Ventus Hikari Note: um, sepertinya aku akan mempunyai sedikit masalah~ hehehe…
habisnya prologuenya terlalu keren! XDDD
DISCLAIMER: Milik Square Enix, Disney dan Tetsuya Nomura.
Pair: Axel x Sora, Axel x Roxas, Axel x Riku -?- XD
Rate: T (ada kemungkinan jadi M)
WARNING: SHO-AI! DON'T LIKE DON'T READ.
I Love My Nanny!
Chapter 1 : My First Day Becoming a Nanny.
~ Axel POV ~
Karena sudah menjadi bagian dari keluarga Hikari, maka akupun langsung tinggal di sana di hari pertamaku tiba pertama kali di kota ini. Reno segera pulang setelah mengucapkan salam dan meninggalkan nomor telepon dan alamatnya padaku, dia berpesan untuk meneleponnya sering-sering karena dia ingin tau apa yang aku lakukan di sini. Tapi aku ini bukan anak kecil, mengapa harus memberi laporan padanya?
Kamarku yang bersebelahan dengan Riku itu sangatlah mewah, bagaimana tidak, ketika duduk di kasur di kamarku, kasur itu super lembut! Sudah itu ada juga sebuah televise duapuluh empat inci dengan sebuah speaker besar yang siap membuat seluruh rumah ini mendengar isi tontonanku jika kusetel dengan volume max. belum lagi tempat mandinya…
"Wow!" kataku ketika melihat kamar mandi pribadiku.
Ada bath tub yang besar sekali, kurasa bath tub ini muat untuk empat orang sekaligus. Cermin sepanjang dua meter kali satu meter yang cukup untuk mencerminkan seluruh tubuhku yang jangkung ini. Sebuah spoon mandi yang sangat lembut bagaikan sehelai bulu dan sebuah sampo yang kemungkinan sangat mahal karena wanginya yang kuat dan enak ini meski aku tidak mengenal merek sampo ini.
"Man, aku tidak akan sabar menunggu hari esok~" kataku sambil tersenyum. "kuharap besok merupakan hari yang menyenangkan… tapi tidak akan selalu menyenangkan mengingat ada anak yang menyebalkan…" keluhku sambil menghela napas mengingat bahwa aku juga akan mengasuh Riku, anak muda berambut silver yang meremehkanku yang berasal dari kampung.
Maka aku segera keluar dari kamar mandi dan segera mengambil pakaian tidurku, akupun segera tidur dengan cepat…
Esok harinya…
Suara burung berkicau merdu seakan-akan menyuruhku bangung, tetapi aku masih mengantuk dan malas bangun. Perlahan, suara kicauan burung itu perlahan-lahan pergi menjauh dan mulai terasa tenang lagi. Ketika aku membuka mataku, suasana terasa sangat hening sekali, tidak seperti biasanya ketika aku bangung di kampung halamanku, suara burung berkicau masih terdengar, tetapi di sini tidak terdengar sama sekali…
"Pagi Nanny!" teriak seorang anak berambut brunette dengan semangat dan lalu melompat keatas tubuhku yang masih terbaring di kasur yang empuk ini.
"So…Sora!" kataku sangat terkejut. "B… bagaimana kau bisa masuk?" tanyaku heran.
"hehehe!" katanya dengan ceria. "Kalau ada ini! Semua ruangan kecuali ruang kerja ayah dan kamarnya bisa aku masuki tanpa ada sedikitpun masalah!" katanya sambil menunjukkan sebuah kartu padaku.
"O…oh begitu…" Kataku masih sedikit bengong karena masih belum terbiasa karena ini merupakan hari pertamaku di sini.
"Ayo! Ayo!" kata Sora yang menarikku bangun dengan semangat. "ayah ingin bertemu denganmu! Beliau ingin bicara denganmu!" katanya memberitaukanku.
"Ke…kenapa?" tanyaku dengan wajah cemas.
"Aku tidak tau! Tapi sepertinya hanya sekedar memberitau tugasmu! Ayo cepat mandi nanny!" perintah Sora.
"well, baiklah. Tapi bisakah kau berhenti memanggilku nanny, Sora? Kau dapat menyebutku dengan nama saja atau kakak atau bagaimanapun yang kau mau, asal bukan nanny…" kataku memintanya.
"Um…" dia menyebutkan 'Um…' yang sangat panjang sekali tanpa berhenti untuk menarik napas. "…Baiklah! Kalau begitu Axel saja!" katanya sambil tersenyum lebar.
"Thanks…" Kataku sambil tersenyum dan segera masuk kedalam kamar mandi.
Bath tub yang kosong segera kuisi dengan air, air yang terisi kedalam bath tub ini terlihat sedikit beruap. Ketika kusentuh air itu, air itu terasa panas, tapi bukan panas mendidih. Kelepaskan seluruh pakaianku dan kugantung di sebuah gantungan baju. Perlahan kucelupkan kaki kedalam air yang panas itu dan akupun merintih kesakitan karena panas air itu. Tapi perlahan-lahan tubuhku terbiasa dengan panasnya air ini dan perlahan mulai merasa nyaman sekali dengan suhu panas air ini, tetapi aku tidak dapat berlama-lama, karena tuan rumah, mister Hikari sedang menungguku, begitu juga Sora yang berada di luar kamar mandi…
"Axel! Axel! Cepatan!" teriak Sora dari luar kamar mandi.
"Sebentar…" Jawabku sambil mengenakan pakaianku.
Aku lalu keluar dan melihat Sora berada tepat di depan pintu kamar mandi.
"Ayo cepat!" kata Sora yang menarik tanganku dan kami berdua berjalan keluar dari kamarku.
Di ruang tengah, aku melihat Roxas sedang bermain dengan Riku, tetapi mereka berdua terlihat seperti bertengkar daripada di bilang bermain…
"Aku yang akan menang jika tadi kau tidak menggangguku!" Teriak Roxas dengan kesal.
"Heh! Itu salahmu sendiri!" Kata Riku dengan ketus.
Mereka berduapun bertengkar hebat…
Sebenarnya aku ingin menghentikan mereka berdua berkelahi, tetapi Sora terus menarikku keluar dari ruangan tengah dan menuju kesuatu tempat…
"Sora, apakah tidak apa-apa membiarkan kedua saudaramu bertengkar?" tanyaku dengan cemas.
"Tidak apa-apa, mereka selalu bertengkar dan akhirnya saling meminta maaf juga kok!" katanya memberitau sambil tersenyum.
Kami berdua lalu memasuki sebuah ruangan yang tidak memerlukan kartu untuk masuk kedalam. Sora lalu menekan sebuah tombol di samping pintu itu…
"Siapa?" suara keluar dari alat yang Sora tekan tadi.
"Ini aku! Aku bersama dengan na… Axel!" jawab Sora dengan semangat meski tadi sempat ingin menyebutku dengan sebutan nanny lagi.
"Masuk…" kata suara itu dari alat itu dan pintu yang tadi tertutup rapat itupun terbuka dengan sendirinya…
'Wow… rumah mewah ini sangat hebat, pintu saja dapat terbuka secara otomatis~' pikirku kagum melihatnya.
Maka aku dan Sora berjalan memasukinya…
Terlihat mister Hikari yang sedang duduk di sofa direkturnya itu menatap lurus kearahku ketika aku masuk, entah mengapa bulu kudukku sedikit berdiri di tatapi olehnya seperti itu…
"Sora, bisakah kau tinggalkan kami? Aku ingin bicara berdua saja dengan Tatsumi…" katanya sambil menatap Sora.
"Tapi!" kata Sora yang menolak untuk keluar.
"Sora…" Kata mister hikari dengan dingin.
Sora terlihat sedih dan dengan berat hati pergi keluar dengan wajah sedih dan kuperhatikan dia seperti hendak menangis…
Setelah Sora pergi, Mr. Hikari meletakan tiga lembar kertas di atas mejanya dan menyuruhku mengambilnya. Dengan perlahan, aku mendekati mejanya dan mengambil kertas itu. Lalu aku membaca apa yang tertulis di kertas itu…
'Jadwal home schooling Sora,Roxas, dan Riku…' pikirku sambil membaca isi kertas itu.
"Pastikan mereka bertiga selalu mengikuti semua pelarannya, terutama Sora, dia paling sering bolos…" kata Mr. Hikari padaku sambil membaca surat yang sedang dia pegang.
"Um, baiklah…" jawabku masih menatap kertas itu. 'Hum?' pikirku sambil melihat ujung kertas itu. 'Jadwal dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kemauan masing-masing…' pikirku sambil membacanya. "Mr. Hikari, apakah jadwal home schooling mereka dapat berubah?"
"Ya, itu tergantung dari mereka. Anak-anak selalu berbuat seenaknya, mereka suka sekali mengubah jadwal mereka, terutama Riku yang paling sering mengubah jadwalnya karena dia belajar dengan cepat…" jelas Mr. Hikari.
Aku lalu melihat kertas terakhir yang tertuliskan jadwal Riku, dia memiliki jadwal belajar yang sangat padat sekali…
"Tatsumi, yang perlu sering-sering kau awasi adalah Sora, kalau Roxas dan Riku tidak perlu terlalu sering. Sora terkadang suka berbuat yang berbahaya, seperti memanjat sebuah pohon dan aku sungguh mencemaskan tingkah lakunya…" kata Mr. Hikari dengan menghela napas.
Aku lalu mengangguk dengan pelan.
"kau boleh pergi sekarang…" katanya mengizinkanku untuk meninggalkan ruangan ini.
"Permisi…" kataku sambil berjalan pergi…
~ Sora POV ~
Aku menunggu Axel keluar dari ruang kerja ayah di samping pintu masuk ruang kerja sambil jongkok. Ketika pintu ruangan itu terbuka, aku segera berdiri dan melihat Axel keluar dari ruang kerja ayah.
"Axel!" kataku dengan semangat.
"Woah..." kata Axel yang terlihat terkejut ketika aku memanggilnya. "…Sora, aku menungguku dari tadi?" tanyanya heran.
"Ya! Aku menunggumu!" jawabku ceria. "Ayo kita main!" ajakku sambil menarik lengannya.
"Tapi Sora, sebentar lagi kau harus belajar…" kata Axel menahan lariku sambil melihat sebuah kertas yang dia pegang. "…menurut jadwalmu, sebentar lagi kau harus belajar…" katanya memberitauku.
"Ah! Tapi aku tidak mau! Kita main saja ya? Please?" kataku memohon.
"well…" kata Axel yang terlihat bingung.
"Please? Ayolah Axel! Kali ini saja! Inikan hari pertamamu di sini! Dan aku ingin kita main dulu!" kataku mendesaknya.
"…" Axel terlihat bingung dan akhirnya setuju.
"Yaaaaaaaaaaaaaaaay! Come on!" kataku yang menariknya menuju pintu keluar rumah. "Mari kita bermain di halaman rumah!" ajakku.
"Iya…" kata Axel sambil tersenyum.
Maka ketika kami berdua keluar, aku langsung berlari mendekati pohon dan aku berusaha memanjatnya, tetapi Axel menghentikanku…
"Berbahaya…" kata Axel.
"Tidak kok! Ayo kita ke atas Axel! Di atas, ada ranting yang besar dan bisa kita duduki! Di sana merupakan tempatku, Roxas, dan Riku bermain di kala kami bertiga bosan!" kataku memberitau dengan senyum lebar. "dan di sana juga, tidak ada penjaga yang dapat menemukan kita kecuali paman Squall dan ayah."
"Tapi ayahmu cemas jika kau memanjat pohon ini…" Katanya memberitaukanku.
"…" akupun langsung menjadi sedih mendengarnya. "…Ayah tidak terlalu memperdulikanku, dia lebih memperdulikan Riku daripada aku. Paman Leon-lah yang selalu memperhatikanku…"
"…" Axel lalu terdiam sejenak dan memegang kepalaku. "…Kurasa itu hanya perasaanmu saja Sora, setiap orang tua pasti selalu mencemaskan kondisi anaknya sendiri." katanya sambil tersenyum.
"tapi ayah tidak…" kataku dengan sedih.
"…" Axel lalu terdiam lagi, dia terlihat bingung setelah mendengar perkataanku. "Hey, bagaimana kalau aku bantu kamu memanjat pohon ini?" katanya sambil berusaha mengganti topic pembicaraan.
"Yeah!" kataku yang menjadi semangat lagi.
"nah, naiklah kepundakku…" katanya sambil berlutut.
Maka aku menaiki pundaknya perlahan-lahan dan hati-hati. Axel lalu berdiri dan aku merasa menjadi sangat tinggi dan hampir mendekati ranting pohon yang besar itu. Aku lalu meraihnya dan naik…
"Axel! Kau naik juga ya!" kataku padanya.
Maka Axel memanjat pohon itu dengan perlahan-lahan hingga dia berada di sampingku.
"Wow, di sini terasa sejuk…" komentarnya setelah menaiki pohon ini.
"Iya! Makanya ini menjadi tempat favoriteku untuk menyendiri!" jelasku sambil tertawa kecil.
"Oh, hey Sora, umurmu saat ini berapa?" Tanyanya sambil menatapku.
"Um, umurku sembilan! Aku lebih tua dua menit dari Roxas dan Riku berumur sepuluh!" Jawabku dengan senyum. "Seperti yang Riku katakan padamu kemarin, dia adalah penerus keluarga ini karena kepintarannya. Sedangkan Roxas akan memegang tiga puluh persen harta ayah, begitu juga aku!" jelasku.
"Mengapa Riku terpilih menjadi penerus?" Tanya Axel dengan heran.
"itu karena…"
To Be Continued…
Ventus Hikari Note: well, selanjutnya Yaya-chan yang mengerjakan part 2 ^^.
last word, review?
