CHAPTER 4: AN AMAZING MORNING
Yaya: Well, sebelumnya kuberitahu dulu. . .
Atas request dari Ventus Hikari dan sebagai hadiah ulang tahunnya. . .
Rate nya berubah jadi M!
Dan ini Yaoi pertamaku!
Sedikit deg-degan, takut jeleg dan ga memuaskan. . .
Well. . . Whatever.
Happy Reading! XDDD
DISCLAIMER: Square Enix, Disney dan Tetsuya Nomura
Pair:Reuni pair! AkuSo, AkuRiku, AkuRoku dan RikuRoku semuanya ada disini! Dan pemberitahuan, YAOI-NYA AKUROKU!
Rate: M! Berubah menjadi M!
WARNING: YAOI! DON'T LIKE DON'T READ!
-XXX-
Axel tak juga menjawab pertanyaan Sora. Sora merasa kesal. Ia menarik kerah baju Axel dan mencium bibirnya dengan kasar, membuat Axel terkejut untuk yang kesekian kalinya, namun ia lelah mendorong Sora atau mengatakan "Kita tak boleh melakukan hal ini" dan sebagainya, karena jelas, ia sangat menikmatinya.
Terdengar bunyi pintu dibuka. Axel segera mendorong Sora dengan kasar, membuat bibirnya maupun bibir Sora berdarah karena tadi mereka masih saling menggigit. Sora yang tahu jika ada yang datang segera menoleh kearah pintu. Roxas dan Riku.
"Masuk ke kamarmu, Sora," perintah Riku.
"Ta, tapi. . ."
"MASUK KEKAMARMU!" Riku memerintah dengan nada yang keras. Sora pun masuk kedalam kamarnya.
Axel berharap Riku dan Roxas tak melihat apa yang tadi sedang ia lakukan dengan Sora.
Namun sepertinya tidak begitu.
Roxas menatap Axel dengan tajam, dengan tatapan membunuh. Ia maju dengan pelan, melangkah mendekati Axel.
"Apa yang tadi kau lakukan dengannya!" Teriak Roxas berang. Ia menarik kerah baju Axel, membuat Axel kehilangan keseimbangannya. Roxas pun meninju Axel sekuat mungkin, membuat pojok bibir Axel berdarah. Roxas mengacungkan tangannya, hendak menghajar Axel lagi. Namun tangannya ditahan oleh Riku.
"Lepaskan aku Riku! Dia pantas diberi pelajaran!" Teriak Roxas. Riku menggeleng.
"aku tak mau menyelesaikan semua dengan kekerasan. Kau kira apa kata Ayah nanti saat pulang. Apa alasanmu memukulnya? Kau mau menjawab apa?" Ujar Riku seraya memperkuat genggamannya pada tangan Roxas, membuat Roxas terlihat sedikit kesakitan. Dengan cepat Roxas menarik tangannya. Terlihat bekas kemerahan di pergelangan tangannya, bukti jika Riku memang memegang tangannya dengan begitu kuat. Roxas memegangi pergelangan tangannya.
"Lalu bagaimana cara menyelesaikannya menurutmu?" ujar Roxas kesal. Riku tersenyum sinis dan maju mendekati Axel. Ia mengangkat dagu Axel, dengan jarinya yang menyentuh luka di pojok bibir Axel hasil ciuman panasnya tadi dengan Sora. Axel hanya diam.
"Kelihatannya Sora sangat menyukainya. . . kupikir apa bagusnya dia daripada aku, apa darahnya begitu manis?" Ujar Riku seraya menyeka darah di bibir Axel dengan jarinya. "Mungkin aku harus membuktikannya sendiri," ujar Riku seraya menjilat darah Axel yang berada di jarinya dengan pelan dan penuh perasaan.
"Maksudmu?" Tanya Roxas. Riku menoleh kearah Roxas.
"Kau mau ikut aku besok pagi? Kita 'hajar' pria ini," Ujar Riku seraya menunjuk Axel dan tersenyum sinis. Roxas tertawa kecil.
"Dasar. Cara penyelesaian yang benar-benar khasmu. Tentu saja aku ikut, mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan ini," Ujar Roxas seraya menyilangkan tangannya di belakang kepalanya. Iapun melangkah menuju kamarnya. Ia mengakses kartunya.
Sebelum masuk, ia menoleh kearah Axel dan tersenyum sinis. "Tidur nyenyak, Axel. Meskipun aku dan Riku berbeda, namun kami sama-sama berbahaya," ujar Roxas dan segera menutup pintu kamarnya.
"Berbeda namun sama-sama berbahaya?" gumam Axel bingung. Riku tersenyum sinis dan melangkah menuju kamarnya.
"Roxas. . . peringatannya benar-benar hebat. Besok pasti seru," ujar Riku sambil terus tertawa sinis.
Membayangkan esok pagi yang berat_meski Axel tak tahu apa yang akan dilakukan Roxas dan Riku padanya, Axel segera melangkah menuju kamarnya dan tidur seraya mempersiapkan mentalnya.
-XXX-
Axel sedang mengeringkan rambutnya di kamar mandi, saat ia mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Iapun meletakkan hairdryer nya dan melangkah keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk. Pintu kamarnya memang terbuka. Ia menoleh keluar. Tak ada siapapun.
Tiba-tiba ada yang menariknya masuk ke dalam secara kasar, membuat Axel jatuh terduduk. Dengan cepat, seseorang tersebut naik keatas tubuhnya dan melumat bibirnya dengan kasar. Axel terkejut mendapati Roxas yang kini tengah mengulum bibirnya. Tangannya pun mulai bermain, mengelus tubuh Axel yang masih basah. Riku mengunci pintu kamar Axel.
"Ruangan ini kedap suara. Sora takkan tahu, jadi kau tenang saja," ujar Riku sinis. Axel berusaha mendorong Roxas, dan berhasil. Roxas jatuh terduduk.
"Bibirnya memang manis," ujar Roxas dengan tatapan kelam penuh gairah.
"Apa yang ingin kalian lakukan?" Tanya Axel.
"membuktikan seberapa hebat dirimu," ujar Riku datar seraya melepas ikatan rambutnya.
"Riku. . . Biarkan aku dulu, aku ingin dia. . ." ujar Roxas seraya maju dan memeluk Axel kuat.
"A, apa yang-"
"Jadikan aku milikmu, Ax," ujar Roxas seraya mencium bibir Axel dengan lembut.
Axel mulai terbawa. Lidah mereka mulai bermain, menyapu rongga mulut masing-masing. Mulai mengulum, menghisap, mengigit. . .
"Ngh. . ." desah Roxas dan menekan bibir Axel lebih dalam dengan bibirnya. Roxas mengganaskan ciumannya.
Tangan Axel mulai bermain. Tangannya masuk, mengelus punggung putih Roxas yang lembut.
"A, ah. . . Kau begitu. . . Menggairahkan. . ." Ujar Roxas tertahan. Ia melepas bajunya dan membuangnya entah kemana.
"Aku ingin lebih, Ax. . ." Ujarnya. Axel menurutinya. Iapun mendorong Roxas dengan kasar. Kini Axel yang berada diatas Roxas. Iapun mulai menghisap dan menggigit leher Roxas, mencoba membuat tanda kemerahan disitu.
"Ssh. . ." Desah Roxas pelan. Axel melepaskan gigitannya. Ia turun dan menggigit dada Roxas, membuat Roxas mengerang pelan. Setelah dirasa cukup, tangannya mulai bermain dengan sesuatu yang paling sensitif yang ada di tubuh Roxas. Roxas kembali mendesah.
Axel membuka celana Roxas dan melemparnya entah kemana. Ia mengelus dan meremas kejantanan Roxas.
"C'mon, hentikan menggodaku!" ujar Roxas dan membuka lebar kakinya.
Axel mulai mencoba memasukkan jarinya. Satu. Dua. Tiga. Memajukan dan memundurkannya pelan, makin lama makin ia tambah temponya. Menggoyangkannya, memutarnya. . . membuat Roxas resmi menggelinjang.
"Ax. . . Ah. . ." desah Roxas. Matanya menatap penuh nafsu pada Riku. Riku tersenyum dan berjongkok, sengaja mendekatkan wajahnya dengan wajah Roxas. Roxas menarik kepala Riku dan menciumnya dengan kasar. Axel mulai mempercepat gerakan jarinya, membuat tubuh Roxas mulai ikut bergerak seusai irama yang ia berikan.
"Ngh. . . Hh. . ." erang Roxas sambil makin mempercepat gerak tubuhnya. Riku mulai meremas kejantanan Roxas dengan kuat, mengocoknya dengan kasar sembari menggigit leher Roxas. Roxas menjerit pelan. Tubuhnya melengkung sempurna dengan sekali hentak. Cairan putih keluar dari tubuhnya, membasahi tangan Riku, tangan Axel dan juga sedikit di wajah Axel. Roxas berusaha mengambil nafas. Axel mencabut ketiga jarinya, sambil berharap jika semua ini segera berakhir setelah ini karena ia juga khawatir jika seseorang memergoki mereka. Axel berdiri dan melangkah menuju kamar mandi, namun tubuhnya ditahan oleh Roxas yang nafasnya masih tersengal-sengal.
"Kau. . . Aku ingin dirimu," ujar Roxas pelan. Axel mengerutkan keningnya, ia tak menyangka jika Roxas dapat berdiri dengan cepat dan memeluknya dengan begitu kuat.
"Sepertinya Roxas juga menyukaimu. Okay, kau akan kuanggap pantas untuk Sora setelah Roxas memberikan pendapatnya untukmu," ujar Riku.
"Kau akan kuanggap lulus jika mampu memuaskan aku. . ." Ujar Roxas sambil melepas handuk Axel dan mulai memainkan tangannya.
"Kau setuju Ax? Namun jangan lupa, kami masih boleh 'bermain' dengan Sora. dan ini rahasia. Oh ya, sebelumnya kuberitahu, kami belum pernah menyentuh Sora. . . dia terlalu berharga untuk kami. Kami hanya baru sampai, yeah, merabanya sedikit. . ." Ujar Riku. Axel terdiam, menikmati permainan tangan Roxas dan juga berfikir agar ia mendapat restu ikut dalam permainan 3 saudara itu. Meski Sora tak semenuhnya miliknya, namun tak apalah asalkan tak ada lagi pukulan maut dan panah yang hampir membunuhnya.
Riku tersenyum sinis.
"Well. . . aku akan menonton kalian saja, untuk sementara. Puaskan dia Ax," ujar Riku seraya duduk diatas tempat tidur.
"Namun kuperigatkan kau, Roxas itu adalah seorang yang, yeah, begitulah. Tak ada yang sanggup memuaskannya, bahkan aku hanya sekali dapat membuatnya berhenti berkata "lagi" padaku. Dia, bisa main lebih dari 10 kali. . ."
"10?" Ujar Axel tertahan, tak percaya. Riku tertawa kecil.
"Maka itu dia bilang padamu untuk mempersiapkan diri. . ." ujar Riku.
"Geez, ini akan jadi hari yang panjang sekaligus melelahkan," pikir Axel seraya mendekap kuat tubuh Roxas.
Dan permainan pun dimulai.
TBC
XD
Yaoi pertamaku selesai! Yaoi! YAOI! Bahkan aku sendiri tak percaya!
Bagaimana komentarnya? Bener-bener butuh nih. . . Flame juga gapapa, yang pedes. . . kan baru belajar jadinya butuh banyak cambukan
Chapy selanjutnya akan dilanjutkan oleh Ven-san, yang jelas yaoi miliknya kuharap dapat menutupi yaoi ku yang abal ^^v
Akhir kata. . .
Ripiu dan Flame nya, ditungguuuuuu! XDDD
