YAYA HANAMAKI NOTE: Hai all! Yaya disini untuk mengupdate chapy 2! Kay, hope you all enjoy it! ^^
DISCLAIMER: Square Enix, Disney, Tetsuya Nomura. Sebesar apapun keinginanku KH takkan pernah menjadi milikku -.-
PAIR: AkuSo, akuRoku, AkuRiku ^^
RATE: T, entahlah apa nanti kedepannya XD
WARNING! SHO-AI, DON'T LIKE DON'T READ.
Chap 2: Go and Returning to Me
NORMAL POV.
Ucapan Sora terhenti dikarenakan panggilan seseorang dibawah pohon yang sedang mereka naiki. "Tuan Muda Sora! apa yang kau lakukan di sana?" teriak seseorang, Paman Squall. Sora yang melihat raut wajah Paman Squall yang terlihat khawatir segera tertawa riang.
"Paman Squall! Ayo sini!" Ajaknya sambil melambaikan tangannya. Paman Squall nekat, ia mencoba menaiki pohon tersebut. Tapi Sora segera meloncat tepat ke arah Paman Squall, dan memeluknya hingga mereka berdua jatuh secara bersamaan. Axel hanya terpaku melihat keberanian anak itu. "Paman Squall!" Teriak Sora sambil tersenyum riang. Paman Squall menepuk dan mengacak-acak rambut Sora.
"Bagaimana jika kau terluka? Ayo masuk ke dalam," ujar Paman Squall dengan nada yang terbilang lembut untuk orang yang memiliki ekspresi dingin sepertinya. Sora mengangguk dan segera berlari masuk. Paman Squall tersenyum lembut, meski hanya sebentar, sangat sebentar, lalu segera menghilang. Tapi Axel yang sempat melihatnya benar-benar terkejut, melihat sebuah senyuman lembut terpatri dalam wajah dingin Paman Squall. Paman Squall yang sadar Axel tatapi segera menatap tajam Axel yang masih berada di atas pohon.
"Kau, turunlah," ujarnya dingin. Axel segera turun dari pohon. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ternyata kau bisa juga ya berwajah lembut dan tersenyum, kukira ekspresimu hanya sebatas 'dingin' dan 'menyeramkan'," ujar Axel sambil mengalihkan matanya ke samping. Sesaat kemudian ia kembali melirik ke arah Paman Squall. Ekspresi Paman Squall tidak berubah, tetap dingin seperti biasanya. Axel menghela nafasnya.
"Well, bye," pamit Axel seraya masuk kedalam rumah keluarga Hikari.
xxxxxxxxxxx
Saat Axel akan mengakses kartunya, terdengar bunyi keributan dari dalam kamar 3 majikan kecilnya itu. Ia segera mempercepat geraknya dan membuka pintu, ng, mungkin lebih tepatnya mendorongnya secara kasar. Terlihat disitu, Riku yang tetap calm down dan si kembar yang tengah memperebutkan sesuatu.
"Pelajaran pertamaku Sastra!" Ujar Roxas dengan nada yang sedikit ditekan.
"Tapi aku mau Sastra juga!" Teriak Sora.
"Aku sudah menunggu lama untuk belajar Sastra! Kau 'kan seharusnya belajar Matematika hari ini!" Ujar Roxas sengit seraya mengambil buku gambarnya yang tengah dipegang Sora. mata Sora berkaca-kaca.
"Aku benci Matematika. . . angka membuatku mual! Roxas, aku mau belajar Sastra. . ." rengeknya.
Riku yang mulai terlihat terganggu segera mengambil telpon genggamnya. "Ya, ini aku Riku Hikari. Aku ingin mengganti jadwal belajarku. Fisika, Matematika, Sejarah dan Tata Krama. Roxas tetap seperti biasa, Sastra dan Biologi. Tidak, Sora tidak diubah. Ya, tetap Matematika. Kay, 10 menit lagi," ujarnya lalu segera menutup telponnya. Sora yang sedari tadi ribut dengan Roxas segera menghampiri Riku dengan langkah yang dihentakkan.
"Riku! Kubilang aku tidak mau belajar Matematika!" Teriaknya.
"Minggu lalu kau sudah 3 kali belajar Sastra, Sora," ujar Riku tetap tenang. Sora mulai merengek, ia berteriak sendiri.
"Aku mau belajar Sastra! Sastra! Aku mau Sastra! Huwe. . ." Ia mulai menangis. Axel melangkah mendekatinya dan menghapus air matanya.
"Bagaimana jika kau belajar denganku?" tanya Axel sambil tersenyum.
"Be, benarkah?" tanya Sora. axel mengangguk. Sora tersenyum dan menghapus air matanya.
"Ayo! Kita belajar di kamarku!" Teriaknya seraya menarik tangan Axel.
"Sora! Ayah bilang kita tidak boleh membawa orang asing masuk ke kamar kita!" Protes Roxas.
"Ini Axel, bukan orang asing! Weee!" Teriak Sora seraya menjulurkan lidahnya.
"Tapi. . ."
"Sudahlah Roxas, lebih baik kau diam dan duduk saja, aku terganggu dengan semua sifat mengaturmu itu," ujar Riku datar. Roxas meliriknya dingin.
"Aku tak mau berdua saja denganmu! Dasar sok dewasa!" teriaknya. Dan mulailah pertengkaran biasa antara bocah silver dan bocah blond itu. . .
Di kamar Sora. Axel yang tengah memperhatikan sekeliling kamar Sora yang ternyata lebih 'wah' dari kamar miliknya itu dikejutkan dengan Sora yang tengah menyeret sesuatu. Wajahnya terlihat kesusahan, sepertinya apa yang ditariknya adalah sesuatu yang berat.
"Sora? apa itu?" Tanya Axel seraya membantu Sora menarik sesuatu yang ternyata sebuah tas hitam yang sangat besar. Sora mengucapkan terima kasih, lalu segera mengeluarkan satu demi satu buku yang ada di dalamnya.
"Axel mau mengajariku yang mana? Ini ada berbagai macam buku. Ada buku Aljabar, buku Bangun Datar, buku Bangun Ruang, buku Pecahan dan Persenan, buku Pemusatan Data, buku. . ."
Axel pusing mendengarkan Sora yang terus menyebutkan judul-judul buku tebal yang dikeluarkannya satu per satu. Apalagi. . . ia merasa belum pernah mempelajari itu semua. Ng, mungkin pernah, tapi itu 5 tahun yang lalu, saat dirinya masih SMP dan ia paling lemah dalam pelajaran Matematika. . . Bagaimana seorang anak berumur 9 tahun dapat menguasai itu semua? Axel kira pelajarannya hanyalah sekitar tambah, kurang, kali dan bagi. . .tapi, mengapa semuanya adalah pelajaran yang sulit?
"Ayo Axel, yang mana?" Tanya Sora sambil menyodorkan semua buku tebal itu padanya.
"So, Sora. . . kau sudah menguasai yang mana?" Tanya Axel. Sora mengambil beberapa buku.
"Aku paling suka bangun ruang dan datar! Ada persegi empat, segitiga, kerucut, bola. . . aku suka bermain bola!" Teriaknya ceria. Axel mengambil 2 buku dan membuka salah satunya. Buku Bangun Datar.
"Rumus? s.s.s? 1/2.a.t? What the. . .?" Pikirnya. Ia menutup buku tersebut dengan cepat dan segera membuka buku yang lain, buku Bangun Ruang. "V.r.s? 2.V.r.t? Apa-apaan ini?" Tanyanya dalam hati dan segera mendorong buku itu dengan wajah menyeramkan.
"Axel?" Tegur Sora dengan sedikit khawatir melihat wajah Axel yang pucat. Axel menggeleng, merasakan matanya mulai berkunang-kunang dan pusing, dan akhirnya, ia pingsan saat itu juga.
xxxxxxxxxx
AXEL POV.
Aku mencoba membuka mataku. Berat, kepalaku masih terasa pusing. Ng, dimana ini? Ruangannya serba putih. Bau obat. . .
"Axel!" teriak Sora sambil memelukku erat. Terasa air menetes dari matanya mengalir ke wajahku. Ia menangis.
"Axel! Kau sudah sadar!" Teriaknya lagi.
"Sora! Dia bisa pingsan lagi jika kau memperlakukannya seperti itu!" Teriak Roxas khawatir. Sora melepaskan pelukannya dan segera mencium lembut pipiku.
"Aku mau tidur dulu ya, Axel. . ." Ujarnya seraya turun dari kasur dan melangkah menuju sofa dan menidurkan tubuhnya disitu. Tak lama kemudian, iapun tertidur.
"Kau tahu? Ia hampir tak tidur karena menungguimu," Ujar Riku dingin sambil masih meneruskan kegiatannya membaca buku tebal yang berjudul 'Sejarah Perang Dunia'.
"Ini dimana?" Tanyaku.
"Di rumah sakit," jawabnya singkat.
"Kalian bertiga saja? Oh ya, sudah berapa hari aku pingsan?" tanyaku lagi. Riku segera menutup bukunya dan menaruhnya di atas meja.
"3 hari. Kami menungguimu bersama Paman Squall, tapi sekarang ia sedang pulang karena kakakmu itu membuat kekacauan lagi di rumah kami. Mungkin ia akan membawanya kemari."
"Mengacau?" gumamku. Tepat setelah itu, Reno masuk dan memelukku kuat.
"Axel! Syukurlah kau baik!" Teriaknya riang.
"Re, Reno! Kau mau infusku tercabut dan darahku muncrat ke wajahmu?" Tanyaku. Reno segera melepaskan tangannya sambil bermuka aneh.
"J, jangan mengatakan hal yang terdengar menyeramkan, Axel! Aku hanya khawatir karena telponmu sama sekali tak dapat dihubungi!" Teriaknya cemas. Aku tersenyum.
"Aku baik-baik saja," Ujarku sambil menepuk pundaknya.
"Aku bisa melihatnya. Oh ya, ada sesuatu yang dititipkan oleh Mr. Hikari untukmu. Bukalah," Ujarnya seraya memberikan sebuah amplop kepadaku. Aku segera membukanya. Didalamnya terdapat sebuah pasport dan sebuah tiket bertuliskan namaku disitu. Ada sebuah surat.
"Kau akan kusekolahkan selama 5 tahun di Traverse Town. Biaya kebutuhanmu aku tanggung. Esok jadwal keberangkatanmu. Barang-barangmu telah kukirim kerumahmu di Traverse Town yang sudah aku siapkan. Jangan memalukan nama keluarga Hikari." Surat itu terhenti disana. Singkat, padat dan jelas. Aku menghela nafasku.
"Kay. . . besok," ujarku seraya meletakkan surat itu disamping bantal. Aku memejamkan mataku, berusaha untuk tidur agar besok tidak terkena jet lag lagi.
xxxxxxxxxx
"Axel, apa kau benar-benar akan pergi?" Tanya Sora seraya memegang ujung bajuku erat. Sudah saatnya aku pergi, pesawat akan take-off sebentar lagi. Aku tersenyum dan menghapus air matanya.
"Aku akan pulang. Kau tunggu aku ya?" Tanyaku sambil tersenyum padanya. Ia mengangguk dan,
O my gosh,
Ia menciumku!
Hng. . . bibirnya lembut juga. . .
Ung, apa yang sedang aku pikirkan? Ia masih kecil!
"By Axel, I Love You. . ." Ujarnya seraya berlari meninggalkanku menuju Riku, Roxas, Paman Squall dan Reno yang ikut menghantarkan kepergianku.
"Bye!" Ujarku sambil tersenyum dan melambaikan tanganku.
xxxxxxxxxx
5 TAHUN KEMUDIAN.
NORMAL POV.
Axel yang baru saja menyelesaikan studinya di Traverse Town itu tengah duduk risih menunggu seseorang menjemputnya. Tidak dengan jet lag, atau dengan segala tingkah kampungnya lagi. Kini ia menjadi lebih keren, benar-benar bagaikan orang kota. Lihat saja tato dibawah matanya itu, kalungnya yang berukir angka 8 romawi dan gelangnya yang berbandul tengkorak. Jaket hitamnya yang berpadu dengan kaus putih polosnya, juga jeans hitam dan sepatu putihnya. Dia terlihat sangat keren.
"Axel?" Sapa seseorang dibelakangnya. Ia menoleh. Matanya terbelalak, seakan tak mempercayai apa yang sedang ia lihat. Yeah, sekarang ini, didepannya telah berdiri 3 pemuda tampan yang menjadi lirikan setiap gadis yang melewati mereka. Mengesampingkan betapa lucunya mereka 5 tahun lalu, membuat Axel seakan tak percaya jika mereka ini adalah Sora, Roxas dan Riku, 3 anak asuhannya itu.
Riku mengenakan kaus hitam tanpa lengan dengan turtle neck, kaung berbandul cincin perak dan rambut panjangnya yang diikat, sangat cocok dengan celana jeans birunya dan sepatu hitamnya.
Roxas yang kini telah menata rambutnya menjadi lebih keren, miring kesamping, menggunakan kacamata bening yang mendukung auranya. Baju panjangnya yang berwarna biru tua dan celana jeans putihnya, juga kalung berbandul X nya dan sepatu birunya. Tak lupa juga dengan cincinnya yang berwarna perak yang mendukung penampilannya.
Lalu, seseorang dengan topi merah yang menutupi wajahnya. Baju lengan pendeknya yang berwarna merah, terlihat lebih sederhana dari 2 saudaranya. Dipadukan dengan celana coklat ¾ nya, juga sandal berwarna merahnya. Ia lebih mirip akan berwisata ke pantai daripada tengah menjemput seseorang yang telah 5 tahun tidak bertemu.
Tapi tak dapat Axel pungkiri jika 3 pemuda tampan didepannya itu benar-benar membuat darahnya berdesir. Riku maju menyalaminya, diikuti dengan Roxas, dan Sora yang paling akhir. Axel mulai merasa jika mereka sudah mulai berubah, apalagi Sora. Tapi. . .
"Axel! Aku merindukanmu! Akhirnya kau pulang juga!" Teriaknya seraya memeluk Axel kuat hingga topinya terjatuh.
"Sora! Jangan berteriak di tempat seperti ini!" omel Roxas.
"Heh, kau juga berisik," gumam Riku.
"Apa? Bisa kau ulangi kata-katamu tadi?" Tanya Roxas seraya maju mendekati Riku.
"Berisik, hentikan sifat mengaturmu itu."
"Apa? Dasar sok dewasa!"
Hng, kini Axel tahu jika mereka tak sepenuhnya berubah. . .
xxxxxxxxxx
Rumah keluarga Hikari juga tidak berubah, tetap luas dan sedikit menyeramkan, sama seperti dulu. Axel menghela nafasnya dan tersenyum. "I'm home. . ." ujarnya pelan dengan Sora yang masih saja bergelayut di lengannya. Seseorang berbaju hitam datang menghampiri mereka dan mengeluarkan barang-barang Axel dari bagasi mobil.
"Tuan Muda, lain kali jangan pergi tanpa pamit begitu. Mr. Hikari mengkhawatirkan anda," ujarnya seraya meninggalkan mereka berempat dengan membawa semua barang-barang Axel. Axel menoleh ke arah Riku, si 'supir'.
"Huh? Jadi kau tak pamit dulu dengan orang tuamu?"
Riku menggeleng. "Lumayan. . . sambil mencoba kemampuan berkendaraku," ujarnya sinis.
"Tapi, bagaimana jika kau ditilang? Kalau tidak salah, umurmu baru 15 tahun 'kan? Apa kau punya SIM?"
Riku tersenyum sinis. "Ini Twilight Town, bukan Traverse Town. Sebutkan saja kau anggota keluarga Hikari dan kau bebas dari segala tuntutan. Berhentilah mengguruiku, orang kota," ujarnya seraya melangkah meninggalkan Axel.
"Saat aku masih kampungan, ia mengejekku. Dan setelah aku jadi orang kota, dia tetap mengejekku. Mau apa dia?" gumam Axel. Sora yang berada disamping Axel segera mengajaknya berbicara.
"Berapa umurmu, Ax?" tanyanya sambil tersenyum. Axel menghitung jarinya sambil mengerutkan keningnya.
"Ng. . . 21. . ."
"Aku 14! Sudah dewasa!" Teriak Sora senang. Axel tersenyum. Tentu saja ia menyadari jika pemuda-pemuda asuhannya kini sudah dewasa.
Sora menarik-narik tangan Axel. "C'mon, Axel! Kita naik pohon yuk!"
"Hentikan Sora! padahal 5 tahun yang lalu kau sudah menghilangkan sifat kekanakanmu itu dan tak lagi menaiki pohon! Bahkan kau menjadi pendiam dan sangat rajin belajar, tapi mengapa kau jadi balik manja lagi?" Tanya Roxas. Sora menatapnya tajam.
"Huh? Kau menantangku, Roxas?" Tanyanya. Roxas terdiam, dan segera meninggalkan Sora dan Axel dengan menyilangkan tangannya dibelakang kepala.
"Jika itu artinya 'mari kita bermain monopoli', aku keberatan," ujarnya. Sora menggeram.
Axel bergidik, memperhatikan jika aura 3 pemuda itu sedikit berbeda dibandingkan yang dulu. Sebenarnya, apa saja yang sudah ia lewatkan selama 5 tahun kepergiannya?
"Axel, malam ini ada upacara kedewasaan disini. Aku, Riku dan Roxas akan menunjukkan kemampuan kami, dan mengikuti upacara kedewasaan, tentunya. Sebenarnya, Riku telah memiliki upacaranya sendiri 4 tahun lalu, tapi ia diminta mengulangnya bersama aku dan Roxas," ujarnya.
Upacara kedewasaan? Axel tahu itu. Sebuah upacara tradisi keluarga yakuza, dimana seorang anak telah dianggap mampu menjaga dirinya sendiri dan trampil dalam memilih tindakan. Tapi, umur 11 telah mengikuti pelantikan itu? Tak salah jika Mr. Hikari memilihnya sebagai penerus keluarga, batin Axel.
"Oh ya Sora, mana Mr. Hikari?"
"Ia sedang pergi ke Hollow Bastion, ada bisnis disana dan baru pulang 1 bulan lagi. Ng, Axel, aku tahu kau lelah. Beristirahatlah di kamarmu, aku mungkin akan mempertajam keahlianku untuk dipertunjukan malam ini. Bye," Pamitnya seraya melangkah menuju lorong kiri. Axel pun melangkah mengitari rumah besar ini. Setelah yakin ia menghapalnya, ia segera mengakses pintu masuk dan tertidur pulas di kamarnya.
xxxxxxxxxx
"Axel, bangun," ujar seseorang beryukata hitam sambil mengguncang-guncang tubuh Axel. Axel bangun, mengerjapkan matanya.
"Roxas? Kukira Sora," ujarnya seraya bangkit dari tempat tidur.
"Aku diminta untuk membangunkanmu, 10 menit lagi upacara kedewasaan akan dimulai. Sora sedang berlatih di training field sayap kiri. . ."
"Percuma Roxas, ia takkan tahu dimana itu," potong seseorang yang sedang berdiri di depan pintu, sambil menggulung lengan yukata hitamnya hingga sebahu. Ia tersenyum sinis. Rambutnya diurai. Ia terlihat sangat tampan. Axel menanggapinya dengan senyum sinis.
"maaf Riku, aku telah menghapal semua ruangan di rumah ini siang tadi. 5 tahun pendidikanku mampu membuatku mengingatnya hanya dengan sekali pandang. Well, bisakah kalian meninggalkanku sendiri? aku butuh privasi. Atau kalian ingin mandi bersamaku?" Goda Axel. Roxas menatapnya dingin dan segera melangkah keluar.
"Jangan bawa kebiasaanmu kesini, orang kota. Oh ya, pelantikan diadakan di ruang utama," Ujar Riku datar seraya meninggalkan Axel yang segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
xxxxxxxxxx
Axel duduk di sebuah kursi yang telah disiapkan untuknya. Ia masuk kedalam jejeran kursi khusus, mengingat disampingnya itu adalah kursi milik Paman Squall, 3 pemuda Hikari, petinggi Keluarga Hikari dan juga kursi Mr. Hikari yang tengah pergi keluar negri. Sedangkan yang lainnya duduk dibelakang mereka. Axel melemaskan tubuhnya. Musik mulai terdengar, pertanda upacara akan segera dimulai.
Seorang pemuda berambut coklat, Sora, datang dan menundukkan kepalanya. "Nikmati pertunjukanku, kendo," ujarnya seraya mengambil sebilah pedang bambu dari pinggangnya. Muka Sora terlihat sangat serius, Axel sangat menikmati pertunjukannya. Sora benar-benar sudah dewasa, batinnya.
Lalu muncul penampil kedua. Roxas. Ia menunduk dalam-dalam. "Nikmati pertunjukan memanahku," ujarnya. Dan lagi, Axel kembali terkesima dengan pertunjukan luar biasa yang diberikan Roxas.
Lalu yang terakhir, siapa lagi jika bukan Riku. "Anda bisa memilih, judo, kendo, panah atau sumo?" tanyanya. Axel terkejut, betapa banyaknya olahraga yang telah Riku kuasai.
"Untuk sambutan, kepada Axel Tatsumi, silahkan memilih," Ujar Riku seraya menatap Axel. Axel terkejut, tak menyangka dirinya akan diberikan hak istimewa memilih pertunjukan yang akan dibawakan oleh Riku. Ia berfikir sebentar, lalu akhirnya mengucapkan sesuatu.
"Judo."
Riku tersenyum sinis dan segera menunduk. Lalu, lagi-lagi Axel dibuat terkesima oleh pertunjukan Riku. Setelah itu, baru mereka bertiga duduk di bangku yang telah disediakan. Hiburan pun dimulai, muncul lima wanita cantik di depan mereka, menarikan sebuah tarian yang indah.
"Axel," tegur Sora yang duduk tepat di sebelah Axel. Axel menoleh ke arahnya. Ia tersenyum sebentar.
"Hng?" Ujarnya. Sora menoleh padanya.
"Bagaimana pertunjukanku tadi?" Tanyanya. Axel tertawa kecil dan mengacungkan jempolnya.
"Hebat," puji Axel.
"Tapi Riku lebih hebat lagi. Kau tahu, pukulanku tadi meleset 3 derajat. Riku tak pernah seperti itu."
Axel tak habis pikir. 3 derajat saja diperhitungkan?
Axel menepuk lembut kepala Sora dan mengelus-elusnya. "Itu hebat, kau tahu. Aku saja tak bisa kendo," ujarnya. Sora terdiam. Ia mengerjapkan matanya.
"Axel, ingat apa yang kita lakukan di hari keberangkatanmu itu? Aku. . . menciummu," ujar Sora lirih. Axel mengangguk. Bagaimana bisa ia melupakannya, bibir mungil yang lembut itu terlalu manis untuk dilupakan. Tapi, mengapa Sora menanyakan hal itu padanya?
"Itu. . . 5 tahun yang lalu," ujar Sora seraya mencoba menutupi mukanya yang telah memerah. "Saat itu aku masih kecil."
"Well, I know. I'll forget that."
"Bukan begitu," ujar Sora menyanggah perkataan Axel. "Tapi. . ."
Sora berhenti berbicara. Ia terlihat gugup, mukanya makin memerah. Ia menelan ludahnya, lalu memberanikan dirinya menatap mata Axel.
"Maksudku. . . maukah kau melakukannya lagi malam ini?"
TBC
Well, that's it! XD
Mulai terlihat unsur Romance nya!
Chapy 3 akan dilanjutkan oleh Ven-san!
Akhir kata. . . Ripiu Please? :3
