DISCLAIMER
Visual Novel 'Rewrite' by Key Visual Arts 2011, Romeo Tanaka and Yuuto Tonokawa
Fanfic 'Truth Behind of That Gloves' by Sachiya Haruyuki 2014
Inchou masuk kelas hari ini. Tangannya tertutupi sarung tangan putihnya seperti biasa. Namun nampaknya, ia terlihat sedih.
"..."
Dan aku sendiri tak bisa menanyakan apapun padanya. Hanya aku yang tahu apa yang membuatnya begini.
"Kotarou-kun, apa yang terjadi pada Inchou? Apa dia sakit?"
Kotori membuka suaranya terlebih dahulu. Hanya dialah yang masih bisa kuajak bicara saat ini. Sebenarnya, aku bisa saja mengajak Chihaya bicara. Namun aku ragu. Mereka pernah terlibat adu mulut beberapa waktu lalu.
"Hei, apa lagi yang sudah kau perbuat padanya sampai-sampai dia jadi seperti ini?"
Ugh. Chihaya memang tak pernah peka sejak awal. Itu sebabnya aku tak bisa mengajaknya bicara. Moodku sedang tak baik.
"Chi-chan, jangan bicara seperti itu. Kotarou-kun sedang dalam mood yang tak bagus sekarang."
"Ya ya. Hanya karena kau teman kecilnya bukan berarti kau bisa mendukungnya begitu saja."
*hit*
"Jangan mempermainkanku, Ohtori!"
"!"
Aku memukul meja dengan kesal. Tak tahan lagi dengan ucapan pedasnya itu. Aku bahkan sudah tak peduli dengan teman kelas lain yang tengah memperhatikanku yang tiba-tiba mengamuk.
"Ya! Bukannya itu benar, Kotarou!? Kau memang selalu saja berbuat yang aneh-aneh pada Konohana-san hingga dia tak segan-segan memukulmu! Lagipula aku memang membencimu sejak awal!"
"Kau..."
Orang ini, ketidakpekaannya memang sudah sangat keterlaluan.
"Berhentilah kalian berdua..."
Suara tenang itu terdengar. Yoshino rupanya juga terlihat tak tahan dengan keributan ini.
"Ohtori, mungkin aku tak pernah berbicara denganmu. Namun membenci seseorang hanya karena alasan seperti itu sungguh kekanakan. Bukannya kau sendiri juga ingin dekat dengan Inchou?"
"Ah, itu..."
Benar juga. Aku masih ingat saat pertama kali aku, Chihaya dan Kotori tengah menjenguk Inchou di rumahnya. Yang kemudian berakhir dengan menangisnya Chihaya di taman karena tak bisa berteman dengannya.
"Dan kau juga, Tennouji. Aku mengerti kau marah karena alasan apa. Tapi bukan berarti kau sampai harus meledak-ledak seperti ini juga."
"Ma-maafkan aku..."
Karena dia sendirilah yang tahu apa saja yang tengah kulakukan beberapa hari terakhir ini. Mengurusi tentang cerita Asahi Haruka. Dan hari ini, aku sudah menyerah. Mungkin sepertinya itu sudah terbaca dari Yoshino melalui tindakanku tadi.
Suasana seperti ini terus berlanjut bahkan hingga saat istirahat menjelang. Inchou masih menyendiri sementara Chihaya memilih untuk keluar.
Dan kemudian, Yoshino mendatangiku.
"Tapi sejujurnya apa yang sedang terjadi? Kupikir mereka sudah berbaikan."
"Yoshino, maafkan aku."
"Huh?"
"Tentang Asahi Haruka, aku sudah mendapatkan apa yang kubutuhkan. Jadi, aku takkan melakukan apapun lagi."
"..."
Yoshino masih terdiam seperti biasanya. Namun sepertinya maksud lainku sudah terlacak olehnya.
"Itu pilihan yang paling tepat untukmu. Aku bisa menarik kesimpulan kau mengetahui adanya kutukan sungguhan di dunia ini. Benar kan?"
"Bukan soal kutukan... Aku hanya tak punya waktu untuk menginvestigasi ini lebih lanjut..."
"Yah, jika itu yang kau katakan."
Karena yang sebenarnya, aku berhenti karena ancaman dari Asahi Haruka sendiri. Tak jauh beda dengan ditakut-takuti.
"Harusnya aku tak pernah memberikanmu data kelas itu."
"Itu sangat membantu sekali. Terima kasih."
"Bagaimana dengan teman lamaku?"
"Baik-baik saja. Hingga aku membawa-bawa Asahi Haruka. Oh iya, ada satu laki-laki yang tak bisa kuhubungi. Sepertinya ia sudah tak lagi menggunakan nomor teleponnya."
"Ah, Wada? Dia baru saja pindah. Apa kau ingin menghubunginya? Aku punya nomor teleponnya yang baru?
Ah, sudahlah. Lagipula aku sudah menyerah akan investigasi ini.
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku sudah selesai sekarang. Sekalipun aku menelponnya, paling-paling dia akan bilang beberapa kaca pecah dan menyalahkanku."
"Heh, tak diragukan lagi memang."
Ia tertawa, menghinaku.
"Tapi aku punya satu petunjuk terakhir. Kau mungkin ingin mendengarnya."
Aku tak bereaksi apa-apa, tapi ia tahu jika aku masih membutuhkannya.
"Ini adalah, nama panti asuhan dimana Kishida Ryuugo dan Asahi Haruka pernah dirawat. Selebihnya terserah padamu apa kau ingin mencarinya atau tidak."
[Skip Time]
Hari Minggu.
Aku mengendarai sepedaku memasuki hutan. Sempat berhenti untuk mengecek lokasiku melalui GPS pada ponselku. Ponsel baru memang benar-benar bisa melakukan apapun. Bahkan bisa menunjukkan arah tujuanku lebih cepat ketimbang milikku yang lama.
Ponsel ini menunjukkan aku berada disini. Tapi karena aku berada di dalam hutan, sulit sekali untuk yakin. Aku telah bersepeda sekiranya satu jam untuk sampai kesini dari rumahku.
Dan akhirnya aku sampai pada tujuanku. GPS sudah menunjukkan bahwa inilah tempatnya, dan tidak ada apapun yang ditunjukkan pada peta. Tempat kosong pada taman yang luas. Tapi beberapa dekade lalu, bagian dari daerah ini pernah dipinjamkan kepada kelompok kesejahteraan tertentu. Dengan tujuan untuk membangun sebuah panti asuhan, fasilitas untuk anak-anak yang telah kehilangan seluruh keluarganya.
Secara tak sengaja, ada seorang pasangan tua yang memiliki rekaman yang dimiliki Baraki-senpai di hari itu empat tahun yang lalu. Mungkin Wada juga mengetahui itu. Rekaman itu berisikan kejadian-kejadian aneh pada saat reuni. Tapi juga memiliki petunjuk.
'Santa Brosia'
Nama panti asuhan dimana Kishida Ryuugo berasal, dan tentunya Asahi Haruka pernah dirawat. Sekali aku mengetahui nama itu dari Yoshino, sangat mudah mencarinya lewat internet.
"Harusnya berada disekitar sini."
Kemudian aku menemukan sebuah tanda lama, rusak akibat angin dan hujan. Tertulis, "Ini adalah properti pribadi. Dilarang menerobos.". Berbeda dengan tanda lain di taman. Tanda ini tidak dibuat oleh Kazamatsuri City. Mungkin ini dibuat oleh sekelompok orang-orang panti asuhan.
Sekarang aku yakin jika ini tempat yang tepat. Aku melangkah sedikit ke dalam, hingga aku menemukan pagar metal dengan tanaman yang tumbuh disekitarnya. Pagar itu memblokir jalannya. Dan terkunci oleh sebuah gembok. Jadi sepertinya tak pernah dibuka lagi selama beberapa bulan, mungkin beberapa tahun.
"Tempat ini sudah disegel."
Aku tak terlalu berharap bisa menemukan seseorang disini yang bisa mengatakan padaku apa yang telah terjadi. Tapi menurut cerita hantu itu, panti asuhan ini sudah lama hancur. Jadi sepertinya ini merupakan tempat yang tepat. Dan harusnya ada panti asuhan yang telah lama ditinggalkan, dibalik pagar ini.
Kutinggalkan sepedaku pada sebuah pohon lalu aku melompat dan memanjat ke pagar.
"Aku tak pernah memanjat pagar lagi sejak aku masih kecil."
Sekalinya aku melewati pagar itu, aku berada di sebuah jalan yang tak pernah terurus lagi dalam waktu yang cukup lama. Seluruh bagian taman, meskipun dikatakan 'alami', sebenarnya masih ada campur tangan dari manusia. Tetapi sekarang, hanyalah berupa tanah kosong yang tak pernah tersentuh oleh tangan manusia bertahun-tahun. Hutan-hutan mulai terkesan suram. Peta dalam ponselku tak lagi memiliki penunjuk apapun. Aku hanya harus mencari jalannya sendiri.
Kukuatkan tekadku dan mulai melangkah ke dalam hutan. Setelah melalui jalan yang tak terurus, aku kembali menemukan sebuah pagar. Dan benar-benar berbeda dari sebelumnya.
"Sepertinya cukup membahayakan. Apa ini benar-benar panti asuhan?"
Pagar kali ini cukup tinggi sampai-sampai aku harus mendongak untuk melihat ke atas. Dan disana terdapat beberapa tanda, yang tak ada hubungannya dengan panti asuhan sama sekali.
"Berbahaya. Menerobos disini akan membahayakan kesehatanmu."
"Area industri berbahaya. Dilarang masuk."
Aku belum pernah melihat tanda dengan tengkorak atau tulang secara nyata. Apa ini... Benar-benar panti asuhan?
Kuperiksa GPS ku kembali, lalu mulai mencari di internet, dan yakin bahwa ini adalah kordinat yang benar. Sesuai dengan database Kazamatsuri City, area ini pernah dipergunakan untuk panti asuhan. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada perusahaan yang mengalihfungsikan tempat ini menjadi tempat pembuangan?
Rasa-rasanya ini sama sekali tak hubungannya dengan cerita Asahi Haruka. Apa benar Santa Brosia adalah tempat yang tepat? Apakah perjalanan ini akan berubah menjadi sesuatu yang membuang-buang waktu?
Tetap saja, aku sudah menghabiskan waktu sejam disini. Aku tak bisa kembali tanpa menemukan sesuatu.
Tanda-tanda mengenai limbah racun terlihat menakutkan. Tapi untuk beberapa alasan, ini seperti peringatan dari Asahi Haruka untukku agar menjauh dari kenyataannya. Sebenarnya, aku tak yakin adanya limbah industri dibalik pagar ini.
Harusnya disini ada reruntuhan panti asuhan itu. Dan didalamnya ada rahasia dimana seseorang tak ingin aku menemukannya.
Kuambil beberapa langkah kebelakang, kemudian berlari dan melompat ke arah pagar itu. Agak menakutkan sebenarnya untuk memanjat di ketinggian seperti ini, tapi aku tak bisa mundur sekarang. Jika disini benar-benar ada limbah industri, dan aku bisa sakit karenanya, aku akan merasa sangat bodoh. Tapi aku tak perlu mempermasalahkan itu.
Setelah melangkah lebih jauh, aku menemukan semacam ayunan dari pohon tua. Tidak seperti ayunan yang bisa kau lihat di taman. Ini terlihat seperti buatan tangan.
Area yang terdapat limbah tak mungkin memiliki sesuatu seperti ini. Hanya anak-anak yang menggunakannya. Makanya aku tak begitu terkejut melihat bangunan seperti gereja ala barat di hadapanku.
Mungkin reruntuhan bangunan ini dulunya sangat bagus, ketika cahaya matahari memancar melewati pepohonan. Tapi sekarang hanyalah berupa reruntuhan di dalam pepohonan mati. Lebih seperti rumah hantu.
Tetap saja, tempat ini tidak terlihat menakutkan bagiku. Malah membuatku berpikir akan hari-hari yang hangat di masa lalu. Aku bisa melihat sesuatu semacam perosotan dan 'merry-go-round' kecil di sekitarku. Bagian tembok disekitarku terdapat semacam kepingan-kepingan batu yang sering dimainkan anak-anak. Aku juga bisa melihat beberapa hal seperti sebuah graffiti dan sesuatu yang hancur ketika mereka terlalu bersemangat.
Ini memang Santa Brosia.
Dan disini, aku melihat adanya sebuah tanda dengan nama di dalamnya.
'Ini adalah panti asuhan dimana Kishida Ryuugo dan Asahi Haruka tinggal.'
Aku belum pernah kesini sebelumnya. Jadi aku tak bisa membayangkan bagaimana mereka hidup saat itu. Tapi mungkin lebih baik jika kukatakan mereka bersenang-senang disini.
Mungkin ini terdengar bodoh, tapi aku takkan terkejut jika beberapa anak tiba-tiba berlari disekitarku, bermain sambil tertawa. Jika kuperjelas pendengaranku, mungkin aku bisa mendengar anak-anak bernyanyi diiringi oleh permainan organ dari ibu asrama, atau suara tendangan bola di halaman. Itulah kehangatan yang kurasakan dari reruntuhan ini.
Yang mana peringatan di pagar terakhir itu terasa semakin aneh. Bagaimana mungkin tempat ini dijadikan area limbah industri?
Aku rasa ini tidaklah benar. Itu hanyalah peringatan palsu, untuk mencegah orang-orang dari reruntuhan ini. Tapi kenapa, seseorang tak ingin orang-orang datang kesini? Dan apakah ini ada hubungannya dengan cerita Asahi Haruka?
Kucoba untuk masuk ke dalam dan tentu saja, terkunci. Tak mungkin bagiku untuk memecahkan kaca jendela ini. Tempat ini mungkin sudah ditinggalkan dan usang. Tapi masih terasa hangat dan menyenangkan bagiku.
Sesaat aku mencari tempat masuk lain, aku mulai mengingat ulang tentang cerita Asahi Haruka.
Setelah ia datang kesini, semua anak-anak mulai sakit. Kebanyakan dari mereka meninggal, dan panti asuhan ini ditutup. Apa ini karena penyakit menular? Atau memang karena limbah industri? Apakah anak-anak tak bisa mengerti hal itu, dan mulai menyalahkan Asahi Haruka?
Sebuah panti asuhan dimana anak-anak meninggal satu demi satu. Dan area pembuangan limbah industri ilegal. Jika pilihan terakhir itu benar, maka Asahi Haruka sama sekali tak bersalah.
Semua pintu di gedung utama telah terkunci rapat. Yang tersisa adalah sebuah kapel, namun juga terkunci. Apakah ini benar-benar berakhir?
Sesaat kupikirkan itu, aku melihat adanya jalur masuk. Ada satu pohon yang rubuh lalu membuka sebuah jalan melalui kaca jendela yang kotor. Pohon itu tak terlihat tua. Mungkin baru saja rubuh. Dan aku bisa melihat ke dalam kapel melalui jendela rusak itu. Aku tak tahu sudah berapa lama ini ditinggalkan, namun kemegahan akan ruangan ini masih belum hilang.
Sesuatu seperti menyuruhku masuk ke dalam.
"Santa Brosia... Panti asuhan Asahi Haruka dulu..."
Disinilah semuanya berawal. Kapel ini terlihat megah dengan cahaya matahari menembus jendela kotor itu.
"Aku disini, Asahi Haruka. Akhirnya aku menemukan tempat ini. Maaf. Aku sempat bilang aku menyerah, tapi aku masih merasa ingin melakukan sesuatu, dan aku ada disini."
*crack*
Mungkin suara retakan itu berasal dari jendela kotor itu. Rasanya lucu sekali dengan reaksinya yang mudah ditebak itu.
Angin segar berhembus. Aku bisa merasakan dia ada disini, walaupun dia belum menunjukkan dirinya. Aku sama sekali tak merasa terganggu. Karena aku menemukan sesuatu hal mengenai Asahi Haruka.
Aku melihat ada semacam gambar pada tiang-tiang disini. Tiap-tiap gambar merupakan gambar beberapa anak-anak. Mungkin diambil tiap tahun. Satu tahun setiap foto. Aku bisa melihat anak-anak yang baru datang, ketika yang lainnya sudah beranjak tua, dan tersenyum. Lalu beberapa yang pergi dan kemudian digantikan oleh anak baru. Gambar-gambar ini menceritakan sejarah dari panti asuhan ini.
Dan, ini yang terakhir.
Kuambil gambar itu dari tempatnya agar dapat melihat lebih baik, dan aku bisa mendengar beberapa benda hancur, dan serpihan kaca jatuh ke tanah. Orang-orang biasanya akan merasa malu ketika melihat gambar mengenai diri mereka di masa lampau.
Tanggal dalam gambar ini ditulis delapan tahun lalu. Setahun sebelum Kishida Ryuugo meninggal.
Sesuatu terjadi padanya disini, yang membuatnya dirujuk ke rumah sakit sebelum akhirnya kembali ke sekolah setahun kemudian. Lusinan anak-anak ada dalam gambar. Beberapa diantaranya tersenyum, namun juga hanya berekspresi datar. Semuanya unik.
Dan dibawah gambar itu adalah daftar nama-nama mereka.
"Kishida Ryuugo... Bocah gemuk ini?"
Kishida Ryuugo terlihat seperti bocah yang dengan santainya memakan sisa makanan para gadis setelah makan siang. Dan senyum cerahnya menggambarkan dirinya senang tinggal disini.
Lalu,
"Asahi Haruka..."
*crack*
Beberapa retakan lagi pada kaca kotor itu. Sudah pasti dirinya. Dia terlihat tak senang, dan dia memiliki rambut pendek.
"Aku menemukanmu, Asahi Haruka."
Ketika aku mengatakan itu, semua lampu yang menggantung di langit-langit pecah sekaligus. Beberapa pecahannya mendarat padaku. Ketika aku membersihkannya, aku bisa melihat tanda pada tanganku.
"Aku tak tahu lagi jika kutukan ini sungguhan atau tidak. Aku berhenti mencari tahu soal itu, seperti yang pernah kukatakan sebelumnya."
Jadi, tujuanku disini tak lagi berurusan dengan kenyataan yang sebenarnya dibalik cerita hantu itu."
"Aku kesini bukan untuk mempercayai atau tidak mempercayai cerita itu, atau pula menyerah dihadapanmu secara pribadi. Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu."
Aku mungkin bisa mengatakannya di tempat lain. Tapi jika kulakukan, mungkin ia takkan mendengar.
"Bisakah kau tunjukkan dirimu, Asahi Haruka?"
Pertanyaanku hanya bergema pada langit-langit ruangan ini. Aku tahu dia takkan mengindahkannya.
"Benar juga. Kau bukan lagi Asahi Haruka..."
...
"Iya kan? Konohana Lucia?"
Dan gadis itu sudah berdiri dibelakangku.
~ To be Continued ~
