DISCLAIMER
Visual Novel 'Rewrite' by Key Visual Arts 2011, Romeo Tanaka and Yuuto Tonokawa
Fanfic 'Truth Behind of That Gloves' by Sachiya Haruyuki 2014
Aku mulai merasa penat di seluruh tubuhku. Seperti yang pernah Lucia katakan, kapel ini dipenuhi oleh racun. Tapi tubuh Lucia benar-benar baik-baik saja. Tubuhnya tak sedikitpun merasa terganggu olehnya.
Maka tak ada alasan bagiku aku tak bisa mengalahkan racun ini!
- Rewrite Start! -
Mengenali racun yang berada dalam tubuhku, mengetahui caranya membuat tanda itu, lalu menghentikannya. Tanda ungu ini yang telah menyakitinya, akan kubakar dengan kekuatanku!
Sudah pernah kugunakan kekuatan ini berulang kali di masa lalu. Aku menggunakan kekuatan hanya untuk sekadar lelucon, atau hanya untuk kesenangan diri namun bukan untuk tujuan serius.
Tapi hari ini, aku tahu. Aku memiliki kekuatan ini demi membantu seseorang. Dan ini adalah kesempatan pertamaku untuk menggunakannya demi tujuan itu.
Aku berusaha sekeras mungkin yang aku bisa, namun aku tetap tak bisa lepas dari racun dalam tubuhku. Tidak, mungkin bisa sedikit. Tapi racun ini terlalu kuat. Bahkan setelah beberapa tahun, hanya dengan menyentuhnya saja bisa meninggalkan tanda di tanganku.
Kesampingkan itu.
Apakah aku akan membiarkan semua hal bertahun-tahun lalu terus-menerus menyakiti hatinya?
Dengan perasaan marah kupandang tanda di tanganku. Tanda ini telah menyakitinya. Aku tak bisa membiarkannya begitu saja.
Persetan dengan racun, atau pula kutukan itu!
"Kali ini aku akan menepati janjiku! Akan kuhancurkan kutukan Asahi Haruka itu!"
Sesuatu yang panas melewati pembuluh darahku. Aku sering merasakan ini dulu ketika menggunakan kekuatan ini. Tapi tetap saja, baru kali ini aku merasakan seluruh tubuhku terbakar dari dalam. Aku tahu akan terasa seperti ini, jika aku menggunakan kekuatan ini sungguh-sungguh. Tak diragukan lagi aku membakar seluruh tubuhku dari dalam, dan 'membuat ulang' dengan sesuatu yang berbeda.
Akankah aku tetap menjadi diriku setelah selesai? Ketakutan itu menghalangiku melakukan ini di masa lalu.
"A-Aku tak tahu apa yang kau lakukan, tapi berhentilah... Tolong berhentilah!"
"Jika kekuatanmu adalah kutukan, Lucia... Maka kekuatanku akan menerimanya!"
Aku membuat ulang seluruh tubuhku sehingga aku bisa mengalahkan racun ini. Aku akan membakar tanda ini!
"Hentikan ini, Tennouji Kotarou! Apapun yang kau lakukan hentikanlah. Kita harus membawamu keluar dari sini!"
"Aku tak ingin meninggalkanmu sendirian disini! Itu satu keinginanku yang tak dapat kupenuhi! Aku takkan membiarkanmu berkata tak ada di dunia ini yang bisa menerimamu! Aku akan menjadi satu-satunya di dunia ini yang bisa melakukannya!"
"Hentikaaaaaaan! Jangan membuatku membunuh seseorang lagiiiiiiiiii!"
"Tidak akan! Aku takkan membiarkanmu merasakan itu lagi!"
Bakar kutukan yang membuatnya menderita.
Disaat itu, angin tak dapat berhembus tapi aku merasakan sesuatu seperti angin puyuh yang panas. Rasa panas di dalam tubuhku hingga saat ini perlahan lepas begitu saja.
- Rewrite finished -
Dan setelahnya, hanya ada kesunyian yang menenangkan. Mata Lucia terpejam rapat sembari memegang kepalanya. Mungkin dia tak ingin melihatku tersungkur ke tanah dengan mulut berbusa.
Tapi bukan itu yang terjadi...
"Buka matamu..."
"T-... Tennouji...?"
"Aku telah menerima duniamu, Konohana Lucia."
"Ah... Aaa...!"
Lucia terlalu shock. Aku belum menggerakkan otot-ototku. Aku masih menggenggam tanganku.
Tapi satu hal telah berubah. Dan perubahan itu membuktikan kutukannya telah musnah.
"Tanda itu... Sudah hilang... Ba-Bagaimana mungkin...?"
"Ini kekuatanku... Hanya itu yang bisa kukatakan."
"A-Apa yang kau...?"
"Tennouji Kotarou. Murid kelas dua SMA. Teman dari Konohana Lucia. Bukannya seorang teman takkan membiarkan temannya hidup sendiri?"
"A-Apa kau benar-benar baik-baik saja!? Ta-tanda itu mungkin sudah hilang, tapi... Bagaimana dengan tubuhku!? Apa kau sakit? Apa kau merasa pusing? Ah!"
*grab*
Kali ini aku menggenggam tangannya. Ini adalah cara paling sederhana untuk mengatakan bahwa kutukannya takkan memberi dampak apapun padaku.
"Le-Lepaskan aku, Tennouji... Kau bisa mati..."
"Kutukanmu, racunmu takkan bekerja lagi padaku. Dunia ini begitu luas, jadi pasti ada seseorang yang bisa menerimamu."
"K-Kau bisa, tahan dengan racunku?"
"Yep. Kadang-kadang seseorang yang tak terduga bisa mengejutkanmu. Selain itu, kau terlihat baik-baik saja dengan Shizuru belakangan ini. Kau tak pernah sendirian."
Inilah yang benar-benar ingin kukatakan padanya.
"Kau tak perlu hidup sendiri tanpa menyentuh siapapun. Jangan coba-coba mengatakan sesuatu yang membuatmu sedih lagi! Okay!? Kau mengerti!? Aku satu-satunya yang bisa menerimamu!"
"Le-Lepaskan tanganku... Ta-tanda itu mungkin hilang, tapi mungkin takkan berarti apapun! Tidak, tidak! Aku tak ingin membunuh seseorang lagi!
Dia mengakui tanda itu sudah hilang, namun ia tak yakin aku sudah aman dari racunnya.
Sial. Bagaimana sekarang aku membuktikan padanya aku baik-baik saja!? Bagaimana aku membuktikan padanya dia tak perlu khawatir aku bisa terbunuh olehnya!? Gadis ini menangis karena ia pikir ia takkan pernah bisa menyentuh siapapun. Bagaimana aku bisa mengatakan aku adalah perkecualian?
Ketika aku memikirkan itu, tubuhku secara refleks bergerak sebelum aku memikirkan jawabannya.
*hug*
Memeluknya.
"T-... Tennouji..."
"Tidak apa-apa..."
"Ji-Jika kau tak melepaskanku... Kau akan..."
"Aku takkan mati."
"..."
"Aku takkan peduli seberapa sering kau menyentuhku. Karena itu aku bisa menerimamu."
Aku bisa menerima kekuatan menyedihkan nan tragis milikmu sekarang.
"Karena itu... Jangan pernah..."
"Ja-jangan pernah...?"
Mengatakan hal-hal yang menyedihkan lagi.
"Jangan pernah... Mengatakan kau harus menghabiskan hidupmu sendiri!"
Itu adalah satu hal penting yang ingin kukatakan padanya. Sekalipun aku tahu lebih mengenai dirinya sekarang, keinginanku untuk mengatakan ini padanya tak pernah berubah.
Jangan buang masa depanmu, dengan mengatakan kau dikutuk untuk hidup sendiri.
"Masa depan itu adalah, sesuatu yang jika kau percaya akan terjadi. Jangan menolak apapun dengan berasumsi takkan ada apapun yang berubah. Itu sangat menyedihkan."
Bukan karena tak ada orang yang bisa menerimamu.
"Kau sendiri juga tak mencoba untuk menerima dunia ini."
"Aku juga... Tak menerima mereka? Tapi... Aku selalu berakhir... Bertengkar dengan Ohtori-san dan yang lainnya..."
"Awalnya begitu. Tapi Chihaya mengerti sekarang."
Mereka mungkin memiliki masalah antar satu sama lain, tapi Chihaya mengerti masalah yang dialami Lucia sekarang. Sekalipun mereka tak bisa menyentuh satu sama lain, mereka tetap bisa menjadi teman.
"Dan kau mulai bertengkar lagi dengannya. Dasar bodoh. Kau mulai lagi menolak dunia. Bukan tanganmu yang kau tutup dengan sarung tanganmu. Tapi hatimu lah yang kau tutup."
"Aku... Bodoh?"
"Ya! Kau bodoh! Jadi kau tak perlu khawatir tentang ini lagi! Aku baik-baik saja sekalipun kau menyentuhku, dan aku mengerti luka mu! Aku bisa terus bersamamu selamanya!
Jadi jangan pernah kau...!
"Jangan pernah katakan kau harus menghabiskan hidupmu sendiri!"
Dan dia membalas pelukanku. Penuh dengan butiran air mata.
"Ya... Aku takkan... Mengatakannya lagi! Selama kau... Tetap hidup, Tennouji Kotarou!"
"Aku takkan mati!"
"Kau yakin!?"
"Ya!"
"Apa kau... Akan tetap bersamaku selamanya!?"
"Ya! Selamanya! Aku akan selalu bersamamu! Aku, Tennouji Kotarou, takkan pernah meninggalkamu!"
Lucia harusnya mengakui ini. Aku, Tennouji Kotarou, memiliki kekuatan yang mengijinkanku menerima racunnya. Aku tak memiliki ini sebelumnya. Tapi sekarang semua tanda ungu pada tanganku telah menghilang. Tanda-tanda itu dianggap sebagai tanda kutukan, menjanjikannya ribuan tahun penuh dengan kesendirian.
Tapi sekarang, semuanya musnah, didepan matanya sendiri.
Jika ini bisa dijelaskan dalam satu kata, maka...
"Ini... Keajaiban..."
"Apa maksudmu? Tentu saja keajaiban terjadi disini sekali dalam beberapa waktu."
"Apa yang kau...?"
"Bodoh. Kita ini di dalam gereja."
Tuhan mungkin telah memperhatikan kita, 'kan? Tak ada yang aneh bagi-Nya memberikan satu atau mungkin dua keajaiban, untuk seorang gadis yang terkurung dalam kesendiriannya.
"Tolong katakan sekali lagi. Berjanjilah di hadapan Tuhan."
"Aku janji! Aku, Tennouji Kotarou akan selalu bersamamu! Sekarang kau juga harus berjanji, takkan pernah mengatakan kau harus hidup sendiri! Mengerti!?"
"I-Iya... A-Aku janji! Takkan pernah mengatakan itu lagi!"
Kami terus berpelukan sesaat.
"Tapi tetap saja, Lucia..."
"Eh?"
Ada satu hal lain yang mesti kulakukan. Dan itu adalah hal yang sedari tadi ia katakan padaku.
"Ayo kita keluar dari sini, dan bawa aku ke rumah sakit. Bukannya itu yang kau katakan padaku sebelumnya?"
"Ah..."
Harusnya Lucia tak mungkin lupa akan hal itu. Mengingat ia memintaku demikian sampai-sampai harus bercucuran air mata.
"Kupikir sebaiknya begitu..."
~ To be Continued ~
