#Side Story

Ravenclaw.

Hermione membaca banyak hal tentang asrama ini sebelum ia datang ke Hogwarts. Dideskripsikan sebagai tempat bagi mereka yang cerdas, dan Rowena Ravenclaw sebagai Sang Pendiri, menghargai dan memilih para penyihir muda yang cerdas pula.

Sedikit banyak Granger muda itu bersyukur ia ditempatkan di asrama berpanji gagak ini. Walaupun sebenarnya biru bukanlah warna kesukaannya, dan fakta bahwa ia tidak terlalu suka ketinggian asrama Ravenclaw yang membuatnya misuh-misuh sendirian. Lepas dari semua itu, ia benar-benar bersyukur. Bukan Slytherin yang dipenuhi akan keagungan darah murni, ataupun Gryffindor yang begitu mengagumi keberanian hingga Hermione yakin mereka tidak bisa membedakan mana berani dan mana tolol. Terlebih Hufflepuff—yang dalam sekali pandang ia tahu bahwa asrama itu dihuni oleh orang-orang menyedihkan, tak diharapkan di asrama manapun, tapi berkedok setia dan kerja keras. Cih. Lawak, no?

"Aku akan membujuk Father agar memindahkanmu ke Slyhtherin, Hermione. Tenang saja. Ayahku pasti bisa melakukannya. Dia bisa melakukan apapun dan dia selalu mengabulkan apa yang kuinginkan." Draco, untuk yang kesekian kalinya berujar dari kesibukannya melumuri rotinya dengan madu. "Satu-satunya tempat yang pantas untukmu hanyalah Slytherin. Kau sependapat denganku, kan?"

Hermione mendesah—setengah jengkel dan setengah putus asa. Sudah tak terhitung berapa kali Draco menyuarakan pendapatnya yang bertajuk; 'memindahkan Hermione ke Slytherin dengan bantuan ayahanda yang gemilang'.

Oh. Satu lagi alasan kenapa ia lebih suka mendekam di asrama tertinggi Ravenclaw adalah karena Draco menghuni asrama bawah tanah. Slytherin dengan kejayaannya yang absurd. Hermione tahu ia tidak akan tahan berada satu asrama dengan bocah pirang pemaksa kehendak itu selama tujuh tahun kedepan. Hidupnya pasti suram.

"No way, Draco," tegas Hermione. "Sudah berapa kali kukatakan padamu. Aku. Tidak. Mau. Pindah. Ke. Asrama. Ular. Dan kau tidak bisa mengubah keputusan Topi Seleksi begitu saja. Sekalipun Father-mu adalah seorang Menteri Sihir."

"Jadi kau lebih memilih berada di asrama bodoh itu ketimbang bersamaku?" Wajah Draco sudah bertekuk dua belas, keningnya saling bertautan dan Hermione yakin sebentar lagi rona merah akan muncul diwajahnya yang rupawan.

"Tidak dan ya. Ravenclaw tidak bodoh, Draco. Coba saja kau lewati pintu asrama kami. Sampai lulus pun aku yakin kau tidak akan pernah lolos." Pernyataannya itu memang merujuk pada pintu ajaib asramanya. Sebuah gagang pengetuk pintu berbentu kepala elang yang akan mengeluarkan pertanyaan untuk setiap anak yang mencoba masuk ke asrama Ravenclaw. Satu-satunya pintu di Hogwarts yang tidak memerlukan kata kunci. Otak alumunium anak-anak Slytherin tidak akan mampu memecahkan satu pertanyaan pun yang dilayangkan.

"Tapi kau tidak mau bersamaku." Draco berkeras.

"Bukan berarti kita tidak bisa bertemu kan. Kita satu sekolah. Beberapa pelajaran bahkan menempatkan Ravenclaw dan Slytherin bersama-sama."

"Tidak mengubah fakta bahwa kau tidak mau bersamaku."

"Sebenarnya apa masalahmu?"

"Aku yang seharusnya bertanya apa masalahmu sampai kau tidak mau bersamaku."

Cukup sudah.

Hermione menggebrak meja kayu dihadapannya dengan kasar sehingga memancing atensi dari beberapa anak Slytherin yang duduk didekat mereka. Keduanya memang memilih sarapan di meja Slytehrin—tepatnya; Draco menyeret Hermione untuk duduk makan di meja itu.

"Berhenti mengatakan hal itu seolah-olah kita pacaran."

Wajah Draco telah memerah sepenuhnya—manifentasi antara malu dan amarah yang tidak dipahaminya. Kepala kecilnya menunduk, dengan khidmat menatap roti berbalut madu yang sejak tadi terabaikan. Ada yang tidak dipahaminya, tidak dimengerti oleh pikiran polosnya dan ditolak oleh harga diri terlampau tinggi yang mengalir di ikatan urat-urat Malfoy yang kuat. Hermione Granger, gadis kecil itu, tidak bisa jauh darinya—tidak boleh jauh darinya. Itu keputusan mutlak yang diambilnya sejak pertama kali mereka bertemu. Dan bagi Draco, yang hidup selama sebelas tahun dengan titah yang selalu terturuti, hal itu adalah wajib.

"Habiskan sarapanmu," ujar Hermione setelah Draco terdiam begitu lama. "Setelah ini kau ada kelas Ramuan, kan? Kau bilang ingin mencuri perhatian Profesor Snape. Jadi, jangan sampai terlambat."

Begitu siklusnya. Draco memaksa, Hermione menolak, Draco ngambek, Hermione melembut. Polanya selalu saja sama, berputar-putar ditempat tidak jelas. Implikasinya sampai membuat bermacam spekulasi tentang keduanya beredar. Banyak gosip dan racauan yang muncul, tapi tiga berita utama yang paling sering terdengar. Tiga itu adalah;

Draco dan Hermione berpacaran? Masih mending.

Hermione menyukai Draco? Mulai tidak santai.

(C) Hermione memaksa Draco menyukainya dengan cara memaksa pemuda itu agar meminum ramuan cinta? …

(Tidak ada yang terjadi, soalnya biasanya Hermione sudah mengamuk dengan menyihir siapa saja yang berani berbicara tentang hal itu).

Penyebar gosip-gosip itu adalah gadis-gadis kecil yang suka mengikik, menguntit kemanapun Draco pergi, dan mengedipkan bulu-bulu mata mereka ketika tanpa sengaja Draco menoleh untuk melihat. mereka tergabung dalam dua organisasi yang dibentuk secara dadakan dan tak berijin resmi; Draco Malfoy Fansclub dan Anti Hermione Granger. Pertama kali mendengarnya, Hermione tertawa terbahak-bahak.

Bagi Hermione sendiri, Draco adalah teman pertamanya. Gadis ini tak pernah melihat sisi Draco yang glamor, penuh kejayaan dan ditopang kebesaran nama Malfoy. Walaupun pemuda pirang itu punya sejuta sifat menjengkelkan—sebutlah, tukang memaksa, arogan, sombong, tukang mengeluh, tidak pernah bersyukur, membenci semua orang, mengagungkan darah murni, dan sederet blabbed lainnya yang kalau ditulis semuanya bisa setebal buku Sejarah Hogwarts. Draco adalah orang yang tidak pernah mengejeknya, mengata-ngatai Hermione sebagai anak panti yang menyedihkan. Sebaliknya, anak laki-laki itu secara terang-terangan mengagumi bakat sihir Hermione yang jenius. Ia adalah yang pertama ternganga ketika menyaksikan Hermione merapalkan sihir di Hogwarts Express. Dan ia adalah yang pertama mengulurkan ikatan persahabatan pada Hermione—dengan cara memaksa, tentu saja.

Maka, pola itu akan selalu begitu. Berputar, stagnan, tak jelas, membosankan. Tapi bagi keduanya, menjalani pola berarti menjaga persahabatan.