'PIP PIP PIP' Suara jam weker berwarna putih polos berbunyi pelan di tengah pagi yang dingin. Sang empunya dengan malas menyembulkan kepala dari lapisan selimut tebal yang hangat dan meraba-rabakan tangannya ke arah meja kecil di sebelah tempat tidurnya.

'PIP PIP PIP PI-' Dengan satu hentakan mulus dimatikannya jam yang sudah mengganggu tidurnya yang lelap.

"Huaaaaaahm..." Tino Väinämöinen menguap dan mengusap matanya, berusaha menghilangkan kantuk yang masih bersarang. Setelah menggeliat dan meregangkan kedua tangannya, pemuda itu mengeluarkan kakinya dari dalam selimut dan menyentuhkan kaki telanjangnya ke lantai yang dilapisi karpet berwarna kelabu, mencari-cari kemana gerangan sendal berbulunya yang ditanggalkannya tadi malam.

Tino memandang sekeliling kamar yang telah ditinggalinya selama tiga bulan dan tersenyum senang melihat sebuah barang baru yang berdiri di sudut kamarnya. Sebuah rak buku modern yang tebuat dari papan-papan kayu berwarna krim halus yang disanggah dengan dua buah tiang besi tipis. Walau baru berisi dengan beberapa buah buku, tapi menurut Tino rak ini keren sekali. Titik.

Saat Tino bilang pada Berwald tentang hobinya, yaitu membaca, Berwald menghadiahi rak yang merupakan produk baru perusahaannya ini dan menambah gajinya beberapa puluh dollar. Khusus untuknya membeli buku yang diinginkan.

Ah... Berwald... Tino yakin dia adalah majikan paling baik di seluruh dunia. Setelah mengenal lelaki itu lebih jauh, ternyata Berwald Oxenstierna sama sekali tidak seperti yang dikiranya dulu. Memang tatapan dan ekspresinya selalu tegang dan tajam, yang membuatnya ditakuti oleh orang (Tino yakin tukang pos yang kemarin datang hampir kencing di celana saat berhadapan dengan majikannya). Tapi Tino yakin sebenarnya Berwald hanya pemalu dan sulit mengekspresikan diri. Kalau mau dibilang, lelaki tinggi besar itu sebenarnya lembut dan baik hati.

Tino sadar bahwa bibirnya yang tipis melengkung membentuk sebuah senyuman lembut. Tidak disangka memikirkan majikan yang dulu ditakutinya bisa membuat hatinya berbunga-bunga kini.

"Ah! Aku harus bersiap-siap!" Pemuda itu berlari ke kamar mandi pribadinya. Setelah mencuci muka, menggosok gigi, dan mengganti piamanya, Tino berlari menuruni tangga menuju dapur dan segera menyeduh sepoci kopi panas untuknya dan Berwald,

Kegaduhannya rupanya membangunkan sesosok mungil yang bergelung di keranjangnya. Hanatamago menguap dan menggonggong riang pada Tino,

"Selamat pagi Hana!" Anjing kecil itu menggosok-gosokan kepalannya yang halus ke kaki Tino dan mendengking manja, meminta perhatian dan sarapan dari pemuda itu,

"Ahahaha... Iya... Iya... Lapar kan?"

Seakan mengerti pertanyaan Tino, Hanatamago menggonggong sekali.

Berwald turun dari tangga saat Tino sedang berlutut memberi makan Hanatamago di bawah meja dapur seperti biasa,

"Ah! Selamat pagi Berwald! Kopi seperti bi...Ah...!"

Tino tercenggang saat menatap majikannya. Lelaki tinggi itu tidak memakai kaus dan celana jeans yang biasa dikenakannya, tapi dia mengenakan pakaian kemeja bergaris dan dasi, serta setelan celana dan jas berwarna kelabu tua. Perlukah diulang lagi? Yak... Berwald memakai jas. Hasilnya? Tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

"A...A...hhhh... Mau kemana hari ini...? A.. Aku jadi kaget..." Sedak Tino sambil menuangkan secangkir kopi hitam yang mengepul dan menyodorkannya kepada Berwald

Berwald merapikan dasinya dan dan duduk di salah satu kursi makan yang berwarna hitam, sambil menyeruput kopi pelan, dia berkata

"Hmm... Ke sekolah anak-anak... Hari ini pembagian rapor..."

Tino menuangkan kopi untuk dirinya juga dan setelah mencampurkan gula (lima sendok) dan susu, menghirupnya nikmat,

"Huaa... Ternyata begitu ya! Tapi... Rapor kan seingatku tidak harus diambil oleh orang tua...?"

"Arthur memang tidak... Yang jadi masalah Peter..."

"Hee? Ada apa dengannya?"

"Telepon yang waktu itu..."

Tino menutup mata, berusaha mengingat deringan telepon yang diangkatnya beberapa hari yang lalu

FLASHBACK

Deringan telepon memecah keheningan siang itu. Saat itu, Tino dan Berwald tengah menikmati makan siang yang telah dimasak Tino hari itu. Saat Berwald beranjak, Tino menghentikannya,

"Aku saja yang angkat! Berwald teruskan makan saja"

"Hmm..."

Pemuda itu berdiri dan mengangkat telepon cordless di atas meja dapur, dan memasangnya ke loudspeaker

"Ya? Dengan kediaman Oxenstierna"

"Heeee? Siapa niih? Papa mana lho?" Terdengar suara nyaring seorang anak lelaki yang suaranya jelas belum pecah,

"..." Tino melongo, Berwald tersedak air yang sedang diminumnya

"Woi! Balikin handphone ku! Dasar bocah iniiii~~~" Tiba-tiba sebuah suara seorang pemuda memecah keheningan, terdengar juga suara-suara perlawanan dari speaker, agaknya handphone itu memang sedang diperebutkan

"Aaaahhh~~~ Arthur jeleeek! Aku mau ngomong sama papa!"

"Enggaaakk! Kalo kamu yang ngomong nanti kamu bohong!"

"Enggaaaaaak! Aku gak bakal bohong koo!"

"Enggaaaaaaaaak! Kasih aja deh! Ini urusan orang dewasa!"

"Enggaaaaaaaaaaaak! Emang kamu udah dewasa? Aku juga bisa kok bilang sendiri sama papa!"

"Alaaah udah sana kamu nonton TV aja! Biar aku yang bicara sama Berwald! Alfred! Alfred kamu dimana? Ambil dong ini bocah satu!"

Lalu terdengar suara seorang pemuda lain, "Ah? Arthur kamu memanggilku? Ada apaaa? HERO sudah datang!"

"Aduuuh berisik deh ini dong lepasin handphone ku dari bocah ini! Aku harus ngomong penting sama Berwald!"

"Aku bilang aku mau ngomong sama papa! Papaaaa~~~ Bisa denger aku gaaaak?"

"Heee? Jadi apa yang harus aku lawan? Ada yang gangguin Arthur?" tanya pemuda satu lagi telmi

"Gaaaahhhh gak ada yang bener dehhh! Aku bilang-PIP tut tut tut tut tut..." telepon terputus. Keheningan kembali di kamar makan itu,

"Ahaha... Jadi itu putera-puteramu ya Berwald...? Ahaha..." Tino tertawa canggung. Disangkanya putera-putera majikannya adalah sepasang anak lelaki yang tampan dan sopan bagaikan bangsawan. Ternyata mereka hanyalah anak-anak biasa yang ceria dan suka bertengkar ribut,

Berwald menutup mukanya dengan tangannya, terlihat telinganya memerah malu atas tingkah anak-anaknya, "Dasar... Sebenarnya anak-anak itu mau bicara apa sih...?"

Tino tersenyum, walau berkata begitu, tapi di ujung bibir Berwald melengkung tipis, membentuk senyuman kecil, "Kelihatannya... Mereka anak-anak yang bersemangat ya...?"

Berwald memasang kembali ekspresi tajamnya dan menghela napas, "Terlalu bersemangat..."

"Ahahaha..."

Majikannya menyelesaikan makan siangnya dan menaruh piring dan mangkoknya ke dalam wastafel, "Tino... Aku mau telepon anak-anak itu lagi... Teruskan makan siangmu..."

"Ya.. Baik..."

Berwald lalu beranjak naik ke tangga dan hilang dari pandangan Tino.

END OF FLASHBACK

"Oh... iya iya iya... Memang ada perlu apa?"

Berwald mendengus dan menghirup kopi panasnya lagi, "Peter bikin masalah dengan anak-anak kelas tiga SMP..."

"Ha? Apa dia tidak apa-apa?"

"Hmmph... Yang apa-apa sih anak-anak kelas tiga itu... Mereka mengepung dan mengganggu Peter dan temannya. Sepertinya mengatakan hal yang kelewatan. Peter kalap dan menghabisi mereka dalam satu detik."

Mata Tino membelalak, "Heee? Peter sekuat itu kah?"

Berwald tersenyum kecil, mata birunya berkilau bangga, "Yah... Anak itu memang sejak kecil seperti alat tempur..."

Setelah meletakan cangkir teh yang telah habis, Berwald beranjak dan memakai jasnya yang tergantung di kursi, "Aku pergi dulu..."

"Iya! Semoga harimu baik!"

"Hmm..."

Tino membawakannya mantel tebal milik Berwald sampai ke pintu rumah dan membantunya mengenakannya, cuaca saat itu mulai mendingin lagi,

"Tino..."

"...Ya...?"

"Anak-anak itu akan ikut denganku pulang untuk liburan semester... Kami akan sampai ke rumah nanti malam... Bisakah kau membersihkan kamar Peter dan Arthur? Dan jangan lupa menambah porsi makan malam... Uangnya ada di tempat biasa..."

Wajah Tino mencerah, sudah lama dia ingin bertemu dengan kedua anak Berwald!

"Tentu saja! Akanku bereskan!"

Berwald tersenyum tipis, "Hmm... terimakasih... Kau sudah bekerja dengan baik..."

Tiba-tiba, wajah Berwald mendekat kepada Tino,

"HEEEEEE~~~ Jangan-jangan aku mau dici... KYAAAA aku belum siaap~~" Jerit batin Tino, sekujur tubuhnya gemetar dan wajahnya memerah.

Tapi, ternyata Berwald hanya menempelkan bibirnya halus di kening Tino, mengecupnya dengan cepat, membelai rambutnya yang halus dan menepuk pundaknya pelan,

"Berjuanglah"

Dengan itu Berwald meninggalkan teras dan menuju mobil mewahnya yang terparkir di garasi. Saat mengeluarkan mobil dari pekarangan rumah, Berwald menganggukan kepalanya pada Tino yang dibalas dengan ayunan tangan antusias oleh pemuda itu,

"Hahaha... Aku berpikir terlalu jauh ya..." pikirnya sambil mengelus tempat yang tadi dikecup oleh Berwald. Rasanya bibir halus itu masih menempel di dahinya.

Tangannya menutupi mukanya yang masih merah padam,

"Aduuuuuh apa-apaan siihh... Masa... Masa sih... Jangan-jangan Berwald... Kyaaaaa~~" Oke, dia kedengaran seperti anak gadis ABG... Tapi Tino tidak peduli, hatinya masih berdebar membayangkan majikannya


Tino berjalan pelan di sebuah pusat perbelanjaan. Kedua tangannya penuh dengan kantong-kantong belanja yang masing-masing cukup berat. Ia berniat akan membuat makan malam yang spesial untuk menyambut Arthur dan Peter.

Pagi ini dihabiskannya dengan membersihkan debu, mencuci dan mengganti sprei dan sarung bantal, serta mengepel kamar-kamar Arthur dan Peter. Kamar Arthur lumayan mudah, karena kamar pemuda itu memang sudah rapi dan perabotannya simpel, beda dengan kamar adiknya yang memang penuh dengan bermacam-macam mainan yang sudah tertutup debu setelah 6 bulan ditinggalkan oleh pemiliknya, dan juga dilengkapi oleh kasur bertingkat dari kayu yang bersuara menyeramkan saat dinaiki. Sulit sekali saat mengganti sprei dan mengebutkan kasurnya supaya tidak berdebu. Namun kini semua sudah beres dan waktunya berbelanja untuk makan malam.

Kini dengan sedikit kesulitan, Tino mengangkat belanjaannya menuju halte bus yang terletak di depan pusat perbelanjaaan tersebut. Tiba-tiba sebuah suara yang renyah memanggilnya,

"Tino~~~! Hey!" Tino berbalik dan berhadapan dengan Denmark dan Norway,

"Hey! Apa kabar? Kita suka bertemu di tempat yang tidak-tidak ya?"

"Denmark! Sudah lama kita tidak bertemu!"

Norway seperti biasa hanya mengangguk sopan,

"Ah kalian sedang apa disini?" Tanya Tino

"Hahahaha~~ Sudah jelas doong lagi nge-date! Nge-date! Kami kan mesra!" tawa Denmark sambil menepuk pundak kekasihnya keras

Mulut Norway melengkung kaku dan menyikut tulang rusuk pacarnya, tidak kalah kerasnya dari tepukan Denmark tadi, "Den-bodoh... Tidak tahu malu..."

Denmark masih tertawa sambil memegangi dadanya, "Hahahaha dasar Norge malu-malu" Sebuah sikutan kembali melayang ke tubuh Denmark, Tino hanya tertawa canggung, "Kamu lagi apa Tino? Belanja?"

"Ya! Katanya malam ini Peter dan Arthur akan kembali dari asrama untuk liburan semester! Aku akan membuat makan malam spesial!"

"Hee? Bocah-Bocah itu pulang yaa? Hey Norge berarti Ice akan pulang juga dong!"

"...Aku sudah bilang tadi malam... Bodoh..."

"Hahahahha~ Masa? Hey Tino! Aku tahu kamu repot, tapi kamu mau mampir ke café dulu minum kopi? Aku mau bicara denganmu!"

"Eh? Masih ada waktu sebentar sih... Tapi aku enggak ganggu nih?"

"Enggak! Norge juga mau pulang kok dia ada kerjaan... Gimana? Mau?"

Setelah Norway pamit untuk pulang, Denmark dan Tino, kopi di tangan, duduk di pinggir air mancur di tengah mall yang sedang mereka kunjungi. Saat terduduk, ekspresi ceria Denmark berubah serius,

"Hey Tino..."

"Hmm?" Tino yang sedang menghisap Latte panasnya tersentak akan nada tegang Denmark,

"Aku ingin bertanya... Kau betah bekerja dengan Berwald?"

"Ah? Kenapa? Tentu saja aku betah! Berwald orang yang baik sekali!"

"Benarkah itu? Soalnya terakhir kali aku mengirim orang untuk bekerja di rumahnya, mereka melapor kepadaku ingin berhenti karena Berwald 'melakukan hal-hal yang menyebalkan'..." Kata Denmark lesu

"Hal yang menyeramkan...?"

"Kau tahu... Dia punya studio di loteng... Orang-orang itu bilang Berwald suka bekerja di sana hingga larut malam dan bersuara berisik sekali... Suka mengendap di belakang orang dan membuat kaget, dan suaranya menyeramkan"

"Dia kan memang seniman! Tentu saja dia bekerja hingga larut. Ke... Kebiasaannya mengendap itu karena dia... pemalu... untuk memanggil orang... Aku memang sering kaget, tapi sekarang aku terbiasa... Lalu... Lalu..."

"Tino...?"

"Berwald... Bukan orang yang menyeramkan..." Bibir Tino melengkung, wajahnya memerah dan napasnya memburu karena terlalu bersemangat dalam melontarkan kata-kata kepada Denmark

Ekspresi Denmark langsung berubah, tawanya yang riang kembali, "Ahahahahaha... Tidak usah marah begitu! Aku mengerti kok anak itu memang sering tidak dimengerti orang! Tenang, tenang, aku kan besar bersamanya!"

Tino mengangkat alis mendengar Denmark memanggil Berwald dengan sebutan 'anak' jelas-jelas Berwald kurang lebih hampir 10 tahun diatas Denmark. Sudahlah.

"Lalu... Kenapa kau bertanya hal seperti itu...? Aku kaget... Kupikir aku akan dipecat atau apa..."

Denmark tersenyum jahil, "Aku hanya tidak mau kamu menahan diri karena aku temanmu dan Berwald sepupuku! Cuma kalau kamu senang bekerja dengannya aku juga sengan Berwald bisa dimengerti olehmu!"

Wajah Tino kembali memerah, kini karena tersipu malu,

"Eh? Wajah apa itu? Tino~~ Jangan bilang kamu..."

"A... Apaa..? Ke... Kenapa wajahku...?" Pemuda manis itu menutup kedua matanya dengan tangannya,

"Waaahhh tidak kusangka! Tino... Kamu jangan-jangan..."

"Ti... Tidaaak kook... Aku enggak ada perasaan apa-apa sama Berwald... Aku cuma berpikir macam-macam setelah aku diciumnya tadi pa..."

"KAMU DICIUM BERWALD?" raung Denmark senang

"Aduh... Salah ngomong..."

"JADI KAMU HABIS DICIUM BERWALD? KALIAN JADIAN?"

Tino menepuk dahinya karena pusing, "Enggak! Berwald mencium dahiku! Dahi lho! Jidat! Itu cuma pernyataan terimakasih kok!"

Omongan Tino tidak didengar oleh Denmark yang sibuk tertawa sambil memegangi perutnya yang kian lama kian sakit

TBC

A/N Veeee~~ Akhirnya selesai chapter duanya :3

Aduh ini cerita ada yang baca gak ya? Abisan yang review cuma dua orang huhuhu :'( (thanks for the reviews ya nana-koyama, Zubei... Jangan merasa tersinggung yaaa)

Btw, saya sukaa banget nulis Arthur-Peter sama Denmark mereka menarik banget untuk ditulis karakternya yaa ^^ Setuju? Setujuuu!

Ada yang merasa alur cerita ini kecepetan gak sih? Saya agak ragu dengan chapter ini -_-v anyway, gimana menurut anda? Bagus? Jelek? Jelek banget? Bagus banget? OOC? Goblok? Troll? Yaudah saya mohon Review yaaa