"…or perhaps in Slytherin. You'll make your real friends. Those cunning folk use and means to achieve their end…"—The Sorting Hat, Harry Potter.
Di malam 31 Oktober itu, James dan Lily Potter tidak mendapat kunjungan Lord Voldemort, Peter Pettigrew mati, dan Sirius Black tak tersentuh Azkaban. Tapi sebagai ganti, pasangan Longbottom-lah yang harus mengorbankan nyawa mereka untuk The Chosen One, Neville Longbottom. Kitab kehidupan pun menulis cerita yang berbeda, karena tentu saja, Voldemort telah memilih orang yang berbeda.
Harry Potter belongs to JK Rowling
The One and Only © esjerukdingin, 2013
Warning: perubahan plot besar-besaran, out of character
#3
Platform 9 ¾, Hogwarts, and the Malfoy boy
Pagi di 1 September 1991. Hermione sudah bangun, dia bangun lebih pagi dari biasanya, lebih awal daripada semua penghuni panti asuhan Maria's Huge—bahkan suster Deasy belum menyiapkan sarapan. Ini semua ada hubungannya dengan kedatangan seorang wanita tua beberapa minggu yang lalu. Seraya mengecek ulang semua perlengkapannya, mencocokkan barang-barang yang ada didaftar dan dikopernya, Hermione mengingat kembali hari itu, hari dimana Minerva McGonagall datang menemuinya. Dan dia tahu dia akan terus mengingatnya, tahu karena itu akan terus menghantuinya hingga hari kematiannya.
Waktu itu, suster Deasy baru membebaskannya dari hukuman membersihkan toilet anak laki-laki. Dia tidak mengeluh, dia hanya pening karena bau didalam sana lebih parah dari bau kentut Edmund. Dan kejengkelannya semakin bertambah, dia semakin membenci anak-anak itu karena Hermione tahu dia tidak bersalah, tapi dia juga tidak bisa membantah karena Jessica and her gank punya bukti kuat bahwa dia telah membunuh kucing nyonya kepala. Hermione pun tidak tahu bagaimana bisa kucing itu tiba-tiba mati. Dia hanya ingat dia sangat membenci kucing itu, dia hanya berharap kucing itu menghilang dan tidak mengganggu dia lagi, dan itu terjadi. Kucing itu mati. Tanpa sebab.
Hermione melompat ke atas tempat tidur, menelungkup sambil menyembunyikan wajahnya dibalik bantal. Pinggangnya sakit sekali, dan suster Deasy tidak memberinya salep atau apapun. Katanya itu hukuman tambahan untukmu karena sudah membuang waktuku. Ah. Betapa Hermione membencinya.
"Hoi anak aneh."
Hermione mendongak, menatap dengan malas sosok Jessica yang berdiri angkuh diambang pintu kamarnya. Dia memakai baju baru, yang dia tahu Hermione pasti akan iri melihatnya.
Hermione berdecak pelan. "Apa?"
"Suster Deasy bilang ada yang mau menemuimu," kata Jessica. "Mungkin yang mau mengambilmu dari tempat ini."
Dengan cepat Hermione berdiri disamping tempat tidurnya, menatap kosong Jessica, tapi sorot matanya memancarkan kekagetan. "Kau bilang apa?"
"Orang yang mau mengambilmu, idiot," kata Jessica. Dia menatap Hermione dengan pandangan merendahkan sebelum kembali berkata, "bagus deh ada yang mau mengambilmu. Semua orang bosan denganmu tau, anak sial. Oh ya omong-omong, dia itu nenek-nenek, pakaiannya aneh, terus mukanya galak lagi. Selamat ya."
Jessica berbalik setelah mencibir Hermione. Dia mengibaskan rambut pirang lebatnya yang dia kagumi lalu melangkah menuruni tangga bak putri. Hermione tidak memperdulikannya. Hermione juga tak peduli siapa yang akan mengambilnya. Itu adalah nenek-nenek, bapak sangar, atau siapapun terserah, asal dia bisa keluar dari tempat ini.
"Hermione Jean Granger?"
Hermione tidak menyadarinya ketika ada seorang wanita tua pendek yang sudah berada didepan pintu kamarnya. Seperti kata Jessica, orang ini adalah seorang nenek, pakaiannya aneh, tapi dia kelihatan cukup ramah dengan senyum diwajahnya dan kendati berkata sebaliknya, Hermione senang akan ada yang mengambilnya.
"Ya, madam," kata Hermione, menatap nenek itu dengan mata kosongnya ketika dia mengambil tempat untuk duduk dikaki ranjang Hermione.
"Aku Minerva McGonagall," katanya. "Aku wakil kepala sekolah Hogwarts dan dengan senang hati kukatakan, Miss Granger, bahwa kau telah terdaftar di sekolah kami."
Hermione mengerutkan keningnya. Jadi orang ini tidak akan mengambilnya? Dan dia tidak ingat dia pernah mendaftar di sekolah manapun, dan dia juga yakin suster Deasy tak mau repot-repot mendaftarkannya.
"Hogwarts?" tanya Hermione, linglung. "Apa itu?"
"Sebuah sekolah, Miss. Sekolah sihir untuk para penyihir."
Sihir? Demi Tuhan, siapapun yang memulai lelucon ini, ini sungguh tidak lucu. Tapi dia teringat, ini pasti suster Deasy. Sejak dulu, suster Deasy telah menganggapnya gila. Sejak kejadian dua tahun lalu, ketika Hermione tanpa sadar melukai seorang anak dipanti, suster Deasy tahu ada yang salah dengannya. Hermione juga tahu ada yang salah dengannya, tapi dia tidak tahu apa itu.
"Apa mereka menyuruhmu untuk membawaku ke Hogwarts?" tanya Hermione, pandangan matanya kosong. "Aku… aku tidak gila… sungguh…"
Minerva tersenyum maklum. "Kau tidak gila, Miss. Dan aku pun tidak. Hogwarts adalah sebuah sekolah sihir, bukan tempat untuk para orang gila. Aku bisa jamin untukmu."
"Prove it." Perintah Hermione.
Hermione memperhatikan wanita itu ketika dia merogoh kedalam bajunya yang norak, dia menarik sebuah benda dan Hermione tidak bisa menebak apa itu. Bentuknya panjang dan berwarna hitam, seperti ranting pohon. Dengan sekali jentikan benda itu, pintu kamar Hermione tertutup dan terdengar bunyi klik pelan dari sana. Lalu dengan tiba-tiba, semua benda dikamar Hermione terangkat, melayang di udara tanpa ada yang menyangga. Semuanya; lemari, meja kecil disamping tempat tidur, kursi kayu yang bersandar disamping jendela, dan pot bunga matahari yang tergeletak dibalkon jendela. Belum selesai keterkejutan Hermione, benda-benda yang itu melayang itu kini terbakar, nyala apinya besar tapi Hermione sama sekali tidak merasakan panas.
Minerva tersenyum kecil. Dia menjentikkan kembali tongkatnya dan semua benda kembali pada tempatnya yang semula; utuh dan tanpa kerusakan.
"Sekarang, kau sudah percaya padaku?"
Hermione kembali menatapnya dengan kosong. "Ya." Dia lalu berjalan menuju kursi yang bersandar disamping jendela, duduk dan menatap kosong bunga mataharinya. "Jadi… aku bisa mengendalikannya juga? Barang-barang ini?"
"Ya."
"Dan," Hermione kini menatap Minerva tepat dimatanya, ada sorot bengis disitu, bercampur dengan amarah dan rasa putus asa. "Dan membakar? Apa aku juga bisa membakar orang?"
"Di Hogwarts, kami akan membimbingmu. Kau akan belajar cara mengendalikan sihirmu. Kau juga akan bertemu orang-orang yang sepertimu."
"Jadi, ada banyak anak penyihir selain aku?"
"Tentu saja, Miss." Minerva mengambil dua buah benda dari tasnya dan ditaruhnya diatas tempat tidur Hermione. "Hogwarts memberikan bantuan uang kepada siswa yang tidak memiliki keluarga, tapi kau harus tetap menggantinya ketika kau lulus dan mendapat pekerjaan nanti. Dan ini adalah daftar barang yang harus kau punya untuk masuk Hogwarts. Kau bisa mendapatkannya di Diagon Alley—petanya terselip didalamnya. Dan ini," dia mengeluarkan tiket emas dari kantung bajunya, menyerahkannya pada Hermione, "itu adalah tiket Hogwarts Express. Kau harus menuju ke stasiun London, cari platform 9 ¾ dan lewati itu. Kau akan menemukan Hogwarts Express, berwarna merah dengan beberapa gerbong. Jangan lupa untuk membawa tiketnya."
Minerva tersenyum kecil pada Hermione yang kembali menatapnya kosong. "1 September, Miss. Jangan sampai lupa."
Hermione tak ingat apa yang membuatnya menuruti perkataan gila nenek itu. Beberapa hari yang lalu dia mengunjungi Diagon Alley. Itu adalah sangat sempurna. Dia tidak bisa percaya dia bisa sihir, dan tongkatnya, Hermione menatap tongkat sihir barunya dengan kagum, tongkat sihirnya benar-benar istimewa. Hal paling indah yang pernah ditemuinya selama ini.
Dia ingat si tua Ollivander tersenyum ramah padanya dan menyodorkan satu tongkat.
"Untukmu, miss Granger, Vine dengan inti jantung Griffin, 13 ½ inchi, dan kaku. Sangat kuat untuk Transfigurasi dan Mantra. Pertahanan yang hebat dan dia hanya dimiliki oleh orang yang khusus."
"Khusus?"
"Tongkat memilih tuannya, miss. Vine dikenal dapat memancarkan efek magis ketika penyihir yang cocok dengannya datang meskipun dia masih ada didepan pintu toko. Telah dua kali aku menyaksikannya. Dulu…dulu sekali, dan hari ini. Tapi perlu kuingatkan padamu, miss, Vine telah terbiasa dihubungkan dengan orang-orang yang selalu mencari tujuan yang lebih besar, dan yang memiliki visi luar biasa."
"Sir, bukankah penyihir yang mengendalikan tongkatnya?"
"Tentu saja, Miss," Ollivander tersenyum kecil, kacamatnya melorot menatap wajah Hermione. "Tentu saja penyihir yang mengendalikan tongkatnya."
Pertama kali dia memegang Vinenya, sensasi hangat masuk dan menguasai seluruh tubuhnya. Dia dengan segera merasa kuat, tangguh, dan percaya bahwa tidak ada seorang pun bisa menyakitinya lagi. Tongkat itu telah disimpannya dengan hati-hati dibalik saku belakang celananya. Sihir harus dirahasiakan, begitu kata McGonagall. Walaupun sebenarnya Hermione ingin sekali memberi satu kutukan pada Jessica. Dia telah membaca semua buku barunya, dan dia memiliki kepercayaan diri yang kuat. Yakin bahwa ketika dia pulang musim panas nanti, Jessica tidak akan berani mengganggunya lagi.
Hermione melihat jam tangannya. Sudah hampir pukul 10. Dia tidak ingin terlambat, dan walaupun ini terdengar gila, dia sangat ingin segera berada di Hogwarts.
"Gak usah balik sekalian."
Terdengar cekikikan dari komplotan Jessica. Mereka hanya tahu bahwa dia telah diterima disebuah sekolah dibagian barat Inggris. Jessica menyebarkan rumor bahwa itu adalah sekolah untuk anak-anak nakal yang tidak tertolong lagi. Hermione menyeringai.
"Setidaknya aku bisa bertemu banyak orang baru nanti," katanya. Dia mengibaskan rambut lebatnya untuk menghina gaya Jessica. "Daripada kau, apa tidak bosan terkurung disini terus? Semakin lama kalian semakin mirip anjing peliharaan."
Satu otot berdenyut dipelipis Jessica. Wajahnya memerah dan dia hampir saja menerjang Hermione jika suster Deasy tidak datang.
"Taksinya sudah datang. Cepatlah naik. Aku mau ambil dompetku dulu."
Hermione menatap Jessica dengan pandangan merendahkan. Setelah puas, dia lalu keluar dari kamarnya sambil menyeret kopernya.
Mereka tiba di stasiun kota London dua puluh menit kemudian. Suster Deasy hanya turun dan berjalan dua langkah dari taksi mereka, menatap Hermione dengan dagu terangkat. Dia berkata selamat tinggal dan sampai jumpa lagi musim panas nanti dengan kaku. Setelah itu dia berbalik dengan cepat dan kembali masuk kedalam taksi. Hermione menatap taksi itu dengan pandangan kosongnya.
Persetan dengamu, entitas kotor. Maki Hermione dalam hati.
Hermione segera masuk kedalam stasiun. Dia pernah kesini dan dia cukup yakin bahwa platform 9 ¾ tidak pernah ada. Tapi dunianya sekarang adalah dunia sihir, sesuatu yang tersembunyi dari orang-orang kebanyakan yang tidak memiliki sihir. Jadi pastilah, platform ini juga pasti tersembunyi dan hanya bisa ditemui oleh 'kalangan' mereka saja.
Hermione menyusuri peron demi peron seraya memegang tiket emasnya. Dia sudah melewati peron 6, 7, 8, dan sekarang dia berada diantara peron 9 dan 10. Hermione menengok kekiri dan kekanan, mencari tanda-tanda keberadaan si ¾ tapi nihil.
"Hei."
Seseorang menepuk bahunya. Hermione berbalik dan mendapati bocah laki-laki seumuran dengannya, rambutnya merah dan senyumnya cerah sekali.
"Kau murid baru Hogwarts juga?" tanya anak laki-laki itu.
Hermione mengangguk singkat.
"Aku juga. Aku Ron Weaslay. Dan kita harus cepat sekarang, kalau tidak nanti ketinggalan kereta."
Untuk sesaat Hermione tidak mempercayai anak ini—jangan percayai orang baru—tapi, anak laki-laki bernama Ron itu langsung mengambil alih troli Hermione yang hanya berisi satu koper besar. Dia menatap Hermione masih dengan senyum cerahnya. "Kita sama-sama. Oke? Disebelah sana. Kita harus melewatinya untuk naik Hogwarts Express," katanya, menunjuk sebuah dinding bata polos yang berada tak jauh dari mereka. "Tidak akan sakit kok, kalau kau mau kau bisa tutup mata," dia menambahkan ketika melihat ekspresi kebingungan Hermione. "Bersama-sama. Satu… dua… tiga! Lari!"
Hermione mengikuti Ron berlari, dan dia sadar tidak ada satu orang pun orang didekat mereka yang memperhatikan keduanya. Ketika akan menembus dinding, Hermione menutup matanya, tapi dia tidak merasakan benturan apapun. Alih-alih, kini dia bisa mendengar suara cerobong kereta yang ribut dan hiruk pikuk yang lebih ramai. Ketika dia membuka mata, Hermione tak bisa berkedip ketika melihat sebuah kereta api kuno berwarna merah. Uapnya tebal membumbung ke atas, suara yang dihasilkannya keras dan kereta api itu semakin lama terasa semakin besar ketika Hermione melangkah mendekat.
"Bagaimana? Tidak sakit kan?"
Hermione menoleh menatap Ron. Dia mengangguk. "Err… terima kasih, Ron."
"Sama-sama." Ron nyengir. "Aku mau ketemu keluargaku dulu. Ketemu di kereta ya, err…"
"Hermione," kata Hermione cepat. "Hermione Granger."
"Oke. Hermione. Well, kalau begitu, daah Hermione."
Hermione hanya menatap saja Ron pergi. Anak laki-laki itu mendekati kerumuman yang keseluruhan anggotanya memiliki rambut merah. Sepeninggal Ron, Hermione tidak lagi menunggu lama, dia segera mengangkat kopernya—dengan bantuan seorang senior, dan menyeret benda itu disepanjang lorong kereta untuk mencari tempat kosong. Kebanyakan kompartemen telah terisi, dan dia bisa melihat semua orang yang ada digerbong ini seumuran dengannya.
Jadi Hogwarts Express membagi-bagi muridnya sesuai tingkatan. Hermione mencatat secara virtual dalam otaknya. Dia tidak menemukan informasi apapun tentang ini dibuku Sejarah Sihir.
Dia menemukan satu kompartemen kosong, letaknya tepat diakhir gerbong untuk anak-anak baru. Hermione masuk, tapi kesulitan mengangkat koper beratnya keatas bagasi. Dia ingin menggunakan mantra melayangkan benda tapi dia tidak yakin apa siswa diijinkan untuk menggunakan sihir didalam kereta. Jadi dia memutuskan untuk menaruhnya dibawah kursi. Tapi sebelum itu, dia mengambil beberapa buku miliknya untuk dibaca. Dia terbiasa membaca, dan menghabiskan waktu untuk membaca adalah paling berharga didunia ini.
Seseorang datang kemudian, senior, dia mengecek apa Hermione butuh bantuan tapi Hermione menggeleng. Tak berapa lama, suara geseran pintu kembali terdengar. Kali ini seorang anak laki-laki seumuran dengannya, tingginya sama persis dengan Ron, tapi wajahnya angkuh menjengkelkan seperti Jessica dan rambut pirang platinanya membuat Hermione silau.
"Aku mau duduk disini," katanya, memerintah Hermione.
Hermione hanya menatapnya sedetik sebelum kemudian kembali membaca buku Mantra-nya. Ini bukan keretanya, kalau mau masuk ya masuk saja. Anak laki-laki itu lalu masuk, dia juga hanya membiarkan kopernya tergeletak sembarang dilantai kereta, tidak menyembunyikannya dibawah kursi seperti yang Hermione lakukan. Dan sejujurnya itu sangat menghalangi jalan keluar masuk kompartemen.
Selama beberapa menit yang hening, si pirang terus-terusan batuk—berdeham, Hermione tak tahu apa maksudnya, tapi ketika kelima kalinya dia masih melakukan hal yang sama, Hermione telah kehilangan kesabarannya.
"Apa?!" tanya Hermione kesal.
"Tidak apa-apa," jawab si pirang, tersenyum angkuh sambil menatap balik Hermione.
Hermione mendengus sebelum memutuskan untuk kembali pada bacaannya. "Kalau begitu berhentilah membuat suara menjengkelkan."
"Aku Draco Malfoy," katanya lagi, tiba-tiba memperkenalkan dirinya sendiri.
"Dan aku Hermione Granger," balas Hermione acuh tak acuh.
Hening sesaat. Hermione memutuskan untuk membaca Kitab Mantra Standar oleh Miranda Goshawk-nya sambil bersandar dikursinya, mengangkat buku itu setinggi wajah dengan harapan si pirang Malfoy ini tidak lagi menganggunya.
"Hei."
Rejected.
"Hei."
Kali ini Hermione bertekad tidak akan membiarkan si pirang lolos lagi. Dia membanting bukunya kesamping dan terang-terangan menatap anak itu dengan pandangan ingin membunuh.
"Apa lagi sekarang?!"
"Aku Draco Malfoy!"
"Dan aku Hermione Granger!"
Hermione bisa mendengar si pirang menggeram marah, tapi Hermione tidak tahu apa yang membuatnya marah. Dia sudah memperkenalkan dirinya juga, dan bukankah seharusnya yang marah disini adalah Hermione sendiri karena bocah ini sedari tadi terus saja menganggunya.
"Aku Malfoy, bocah! Aku Malfoy!"
Hermione balas menggeram. "Aku tahu itu, bego. Kau sudah bilang dan aku mendengarnya. Apa masalahmu?"
"AKU MALFOY!"
Tubuh kecil Hermione tersentak kaget ketika mendengar teriakannya. Ekspresi Malfoy seperti ingin menangis sekarang. Rambut pirang platinanya sudah acak-acakkan dan wajahnya memerah seperti tomat.
Hermione menyeringai.
"Jadi masalahnya, adalah…" Hermione menatap Malfoy dari atas kepala hingga ujung kaki. "Kau Malfoy. Begitukah?"
Malfoy menggeram. Kali ini dia diam, menyerah dan cemberut menatap keluar jendela kereta. Tidak ada percakapan lagi diantara mereka sampai kereta mulai berjalan. Mereka sudah melewati padang rumput yang luas, matahari sudah tinggi ketika kereta melintasi tebing curam. Hermione memutuskan untuk pindah ke sisi lain kursinya untuk menghindari pandangan ketinggian.
"Start of Term Feast bahkan belum juga mulai," kata Malfoy, setengah menatap Hermione yang kembali membaca, "dan kau sudah melahap habis buku-buku tingkatan kita. Kau mau langsung naik ke kelas dua ya?"
Hermione mengabaikannya. Dia memilih menutup mata setelah meletakkan bukunya disampingnya. Matanya lelah dan tidur sejenak sepertinya bagus.
"Well, dad bilang padaku bahwa aku harus belajar banyak. Kau tahu, Malfoy harus jadi yang terbaik." Malfoy berujar dengan nada sombong didalamnya.
Hermione hanya menyeringai sedikit, lagi-lagi tidak berniat membalas.
"Sebenarnya dad tidak suka Hogwarts, dia suka Durmstrang, tapi mum tidak mau aku jauh-jauh dari Inggris. Jadi, walaupun dad membenci Dumbledore—"
"Sudah berapa lama kau hidup didunia sihir?"
Malfoy cukup kaget mendengar pertanyaan Hermione. Dia tidak menyangka Hermione akan berbicara padanya, dia hanya ingin mengganggu anak ini dengan celotehnya.
"Well—cukup lama. Sejak aku lahir, tentu saja." Tiba-tiba bahunya menegang, dia menatap Hermione dengan tajam. "Apa kau Muggle-born?"
Hermione mengernyit. "Muggle-born? Apa itu?"
"Kelahiran Muggle," kata Draco, wajahnya jijik ketika berkata, "darah-lumpur. Orang yang mencuri sihir kami. Kau bukan bagian dari mereka kan? Kalau iya—"
Sebelum dia menyelesaikan ucapannya, pintu kompartemen bergeser. Seseorang dengan bobot tubuh setara dengan karung beras tiba-tiba masuk dengan sempoyongan kedalam kompartemen mereka, dia terlihat linglung, pandangan matanya tidak fokus dan tiba-tiba tubuhnya oleng kesamping, hampir menindih Hermione. Hermione dengan refleksnya mengambil tongkat sihirnya dan mengacungkannya pada orang itu.
"Petrificus totalus!"
Tubuh orang itu mendadak kaku, dan dengan sekali tendangan dari kaki-kaki kecil Hermione, dia telah terjatuh ke lantai kereta dengan suara mengerikan. Hermione menatapnya dengan horor.
"Wow," kata Draco, setelah beberapa menit dia dan Hermione menatap gundukan itu dengan diam. "Wow, maksudku, Hermione, wow. Itu… hebat. Wow."
Hermione tidak membalas. Dia menarik napas panjang sebelum kembali menyimpan tongkatnya.
"Well, kau pasti darah murni. Darah lumpur biasanya sangat bodoh, seperti troll."
"Apa itu troll?"
Selanjutnya mereka telah bisa berbicara dengan santai, walaupun terkadang Malfoy bersikap sangat arogan dan itu membuat Hermione jengkel. Tapi, itu oke. Troli makan siang lewat dan Malfoy menawarkannya bermacam-macam makanan. Dia membeli semua isi troli, dan ketika ada dua anak laki-laki lainnya datang, Malfoy tidak mengijinkan mereka untuk bergabung.
"Siapa mereka itu, Malfoy? Temanmu?" tanya Hermione, ketika Crabe dan Goyle baru pergi dengan bersungut-sungut.
"Bukan," jawab Draco enteng, dia melemparkan coklat kodok bergambar Dumbledore pada Hermione. "Mereka pelayanku, dan aku tidak mau coklat kodok yang ada gambar si tua Dumbledore. Aku juga tidak mau kau memanggilku Malfoy lagi. Panggil aku Draco."
Hermione menatapnya kesal. Draco tidak bisa mengurangi nada memerintahnya sama sekali. Dan dia juga benci menggunakan kata tolong.
"Well, tadi kau menanyakan berapa lama aku hidup didunia sihir. Kau sendiri? Sudah berapa lama?" tanya Draco
"Belum lama," jawab Hermione. "Seseorang dari Hogwarts datang ke pantiku dan bilang bahwa aku adalah penyihir."
"Orangtuamu?"
"Tidak tahu. Suster-suster bilang aku sudah ada disana sejak bayi. Keluargaku kecelakaan."
Draco mengangguk-angguk paham. "Aku yakin kedua orangtuamu adalah penyihir, dan mereka pasti juga darah murni. Kau hebat. Padahal kita belum masuk kelas dan kau sudah bisa membekukan orang. Aku saja baru bisa membuat gelas melayang kemarin malam."
"Sebenarnya aku sudah menguasai semua yang ada dibuku," kata Hermione. Sifat sombongnya mulai keluar dan dia ingin Draco mengaguminya. "Aku berharap bisa langsung naik ke kelas dua, menurutmu apa aku bisa?"
"Hermione," kata Draco, menatap Hermione dengan serius seraya mengacung-acungkan coklat kodoknya. "Kalaupun kau bisa, jangan pernah mengabaikan masa kecilmu. Nikmati saja ini semua."
Perjalanan menuju Hogwarts berakhir ketika malam sudah datang. Kereta melambat dan berhenti total. Suara-suara mulai ribut diluar dan Hermione dan Draco juga sudah bersiap. Keduanya sudah memakai seragam mereka—setelah adu mulut panjang tentang siapa yang berhak memakai kompartemen untuk berganti baju, Hermione menang mutlak.
"KELAS SATU! KELAS SATU DISINI!"
Hermione hampir menganga melihat seorang pria dengan ukuran tubuh raksasa telah berdiri dihadapannya. Wajahnya mengerikan dengan ditumbuhi seluruh berewoknya, tapi senyumnya terlihat ramah. Dia memegang lentara besar.
"Hati-hati, tanahnya licin. Perhatikan aku, oke? Oh—hai, Harry, Neville." Si raksasa tersenyum pada dua anak laki-laki yang berdiri paling depan.
Hermione pernah melihat mereka ketika dia berjalan dilorong kerete untuk pergi ke toilet. Semua orang memandangi dan menunjuk-nunjuk mereka.
"Hah! Si idiot Bottom dengan pelayannya Potty," maki Draco, menatap Harry dan Neville dengan benci.
"Kau mengenal mereka?" tanya Hermione.
"Yeah. Mereka itu brengsek, Hermione. Jangan berteman dengan mereka."
Hermione hanya mengangkat bahu cuek. Dia tidak punya permasalahan dengan dua anak laki-laki itu, dan dia tidak mengingkan masalah. Anak-anak kelas satu melewati danau untuk mencapai Hogwarts. Neville tercebur kedalamnya dan menggigil hebat ketika mereka sudah sampai di depan pintu Aula Besar yang tertutup. Jaket si raksasa Hagrid, menutupi hampir seluruh tubuhnya dan dia berjalan terseok-seok.
"Draco~"
Hermione dan Draco serentak menoleh, mendapati seorang anak perempuan yang wajahnya mirip anjing pug. Lengannya langsung melingkari lengan kurus Draco dan bergelayut disana. Hermione mencibir.
"Pansy."
"Well, aku bertanya-tanya kenapa kau tidak bergabung denganku dikereta tadi. Aku merindukanmu~"
"Kompartemenmu sudah penuh, Pansy. Dan semua adalah cewek."
"Aku bisa mengaturnya…"
Hermione memutuskan untuk mundur sebelum dia muntah melihat adegan memuakkan itu. Dia mengambil tempat dipaling akhir barisan, disamping seorang anak perempuan gendut yang rambutnya dipenuhi pita besar-besar.
"Hai," sapa si gendut.
Hermione mengangguk singkat. Dia kembali menatap kedepan, dan berusaha tidak menatap pasangan menjijikkan itu.
"Kau kenal dia?" tanya si gendut.
"Siapa?"
"Dia… Draco Malfoy," kata si gendut, mendesah sambil menatap Malfoy dengan pandangan kagum. "Keluarganya sempurna. Dia tampan, kaya, dan ayahnya sangat berpengaruh di Kementrian dan semua orang ingin berteman dengannya. Masa kau tidak tahu siiiih?"
Hermione mengangkat alisnya menatap si gendut. Jadi itulah sebabnya. Itulah yang menyebabkan Draco bersikeras memperkenalkan dirinya pada Hermione diawal pertemuan mereka. Mungkin dia berharap Hermione akan kagum dan mendesah ketika menatapnya. Tapi Hermione tidak, dan itu sepertinya membuat Draco frustasi.
Tidak berapa lama pintu Great Hale terbuka. Semua anak calon kelas satu masuk dengan gemetar, bercampur antara kelaparan, kedinginan, dan gugup akan diseleksi. Hermione sendiri tidak keberatan dia akan masuk mana. Tapi Draco ingin dia masuk Slytherin, dan bersumpah akan membenci Hermione jika Hermione masuk Hufflepuff.
"GRANGER, HERMIONE JANE."
Hermione mendesak maju kedepan. Tubuh kecilnya terdorong kesamping ketika melewati Draco dan dia melihat seringai disana. Hermione memutar bola mata bosan. Dasar Malfoy dengan segala tingkah kekanakkannya.
Hermione duduk diatas kursi kecil didepan dan McGonagall membantunya memakaikan topi. Topi itu merosot hingga hampir menutupi sebagian wajahnya. Cepat-cepat dia membetulkannya sebelum kemudian terdengar suara asing. Rasa-rasanya suara itu ada didalam kepalanya, karena suasana Aula Besar sangat hening sekarang dan semua orang sedang menatapnya.
Hermione merasa gugup seketika.
"Huum…menarik… menarik…"
"Heh, kau bisa bicara?" tanya Hermione dalam kepalanya.
"Sangat menarik…. Ya ya… um… tunggu sebentar…"
"Cepatlah, oke? Aku kelaparan."
"Sangat…. Sangat cerdas… Rowena sangat menginginkanmu berada disisinya…. Tapi…. Salazar… oh ya… kau penuh dengan kelicikan, pembuktian diri, dan ingin selalu mendominasi… Tapi…"
"Cepat saja, oke! Mau ku makan ya?!"
"Ada keberanian rupanya… hmm… hmm… berani menentang bahaya… Godric menginginkanmu… ya… ya…"
"Hoi!"
"Kepandaianmu… sangat… sangat mirip Rowena. Tapi kelicikanmu sangat mendominasi.. dan keberanianmu… penantang bahaya… Kalau begitu… RAVENCLAW!"
Hermione baru saja membayangkan dia membakar topi kumal itu sebagai makan malamnya ketika terdengar sorakan keras. Meja yang didominasi warna biru di pinggir Aula Besar telah bersorak untuknya. Dia belum mengerti apa yang terjadi, tapi McGonagall memberi tatapan padanya, dengan cepat Hermione mencabut topi itu dan berlari menuju meja Ravenclaw.
Sesaat dilihatnya Draco cemberut.
esjerukdingin's zone:
Sebagai informasi, ini DRAMIONE, bukan HARMIONE. Maaf mengecewakan, tapi jeruk juga bingung, kenapa pair utama yang nongol diatas adalah Harry&Hermione padahal sewaktu meng-add character, nama Harry berada diurutan terakhir sedangkan Draco ada diurutan pertama, sesudah itu Hermione. Tapi kenapa…
Review sudah dibalas via pm yaa~ khusus untuk Bea, karena kamu punya akun, jadi udah dibales diakun kamu juga ya. Semoga gak nyasar.
Kalau ada kritik atau advice yang membangun, silahkan saja di kotak review atau pm ;;)
Salam,
jeruk kece
