DISCLAIMER
Visual Novel 'Rewrite' by Key Visual Arts 2011, Romeo Tanaka and Yuuto Tonokawa
Fanfic 'Truth Behind of That Gloves' by Sachiya Haruyuki 2014
Lucia membuangku dan Shizuru keluar setelah kejadian itu. Setidaknya aku memiliki hak untuk tahu apa yang sedang ia lakukan di kamar mandi.
"Aku merasa menyukainya."
"Kau menyelinap masuk ke dalam kamar mandi seseorang karena kau menyukainya?"
"Dalam kasus ini, aku sedang mengawal Lucia. Aku hanya ingin memastikan kau tak melakukan apapun terhadapnya, Kotarou."
"Kau pikir Inchou si tangan besi itu perlu pengawalan? Serius?"
"Hmm... Benar juga, ya."
Dia terus membuat alasan. Dia bukan tipe yang akan menjelaskan sesuatu padaku langsung.
"Yah, kupikir aku bisa menebak. Kau membantunya memasakkan semua makanan itu, kan?"
"Hm? Bagaimana kau bisa tahu?"
"Terlalu banyak ikan."
"Uuu... Kupikir itu bagian dari makanan rumahan normal pada umumnya."
"Lucia sangat baik dalam hal memasak, 'kan? Bento nya benar-benar enak sekali."
"Lucia memiliki masalah dalam hal pencecapan."
Ah, benar juga. Dia memiliki toleransi yang teramat tinggi terhadap rasa pedas. Aku mengerti sekarang, jika ia memasak seperti biasa, ia mungkin akan memasakkan sesuatu yang tak bisa kumakan, karena itu ia perlu bantuan Shizuru.
"Aku yang membeli semua bahannya, tapi Lucia yang memasak semuanya. Yang kulakukan hanya mengetes rasanya saja."
"Jadi dia membuatmu melakukan pekerjaan yang membosankan dan kau tidak ingin merasa dibuang begitu saja? Lalu kau menyelinap masuk ke dalam dan memperhatikan apa yang kami lakukan?"
"Aku tak menyangka ia akan memakai pakaian itu. Kotarou, apa kau yang menyuruhnya?"
"B-Bukan aku. Itu perintah Nishikujou-sensei!"
"?"
Walau sebenarnya salahku juga membiarkannya memberi perintah seperti itu. Shizuru terlihat terkejut ketika mendengar Nishikujou-sensei memberi perintah-perintah aneh demikian.
Ah... Tidak bagus... Ini harusnya menjadi rahasia jika keduanya berada dalam Guardian.
"Begitu. Kotarou, kau berjanji untuk menjaga rahasia sebagai gantinya menyuruh Lucia melakukan hal mesum."
"Uu... Begitulah..."
"Touka memang suka sekali bergurau, tapi kadang-kadang ia juga bersikap dingin. Kalau kau membuka rahasia itu, Kotarou, kau bisa dipindahkan oleh nya."
"Ra-Rahasia? A-Apa yang kau bicarakan?"
Jangan bilang,
"Guardian."
"Owawawa! Jangan katakan itu! Shizuru-san, kau tak diijinkan mengatakan itu!"
Aku hanya bermain-main, tapi tak kusangka Shizuru akan mengatakan nama itu secara gamblang.
"Berarti, kau juga dengan mereka?"
"Apa yang kau bicarakan?"
"Terlambat untuk bergurau."
"Guar! Guar!"
"Hewan macam apa itu?"
'Dan tolong berhenti mengatakan nama organisasi itu!'
Setidaknya aku tahu kenapa Lucia dan Shizuru bisa begitu dekat meskipun berbeda setahun. Keduanya berasal dari Guardian.
"Begitu. Itu alasan kau mengenal Lucia."
"Guar! Guar!"
"Itu masih terdengar aneh."
"Guar?"
"Tolong hentikan itu."
Lucia menjadi seseorang yang sangat gila akan kebersihan karena tubuhnya memproduksi racun. Dia telah menghindari kontak fisik dengan orang lain karena ia mungkin akan menginfeksi mereka dengan racunnya.
"Tapi... Kau bisa masuk ke rumah Lucia, 'kan?"
"Yep."
"Kau telah memasak untuknya, dan ia telah memakan bento bersamamu sebelumnya, 'kan?"
"Itu normal."
"Kalau orang normal, ya. Tapi tidak dengan Lucia. Kau tahu apa maksudku, 'kan?"
"Aku istimewa."
"Tidak. Tidak peduli seberapa dekat kalian berdua, Lucia pasti akan menghindari itu."
"Maksudku tubuhku istimewa."
Shizuru mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
"Istimewa bagaimana?"
"Sama seperti bagaimana istimewanya tubuh Lucia. Racunnya tak berdampak padaku."
"Se-Serius?"
"Seperti dirimu, Kotarou."
"Begitu..."
"Makanya hanya aku satu-satunya teman yang ia punya."
"..."
Semenjak Lucia meracuni siapapun yang ia sentuh, menjadi temannya perlu imunitas untuk racunnya itu. Karena itu Lucia tak terbuka pada siapapun di kelas, tapi bisa dengan Shizuru.
"Banyak orang-orang yang ingin berteman dengan Lucia, tapi dia menolak semuanya."
"Ya. Dia tak ingin kehilangan seseorang hanya karena racunnya lagi."
Chihaya juga mencoba untuk menjadi temannya. Kalau saja bukan karena racunnya, mungkin mereka sudah menjadi teman baik sekarang. Bukan salah Chihaya atau Lucia. Ini hanya, tubuh Chihaya takkan sanggup untuk bertahan karena racunnya. Hampir tak seorang pun.
"Lucia seringkali berharap ada seseorang yang muncul dengan kekebalan ajaib terhadap racunnya."
"..."
"Kotarou, kau adalah keajaiban Lucia."
"Aku bukan peri. Aku hanyalah orang aneh yang muncul sebagai imunitas terhadap racunnya."
"Racunnya itu terlalu kuat."
"Seperti yang kudengar."
"Hebat sekali kau masih baik-baik saja, Kotarou."
"Yang berarti kau sendiri juga hebat."
"Aku sangat-sangat hebat."
"Jangan katakan itu tentang dirimu."
"Guar! ."
"Jangan khawatir."
"Guar?"
"Aku janji akan selalu bersamanya. Aku tak berniat meninggalkannya sendiri."
"Kotarou, kau mengatakan sesuatu yang luar biasa. Aku sedikit cemburu. Itu memalukan."
"K-Kau benar. Itu cukup memalukan."
"Bahkan lebih dari cosplay makan malammu."
"Jangan katakan itu!"
"Tapi Lucia selalu menginginkan itu."
"Dia ingin cosplay?"
"Guar! Guar! Guar!"
Dia malah memukulku.
"Ow, ow! Maaf! Aku takkan bercanda lagi soal ini!"
"Biar bagaimanapun, Lucia juga seorang perempuan. Dia selalu ingin berinteraksi dengan laki-laki."
Semua laki-laki dan perempuan menginginkan itu di umur seperti ini. Sekalipun seorang Inchou bukanlah perkecualian. Hanya karena masalah tubuhnya saja, keinginan itu terasa lebih menyakitkan baginya.
"..."
"Kotarou, kau mungkin berpikir itu hanyalah lelucon. Tapi kau telah mewujudkan satu dari impian Lucia hari ini. Kau bisa yakin itu."
Membawa laki-laki ke rumahnya, dan memasakkan sesuatu untuknya. Sesuatu yang pasti diinginkan oleh beberapa perempuan.
"Dia mungkin akan mengundangmu ke kamarnya untuk minum teh setelah kau selesai makan."
Impian kecil Lucia yang dikatakan Shizuru. Jika dia bisa mengundang laki-laki ke rumahnya, dia akan memasakkan sesuatu untuknya. Lalu mengundangnya ke kamarnya, dan memberinya secangkir teh. Dan berbicara selama yang mereka mau. Dia mungkin sudah menyiapkan teh di dapur sebelumnya.
"Bukannya itu berarti kau sudah mengacaukannya?"
"Aku tak berpikir kau bisa menemukanku. Kau terlalu hebat, Kotarou."
Benar. Andai saja aku tak memperhatikan sesuatu yang bergerak itu, Shizuru mungkin akan tetap tak terlihat. Tidak ada tanda lain jika dia ada disana.
Begitu, mungkin itu adalah bagian yang Guardian ajarkan pada agen nya.
"Tunggu dulu, ini tetap menjadi salahmu, Shizuru."
"Hmmm..."
"Jangan berpikir berlebihan."
"Kotarou."
"Kau bilang kau takkan meninggalkan Lucia sendiri. Apa kau maksud, selamanya?"
"Yah, aku tak memasang batasan waktu."
"Saat di kapel, kau bilang kau takkan meninggalkannya sendiri selama kau masih hidup."
"Uoooooo... Itu... Pasti salah dimengerti..."
"Salah mengerti?"
"Hm?"
Ekspresi Shizuru terlihat seperti biasanya. Tapi matanya penuh dengan sesuatu hal saat menatapku. Sebagai teman Lucia, Shizuru ingin tahu apa yang benar-benar kurasakan. Mungkin akan lebih mudah jika menganggap aku tak mengerti dan lepas dari pertanyaan.
Tapi... Aku...
"Yah... AKu tidak mencoba untuk membuat orang salah mengerti. Itulah yang kurasakan saat itu. Aku takkan pernah meninggalkannya sendiri lagi."
"Apa kau tak berpikir bagaimana kedengarannya menurut Lucia?"
"Aku tak berpikir tentang hal-hal romantis saat itu. Kalau Lucia seorang laki-laki, aku mungkin akan mengatakan hal yang sama."
"Kupikir Lucia, menganggapnya lebih dari itu."
"..."
"Kotarou, masih mungkin bagimu untuk membantu Lucia menyadari kesalahan pengertian itu tanpa menyakiti siapapun."
"..."
"Apa kau siap untuk menghabiskan hidupmu dengannya?"
Aku berhenti dan menatap cahaya yang bersinar di kegelapan. Aku berpikir ulang mengenai hal-hal yang terjadi pada Lucia. Siapa dia bagiku? Seseorang yang sering kujahili karena toleransi pedasnya yang terlalu tinggi? Seseorang yang kukasihani karena menjadi seseorang yang gila kebersihan mengekangnya dari siapapun? Seseorang yang tak bisa kuabaikan karena cerita Asahi Haruka berhubungan dengannya?
...
Aku masih tak tahu bagaimana perasaanku tentang Konohana Lucia. Dia lebih dari sekadar teman kelas atau teman biasa sekarang. Kami telah melalui banyak hal. Tapi dari sudut pandang Lucia, mungkin aku adalah satu-satunya orang yang ia percayai akan menghabiskan hidupnya bersama dengan dirinya.
Aku telah mengatakan hal-hal yang dengan mudah dimaksudkan demi hal itu. Tapi, entah aku menerima itu atau tidak, aku tak ingin meninggalkannya sendiri lagi.
Mungkin akulah yang gagal mengerti apa arti dari perasaan itu. Saat di kapel, aku merasakan amarah yang teramat sangat terhadap racun yang selama ini mengekangnya dari siapapun. Karena itu aku menggunakan seluruh kekuatanku untuk mengalahkan racunnya dengan tubuh baru, walaupun aku tak bisa membiarkan diriku menggunakannya sedikitpun.
Semenjak tak ada perubahan jelas seperti bertambahnya massa otot, aku tak benar-benar memperhatikannya. Tapi mungkin aku telah membuat ulang tiap sel dalam tubuhku. Harusnya ada perubahan lain.
Kekuatan terlarang yang kutakuti semenjak masih kecil. Apakah aku telah menggunakan semuanya, tanpa berpikir?
"Kupikir... Seluruh tubuhku... Dari rambut hingga jari kakiku, masih terlihat sama, tapi sebenarnya berbeda dari manusia pada umumnya."
"..."
Hasil tes saat di rumah sakit menunjukkan aku kebal terhadap racun Lucia. Tapi dari yang dikatakan para dokter, aku belajar satu hal.
"Aku terlihat seperti manusia dari luar. Tapi sangat berbeda di dalamnya."
"Seperti yang kudengar."
"Sama seperti perbedaan yang dimiliki Lucia. Aku juga seperti halnya dirinya."
"?"
"Jangan dipikirkan. Walau begitu, aku tak ingin meninggalkan Lucia sendiri, jadi aku berharap pada tubuh ini. Dan sekalipun aku ingin kembali ke diriku sebelumnya, aku tak bisa melakukan itu."
Perubahan yang kulakukan karena kekuatan ini tak bisa dikembalikan. Karena itu aku tak ingin menggunakannya terlalu sering. Tapi, ketika melihat air mata Lucia, ketakutan itu memudar.
"Aku hanya tak menyadarinya saja."
Aku sudah pasti siap takkan pernah meninggalkan Konohana Lucia sendiri seumur hidupku. Jika aku tak tahu untuk apa maksudnya itu, aku hanya akan tambah menyakitinya.
Aku menggunakan kekuatanku untuk mencegah menyakitinya. Jadi kenapa aku harus takut untuk melangkah lebih jauh?
"Aku takkan pernah, sekalipun meninggalkan Konohana Lucia sendiri. Aku telah menjanjikan itu padanya. Dan walaupun Lucia menerima itu, ia tidak salah paham akan satu hal."
"Kotarou..."
"Jika dia ingin mengundangku ke kamarnya untuk minum teh dan berbicara, maka aku akan mengabulkan keinginan itu secepatnya. Aku akan mengabulkan semua keinginannya. Apa itu sudah cukup, Shizuru?"
"..."
Setelah keheningan sesaat, Shizuru menghela nafas tanda merasa lega. Ketika itu, aku tak pernah berpaling dari matanya.
"Jadi dalam masa cinta, ya? Aku jadi cemburu. Tapi aku merasa lebih baik sekarang. Sebagai teman Lucia, aku bahagia mendengar itu."
"Sekarang kembali ke pembicaraan awal. Kau seratus persen bersalah atas apa yang terjadi, dan jangan pikir aku akan melupakannya."
"Mmm... Hampir saja..."
"Aku takkan melupakannya. Bahkan pada hal sekecil apapun."
Shizuru menggaruk kepalanya. Tapi wajahnya kembali ke ekspresi bodohnya yang biasa. Sebagai teman Lucia, Shizuru memberitahuku hal-hal yang Lucia tak bisa katakan sendiri. Aku yakin ia akan memberitahu Lucia apa yang kukatakan.
Kadang-kadang perlu orang ketiga untuk membantu dua orang menyadari perasaannya masing-masing.
"Kotarou, rumahmu lewat sana. Aku lewat sini."
"Sudah larut. Biar kuantar kau pulang."
"Aku agen Guar. Aku akan baik-baik saja."
"Berhenti menyebutkan nama komunitas rahasiamu berulang kali."
"Guar! Guar!"
"Ya sudahlah, sampia bertemu besok."
"Kotarou, aku takkan mengganggumu lagi. Sebagai permintaan maaf, aku akan memberitahumu sesuatu."
"Apa itu?"
"Akan kukatakan padamu beberapa impian Lucia."
"Impian?"
"Sesuatu yang diimpikan Lucia ketika ia mendapatkan pacar, edisi Tahun Baru."
"Aku ingin mendengarnya sebelum yang paling baru keluar."
Shizuru memberitahuku impian Lucia saat kencan pertama. Sesuatu, berbau fantasi biasa yang beberapa perempuan mungkin miliki. Terlalu biasa sampai-sampai membuat statusnya sebagai agen rahasia terkesan tak berarti.
Guardian, aku masih tak mengerti apa yang mereka lakukan dari waktu ke waktu. Tapi tak masalah bagiku. Ketika datang saatnya Lucia sebagai seseorang, hanya sebagai perempuan, tak ada satupun menjadi masalah.
~ End ~
Ya! Akhirnya selesai juga fanfic ini! Maaf kalau ending nya gantung. Dan, sama sekali tak ada review... T.T
Mungkin saya harus berpikir ulang kalau mau bikin fanfic di fandom ini. Tapi tak apa. Saya harus tetap semangat. Salut yah buat Kotarou-san atas keberhasilanmu! ^^
At Least, thanks for reading! ^^
~ Sachiya Haruyuki ~
