Ventus Hikari: hya guys! Akhirnya cerita ini update! Maaf jika chapy kali ini terasa less Yaoi…
soalnya bagian Sora minim banget di cerita sebelumnya! XD jadi aku balas dendam di chapy ini! XP

DISCLAIMER: Square Enix, Disney dan Tetsuya Nomura

Pair: Sora x Leon a little (just as family), Riku x Sora x Roxas. Ah! Also don't forget Sora x Axel! XP

Rate: M! untuk keamanan bersama! –plak!-

WARNING: YAOI! DON'T LIKE DON'T READ! JUST CLOSE THIS WINDOW IF YOU DON'T LIKE!

I Love My Nanny

Chapter 5

Sora POV~

Esok pagi setelah kemarin Riku menyuruhku masuk kekamar setelah aku mencium Axel dengan kasar, aku sama sekali tidak melihat mereka bertiga, maksudku Roxas, Riku dan Axel ketika sarapan pagi…

Sepi sekali tanpa seorangpun yang menemaniku makan pagi. Memang aku tidak sendirian di ruang makan karena paman Leon sedang meminum kopinya sambil membaca koran pagi, tetapi tetap saja aku sedih karena harus makan sendiri. Paman Leon tidak pernah sarapan pagi, biasanya dia hanya meminum kopi.

Ketika siang hari, mereka bertiga masih tetap tidak terlihat dan membuatku cemas. Jangan-jangan Riku dan Roxas bekerja sama untuk membunuh Axel? Aduh, jangan sampai itu terjadi…

Tapi apa yang bisa kulakukan? Saat ini saja aku tidak tau dimana mereka berada, kamar Riku, Roxas, maupun Axel terkunci dan tidak dapat kuakses karena Riku mencabut aksesku untuk memasuki kamar mereka…

Jangan-jangan saat ini Axel sedang disiksa? Tapi aku tidak mendengar jeritan…

"Sora, mengapa kau memain-mainkan makananmu?" Tanya paman Leon sambil menatapku, kurasa dia terus memperhatikanku.

"Um, aku tidak nafsu makan paman…" Jawabku.

"Apakah kau sakit? Tadi pagi kau melahap makananmu sampai habis. Apakah menu makanan siang ini tidak enak?" tanyanya.

Paman Leon saat ini sedang makan siang denganku karena Riku, Roxas dan Axel tidak hadir, jadi aku memintanya menemaniku makan siang. Tapi jika memikirkan apa yang sedang terjadi pada Axel, nafsu makanku berkurang dan aku cemas sekali…

"Tidak apa-apa…" kataku sambil tersenyum dan senyumku ini terasa di paksa sekali. "…makan siang kali ini enak, hanya saja aku kurang nafsu makan karena tadi habis makan cemilan…" kataku berbohong, aku tidak makan cemilan sedikitpun karena sibuk mencari Axel. Aku tidak ingin paman Leon mencemaskanku, dia selalu mencemaskanku, termasuk nilai mata pelajaranku yang buruk.

"Seharusnya kamu tidak makan cemilan sebelum makan siang, Sora…" katanya menasehatiku sambil menghela napas, paman memang selalu mencemaskanku hanya karena masalah kecil seperti ini.

"Maaf…" kataku meminta maaf. "Aku ingin ke kamarku dulu, paman. Permisi…" kataku meminta izin meninggalkan ruang makan.

"Sora…" Kata paman Leon memanggilku.

"Yeah?" kataku dengan langkah yang langsung terhenti.

"Jika kau mempunyai masalah, kau tidak perlu berbohong padaku seperti itu." Katanya sambil menatapku.

Akupun langsung salah tingkah karena kaget mengetahui bahwa paman Leon tahu bahwa aku telah berbohong. Aku paling bingung jika sudah di hadapi situasi seperti ini, dimana kebohonganku ketahuan dan aku tidak dapat mengelaknya bahwa aku telah berbohong…

"A…aku…" kataku kebingungan dan tidak tahu harus berkata apa. "…aku… tidak ingin membuatmu cemas…" kataku tanpa sadar menjelaskan mengapa aku berbohong.

Lalu kulihat paman Leon tersenyum lembut padaku. "Kau ini selalu membuatku cemas, Sora…" Katanya memberitaukanku.

"Ah, maafkan aku paman, aku tidak menyadarinya…" kataku sambil menunduk.

Aku tidak menyangka bahwa aku selalu membuat paman Leon cemas dengan segala hal yang kulakukan. Well, memang orang yang paling mengerti tentangku adalah paman Leon, setelah paman Leon baru Roxas dan Riku. Paman Leon memang orang yang paling ayah percaya dan aku juga sangat mempercayai paman Leon. Sayangnya Roxas dan Riku sedikit kurang mempercayainya…

"Tidak apa-apa, katakanlah masalahmu jika kau ingin menceritakannya padaku…" katanya sambil menatapku.

Sebenarnya aku ingin menceritakan masalahku, karena aku mencemaskan Axel karena aku menyukainya. Tapi bagaimana jika paman Leon marah karena aku suka sama Axel, seperti ketika Riku dan Roxas marah karena mengetahui aku suka Axel? Ah, saat ini nasib Axel bagaimana ya? Man, mengapa rasanya hidupku ini susah sekali…

Aku menghela napas dalam dan menatap paman Leon. "Maaf paman Leon, tapi aku tidak bisa menceritakannya padamu…"

"Mengapa?" tanyanya.

"Uh, pokoknya aku tidak bisa saja. Permisi!" kataku sambil berlari menuju kamarku dengan cepat sambil menghiraukan panggilan paman Leon.

Ketika memasuki ruang main sebelum memasuki kamarku, aku melihat sosok Riku sedang menonton televise sendirian. Dalam sekejap, satu kata yang muncul di kepalaku, yaitu Axel.

"Riku!" teriakku sambil mendekatinya. "Dimana Axel! Dan apa yang telah kalian berdua lakukan padanya!" tanyaku berturut-turut dengan cemas.

"Nah, tenang saja, dia belum mati…" Jawab Riku sambil tersenyum sinis.

"A…apa maksudmu?" kataku shock mendengar jawaban Riku, jangan-jangan Axel di siksa?

Riku lalu tersenyum sinis. "Kemarilah…" Katanya menyuruhku mendekatinya.

Aku mendekatinya dan duduk di sebelahnya. "Riku, apa yang telah kalian lakukan pada Axel?" tanyaku dengan dahi mengkerut dan perasaan cemas.

"We really do nothing, Sora…" Katanya sambil memegang pipiku. "..just testing him. Kau akan menemuinya sebentar lagi setelah dia lulus dari testnya Roxas."

Riku lalu menarik wajahku mendekat dan dia berusaha menciumku dengan pelan. Awalnya aku berusaha menolak ciumannya karena masih ingin bertanya,tetapi Riku terus menyerangku hingga dia berhasil menangkap bibirku…

"Ri…hum…" Kataku berusaha menghentikan ciumannya dan gagal.

Jika Riku sedang ingin bermain denganku, tidak ada yang dapat kulakukan untuk menghentikannya. Jika aku berusaha lari darinya, malahan aku semakin tidak selamat karena dia akan semakin berbahaya…

Tangan Riku mulai menyelinap ke dalam bajuku dan menyentuh dadaku. Dia lalu memain-mainkan puting kananku sambil menyelusuri rongga mulutku. Riku lalu menggigit bibir bawahku dan membuatku menjerit kesakitan ketika di gigit olehnya.

Riku lalu mendorongku hingga aku terbaring di sofa. Dia membuka baju dan menjilati putingku. Dia lalu menghisapnya hingga menimbulkan bekas kemerahan…

"Ah! Ri… Riku…" Kataku dengan tubuh gemetaran karena merinding.

Tidak puas memainkan tubuhku, tangan Riku lalu menyelinap kedalam celanaku dan langsung meremas penisku.

"Ah!" teriakku kaget ketika penisku di remas olehnya. "Do… don't touch it, Riku!" teriakku sambil memegangi tangannya yang sedang meremas penisku.

"hum… sejak kapan menjadi sedikit lebih keras, Sora?" tanyanya sambil tersenyum sinis.

Mukaku langsung merah padam ketika mendengar pertanyaannya. "I… I don't know…" kataku dengan canggung dan menghindari tatapan matanya. "…lepaskan Riku…" kataku sambil berusaha melepaskan tangannya.

Riku melepaskan genggamannya dan menatapku. "Not in mood, huh?" tanyanya.

"tentu saja!" kataku kesal.

"Geez…" Katanya menghela napas, lalu dia mendekapku dan menciumku lagi.

Ciumannya kali ini terasa lebih memaksa sekali. Sesekali dia menggigit lidahku dan membuatku menjerit kesakitan, untungnya dia tidak menggigit terlalu kuat sehingga tidak melukai lidahku…

Tangannya mulai merayap-rayap ke seluruh tubuhku termasuk kakiku. Aku mendesah setiap kali dia menyentuh bagian sensitifku seperti sekitar selangkangan kakiku, leher, dan bagian perutku. Riku memang selalu tahu tempat-tempat sensitifku sehingga dia sering menyentuhnya…

"Ri… Riku…" kataku sambil mendesah.

"Hm?" tanyanya sambil tersenyum sinis.

"A…Aku…. Ah! Jangan sentuh bagian itu!" desahku yang setengah teriak.

Tangan Riku menuju sekitar penisku dan mulai menyentuhnya kembali. Tetapi kali tangannya menuju lebih ke bawah dan menyentuh bagian itu

"Ah! Riku!" teriakku kaget ketika dia mencoba memasukkan jarinya sedikit dan tidak bisa lebih dalam karena tangannya terhalang oleh celanaku. "Don't!" kataku sambil menahan tangannya.

Riku tersenyum sinis dan langsung menciumku yang sibuk menyingkirkan tangannya. Selagi dia sibuk sama bibirku, aku segera menyingkirkan tangannya yang masih berusaha menyentuh bagian itu.

"Geez, kukira kemana kau menghilang Riku, ternyara kau sedang bermain dengan Sora selagi aku bermain…" Keluh seseorang dan aku sangat mengenali suara itu.

Aku memaksa Riku menghentikan ciumannya dan melihat kearah orang yang berbicara tadi. "Roxas, dimana Axel?" tanyaku cemas.

"Well, dia sedang istirahat karena lelah dengan testku~" Jawabnya sambil tersenyum, entah mengapa senyumnya terlihat aneh, dia terlihat bahagia sekali seperti habis memenangkan sesuatu.

"Test ap-hm…" sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Riku langsung menciumku lagi. "Ri-hm!" kataku kesal karena dia tidak mau melepaskan bibirku.

"Well, bukan test sembarangan kok, Sora. Jangan khawatir, dia lulus test itu…" Katanya memberitaukanku sambil tersenyum.

Roxas ini sungguh aneh, dia seperti bisa membaca pikiranku meski aku belum selesai mengatakannya seperti tadi, mungkinkah karena dia kembaranku?

Riku lalu menjilati leherku dan menghisapnya hingga menimbulkan bekas kemerahan yang tidak terlalu merah…

Aku mendesah sejenak sebelum menanyakan kembali kata-kata Roxas. "Memangnya apa yang ada di-hm!" sebelum aku menyelesaikan kata-kataku lagi, kali ini Roxas menciumku sambil memegangi pipiku. Posisi ciuman kali ini terasa tidak nyaman karena dia menciumku dari atas sedangkan Riku sibuk memainkan tubuhku.

Mereka berdua membuatku mendesah beberapa kali hingga aku merasa lemas, aku mendesah karena ciuman dan sentuhan lembut mereka. Tubuh ini tanpa terasa mulai menikmati sentuhan dari kedua saudaraku ini, sehingga ketika aku mulai rileks dengan sentuhan mereka, aku merasa mengantuk karena lelah banyak mendesah dan tanpa terasa aku tertidur…

~ Normal POV ~

Ketika Sora tertidur, Riku maupun Roxas langsung berhenti bermain dengan Sora…

"Heh, dia terlihat manis ketika tertidur…" Kata Riku sambil tersenyum sinis sambil menatapnya. "…Aku jadi ingin menyerangnya lagi."

"Riku, kau masih mengingat perjanjian kita bukan?" Tanya Roxas yang melemparkan death glare pada Riku.

"Yeah…yeah…" kata Riku sambil menghela napas. "…tidak akan menyerangnya selagi dia tidur." Katanya mengucap perjanjian mereka sambil menghela napas. "bagaimana dengan dia? Apakah dia berhasil memuaskanmu?"

"Well yeah…" Jawab Roxas sambil tersenyum dan mendesah. "…dia berhasil memuaskanku meski akhirnya dia tewas(Pingsan) di atas kasur karena kelelahan kuminta terus-menerus." Katanya sambil tertawa pelan. "Hey Riku…" Roxas mendesah sambil mendekatkan wajahnya pada Riku. "…mau tidak melakukan ronde kedua denganku?" katanya sambil mendesah di depan muka Riku dan langsung menangkap bibir Riku.

"hump, kau masih sanggup ronde kedua?" Tanya Riku di tengah ciumannya.

"yeah…" desah Roxas. "shall we?" tanyanya.

Riku hanya tersenyum sinis dan sebelum mereka berdua menuju kamar Roxas, Roxas menyelimuti Sora yang tertidur di sofa dan menuju kamarnya…

~ Axel POV ~

Badanku terasa sangat lelah sekali setelah Roxas meminta terus-menerus. Tidak terhitung berapa kali dia meminta, lebih dari duapuluh kali kurasa ada…

'Man, I smell sex…' pikirku sambil menghela napas. 'sudah berapa lama aku tertidur ya?' pikirku heran sambil mencari jam dinding, tetapi tidak ketemu.

Lalu aku mencari hpku yang berada di sekitar kasurku, entah mengapa aku merasa tidak nyaman bergerak di sekitar kamarku tanpa busana yang menutupiku sehelaipun…

'pukul 18:15…' pikirku sambil melihat jam pada hpku. 'berarti ada delapan jam lebih aku melakukan sex dengan Roxas…' pikirku.

Aku lalu berjalan kearah kamar mandi dan membersihkan diriku hingga bau sexnya tidak tercium lagi. Kugunakan sabun sebanyak mungkin hingga aku tercium wangi sabun. Rambutku kukeramas dengan sampo yang banyak agar wangi…

Selagi menyampo rambutku, aku masih dapat mengingat dengan jelas kulit Roxas yang lembut dan halus itu. Tubuhnya juga wangi dan sangat smexy, sungguh tubuh yang sangat menggoda siapapun yang menyentuh maupun yang melihatnya…

Damn, apa yang telah kupikirkan? Perasaanku seharusnya tertuju pada Sora saja, tapi entah kenapa Roxas telah membuat perasaanku goyah…

Lalu aku mendengar bunyi aneh selagi aku mandi. Bunyi itu terdengar sangat dekat sekali dan…

Man, ternyata itu adalah bunyi yang berasal dari perutku. Jika kupikir-pikir, sejak tadi pagi hingga saat ini aku tidak makan apa-apa. Wajar saja jika aku merasa lemas dan lelah sekali…

Selesai membersihkan rambut dan badanku dari busa-busa, aku mengambil handuk dan mengeringkan badanku. Kututupi bagian bawahku dan berjalan keluar dari kamar mandi. Kuambil pakaianku di lemari pakaian dan mengenakannya.

Sekali lagi bunyi di perut terdengar lagi, perutku sepertinya telah protes berat karena telah kosong berjam-jam dan tidak di isi sedikitpun dengan makanan.

'Arg! Lemas sekali rasanya…' pikirku sambil berjalan keluar dari kamarku dengan sempoyongan karena lemas dan tidak bertenaga.

Ketika keluar, aku melihat Sora tertidur di atas sofa. Dia terlihat tertidur dengan pulas dan dengan wajah tenang…

Lalu tatapanku terhenti pada salah satu bagian tubuh Sora yang langsung menarik perhatianku dengan cepat, ada sebuah bekas kemerahan di leher Sora…

'inikan…' pikirku sambil menyentuh bagian leher Sora yang memerah itu. "Jangan bilang…" kataku setengah tidak percaya.

"hnn…" Sora mendesah di tengah tidurnya. "…hnn… don't…" katanya dengan dahi mengkerut, sepertinya dia tidak merasa nyaman.

Tubuh Sora bergerak-bergerak sedikit, sehingga selimut yang menutupi tubuhnya agar dia tidak masuk angin terlepas. Kulihat tubuhnya bergeser sedikit demi sedikit hingga dia nyaris terjatuh dari sofa…

"Woah… easy…" kataku sambil menangkap tubuh Sora yang hampir terjatuh. "Geez, kalau dia tidur tidak dapat diam ya?" kataku heran sambil bertanya pada diriku sendiri.

"Hnn…" Sora bergerak sekali lagi meski dalam pelukanku, lalu dia menggenggam bajuku dengan erat dan tidak mau melepaskannya.

"Oh my…" kataku cemas. "…bagaimana aku bisa pergi makan jika dia tidak melepaskan bajuku?" tanyaku sambil menatap Sora. 'hum, coba kulepaskan tangannya pelan-pelan…' pikirku sambil memegang tangan Sora dengan lembut.

Butuh limabelas menit untuk melepaskan genggaman Sora tanpa membangunkannya. Setelah berhasil melepaskan genggamannya, kubaringkan kembali dia ke sofa dan kuselimuti dia…

Sebelum menyelimuti Sora, kulihat bajunya sedikit terangkat hingga aku dapat melihat perutnya. Aku langsung tercengang, terlihat beberapa bekas kemerahan di sekitar perutnya dan sepertinya masih baru sama seperti bekas di lehernya…

'Apakah yang melakukannya Riku atau Roxas?' pikirku heran.

Aku terdiam sejenak mikirkan bekas kemerahan itu di tubuh Sora, selagi menatapnya, entah mengapa expresi Sora terlihat sangatlah manis ketika dia tidur. Entah mengapa bibir merahnya yang lembut itu terlihat sangat menggodaku untuk menciumnya…

Aku mendekatkan wajahku padanya dan mendekapkan bibirku padanya…

Bibir Sora terasa sama lembutnya dengan bibir Roxas, lembutnya kulit wajahnya juga terasa sama persis dengan Roxas…

Mungkin karena mereka kembar makanya terasa sama? Tapi herannya personality mereka berdua sangatlah bertolak belakang sekali…

"Hn…?" Sora terlihat membuka matanya sedikit dan aku segera berhenti menciumnya.

"Maaf aku membangunkanmu…" kataku sambil tersenyum.

"Axel!" teriak Sora yang mendadak bangun dan langsung memelukku. "syukurlah kau baik-baik saja! Aku sangat cemas sekali! Kukira kau di siksa oleh Roxas dan Riku!" katanya sambil memelukku seerat-erat mungkin.

'Hampir tepat…' pikirku sambil tersenyum. "aku baik-baik saja Sora…" kataku sambil memegang kepalanya dengan lembut. "…hanya saja…"

"kenapa! Kau terluka? Ada yang sakit?" tanyanya cemas.

"Bukan… aku lapar…" kataku langsung tumbang menimpa Sora, tubuhku terasa lemas sekali.

"Ah! Axel! Axel! Bertahanlah!" kata Sora yang terlihat cemas. "Makanan! Makanan!" teriaknya panic.

Sora lalu mendorong tubuhku agar dia bisa berlari keluar dan mengambilkan makanan untukku dan aku hanya dapat menunggunya kembali dengan posisi terduduk di lantai dan kepala di sofa. Beberapa menit setelah dia keluar, dia kembali dengan membawa sepiring makanan beserta segelas jus untukku…

Karena merasa lemas, Sora membantuku makan dengan cara menyuapiku. Entah mengapa aku merasa malu di suapi olehnya, karena merasa seperti anak kecil saja…

"Hey Ax, sebenarnya test apa yang Roxas berikan padamu?" Tanya Sora sambil menyuapiku.

"Um, itu…" aku lalu terdiam sejenak untuk memikirkan jawabannya. Roxas dan Riku mengatakan, bahwa aku tidak boleh mengatakan tentang itu pada Sora dan harus merahasiakannya. Apa yang harus kukatakan padanya?

"Apa?" Tanya Sora penasaran.

"Well…" kataku mencari jawaban yang tepat.

To Be Continued…

Ventus Hikari: hahaha… maaf jika kurang memuaskan! –nunduk dalam2-
chapy selanjutanya yaya yang akan membuatnya~
so, review?