DISCLAIMER
Visual Novel 'Rewrite' by Key Visual Arts 2011, Romeo Tanaka and Yuuto Tonokawa
Fanfic 'Truth Behind of That Gloves' by Sachiya Haruyuki 2014
Suara tak jelas menyelimuti ruangan itu. Entah apakah itu suara televisi yang menayangkan akhir dari sebuah program acara, ataukah suara hujan yang mulai turun.
Lucia tak ingat berapa lama ia berada di sofa, mendengarkan suara-suara seperti itu. Ia hanya duduk di dalam ruangan sepi, dengan berhiaskan cahaya televisi itu. Ia mengingat sesuatu yang tak menyenangkan, lalu memandangi kedua tangannya.
Tangannya, yang selalu dicap 'kotor', tengah bersembunyi di balik sarung tangan putihnya. Dan dengan perlahan, Lucia melepas salah satu sarung tangannya.
"..."
Ia mengarahkannya pada cahaya televisi itu. Terlihat pucat. Tidak. Justru karena cahaya itu, semuanya terlihat demikian. Tak hanya tangannya.
Ia melihat ke arah samping, tepatnya ke arah vas bunga miliknya. Bunga di dalam vas itu adalah pemberian dari Ohtori Chihaya beberapa waktu lalu. Juga terlihat suram karena cahaya itu. Seakan-akan seperti mati.
Dengan tangannya yang tak lagi berselimut sarung tangannya, sangat perlahan menyentuh bunga hidup itu.
"Ini bohong. Bunga tak akan layu, hanya karena aku menyentuhnya."
Memang sebelumnya terlihat berbeda. Namun,
'Sekarang aku tak apa-apa. Aku bukan seperti itu. Lagi.'
Ia mengambil salah satu bunga itu keluar dari vas bunganya. Bunga itu adalah bunga asli, jadi perlahan-lahan ia mulai layu. Dan itu bukan salahnya.
Daunnya gugur. Batangnya mulai menelungkup. Sementara mahkota bunganya menghitam, lalu bunganya kian mengecil.
"T-Tidak... Tidak mungkin... Ini tak mungkin terjadi!"
Ia mengambil seluruh bunga yang lain dengan kasar sampai-sampai vas bunganya jatuh dan air di dalamnya keluar.
*plop*
Suara menjijikan, seperti gelembung racun mengambang keluar dari danau. Bagian dari buket bunga yang ia sentuh terdapat warna kehitaman dari tangannya. Dan perlahan-lahan mulai membusuk.
"Ini... Tidak mungkin... Tidak... Tidak... Ta-Tanganku... Ti-Tidak... 'Kotor'... Lagi..."
Bunga-bunga itu bagaikan kotoran di tangannya sekarang, jatuh perlahan-lahan ke lantai. Layaknya muntahan seorang pemabuk. Tubuh Lucia gemetara, lalu memandangi sumber polusi dari bunga itu, tangannya sendiri. Ia membalik tangannya, melihat telapak tangannya sendiri.
"Iiya... Da..."
Dan dia melihatnya, telapak tangannya yang sama seperti biasanya. Gelap.
Benarkah sama? Ya. Karena ia melihat itu setiap malam di mimpi buruknya. Tapi kali ini,
Adalah kenyataan.
'Akan kuajari kau kutukanku. Akan kuajari kau penderitaanku.'
"IIIYYAAAAAAA DAAAAAAAAAAAAA!"
...
...
...
[Next Day]
~ Kotarou Side ~
Inchou tidak masuk hari ini.
Aku sempat ingin menanyakan hal ini pada Chihaya. Namun urung kulakukan. Menyadari kalau keduanya masih belum berbaikan satu sama lain semenjak terakhir aku, Chihaya dan Kotori menjenguknya beberapa waktu silam.
Hujan telah berlangsung semenjak malam kemarin, dan terkadang juga berangin. Cuaca seperti ini memang tak bisa diduga sebelumnya mengingat ini musim gugur. Ketika cuaca tak menentu, orang-orang biasanya mudah sekali sakit. Mungkin Inchou bisa jadi salah satunya.
Maksudku, tidak mungkin dia...
"Hei, kau mendengarku? Aku bawa ini untukmu."
"O-oh, terima kasih."
Suara seseorang membawaku kembali ke realita. Kupandangi sebentar kursi Inchou yang kosong lalu kembali ke arah Yoshino.
Ia membawa sebuah booklet. Aku harus mencari tahu tentang anak laki-laki dari klub koran saat reuni itu.
"Klub koran membawa booklet ini saat festival kesenian."
Setelah panggilan telpon malam kemarin, yang kudapat adalah nama anak laki-laki itu. Perlu upaya besar hanya untuk mendapatkannya. Dan semenjak mereka tak ingin lagi mengingatnya, aku tak bisa sepenuhnya yakin itu adalah nama yang benar. Jadi untuk memastikannya, aku menelpon Yoshino lagi dan bertanya jika ia memiliki sesuatu yang mungkin berkaitan dengan nama itu.
"Ini benar-benar membantuku. Aku kagum kau bisa mendapatkan semua ini dari sekolah lamamu."
"Kaulah yang memintaku mencari ini. Karenamu aku sampai tidak tidur semalam hanya sekadar membersihkan kamarku."
Mungkin dia memang mengeluh, tapi dia sendirilah yang bersedia mencari ini malam larut. Walaupun takut akan kutukan itu, dia sangat membantuku sejauh ini.
"Jadi, ia salah satu dari bagian editing? Kebanyakan ini adalah tulisan dari murid-murid SMP. Kenapa mereka mencoba menulis tentang filosofi dan kehidupan sosial pada saat itu?"
"Bagaimana aku bisa tahu? Sudah begitu, itu bukan bagian yang harusnya kau baca."
Aku menemukan catatan tambahan si editor di bagian akhir, dengan nama-nama anggota klub koran disana. Dan disana tercetaklah nama yang kudengar kemarin malam di antara murid kelas tiga itu.
"Baraki... Kunihiko... Ini orangnya."
"Baraki-senpai... Hmm... Itu terdengar seperti nama yang kau cari saat ini."
"Jika dia saat itu murid kelas tiga saat kau masih kelas satu, berarti dia dua tahun lebih tua dari kita."
Andai saja ia seumuran dengan Yoshino, mungkin ada informasi tentang dirinya dalam buku tahunan miliknya.
"Apa orang ini hadir saat acara reunimu?"
"Yeah. Dia bilang dia ingin menulis artikel tentang cerita Asahi Haruka."
Dan setelahnya, ia terluka karena kutukan itu.
"Luka apa yang sebenarnya ia alami?"
"Aku belum sempat melihatnya. Tapi mengingat dari apa yang pernah kukatakan dahulu, ada sesuatu seperti papan iklan jatuh tepat di atasnya."
"Papan iklan?"
"Itu saja yang kutahu. Selebihnya kau tanyakan sendiri. Banyak orang yang mengatakan jika papan iklan itu tepat jatuh di kepalanya, atau dia mengalami semacam gegar otak. Tapi aku tak pernah dengar dia meninggal."
"Walaupun itu bisa menjadi akhir cerita yang sempurna jika dia meninggal."
"Yeah. Sejak tak ada yang mengatakan dia meninggal, berarti dia masih hidup."
Aku merasa sedikit bersalah membiarkannya membicarakan ini. Tapi jika aku tak bisa menghubunginya, maka aku tak memiliki petunjuk. Dan jika itu terjadi, aku akan menyerah.
Aku tak suka mengalah. Tapi, aku telah mengganggu banyak orang hanya demi rasa penasaranku. Tidak. Sejak awal aku sudah berpikir ini salahku, mengira kutukan Asahi Haruka itu benar adanya. Dan ini adalah petunjuk terakhirku. Jika ini tak berhasil, maka ini akan menjadi akhir tak peduli aku berhenti atau tidak.
"Kelas tiga, Baraki Kunihiko. Disini kolom nya."
Kolom tersebut sangat penuh dengan tulisan, membuatku terintimidasi bahkan sebelum aku membacanya. Namun membaca judulnya saja sudah cukup menjelaskan apa isi tulisan itu.
"Sepertinya ini memang orang yang benar."
Judulnya adalah 'Garis Batas Antara Cerita Hantu dan Legenda'.
Aku mulai membacanya sepintas, dan mulai menyadari kenapa ia tertarik dengan sesuatu hal berbau gaib. Aku bisa langsung membayangkan orang ini tertarik dengan cerita Asahi Haruka.
Dan, hei. Ada sesuatu tertulis disana. Sebuah nomor telepon.
"Oh ayolah, memangnya ada orang yang mencantumkan nomor telepon rumah mereka di media seperti ini?"
"Mungkin dia ingin berbicara dengan maniak gaib yang lain."
"Sudah begitu, kenapa murid SMP itu sebegitu inginnya menyebarkan informasi pribadi mereka? Ah sudahlah. Sekarang aku hanya tinggal menelponnya saja."
Baraki Kunihiko, anak laki-laki yang menulis artikel tentang Asahi Haruka. Dan sekarang aku memiliki nomor teleponnya. Aku ingin tahu apakah nomor ini masih bekerja atau tidak.
Jadi aku mencoba menelponnya saat jam istirahat.
"Ah, hello... Saya teman sekelas dari Baraki Kunihiko... Ya... Eh?"
~ To be Continued ~
