DISCLAIMER
Visual Novel 'Rewrite' by Key Visual Arts 2011, Romeo Tanaka and Yuuto Tonokawa
Fanfic 'Truth Behind of That Gloves' by Sachiya Haruyuki 2014
"Hii!"
Aku mendengar suara teriakan di kamarku. Inchou harusnya sudah bangun sekarang. Aku membuat cafe au lait pada sebuah cangkir dan membawakannya untuknya.
"Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu saat ini?"
"Tennouji... Apa ini... Rumahmu?"
"Apa kau ingat apa yang terjadi? Kau pingsan di luar toko yang membuat parfait raksasa itu."
"..."
Ia menutup matanya dan mencoba mengingat apa yang terjadi. Jadi memorinya sepertinya sedikit berantakan.
"Aku tidak bisa bangun pagi semenjak aku merasa tak baik. Dan aku tak ingat apapun setelah itu."
"Kau absen hari ini. Ah, sekarang sudah malam hari."
"Begitu..."
Inchou dengan samar-samar memandang jam dinding. Jam internalnya mungkin sudah mati sekarang. Tapi sepertinya ia tak terkejut sama sekali.
"Kau berdiri di tengah hujan tanpa payung dalam waktu yang cukup lama. Kuharap kau tak demam."
"Aku tak mudah sakit. Aku tak apa-apa."
"Apa kau ingin cafe au lait?"
"Aku tak suka minuman pahit."
"Tenang saja. Sudah kutambahkan gula."
Aku menaruh cangkir itu pada meja kecil di sebelah tempat tidur, dan Inchou mulai bangkit untuk duduk jadi dia dapat meraihnya. Sejenak,
*fall*
"!"
Selimut yang menutupi tubuhnya jatuh, memperlihatkan kulit putih dan pakaian dalamnya.
"Ah, ja-jangan panik! Aku hanya berpikir kau bisa demam jika aku membiarkanmu menggunakan pakaian yang sudah basah."
"..."
Seragamnya sangat basah, bahkan air bisa keluar jika kau memerasnya. Aku tak bisa membiarkannya menggunakan pakaian itu. Jadi, yah. Aku melepaskannya. Aku sempat berpikir untuk memberinya piyama. Tapi karena melakukan sesuatu disaat dirinya sedang tak sadarkan diri terasa aneh, jadi selimut saja sudah cukup menurutku. Kupikir ia akan memerah wajahnya dan berteriak padaku. Namun ia tak terlihat berbeda dengan sekarang.
"Minumlah. Akan kucarikan pakaian untukmu."
[Skip Time]
"Kemarin malam, Asahi Haruka datang dan mengatakan sesuatu padaku."
"Apa yang ia katakan?"
"Dia bilang dirinya benar-benar terkutuk. Bahwa itu bukanlah rumor belaka, cerita atau apapunlah itu."
"Dia mengatakan hal yang sama padaku."
Persis saat aku bertemu dengannya, melalui tubuh Inchou dibawah guyuran hujan.
"Aku sangat hargai pemikiranmu. Tapi kau salah mengerti akan satu hal."
"Apa yang aku salah mengerti?"
"Yang sebenarnya. Aku benar-benar terkutuk."
"Eh? Gadis itu, bicara denganmu juga, Tennouji?"
"Melalui tubuhmu, Inchou. Makanya kau berdiri disana diguyur hujan dalam waktu lama."
"Apa yang Asahi Haruka katakan?"
"Disaat akhir, dia mengatakan aku bisa melakukan apapun yang ia inginkan."
*crack*
Ruangan mulai sedikit gelap. Satu lampu pijar ada yang pecah.
"Heh, jangan coba-coba untuk menyembunyikannya."
Aku membiarkannya demikian. Namun sepertinya suara itu membuat Inchou takut.
"Tak apa-apa. Aku membeli banyak lampu pijar untuk sekadar antisipasi."
"Rasa-rasanya seperti bermimpi tentang Asahi Haruka sepanjang waktu ini. Dalam mimpi itu, semuanya memanggilku Haruka."
Dia mulai berpikir kembali tentang mimpi yang baru saja ia rasakan.
"Kupikir aku berada dalam panti asuhan saat itu. Dia terbaring di kasur karena sakit. Lalu ada seorang wanita mengunjunginya. Mungkin seorang pembesuk. Dia menggenggam tangannya lalu menaruhnya di pipinya, untuk membuatnya merasa lebih baik."
"Lalu dia berakhir dengan tanda seperti tangan di pipinya?"
"..."
Aku berbalik sehingga Inchou tak melihat apa yang kulakukan. Kupandangi tanganku dimana Asahi Haruka sempat genggam. Ketika aku memikirkannya, masih terasa sakit. Dan terdapat tanda berbentuk tangan warna ungu disana.
Mimpi yang Inchou ceritakan, mungkin saja memang benar. Seorang Ibu asrama yang mengawasinya mendapat tanda itu di pipinya. Dan mungkin saja lebih buruk dari yang kudapat. Tandaku hanyalah peringatan, itulah mengapa rasanya tak terlalu menyakitkan. Tapi jika seburuk itu, mungkin itu cukup membahayakan nyawa seseorang.
Kata-kata gadis itu kembali teringat dalam pikiranku.
"Aku benar-benar terkutuk."
"'Semua yang kusentuh mati'. Itulah yang Asahi Haruka katakan padaku."
"Orang-orang akan mati suatu hari."
"Kita telah berasumsi bahwa Asahi Haruka hanya salah mengerti, dan membutuhkan bantuan kita. Tapi, bagaimana jika dia benar? Dan kita salah mengerti tentangnya?"
"Jangan dengarkan dia."
Inchou melangkah pergi dari tempat tidur, tanpa peduli dia tak mengenakan bawahan. Dia menemukan tanaman dekorasi di beranda ku dan mengambilnya. Lalu ia membuka pintu kaca itu, membiarkan suara hujan dan angin memenuhi ruangan.
Ia menemukan salah satu tanaman dan memetik selembar daun. Dan dia memperlihatkannya padaku.
"Kita ingin membuktikan bahwa Asahi Haruka tidak terkutuk. Itu tujuan investigasi kita."
"Iya. Itu benar."
"Tapi... Bagaimana jika... Dia benar-benar dikutuk?"
Maka kita akan berakhir melakukan hal sebaliknya. Berakhir dengan membuktikan bahwa kutukan itu benar adanya.
"Tak ada sesuatu yang namanya kutukan."
"Itu yang kupikirkan pertama kali. Lalu dia bilang padaku..."
'Akan kuajari kau kutukanku.'
"Ah..."
Perlahan tapi pasti, daun yang ia genggam di hadapanku mulai mengecil dan menggelap. Seperti layaknya koran yang terbakar, perlahan-lahan mulai mengeriting. Dan hancur begitu saja, jatuh ke lantai.
"A-Apa maksudnya ini?"
"Tanganku... Sudah seperti ini sejak malam lalu... Ketika aku menyentuh... Setangkai bunga... Dia benar-benar... Mengering..."
Aku mungkin sudah terbiasa melihat kejadian-kejadian aneh. Ketika lampu pecah beberapa menit yang lalu, tak ada yang kupikirkan kecuali mungkin karena Asahi Haruka.
Tapi... Ini...
Bagaimana mungkin tangan Inchou... Bisa membuat sesuatu menjadi layu?
"Bunga milik Ohtori-san juga... Layu seperti ini... uu... uuu..."
Air mata jatuh dari iris birunya.
Sialan kau, Asahi Haruka. Kenapa kau membuat mimpi buruk Inchou menjadi kenyataan?
Tak hanya itu. Tapi dia juga lakukan ini untuk menunjukkan kutukan itu benar adanya, bahwa semua hal yang telah kulakukan adalah kesalahan besar.
Dengan kata lain, Asahi Haruka menunjukkan padaku bahwa dia benar-benar terkutuk.
Sial... Apa ini jawabanmu?
"Bagaimana... Mungkin?"
"Kau sungguh baik, Tennouji. Kau berpikir Asahi Haruka hanyalah korban penganiayaan, dan mulai menginvestigasi dengan harapan untuk menolongnya. Seperti yang telah kulakukan."
"Tapi kenyataannya, dia benar-benar terkutuk. Dan cerita itu memang sepenuhnya benar. Dan aku membuatnya kembali terjadi, walaupun orang-orang yang terlibat di dalamnya memlih diam dan melupakannya, iya kan?"
"Aku tak tahu! Tapi... Tanganku... Benar-benar... 'Kotor'... Karena itu... uuuuu..."
Tangannya tetap terlihat sama seperti sebelumnya. Putih dan indah. Tapi sekarang, bunga yang ia sentuh akan layu. Dan orang-orang yang ia sentuh akan memiliki tanda. Dan tanda di tanganku masih terasa sakit.
"Jadi tanganmu... Memiliki kutukan Asahi Haruka?"
"..."
"'Jangan bangunkan aku'. Dia bersungguh-sungguh akan itu... Sialan!"
Artinya, salah jika kita menyalahkan Asahi Haruka karena ini. Sejak awal, cerita nya memang sepenuhnya benar. Makanya kenapa dia menunggu cerita tentang dirinya mulai dilupakan perlahan-lahan. Aku salah mengerti semua itu.
"Jadi... Ini semua salahku?"
"Aku tak berpikir seperti itu, Tennouji. Kau melihat ketidakadilan, dan kita ingin memperbaikinya."
"Tapi apa yang sudah kulakukan menjadi sia-sia, dan aku membuat banyak kaca dan lampu rusak, dan juga menakuti banyak orang tanpa alasan. Semua orang dari kelas satu telah melupakan cerita itu. Dan akhirnya, tanganmu..."
Berakhir memiliki kutukan.
"Sial... Kau bermain curang, Asahi Haruka. Kenapa kau melakukan ini pada Inchou? Kenapa kau tak melakukan ini padaku saja?"
"Haha... Yah, Tennouji. Kau takkan menyerah tanpa peduli apa yang akan ia lakukan padamu 'kan?"
Sayangnya dia benar. Tak peduli apapun yang terjadi disini, itu hanya malah membuatku termotivasi untuk melawan balik. Rasanya jauh lebih sulit untuk berurusan dengan orang yang tengah dilawan oleh sesuatu.
"Cukup..."
"Eh?"
Aku dengan blingsatan memegang kepalaku, lalu membuat pernyataan pada seorang gadis yang masih menatapku 'disana'.
"Ini sudah cukup! Aku menyerah! Aku tahu kau bisa mendengarku, Asahi Haruka! Kau menang! Sekarang kembalikan tangan Inchou menjadi normal kembali!"
"Tennouji..."
Kupikir dia akan memecahkan lampu sebagai jawabannya. Tapi tak ada yang terjadi kali ini.
Berhenti mempermaikan kami! Jawab aku! Aku akan berhenti sekarang! Aku bilang aku menyerah! Aku sudah menyerah, karena itu kembalikan tangannya seperti dulu!
"Ba-Bagaimana tanganmu!? Apa sudah kembali normal!?"
"Aku... Tidak tahu..."
Aku berlari keluar ke beranda dan mengambil daun lain. Aku menunjukkannya di hadapannya. Namun dia melangkah mundur dengan rasa takut, enggan mengambilnya dariku. Aku berpaling ketika menyadari ketidakpekaanku.
"Ma-Maaf..."
"Ja-jangan khawatir, Tennouji Kotarou... Ini, tidak berbeda dari sebelumnya... Bagiku... Aku akan selalu menggunakan sarung tanganku... Mencuci tanganku setiap hari... Dan tak pernah menyentuh siapapun... Aku takkan menggenggam tangan siapapun, dan kupastikan takkan ada yang menggunakan peralatan yang sama denganku..."
Itu malah akan membuatmu semakin terlihat menyedihkan dari sebelumnya, Inchou.
"Aku tidak ingin membunuh orang sejak awal... Ini tidak berbeda dari biasanya... Tidak sama sekali... Karena itu... Jangan khawatirkan aku... Aku hanya 'kotor'... Itu saja..."
"Hentikanlah, Inchou... Sudahlah..."
"Aku membuat Ohtori-san marah karena tak bisa memegang kucing... Aku membuat beberapa laki-laki marah karena tak bisa menyentuh bunga... Tak ada, yang bisa menerimaku... Menerima kami... Tidak, tak hanya orang-orang... Tanaman, hewan, manusia, semua di dunia ini... Tak ada yang bisa menerima kami..."
"Aku takkan pernah bisa, menyentuh benda hidup... Aku akan sendiri selamanya... uuu!"
"Hentikanlah! Akulah yang salah disini... Jadi jangan mengatakan hal-hal yang membuatmu sedih!"
"Kau tak mengerti! Kau takkan bisa mengerti bagaimana perasaanku atau perasaan Asahi Haruka! Aku akan menghabiskan hidupku sendiri, tanpa menyentuh siapapun atau apapun... Karena mereka akan mati... Tak ada satupun di dunia ini yang bisa menerima kehadiran kami!"
"Tak ada yang bisa! Tak ada seorangpun! Tak ada seorangpun dari mereka! Uwaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Dan dia menangis keras dihadapanku, untuk pertama kali.
"I-Inchou..."
Aku tak bisa berpikir apa yang harus kukatakan padanya. Tadinya aku berpikir untuk menenangkannya. Tapi kemudian aku teringat satu hal.
'Dia belum tahu soal tanda di tanganku.'
Asahi Haruka menggenggam tanganku, melalui tangan 'kotor' Inchou. Itu berarti,
'Dia tanpa sengaja sudah... 'membunuhku'.'
Karena itu aku memilih untuk diam. Membiarkannya tenang sendiri untuk sementara. Aku tak bisa membiarkannya tahu jika dia sudah 'membunuhku' dari awal. Aku tak bisa membiarkannya melihat tanda ini. Karena aku tahu, itu hanya akan semakin menyakitinya. Ia akan semakin sering menyalahkan dirinya.
Dan ada kemungkinan, ia bisa saja mengakhiri hidupnya. Dan aku tak bisa membiarkan itu terjadi. Ini bukan salah Inchou. Ini sepenuhnya salahku, karena telah membangkitkan kembali cerita hantu yang sudah terbukti kebenarannya. Tapi, apa yang bisa kulakukan setelah ini?
Aku tak bisa tahu.
~ To be Continued ~
