A/N : Wiw, sesuai janji, saya update tanggal 25! Wakakakaka ~ Siapa tuh yang menang kuis?. Jawabannya ada di bawah kok :9. Ok, langsung aja ke TKP ~ #plak
Disclaimer : Hetalia Axis powers / World series © Himaruya Hidekaz. Romeo and Juliet © William Shakespeare
Warning : AU, parody Romeo and Juliet, OOC, misstypo(s), shonen-ai, dsb. DON'T LIKE DON'T READ!
"Pilihan ya.."
Kiku merebahkan dirinya keatas kasur—yang menurut Kiku—empuknya, sembari menerawang langit-langit kamarnya yang terlihat remang-remang. Memang, mungkin karena pencahayaan yang kurang jadinya terlihat remang-remang. Kiku masih memikirkan perkataan Francis—yang notabene menurutnya sangat tidak 'Francis Bonnefoy'—jika kau tahu apa maksudku.
"Pilihan selalu ada dua Kiku, dan kau harus memilih salah satunya"
Perkataan Francis masih terngiang-ngiang dikepalanya. Kenapa didunia hanya ada dua pilihan?. Kenapa pilihannya harus 'Membalas dendam keluarga' atau 'Hidup bahagia bersama Arthur Kirkland'? Kenapa tidak ada pilihan lain? Kenapa tidak—
Tidak apa?
'Memangnya ada pilihan lain apa Kiku?. Pilihannya kan memang cuma dua itu.." Kiku mendesah perlahan. Kiku lalu berfikir keras, mencoba mencari 'alternatif' lain—yang mungkin tidak akan berguna juga.
Namun hasilnya, NIHIL. Ya, NIHIL, anak yang tidak pernah masuk sekolah di sekolah author—ok, abaikan yang tadi.
Kiku yang kelihatannya sudah sangat putus asa itu pun, akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan keluar—tentunya dengan memakai 'baju perempuannya'.
Oh, betapa ia membenci dirinya yang harus dilahirkan sebagai seorang laki-laki.
~ Romeo and Juliet ~
"Ok, Alfred, Gilbert. Aku benar-benar capek!"
Jika kalian bertanya-tanya apa yang dilakukan Arthur, Gilbert, dan Alfred, well, sebenarnya mereka sedang 'bertrbangan' bersama 'kuda-kuda bersayap' mereka, atau yang dinegeri Jepang disebut dengan nama 'naga'. Arthur dengan menunggangi Unicorn, Gilbert menunggangi Gilbird—dan entah kenapa semua peliharaannya dinamakan demikian, dan Alfred menunggangi Tony. Semua 'naga' mereka adalah jenis-jenis naga terlangka di Jepang. Ok, kembali kecerita.
Jadi intinya, Arthur kalah telak dalam pertandingan mereka
"Dasar old man, Kita baru keliling Jepang lima kali? Dan kau sudah capek?. Ckckckck.." Alfred berdecak saking kagumnya(?)
"Emang dasar elo makhluk kagak awesome" hina Gilbert, yang langsung dihadiahi jejalan scone dari Arthur. Jangan salah ya, begitu-begitu scone buatan Arthur pernah dijadikan senjata rahasia loh saat perang melawan kerajaan sebelah!. Salut saya!.
"Bawel kalian pada. Udah, aku mau istirahat! Kalian kalau mau duluan, duluan saja!" perintah Arthur dengan jutek. Merasa kasihan, akhirnya Gilbert dan Alfred menurut saja.
Arthur lalu mengarahkan Unicorn agar mendarat di daratan Jepang. Setelah itu, ia turun dari Unicorn dan memegang tali naga itu, dan berjalan menuju mansionnya. Tampak disepanjang perjalanan, warga-warga negeri Jepang berjalan menjauhinya, dan samar-sama, bahkan ada yang meludahinya.
Meludahinya.
Namun, ia tahu, bahwa ia berhak mendapatkan itu
Gyaa gyaa gyaa!
Itu dia! DIa datang!
Bunuh dia!
"!"
"Apaan sih, suara ribut begitu? Kagak awesome deh" celetuk Gilbert "Bagaimana, mau mengeceknya?"
Arthur mengangguk perlahan. Gilbert dan Alfred pun berlari menuju sumber suara, diikuti oleh Arthur. Tampak didepan banyak warga yang berkerumunan dan Caribinieri yang,, tidak usah dijelaskan.
"Permisi.."
"Air panas dan benda tajam(?)"
"ORANG AWESOME MAU LEWAT! MINGGIR LU YANG NGGAK AWESOME!"
Arthur, dan kedua temannya itu akhirnya berhasil melewati kerubunan warga yang sudah seperti setan kelaparan tersebut. Dilihatnya didepan, ada beberapa Caribinieri yang terluka, dan, seorang gadis berambut pendek sebahu, berparas cantik, berjubah merah, dan menggunakan topeng
Samar-samar, Arthur dapat merasakan kalau itu dia.
"Hong!" panggil Alfred terkejut "Apa yang terjadi? Badanmu penuh luka!"
Hong menatap Alfred dengan tatapan lemah "Maafkan aku, yang mulia. Aku lengah, dan dihabisi oleh orang itu" Hong lalu menunjuk gadis misterius tersebut. "Dia.. Whirlwind…"
"Whirlwind? Red Whirlwind? Orang yang—"
"Benar yang mulia.., maafkan saya yang tidak berguna ini.. ohok"
"Oh tidak.." seru Alfred "Hong… pingsan" dan perkataannya disambut oleh gubrakan dari Gilbert. Tidak perlu sok dramatis kan, Alfred F. Jones? Dia belum mati..
Arthur lalu mengeluarkan pedang yang berlambangkan 'Kirkland' itu dari sarungnya, dan menunjukkannya kearah gadis misterius dihadapannya.
"Dasar berengsek!" hardik Arthur "APA YANG KAU LAKUKAN HAH? Melukai orang-orangku seperti itu! Dasar si—"
"Tutup mulutmu, sampah rendahan"
!
Tap. Tiba-tiba, gadis itu sudah berada di hadapannya.
'Cepat sekali..' batin Arthur
"Melukai ya?" tanya gadis itu pelan "Bukankah itu yang selalu dilakukan kamu dan seluruh keluarga bangsawan itu?. Merendahkan kami, yang hanya rakyat jelata..
Yang kulakukan disini hanyalah sebuah 'kebenaran'"
"Bloody hell!" Arthur menyerang gadis itu dengan membabi buta. Dan entah kenapa, orang itu bisa menghindari setiap serangan Arthur. Arthur menjadi frustas—sekaligus malu. Masa, putra kerajaan dikalahkan oleh.. orang seperti itu?
"HEI! JANGAN KABUR KAU!" Arthur lalu berlari mengejar orang itu, yang lari entah kemana. "URUSAN KITA BELUM SELESAI! KEMBALI!"
Gadis itu menoleh sejenak kearah Arthur, dan melemparkan senyumannya. Sejenak Arthur merasa hatinya deg-degan, namun ia segera menepis rasa itu. Ja—jangan-jangan dia..
"A.. apa mungkin? Kau.."
"Sayonara ne.. Karakuurando-san.."
Dan orang itu lalu melarikan diri
~ Romeo and Juliet ~
Feliciano Vargas merapihkan dasinya dan taraaaa! Selesai sudah. Sekarang ia sudah siap pergi. Feliciano lalu keluar dari kamarnya, dan mengetuk pintu kamar Kiku.
"Elizaveta, Kiku sudah belum ~?" teriak Feliciano dari luar
"SABAR!" balas Elizaveta "Tinggal dikasih bunga, dan diberi sedikit parfum, dan gel, dan SELESAI!" Elizaveta terlihat senang atas kerja kerasnya "Kiku 3, kau tampak seperti… muka..u—"
"U?" tanya Kiku penasaran
"Maksudku, muka tampan hahaha" Elizaveta tertawa garing, padahal tadi ia ingin bilang muka uke :p
"Kalian lama sekali" ambek Bella. "Keretanya sudah didepan tuh"
Elizaveta dan Kiku segera bergegas kebawah. Terlihat Antonio sedang duduk di kusir kuda—didampingi oleh Lovino. Feliciano membuka pintu kereta kuda tersebut dan mempersilahkan para tamunya masuk. Bella dan Elizaveta lalu masuk dengan anggunnya, diikuti oleh Kiku.
Ngomong-ngomong, mereka ini mau ke pesta dansa yang diadakan keluarga Kirkland loh. Jadi semuanya berawal dari kejadian ini
-Flashback-
Kiku mengendap-endap menuju kamarnya. Ah, jika kalian menbak bahwa ia habis dari luar, maka jawaban anda benar!.
"Kudengar Red Whirlwind diluar membuat kekecauan lagi. Eh Kiku, apa yang kau lakukan diluar?" Tanya seseorang.
Glek
"A—Antonio-san.." Kiku sudah berkeringat dingin "A—Aku.. Tidak melakukan apa-apa kok! Bahkan aku tidak keluar rumah"
"Masa ~? Kalau gitu, kenap abawa-bawa baju yang dipakai untuk menyamar?"
Kiku sudah bergetar disko. Ternyata, orang yang selama ini ia kenal sebagai penggila tomat yang baik hati serta rajin menabung itu, punya sisi yandere juga.
"Yasudah, itu tidak penting. Tadi, sebelum Ludwig pergi kepasar, ia menyuruhmu membaca ini" Antonio lalu menyerahkan selembar pamflet
"Pesta.. dan… sa?"
"YA ~"
"Lalu?"
"Kau nanti harus menyelidiki keluarga Kirkland. Itu untuk membantu invasi kita. Nanti kamu dibantu oleh Feli dan Eli! Bella juga!" terang Antonio
"Ta—tapi.."
"Tidak ada tapi-tapian! Segera ganti baju! ELI~"
"SIAP BOS ANTON!"
"GYAAAAAAAAA!"
"Jadi ehem ehem" Ludwig berdehemlayaknya Major Monogram di kartun Phin*as dan F*rb "Kiku, kau bertugas mengorek informasi mereka sebanyak yang kau bisa. Itu akan membantumu saat kita menyerang Kirkland nanti" lanjut Ludwig. Kiku mengangguk mantap—dengan sedikit gemetaran
"Dan Kiku, berhentilah bergetar seperti itu. Kau terlihat seperti orang yang sedang threesome" dan Kiku langsung shock. Ludwig ternyata tahu istilah begituan?
"Jadi, kami berangkat dulu ve ~ Dadah Ludwig ve ~" Antonio menjalankan kuda, dan Feliciano melambaikan tangannya dengan penuh keceriaan
Feliciano lalu duduk kembali dikursinya, dan mengobrol dengan Elizaveta. Sesekali mereka tertawa. Sementara Bella sibuk berdandan, katanya barangkali ia bisa menggaet salah satu bangsawan disana. Kiku tertawa kecil. Senang rasanya bisa melihat mereka sebahagia itu.
Namun, dilubuk hatinya, ia jauh lebih senang lagi. Karena ia nanti akan bertemu dengan cintanya, sekaligus oramg yang dibencinya. Arthur Kirkland.
~ Romeo and Juliet ~
Arthur Kirkland sekarang sedang berdiri di ballroom istana, tempat diselenggarakannya pesta dansa. Mukanya tampak bosan, ya. B.O.S.A.N. Itu dikarenakan ia harus menemani tunangannya itu. Eh, kalo bukan karena kakaknya, ia tidak bakalan mau.
Ingin sekali Arthur kabur dengan Unicorn secepatnya. Namun ia kurungkan niatnya itu. Ia pikir, barangkali ia bisa melihat pemuda itu lagi.
Ya, pemuda yang berhasil merebut hatinya itu.
"Arthur-sama, musiknya sudah mulai. Mari kita berdansa" seru Seshilia. Arthur yang baru sadar dari lamunannya itu, hanya mengangguk pelan.
Arthur dan Seshilia lalu berdansa dengan indahnya. Tidak perlu waktu lama, mereka langsung menjadi pusat perhatian. Para audience pasti berfikir bahwa mereka adalah pasangan yang amat sangat sempurna. Namun mereka salah—setidaknya menurut Arthur.
Selama musik mengalun lembut. Arthur terus berpikir tentang lelaki misterius itu, sehingga beat-nya menjadi salah.
"Auh.. Ah, maaf Arthur-sama" Seshilia meminta maaf
"Tidak apa-apa, aku yang salah" seru Arthur tersenyum terpaksa
Jauh dilantai atas ballroom, diam-diam Scott mengawasi mereka. Ya, iya memang tidak bergabung—dengan alasan tidak ingin bertemu dengan Zwingly. Scott yang sudah bosan dengan pesta yang begituan, akhirnya memerintahkan salah satu anak buahnya untuk memperketat penjagaan, agar putra Honda tersebut tidak masuk istana. Sang tangan kanan mengangguk, lalu segera pergi memberitahukan yang lain.
"Tidakkah kau pikir, bahwa kau terlalu egois,, putra Kirkland?"
'Puuuuuftt' Scott tersedak. Kenapa ia tiba-tiba teringat perkataan penyihir itu?.
"Anda tidak apa-apa yang mulia?" tanya Hong dengan nada MONOTON sembari menyerahkan saputangan. Dengan kasar, Scott menyambar sapu tangan tersebut dan mengelap mulutnya.
"I'm allright ok?" jawab Scott judes "Lagipula, bagaimana kondisi didepan?"
"Sejauh ini belum ada tanda-tanda dari Honda sir" jawab Hong dengan nada monoton. Scott terdiam, dan kembali menuju aktifitasnya tadi
"Tidakkah aneh menurutmu?. Pohon ini mati begitu kau naik tahkta. Selama generasi sebelumnya belum pernah ada kasus seperti ini, putra Kirkland.."
Scott lalu memijit kepalanya. Hell, bisakah penyihir itu diam?.
"Janganlah kau halangi cinta adikmu itu putra Kirkland. Karena itu hal yang bisa menyelamatkan kerajaan ini—
—Sekaligus, membunuhmu. Orang yang dicintai adikmu itu yang akan membunuhmu, putra Kirkland. Kau ingin memilih yang mana?"
"Keselamatan kerajaan, atau kematianmu?. Wahai putra Kirkland. Moment dimana keputusanmu itu dikabulkan akan datang sebentar lagi.."
Ergh, ia sudah tidak tahan. Ia ingin menemui Gupta—atau lengkapnya Gupta Muhammad Hassan, penyihir yang sudah menjaga pohon itu ratusan tahun. "Hong, mulai sekarang kau ambil alih pengawasan. Aku ingin menemui seseorang"
Hong mengangguk, dan Scott lalu melangkah pergi
~ Romeo and Juliet ~
"Jadi, kami berangkat dulu ve ~ Dadah Ludwig ve ~" Antonio menjalankan kuda, dan Feliciano melambaikan tangannya dengan penuh keceriaan
"Dadah" Ludwig melambaikan tangannya, dan perlahan-lahan kereta kuda tersebut menjauh
Ludwig lalu masuk kedalam, dan ia menemukan Francis yang sedang duduk di kursi meja makan bersama naskah dramanya. Francis mendelik kearah Ludwig, dan secara spontan Ludwig langsung mengalihkan muka.
"Kau sedang apa Francis? Bukankah kau harus bersiap-siap untuk pertunjukan?" tanya Ludwig
"Hmm.. Itu masih beberapa jam lagi, kau tak perlu khawatir, putra Beillschmidt ~" jawab Francis sembari menggodanya. Ludwig hanya ber-cihh mendengar nama keluarganya itu "Aku sudah membuang nama itu. Namaku hanya Ludwig, tidak lebih"
"HAHAHA" Francis tertawa "Sampai kapanpun kau tidak akan bisa membuangnya Ludwig. Kau saja, pasti sekarang sedang memikirkan kakakmu kan? Siapa itu namanya—ah, Gilbert kah?"
Ludwig melotot. Tak disangka Francis ternyata mengetahuinya.
"Apa maumu Francis?. Kau disini bukan hanya mau membicarakan itu kan?"
"Hmm.. Aku hanya ingin menyarankan sesuatu Ludwig.." jawab Francis "Sebaiknya kau jangan terlalu terburu mengenai hal itu" lanjutnya
"Aku tidak terburu-buru! Aku hanya.."
"Hanya apa?" Francis bertanya balik. "Kalau kau tidak bersabar. Situasi malah akan menimpa kalian. Pikirkanlah perasaan Kiku juga, Ludwig"
Ludwig menghela nafas. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Francis lalu bangkit dari kursinya, lalu mempersilahkan dirinya untuk pergi. Ludwig hanya mengangguk pelan, lalu dengan langkah gontai menutup pintu 'rumah'nya itu.
"Bruder.."
~ Romeo and Juliet ~
"Auh.. Ah, maaf Arthur-sama" Seshilia meminta maaf
"Tidak apa-apa, aku yang salah" seru Arthur tersenyum terpaksa
Sungguh, ia mulai tidak betah dengan situasi ini. Dikelilingi bangsawan sialan maam mereka, berdansa dengan anak bangsawan yang tidak ia cintai. Betapa Arthut sangat membenci keadaan tersebut. Ia pikir, harusnya uangnya kan bisa dipakai untuk rakyat kecil diluar istana kan?.
Musik pun berhenti. Tepuk tangan bergemuruh di seluruh bagian ruangan. Seshilia tersenyum lembut sembari melambaikan tangannya, sementara Arthur hanya tertunduk—murung. Ya, murung. Ia tidak tahu perasaannya saat itu, ya.. mungkin bimbang. Atau apalah itu. Bingung rasanya. Mungkin ia lebih baik pergi keluar, kemana saja asal tidak disitu, itu lebih baik.
Arthur lalu berlari meninggalkan Seshilia. Berlari tak tentu arah, sampai ia sampai di taman istana tempat garden party kemarin tadi diadakan.
Dan, alangkah terkejutnya ia, bahwa disana.. Ia melihat lelaki itu.
Lelaki berambut hitam cepak, yang ditemuinya di reruntuhan kemarin.. yang ia cintai, mengarahkan pisau—atau apapun itu, kehadapannya..
~ Romeo and Juliet ~
"Nah, Kiku. Kita berpisah disini ya ~ Aku ingin menggaet cowok cakep hahaha~"
"Dah Kiku ve ~ Aku dan Elizaveta akan pergi berkeliling—menemui kenalan Elizaveta ve ~"
Sungguh. Kiku sekarang sedang kesal sekali dengan teman-teman seperjuangannya(?) tadi. Bisa-bisanya mereka dengan egoisnya meninggalkan ia disini sendirian.
Ya, sendirian di kandang musuh.
'Ya, tapi emang gak salah sih. Mereka kan disini untuk menikmati pesta. Kalau aku, disuruh Ludwig mengintai. Tapi sepertinya, aku tidak memperoleh informasi yang berarti.. Maafkan aku Ludwig-san' gumam Kiku dalam hati.
Kiku yang sudah capai itu pun, akhirnya memutuskan untuk duduk di air mancur ditaman istana.
'Sebenarnya, mereka itu memang tidak melihatku, atau mereka itu memang bodoh ya?' Kiku terkikik sendiri melihat Caribinieri didepannya itu yang tidak sadar akan kehadiran musuhnya. Bayangkan saja, bahkan mereka tidak sadar saat ia lewat dihadapan mereka. Dasar bodoh.
Kiku lalu mengalihkan pandangannya ke air didalam air mancur berlapis keramik tersebut. Terlihat didalam airnya ada beberapa bunga krisan dan mawar yang mengapung diatasnya—secara kebetulan atau tidak ia tak tahu. Dengan hati-hati, Kiku mengambil bunga mawar lalu menghirup aromanya.
'Harum. Seperti orang itu'
Tap tap tap
"!"
Kiku terkejut. Ini emang dia, atau ia baru saja mendengar suara seseorang yang berlari?
'Sial, apa Caribinieri itu menyadari kehadiranku?' tanya Kiku dalam hati
Kiku lalu mengeluarkan dagger-nya, berjaga-jaga kalau memang benar Caribineri yang datang
Namun, Kiku terkejut, yang ternyata datang ternyata bukan Caribinieri. Melainkan, musuhnya, sekaligus orang yang dicintainya
Arthur Kirkland
A/N : PEMENANG KUIS KEMARIN ADALAH… LITTLE SENNA-CHAN! SELAMAT YA! Utang saya udah lunas kan?
Ahahaha, btw, ini nambah ngaco aja #sulk. Namanya juga parody #ngeles. Lompat berapa episode tuh?. Dan, untuk sekarang, kuis ditutup, karena saya sedang malas—coret, stress meratapi nasib. Dan untuk next chapternya, nggak tahu bakal update kapan, mengingat author nanti bakalan sibuk bimbel, dan itu juga belum diketik-eh, kehapus deng (wtf?)
REVIEWS ARE LOVE!
~Sign
Mochiyo-sama
