Arthur Kirkland sedang duduk di sebuah kursi taman yang terletak di halaman gedung sekolah SMP World Academy, menunggu ayahnya mengurus perizinan pulang Peter untuk semasa liburan. Sebuah tas selempang dan tas punggung yang penuh berisi pakaian-pakaian miliknya dan Peter terletak di kakinya. Udara mulai mendingin dan langit mulai menggelap, namun ayahnya belum kunjung datang.
Peter yang juga sudah menunggu bersamanya sedari tadi, telah tertidur lelap di pangkuannya. Arthur tidak keberatan, suhu tubuh Peter hangat dan membuatnya nyaman walau angin musim dingin berhembus.
"Haaa... Berwald lama sekali... Aku bosan..." bisik Arthur sembari asyik mengelus rambut pirang adiknya yang halus. Melihat anak yang biasanya selalu ceria dan tidak bisa diam ini tertidur pulas, hatinya menghangat. Apalagi kalau mengingat masa lalu mereka. Dahulu, hampir tidak mungkin Arthur dan Peter beristirahat dengan tenang. Arthur menggigit bibir dan matanya menggelap saat hatinya terkenang masa-masa penuh kekacauan yang terjadi di masa kecilnya.
Lelap dengan lamunannya, Arthur tidak menyadari adanya kedatangan seseorang di sebelahnya. Pemuda itu tersentak dan berbalik menghadap ke sebelah kanannya, menemukan seorang pemuda seumurnya yang mengenakan sebuah jaket kulit cokelat dan berkacamata,
"Hei Arthur..." Adik kelasnya, Alfred .F. Jones berbisik, melihat bocah kecil yang tengah bergelung tenang di pangkuan kakaknya
"Alfred..." Jawab Arthur pelan. Pemuda itu memalingkan wajahnya dari tatapan mata biru Alfred, berusaha menutupi kedua pipinya yang memerah.
Melihat reaksi Arthur, mulut Alfred melengkung halus membentuk senyuman kecil,
"Kamu... Mau pulang ya?" tanyanya canggung, menyadari tas-tas yang bergelimpangan di kaki Arthur,
"Ya... Ayahku sedang mengurus izin Peter... Kamu sendiri? Libur mau kemana?"
"Mau pulang... Nanti ikut naik bus sama anak-anak lain... Lagi nunggu Mattie nih sekarang..."
"Memang Matthew kemana?"
"Katanya mau pamit sama si Beilschmidt... Soalnya mereka ikut pulang sama si Vargas bersaudara naik mobil kakeknya"
Arthur melongo, "Hah? Ludwig? Ngapain dia pamit sama Ludwig?" mengingat rasanya sekretarisnya yang orang Jerman itu sama sekali tidak ada hubungannya sama adik Alfred. Apalagi semua orang tahu Ludwig Beilschmidt sudah berhubungan asmara dengan Feliciano Vargas, siswa kelas satu dari Italia.
"Bukan bukan... Bukan Beilschmidt yang itu... Kakaknya lho... Temanmu itu"
"Hahaha... Oohh... Gilbert?" Arthur tertawa, teman sekelasnya yang berisik itu memang sedang mendekati dengan Matthew Williams, adik Alfred yang tinggal terpisah dengan pemuda itu dan besar di Kanada. Kelihatannya usahanya sudah berhasil.
Alfred mengangguk kecut. Dia memang belum begitu merestui perasaan khusus adik kembarnya dengan pemuda albino yang berisik itu,
"Kalo Mattie mau pamit sama dia... Aku yakin bakal lama nih..." Tambah Alfred, berusaha melupakan bayangan hal-hal apa yang akan dilakukan si albino sialan itu kepada adiknya yang manis,
"Uuummm... Boleh duduk?" tanyanya pelan
Arthur bergeser sedikit, berusaha agar tidak membangunkan adiknya dari tidurnya yang lelap, dan berkata, "Te... Terserah..." wajahnya makin terasa panas
Senyum Alfred melebar, "Ehehe... Makasih Artie~"
"Hmmph... Sudah kubilang namaku Arthur... Aku benci singkatan-singkatan seperti itu"
"Ahhh tapi kita kan teman baik Artie~ hahhahahaha..." tawa Alfred makin kencang seiring disangkutkannya lengannya ke leher Arthur
"Be... Berisik ah! Lepaskan aku! Pe... Peter sedang tidur!"
Melihat tingkah kakak kelasnya, tawa Alfred berganti menjadi sebuah senyum malu-malu,
"Eh... Artie... Aku boleh ngomong sesuatu?" bisiknya pelan
"Hah? Sejak kapan kamu minta izin dulu sebelum ngomong?" ledek Arthur, mengingat kebiasaan temannya yang selalu ribut kalau bicara. Tapi, saat menyadari Alfred yang hanya duduk dengan wajah tertunduk, kedua tangannya yang gemetar mencengkram keras kedua lututnya, ia sadar bahwa ada yang tidak beres,
"Hei... Kamu kenapa? Masih kesal dengan Gilbert?"
"E... Eh... Enggak... Aku... Mau ngomong..." Arthur mulai agak panik, tidak biasanya Alfred seperti ini! Biasanya anak itu selalu berisik dalam berkata-kata
"Hmm?" Arthur mengelus-ngelus punggung adik kelasnya yang terlihat sangat gugup itu dengan lembut, berusaha membantu mengeluarkan apapun itu yang ingin dikatakannya
"Ermmm... Mmmm... Aku... Aku... Artie dengerin ya..."
"Ya...?"
"Aku mau ngomong ini sebelom kita pisah liburan..."
"Iyaaa...?"
"Aku... Aku selama ini... Sebenarnya..."
"Hmm?" tiba-tiba Alfred memalingkan wajahnya menghadap ke wajah Arthur
"Aku... suka... suka... sama... Artie..." Bisik Alfred, dengan volume yang luar biasa kecil, sehingga Arthur sama sekali tidak bisa mendengarnya.
"Eh...? A... Al... Alfred apa...? Kamu bilang apa?"
"Heeee? Artie gak denger? Masa harus kuulang lagiiii!" Alfred berteriak pelan, supaya Peter tidak terbangun, wajahnya merah padam karena malu yang tak tertahankan
"Ya... Habis suaramu kecil sekali! Bukan salahku dong! Ayo ngomong sekali lagi! Katakan dengan benar!"
"Eeeeehhhh...! Ehh... Ermmm..."
"Ayo! Jangan jadi ciut sekarang!"
"Ah... Oke... A... Aku... Eeee..."
"Apaaaaaaaa...?"
Alfred merapatkan giginya dan mencengkram pundak Arthur kencang,
"Hei...! Apa-apaan sih...? Sa.. Sakit ni...!" dan tiba-tiba saja sepasang bibir halus mendarat mulus di bibirnya sendiri. Alfred F. Jones, adik kelasnya, salah satu teman dekatnya, sedang menciumnya. Menciumnya. Di bibir. Bibir.
Alfred F. Jones sedang mencium Arthur Kirkland.
Alfred .F. Jones sedang mencium Arthur Kirkland.
Alfred .F. Jones sedang mencium Arthur Kirkland.
Alfred .F. Jones sedang mencium Arthur Kirkland.
Secepat kilat Alfred menarik bibirnya dari bibir Arthur, dengan wajah yang masih merah dia berteriak kencang, "Tuh! Itu yang mau kukatakan!"
Mata Arthur masih membelalak, wajahnya merah padam dan jatungnya berdebr kencang. Diangkatnya tangannya dan menyentuh bibirnya yang gemetar,
"A... Apa...? Ma... Ma... Maksudk...mu...? Su... Su..."
Alfred menghela napas tajam dan akhirnya berteriak, "Aku suka padamu Arthur!"
Arthur menutup mulutnya dengan tangannya, mata hijaunya yang besar membelalak dan berkilau kaget. Rasanya jantungnya mau lepas. Sekujur tubuhnya gemetar bercampur senang, malu dan takut. Tiba-tiba seseorang dari jauh berteriak memanggil,
"Alfred~ Kamu disitu yaa? Ayo busnya sudah mau jalan~!" Matthew, adik Alfred berdiri di kejauhan. Rambut pirangnya yang agak panjang berkilau karena mentari senja dan tangannya memeluk erat seekor beruang kutub. Sudah pasti Matthew. Alfred beranjak dari tempat duduknya dan mengangguk kepada Arthur yang masih terdiam,
"A... Ah... Sudah dulu ya... Sampai bertemu nanti... Artie..." Sedaknya gugup, lalu secepat angin anak itu berlari ke arah adiknya yang menunggu di pintu gerbang halaman sekolah tersebut.
Arthur Kirkland masih duduk mematung memandang ke arah Alfred F. Jones berlalu. Tangannya dengan kaku berpindah dari mulutnya kembali ke rambut pirang Peter. Mengelus kepala adiknya yang masih tertidur lelap,
"Anak bodoh... Apa-apaan sih berbuat seperti itu terus langsung kabur?" bisiknya, namun pemuda itu tersenyum kecil malu-malu.
Dari dalam gedung, akhirnya Berwald keluar, dengan sebuah map kertas di tangan dan melambaikannya pada Arthur.
"Berwald sudah selesai..." bisik Arthur
Lelaki itu berjalan mendekati puteranya dan berkata, "Maaf lama... Sekretaris sekolahmu ini cerewet sekali... Peter tertidur ya?"
"I... Iya...! Kamu mau gendong dia terus aku yang bawa barang-barang?" Arthur menjawab, wajahnya masih agak merah karena 'tembakan' dari adik kelasnya itu.
Berwald mengangguk lalu dengan mudah mengangkat putera bungsunya dan mendekapnya lembut. Arthur akhirnya bisa berdiri (kakinya sudah agak kesemutan karena berat anak itu) dan membungkuk untuk mengangkat tas selempangnya dan tas punggung Peter,
"Bisa sendiri?" Tanya Berwald. Arthur hanya mengangguk kaku.
Melihat wajah anaknya yang merah, Berwald memandang Arthur bingung, "Wajahmu merah... Kamu demam...?"
"E...? E...Enggak kok...! Ini... Gara-gara udaranya dingin! Benar! Dingin sekali! Makanya jadi merah..."
"Benar nih...?" Berwald bertanya lagi, khawatir akan jawaban Arthur yang kurang meyakinkan. Lelaki itu dengan mudah memindahkan berat Peter ke satu tangan dan menempelkan tangan yang satu lagi di dahi putra sulungnya, "Enggak demam ya...?"
"A... Aku sudah bilang aku enggak apa-apa kan..? Ayo ah cepat masuk mobil! Dingin tahu menunggumu disitu!" Arthur langsung berjalan agak cepat dan mendahului Berwald. Dari belakang, Berwald bisa melihat telinganya yang juga merah padam,
"Anak itu kenapa sih...?"
Tino duduk sendirian di ruang makan yang sunyi. Makan malam sudah dimasaknya untuk menyambut kedua majikan ciliknya sudah siap di meja. Kini tinggal waktunya menunggu mereka datang. Berwald sudah menelponnya tadi, mengatakan bahwa mereka akan tiba sebentar lagi. Pemuda itu menarik napas dalam dan membuangnya kembali, lelap dalam lamunannya, mengingat pertemuannya dengan Denmark hari itu,
FLASHBACK
"Hahahahaha! Jadi begitu ya? Ternyata itu yang kamu maksud dengan 'dicium Berwald'" sedak Denmark di sela-sela tawanya
"Iya! Denmark jangan salah sangka duluan dong!"
"Hahahahaha maaf maaf! Habis! Si Berwald kan jarang dekat sama orang! Jadi kupikir... Hahahaha"
"Huh!" Jawab Tino cemberut
"Hahahaha tapi enggak kusangka lho Berwald bisa sedekat itu denganmu!"
"Eh?"
"Anak itu memang kalau sudah merasa aman dengan orang bisa sayang sekali lho! Adiknya si Norge saja, si Ice setiap kali ketemu Berwald bisa dicium pipi kanan kiri!"
"Hee... Ternyata begitu ya..." Lagi-lagi, entah kenapa, hati Tino senang, majikannya memang bisa punya sisi-sisi tersembunyi yang manis! Lagipula kejadian tadi pagi berarti paling tidak bukti bahwa Berwald menyukainya 'kan? Walau belom tahu rasa suka yang bagaimana...
"Ya! Kebiasaan mencium dahi itu juga rutin dilakukannya kepada si bocah-bocah alis tebal itu!"
"Oh? Arthur dan Peter?"
"Iya! Hahahaha Tino! Jangan-jangan si Berwald itu menganggapmu seperti salah satu puteranya ya!"
Mendengar gurauan Denmark, rasanya kepala Tino seperti ditiban sebuah batu besar,
"Oh..." Katanya lesu
"He? Kenapa kamu jadi muram begitu?"
"Seperti... 'puteranya' ya..." Aura yang kelam mulai muncul di sekeliling Tino
"Hei! Hei! Kok jadi depresi begitu? Hei! Memang aku salah ngomong apa? Hei? Tino?" tanya Denmark panik
END OF FLASHBACK
"Puteranya ya..." Tino menghela napas berat
"Putera..." pemuda itu membayangkan lagi adegan tadi pagi. Setelah diingat memang sikap Berwald sama sekali tidak mencerminkan perasaan romantis, melainkan lebih seperti seorang ayah yang menyemangati anaknya.
"Kalau dipikir... Usiaku dan Berwald berbeda 10 tahun... Yaaaaaaah... Memang enggak mungkin yaa~~ Aku memang berpikir terlalu jauh... Apa lagi dia sudah punya dua orang anak berumur belasan tahun ya..." Tino berpikir sambil membenamkan wajahnya kedalam dua lengannya, kepalanya membayangkan foto keluarga di ruang atas
"Arthur dan Peter kan tidak mirip Berwald ya... Berarti mereka mirip ibunya kah...?"
"Ibunya... Istri Berwald... Kalau dipikir Berwald tidak pernah membicarakannya ya...? Kok fotonya juga sama sekali tidak ada di rumah ini..." Tiga bulan bekerja di rumah ini, baru sekali pikiran itu lewat di kepala Tino. Istri Berwald. Kira-kira wanita seperti apa dia ya?
"Denmark juga enggak bilang apa-apa tentang istri Berwald... Kenapa ya...?Bercerai...?Atau... Beliau sudah tiada...? Hmmm... Jangan-jangan... Arthur dan Peter itu kecelakaan...? Apakah wanita itu meninggalkan Berwald untuk mengurus kedua puteranya? Tunggu... Tunggu... Kalau kecelakaan masa sampai dua kali sih..."
Tino memandang Hanatamago yang sedang asyik menggigit-gigit salah satu mainannya di keranjangnya yang hangat. Anjing itu, sadar bahwa sedang diperhatikan memandang balik dan mendengking manja pada Tino,
"Ahaha... Lapar ya? Tunggu ya, sebentar lagi Berwald datang..." Tino beranjak dari kursinya dan berjongkok di depan keranjang Hanatamago. Pemuda itu mengulurkan tangannya pada si anjing, lalu mengelus-elus bawah rahang Hanatamago. Tak lama ia kembali jatuh dalam lamunan,
"Apa jangan-jangan, Peter dan Arthur beda ibu...? Jadi mereka itu hasil kecelakaan dari dua orang wanita? Ja... Jadi... Jangan-jangan Berwald itu... Pla...Pla... Playboy...?" Tino lalu menghela napas, "Enggak mungkin ah... Lagipula Peter sama Arthur mirip sekali... Rasanya tidak mungkin kalau mereka cuma saudara tiri... Pikiranku memang kejauhan ah..."
Tiba-tiba lamunan Tino terpecah oleh gerungan mobil yang masuk ke pekarangan
"Hua! Mereka datang!" Seru Tino saat mendengar pintu garasi otomatis dibuka. Tino, dengan diikuti Hanatamago, berlari menuju sebuah pintu yang tersembunyi di balik tangga yang menghubungkan ke bagian dalam ruang garasi. Saat di membuka pintu itu, seorang pemuda tampan berambut pirang keluar dari kursi depan mobil. Berwald saa
Tino terpana melihat pemuda itu. Memang dia sudah sering melihat foto pemuda itu baik yang dipajang di dinding maupun di album-album foto. Tapi, saat bertemu langsung seperti ini, anak itu benar-benar beda dari remaja-remaja lain.
Arthur memang tidak begitu tinggi namun tubuhnya ramping dan postur tubuhnya tegap. Caranya berjalan teratur dan rapi, seakan dia telah dilatih untuk berjalan seperti itu sejak lahir. Rambutnya yang pirang dan pendek, meski agak berantakan karena beberapa bagian yang mencuat, berkilau walau hanya diterangi oleh lampu garasi yang redup. Wajahnya tampan, bahkan mungkin agak bisa dibilang cantik. Mata hijaunya yang besar berkilau tajam, menambahkan sebuah aura kebangsawanan yang memancar dari pemuda itu. Walau alis matanya yang jauh lebih tebal dari orang-orang kebanyakan, namun malah menambah aksen kuat di penampilannya yang menarik.
Sementara itu, Berwald turun dari kursi pengemudi dan berjalan ke arah bagasi untuk mengambil barang-barang kedua puteranya.
Saat menyadari keberadaan Tino, Arthur membuka mulutnya hendak memberi salam, akan tetapi anjing kecil yang sedari tadi berdiri di samping Tino mendahuluinya menggonggong sebagai tanda sambutan dan berlari mendekati majikan mudanya yang telah lama tak ditemuinya.
Anjing itu berlari mengelilingi Arthur dan mendengking manja, meminta perhatian dan sentuhan sayang dari sang pemuda bermata hijau. Arthur tersenyum geli dan mengangkat anjing itu dan menggosokan pipi mungil Hanatamago ke pipinya sendiri dan berkata,
"Hai Hanatamago.. Kau kangen padaku ya?"Kata Arthur sementara gumpalan bulu berwarna putih itu asyik menjilati pipi majikannya mesra.
"Hana...?" Tiba-tiba seorang anak lelaki keluar dari kursi belakang sambil menggosok-gosok matanya yang berwarna biru laut. Rambut pirangnya berantakan dan pakaian kelasinya kusut, agaknya ia baru saja bangun dari tidur yang cukup lama di dalam mobil itu.
Peter agak berbeda dengan kakaknya, caranya bergerak dan berjalan tidak sesopan dan seanggun Arthur, namun pancaran matanya yang dalam juga memiliki aura unik yang berkilau.
"Hey... Akhirnya kau bangun juga... Kamu tidur lama banget... Bisa-bisa kamu enggak tidur nanti malam lho..." Sapa sang kakak hangat kepada adik kecilnya yang masih mengantuk
"Huuuaaahhm... Hana... Apa kabar...?" Peter menguap kencang dan menerima anjing kecil yang disodorkan lembut oleh kakaknya. Hanatamago juga langsung menyerang wajah majikan kecilnya dengan jilatan-jilatan basah,
"Tino"
Tiba-tiba Berwald sudah di belakang anak-anaknya, membawa tas selempang milik Arthur dan tas punggung Peter,
"Berwald...! Per... Perlu kubantu?"
"Tidak apa-apa... Tino, kenalkan ini anak-anakku. Arthur dan Peter."
Di depan keluarga paling rupawan yang pernah dilihatnya, wajah Tino hanya memerah dan menganggukan kepalanya malu...
TBC
A/N
Oke... chapter 4 yaah...
Kufufufu coba tebak siapa yang udah berhasil dapet sim sabtu kemareen? Saya! Saya! Kyaaa seneng banget rasanya legaaa ^^ nunggunya luamaaa banget ya itu? Udah pake jalur kursus nyetir ajah berjam-jam gimana yang enggak coba? Kasian...
Heehehe ini chapter agak susah ditulis deh berhubung saya gak pernah nulis adegan-adegan mesra macam begini u_uv gimana menurut anda-anda ini adegan nembaknya Alfred ke Arthur? Cerita mereka berdua gak bakal begitu dalemin sayangnya, soalnya saya berniat mau bikin sequel yang memfokuskan kehidupan Arthur ama Peter di sekolah sama 'masa lalu' mereka hehe...
Kayanya bener ya... Tino makin lama lagaknya kaya otome ala komik shoujo deh... Enggak tau ah... Salah sendiri uke... T_Tv
Makasih ya atas review2nya saya terharu TTATT keep reading dan review terus yaa ^^
