Tino masih terdiam, memandang calon majikannya dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, dari atas ke bawah lagi. Berwald Oxenstierna berumur kira-kira 10 tahun di atasnya, tinggi besar, badan dan lengannya cukup kekar, terlihat jelas dari kaos putih yang dikenakannya, lelaki itu memakainya dipadu dengan sepasang . Wajahnya yang tampan tertekuk kaku, alisnya berkerut, di dagunya terbentuk lapisan tipis janggut yang belum dicukur, matanya yang tajam berkantung, menandakan lelaki itu sudah tidak tidur dalam waktu yang cukup lama.

"Hei... Hei..." Pria itu menegur Tino yang terdiam. Tiba-tiba, wajah Berwald muncul di depan mata Tino,

"Kamu tidak apa-apa?"

"Hiiiiaaaa! Ma... Maaf...! Aku melamun..." Sedak Tino gugup

"Hn... Masuklah..." Berwald membuka pintu lebih lebar, membuka jalan bagi Tino untuk masuk

"I... Iya...!" Tino mengangkat lagi kopernya dan berjalan dengan terpogoh-pogoh memasuki rumah mewah itu, tiba. Berwald menurunkan anjing kecilnya, yang langsung sibuk mengendusi kaki Tino, dan mengulurkan tangannya kepada Tino,

"Sini..." geramnya pelan

"Hee... Eeeh...?"

"Kopermu... Biar kubawakan..."

"Ti... Tidak apa-apa Pak! Biar kubawa sendiri!"

Berwald mendengus, "Rumah ini besar... Nanti kamu kelelahan duluan..." Pria itu menyambar koper Tino dan berjalan duluan,

"Te... Terimakasih Pak!"

'Huaaah... ternyata dia baik juga...'

"Jangan panggil aku 'bapak' aku risih..."

"Ah i... iya!"

"Panggil aku Berwald... Ah... Taruh saja mantelmu di gantungan itu..." Berwald menunjuk sebuah gantungan untuk mantel di sebelah pintu masuk

Tino melepas mantel tebalnya dan menggantungnya serapi mungkin.

Anjing kecil milik Berwald, menyatakan pendatang baru ini aman, menggongong dengan ceria dan berlari-lari mengitari Tino, minta diperhatikan. Pemuda itu berlutut dan mengelus-ngelus kepalanya yang putih dan halus sambil tertawa akan tingkah manis anjing itu,

"Dia lucu sekali yaaa~"

"Namanya Hanatamago..."

Tino melihat ke arah Berwald lagi, agak bingung dengan nama Asia yang terkesan asing di telinganya,

"Putra - putraku yang menamainya... Katanya dikasih tahu oleh temannya yang orang Jepang... Artinya bunga telur... Atau... telur bunga ya...?" Berwald menggaruk kepalanya, sekilas, wajahnya terlihat memerah

Tino melongo, ternyata ada sisi dari lelaki menyeramkan ini yang manis juga! Tino bahkan mulai tidak begitu takut dengan sorot matanya yang tajam dan suaranya yang dalam,

"Ayo kita ke kamarmu dulu... Hari sudah mulai siang... Aku harus bekerja..." Kata Berwald sambil mengangkat koper Tino lagi

"Iya!" Tino berdiri dengan cepat, Hanatamago bergelung nyaman di pelukannya.

Seperti yang diduga Tino, interior dalam rumah itu sangat mewah dan klasik. Seluruh lantainya berlapis marmer abu-abu yang mengkilat,

"...Ah... Ini ruang tamu ngomong-ngomong..." kata Berwald pelan

Ruang tamunya, Tino berpikir, benar-benar berkelas, sofa empuk berwarna hitam, meja kopi kaca, karpet empuk berwarna abu-abu, vas tinggi berisi bunga kering di sudut dan sebuah lemari kaca yang menyekati ruangan itu berisi bermacam-macam patung-patung kristal. Simple, tapi sangat elegan.

"Ayo, kita kedalam..."

Setelah menaiki beberapa anak tangga, mereka sampai di sebuah dapur yang indah dengan meja makan kaca dan kursi-kursi hitam yang serasi dengan perabotan di ruang tamu tadi, namun terlihat sudah jarang dipakai, melihat di meja makan dan tempat sampahnya hanya terlihat sisa-sisa mangkuk mie instant, kotak-kotak makanan take-out, kulkas kosong, dan meja counter dapur yang terlihat sudah lumayan berdebu

"Ini dapur... Maaf... aku belum merapikan sisa makan malam..."

"A... Ah! Tidak kok! Nanti aku akan membereskan semuanya! Tenang saja!"

Berwald hanya memandangnya dan mengangguk, lalu membuka kunci sebuah lemari dibawah meja counter, memperlihatkan mangkuk-mangkuk kecil untuk makanan anjing, shampoo khusus anjing, sekotak makanan kering untuk anak anjing, beberapa kaleng makanan anjing, dan sebungkus snack untuk anjing juga,

"Ini tempat makanan Hanatamago... Harus selalu dikunci agar dia tidak mengobrak abrik semuanya... Makanannya diberikan dua kali sehari, pagi dan malam, jangan beri dia sisa-sisa makanan manusia... Terlalu asin... Bulunya bisa rontok..."

Tino mengangguk paham dan terkikik sambil mengelus anjing kecil di tangannya

Berwald membuka sebuah kamar kecil di belakang dapur dan memperlihatkannya kepada Tino,

"Ini tempat mesin cuci dan dryer kurasa kamu bisa mempelajari sendiri cara pakainya..."

"Baik.."

"Ayo keatas" Berwald membawa koper Tino yang cukup besar dengan sedikit kesulitan menaiki tangga marmer besar yang berbentuk spiral, sebelum naik, Tino menurunkan Hanatamago yang segera berlari menuju sebuah keranjang di sudut dapur yang berlapis selimut-selimut bayi empuk dan bergelung di sana nyaman,

"Rumah anda indah ya! Pa... maksudku... Berwald..." Kata Tino, mencoba mengisi kekosongan

"Hmm... Ini hanya rumah lama yang kuno peninggalan keluargaku..."

"Tapi perabotannya sangat modern! Keren sekali!"

"Terimakasih... Aku yang mendesign isi rumah ini..."

"Su... Sungguh...?" Tino yakin rumah ini di design oleh seorang profesional

"Ya... Aku lulusan Interior Design" Ah. Pantas.

"Oooh... A... Apa pekerjaan anda sekarang Berwald?"

"...Aku sekarang hanya mengurus perusahaanku dari rumah... Di waktu luang aku kadang-kadang mengerjakan projek-projek kecil..."

"..."

Tino mengerti sekarang masalah Berwald... Dalam umurnya yang masih dibilang muda, dia telah mencapai segalanya, rumah yang mewah dan bagus, serta sudah berada di puncak kariernya. Tapi setelah kedua putranya pergi, pasti dia merasakan kekosongan dalam hidupnya...

Sesampainya di lantai dua, Berwald membawanya ke dalam sebuah kamar kosong bercat krim dengan sebuah tempat tidur queen size, meja kecil disebelahnya, meja belajar dengan kursi, dan sebuah lemari kayu. Kamar itu berjendela dan berbalkon menghadap kebun yang luas dengan kolam renang dan tempat bermain. Kamar itu juga berhubungan dengan sebuah kamar mandi kecil yang bersih

"Ini kamarmu... Maaf masih kosong, tapi kamu bisa mengisinya dengan barang-barangmu... Kalau ada yang kau butuhkan, bisa kita beli nanti..."

"Ini benar-benar kamarku...?"

"Ya... Kenapa?"

"Tidak... Tapi ini bagus sekali! Terimakasih!"

Walau agak malu mengakuinya, tapi dibanding dengan kamarnya di rumah keluarganya maupun di apartment lamanya, kamar ini jauh lebih besar dan bagus. Berwald menurunkan koper Tino dan mengajaknya keluar kamar lagi,

"Maaf, aku tahu kamu mau membereskan barangmu dan beristirahat, tapi aku ingin memperlihatkanmu seisi rumah ini dulu..."

"Baik! Tidak apa-apa kok!"

Berwald membawanya ke sebuah ruangan dengan perapian kuno. Kamar itu nyaman, dengan sofa-sofa cokelat besar yang empuk, televisi paling besar yang pernah dilihatnya, dan rak-rak buku kayu yang menutupi hampir semua dinding ruangan. Sayangnya rak-rak, meja dan televisi itu sudah mulai berdebu, agaknya Berwald jarang memakai kamar ini,

"Ini ruang keluarga..."

Di salah satu sisi, tergantung sebuah pigura foto besar. Di foto itu terdapat Berwald dengan kedua putranya yang berambut pirang, namun lebih gelap dari rambut Berwald. Yang sulung kelihatannya sudah mencapai usia 17 tahunan, wajahnya tampan dengan sudut-sudut yang halus dan mata yang hijau besar dan tegas, diperkuat dengan alis yang cukup tebal. Si bungsu, kira-kira masih berumur 12 tahun, merupakan jiplakan pas kakaknya dengan mata berwarna biru cerah yang ceria.

Keduanya tampak ceria, mengapit Berwald yang beraut muka santai. Hanatamago juga tampak manis di gendongan si anak bungsu,

"Ini foto putra-putraku..."

"Siapa nama mereka?"

"Ini Arthur..." Berwald menunjuk anak sulungnya, "Dan ini Peter..."

"Putra-putramu... Orangnya bagaimana?"

Berwald kelihatan sangat senang. Dia duduk di salah satu sofa dan mempersilahkan Tino duduk di sebelahnya. Lelaki itu mengeluarkan sebuah album dari bawah meja kaca dan membukakannya kepada Tino

"Arthur usianya 17 tahun... Dia benar-benar dewasa... Anaknya cerdas dan mandiri... Sopan... Selalu juara kelas dan imajinasinya luar biasa... Sekarang dia terpilih jadi ketua OSIS di SMA nya..."

Tino tersenyum melihat majikannya, sinar matanya terlihat sangat bangga akan putra sulungnya

"Peter umur 12 tahun, hampir 13... Baru saja masuk SMP... Anak yang sangat ceria... Berbeda dengan Arthur yang selalu sopan sejak kecil, Peter benar-benar bandel... Setiap hari selalu ada saja ulahnya... Tapi dia anak yang sangat baik..."

Kehangatan tersorot di mata Berwald, bercampur dengan sedikit kesedihan yang ingin sekali Tino hapus dari mata biru elektrik Berwald, pria itu membolak balik album foto itu, memandangi wajah-wajah kecil yang tersenyum dengan kerinduan yang dalam

"Ah... Ayo kita jalan lagi..." Berwald menaruh album foto kembali ke bawah meja dan beranjak dari tempat duduknya,

"Ya!"

Berwald memperlihatkan tempat-tempat peralatan untuk membersihkan rumah dan kamar-kamar tidurnya juga bekas kamar tidur Arthur dan Peter. Lalu mereka menuju lantai tiga,

"Ini studioku..." Berwald membuka pintu, menunjukan sebuah kamar besar yang berisi bermacam mebel-mebel kayu buatan tangan, kertas-kertas desain serta peralatan-peralatan yang disusun rapi dalam sebuah rak di sebelahnya ada meja kerja dengan sebuah komputer canggih dan bermacam-macam alat-alat yang tidak dikenal Tino. Di sudut ruangan, terdapat kanvas-kanvas dan peralatan melukis,

"Huwaaa... Anda juga suka melukis Berwald?"

"Ya... Untuk mengisi waktu..."

"Hoooo..."

"Di antara kamar-kamar rumah ini, kau tidak perlu merapikan kamar ini... Bisa repot kalau aku kehilangan sesuatu... Oh, kebun juga tidak perlu kau urus... Tukang kebun datang seminggu sekali... Kurasa hanya itu yang perlu kuberi tahu... Kau ada pertanyaan?"

Tino menggelengkan kepalanya dan tersenyum ceria pada Berwald,

"Terimakasih karena mau menerimaku! Aku akan berusaha bekerja dengan baik! Mohon bantuannya!"

"Ya..."

TBC

Omake

Menjelang terbenamnya matahari, seorang pemuda berseragam sekolah duduk di tengah ruangan OSIS SMA World Academy yang kosong, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara OSIS telah pulang berjam-jam yang lalu, namun pemuda itu, selaku ketua OSIS wajib menyelesaikan dokumen-dokumen pekerjaan di komputernya, walau sudah kelelahan. Alisnya yang tebal berkerut, rasanya pekerjaan tidak kunjung selesai. Di men-save daftar anggaran ekstrakulikuler yang sedang dikerjakannya dan bersandar ke kursi putarnya yang nyaman sambil menghela napas lelah.

Pemuda itu menyeruput teh dingin yang dibikinnya sejam yang lalu dengan lemas. Tiba-tiba, sebuah suara langkah yang berisik mendekati kantornya dan pintu dibuka secara kasar,

"OOOIII ARTHUR JELEK! BELOM SELESAI JUGA KERJAANNYA YAAA? KASIAN DEEEEHH~" Seorang anak lelaki masuk dan berteriak nyaring padanya

Pemuda itu, Arthur Kirkland, menaruh cangkir tehnya dan menjawab anak itu, "Peter... Anak SMP kan enggak boleh masuk gedung SMA..."

"Hehehe Aku cuma bilang kalo aku adikmu ke penjaga terus dia membiarkanku masuk tuh!" Peter Kirkland cuma cengengesan di depannya

"Hmph... Lantas... Ada masalah apa kamu kesini?"

"Hnnn Hnnn~ hehe kamu udah baca SMS papa belooom~?" Peter berlari kecil ke depan meja Arthur dan menyandarkan badannya di sana

"SMS dari Berwald?" Arthur mengecek kantongnya, untuk mengambil handphone nya

"Aku enggak bawa handphone, ketinggalan di dorm memang dia bilang apa?" tanya Arthur ke adiknya

"Sudah kuduga~ Papa kirimin foto Hanatamago lho~ lucu bangeeet" Peter menyerahkan handphone nya ke kakaknya

"Oh iya... haha...Dia enggak gede-gede ya..."

"Hehehehe... Eh ngomong-ngomong katanya sekarang di rumah ada pembantu rumah tangga lho!"

Arthur menatap adiknya kaget, "Pembantu? Serius? Berwald kok mau?"

"Katanya dipaksa Oom Denmark... Habis papa katanya bahaya kalo ditinggal sendiri..." Nada suara Peter yang ceria mulai menurun

"Ya... Berwald sedih sekali sih waktu kamu pergi..."

"Iya! Tapi kayaknya orang ini lumayan kok! Kata oom dia teman lamanya! Pasti bisa menghibur papa!"

Arthur tersenyum manis melihat sikap optimis adiknya, pemuda itu mematikan komputer dan bangun dari kursinya. Ia merenggangkan punggungnya sampai berbunyi krek dan membawa cangkirnya ke wastafel untuk dicuci,

"Hei Peter, kamu enggak pulang ke dorm SMP? Sudah lumayan sore kan?"

"Ah iya! Aku ke sini sebenarnya pengen numpang nginep di dorm Arthur lho!"

"Hee? Kenapa?"

"Habis kamarmu gede~ Tempat tidurnya gede~ Ada shower sendiri~ Enaknya yang jadi ketua OSIS~"

"Peter" Arthur berkata tegas, "Kenapa kamu tiba-tiba mau nginep?"

Peter cemberut dan mengalihkan pandangannya, "Habis... Raivis malam ini mau belajar untuk ujian penting besok... Aku enggak mau ganggu... Dia kan udah kelas tiga... Kalau aku di sana nanti ganggu..." Wajah anak itu memerah dan menatap kakaknya pelan-pelan

Kakaknya tersenyum, "Yaa~ mau gimana lagi... Boleh saja kamu nginep disini tapi gangguin Francis terus ya!"

"Hehehehe gangguin wakilmu? Boleh nih?" tanya Peter,

"Sampai puas!" Arthur tertawa sambil mengunci pintu kantor.

Kedua kakak-adik itu berjalan bergandengan tangan menuju asrama sambil tertawa dan bercanda sepanjang perjalanan, tidak melihat sosok hitam yang mengikuti mereka lalu menghilang dalam bayangan gelap...

END

A/N

selesai chapter 2~ xD seneeeng banget rasanya nulis chapter ini~ ^_^

Ini masih terkesan filler yaa? Cuma pertemuan pertama Berwald dan Tino~

Errmm... saya bingung si Tino manggil Berwald apa, secara mereka jelas2 enggak tinggal di Jepang gitu, tau dari mana gitu dia panggilan –san? Jadinya saya buat dia manggil Berwald ajah (Dengan alasan yang sama Norway enggak manggil Denmark anko)

Cuma Hanatamago ajah namanya masih sama, anggep aja Arthur temenan sama Kiku dan yang dia nanya pendapat Kiku soal namanya :3 Hehehe maaf kalo Arthur ama Peter OOC yah hubungannya tapi mereka di cerita ini emang kaka-adek yang rukun walau suka berantem2 btw Raivis=Latvia

Gimana menurut kalian ttg chapter 2 ini? OOC? Jelek? Bagus? Kalau ada nasihat dan saran mohon dikasi tau yaaa~