DISCLAIMER
Visual Novel 'Rewrite' by Key Visual Arts 2011, Romeo Tanaka and Yuuto Tonokawa
Fanfic 'Truth Behind of That Gloves' by Sachiya Haruyuki 2014
"Tujuh tahun yang lalu, kau adalah Asahi Haruka, dan kau tinggal di panti asuhan ini. Tapi entah karena alasan apa, tempat ini disegel. Lalu kau mengganti namamu dan pindah ke suatu tempat di Kazamatsuri."
Lalu dia pergi ke sekolah yang sama dari SD hingga SMA dengan Yoshino dan yang lain.
"Entah apa yang terjadi, rasanya cukup buruk sampai-sampai harus mengganti namamu. Tentu saja kau tak ingin mengingat nama itu, atau apa yang pernah terjadi disini. Lalu empat tahun lalu, kau sempat mendengar ada laki-laki dari klub koran bertanya pada murid sekelas Kishida Ryuugo tentang Asahi Haruka, jadi dia bisa menulis artikel tentangnya. Dan kau berencana untuk menghentikannya."
"Lalu apa lagi?"
"Asahi Haruka sudah menjadi subjek cerita hantu karena kematian misterius Kishida Ryuugo. Jika orang-orang tetap membicarakan itu, ada kemungkinan seseorang dapat langsung mengetahui tentang dirimu. Jadi kau berencana untuk mengambil keuntungan dari cerita hantu itu, dan mulai menakut-nakuti orang sehingga mereka tak lagi membicarakan itu sepatah katapun."
Dilihat dari bagaimana takutnya Yoshino, Baraki-senpai dan yang lainnya, jelas dia melakukannya dengan baik sekali.
"Dan kau berhara orang-orang akan melupakan cerita itu. Tapi empat tahun kemudian, ada seorang laki-laki bodoh yang muncul berniat mencari tahu kembali cerita itu. Yaitu aku, Tennouji Kotarou."
"..."
"Aku tak yakin jika itu keberuntungan bagimu atau tidak. Tapi, aku mulai membawamu ikut untuk membuat kopian dari daftar kontak. Dan ketika kau menyadari itu, kau tahu kau harus menakuti mereka lagi hingga harus menemui rumah mereka."
"Koreksi. Aku terus berada dibelakangmu sepanjang kau membuat kopianmu itu. Aku tak tahu apa yang kau berusaha duplikat waktu itu."
"Kemarin aku menuju ke ruangan printing lagi dan bertanya pada Nishikujou-sensei soal mesin fotokopi itu. Tak ada trik apapun disana. Yang ada adalah kau sudah menggunakannya sebelumnya."
"Aku sudah... Menggunakannya?"
Mesin fotokopi digital untuk tujuan bisnis. Tidak seperti mesin pada umumnya, data dari apa yang di kopi terakhir kali pada mesin akan tetap berada pada tempatnya sampai seseorang menggunakannya lagi. Jadi sekali kau melakukan scan pada kertas mu, walaupun kau mengambilnya, mudah sekali bagi orang lain untuk membuat kopian yang sama denganmu.
"Aku tak tahu kenapa kau begitu nakal. Kau benar-benar ingin tahu apa yang ingin ku kopi sampai kau menekan tombol re-print sebelum kau membuat kopianmu sendiri."
Dia mungkin tidak berpikir banyak tentang itu disaat itu. Dia berasumsi itu hanya berupa hal-hal bodoh, jebakan yang sering dibuat Tennouji Kotarou. Tapi ternyata, ia melihat daftar murid tahun ke-4 kelas 1. Yang mana cerita mengenai dirinya yang ia pikir telah ia segel untuk selamanya akan kembali menyeruak keluar.
"Setelah melihat itu, kau tahu apa yang sedang kulakukan. Jadi kau mulai mencoba untuk membungkam orang-orang lagi. Kau bahkan memberiku pesan mengerikan di hari yang sama."
'Jangan bangunkan aku.'
"Nishikujou-sensei telah menjelaskan pada kita. Ia menunjukkan bagaimana pesan itu bisa dibuat karena kesalahan mesin itu sendiri dan kertas daur ulang."
"Tidak. Sebenarnya tidak serumit yang ia katakan. Kau menulis pesan itu di sebuah ruangan, mengkopi nya, lalu memberikannya padaku."
Jika Inchou adalah satu-satunya yang bertanggungjawab atas semua ini, maka tak perlu adanya kutukan atau trik rumit untuk menjelaskan apa yang terjadi. Atau mungkin, Nishikujou-sensei memberi pengertian yang salah padaku.
Benar juga. Jika aku telah yakin dengan keyakinanku bahwa kutukan itu tidak benar-benar ada, aku mungkin bisa menyadari lebih cepat kalau dia telah melakukan sesuatu.
"Dan, ponselku. Aku ingin menelpon seseorang di malam itu, tapi hancur."
"Itu sebuah ketidakberuntungan."
"Kau menghancurkannya."
"Bisakah kau membuktikan itu?"
"Tidak. Tapi jika kau bisa memecahkan gelas tanpa menyentuhnya, aku yakin kau bisa melakukannya pada ponselku juga. Selain itu, kau juga punya motif tersendiri."
"Yang mana?"
"Ada sekitar lebih dari dua puluh orang di Kelas satu. Kau perlu waktu banyak untuk mengunjungi rumah mereka untuk menakut-nakuti mereka lagi."
Inchou munggunakan alamat pada daftar kelas untuk mencari tahu. Ia menghabiskan malam untuk mencari keduapuluh itu dan memecahkan kaca di tiap rumah. Aku kagum ia sampai berbuat sejauh itu.
"Tapi kau membuat satu kesalahan kecil. Satu dari para siswa telah pindah, jadi kau tak sengaja menargetkan si pasangan tua yang tak ada hubungannya dengan ini."
"Begitu. jadi kau berpikir jika ini adalah kutukan sebenarnya, itu takkan mengarah pada orang yang salah."
"Sekali aku menyadari kalian berdua adalah orang yang sama, sudah terlihat jelas apa yang kau maksud, ketika kau berpura-pura dirasuki oleh Asahi Haruka. Kau mencoba menghentikan investigasiku, dan mengatakan padaku apa yang kau rasakan."
"Apa yang kurasakan?"
"Ya. Aku ingin menjawab perasaan itu sebuah jawaban serius, makanya aku ingin mengatakannya disini. Karena jika tidak, kau mungkin takkan mengakui dirimu Asahi Haruka."
"..."
"Ini bukan di sekolah, jadi aku takkan memanggilmu Inchou. Tapi, aku harus memanggilmu siapa?"
"Lucia saja. Haruka adalah nama yang ingin kulupakan."
Inchou, mengakuinya. Dia mulai mengerti dirinya adalah Asahi Haruka. Dulu.
"Tapi sebenarnya apa yang terjadi disini?"
"Seperti yang pernah dikatakan Kishida Ryuugo. Tanaman layu, hewan mati, dan orang-orang juga. Semua karenaku."
"Jadi, apa mungkin cerita hantu ini membuat mu terlihat seperti vampir?"
"Aku bukan vampir. Tapi bukan pula manusia."
"Lantas apa pula kau ini?"
"Aku masih normal ketika aku lahir. Tapi, aku berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang mengerikan, jelek dan kotor."
"Apa itu?"
"Entahlah... Sulit untukmu bisa mengerti walaupun kujelaskan. Tapi kau bisa mengerti aku punya kekuatan yang tak dimiliki manusia biasa."
Dia bisa memecahkan kaca bahkan tanpa menyentuhnya. Sudah pasti mustahil untuk orang biasa. Dan dia bisa membuat tanaman layu, meninggalkan tanda pada seseorang yang ia sentuh, bahkan bisa membunuhnya. Sudah pasti itu bukanlah sesuatu yang normal.
Apa sebenarnya Konohana Lucia ini?
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Sekarang giliranmu, Tennouji. Saat kau bilang 'apa yang kau rasakan', sebenarnya apa maksudnya itu?"
"Aaah, itu... Fakta bahwa kau membenci kekuatan itu, dan kenyataan bahwa tak ada yang bisa menerimamu dalam keadaan seperti ini, malahan mengataimu terkutuk."
"..."
"Kau selalu menggunakan sarung tangan untuk menghindari membuat tanda pada seseorang. Dan untuk mencegah kejadian seperti ini terjadi, kau berpura-pura menjadi seorang total clean freak dan menghindari kontak fisik dengan seseorang. Pasti... Sangat menyedihkan."
'Aku akan menghabiskan hidupku sendiri, tanpa menyentuh siapapun atau apapun... Karena mereka akan mati... Tak ada satupun di dunia ini yang bisa menerima kehadiran kami!'
'Tak ada yang bisa! Tak ada seorangpun! Tak ada seorangpun dari mereka!'
"Itulah yang kau katakan saat berada di rumahku. Itulah yang Konohana Lucia benar-benar rasakan."
"..."
Lucia terlihat down dan menggigit bibirnya sendiri. Saat itu ia benar-benar terbawa emosi dan mengatakan itu tanpa berpikir. Ia takkan menduga jika aku mengingatnya.
"Kau memiliki alasan yang sangat baik untuk tidak menyentuh orang-orang. Berarti, memang benar ada seorang gadis terkutuk bernama Asahi Haruka."
"Memang. Aku terkutuk."
"Dalam hal kau tak bisa menyentuh orang-orang."
"Ya. Biasanya aku bisa menyentuhnya. Aku bisa hidup berdampingan dengan manusia biasa. Tapi jika aku melakukan kesalahan sedikit saja, atau sesuatu yang memicu itu terjadi, atau aku tak merasa baik, semuanya akan terlepas begitu saja. Seperti waktu itu."
Kali ini aku yang merasa down untuk sesaat.
"Lucia, maafkan aku. Tapi aku akan menunjukkanmu satu kesalahan fatal yang lain."
"Eh?"
Sudah saatnya Lucia mengetahui ini. Atau mungkin sebenarnya dia telah mengetahuinya namun berpura-pura tak ingat karena 'ketidaksengajaannya' waktu itu.
"Apa kau masih ingat, saat berada di tengah hujan, di depan toko parfait raksasa itu, kau masih ingat apa yang kau lakukan padaku?"
"... Jangan bilang kau-"
Kupotong perkataannya lewat aksiku. Dengan tangan kiriku aku menyinsingkan lengan jaket pada tangan kananku. Lalu,
"Ini... Saat kau menggenggam tanganku..."
"!"
Bisa kulihat ia begitu terkejut, seolah-olah ia tak menyadari apa yang telah ia lakukan. Ada tanda warna ungu cerah pada tangan kananku. Tepat dimana tangan 'kotor' Lucia menggenggamku.
"Biasanya aku mungkin akan mengatakan 'saat Asahi Haruka merebut tubuhmu, ia menggenggam tanganku melalui tanganmu'. Tapi menyadari kenyataannya sekarang sepertinya kata-kata itu sudah menjadi sia-sia."
"O-Oh tidak... Lagi-lagi..."
Ia bereaksi demikian. Menutup mulutnya dengan kedua tangannya layaknya seseorang yang terkejut karena melihat sesuatu hal yang tak diinginkannya.
Harus diakui, rasanya agak menyakitkan. Hingga kemarin aku masih bisa mengabaikan rasa sakit ini. Namun setelah datang kesini, rasa sakit itu semakin menyebar. Bahkan tanda ini menggelap, hampir seperti ada seseorang yang menaruh tinta padaku.
"Lucia... Kau sungguh-sungguh tak ingat apapun saat itu?"
Ia menggeleng.
Berarti apa maksudnya ini?
"Racunku masih bereaksi di area ini. Tanda itu menunjukkan sangat berbahaya untuk datang kesini."
Racun Lucia.
Dia adalah sumber racun yang menyebabkan semua tanaman layu dan hewan mati. Tapi bahkan setelah beberapa tahun, masih sanggup untuk membunuh orang?
Aku sudah merasa sedikit seperti seseorang terjangkit penyakit untuk beberapa saat, seperti merasa demam. Dan tanda ini semakin gelap, dan semakin menyakitkan.
"Akan kubawa kau ke rumah sakit. Sudah banyak perkembangan disana. Kau bisa diselamatkan jika kita datang tepat waktu."
"Apakah ini... Racun?"
"Ya... Kutukanku... Racunku..."
Aku melihat tanganku. Bahkan jari-jariku sudah berubah menjadi ungu. Aku telah menyentuh beberapa benda disini. Apakah itu cukup untuk membuat tanda di jariku juga?
"Ini mengerikan. Bahkan setelah beberapa tahun, racunnya masih sangat kuat."
Jika memang sekuat ini racunnya setelah sekian tahun, maka kupikir aku bisa membayangkan betapa buruknya kejadian itu tujuh tahun yang lalu.
"Maafkan aku... Telah memberimu tanda itu... Kupikir aku harus bertindak sejauh itu untuk menghentikanmu..."
Rupanya ia ingat kejadian saat hujan itu.
"Harusnya aku yang minta maaf."
"Eh?"
"Aku minta maaf, mengenai tanda ini."
Lucia minta maaf karena tanda yang ia buat tak kunjung menghilang. Tapi, bukan itu masalahnya sekarang. Awalnya ia hanya menatap kosong, mencerna apa maksudku. Sesungguhnya aku minta maaf untuk memiliki tanda ini.
"Kau mungkin maksudkan tanda ini sebagai peringatan. Tapi kupikir lebih dari itu."
"..."
"Apa kau tak berharap, tanganmu tak lagi meninggalkan tanda kali ini?"
Makanya, ia menyesal karena ia tahu jika kutukannya, racunnya masih sangat berbahaya.
"Makanya aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku tak bisa memaafkan tubuhku yang lemah. Andaikan aku cukup kuat untuk bertahan dari racunmu... Jika aku cukup kuat untuk tidak memiliki tanda ini... Kau tak perlu menangis lagi... Karena itu, aku ingin minta maaf!"
"Itu... Bukan salahmu, Tennouji..."
"Tenanglah sedikit..."
Lucia kehilangan kata-katanya saat aku meminta demikian. Yang kuinginkan sekarang adalah ketenangan, jadi aku bisa berkonsentrasi. Jika memang racunnya yang menyebabkan tanda ini, maka...
'Racunnya saat ini bersarang pada tubuhku.'
Dan, aku akan mengalahkannya!
...
...
...
~ To be Continued ~
