit yang mendera di pipi putihnya. Bibirnya bergetar menahan isakkkan.

"Dasar bocah sialan! Kau bodoh atau ap—"

DEG.

Perkataan Chanyeol terhenti tatkala bocah itu mendongak menampilkan raut wajahnya yang memerah oleh tangis. Wajah itu. Chanyeol tak mengerti kenapa jantungnya kini berdegup amat kencang. Wajah itu mengingatkannya tentang dirinya semasa kecil dulu. Juga... wajah itu seperti mengingatkannya dengan seseorang. Seseorang yang amat sangat dirindukannya.

"Kau—" Chanyeol mencengkeram tangannya sendiri. Suara makiannya terhenti di tenggorakan. Seakan apa yang akan diucapkannya tersihir oleh seraut tampan bocah di depanya. Ini sangat aneh. Chanyeol tak mengerti kenapa. Tapi melihat wajah itu seluruh emosinya hilang meski nafasnya masih tak beraturan.

"Appa, dia yang bernama Chanhyun! Dia yang merusak Kkamjong!" teriak Jongsoo yang kini telah kembali ke sisi sang appa. Matanya melayang tajam berusaha menyihir sang ayah mempercayai perkataannya.

Chanyeol tersadar, dengan perlahan diabaikannya seluruh perasaannya dan memilih mengutamakan egonya. Kini ia kembali menatap tajam si bocah yang terus menangis. Chanyeol tak mempedulikannya. Baginya siapapun yang menyakiti Jongsoo-nya harus mendapat hukuman yang setimpal.

"Oh jadi kau Chanhyun itu eoh?! Berani-beraninya kau mengganggu Jongsoo! Dan lihat yang kau perbuat eoh! Kau menyakitinya dengan kuah panas! Bodoh!Apa kau tidak punya mata!" maki Chanyeol ketus berulang-ulang.

"Mianhaeyo..." jawab Chanhyun sesenggukan. "A—aku tidak melihat Jongsoo... hiks..."

"Bohong! Jelas-jelas aku di depanmu!" tambah Jongsoo membela diri.

Chanyeol menatap bengis bocah bernama Chanhyun itu. "Kau selalu mengganggu Jongsoo! Kau harus diberi pelajaran!" tangannya bergerak menjewer telinga Chanhyun dan menyeretnya keluar dari area kedai.

"Tidak... hiks... ahjusshi... hiks... aku tidak sengaja... hiks..."

"Rasakan!" desis Jongsoo sambil tertawa bangga.

"Tidak, hentikan!" Sehun nampak berlarian mengejar Chanyeol yang terus menjewer telinga Chanhyun.

Luhan juga panik. Dengan langkah cepat dia mengejar suaminya menuju halaman kedai. Chanhyun terus menangis. Sehun dan Luhan berusaha melepaskan Chanhyun dari tangan salah seorang pembelinya.

"Tuan, aku mohon maafkan dia, ne. Dia pasti tidak sengaja." Luhan membela Chanhyun. "Aku mohon jangan sakiti Chanhyun. Aku mohon."

"Jebalyoo... Dia tidak mungkin melakukannya." tambah Sehun.

Chanyeol terdiam. Matanya tertuju pada bocah yang menunduk di bawahnya. Tubuh bocah itu tampak bergetar. Bocah itu menangis. Chanyeol tahu karena ia mendengar suara isakan yang teredam dari balik tubuh si bocah.

Chanyeol menghembuskan nafas panjang. Harusnya ia tak emosian seperti ini. Ah, kenapa ia sangat sensitif dengan hal-hal yang berkaitan dengan Jongsoo. Mungkin karena ia terlalu menyayangi anaknya. Dengan perlahan Chanyeol melepaskan cengkramannya.

"Lain kali pakai matamu dengan benar!" ketus Chanyeol dan segera meninggalkan Chanhyun. Ia berbalik dan kembali dengan Jongsoo yang kini tersenyum penuh kemenangan.

Jangan main-main denganku. Kau akan tahu akibatnya.

"Aku juga minta maaf kalau begitu. Aku tak bermaksud membuat kekacauan. Permisi." Chanyeol segera menyeret Jongsoo keluar dari kedai. Ia menoleh lagi. "Dan maaf kami tak jadi memesan. Selamat tinggal."

Sehun menatap salah seorang pembelinya itu dengan kesal. Sementara Luhan memilih mengabaikan pembeli kurang ajarnya itu dan malah menghambur ke pelukan Chanhyun.

Chanhyun masih terus terisak. "Ahjumma... hiks... maafkan aku..."

"Aniya..." Luhan menangkup pipi tembam Chanhyun dan tersenyum. Tangannya bergerak untuk menghapus pias air mata yang tercetak di pipi seputih susu itu. "Ahjumma yang harusnya minta maaf. Lain kali Chanhyun tak perlu membantu ahjumma."

Chanhyun menggeleng. "Tidak. Aku ingin membantu. Aku ingin bekerja," katanya masih sesenggukan. "Aku mohon ahjumma. Hiks... aku mencari uang."

"Kau ini... anak kecil mata duitan," kekeh Sehun sembari mengangkat Chanhyun ke dalam gendongannya. "Jangan memaksakan diri eoh!"

"Tapi... aku ingin mengumpulkan uang, ahjusshi."

Luhan tersenyum kecil. Dielusnya punggung Chanhyun penuh sayang. Baekhyun sangat beruntung memiliki seorang putra yang hebat seperti Chanhyun. Meski beban yang ditanggung yeoja mungil dan muda itu sangatlah berat, tapi pasti ia sangat bangga karena memiliki Chanhyun.

Senyum di wajah Luhan surut tiba-tiba menyadari takdir yang amat kejam pada anak kecil itu. Di umurnya yang masih menginjak 6 tahun, ia harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya tak pernah datang. Mengingatnya membuat Luhan amat sangat sedih dan selalu bersyukur karena Tuhan begitu baik mengiriminya malaikat pelindung. Yaitu Oh Sehun. Beserta malaikat kecilnya yang amat disayanginya. Oh Sehan.

Malaikat kecilnya tiba-tiba saja sudah berdiri di ambang pintu. Dengan raut wajah datar namun sangat manis seperti biasa. "Ada apa dengan Chan-hyung?"

Sehun tersenyum. "Tidak apa-apa. Ayo kau ajak hyung-mu ini pergi main robot-robotan," katanya sembari menurunkan Chanhyun dari gendongannya.

Sehan mengangguk. "Ayo hyung ke kamarku. Maaf ya, aku baru bangun."

Chanhyun menghapus air matanya dan memaksakan seulas senyum lebar. "Tak apa. Kajja!"

Sehun dan Luhan tersenyum melihat betapa akrabnya buah hati mereka dengan Chanhyun.

"Siapa ayah Chanhyun sebenarnya? Tega sekali meninggalkan bocah sebaik itu! Jika aku tahu aku pasti menghajarnya!" geram Luhan tanpa sadar.

"Entahlah... noona tak pernah menceritakannya padaku."

"Kuharap orang itu menyesal selamanya!"

.

.

.

Kyungsoo segera melempar majalahnya begitu mendapati suara anaknya yang menjerit kesakitan. Dengan langkah cepat ia berlari di atas high-heels lima centi-nya yang mengetuk-ngetuk lantai tak menentu.

"Jongsoo-ya!" pekiknya histeris ketika Jongsoo menyerbu ke pelukannya. "Waeyo? Apa kau sakit? Apa kau demam?"

Jongsoo menggeleng. Sebagai jawaban ia menggulung kaos dan celananya ke atas. Sehingga tampak kulit-kulitnya yang memerah dan melepuh.

"Eomma ini sangat sakiiit... hiks..."

"Astaga! Kenapa bisa begini!" Kyungsoo berjongkok dan meniup-niup luka anaknya. "Chanyeollie ada apa?! Kenapa Jongsoo bisa seperti ini?"

Chanyeol menggeram dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Semua gara-gara bocah miskin itu!"

Kyungsoo mendongak. "Nuguya?"

"Bocah yang waktu itu mendorong Jongie! Ini semua gara-gara dia menumpahkan kuah panas di tubuh Jongie!"

Seketika mata Kyungsoo melebar. Mata bulat itu sarat akan amarah. "Issh... lebih baik keluarkan saja dia dari sekolah! Mengganggu saja!"

Chanyeol sedikit terhenyak. "K—kurasa itu berlebihan," gumamnya tanpa sadar.

"Tidak! Anak miskin itu sudah menyakiti Jongie! Cepat panggil Jongdae!"

"Hey, Kyung, tidak perlu!" Chanyeol berusaha menahan pergerakan tangan Kyungsoo.

"Tapi—"

"Ssstt... Jangan berlebihan." Chanyeol berusaha menenangkan Kyungsoo dengan mengelus punggung kecilnya. "Percayalah, Jongie sudah cukup besar."

Kyungsoo mendesis. Tapi akhirnya mengangguk.

Chanyeol terdiam. Aneh. Ia tak tahu apa yang dilakukannnya barusan. Apa dia berusaha membela bocah miskin itu? Ah, tidak mungkin. Chanyeol hanya merasa kasihan pada bocah itu. Itu saja.

"Baiklah. Aku harus segera kembali ke kantor. Baik-baiklah di rumah kalian berdua."

.

.

.

Chanhyun melangkah ke dalam rumah dengan sedikit tersedu. Air matanya langsung tumpah begitu melihat sang eomma sudah duduk dengan tenang di depan ruang televisi mini mereka. Baekhyun berjengit kaget melihat Chanhyun yang pulang dengan tersedu diantar oleh Sehun.

"Waeyo Chanhyun-ah?" tanyanya khawatir.

Chanhyun tak menjawab karena bocah itu masih terus menangis. sebaliknya Baekhyun segera mengirimkan tatapan bertanyanya pada Sehun, yang langsung dijawab oleh namja albino itu.

"Tadi Chanhyun tak sengaja menumpahkan kuah ramyeon panas pada salah seorang bocah pembeli. Dan ayah bocah itu marah-marah padanya," tutur Sehun lirih.

Baekhyun nampak sedih mendengarnya. Buru-buru ia memeluk anaknya agar isakannya tak mengeras. Dengan sabar diusapnya lembut punggung anaknya yang masih bergetar.

"Tidak apa-apa, chagi."

"Eomma... ahjusshi... maafkan aku... hiks..." ucap Chanhyun disela tangisnya. Mata bocah itu memerah sarat akan kesedihan dan penyesalan.

"Untuk apa?" tanya Sehun bingung.

Chanhyun mendongak ke arah Sehun. "Ahjusshi, kau pasti kecewa karena aku begitu ceroboh. Hiks... maafkan aku. Aku berjanji tak akan melakukan kesalahan lagi."

Sehun tersenyum manis pada si bocah dan menepuk-nepuk lembut bahunya yang kecil. "Gwaenchana, ahjusshi sudah memaafkanmu. Besok sepulang sekolah kau masih harus datang ke kedai dan membantu ahjumma."

Mata bundar milik Chanhyun bersinar. Dengan cepat dipeluknya namja berkulit susu yang sudah dianggap pamannya sendiri itu. Melihatnya Baekhyun ikut tersenyum. "Terima kasih, Sehun," lirihnya.

Dan Sehun mengangguk sambil mengencangkan pelukannya pada Chanhyun.

"Eomma, aku bisa kembali menabung untuk membeli robot baru," teriak Chanhyun ceria.

Baekhyun terkekeh. "Geurom. Tapi lain kali harus berhati-hati ya. Jangan sampai ahjusshi kecewa padamu lagi."

Chanhyun mengangguk riang.

.

.

.

Keesokan harinya Chanhyun berangkat lebih awal. Hari ini ia berangkat bersama Sehan yang kebetulan tengah diantar ayahnya menggunakan mobil pengantar pesanan. Chanhyun paling senang menaiki mobil besar itu karena di dalam sana selalu terasa bau-bau lezat ramyeon dan jajangmyeon yang merupakan pesanan beberapa pembeli untuk suatu acara seperti senam pagi dan beberapa acara lain yang memerlukan sajian. Pesanan itu diletakkan di box belakang dan selalu masih hangat dan menggoyang lidah membuat siapa saja ingin segera menyantapnya.

Jalanan lumayan macet saat Chanhyun dan Sehan sibuk bernyanyi di jok depan. Rupanya kedua bocah itu juga mewarisi suara emas ibu mereka. Meski begitu, terkadang suara mereka sehari-hari lebih terdengar khas mirip sang ayah.

Baekhyun sering menggumamkan betapa Chanhyun mewarisi sifat ayahnya yang ceria dan ramah. Tapi begitu Chanhyun bertanya, Baekhyun akan tertawa dan berusaha sekeras mungkin mengalihkan pembicaraan membuat Chanhyun merengut sedih.

Chanhyun masih sibuk bernyanyi ketika sekolah mungil namun indah terlihat dari ujung pandangan. Itu sekolah milik Sehan—yang begitu Chanhyun inginkan.

"Appa, aku sekolah dulu ya," Sehan mencium tangan kanan ayahnya.

"Ne, belajar yang baik chagi," jawab Sehun sambil tersenyum.

Sehan mengangguk. "Hyung, aku pergi ya. Jangan lupa setelah ini kita bermain robot bersama. Sampai jumpa."

Chanhyun tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Namun senyumnya luntur ketika Sehan sudah tak terlihat di pandangan mereka. Chanhyun sangat sedih. Artinya, setelah ini Chanhyun pasti sendiri. Itulah yang membuatnya sedih. Ia memang tak menyukai sekolahnya sejak awal. Disana seperti sebuah neraka.

"Chan, sekarang kau juga ke sekolah," Sehun segera menjalankan mobil tanpa menyadari raut sedih Chanhyun.

Tak lama kemudian, sekitar lima belas menit, mobil pengantar pesanan itu sampai di sekolah megah yang nampak menjulang tinggi dari balik gerbang mengkilatnya.

"Whoa... sekolahmu selalu terlihat bagus," begitulah komentar Sehun tiap kali mengantar Chanhyun.

Chanhyun hanya memaksakan senyum. Kemudian berpamitan pada Sehun. Keduanya saling melambaikan tangan perpisahan. Lalu setelah mobil itu pergi, Chanhyun kembali menunduk dan segera melangkah gontai menuju kelasnya. Sungguh, ia tak siap berhadapan dengan Jongsoo. Bocah berkulit tan itu pasti dendam padanya.

Benar saja. Jongsoo sudah berdiri menghadang di depan kelas dengan kedua alis menakutkan bertaut tajam. Bibirnya mengerucut seperti orang yang menghendaki tuntutan. Chanhyun melangkah pelan berusaha mengabaikannya. Sayangnya ia tak memperhatikan jalan dan malah terjerembab jatuh.

DUAGH...

Chanhyun meringis menahan lututnya yang terasa perih sementara Jongsoo tertawa lebar melihatnya.

"Seharusnya kau memakai matamu dengan benar, pabbo!" katanya dengan nada tajam.

Chanhyun menatap Jongsoo masih sambil terduduk di lorong kelas yang terasa dingin seperti es. "Wae? Bukankah aku sudah minta maaf padamu Jongsoo-ya?"

"Mwo? Minta maaf? Kau pikir aku memaafkanmu, eoh?!" Jongsoo mendecih.

"Kalau begitu aku akan minta maaf lagi." Chanhyun menenangkan suaranya.

"Tapi aku tidak akan pernah memaafkanmu! Dasar anak miskin! Tidak punya ayah! Cepat enyah saja dari sekolah ini!"

Entah mengapa mendengar hinaan Jongsoo yang terakhir membuat seluruh dada bocah itu sesak. Chanhyun memang miskin. Tapi ia punya ayah. Hatinya selalu berkata ia punya ayah. Hanya saja waktu selalu jahat tak pernah mempertemukan mereka. Tanpa sadar bulir-bulir air mata mengalir dari sudut mata hazel itu.

Jongsoo tertawa lebar merasa telah menang. "Tidak punya ayah... Tidak punya ayah... Hahahaha..."

"Hentikan! Jongsoo hentikan!" teriak Mindae marah besar. Sosok berwajah kotak itu berlarian mendekat dan segera mengulurkan tangan untuk membantu Chanhyun berdiri..

"Apa yang kau lakukan Jongsoo?!" Mindae berteriak lagi. Nadanya benar-benar marah. Jongsoo melirik Mindae tak suka.

"Wae?! Mengapa kau membela anak miskin yang tak punya ayah itu?!"

"Jangan berkata seperti itu!" Mindae menyahut cepat.

Jongsoo menatap Mindae tajam. "Oh, sekarang kau memang berada di pihaknya? Huh, dasar pengkhianat! Kau memang suka berteman dengan virus-virus kumuh eoh? Menjijikkan!" dan setelah itu Jongsoo berlalu pergi untuk mencari Taeho.

"Gwaenchana, Chanhyun-ah?" tanya Mindae cemas.

Chanhyun berusaha menghapus air matanya. Bocah itu memaksakan seulas senyum pada Mindae. "Ne, Dae-ya, terima kasih."

Mindae mengangguk dan tersenyum tulus membalas senyuman teman barunya. Tak pernah tahu bahwa dibalik senyuman temannya itu tersimpan sebuah rasa sakit yang luar biasa besar.

.

.

.

"Taeho-ya!" teriakan kasar Jongsoo terdengar memenuhi kelas membuat beberapa murid melirik sekilas ke arahnya lalu kembali menekuri aktifitas masing-masing. Mereka sudah cukup biasa dengan sifat Jongsoo yang seperti itu.

Bocah berwajah putih nampak melangkah mendekati Jongsoo. "Wae Jongsoo-ya? Mengapa berteriak-teriak begitu eoh?"

Jongsoo mendelik ke arah luar kelas, membuat Taeho mengikuti arah pandang Jongsoo. Di luar sana nampak Mindae dan Chanhyun sedang bersama.

"Kau tahu? Mindae sekarang berpihak pada si miskin itu! Dasar pengkhianat!" desis Jongsoo marah. "Ini semua gara-gara anak miskin itu Mindae jadi berubah! Kita harus memberi bocah itu pelajaran!"

"Memang bagaimana caranya?"

Jongsoo mengeluarkan seulas senyum jahat. Kemudian berbisik pada Taeho.

.

.

.

Kanada, Amerika Utara.

Seorang namja berkulit tan tengah memandang kosong jendela yang menyajikan pemandangan elok Kanada di hadapannya. Jas hitam inteleknya sudah nampak kusut akibat kerja lembur yang sering kali ia lakukan. Dengan hembusan pelan ia meraih sebuah bingkai di ujung meja telphone. Seulas senyum lelah muncul di wajahnya tatkala memandang yeoja bermata bulat yang tengah merangkulnya di dalam foto.

"Sudah tujuh tahun berlalu Kyung," ratapnya sedih. "Maafkan aku yang tak bisa menepati janjiku untuk kembali secepatnya."

Mata sang namja menerawang ke depan mengingat foto itu tak mungkin membalas ucapannya. Tanpa sadar setetes air mata meluncur jatuh bersama sebuah penyesalan. Jongin melempar bingkai foto itu hingga retak. Matanya sarat akan emosi yang teramat membara.

Semua sudah hancur. Tak ada yang bisa diperbaiki lagi. Mungkin saja Kyungsoo sudah melupakannya. Atau bisa jadi Kyungsoo telah membunuh anaknya juga. Jongin merasa amat teriris ketika memikirkan itu semua. Oh, atau Kyungsoo sudah membencinya? Tidak. Itu tidak boleh terjadi!

Jongin bangkit menuju sebuah ruangan di depan dan mendobraknya kasar. Seorang lelaki paruh baya tengah duduk membelakanginya saat itu. Lelaki itu ayahnya, tapi mengapa ketika melihatnya ada sebuah dendam yang tak bisa dijelaskan?

Jongin menatapnya bengis. "Ini sudah lebih lima tahun dari perjanjian kita! Apa kau puas terus-terusan menahanku eoh?!"

Asap rokok tampak mengepul dari balik kursi itu. Namun tak ada sahutan yang terdengar.

"Aku sudah menjadi anak yang kau inginkan, bukan? Sekarang biarkan aku kembali ke Seoul! Tugasku disini sudah selesai! Sekarang kau bisa kembali menguasai perusahaan jahanammu itu lagi!"

Lelaki tua di depannya itu tak bergeming. Puntungan rokok yang masih menyala di mulutnya dihempaskannya dengan kasar ke dalam asbak. Jongin nyaris tersentak ketika lelaki itu berjalan mendekat dengan tatapan bengis.

"Lakukan saja sesukamu bila kau bahagia!" kata lelaki itu dingin. "Selama ini kau memang tidak suka berada di sampingku bukan?"

Jongin terdiam dengan mata menyalang marah. Ayahnya berjalan melewatinya setelah itu. Kemudian terdengar suara bantingan yang amat keras.

Jongin terdiam. Matanya berubah sendu. Air matanya merembes.

Tidak. Bukan begitu. Hanya saja aku merasa tanggung jawabku tertinggal disana. Tanggung jawab seperti untukmu kepadaku. Untuk seorang ayah pada anaknya.

.

.

.

To Be Continued...

.

.

.


Chap depan CHANBAEK DAN KAISOO bertemu lhooo #yeay. (eh tapi nggak janji sih? hehehe)

Dan maaf bgt ya di chap ini belum ada Kaisoo and Chanbaek moment. tapi mulai chap depan mereka akan tampil :D jangan lewatkan wkwk... (yang ini juga nggak janji sebenarnya) *author labil #timpuk rame2 huahahaha...Reyn takutnya entar janji2 gtu padal nggak jadi -_-hoams heheh...rencananya emang mau update kamis, tapi berhubung pulang sorean, akhirnya ketunda sampe hari ini wkwkw *bow.

.

Bagaimana kabar semuanya? Sudah ikhlas tentang Kris?

Akh :( sempet sedih Kris gak muncul di konser dan gambarnya dipotong. Hufhh.. tapi Reyn gak bisa apa-apa. Reyn hanya bisa membiarkan semuany mengalir seperti air. Apapun itu, EXO always WE ARE ONE.

Oh ya, kemarin Reyn bilang chap depan ada flashback kan? Tapi mian chinguu, buat yang pengen tahu kisah flashback-nya, Reyn gajadi masukin di sini. kemarin banyak reader yang nggak terlalu setuju dengan adanya flashback. Dan menurut reyn bener juga, soalnya mungkin bisa jadi malah bikin bingung terus malah kelamaan realnya. Mungkin besok di akhir-akhir chapter :D atau ada yang mau dibikin Side Story ajaa? Rencananya emg mau dibikin side story sih buat kisah masa lalunya, hehe. Tapi itu klo jadi ya.. soalnya belom dibikin juga wkwk. Reyn lagi sibuk mau UKK nih. Maklum kelas sebelas hehehe. Tahun depan unas juga. Doakan Reyn ya ^^):/

Reyn sekarang punya instagram baru chinguuu :D padahal sebelum ini gaada niatan bikin sama sekali lho. Soalnya Reyn gak terlalu tertarik buat edit-mengedit foto. Tapi begitu dengar EXO punya akun IG, semangat langsung membara dan akhirnya bikin wkwk...

Follow Reyn ya kalau mau hehe.


IG: reyna_retna atau Reyna Bee

Ada yang mau difollow? Boleh. sertakan nama akun id instagramnya di review nanti. Jangan lupa nanti follback Reyn yap ^^):/ hehehe

Sekali lagi boleh sertakan IG kalian yaa, yang mau di follow sama Reyn wkwk. Di bawah review sertakan IG-nya ya. Okeee-okeee? Hehehe...


Ohya lagi, huahahaha *kebanyakan ohya -_- #timpuk rame2

Reyn minta maaf chingu, kemarin Reyn baru sempet bales sebagian review dari kalian. Mungkin ada yang belum di PM? Hehe. Jangan timpuk Reyn hehe.

Reyn minta maaf banget chingu *bow. Ada review2 kalian yang belum sempat dibales. Dan ini Reyn bawakan balesannya. Mungkin gak semuanya. Tapi bagian2 yang butuh penjelasan hehehe... Silakan dinikmatin balesannya wkwk.. Oh, byk bgt ternyata yang sebel sama Chansoo plus Jongsooo. Yang sabar ya, reyn juga kok wkwkw...


Q & A

.

.

.

Q: kapan chanyeol bakalan tau itu canhyun anak dia?

A: Itu masih rahasia wkwk... ditunggu saja okeeehh...

Q: :( gak tau knpa ampe nangis bacanya ini ff.

A: butuh tisu? :D kebetulan di depan rumah Reyn ada. muehehe

Q: Sebel sama jongsoo sombong bnget

A: Jongsoo sebenernya baik kok chinguuu :)

Q: Kasian banget jadi Chanhyun.

A: Ayo kirimkan bala bantuan rame2 :D

Q: yang jelas neh ff selalu gua tunggu tunggu updetannya soalna neh ff selalu bikin pensaran :D

A: ini sudah update ^^ terima kasih sudah berpenasaran ria hahaha...

Q: Aku selalu tak tega kalo anak yg tak di anggap oleh bpk.y sendiri, itu menyakitkan

A: Reyn juga... kasian mereka. Apalagi klo sampe dihina-hina gtu :( *lirik sinetron2 indonesia

Q: Chanyeol nih ntar bkal nyesal mampos kayak nya .

A: lihat saja ntar *ketawa evil xD

Q: eh prasaan tadi ktemu (sayang belum kenalan) dg kata-kata 'panda hitam' emangnya ada panda yang hitam? Prasaan pandatu berwarna putih hitam deh.

A: Ada xD. Tapi di exo doang. Dan itu Panda Tao Sexy

Q: Kasian chanhyunnya:( baekhyunnya kaya ajah biar chanhyunnya gak menderita menderita banget

A: Baek disini anak orang kaya chingu. Tapi diusir sama ortunya pas mau kuliah ke Jepang gegara ketahuan hamil :( skrg harus kerja keras.

Q: jongdae ceritanya tadi nganterin chanhyun pulang, tpi kok gk ketemu sama baekhyun? apa masih kerja?

A: ahhh, Reyn minta maaf. Belum dijelasin yah? Hehehe... jadi ceritanya jongdae nganternya ke kedai Hunhan chingu. Maaf klo bikin bingung.

Q: waktu itu kai bilangnya 2th kan ke kanadanya?

A: tuh ada penjelasannya *tunjuk2 atas.

Q: saya suka Dae disiniii anaknya baik bgt walaupun ternistakan selalu ada kata 'kotak' hahaha tapi saya rasanya gemes sama anak kayak dia baik sama friendly bgt huhu :D

A: Reyn juga sukaaa :D wkwk... karena Jongdae yg membawa gen kotak chingu huahahahah *ketawapuas

Q: Kapan sih chanyeol sadarnya thor? Jahat banget sm chanhyun.

A: Ayo ambil kapak biar chan cepet sadar. Hahahah

Q: flashback nnti menurutku gaush terlalu panjang nde, singkat aja yg penting intinya jelas, lebih fokus saat keadaan yg skrng saja

A: terima kasih masukannya chingu. Nanti sepertinya Reyn gajadi masukin flashback disini. Mungkin akan dibikin side story kali yah. Hehehe..

Q: Chanbaek ama kaisoonya tetep ditunggu yak

A: Yakkk... mereka pasti ada. PASTI. OTP fav Reyn nih.

Q: cie cie akhirnya Yixing muncul jadi guru ah gw gemes bgt sm Yixing kyaaa

A: Yup :) dia kan berhati malaikat sm kyk suaminya yg kemarin ultah cieeh... trus update ig foto brg sweeet bgt *lirik2 suho. Sabar aja buat suho :( yg ditinggal line leadernya.

Q: aduh kak munculin Xiumin juga yah

A: Ada kok nanti *wink. Tunggu tanggal mainnya.

Q: TaeHo? Anaknya 2Min kah kak?

A: Selamat! Sebuah ciuman akan dikirim ke rumah anda :* muach.. #ditabok

Q: aku mau bunuh jongsooo dan chanyeol!

A: Boleh. Boleh. Reyn sedia golok kok *muka nurut.

Q: aku sih lebih baik baekhyun ketemu jongdae dulu

A: ditunggu saja okay?

Q: si jongsoo itu mulutnya, gak nyangka anak 7 taun ngomongny sesadis itu.

A: mungkin diajarin Chan atau Kyung #digebrek massa

Q: Semoga Channie diampuni Tuhan karena dah jahat sama daeah dagingna sendiri..

A: Amieenn... ^^

Q: Apa Baekhyun udah di lupain sama Chanyeol? Kok tega banget?

A: Tunggu next chap, okay?

Q: Chanyeol kyak suami-suami takut istri wkwkwkw...

A: Bukan suami takut istri. Tapi takut Horror Kyungsoo *ask in a box wakss...wkwkw #ditimpuk

Q: Duh, FF ini tuh ngajarin kita banget buat ga jadi orang sombong. Chanhyun bener-bener sosok anak yang patut dicontoh,

A: Benar sekali chinguu... aplause yang meriah yeyeye...

Q: ff ini emang genre family, tapi entar pas konfliknya muncul antar chanbaek itu bakal jadi romance, hurt, drama, dan itu kerennn banget!

A: akh terharuuuu :') terima kasih chinguuuu... *bow

Q: Huh, jongsoo emang ga pantes jadi malaikat unyu, jadi... ehm yg disebutin sama dibawah tuh. xD

A: ahahaha... I know what you mean :D

Q: Malaikat unyu chanhyun aja thor , jongsoo kayak setan :v

A: Bisa jadi :p

Q: kyungsoonya tumben protagonis biasanya yg prota juga baekhyun wkwkwk:D

A: jujurReyn bingung maksudnya gimana... .-.v typo kah? Baek jadi tokoh yang tersiksa dan menderita kok di ff yg sering reyn baca hihi. Dan reyn suka menistakannya *evil

Q: Jongin kemana? Kapan muncul?

A: tengok atas hehe

Q: Minsoek eonni bner" ngedidik ank na hahaha Dae baik bgt

A: Iyap, soalnya yang ngajarin ngedidik Reyn #ditimpuk

Q: jongsoo{y ampunn} tu anak pas d dlem perut kyungsoo ngidam apa coba((

A: Ngidam cacing goreng bakar bumbu asem manis :p

Q: Pas baca chapter 3, aku pengen ketawa ternyata permintaanku belum diutarakan tapi udah dikabulkan XD Mindae sahabatan sama Chanhyun! :3

A: Terima kasih karena sudah bisa memabaca pikiranku hehehe

Q: Banyakin Sehan dong... kyknya dia anak yg lucu deh. Ama mindae.

A: Mindae sudah nampang :D *tunjuk2 sehan... tuh yang atu nongol udahan walau cuma bentar kekeke

Q: siksa aja noh ChanSoo itu ntar Baekhyun ketemu Kai karena Kai tau Kyungsoo udah nikah jadinya Kai move on ke Baekhyun terus berhubungan akhirnya tunangankalo perlu nikah undangannya ChanSoo juga dapat biar tersiksa noh bedua terus Chanyeol tau Jongsoo itu anak siapa terus cerai tersiksa masing2, disiksa dikit gapapa kan thor.

A: wkwk... ide bagus chinguuu. Tapi ehmm... liat aja deh ntar.

Q: Dasar labil! Kenapa dia marah marrah kalau ada yang ngingetin baek? Dia toh yang udah 'ngebuang' baek gitu aja toh?

A: Yeol sebenernya masih ada rasa gitu ke baek. Tapi dia gak mau ngaku.

Q: Eh tunggu, kalo kyungsoo sama chanyeol udah nikah, terus yeol udah mikir jongsoo tuh anaknya, artinya mereka udah begituan dong?

A: iya gak ya hehe? Reyn juga gak rela. Tapi sebenarnya itu mau dibahas di flashback jg. Sayangnya gatau nih flashbacknya mau kpn. Banyak yg gak setuju. Atau mau ada side story aja?

Q: Thor, percaya gak ini ff chanbaek GS pertama yang saya baca. Soalnya saya gak suka GS lebih suka YAOI biasanya. Tapi, demi apa saya terima-terima aja kalau ff ini GS, karena ini... SUMPAH BAGUS BANGET.

A: Gomawooo chingu. Aaaa... Reyn sangat senang :D *tebar bunga dan kecupan.

Q: thor kalau bisa bikin jongin/kris pacaran/suka ama baekhyun terus gak sengaja diliat si Chanyeol dan akhirnya dia ngerasain apa yang baekhyun rasain dulu.

A: kita lihat saja besok chinguu wkwk

Q: Pnsrn reaksi chanyeol klo jmpa baek.

A: Chap depan mereka ketemu ya :)


BIG THANKS AND LOVE:

.

.

.

[Guest6] [Anggi32897] [rizka0419] [KOMOZAKU MITSUKI] [shin il kwang] [PandaCherry] [] [siska232] [BLUEFIRE0805] [FitraBela] [rpnapcy] [bellasung21] [Dhea485] [minbyuliee] [parkchanbyunbaek] [sayhund] [malidadidudedo1] [Lee] [Shallow Lin] [ByunDO] [10100Virus] [indaaaaaahhh] [Guest] [NS Yoonji] [byunbaekbaek] [yoyoye] [Guest 2] [j12] [nur991fah] [LoveKrisBaek] [enilalala] [HappyBaek99] [Nagisa Otakuriri] [Yunjou] [lidya Natalia][parklili] [rifdafairuzs] [eunyoung hwang] [Jung Eunhee] [Sehun yehet] [Lee Ah Ra] [sehunpou] [Nyonya Nam] [Gmaolrockie] [Rina972] [Jinyeoley] [Guest 3] [Majey Jannah 97] [BluePink EXO-XOXO-COUPLE] [chanbaekhyun] [younlaycious88][uwiechan92] [fera950224] [Ai Rin Lee] [Guest 4] [Csooyoungiee] [Gevanear] [ryanryu] [Byun Ryeokyu] [cindy] [exoexoexo] [Chan1916] [Lhyra AiraUchiha] [exindira] [ChanBaek] [sayakanoicinoe] [TrinCloudSparkyu][niyoung] [Guest 5] [ 12] [Yeollbaekk] [fuawaliyaah] [wanny] [Park Oh InFa FaRo] [icha likepachulsaklawasenoother] [salsabilajum] [RLR14] [MaxMin] [Mey Hanazaki]


Jangan lupa sertakan akun instagram kalian di bawah review yaaa yang mau difollow... Gomawo ^^


.

.

.

REVIEW