"Setiap peristiwa di jagat raya ini adalah potongan-potongan mozaik. Terserak disana-sini, tersebar dalam rentang waktu dan ruang-ruang…"—Pak Balia, Sang Pemimpi
Di malam 31 Oktober itu, James dan Lily Potter tidak mendapat kunjungan Lord Voldemort, Peter Pettigrew mati, dan Sirius Black tak tersentuh Azkaban. Tapi sebagai ganti, pasangan Longbottom-lah yang harus mengorbankan nyawa mereka untuk The Chosen One, Neville Longbottom. Kitab kehidupan pun menulis cerita yang berbeda, karena tentu saja, Voldemort telah memilih orang yang berbeda.
Harry Potter belongs to JK Rowling
The One and Only © esjerukdingin, 2013
Warning: perubahan plot besar-besaran, out of character
#2
Another Halloween's Night
Malam Halloween, 31 Oktober 1981, tuan Granger keluar dari sebuah café, dia menuju ke sebuah mobil Ford yang terpakir diujung jalan seraya merapatkan jaket abu-abunya. Ditangannya ada sebuah bungkusan besar berwarna coklat berisi susu siap minum dan beberapa roti yang baru dipanggang. Tiba didalam mobil, dia menyandarkan kepalanya ke sandaran jok dan menatap ke samping.
"Untung mereka masih punya susu kedelai," katanya. Dia menaruh bungkusan itu dijok belakang.
Seorang wanita yang duduk dikursi penumpang, nyonya Granger, mengangguk singkat. "Bagus. Setidaknya malam ini Hermy tidak akan rewel."
Keduanya mengalihkan pandangan pada sosok bayi yang terbungkus rapat didalam gendongan ibunya. Rambut coklat ikal lebat, matanya tertutup rapat sejak dua jam yang lalu, dan bibirnya terus menerus berdecak kecil.
"Kita pergi?" tanya tuan Granger, bersiap menyalakan Ford-nya.
"Seharusnya, ya, Sayang. Edward tidak akan suka jika menunggu terlalu lama."
Tuan Granger menjalankan Ford-nya menuju barat. Jalanan mulai sunyi padahal jam makan malam belum juga mulai, tapi dia yakin karena ini adalah Halloween. Keluarga besar Granger memutuskan untuk berkumjung ke rumah bibi mereka, dan itu adalah akan sangat lama, berminggu-minggu mungkin, karena bibi Granger sudah menunjukkan tanda-tanda akan mengamuk jika keponakan-keponakannya tidak memperhatikan dia.
"Kurasa disekitar sini," kata tuan Granger, mengamati jalan besar yang gelap. "Di pengisian gas, bukan? Yang itu? Oh, bukan."
"Disana." Tunjuk nyonya Granger ke arah papan putih bercahaya yang bertuliskan Emily's Gas Station.
Tuan Granger menambah kecepatannya dan berbelok tepat dipintu masuk pengisian itu. Sudah banyak keluarga Granger yang berkumpul disana. Tempat itu tadinya milik ayah dari sepupu tuan Granger, tapi telah dijual, dan karena tempat ini yang masih terbilang dekat dengan rumah bibi Granger, dan juga karena bibi Granger sendiri ingin kedatangan keponakan-keponakannya harus bersama-sama, jadi mereka semua memutuskan untuk berkumpul disini sebelum bersama-sama pergi ke rumah bibi Granger.
Tuan Granger memarkir mobilnya didekat pintu keluar, dia dan istrinya turun tapi Hermione kecil ditinggalkan dalam mobil. Udara Oktober dingin dan nyonya Granger tidak ingin Hermione terbangun karena itu.
Ditempat yang lain, berkilo-kilo meter jauhnya dari Hermione kecil tertidur, Voldemort melangkah dengan tenang. Jubah hitamnya berkibar ditiup angin Oktober. Dia tidak sendiri. Empat pelayannya mengikutinya dibelakang, juga dengan jubah hitam mereka yang menutupi wajah. Jalanan Wolverhampton masih sedikit ramai malam itu. Banyak anak-anak dengan kostum Halloween keluar masuk halaman rumah orang dengan tentengan permen.
"Trick or treat, Sir?"
Tiga bocah kecil dengan jubah Frankeinstein meloncat dan menghalangi jalan Voldemort. Amycus Carrow menggeram pelan, dia hampir mengeluarkan tongkat sihirnya tapi dihalangi Voldemort.
"Tidak… tidak sekarang, Amycus," katanya.
Voldemort menyeringai dan kendati wajahnya tertutup penutup jubah, ketiga bocah itu bisa melihatnya. Mata mereka membulat dan ada sorot ketakutan disana, tak menunggu lama ketiganya serentak mundur beberapa langkah dan langsung berbalik dan berlari.
"My Lord…" panggil Amycus.
"Simpan sihirmu untuk yang lebih pantas, Amycus. Simpan untuk yang lebih pantas…"
Voldemort tidak repot-repot menyembunyikan nada membunuh dari suaranya. Tidak, tidak malam ini. Tentu tidak ada yang lebih pantas dari ketiga bocah kotor itu. Dia juga ingin membunuh tiga monster kecil itu, Muggle kotor yang berani berbicara padanya, tapi hatinya sedang senang saat ini. Mengetahui bahwa ramalan profesor tolol itu tak akan lagi berarti, tidak setelah malam ini dia menghancurkan mereka.
Beberapa menit setelahnya, mereka telah berdiri didepan sebuah rumah bertingkat dua. Ada banyak labu bermotif wajah yang diletakkan dihalaman rumah, dan seorang bayi terlihat setengah merangkak dari jendela atas lantai dua.
Voldemort menyeringai.
"Neville Longbottom…"
Dia berjalan mendekati pagar, tiga pelayannya masih tetap mengikutinya dari belakang.
"Tidak, kawan-kawanku…" katanya, terhenti didepan pintu pagar dan masih tetap memandangi sosok Neville dilantai dua. "Aku ingin melakukannya sendiri ("Tapi, Tuanku…"). Aku akan lebih senang jika kalian memburu sisanya."
Ketiganya menunduk dan kemudian terdengar suara pop pelan.
Sepeninggal ketiga pelayannya, Voldemort membuka pintu pagar dengan pelan. Dia melangkah dijalanan setapak yang dipenuhi dedaunan. Angin kembali berdesir dan menerbangkan ekor jubahnya, membuat suara mengerikan dengan itu dan dedaunan kecil. Tangannya yang mengerikan beralih ke dalam jubahnya, menarik tongkat sihir putih miliknya dan mengarahkannya pada lubang kunci pintu.
Terdengar bunyi klik pelan dari dalam, dia menyeringai dan membuka pintu dengan pelan. Voldemort melangkah masuk, sebagian dari dirinya mengharapkan bertemu langsung dengan mereka, dengan wajah ketakutan mereka dan bersujud memohon. Tapi ketika tidak ada seorangpun yang menyambutnya, dia sadar, mereka adalah milik si tua Dumbledore, mereka menentangnya dan mereka tidak akan menyerah begitu saja.
"Oh demi Merlin! Frank! Dia berjalan… Neville berjalan, Frank."
Suara seorang perempuan terdengar dari lantai atas. Voldemort menuju tangga dan menendang sebuah mainan Muggle ke samping. Dia tidak perlu menyalakan cahaya dari tongkatnya kendati tidak ada lampu yang menyala dilantai satu. Voldemort tidak takut gelap, Voldemort penguasa kegelapan.
Ketika dia sudah berada ditangga paling atas, dia menatap Neville kecil yang berusaha berdiri diatas kedua kakinya. Orangtuanya tidak menyadari ada sosok lain dirumah mereka. Hanya Neville yang melihatnya, dan dia tertawa sambil menunjuk Voldemort yang terselubung dibalik kegelapan dan jubahnya.
Lalu kegaduhan terjadi. Frank berdiri dengan cepat didepan Alice yang sudah menggendong Neville. Dia melancarkan mantra dengan sinar kebiruan keluar dari tongkatnya tapi Voldemort dengan mudah menangkisnya, membuat sebuah kursi kayu yang bersandar didinding hancur.
Voldemort ingin melakukannya dengan cepat. Dia ingin ramalan itu hancur hanya dengan sekali jentikkan tongkatnya.
Sebelum Frank menyadarinya, sinar kehijauan langsung mengenai dadanya dan dia terlempar keluar jendela. Alice berteriak dan semakin merapat ke dinding dibelakangnya. Tongkat sihirnya mengacung pada Voldemort, tapi dia tahu ini tidak mudah. Neville yang terancam disembunyikan dibalik tubuhnya. Alice melancarkan kutukan berwarna merah, tapi lagi-lagi Voldemort berhasil menangkisnya. Dia melangkah maju, membuat jarak diantara dia dan sepasang anak ibu itu semakin dekat.
"Jangan berpikir kau bisa melukai anakku!" teriak Alice.
Neville mulai menangis dibelakang tubuh ibunya yang berdiri tegak, dan Voldemort tidak suka itu. Dia benci anak-anak.
"Darah murni adalah yang utama, Alice," ujarnya, suaranya mendayu-dayu. "Jangan korbankan darah murnimu untuk sesuatu yang tidak perlu. Kau akan selamat, Alice. Kau akan tetap hidup asalkan berikan anak itu padaku."
Alice menggeleng keras. "Persetan dengan supremasi darah murnimu! Jangan ganggu anakku!"
Alice tahu dia tidak akan selamat malam ini. Tapi dia akan memastikan Neville aman. Pintu kamar Neville terbuka beberapa meter disebelah kanannya. Alice berlari dengan cepat, setengah berharap bahwa Voldemort ingin memberinya beberapa waktu.
Didalam kamar, Alice meletakkan Neville diatas boks tempat tidurnya. Boneka berbentuk quaffle pemberian Sirius diberikannya pada Neville. Neville memeluknya dengan erat, tangisnya sudah berhenti dan ada jejak air mata dikedua pipinya.
"Ah… Alice… Kau tidak perlu melakukan itu…"
Terdengar suara Voldemort yang mendayu-dayu dari luar kamar. Alice menguatkan hatinya. Dia menatap Neville dengan sedih dan mengecup rambut hitam anaknya dengan sayang.
"Neville, Dear," katanya, tenggorokannya terasa tercekik tapi dia kembali berusaha berkata. "Neville, listen. You're so love, Dear… so love… Neville, mummy loves you… daddy loves you… Neville… be save, be strong."
Dia tahu dia akan segera menyusul Frank, dia akan bersama-sama dengan Frank mengawasi Neville dari atas sana. Dia tidak menyesal meninggalkan Neville sendirian, karena dia tahu ada banyak sahabatnya yang masih bisa menggantikannya mencintai Neville. Dia senang Lily dan James selamat malam ini dan dugaan Dumbledore salah. Hanya satu yang dia sesali, dia tidak akan pernah bisa mengantar Neville untuk pertama kalinya ke platform 9 ¾. Dia yakin bahwa Lily akan memberi Neville kecupan selamat tinggal di Hogwarts Express, percaya bahwa Lily akan melakukan itu untuk menggantikannya. Dia hanya tahu dia benar malam ini.
Neville menatap ibunya dalam diam. Dia merasakan ada sesuatu yang salah disini, bahwa mungkin ibunya akan diambil darinya. Sosok berjubah hitam masuk kedalam kamar, Alice berdiri dengan tegap, mengangkat tongkatnya menghadap Voldemort, dan bersiap menyambut kematiannya.
"Kau tidak akan pernah selamat, Voldemort," katanya, nadanya tegas dan tidak bergetar. "Jangan berpikir kau adalah murni, karena kau lebih kotor dari lumpur! Kau, dengan semua kejahatanmu, tidak lebih baik dari hal yang paling buruk didunia ini!"
Voldemort bergetar dalam amarahnya. Dia mengangkat tongkat sihirnya tinggi-tinggi dan menatap Alice dengan kejam.
"Avada kedavra…"
Sinar kehijauan keluar dari tongkatnya dan tepat mengenai dada Alice. Alice terlempar mengenai dinding dibelakang boks Neville lalu jatuh dengan suara mengerikan. Tubuhnya terpelungkup kaku dan Neville menangis dengan keras.
Voldemort mendekati Neville yang masih menangis diatas boksnya. Dia mendecih. Dan tanpa menunggu lama, dia kembali mengarahkan tongkatnya ke arah Neville. Bersiap menyambut era baru miliknya, dia tersenyum sadis.
Tapi dia salah, dia tidak tahu apa yang terjadi. Kutukan pembunuhnya tidak melukai Neville, sinar hijau itu hanya menyentuh Neville sesaat sebelum berbalik ke arahnya. Voldemort berteriak, tubuhnya merasakan kesakitan yang amat dahsyat, rasanya sama seperti ketika dia mencabik jiwanya untuk Horcrux. Tanpa sadar tongkatnya terangkat dan tanpa bisa dihentikan puluhan mantra keluar dari tongkat itu, menyambar apa saja yang ada didekatnya.
Voldemort mundur beberapa langkah, menatap Neville yang masih terduduk diboksnya tanpa luka apapun kecuali garis didahinya. Dia kemudian memperhatikan kulit ditangannya yang mulai mengelupas, dia kembali berteriak.
"Peranakan kotor!"
Voldemort menatap marah pada Neville. Dia kembali mengacungkan tongkatnya walaupun rasa sakit diseluruh tubuhnya semakin kuat. Bertekad kali ini tidak boleh gagal, dia melafalkan mantra kuno, sebuah mantra yang diketahuinya dari sebuah buku paling hitam yang pernah dibacanya. Terbentuk bola api besar yang keluar dari ujung tongkatnya. Voldemort menyeringai. Tapi alih-alih melukai Neville, bola api itu meluncur ke atas, menghancurkan sebagian atap rumah, percikannya mengenai tubuh Voldemort dan dia bisa merasakan rasa terbakar yang hebat. Voldemort menghilang, meninggalkan Neville yang masih menangis.
Bola api ciptaan Voldemort terbang melintasi pemukiman penduduk, menuju ke arah barat dengan kecepatan tinggi, dan tanpa bisa dicegah menyambar sebuah pom bensin disebuah tempat pengisian yang ramai. Sebuah ledakan keras terdengar dan orang-orang berteriak histeris, Api dengan cepat terbentuk dan menyambar apa saja. Mobil-mobil dan puluhan tubuh terbakar tanpa bisa dicegah. Hermione kecil masih tertidur dibalik selimutnya, tidak menyadari bahwa belasan meter dari tempatnya, orangtua dan kerabatnya telah terbakar habis.
Beberapa jam kemudian, disaat yang sama ketika Neville telah dievakuasi oleh Dumbledore, dibawa bertemu keluarga Potter dan tertidur nyaman dibangsal rumah sakit Hogwarts, Hermione kecil telah terbangun. Dia menangis ketika mendapati banyak orang asing disekelilingnya. Dia tidak melihat wajah ibunya sama sekali. Dia hanya digilir kebeberapa pelukan hangat tapi asing, sebelum kemudian digendong oleh seorang perempuan dan masuk kedalam ambulans.
"Tidak ditemukan apa-apa, Sir," kata seorang polisi.
Orang yang dipanggil Sir itu hanya mengangguk. Tertulis diseragam depan dadanya 'Louise Padtbrugge'. Louise sibuk dengan berbagai barang yang didapatnya dari satu-satunya mobil yang selamat dari kebakaran hebat itu.
"Nama gadis kecil itu adalah Hermione Jean Granger," kata Louise. "Tertulis di selimutnya dan hampir disemua barang yang ada dimobil."
"Apa tidak ditemukan identitas orang tuanya?"
"Tidak. Sepertinya orang tuanya membawa serta dompet ketika masuk kedalam sana."
"Dimana gadis kecil itu?"
Louise menatap ambulans yang bersiap untuk pergi, membawa serta Hermione kecil didalamnya.
"Untuk sementara dia akan tinggal di panti asuhan, sampai ada kerabat yang mengambilnya."
Di malam Halloween itu, bukan hanya keluarga Longbottom yang menjadi korban. Ditempat yang lain, ada seorang bayi lagi yang menerima akibat dari kerakusan Voldemort akan keabadian. Si bayi sendirian, bersiap menunggu takdirnya. Dan tidak ada satupun komunitas sihir yang menyadari, bahwa alur Kitab Kehidupan tidak seperti yang mereka pikirkan.
esjerukdingin's zone:
Ini dia bagian dua-nya :D
Iya, jadi Hermione dan keluarganya adalah korban tak langsung (?) dari Voldemort. Karena tidak ada satupun keluarga yang tersisa, Hermione dikirim ke panti asuhan. Polisi gak bisa menemukan keluarga Hermione yang lain, karena tidak ada petunjuk tentang itu. Bibi Granger? Dia terlalu tua untuk merawat seorang bayi.
Kalimat yang diucapin Alice ke Neville itu murni yang diucapin Lily ke Harry di movie Harry Potter 7. Well, emang ada perbedaan dimana Lily menghadapi Voldemort versi JK Rowling dengan Alice yang menghadapi Voldemort versi si jeruk kece. Si jeruk lebih suka kalo Alice lebih tangguh dan berani dalam menghadapi Voldemort, berbeda dengan Lily yang cenderung lemah (dalam artian lain yaa). Di movie ditampilkan Lily gak nyerang Voldemort, entah itu karena tongkatnya lagi ditempat lain atau apa dan bahwa Lily sempat-sempat memohon, sejujurnya itu sangat mengganggu si jeruk. Jadi, beginilah versi si jeruk. Alice tahu dia pasti akan mati, dan sebagai seorang Orde, dia ingin mati dengan berani, dia gak mau liatin kekalahannya didepan Voldemort. Ah… proud to be Orde #salahfokus.
Nah, udah bisa nebak plotnya bakal seperti apa? :D
Kalo belum, mau jeruk kasih clue deh. Hermione sendirian, dia bakal tinggal di panti asuhan. Umm, kasusnya mirip Tom Riddle; sendirian, gak punya kerabat, di panti asuhan, daan dia gak tahu kalau dia punya kekuatan sihir.
Udah bisa ditebak? :D *ini jeruk kenapa napsu banget*
Alur yang ini agak cepat kayaknya ya =_=v si jeruk lagi sakit, badannya aneh. Dia galau gara-gara sakitnya yang ini beda dari sakitnya yang biasa. Karena rasa sakit ini asing (?) jadi dia sebel, dia gak tahu tubuhnya lagi sakit apa dan cara ngobatinnya gimana, jadi bawaannya moody. Sekian curhat colongan.
Waktunya bales review~ sekalian aja ya yang punya akun sama yang gak punya, disini aja balesnya ya
esposa malfoy: man tap juga review dari kamu yang pertama ehehe.. enjoy dengan yang kedua ini yaa
AnnisaLongbottom: cieeh biasnya Neville~ ini dong udah dilanjutin. Review lagi ah gamau tau pokoknya ya :P iya rame, dulu sempet ada juga yang begini, pairing dramione
pula, tapi pas diubek-ube udah gak ada, udah dihapus. Sayang sekali…
Lgreenice: KAMU KECE ABIS! Sinih jeruk kasih vitamin C buat kamu, biar gak sariawan. Jeruk kaget loh pas buka email, kamu follow dan fave author sama ceritanya. Ceritanya borongan ya. Ihik. Yep, fighting juga buat kamu. Keep read yaak
zey-yenns28: kalo penasaran, tetep dibaca sampe abis yaa :D nah kalo yang ini udah bisa bayangin plotnya bakal jadi seperti apa?
sanmione84: ihik. Baca terus yaa XD
Aurorafalter: nah, semoga kamu tetep penasaran supaya tetep baca cerita ini XD
rereristiana: udah updatee~ semoga suka yak
Beatrixmalf: alo juga.. salam kenal~ ihik, dapet concrit XD iya, Neville nanti tinggal sama neneknya, kan itu satu-satunya keluarga Neville yang tersisa. Sifat Neville jadi kayak Harry? Kayaknya gak deh :D Makasih pujiannyaa~ jeruk jadi bersemu-semu looh~ warnanya jadi ngejreng kuning merah kuning merah.. nah, iya ini dia. Dari kemarin si jeruk udah baca ulang yang chapter satu, dia juga ngerasa ada yang kurang dari chapter satu ini, dipikir-pikir lagi malah dia jadi pusing. Pas baca review kamu, si jeruk semacam, IH BENER JUGA! KEMATANGAN EMOSI! Entah karena emosinya si jeruk yang kedateran (?) atau dia belum jago untuk ngeeksplor emosi karakter. Maafkanlah yang ini m(._.)m semoga chapter yang ini bisa lebih baik dari yang kemarin yaa.
rest: cieeeh keep read ya dear XD
Nah, udah. Makasih yang udah review, follow, favorit cerita ini ataupun authornya XD Maafkan juga kalo bagian ini mengecewakan. Jangan bosan buat baca fanfict ini yaa. Kalau ada kritik atau advice yang membangun, silahkan saja di kotak review atau pm ;;)
Salam,
jeruk kece
