DISCLAIMER

Visual Novel 'Rewrite' by Key Visual Arts 2011, Romeo Tanaka and Yuuto Tonokawa

Fanfic 'Truth Behind of That Gloves' by Sachiya Haruyuki 2014


"Eh, bukannya tempat ini?"

Rupanya Baraki Kunihiko, seseorang yang kucari-cari bekerja di toko parfait raksasa. Aku tak menyangka aku akan kembali lagi kesini. Di dalam terasa gelap, mungkin karena cuacanya yang saat ini sedang hujan.

Poster di dalam dinding itu mencantumkan nama-nama orang yang tak hanya sanggup menghabiskan parfait raksasa, namun juga mereka yang sanggup menghabiskan parfait super pedas. Nama "Konohana Lucia" dan "Ohtori Chihaya" tercantum paling atas. Mungkin ada beberapa orang yang dicantumkan namanya pada bagian parfait raksasa. Namun tak ada satupun yang mampu menghabiskan si super pedas nya sendiri.

Jujur, Inchou memang terlihat istimewa. Rasanya baru kemarin ketika aku membawa Inchou dan Chihaya kesini untuk berbaikan, dan kemudian bertaruh dengan si parfait super pedas itu.

"Ah, hei! Kau orang yang...!"

"Ha-Hai, aku kesini bukan untuk parfait hari ini. Apakah seseorang bernama Baraki-san kerja disini?"

"Huh? Itu aku. Kenapa kau bertanya?"

Si preman ini, Baraki Kunihiko?

Dia terlihat seperti seseorang yang menyendiri, layaknya preman pada umumnya. Namun dia tak terlihat takut atau apapunlah itu. Jadi mungkin ia tak melihat sesuatu seperti kaca pecah beberapa hari terakhir.

"Aku ingin tanya tentang, apa yang terjadi empat tahun lalu."

"Empat tahun? Tunggu... Jangan bilang..."

Baraki-senpai terlihat tak senang. Jadi dia masih mengingatnya dengan jelas. Sekarang aku hanya perlu mencari tahu sesuatu dari orang ini.

"Aku sangat menyukai makanan pedas, tapi aku juga suka cerita hantu dan legenda terkenal."

Ia melepas apron nya dan duduk pada salah satu kursi lalu berbicara padaku. Ia bergabung dengan Black Spice Alliance saat SMA dan menyebabkan banyak masalah, tapi saat SMP ia hanya anggota biasa dari klub koran. Aku mengambil buku catatanku dan mulai menanyakan beberapa hal.

"Jadi kau menanyakan tentang rumor Asahi Haruka?"

"Aku sedang mencari sesuatu yang baru, cerita hantu yang asing. Tidak seperti Hanako-san yang banyak orang-orang tahu. Lalu suatu hari, seseorang memberitahuku tentang gadis terkutuk bernama Asahi Haruka."

Ia mungkin mendapat keuntungan dari mempublikasikan nomor teleponnya di booklet festival kesenian itu. Baraki-senpai mulai tertarik pada cerita itu segera setalh ia mendengarnya.

"Tapi, kenapa kau ingin tahu tentang itu?"

"Alasannya sama seperti dirimu. Aku penasaran."

"Kau harus melupakannya, demi kebaikanmu."

Ia langsung mengatakan itu. Nada suaranya layaknya preman, namun juga sangat serius.

"Kudengar kau mengalami cedera dan berhenti menginvestigasi cerita itu."

"Sekiranya begitu. Sebuah papan iklan besar jatuh ke arahku. Sepertinya aku sangat beruntung pada saat itu."

"Pa-Papan iklan besar? Aku terkejut kau bisa selamat."

"Sebenarnya jatuh nya tak benar-benar lurus ke arahku, jadi tak terlihat seburuk dari yang dibayangkan. Kalau itu tepat jatuh ke arahku, mungkin aku sudah lama mati."

Jadi, soal cedera parah itu hanya sesuatu yang dilebih-lebihkan saja. Tapi semakin lama ia semakin terlihat khawatir sepanjang pembicaraan. Aku yakin insiden itu pasti sangat mengejutkannya.

"Aku tak mengetahui dengan pasti kejadiannya seperti apa, tapi... Baraki-senpai, apa kau percaya itu disebabkan oleh kutukan Asahi Haruka?"

"..."

Ia menelan ludahnya sendiri, seakan seperti bersiap-siap mengatakan sesuatu berbau emosional. Normalnya, kupikir sangat disayangkan untuk takut dengan yang namanya 'kutukan'. Namun dalam kasus ini berbeda. Dia mungkin mencoba untuk mengatakan itu juga.

"Pastinya sangat menakutkan akan hal semacam itu, tapi apakah itu bisa dikatakan kecelakaan semata?"

"Kalau hanya sebuah papan iklan, ya."

"Jadi termasuk, kaca yang pecah juga?"

"Tunggu dulu. Apa tujuanmu yang-"

"Aku ingin tahu siapa gadis terkutuk itu. Siapa Asahi Haruka yang sebenarnya."

"Apa kau juga, berasal dari klub gaib?"

"Yah, sesuatu seperti itu. Aku berada dalam klub peneliti alam gaib."

"Tak ada alasan lain kecuali kau harus menghentikannya."

"..."

Aku tak bisa mengerti secara logika. Akan lebih beralasan jika ia mengatakan untuk berhenti karena aku tak suka hal-hal berbau gaib. Tapi kenapa justru masuk ke dalam hal seperti ini malah berakibat lebih buruk?

"Orang-orang yang berada dalam sesuatu hal gaib takkan pernah percaya ini adalah kenyataan."

"Baraki-senpai, aku membaca bagian yang kau publikasikan pada saat SMP. Kau terlihat sangat percaya akan hal itu."

"Aku hanya menyukai cerita hantu dan legenda terkenal yang terkesan berbahaya dan menyeramkan. Tapi aku santai-santai saja karena aku tahu itu semuanya bohong. Aku tahu aku masih aman."

"..."

"Akan ada sensasi murahan dalam berpikir seberapa menakutkannya itu jika kau benar-benar dikutuk atau apapunlah itu. Itu hanyalah cara menghabiskan waktu. Tapi..."

"Kau ingin mengatakan, cerita tentang Asahi Haruka itu tidak aman?"

"..."

"Makanya aku berusaha mencari tahu. Sebagai anggota klub peneliti alam gaib, sudah menjadi pekerjaanku untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena itu, tolong beritahu aku. Apa yang kau tahu tentang Asahi Haruka? Dan apa yang terjadi pada Kishida Ryuugo tujuh tahun lalu? Apa yang terjadi pada tahun keempat, kelas satu tujuh tahun lalu? Tolong katakan padaku."

"Hmmm..."

Baraki-senpai menyilangkan kedua tangannya dan mulai berpikir dengan ragu. Dia mungkin merasakan hal yang sama dengan Yoshino. Ia merasa sayang untuk merasa takut karena itu, tapi ia masih ingat apa yang membuatnya sangat terkejut saat itu.

"Baraki! Kau telah melewati neraka Spice Alliace! Berhentilah bersikap takut seperti itu!"

"Ka-Kaichou..."

"Kedengarannya menarik. Aku akan ikut mendengarkan, jadi katakan saja padanya."

Pimpinannya telah lama mendengar dari dapur, dan sekarang ia datang untuk mencoba membujuknya menceritakan ini pada kita. Dorongan itu cukup untuk membuat Baraki-senpai bercerita.

"Ketika aku mendengar tentang cerita Asahi Haruka, aku berniat untuk mencari tahu jadi akulah yang pertama kali mempublikasikan ini."

Dan ia menemukan cerita itu berawal dari 7th Municipal's Year 4, kelas satu. Sama sepertiku sejauh ini. Namun kemudian, ia mendapat informasi bahwa kelas satu sedang merencanakan suatu reuni.

"Aaah. 7th Municipal memiliki tradisi di tiap kelas untuk bertemu kembali setahun setelah lulus. Aku berasal dari sana juga."

Berdasarkan dari manager, reuni ini melibatkan orang-orang yang berada di kelas saat hari Minggu, dimana mereka meminum jus, makan cemilan dan berbicara tentang hal-hal menyenangkan. Jadi Baraki-senpai juga ikut ke dalamnya.

Dan berdasarkan dari Yoshino, hingga hari itu, nama Asahi Haruka dan Kishida Ryuugo tidak diperlakukan sebagai subjek tabu, hingga hari ini. Namun apa yang terjadi pada saat itu merubah segalanya.

"Hari itu sedang hujan, seperti sekarang ini. Aku membawa catatan kecil, beberapa pensil dan tape recorder."

Baraki-senpai berpikir mendiskusikan cerita hantu semacam Asahi Haruka akan menjadi semacam tambahan pada acara saat itu. Ketika ia memasuki kelas, acara itu sudah penuh dengan hura-hura.

"Hello. Aku dari klub koran. Aku ingin mempelajari tentang Asahi Haruka. Adakah yang tahu tentang ini?"

Ketika ia mengatakan itu, sebagian dari mereka menceritakan ini demi kesenangan. Namun beberapa diantara mereka tetap menjaga jarak darinya.

"Cerita tentang Asahi Haruka memiliki korelasi dengan kematian Kishida Ryuugo, jadi mereka mungkin merasa tak enak karena ini. Mereka tak ingin berbicara padaku karena tak ingin membicarakan mantan teman kelas mereka yang meninggal."

Itu terdengar seperti Yoshino.

"Jadi apa yang mereka katakan padamu?"

"Pertama, soal Kishida Ryuugo. Ia berhenti datang ke sekolah hanya berselang satu atau dua minggu setelah ia di transfer, dan mereka mendengar dia meninggal setelah itu."

Mereka mungkin tak begitu dekat dengannya, tapi mengetahui seorang teman kelas meninggal tentu akan menjadi keterkejutan besar bagi mereka. Dan tak mengejutkan seseorang membuat cerita hantu berdasarkan itu.

"Banyak versi dari cerita hantu itu menyebutkan dia mati karena penyakit misterius, atau ada luka memar di sekujur tubuhnya atau sesuatu hal yang lain."

"Apakah diantara mereka ada yang langsung melihatnya?"

"Tidak. Tak ada satupun yang tahu tentang kematiannya di awal-awal. Faktanya, tak ada satupun yang tahu rumah sakit mana ia dirujuk, jadi tak ada satupun yang mengunjunginya."

"Sejak ia meninggal, tak ada cara untuk tak dapat membuktikannya. Semua cerita hantu memang seperti itu."

Jadi teman kelas mereka hilang dan meninggal tanpa ada yang tahu, dan mereka membuat cerita hantu berdasarkan itu. Aku merasa iba pada Kishida Ryuugo, namun aku bisa mengerti itu.

"Lalu bagaimana dengan cerita Asahi Haruka itu sendiri?"

"Tepat saat itu aku bertanya pada mereka dimana ia berasal dan apa yang ia lakukan. Dan mereka mulai mengatakan padaku bahwa Kishida berasal dari panti asuhan, tempat ia bertemu Asahi Haruka.

"Apakah Kishida Ryuugo menggunakan namanya sendiri?"

"Ya. Ia berkata pada mereka nama gadis itu Asahi Haruka, walaupun ia tak pernah mengatakan bagaimana mereka menulis huruf kanji pada namanya."

"Yang berarti tidak ada cara untuk memeriksa apakah ia benar-benar ada."

"Benarkah? Sangat disayangkan sekali."

Manager hanya menghela nafas berat. Tetap saja, itu bukan jadi masalah apakah Asahi Haruka benar-benar seorang gadis.

'Kalau kau mencoba mengetahui Asahi Haruka, kau akan dikutuk.'

Selama kalimat itu terngiang di kepalaku, entah siapa gadis yang memiliki nama itu bukanlah hal yang penting. Tapi itu justru malah memunculkan banyak pertanyaan.

Kenapa mencari tahu seorang gadis yang tak pernah muncul akan menimbulkan hal-hal aneh? Inilah yang memisahkan cerita ini dengan cerita hantu biasa.

"Sejujurnya aku tak berpikir ini masuk akal. Tapi bagian itulah yang membuat legenda terkenal terasa menyenangkan. Jadi..."

"Apa yang terjadi selanjutnya?"

Baraki-senpai merasa down sesaat.

"Aku mendapatkan banyak materi untuk artikel ku. Mereka banyak menceritakanku beberapa hal."

Ia berniat untuk menulis itu dan mempublikasikan cerita hantu baru ke Kazamatsuri. Dari sini, aku mencoba untuk menghilangkan bagian dimana Baraki-senpai merasa emosional, dan menulis kembali dengan kata-kataku sendiri. Itu akan membantuku menganalisis ini dengan baik.

Itu terjadi dalam sebuah ruang kelas, ketika acara itu sedang berlangsung.

~ To be Continued ~