.
Your Child
.
.
.
Disclaimer: This fanfic is mine and EXO's belong to The God
.
Genre: Family, Romence, and Drama
.
Warning: GS, OOC, typos, etc.
.
Rated: T
.
Pair: Chanbaek, Kaisoo, Chansoo
.
.
.
Chanhyun selalu iri pada hidup Jongsoo 'teman sekelasnya' yang begitu sempurna
.
.
.
"An Accident"
.
.
.
Siang itu ketika bel sekolah berbunyi, Jongsoo nampak berjalan mengendap menuju toilet sekolah. Sampai di tikungan koridor ia berhenti sejenak. Kepalanya melongok ke sela-sela tembok. Nampak beberapa anak laki-laki tengah mengerumuni toilet.
Tepat saat itu Jongsoo bersiul guna memancing Taeho keluar. Sosok namja cilik itu keluar melalui persembunyian. Dan kini keduanya tengah bersembunyi bersama. Berjalan mengendap pelan sampai benar-benar sampai di depan toilet.
Ketika keadaan mulai sepi, Jongsoo segera memberi aba-aba untuk dirinya dan Taeho segera masuk ke area toilet. Senyum licik keduanya merekah tatkala melihat sebotol sabun pel di sisi ruangan.
"Kita membutuhkan, ini!" bisik Jongsoo dengan seulas senyum smirk di wajahnya.
"Memang ini untuk apa?" tanya Taeho bingung.
"Ikuti saja aku!" perintah Jongsoo sambil menyelinap keluar. Dilihatnya sekilas keadaan di luar kamar mandi namja. Sepi. Jongsoo menghembuskan nafas panjang.
Keduanya melangkah pelan-pelan menuju koridor sekolah yang lumayan sepi. Kebanyakan anak-anak bermain di taman atau sedang menghabiskan waktu di kantin. Sementara Jongsoo dan Taeho malah asyik di atas lantai dua. Kembali mereka terkikik bersama.
Jongsoo segera memerintahkan Taeho untuk berjaga di luar area tangga. Dirinya sendiri tengah sibuk menuangkan cairan sabun dari botol itu ke undakan tangga. Sambil memasang senyuman licik, namja cilik berkulit tan itu membuang botol sabun pel yang sudah kosong ke tampat sampah.
"Taeho-ya, kajja!" serunya sambil melangkah dengan hati-hati menuju salah satu tiang untuk bersembunyi.
Taeho mengangguk dan segera berlari untuk mencari Chanhyun. Jongsoo tersenyum miring menatap kepergiian sahabatnya. Ia segera merapat bersembunyi pada tiang. Menunggu sampai si bocah Byun itu datang.
.
.
.
Chanhyun tengah bermain bersama Mindae ketika sosok Taeho berjalan memasuki kelas. Mindae yang tak senang melihat kedatangan namja cilik berkulit susu itu kini bangkit dengan lirik tajam. Bukannya ia membenci Taeho yang notabene-nya sahabatnya, tetapi ia merasa kedatangan Taeho ini pasti ada apa-apanya.
"Ada apalagi kesini, eoh?!" tukas Mindae kesal. "Bukankah kalian sudah mengatakanku pengkhianat?!"
Taeho melirik Mindae tajam. "Aku kesini untuk bertemu Chanhyun. Bukan kau!"
Mata bulat Chanhyun mengerjap lucu. Telunjuknya terangkat guna menunjuk dirinya sendiri. "A—Aku?"
Taeho mengangguk. "Aku hanya ingin bilang bahwa kau dicari Yixing-sonsaengnim. Beliau menunggumu di bawah."
"Sudah itu saja?!" Mindae menukas tajam. Seakan sedang melucuti kebohongan yang mungkin disembunyikan Taeho dibalik kelam matanya.
"Iya, memang apalagi?" jawab Taeho sembari mengedikkan bahu acuh. Setelahnya ia segera membalikkan badan dan berjalan menuju pintu. Sesaat sebelum benar-benar menghilang Taeho kembali berteriak. "Cepat jika kau tak ingin dimarahi sonsaengnim!"
Chanhyun mengangguk dan segera melangkah keluar. Sementara Mindae terus mengekori Chanhyun. Begitu Chanhyun menyadari sosok namja bakpao itu terus mengikutinya, ia menoleh dan tersenyum.
"Dae-ya, kau disini saja."
"Tapi—"
"Tidak apa-apa, Dae-ya. Terima kasih sudah mencemaskanku. Tunggulah disini, aku akan segera kembali."
Mindae menghela nafas panjang. Kemudian mengangguk sambil tersenyum.
.
.
.
Chanhyun segera berjalan keluar kelas. Ia menghembuskan nafas lega karena Mindae tak mengikutinya lagi. Mindae hanya terlalu baik padanya. Ia begitu mencemaskannya dan selalu menolongnya saat kesulitan. Mindae sudah terlalu baik. Chanhyun pikir, ia harus bisa menjadi sosok yang mandiri. Ia tak ingin selalu merepoti Mindae.
Langkah Chanhyun terhenti di depan tangga. Kepalanya sedikit melongok mencari-cari apa guru berdimple itu ada di bawah sedang menunggunya. Namun mata bulat itu tak menemukan keberadaan sang guru.
Chanhyun memilih berjalan menuruni tangga menuju kantor guru. Gerakan kakinya terhenti di undakan tangga kedua. Ada sesuatu yang aneh di kakinya. Seperti lengket dan pekat. Dengan pelan ia menunduk dan menemukan cairan-cairan bening kental membasahi undak-undakan tempat ia berdiri.
Chanhyun melonjak kaget. Kakinya bergerak untuk mundur menghindari cairan-cairan itu. Namun sepatunya malah membentur satu undakan dan ia terpeleset. Tubuhnya jatuh merosot ke bawah. Sepersekian detik kemudian tubuh mungil nan jangkung itu sudah menggelinding ke bawah lantai dasar. Lalu menghantam pot kaca di sudut ruangan hingga darah mengalir dari kepalanya.
Dari balik tiang, Jongsoo memandang kejadian itu dengan tubuh menegang. Sekujur tubuhnya mendadak kaku dan mati rasa. Keringat mulai membanjir dari dahinya. Bibirnya bergetar tak sanggup berucap apapun. Masih terdiam dengan tubuh yang kini menggigil. Tak menyangka perbuatan isengnya berakhir dengan begitu mengerikan.
Jongsoo mulai panik. Secepat kilat berlari meninggalkan tempat itu. Dihiraukannya sosok di belakang yang terus merembeskan darah dari kepalanya.
.
.
.
Mindae masih menunggu Chanhyun di dalam kelas. Sudah hampir setengah jam tapi Chanhyun tak datang juga. Padahal bel masuk akan segera berbunyi. Merasa khawatir, akhirnya Mindae melangkah keluar melewati lorong yang sepi. Langkahnya terhenti di tangga. Pemandangan di bawah seketika membuatnya melotot.
"Chanhyunn!" jerit Mindae keras. Dengan cepat ia berlari ke bawah.
Sosok jangkung itu wajahnya terlihat pucat. Darah merembes dari ujung dahinya yang terkena pot kaca. Mindae menepuk-nepuk pipi Chanhyun. Bahkan mengguncangkan tubuhnya berkali-kali. Sayangnya tubuh itu tetap tak terbangun.
"Sonsaengnimmm!" Mindae berteriak sekeras yang ia bisa. "Siapapun, jebaalll...!"
Tak lama kemudian para guru datang dengan terbirit-birit. Terutama Yixing yang wajahnya nampak cemas.
"Ada apa Mindae-ya? Mengapa kau—Astaga!" jeritan Yixing tertahan. Raut wajah guru berdimple itu kini berubah menjadi pucat. Telapak tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya. Rasa cemas yang luar biasa kini menyergapnya.
"Jebaaal, songsaeniimmm... Chanhyun tidak sadarkan diri..."
Yixing berusaha tetap tenang. Ia menyambar salah satu tiang sekolah guna menahan tubuhnya yang oleng. "Siapapun panggilkan ambulans..." suaranya kini sarat akan permohonan yang amat sangat tegas.
"Aku akan segera memanggilkan ambulans," ungkap Victoria wali kelas sebelah.
"Baik. Terima kasih." Yixing kembali memandang Chanhyun. Air matanya hampir menetes. "Chanhyun-ah... Chanhyun-ah..." rintihnya berharap murid itu akan bangun. Tapi itu tak berhasil.
"Setidaknya bawa dia ke UKS." Onew, si guru matematika memberi usul. Dan dengan bantuannya, tubuh Chanhyun terangkat dan dibawa menuju ruang UKS yang jaraknya lumayan dekat dengan gerbang sekolah. Sehingga ketika ambulans datang mereka bisa cepat membawa Chanhyun.
Seperti yang diprediksi, ambulans telah datang cepat. Suara sirine-nya yang begitu nyaring sempat membuat murid-murid kecil lainnya melirik takut dan memilih menyingkir.
Sosok Chanhyun yang tak sadarkan diri dengan banyak darah di dahinya segera dimasukkan di dalam ambulans. Para medis segera memberi pertolongan pertama berupa oksigen sebagai alat bantu pernafasan korban. Seketika pintu ambulans akan ditutup.
Mindae berseru nyaring. "Aku ingin ikut!"
"Tidak Mindae!" jerit Yixing yang sudah duduk di dalam ambulans bersama para medis lain.
"Tapi sonsaengnim, a—aku... ingin menemani Chanhyun," ungkap Mindae dengan nada memohon.
Yixing mendesah panjang. "Tidak Mindae. Bagaimana dengan pelajaranmu? Kembalilah ke kelas sekarang. Nanti kalau Chanhyun sudah lebih baik, kau bisa menjenguknya."
Mindae menyerah. Wajahnya setengah menunduk. "Baiklah sonsaengnim."
"Nah, sampai nanti."
Pintu itu ditutup segera. Kemudian mobil ambulans melaju dengan cepat. Meninggalkan halaman sekolah tempat Chanhyun belajar. Seketika wajah Mindae berubah menggeram.
"Jongsooo!" desisnya marah dengan kedua tangan mengepal.
.
.
.
Jongsoo masih terus meringkuk ketakutan saat berada di dalam taksi. Tadi ia segera berlarian keluar dari gerbang sekolah dan mencari taksi. Untung saja ada sebuah taksi yang lewat. Sehingga Jongsoo bisa langsung pulang ke rumah dan bersembunyi di balik ayahnya. Seorang Park, yang hebat dan kaya raya—yang pasti amat sangat menyayanginya dan akan melindunginya.
Tak lama setelahnya, taksi itu berhenti di tempat yang telah disebutkan Jongsoo. Rumahnya. Sebuah bangunan megah berlantai tiga yang luasnya amat sangat tak terhingga. Dengan semua kemewahan dan ke-glamouran yang tiada tara.
Setelah melempar beberapa lembar won pada sopir taksi, Jongsoo segera berlarian turun menuju rumahnya. Salah seorang penjaga di depan gerbang rumahnya menyambutnya dengan ramah.
"Selamat datang, Tuan Muda Park."
Jongsoo mengabaikan ucapan itu. Langkahnya semakin cepat begitu memasuki pekarangan rumahnya yang mewah bak taman surgawi. Ia meraih bel dan menjerit melalui layar intercom pada salah seorang pelayan.
"Cepat buka pintunya!"
"B—Baik, Tuan Muda."
Seketika pintu dengan aksen keemasan itu menjeblak terbuka. Jongsoo melangkah cepat ke dalam. Wajahnya mulai memerah. Langsung saja tangisnya pecah.
"Jongie, ada apa?" jerit Kyungsoo panik begitu melihat anaknya berlarian ke arahnya dan memeluknya sambil tersedu.
"Eomma... hiks... hiks..."
"Ne, waeyo?" tanya Kyungsoo cemas sembari mengelus surai kecoklatan anaknya.
Jongsoo hanya bisa menggelengkan kepala. Berusaha menyembunyikan apa yang terjadi. Ia hanya terus memeluk ibunya sambil menangis.
Tiba-tiba dari kejauhan, sosok Park Chanyeol muncul dengan setelan jas mewahnya. Keningnya mengernyit samar ketika mengetahui sang putra kesayangan berdiri di hadapannya.
"Lho, Jongie? Mengapa kau sudah ada disini? Appa baru saja akan menjemputmu." Chanyeol mendekat dan menepuk lembut bahu Jongsoo.
"Andwae, appa! Andwae! Jangan datang ke sekolah!" jerit Jongsoo panik.
Chanyeol menatap Jongsoo bingung. Ia berusaha berpikir dan mencerna perkataan putranya. Barulah ia mendapatkan kesimpulan bahwa sekolah dibubarkan lebih cepat dari biasanya. Mungkin ada acara guru atau apa itu, entahlah. Kerutan di dahi Chanyeol perlahan pudar, terganti seulas senyum.
"Tentu saja tidak jadi. Kau kan sudah disini. Lalu kalau appa ke sekolah, siapa yang harus appa jemput? Temanmu? Hahaha... Anak appa kan hanya kau saja di dunia ini!"
Jongsoo sedikit lega. Ia segera menghambur ke pelukan sang appa. Kyungsoo melepas putranya sambil terus menatap bingung. Jujur saja ia sebenarnya tak tahu apa yang terjadi. Tidak seperti biasanya putra mereka bersikap seperti ini.
"Hmm... sekarang katakan pada appa mengapa sekolah memulangkan muridnya lebih awal?"
"I—itu... molla..." jawab Jongsoo berbohong.
Chanyeol menatap Jongsoo heran. "Sonsaengnim tidak memberitahu apapun?"
Jongsoo menggeleng. Lagi-lagi berbohong. Setelah melepas pelukan ayahnya, ia segera berlari masuk ke dalam kamarnya. Bersembunyi di dalam sana. Tak ingin beranjak sama sekali.
.
.
.
Di tempat kerjanya, Baekhyun tengah melamun memikirkan keungannya yang makin menipis. Pandangannya menerawang ke depan. Sesekali ia menghembuskan nafas panjang. Terkadang kehidupan memang kejam. Dulu saat masih kecil hingga bangku SMA, hidupnya selalu bahagia. Tapi sekarang? Hidupnya sangat berbanding terbalik dengan kehidupannya dulu.
Kembali Baekhyun menghembuskan nafas panjangnya. Ia terus melamun sampai tanpa sadar sebuah piring meluncur jatuh dari tangannya.
CRAANG...
Baekhyun memekik tertahun. Begitu asyiknya ia melamun tadi, sampai tak sadar bahwa ia sedang mencuci piring. Sekarang sebuah piring malah jatuh ke bawah. Pirng itu pecah. Kepingannya berceceran dimana-mana.
Dengan panik Baekhyun memunguti pecahan piring itu satu persatu. Ia begitu panik dan terburu sehingga sebuah pecahan menggores jemari lentikya.
"Akh—" Baekhyun meringis merasakan nyeri di jemarinya yang kini meneteskan darah.
"Baekhyun! Ada apa?" suara berat seseorang tiba-tiba muncul memenuhi ruang dapur caffe itu.
"M—maafkan aku, Tuan Wu... A—aku tidak sengaja..." ucap Baekhyun dengan suara gemetar.
Kris berjongkok di hadapan Baekhyun. "Tidak apa, itu tak masalah. Biar aku bantu."
"Tidak perlu Tuan Wu, aku bisa menye—"
"Baek, jemarimu berdarah." Kris menatap jemari Baekhyun dengan cemas. Tangannya bergerak mengeluarkan sapu tangan dari balik jasnya. Secepat kilat ia membebat jemari itu hingga darah yang tadinya mengalir kini meresap ke dalam sapu tangan. Baekhyun sedikit meringis merasakan tekanan di jemarinya. Namun Kris segera mengelus jemari itu.
"Itu akan segera sembuh."
Baekhyun menunduk dengan rona merah menjalar. "Terima kasih... Tuan."
Kris tersenyum miring. Dengan gerakan cepat beralih memunguti pecahan kaca di sekelilingnya. Baekhyun segera membantu Kris. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering nyaring.
"Baek, angkatlah ponselmu." Kris menggumam lirih. Namun suara itu terdengar tegas dan tak terbantah.
Baekhyun segera mengambil langkah mundur dan meraih ponsel di kemeja seragamnya. "Yeoboseyo... Oh, sonsaengnim... Ada ap—"
Suara di ujung sana menyela dengan cepat. "Baekhyun-ssi, ada kecelakaan di sekolah. Chanhyun jatuh dari tangga. Keadaannya cukup parah. Ia butuh operasi."
Seketika wajah Baekhyun membeku. Ponsel yang tadi ditempelkan di telinganya itu meluncur jatuh. Sama seperti piring tadi. Bahkan kaca ponsel itu retak dan baterainya lepas entah kemana. Tubuhnya mulai limbung. Baekhyun segera menyambar meja dapur untuk menahan keseimbangannya.
"Baekhyun ada apa?"
Dan tangis yeoja itu pecah.
.
.
.
"Chanhyuunn... hiks... Chanhyunn..." jerit Baekhyn panik begitu memasuki rumah sakit. Di belakangnya tampak Kris berlarian mengikuti. Seperti biasa, Tuan angry birds itu memaksa menemani Baekhyun.
"Baekhyun-ssi, tenanglah dulu." Yixing datang menenangkan Baekhyun.
"Tidaaak... hiks... hiks... Bagaimana dengan Chanhyun? Dimana Chanhyun? Hiks... Chanhyuun-ahh..." tangis Baekhyun pecah seketika. Yixing merengkuh Baekhyun ke dalam pelukannya.
"Gwaenchana, Chanhyun sudah ditangani oleh dokter..."
Suara Yixing terdengar begitu menenangkan. Namun Baekhyun masih terisak. Pandangan yeoja itu menjadi hampa tatkala melihat kaca di hadapannya. Di situ terpampang jelas ketika dokter dan para medis tengah menangani Chanhyun. Baekhyun merasa hatinya tercabik-cabik saat melihat wajah anaknya berlumuran darah. Hatinya sangat sakit, seolah ia juga merasakan kesakitan yang sama.
"Chanhyuunn..." Baekhyun menjerit. Seketika melepaskan pelukannya dengan Yixing. Tubuh lemasnya berjalan dengan limbung ke arah kaca rumah sakit. Dengan jemari bergetar dipukulkannya kedua tangan itu ke kaca.
"Tolong selamatkan Chanhyun... hiks... hiks... jebaal..."
Kris yang semula tenang kini bergerak ke depan dan segera mengusap lembut punggung Baekhyun. Berusaha memberi kedamaian dan kehangatan. Hingga tangisan yeoja itu mereda.
"Chanhyun pasti akan selamat... Kau tenang saja..." ucap Kris dengan nada tegas.
Baekhyun segera menunduk. Jemarinya menghapus air mata dengan pelan. Meski setengah hatinya masih sesak, ia terus mencoba tegar. Setelah tenang, Kris membimbing Baekhyun menuju kursi tunggu. Baekhyun menurut. Dan sesaat kemudian yang terjadi hanyalah keheningan. Baekhyun mulai memanjatkan doa-doanya. Untuk kesembuhan anaknya. Anaknya yang sangat disayanginya. Meski dulu sempat tak diharapkannya.
.
.
.
Mindae menggeram kesal saat melihat cairan-cairan licin di area tangga. Langkahnya terasa semakin cepat ketika memasuki kelas. Bola mata coklatnya nampak menyapu seisi ruangan. Mencari-cari keberadaan sosok namja mungil berkulit tan. Sayangnya namja itu tidak ada.
Melarikan diri, eoh!
Pandangan Mindae langsung terhenti pada Taeho—yang tampaknya sedang berusaha menghindari tatapan matanya. Namun yang terjadi kini, kedua mata itu saling beradu. Tatapan mata Mindae sangat tajam dan membunuh. Dengan gusar ia berjalan menghampiri meja Taeho dan menggebraknya.
"Taeho, ikut denganku sekarang!"
Taeho memutar bola matanya malas. Ia berusaha bersikap biasa dan cuek. Akan tetapi, jauh di lubuk hatinya ia merasa ketakutan dengan sosok Mindae. "Ada apa, Dae-ya?" gumamnya.
"Sudah jangan banyak tanya! Kajja! Atau aku akan menyeretmu sekarang!"
Taeho meringis. Sedetik kemudian bukunya dilempar kasar ke meja. Kemudian ia bangkit mengikuti langkah Mindae menuju koridor sekolah.
Mindae masih memunggungi Taeho sebelum ia berbalik dan berteriak keras. "Apa yang kalian lakukan sebenarnya?! Dan katakan padaku, dimana Jongsoo?!" teriaknya keras.
Taeho mundur selangkah. "A—Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti."
"Jangan berbohong Taeho! Kau dan Jongsoo yang mencelakai Chanhyun kan?"
"Tidak!" Taeho menjerit tegas. Namun ketakutan nampak di balik matanya. "Jangan menuduh sembarangan! Apa buktinya?"
"Ada cairan sabun di tangga." Mindae menatap Taeho tajam. "Kau pasti tadi sengaja memanggil Chanhyun agar dia lewat di tangga kan? Lalu sekarang kau lihat! Chanhyun terpeleset. Kau... lihat tadi?" suara Mindae melirih. Pikirannya kembali melayang pada Chanhyun yang jatuh berdarah. Itu membuatnya sedih. Bagaimana pun, Chanhyun adalah teman barunya. Mindae tidak mau kehilangan Chanhyun.
Taeho mulai gemetar. Tubuhnya semakin mundur dan berakhir menubruk dinding kelas. "Dae-ya, ternyata kau memang benar-benar berubah. Kau sekarang malah berteman dengan si miskin itu. Kau bahkan membelanya mati-matian di hadapan kami. Sahabatmu sendiri!"
Mindae menatap Taeho dengan sendu. "Taeho-ya, teman selalu mengingatkan temannya yang bersalah. Kau harus ingat, Jongsoo bersalah. Sudah seharusnya kau mengingatkannya. Bukan malah kau membantunya dan melindunginya."
Taeho menunduk. Sedikit rasa bersalah terlukis di wajahnya. "Aku melakukannya karena Jongsoo adalah sahabatku," ucapnya lirih.
Mindae menepuk bahu Taeho lembut. "Aku mengerti Taeho. Tapi apa yang kau lakukan salah. Kau harusnya menyadarkan Jongsoo."
Taeho semakin menunduk. Seketika tubuhnya meluncur ke lantai. Matanya mulai berkaca-kaca. "A—aku memang bersalah...Kau benar Dae-ya... hiks... M—maafkan akuu... hiks... hiks..." tangis Taeho pun pecah. Sekarang namja cilik itu tengah menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Mindae bersimpuh. Menepuk-nepuk pundak Taeho dengan lembut. "Gwaenchana Taeho-ya... Kalau kau bicara jujur, semua orang pasti akan memaafkanmu."
"Hiks... Dae-ya, aku tidak mau ditangkap polisi... hiks... hiks... Aku hanya ingin membantu Jongsoo... hiks..."
Mindae tersenyum. "Maka dari itu kau harus bicara jujur pada sonsaengnim tentang Jongsoo. Bagaimana pun Jongsoo harus bertanggung jawab. Ia tidak boleh lari seperti ini."
"Tapi aku tidak mau Jongsoo membenciku."
"Kau masih punya aku Taeho. Kita kan berteman."
Dan Taeho memeluk Mindae. Seketika Mindae ikut menangis karena memikirkan keadaan Chanhyun. Kedua bocah itu kini menangis sambil berpelukan.
"Hiks... hiks... terima kasih Dae-ya."
"Aku juga Taeho-ya... hiks... hiks..."
.
.
.
Chanyeol nyaris menjatuhkan gagang telponnya ketika mendengar penjelasan seseorang di seberang sana. Seketika bola matanya membulat kaget. Dengan cepat ia berlari menuju kamar anaknya. Seakan tak mempedulikan telponnya yang masih terus meraung-raung.
"Jongsoo! Park Jongsoo! Buka kamarmu sekarang!"
Kyungsoo yang tengah keluar dari kamar seketika menjerit melihat kelakuan Chanyeol yang sedikit emosi. "Ada apa?"
Chanyeol menggedor-gedor pintu kamar Jongsoo. "Kyung, Jongsoo membuat masalah di sekolah."
Bola mata Kyungsoo membulat. "Masalah? Tidak mungkin! Jongsoo adalah anak yang baik dan penurut. Tidak mungkin Jongsoo membuat masalah," ucap Kyungsoo membela anaknya.
Chanyeol menjambak rambutnya frustasi. "Tidak Kyungie, sonsaengnim bilang bahwa Jongsoo sudah melukai temannya hingga jatuh tergelincir di tangga. Sekarang anak itu kritis."
Raut kaget di wajah Kyungsoo terlukis semakin jelas. Seketika ia menutup mulutnya. Kepalanya menggeleng-geleng yakin. "Aku tidak percaya."
"Sonsaengnim bilang sendiri padaku. Dan Taeho yang mengatakannya."
"Astaga..." Kyungsoo memekik. "Park Jongsoo, keluar kau!"
Seketika pintu di hadapan mereka terbuka. Tampaklah Jongsoo dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetar. Namja cilik itu bersembunyi di belakang pintu. Dengan satu tarikan kuat Chanyeol berhasil menyeretnya keluar.
Jongsoo meringis ketakutan. "Waeyo, appa?"
Chanyeol memegang bahu Jongsoo kuat-kuat. "Park Jongsoo, apa yang kau lakukan pada temanmu?"
Jongsoo terdiam. Tubuhnya menegang seketika. "Apa? Memangnya aku melakukan apa?" jawabnya pura-pura tak tahu.
"Apakah benar yang membuat temanmu jatuh tergelincir di tangga itu kau?" Chanyeol bertanya lagi.
Jongsoo memutar bola matanya. "Tidak. Bukan aku. Dia jatuh sendiri. Jangan salahkan aku."
"Taeho yang bilang bahwa kau menyuruhnya!"
Jongsoo terdiam. Kepalanya nampak menggeleng-geleng. Sekuat tenaga berusaha mengingkari apa yang telah terjadi. Namun sedetik kemudian air matanya jatuh merembes. "Tidaaak... hiks... hiks... appa... hiks... aku tidak sengaja..."
Kyungsoo segera melindungi Jongsoo. Dengan kasar diseretnya Jongsoo dari Chanyeol dan segera memeluknya.
"Jangan membentaknya Park Chanyeol! Kau dengar sendiri kan? Jongsoo tidak bersalah!" teriak Kyungsoo dengan nada penuh emosi.
"Jongie, maafkan appa. Appa tidak bermaksud—"
"Sudahlah!" Kyungsoo menegur keras. "Lebih baik kau segera siapkan uang untuk biaya rumah sakit anak itu! Berapa pun yang mereka mau, berikan saja! Aku tidak mau peduli! Yang jelas jangan pernah membawa-bawa Jongsoo! Jongsoo sudah bilang dia tidak bersalah."
Chanyeol menghela nafas panjang. "B—baiklah... Aku mengerti..." jawabnya sambil berlalu.
"Hiks... hiks... eomma... aku tidak bersalah... hiks... hiks..."
"Ne, eomma mengerti. Kau tenang saja ne, tidak akan ada yang berani menyalahkanmua. Kalaupun iya, mereka harus berhadapan langsung dengan eomma."
Seketika pelukan di tubuh Kyungsoo mengerat. Jongsoo menangis semakin keras di dalam kehangat ibunya itu.
.
.
.
Tepat satu jam kemudian mobil Chanyeol sudah sampai di pelataran sekolah. Chanyeol datang bersama Kyungsoo dan Jongsoo. Mereka segera memasuki ruang guru. Disana sudah ada Yixing dan beberapa guru lainnya. Juga Mindae, dan Taeho—yang menampakkan raut wajah berbeda-beda. Entah ada yang kecewa, marah, bahkan takut.
"Tuan Park, Nyonya Park, silahkan duduk! Kau juga Jongsoo!" ucap Yixing pada keluarga itu.
"Terima kasih," ucap Chanyeol berusaha tersenyum. Disusul anggukan dari Kyungsoo.
Yixing menghela nafas panjang. Matanya sarat akan kesedihan. "Sekarang keadaan Chanhyun kritis. Terjadi pendarahan di kepalanya. Anak itu harus segera di operasi."
"Kami akan membiayainya!" Chanyeol menyela dengan cepat. "Berapapun jumlahnya, kami pasti akan membayar biaya rumah sakit anak itu. Asalkan..." suara Chanyeol terhenti sesaat. "Sonsaengnim berjanji pada kami tidak akan memberi hukuman pada Jongsoo. Apalagi sampai mengeluarkannya dari sekolah ini."
Kyungsoo segera meraih tangan Yixing. "Jebaal sonsaengnim, berjanjilah pada kami. Kami sangat bersalah atas kejadian ini. Kami minta maaf karena telah lalai menjaga Jongsoo. Tapi tolong, jangan keluarkan Jongsoo. Sekolah ini adalah Elementary School terbaik di Seoul. Kami tidak mungkin menyekolahkan Jongsoo di tempat lain."
Kembali Yixing menghela nafas. "Keputusan ada di tangan kepala sekola. Tapi saya akan mengusahakannya."
"Gamsahamnida sonsaengnim. Jeongmal gamsahamnida." Chanyeol tampak bahagia. Ia segera merengkuh Jongsoo. Tapi Jongsoo malah sibuk memandangi Mindae dan Taeho dengan tatapan penuh kebencian. Seakan tak mempedulikan guru dan para orang tuanya.
"Jadi, berapa biaya yang harus saya tanggung?" tanya Chanyeol kemudian.
"Untuk itu, saya tak begitu tahu Chanyeol-ssi. Kau bisa bertemu langsung dengan orang tua Chanhyun dan membicarakannya baik-baik nanti."
"Baiklah, nanti aku akan segera menemuinya. Sekali lagi terima kasih Yixing-ssi."
.
.
.
Pintu ruangan ICU itu dibuka. Baekhyun bangkit dengan segera. Raut wajahnya tampak pucat pasi. Tapi ia tak peduli. Ia berlarian menghampiri sang dokter yang muncul dari pintu.
"Uisa, bagaimana keadaan anakku?" tanyanya dengan raut cemas.
"Anak anda harus segera menjalani operasi hari ini. Kondisinya cukup parah dan tak banyak waktu lagi. Kita harus menjalani operasi hari ini."
Baekhyun menggigit bibirnya. "Lakukan apapun untuk kesembuhan Chanhyun, uisa."
Sang dokter tersenyum ramah. "Baiklah. Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Anda bisa segera membayar biaya operasi di ruang administrasi."
Mata Baekhyun membola. "Biaya operasi harus dibayar dimuka, uisa?"
"Iya, Nyonya, operasi seperti ini memerlukan biaya besar. Jadi anda harus membayarnya dimuka."
Baekhyun merasa kepalanya mulai pening. "Kira-kira berapa biayanya?"
"Sekitar sepuluh juta won."
Baekhyun membelalak kaget. "Sepuluh juta?" tanyanya dengan nada putus asa.
"Iya. Anda harus segera melunasi administrasi untuk biaya operasi lebih dulu." Dokter itu menjelaskan. "Kalau begitu saya permisi, Nyonya."
Sepeninggal sang dokter, Baekhyun terdiam tanpa reaksi. Tubuhnya limbung. Hampir saja ia jatuh kalau tak ada Kris yang datang dan menahan lengannya.
"Baek, kau tidak apa-apa?"
Baekhyun menggeleng. Dipaksakannya seulas senyum.
"Lalu kenapa? Apa ada masalah dengan anakmu?"
Baekhyun hampir saja menangis di pelukan Kris. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Dengan suara terputus-putus diceritakannya kondisi Chanhyun.
"Operasi harus dilakukan! Aku yang akan bertanggung jawab!"
Baekhyun membelalak. "Tidak Kris!"
"Harus, Baek! Kau tidak lihat kondisi anakmu sudah kritis?! Apalagi yang kau tunggu-tunggu?!" Kris membentak seolah menyadarkan Baekhyun.
"Tapi Kris—"
"Kau bisa memikirkannya nanti!" potong Kris cepat. "Chanhyun tidak bisa menunggu lagi."
Baekhyun memaksakan senyum sembari menghapus lelehan air matany. "Gamsahamnida, jeongmal gamsahamnida... Tuan Wu."
.
.
.
Begitu sambungan terputus, Chanyeol segera menutup gagang telponnya. Ia menghembuskan nafas sejenak sebelum bergerak meraih jas di atas sofa. Lalu menyisir rambutnya dengan rapi.
Kyungsoo yang tengah duduk di sofa menoleh ke arah Chanyeol. "Kau akan menemui orang tua anak itu sekarang?"
"Ne, barusan Yixing-ssi menelponku dan mengatakan bahwa operasi anak bernama Chanhyun itu akan dilakukan nanti malam. Jadi aku harus segera datang kesana dan membayar seluruh biayanya. Setelah itu aku akan mewakili Jongsoo untuk minta maaf kepada orang tua anak itu. Lalu masalah selesai," ucap Chanyeol sambil tersenyum.
Kyungsoo balas tersenyum. "Tentu saja," tanggapnya sambil melirik ke arah Jongsoo yang tertidur di pahanya dengan wajah kelelahan. Jemari Kyungsoo bergerak untuk membelai surai coklat anaknya. "Aku tidak akan membiarkan Jongsoo menderita. Bagaimana kalau orang tua anak itu terus mengungkit-ungkit kesalahan Jongsoo?"
"Tidak akan!" Chanyeol menukas cepat. Seulas senyum segera terlukis di wajahnya. "Bila itu sampai terjadi, kurasa kita perlu menambah jumlah uang yang akan kita berikan nanti."
"Yah... tentu saja. Pasti uang." Kyungsoo bergumam.
"Hmm... Aku pergi, ne." Chanyeol mengecup pipi Kyungsoo dan Jongsoo bergantian. Mengusak lembut rambut anaknya seolah merasa amat sangat bersalah atas bentakan yang ia lakukan tadi. Lalu dikecupinya dahi Jongsoo lagi dan lagi sebelum benar-benar pergi.
.
.
.
Baekhyun kembali terisak tatkala memandangi wajah pucat buah hatinya kini. Seluruh tubuh mungilnya dihiasi oleh selang-selang penopang kehidupan. Hatinya sangat sakit melihat itu semua. Ingin sekali rasanya menggantikan posisi Chanhyun. Biar saja Baekhyun yang menderita. Asalkan bukan anaknya. Anaknya sudah sangat menderita.
Bulir-bulir air mata itu kembali menetes membasahi selimut yang dikenakan Chanhyun. Dengan terisak, Baekhyun menggerakkan jemarinya dan mengelus lembut pipi tembam anaknya yang tampak begitu kuyu.
"Chanhyuun-ah... hiks... hiks..." panggil Baekhyun sambil terisak. "Kau harus kuat... Apapun yang terjadi jangan pernah meninggalkan eomma sendiri, ne? Jebaal, berjanjilah..."
Chanhyun tak bergeming. Baekhyun menatap pemandangan itu dengan sedih. Jemarinya teralih mengelus lembut selang yang mengalirkan oksigen di hidung anaknya.. "Kau kuat Chanhyunn-ah," bisiknya lembut. Kemudian Baekhyun mengecup pipi anaknya hingga bekas air mata menempel disana.
"Eomma disini... Eomma selalu disini menunggumu..." bisiknya lagi. Kali ini dengan menggenggam tangan anaknya. "Kau pasti bisa melewati operasi itu. Kau mendengar eomma kan, Chanhyun-ah?"
Tak ada jawaban. Hanya bunyi detak jantung dari layar monitor yang bersahutan.
Sadar tak kan ada jawaban, Baekhyun kembali menangis. Menanti dan terus menanti jawaban ceria dari mulut mungil anaknya yang tak kunjung ia dengar.
.
.
.
Chanyeol segera memarkir mobilnya di halaman rumah sakit. Sebelah tangannya masih terus menggenggam telpon. Sambil melangkah melewati koridor rumah sakit, namja itu menggumam membalas ucapan seseorang di seberang sana.
Barusan kantornya menelepon bahwa akan ada meeting penting bersama client dari luar negeri. Dan Chanyeol segera memohon maaf atas absennya hari ini. Sebagai gantinya, ia menyuruh salah seorang manager untuk memimpin meeting dan menduduki posisinya sementara sebagai pimpinan.
Setelah usai bercakap-cakap, Chanyeol segera menyimpan ponselnya di saku jas. Kemudian dengan langkah pelan dinaikinya lift menuju lantai tiga yang akan membawanya menemui kamar si anak.
Chanyeol melangkah keluar sambil menilik ruang kamar yang berderet di hadapannya. Otaknya berusaha mengingat berapa nomor kamar rawat si anak. Dan setelah memastikan ingatannya benar, Chanyeol mempercepat langkah menuju bangsal tempat kamar itu berada.
Begitu sampai beberapa langkah di depan kamar, Chanyeol segera menarik kerah jasnya. Seakan menunjukkan pada semua orang betapa berkuasanya dia. Tak lupa tangannya yang mencengkeram amplop tebal dengan kuat. Seolah amplop itu tak ada apa-apanya bila ia remukkan dan hancurkan sekalipun.
Langkah Chanyeol terhenti di depan kamar yang terbuka itu. Di dalam sana tampaklah seorang yeoja berambut coklat tua tengah memunggunginya. Chanyeol berpikir pasti itu ibu dari Chanhyun—anak yang pernah ia tampar dulu waktu di kedai. Sejumput rasa bersalah menyerangnya. Betapa Chanyeol merasa sangat kejam menampar anak sekecil itu. Dan kini ia akan meminta maaf atas segalanya. Termasuk tindakannya waktu itu. Semua itu demi Jongsoo. Agar anaknya bisa hidup tenang setelah ini.
Jadi Chanyeol hanya akan menyerahkan amplop ini, memohon maaf, dan segera pulang. Dan jika orang tua anak itu tak terima, maka Chanyeol akan menambah nominalnya. Berapa pun besarnya. Chanyeol pasti akan memberikannya. Karena seperti yang sudah ia jelaskan. Semua ini demi kebahagiaan Jongsoo. Anaknya yang sangat disayanginya.
"Chogiyo..." ucap Chanyeol lirih sambil mengetuk pintu yang sudah separuh terbuka itu.
Tak ada jawaban. Yeoja itu masih diam tak bergeming.
Chanyeol menghembuskan nafas panjang dan mengetuk pintu itu lebih keras. "Chogiyo... aku adalah orang tua Jongsoo. Namaku Park—"
Chanyeol merasa nafasnya terhenti ketika matanya bertumbukan dengan mata seseorang. Suaranya yang berat bagai baritone itu menghilang seketika tertelan oleh hembusan angin. Mata mereka bertemu pandang untuk beberapa lama. Menciptakan suatu keheningan yang terasa amat sangat panjang dan menyakitkan.
Sampai satu kata berhasil lolos dengan susah payah.
"B—Baekhyun..."
Dan amplop tebal itu meluncur jatuh. Hingga beberapa lembar berharga yang ada di dalam berhambur keluar.
.
.
.
To Be Continued...
.
.
.
Apaaaa ituuu? *tunjuk2 atas -_-
Tuh kan, lagi2 Reyn nggak menepati janji ._.v *peace hehehe...
Kemarin Reyn bilang Kaisoo sama Chanbaek ketemu.
Nah, sekarang? Mana-mana? Kaisoo belum ketemu dan Chanbaek cuma nyempil doang*dikeroyok reader pake golok
Ceritanya panjang chingu. Kemarin kan Reyn baru angan-angan doang. Nah, ternyata nggak sesuai ekspektasi. Seperti biasa, apa yang Reyn rencanakan selalu melenceng jauh sama apa yang akhirnya Reyn tulis. Hmm... ternyata mah akhirnya ini jadi molor ketemunya. Huhuuu... maafkan reyn yah chinguuu.. Chap depan deh Reyn usahakan udah pada ketemu semua. Usahakan lho ya..hahaha...
Sekali lagi Reyn minta maaf yaa... *bow
Terus pada gak suka ya Kyungsoo sama Yeol jadi jahat? Reyn bener2 minta maaf ya *bow... Tapi beneran kok, mereka disini aslinya baik. Cuma mereka itu sangat over protektif dan jadinya malah kayak gitu. Maafkan Reyn ya,,, *bow... Reyn nggak bermaksud apa-apa...*bow lagi
Ohya, Reyn ingatkan ya, ini cuma fanfiction kok :D kalian tenang aja. Jangan mikir kalau mmereka sama kayak yang disini. Kita harus percaya kalau bias kita itu semuanya BAIK. Ini cuma imajinasi kita semata kok. Aslinya mereka pasti baik semua kok :D
Akhir kata, Jangan lupa review yaaa :D biar Reyn semakin semangat nulisnya
Terus Reyn minta maaf banget ya buat keterlambatan ini *bow... semoga chap depan nggak sengaret ini...amiin ^^
Kemarin ada yang udah nyantumin IG tapi belum di follow ya? Ehehe... Kalau ada boleh protes :D Reyn terbuka kok. Kalau masih ada yang mau di foll juga masih bisa. Cantumin saja. Yang mau jadi temen twetter juga boleh at retnaninghayuu *promo #plak..
BALASAN REVIEW
.
.
.
Q: Jongso is a bad boy..
A: I think yeah... but sometimes he can changed be a nice boy :)
Q: semoga dgn bertemunya chanbaek, si chan jd sadar. gak tega sama chanhyun yg slalu dsakiti gtu
A: amiiiennn ^^
Q: buat chanyeol nyesel sampe pengen bunuh diri ya thor
A: duh... klo chan bunuh diri ntar ceritanya tamat dong? O.o wkwk
Q: nanti kalo chanyeolnya udah sadar jongsoo bukan anaknya, jongsoo harus di siksa pokoknya.
A: pukpuk jongie huhuuu... :(
Q: cpet ya kalo bsa kalo nunggu lama2 suka kapan chanyeol ktemu sama chanyeol kyungsoo sama jongsoo jahat bnget mint di anak haram juga
A: bentar2, duh.. reyn bingung nih jawabnya gimana . ... hehehe
Q: Kpn ada ChanBaek moment nya?
A: sabar ya, bentar lagi, ini udah ketemu :D
Q: ayo kita rame rame gotong keluarga parkchansoojong dibuang ke kali wkwkwk
A: AYO SERBUUU! *angkat jaring dan tali...byuuuur hahaha *ketawanista
Q: Astagaaaa, segak suka apapun Chanyeol sama Chanhyun atau sesayang apapun chanyeol sama Joongsoo harusnya dia ga main pukul gitu aj,
A: duuh... maafkan yeol chinguu, yeol khilaf hehe..
Q: KAiiiiiii cepat pulang dan buat Chanyeol porak poranda hatinya pas tahu kalo jongsoo bukan anak dia.
A: jongg! Jong! *teriak2 nyari jongong tapi nggak ketemu xD. Waa... ayo pora-porandain bareng2 kyaaa
Q: ngerencanain apalagi tuh si jongsoo sama taeho?
A: hmmm... apa ya? *tengok atas..
Q: Aku berharap banget jongin melakukan apa yang chanyeol lakukan, menyayangi anak chanyeol, walaupun jongin tau dia punya anak dengan kyungsoo, aku harap dia gak nambah penderitaan chanhyun, gak kasian apa sama anak sekecil itu.
A: tunggu, ini maksudnya Kaibaek nikah? Kyaaa *resepsi2... makanan...gedung #ren apa ini? hoho... O.o ...kita lihat saja nanti yah xDhahaha
Q: Huft sebenarnya aku lagi dalam mood terburuk, aku juga gak minat baca ff, tapi aku gak bisa nolak ff ini, beberapa hari ini aku selalu menguras air mata,
A: semangaat chinguuu ^^):9 jangan sediih ya...pukpuk
Q: chapter dpan jongin plang ke korea ne
A: hmm.. sepertinya belum..huhuu..mianhe ._.v tapi jongin uda otw kok :D
Q: Sini Jongsoo sayang kemari ! MAU SAYA LEMPAR KAU KE SEGITIGA BERMUDA #TerbakarEmosi
A: kyaaa... sini reyn bantuin ngelemparnya xD *ambil tali dan pancingan huehehe...
Q: tolong jangan bikin kyungsoo yg paling jahat di sini... setiap aku bacanya aku bener" nyesek... aku gak tega ngebayanginnya... aku harap kyungsoo bisa lebih baik gambarannya :)
A: sebelumnya reyn minta maaf chinguu, jujur reyn nggak bermaksud bikin kyung jadi tokoh kayk gtu. Tapi tiba2 itu tercetus sendiri.. awal2nya kyung emg jahat. Tapi aslinya dia baik kok, beneran :D seiring berjalannya waktu kyung pasti berubah...hehe... dia cuma sering tertekan sama masa lalunya... kyung pasti akan jadi lebih baik chinguu :) tenang saja ne...
Q: Chanyeol jadi orang kejem bener -_- dan Kyungsoo sombong bener -_-
A: maaf ya chinguuu, suatu saat nanti mereka pasti berubah :D
Q: Mengapa tbc?
A: mungkin sudah takdir chinguu wkwk *bercanda hehe... ._.v ini sudah lanjuuut
Q: chanyeol jahat! Astrin kesel *injek jongsoo* lol
A: ayoo sini astrin, reyn bantu nginjekin! :D *jongsoo tereak #plak wkwkw
Q: maunya chansoo lagi jalan berdua terus jumpa kaibaek lagi ngedate , satu mall terdiam :v
A: waaa... kalo gitu reyn ikutan dong wkwk... reyn juga pengen ngedate soalnya wkwk *satu mall langsung kebakaran xD lol
Q: ini adain balas dendam dong authornim, baekhyunnya deket sama cowo lain biar nanti pas si chanyeol tau baekhyun dia ngerasain sakit yang sama kaya baekhyun-_-
A: *tunjuk2 kris O.o nah ntu...ntu dia ajahh hahaha... *lebayON
Q: Jongsoo. Tuh anak pengen gua pites, terus tak jadiin perkedel
A: yummyy... enak tuh kyknya *lirik perkedeljongsoo...nanti Reyn dikirimin yah hehehe
Q: gapapa lah sekali" kesel sama bias sendiri *lirikChanyeol.
A: gapapa kok xD klo kita bisa kesel sama dia yg bnr2 kesel, artinya kita sayang banget sama dia *reyn lirik2 baek #ekyaaa... sayang beneran nih
Q: Btw, sulay moment kapan?
A: hmm... ditunggu yah chinguu :D akan reyn usahakan
Q: aah author-nim trma kasih anda tlh mmbt saya mnngs srta ksl scra brsma"an
A: terima kasih kembali *eh.. #pukpuk jangan nangis yaa.. huhuu
Q: Wkwkwkwk, eh, entar dibikin Jongsoo suka dong sama Chanhyun. Terus Sehan suka ama Mindae. Kyaa! gile, gue Fujoshi banget kayaknya, pengen nistain anak-anak kecil
A: huahaha... jiwa fujoshi reyn bangkit xD *ketawa nista...tapi ini ff gs..hmm ._.v
Q: thorrrrr aku tunggu banget kelanjutannya dan baru di publish sekarang ?! aku sampai baca ulang loh dan masih nyentuh aja ff nya aku tunggu kelanjutannya ya :D
A: duuh.. maafkan reyn ya, :( dan ini malah makin ngaret huhuu... *bow1000kali.. tapi makasih banyak udah mbaca malah sampe berulang-ulang xD *reyn seneng banget..
Q: Oh ya thor update ffnya tuh tiap minggu atau bulan sih?!
A: Reyn juga bingung *garuk2 pala... duuh maafkan kelabilan reyn ya, chinguu... Reyn nggak bisa menjadwal kapan akan update *takutnya nanti udah janji perminggu malah molor2 terus... ehehe...jadinya tergantung sikon aja wkwk..
Q: apa nanti ini happy ending? rencana brapa chap?
A: wah, reyn juga belum tahu nih chinguu... hehe... tapi untuk ending reyn akan berusaha memberi yang terbaik *doakan yaa
Q: Feelingku salah nih, aku pikir chanbaek bakalan ketemu pas di kedai.
A: hehe.. anda kurang beruntung chinguu...*tengok atas..
Q: Tapi kasian kaibaek nih min! Nanti kalo kai tau tuh anaknya udah ama chanyeol gimana ya :'(
A: hmm... ditunggu saja ne xD
Q: Hahaha intinya yang terjadi pada anak itu sebenernya kesalahan orangtua sih.
A: wah benar chinguu *keprok2... semoga mereka akan tobat dan mendidik yang lebih baik hehe
Q: Emng Jongin ngapain sih chingu di Kanada?
A: Jongjong belajar trus bantu appa-nya ngelola perusahaan disana chingu...dia ditahan sama appany
Q: next chapt adain krisbaek juga dong. krisnya kok dilupakan :( kasian kan hikss
A: *lirik atas *ekyaaa
Q: dannn saya pngen xiumin keluar disini soalnya dia adalah ibu yang jjang! *kibarbendera Dae jadi anak yg..
A: okeee,, ditunggu yah.. :3 *kibar bendera gambar bakpao
Q: Sifat jongsoo menurun dari siapa sih ?
A: siapa ya? *garuk2 pala ._.v hehe.. Reyn juga bingung
Q: jangan terlalu menekankan bentuk muka jongdae, suka bikin sedih T...T itu aja sih. keep writing ya author-nim :)
A: hehehe... maafin reyn ya *bow... udah reyn hilangkan kok :).. coba dicheck.. klo masih ada boleh protes wkwk.. ehya, klo berpipi bakpao gimana chingu? Setuju tak? ehehe
BIG THANKS TO ALL
.
.
.
[zoldyk] [baexian ree] [Guest1] [sehunpou] [KaisooSAN] [byunchanyeol] [Bubble Tea 137] [parklili] [Shallow Lin] [dorekyungsoo93] [Henry Park] [ryanryu] [dwiihae] [Byun Ryeokyu] [Guest2] [Majey Jannah 97] [park min mi] [BluePink EXO-XOXO-COUPLE] [fuawaliyaah] [] [TrinCloudSparkyu] [kyeoptafadila] [bellasung21] [baekggu] [strawbaek] [Ai Rin Lee] [byuntae92] [rifdafairuzs] [ChanBaek] [NS Yoonji] [septhaca] [lee chan hyun] [FujiwaraYumi24EXO] [Dhea485] [Park Do Myon Zi Tao] [SMayanti] [byun najla] [exindira] [fansyie] [10100Virus][ ] [Yeollbaekk] [Samaran] [HappyBaek99] [Mey Hanazaki] [sapphiregirl] [Yunjou] [gyusatan] [yixingcom] [mery leonahizhiz] [fera950224] [Park FaRo] [Oh Lana] [RapByun] [BubbleBlack13] [younlaycious88] [] [miftahul jannah 37604] [indaaaaaahhh] [minbyuliee] [rizka0419] [] [Anggi32897] [HChY] [parkchanbyunbaek] [Ovihyunee] [FitraBela] [Chan1916] [ByunDO] [vionaaaH] [rpnapcy] [ohsehun94] [raul sungsoo12] [sephiasparKyu] [salsabilajum] [icha likepachulsaklawasenoother] [a-Lya KkamjongKai Telepoters] [srhksr] [nur991fah] [Nisa0517] [Minaaa] [exojr] [arr] [pungky94] [firelight92] [Syifa Nurqolbiah] [azizozo] [blacksoda] [Wu Fanli] [ys] [DJ 100] [byuyun92] [bekyolship] [jongdear] [eggy rizqianarizqan] [Song Min Kyu] [bubbleLu] [Keys] [adindanovita sari 3]
.
.
.
REVIEW
