Di malam 31 Oktober itu, James dan Lily Potter tidak mendapat kunjungan Lord Voldemort, Peter Pettigrew mati, dan Sirius Black tak tersentuh Azkaban. Tapi sebagai ganti, pasangan Longbottom-lah yang harus mengorbankan nyawa mereka untuk The Chosen One, Neville Longbottom. Kitab kehidupan pun menulis cerita yang berbeda, karena tentu saja, Voldemort telah memilih orang yang berbeda.

Harry Potter belongs to JK Rowling

The One and Only © esjerukdingin, 2013

Warning: perubahan plot besar-besaran, out of character

#4

Sudah hampir tiga minggu Hermione berada di Hogwarts. Ravenclaw asrama terbaik, dengan orang-orang yang terbaik pula. Ada begitu banyak diskusi di ruang rekreasi, buku-buku yang entah darimana selalu tersedia disamping perapian, dan bahkan untuk masuk kedalam asrama mereka diharuskan untuk menjawab pertanyaan—pertanyaan unik, Hermione yakin tidak semua siswa bisa menjawabnya, hanya mereka yang bisa; anak-anak Ravenclaw yang cerdas. Dia juga senang mendapat tempat di Ravenclaw, beberapa anak perempuan yang dikenalnya ramah dan kendati Draco mulai bersikap sangat menyebalkan dengan mengejek asramanya, tapi itu tidak membuat Hermione berhenti menemuinya.

"Kau seharusnya di Syltherin," kata Draco suatu siang, ketika mereka bertemu di dekat pondok si raksasa Hagrid. "Kau licik dan pintar, kau seharusnya di Slytherin, bukan dikandang kutu buku!"

"Hentikan," kata Hermione. "Ravenclaw asrama terbaik dan jika menurutmu asramaku adalah kandang kutu buku," tambahnya buru-buru ketika melihat raut wajah Draco siap memprotes, "maka Slytherin bersiaplah untuk kalah. Kudengar kalian dihukum karena menyelundupkan wiski api. Itu adalah belum satu semester dan sudah didetensi. Brilian, Draco."

Draco memutar bola matanya. "Itu biasa untuk kami. ("Hah! Biasa!") Tapi kau sudah mengenal mereka kan? Jangan membantah, kau pun tahu Slytherin itu luar biasa."

Yang Draco maksud adalah bahwa Hermione telah mengenal Pansy Parkinson dan dua pelayan gemuknya. Setiap makan malam Draco selalu menyeret Hermione ke meja Slytherin, kadang dia akan membawa Hermione kedalam asramanya. Dan jujur saja, Hermione tidak menyukai asrama Slytherin. Tempat mereka berada dibawah danau. Dingin, kelam, seakan-akan setiap dinding berteriak memaki darah kotor—supremasi darah murni omong kosong yang terus digaungkan Draco. Walaupun kadang-kadang dia ingin seperti mereka; memiliki orangtua yang kaya, berpengaruh, dan semua yang dia minta akan selalu terpenuhi, dan kendati mengatakan sebaliknya, dia tidak terlalu suka sikap Slytherin yang selalu melanggar peraturan. Itu menganggunya.

"Ravenclaw juga luar biasa," balas Hermione keras. "Dan asal kau tahu, asrama kami pemenang piala asrama tahun lalu."

"Well, tahun ini milik Slytherin kalau begitu."

Hermione menggeram marah melihat seringai licik Draco. Mengenal Draco selama berminggu-minggu ternyata menjengkelkan, dengan semua sifat angkuh dan arogannya itu, Hermione tidak tahu kenapa Pansy begitu tergila-gila dengannya.

"Kalau kau mau, aku bisa bicara dengan ayahku," kata Draco, tersenyum angkuh. "Kau tahu, ayahku sangat berpengaruh, dia bisa memindahkanmu ke Slytherin."

Hermione menatapnya galak. Dia tidak pernah mengerti darimana Draco bisa memperoleh kesombongan setinggi ini. "Sudah kukatakan ratusan kali, Malfoy," kata Hermione kesal, "berhenti menyombongkan kekayaan keluargamu. Dan tidak, aku tidak mau pindah dari Ravenclaw. Asramaku lebih baik dari asramamu."

"C'mon... Semua orang tahu Slytherin yang terbaik di Hogwarts, Hermione."

Hermione menatapnya sedetik, lalu beralih pada tas sekolahnya yang tergeletak dibawah kakinya, ternodai lumpur ketika tanpa sengaja terjatuh setelah Draco memaksanya untuk berhenti. Dia mengambil tasnya dengan berengut, berpikir-pikir mantra apa yang cocok untuk membersihkan tasnya.

"Kau perlu tas baru," kata Draco, mengikuti arah pandang Hermione. "Ayahku bisa—"

"Tutup mulut, Malfoy."

Hermione menghentak-hentakkan kakinya seraya meninggalkan Draco yang terkekeh dibelakangnya. Mereka melewati padang rumput berlumpur untuk mencapai kelas Herbologi. Jubah panjang Hermione yang hampir menyentuh tanah sudah ternoda lumpur. Dia sengaja memilih baju yang ukurannya dua kali lebih besar dari tubuhnya, itu akan menghemat uangnya jika tubuhnya mulai tumbuh.

"Kudengar kau berteman dengan si Loony Lovegood," kata Draco.

"Maaf?" tanya Hermione sinis.

"Si idiot Loony, si blonde kotor, kudengar dia darah penghianat—apa?" tanya Draco skeptis ketika melihat Hermione menatapnya tajam.

"Namanya Luna Lovegood," kata Hermione. "Dan dia cukup cerdas, lebih cerdas daripada semua siswa Slytherin jika dikumpulkan untuk melawan troll."

Draco tidak membalas. Kaki-kaki kecilnya mengikuti langkah cepat Hermione menuju sekumpulan bocah didalam rumah kaca. Profesor Sprout terlihat sedang memberi instruksi kepada anak-anak dengan memegang seekor tumbuhan aneh ditangan kanannya. Mereka masuk kedalam rumah kaca dan Draco tahu mereka sudah terlambat, jadi dia tidak ingin menambah kemarahan Hermione dengan mengejek teman-temannya lagi.

"Masing-masing lima poin dari Slytherin dan Ravenclaw atas keterlambatan," kata Profesor menatap mereka tajam, "aku mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekedar poin menjawab pertanyaan, Miss Granger."

Hermione merona dengan keras, dia menatap Draco dengan tajam selama sedetik sebelum bergabung dengan Luna ditengah kelas. Sisa pelajaran Herbologi dihabiskan Draco dengan curi-pandang kepada Hermione. Tapi gadis itu mengacuhkannya. Dia sibuk membuat laporan bersama Luna, diselingi tawa lepas, dan tak sedetikpun dia menatap Draco.

Selama beberapa minggu belakang juga beredar kabar bahwa Hermione adalah kelahiran Muggle. Beberapa orang yang iri percaya, terutama dari Slytherin dan tidak rela Hermione dekat dengan Malfoy mereka. Tapi prestasi Hermione seakan menepis semua rumor itu.

Hermione yang didikte untuk tidak memperdulikan apapun komentar orang lain terhadapnya, hanya melenggang santai dikoridor-koridor kastil. Dia tidak peduli apakah dia berdarah murni ataupun kelahiran Muggle seperti rumor yang beredar. Walaupun didalam hatinya dia risau, khawatir kalau dia benar-benar kelahiran Muggle. Draco selalu mengatakan bahwa anak laki-laki itu membenci darah-lumpur—makian untuk mereka yang Muggle. Hermione khawatir Draco akan membencinya.

"Halo, Hermione."

Hermione yang sedang duduk diperpustakaan mengangkat kepalanya dari atas perkamen sepanjang dua kaki miliknya. Keningnya berkerut dalam menatap anonim yang menyapanya tanpa melihat kondisi Hermione sendiri. Gadis Granger ini benci ketika ada yang menganggunya mengerjakan tugas—Draco tidak termasuk didalamnya karena dia sangat bebal.

"Hai, Ron," jawab Hermione, berusaha untuk tidak ketus.

Ron tersenyum dari telinga-ke-telinga. Tanpa izin dia lantas mengambil tempat disamping Hermione duduk dan melongok kedalam isi perkamen Hermione.

"Essay Snape?" tanyanya dengan nada tidak percaya.

"Ya," jawab Hermione. "Dan dia bukan Snape, dia Profesor Snape."

"Uh—well, terserah. Tapi, Hermione. Snape memberikan waktu dua minggu untuk mengerjakan essay ini. Kita masih punya banyak waktu, kenapa harus mengerjakan sekarang?"

Karena jika kau pintar, kau pasti bisa mengingat seberapa susahnya tugas yang diberikan Snape. Kalimat itu hanya sampai di ujung lidahnya, walaupun sebenarnya Hermione ingin segera mendamprat Ron dengan itu, tapi dia tidak tega. Ron adalah satu dari sekian orang yang mau berteman dengannya, tak peduli Hermione seorang darah lumpur atau tidak, ataupun statusnya sebagai anak yatim piatu. Lagipula, Ron adalah orang pertama yang membantunya masuk ke dunia sihir—McGonaggal tak termasuk karena memberitahu Hermione soal status penyihir adalah tugasnya.

"Kalau kau perhatikan Ron, tugas ini lebih susah dari yang diberitahukan oleh Profesor Snape."

"Memang, memang," anak lelaki itu mengangguk-angguk sok paham, "tapi kan Snape hanya memberitahu bahwa kita hanya perlu mendeskripsikan tentang apa yang bisa kita hasilkan dari akar Valerian, mata kumbang, hati buaya, kulit ular pohon, dan kuku naga—"

"—dan sepanjang tujuh kaki."

"Ya. Dan sepanjang tujuh kaki."

Ada jeda selama lima detik sebelum Ron tiba-tiba berdiri dari kursinya menyebabkan benda itu jatuh ke belakang dengan suara gedebuk keras. Tak perlu memastikan apakah langkah kaki Madam Pince sudah keluar dari sarangnya atau tidak, karena Hermione yakin Ron akan baik-baik saja—terutama setelah bocah itu berlari dengan sumpah serapah berderet dan langkah kaki ribut keluar dari perpustakaan.

Tipikal Gryffindor. Bahkan tanpa bergaul dengannya pun Hermione sudah tahu Ron dan para sahabat singanya itu seperti apa.

"Red hair, a hand-me-down. No need to ask."

Hermione menoleh ke sumber suara, dan dia mengernyit keheranan mendapati Draco berdiri dibelakangnya sambil menenteng buku tebal. "He must be a Weasley."

Draco dan buku bukanlah sebuah kombinasi yang pas, setidaknya membutuhkan dua makian dari Hermione agar Draco mau membuka buku dan mengerjakan tugas sekolahnya. Namun Hermione cukup yakin dia tidak memaki Draco hari ini.

"Apa yang kau lakukan disini?" dara Granger itu mengawasi Draco yang mulai mengambil tempat disampingnya.

"Mengerjakan tugas Snape," jawabnya acuh.

"Oh, well, selamat otakmu mulai bergeser ke tempat yang seharusnya. Dan seharusnya profesor Snape, Draco. Bukan Snape." Rasa-rasanya Hermione mulai sekarat. Dia bosan harus memperbaiki kesalahan tata-krama penyebutan gelar Snape yang sebenarnya, karena hampir semua murid di angkatan mereka tidak mau menyebut Snape bersama embel-embel profesor. Kenyataan yang menyakitkan untuk Snape.

Draco hanya melambaikan tangannya ke udara, merespon bahwa perbaikan yang disebutkan Hermione hanya sekedar angin lalu baginya. "Terserahlah," kata Draco. "Omong-omong, aku tidak tahu kau sudah berteman dengan si Weasel itu."

Tatapan yang Draco berikan padanya sarat ketidak-sukaan. Oh! Don't start, please. Hermione mengerang dalam hati, berusaha untuk (sekali lagi) tidak mendamprat orang. Draco selalu suka bertingkah seakan-akan Hermione hanya boleh berteman dengannya. Bocah Malfoy itu seakan keranjingan melarang Hermione bergaul dengan orang lain, terus memata-matai Hermione, dan memberikan saran bahwa seharusnya Hermione hanya boleh bergaul dengan orang-orang yang seperti mereka—yang pantas, yang mulia, yang berdarah murni. Hermione kadang penasaran siapa yang menjejeli Draco dengan doktrin omong kosong seperti ini.

"Ron pernah membantuku mencari Platform 9 ¾, kurasa kurang sopan jika aku tidak berteman dengannya," kata Hermione, untuk sesaat melupakan essay Snape dihadapannya.

"Tapi tidak dengan orang yang seperti…" Kalimatnya terhenti. Alih-alih, tatapan Draco kini mengarah pada sesuatu dibelakang kepala Hermione, dan gadis itu mengikuti dengan tanya dipikirannya.

Ron telah kembali, kali ini tidak sendirian, melainkan ada dua temannya turut bersamanya—yang Hermione kenali sebagai Neville Longbottom dan Harry Potter yang terkenal. Sejak awal, Hermione mengetahui seberapa besar kebencian Draco pada Neville ataupun Harry. Hermione tak tahu pasti apa penyebab kebencian itu; dia hanya menebak bahwa iri hati ada kaitannya dengan ini. Maka, Hermione memutuskan untuk berdiri mengikuti Draco yang telah beranjak dari duduknya.

Atmosfer mulai terasa mendingin di sekitar mereka. Neville bahkan telah mengkeret dibalik punggung Harry.

"Ah. Kupikir Longbottom mulai membentuk aliansinya di Hogwarts." Draco menatap tajam ketiga anak lelaki itu.

"Kami tak ada urusan denganmu, Malfoy," kata Ron, gesturnya menunjukkan bahwa dia siap menarik tongkat sihirnya keluar dan bertarung saat itu juga.

Draco menyeringai. "Ingin saran nama untuk grup tolol kalian, Potter? Cerberus. Anjing neraka berkepala tiga. Cocok sekali dengan kalian."

Ron bereaksi sesuai dugaan. Dia mulai melangkah maju mendekati Draco yang berdiri angkuh, tapi sebelum cakarannya mencapai Draco, Harry dan Neville telah menahan kedua lengannya dan menariknya ke belakang. Tatapan Ron menyiratkan kebencian luar biasa, dan Hermione tak menyalahkannya untuk itu. Draco mulai keterlaluan, dan memulai konfrotasi di perpustakaan sudah melewati batas.

"Apa maumu, Malfoy?" desis Harry.

"Kenapa Potter? Longbottom? Takut detensi, eh?"

Hermione ingin sekali berteriak, tapi dia tahu jika dia melakukan itu madam Pince tak akan mengijinkannya untuk masuk perpustakaan lagi. Dara ini juga tahu, jika Draco tidak dihentikan sekarang juga, mereka akan dalam masalah besar. Jadi, dengan cepat Hermione membereskan seluruh perlengkapannya, dengan kasar memasukkan essaynya yang belum selesai kedalam tas dan meninggalkan begitu saja botol tinta miliknya yang kosong. Draco dan ketiga bocah Gryffindor itu masih bertatapan tajam.

"Ayo pergi, Draco." Setengah menyeret temannya itu keluar untuk dari perpustakaan, Hermione masih sempat menatap ketiga singa lainnya dengan pandangan meminta maaf.

"I'm sorry," bisiknya.