DISCLAIMER

Visual Novel 'Rewrite' by Key Visual Arts 2011, Romeo Tanaka and Yuuto Tonokawa

Fanfic 'Truth Behind of That Gloves' by Sachiya Haruyuki 2014


[Flashback, 4 Years Ago]

3:55 PM.

Jam dinding di kelas itu jatuh dan rusak. Sejak mereka membicarakan tentang kutukan Asahi Haruka, semuanya mulai membicarakan bagaimana kutukan itu membuatnya terjadi. Tentu saja, masih dalam suasana menyenangkan saat itu. Dan karena itu pula, kejadian berikutnya terjadi berawal dari Baraki-senpai melihat jam tangannya.

3:57 PM.

Sebuah retakan horizontal pada kaca jendela.

Wali kelas yang ada pada saat itu membersihkan beberapa serpihan dari jam dinding yang hancur itu, menempelkan lakban pada jendela itu dan lekas pergi. Semuanya berpikiran ada seseorang yang melempar batu dari halaman atau apapunlah itu, tapi mereka tak melihat apapun disana.

3:58 PM.

Retakan lain di jendela.

Atmosfir kelas itu seketika berubah. Para siswi mulai diam. Sementara para siswa tak lagi ribut seperti biasanya, tapi beberapa diantara mereka masih membicarakan tentang kutukan itu. Mereka mungkin mencoba untuk menghilangkan suasana suram disekitarnya. Tapi dengan mengklaim kejadian-kejadian itu disebabkan oleh kutukan, itu malah membuat semuanya percaya.

4:00 PM.

Dua lampu pijar pecah.

Ada beberapa pelajar berada dibawahnya, jadi semuanya bertanya apakah ada yang terluka. Para siswi mulai merasa takut dan beberapa diantaranya pergi mencari guru. Beberapa diantaranya mengambil serpihan lampu itu dengan tangan mereka sendiri. Kebanyakan dari mereka tak lagi berbicara. Hanya suara petir diluar dan reaksi orang-orang akan petir itu saja.

4:01 PM.

Sang guru kembali dan bertanya apa yang terjadi.

Ketika ia sampai, sebanyak tiga atu lebih kaca jendela retak. Satu diantaranya retak seperti jaring laba-laba. Pecahan kaca itu terlihat ngeri, jadi semuanya melepas kaca itu dari jendela. Semenjak sang guru telah berada disana, ia tahu tak ada satupun yang menghancurkannya. Ini membuat suasana kelas menjadi semakin kacau. Beberapa orang mulai menangis.

Ketika sang guru berjalan mendekati jendela untuk memeriksa kaca itu, hampir semua lampu pijar yang tersisa pecah sekaligus. Serpihan-serpihannya bertaburan di lantai kelas.

Ruangan dipenuhi oleh suara teriakan. Sang guru meyakini ruangan tersebut 'berbahaya' dan menginstruksikan pada seluruh murid untuk meninggalkan ruangan. Tapi mereka semua panic dan berlalu dari ruangan begitu saja. Beberapa diantara mereka jatuh atau terdorong ke tanah karena ini, membuat ini terasa semakin membingungkan.

Semua pelajar terlihat pucat dan menggigil, mengatakan ini karena kutukan Asahi Haruka.

"Dan semuanya terjadi hanya dalam waktu lima menit?"

"..."

Semua kaca pecah, hanya dalam waktu lima menit. Mudah membayangkan apa yang akan dilakukan saat reuni itu. Baraki-senpai menambahkan tak ada kelas lain yang mengalami kejadian seperti itu.

"Apakah itu sungguhan?"

"Itu sungguhan! Aku tak mengada-ada, itu benar-benar terjadi!"

"Apa yang terjadi setelah itu?"

"Se-Setelah itu, kami pergi melewati jalur terpisah. Tunggu, mungkin kami dipindahkan ke kelas lain dan memakan sesuatu. Lalu ada seorang guru menarikku keluar, berpikir aku melakukan sesuatu."

Sang guru berpikir Baraki-senpai yang membawa topik mengenai gadis terkutuk itu, lalu mulai berpikiran kalau kutukan terjadi di ruangan itu. Tapi itu mudah sekali untuk menunjukkan kepolosannya. Ada dua puluh murid disana, dan tak ada satu pun dari mereka melihatnya melakukan sesuatu. Baraki-senpai baru bisa dilepas setelah para murid pergi, jadi dia tak diberi pertanyaan apapun.

Ketika hujan turun, ia pulang ke rumah. Reuni yang seharusnya berjalan baik dan menyenangkan hancur layaknya kaca oleh sesuatu berbau misterius. Ia takut ia mungkin telah menyentuh sesuatu sesuatu yang teramat mengerikan. Dan dia merasa gelisah, resah, dan entah beberapa perasaan negatif lain tanpa alasan yang jelas.

Bahkan ia tak bisa berpikir apa yang baru saja terjadi.

'Jangan bangunkan aku.'

Tiba-tiba seseorang bicara padanya. Kenapa seseorang ada diluar saat hujan seperti ini?

Apakah ia sedang berimajinasi?

*grab*

Sesuatu menahan tangannya dari belakang, memaksanya menyadari itu adalah nyata. Dan ketika ia berbalik, ia melihat seorang gadis. Menahan tangannya seakan mencegah dirinya untuk kabur.

"Siapa kau?"

"Jangan bangunkan aku."

Dari pandangan pertama, gadis berambut pendek itu terlihat seperti salah satu murid dari acara reuni itu. Tapi ia tahu, tak ada siswi berpenampilan seperti ini.

"Huh? A-Apa yang kau bicarakan?"

"Jangan bangunkan aku."

"Si-Siapa kau?"

Sebagian dari dirinya tahu siapa dia, dan kenapa ia berkata untuk tidak membangunkannya. Gadis itu tidak memberi sinyal untuk membiarkannya pergi. Ia masih menahan tangannya.

"Jangan bangunkan aku. Atau kau akan..."

"A-Atau... Aku akan apa?"

Melalui tangan gadis itu di tangannya, ia merasakan sensasi dingin yang tak dapat dijelaskan.

Ini bukan, imajinasinya semata.

Saat pertama tidak ada apapun yang berubah, namun tangannya mulai kaku, dan ia merasakan nyeri seperti dipukul benda tumpul.

"Le-Lepaskan aku!"

Ia menggoyangkan tangannya, melepas genggamannya. Disaat yang sama, ia mendengar beberapa suara ledakan dan pecahan kaca jatuh ke aspal. Saat itu sedang gelap sehingga lampu jalanan pun menyala walaupun belum malam hari. Ia merasakan disekitarnya mulai menggelap bersama dengan suara-suara itu.

Ketika ia melihat ke atas, ia bahkan melihat sesuatu yang besar. Papan iklan besar di sekitar toko grosir itu bergerak ke depan dan belakang, walaupun angin tidak berhembus kencang. Tidak mungkin papan iklan besar yang terbuat dari metal itu bisa bergerak karena angin.

Ia memandangi itu sejenak untuk membuktikannya pada dirinya sendiri, dan itu menjadi alasan kenapa dia masih ada disana. Perlahan papan iklan itu miring ke arahnya, menggantung di atas tanah depan toko.

Dan dia sangat beruntung.

Andai saja kejadiannya berbeda sedikit saja, mungkin papan iklan itu akan jatuh tepat mengarah padanya. Tepatnya, jatuh di kakinya. Dan bagian ujungnya tepat mengenai kepalanya. Sekali lagi, ia merasa beruntung. Jika ada bagian paling tajam itu mengenai dirinya, mungkin itu bisa merobek kepalanya. Bahkan mungkin menghancurkan tulangnya sekaligus. Ia tak ingat kala dirinya pingsan. Namun ketika ia pulih, gadis itu sudah tidak ada.

Apa yang ia ingat adalah hujan yang tak pernah berhenti, dan papan iklan yang jatuh di tanah. Dan setitik darah yang mengalir di dahinya.

[End of Flashback]

"Setelahnya aku mendengar suara teriakan, dan seseorang mengatakan padaku aku mengalami pendarahan. Seseorang di toko grosir datang meminta maaf berulang kali, namun orang lain di kota berpikiran kami sedang berkelahi."

Beberapa orang itu mungkin dari kelas 1. Dan itulah bagaimana tentang jatuhnya papan iklan itu ke arahnya ditambahkan ke dalam cerita hantu.

"Itukah yang kau ingat?"

"Ya. Itu saja. Aku berhenti menginvestigasi cerita itu setelah kejadian ini. Semenjak aku mengerti bahwa cerita Asahi Haruka benar-benar berbahaya, dan bukan sesuatu yang kuanggap sebagai iseng belaka."

"Kau menyedihkan. Itu cuma petir, 'kan? Petir sering sekali menyebabkan hal semacam itu. Dan itu bisa menjadi alasan kenapa semua lampu ikut pecah, 'kan? Dan itu cuma hembusan angin yang keras! Kau tahu, misalnya seperti Kamaitachi atau El Nino atau Jalapeno atau apalah itu."

Tidak pernah kudengar yang terakhir, tapi aku mengerti apa maksud perkataannya. Seaneh-anehnya kejadian yang dialami, masing-masing diantaranya mungkin hanyalah sebuah kecelakaan. Selama ada kemungkinan, kita bisa membersihkan hal-hal yang namanya fenomena aneh dan menganggapnya sebagai ketidakberuntungan.

Tapi Baraki-senpai tak merasa yakin akan itu.

"Aku yakin, gadis itu adalah subjek utama dari cerita hantu itu."

"Subjek? Maksudmu, dia Asahi Haruka?"

"Ya, itulah yang kupercayai."

"Kau pikir kau bertemu dengan hantu Asahi itu? Ha! Jangan berlagak bodoh!"

"Asahi Haruka bisa membuat bunga layu dan binatang mati hanya dengan menyentuhnya. Bahkan manusia bisa mengalami penyakit fatal dan misterius dari sentuhannya."

"Ya, begitulah cerita itu berlanjut."

"Dia... Menunjukkan padaku... Buktinya..."

"Menunjukkanmu apa? Katakan saja."

"Sulit untuk menjelaskannya. Ta-Tapi, 'menunjukkan' bukanlah kata yang tepat. Ia memberiku sebuah tanda. Aku masih bisa melihatnya."

"Eh?"

Masih... Bisa melihatnya?

Aku tak mengerti apa yang maksud. Mataku dan mata manager terbuka lebar mendengarnya. Sejurus kemudian Baraki-senpai mulai menggerakkan tangannya, dan menyinsingkan lengan bajunya. Ia menunjukkan lengan ramping dan pucatnya pada kita.

Sebenarnya apa yang kita lihat saat ini?

"Ayolah, lihat lebih dekat. Mungkin terlihat agak pudar sekarang, tapi masih ada disini."

"Disini?"

"Tanganmu terlihat lemah. Apa yang akan kita lihat dari tangan pucatmu itu?"

"Lihat... Disini... Kau bisa melihatnya?"

"...! I-Ini!?"

Aku menahan nafasku tanpa berpikir. Itu, sudah pasti berupa sebuah tanda.

"Di-Disinilah dimana Asahi Haruka menggenggam tanganku."

Ada tanda berwarna ungu cerah, berbentuk tangan seorang gadis kecil.

"A-Apa dia menggenggam tanganmu keras sekali?"

"Dia kuat, tapi tak cukup kuat untuk meninggalkan tanda seperti ini. Jika itu bisa dengan mudah membuat memar pada tanganku, kita masih bisa melihat tempat-tempat kau sering menusukku dengan jarimu, Kaichou."

Walaupun ia bisa menggenggam tangannya erat sekali, tidak mungkin bekasnya masih ada selama empat tahun. Tapi, ini seperti terlihat masih baru. Dan itu tak hanya terlihat seperti tangan. Ada sesuatu yang tajam yang membuatnya jelas hanya tangan yang dapat membuat tanda seperti itu.

Asahi Haruka meninggalkan ini, untuk membuktikan bahwa ia memperingatkannya agar tak membangunkannya. Manager terus-menerus mengatakan ini hanyalah kecelakaan semata. Tapi semakin sering ia melakukan itu, semakin sulit bagiku untuk berpikir ini bukanlah sebuah kutukan. Hal-hal kecil bisa dijelaskan melalui ini. Namun, lebih aman mengatakan jika menginvestigasi Asahi Haruka akan menyebabkan kejadian-kejadian buruk terjadi. Dari apa yang ia baru saja katakan, kesimpulan jelasnya adalah Asahi Haruka membuat tanda itu.

Yang berarti benar ada seorang gadis bernama Asahi Haruka. Dan dia menyerang seseorang yang berniat untuk mencari tahu tentang nya. Kupikir begitu.

Baraki-senpai mengalami semua kejadian aneh itu empat tahun lalu saat acara reuni. Ketika itu, itu hanyalah sebuah cerita hantu yang semua orang di kelas ingat, yang mana ia ingin mempublikasikannya ke koran.

Pertanyaannya, apakah Asahi Haruka mendengar itu dan muncul di hadapannya?

Apa yang telah terjadi saat reuni membuat cerita itu menjadi tabu. Dan harusnya mulai terlupakan oleh semua orang. Tapi kemudian seseorang mengatakan ini pada kami, dan aku kembali membangkitkan cerita ini. Itu menyebabkan semakin banyaknya kejadian aneh bagi orang-orang di kelas satu, yang masih mengingat reuni itu.

Bahkan Yoshino sendiri gemetaran karenanya.

Yang berarti, ia harusnya muncul segera.

Gadis misterius itu muncul di depan Baraki-senpai secara pribadi. Ia mengatakan padanya untuk tidak membangunkannya, dan meninggalkan sebuah tanda.

Jadi, dia harusnya muncul dihadapanku kapan saja mulai dari sekarang.

...

...

...

Tidak ada angin di luar, namun hujan masih turun dengan lebat. Aku membuka payungku dan kembali menatap toko itu. Tidak, pada papan iklan di atasnya.

Itu takkan jatuh mengarah padaku, 'kan?

Ah, aku lupa. Papan iklan yang dulu tidak jatuh tepat mengenai Baraki-senpai. Dan sebelum itu terjadi, seorang gadis muncul dan menggenggam tangannya.

'Jangan bangunkan aku.'

Dengan kata-kata itu, sesuatu tiba-tiba menggenggam tanganku dari belakang. Tangannya yang menahanku terasa dingin. Terasa sakit seperti tertusuk. Seperti menyentuh es kering.

Aku menggoyangkan tanganku dan berbalik ke belakang. Ternyata dia bukanlah seseorang yang kuduga.

"Konohana... Lucia...?"

~ To be Continued ~