A/N : Wew, maaf karena apdet-nya kelamaan! Akhir-akhir ini saya kena WB ga ilang-ilang QAQ. Semoga ini memuaskan. Anyway, yang saya butuhkan hanya review anda! Silahkan flame, segala macam asal di review. Saya sempat terpuruk karena chapter tiga sedikit yang review, tapi saya bangkit! #alahcurcol
Sekarang, waktunya lanjut ke cerita ~
Disclaimer : Hetalia Axis Powers / World Series © Himaruya Hidekaz. Romeo and Juliet © William Shakespeare
Warnings : AU, parody Romeo and Juliet, OOC, misstypo(s), shonen-ai, SLIGHT PAIRS FOR FUTURE CHAPTERS, dsb. DON'T LIKE DON'T READ!
"A.. ah.."
Kiku terkejut melihat sosok lelaki yang dihadapannya. Yak, lelaki yang bertubuh tegap, berambut blonde, bermata zamrud, bertampang uke—abaikan yang tadi, itu hanya menurut pemikiran author nista satu ini yang lupa pairing utama di fic ini, good-looking, dan apapun yang berbau perfect untuk disebutkan kepada pangeran negeri Jepang yang satu ini.
Ya, siapa lagi kalau bukan sir Arthur Kirkland.
'Bagus Kiku, sekarang kau ketahuan!' umpat Kiku dalam hati. Kiku panik, ia tidak tahu harus bagaimana. Kalau diam saja, ia pasti akan ditangkap olehnya dan Caribinieri sialannya itu. Tapi, disaat yang bersamaan, ia tidak ingin pergi, ingin disitu saja.
Dengannya.
"Si—sir.." desis Kiku pelan "Pe—permisi, masih ada yang harus saya lakukan. Maaf membuat malam anda menjadi rusak gara-gara saya. Permisi.." Kiku lalu berlari meninggalkan Arthur yang diam mematung disitu
"Tu.. Tunggu!" Grep, ia memegang lengan atasnya
'Tidak'
"Hei, tunggu dulu. Tidak perlu buru-buru begitulah" seru Arthur "Duduk saja disini, dan, tak perlu pakai bahasa formal denganku." Arthur lalu menawarkan Kiku segelas sirup. Dengan ragu-ragu, Kiku menerimanya.
Kiku lalu meneguk sirup berwarna merah kental tersebut. Nikmat, berasa apel begitu pikir Kiku. Hening menyelimuti mereka selama mereka minum bersama di air mancur di taman itu. Sesekali Kiku menoleh kearah Arthur, dan ketika Arthur menoleh kearahnya. Pesss, tiba-tiba pipi Kiku memanas!
Tunggu, mema…nas?
'Kalau misalnya pipi memanas jika berada dekat seseorang, itu artinya cinta Kiku!'
Ya, itulah yang pernah dikatakan Elizaveta beberapa tahun yang lalu—dan dengan ajaibnya masih ia ingat. Tapi, apa benar?. Tampak Kiku masih ragu-ragu dengan perasaannya sendiri. Kiku, sejak kapan kamu tsundere?
"Hei" seru Arthur membuyarkan lamunan Kiku sambil menjulurkan tangannya "Namaku Arthur Kirkland, tentu kau sudah tahu, siapa namamu?"
Kiku hanya memandangi tangan Arthur itu. Tidak tahu kalau ia harus menjawab perkenalan Arthur atau tidak. Karena, ia takut, kalau Arthur mengenalnya, nanti Caribinieri tersebut—
"Hei..?"
Sepertinya dia tak tahu.
"Ahaha gomen" ujar Kiku sopan "Watashi wa no namae Honda Kiku desu. Yoroshiku onegashimasu" seru Kiku sambil menjabat tangan Arthur
"Ahaha, dilihat dari cara bicaramu, kau warga lama ya?" tanya Arthur antusias. Kiku mengangguk pelan yang menandakan kalau artinya ya. Sekilas, ia melihat pipi Arthur memerah, dan itu membuat Kiku sedikit shock.
"A..nu Kirkland-san?" Kiku angkat bicara
"Ya? Ah, panggil saja aku Arthur"
"Tidak apa-apa" Kiku mengakhiri pembicaraan singkat mereka, lalu melihat bangunan jam tua yang berbentuk seperti Big Ben kalau di kita. Tung.. Jam 12 Malam
'Tenggat waktu.. Kereta pasti sudah ada didepan'
"Ano Arthur-san" Kiku menoleh ke arah Arthur "Aku, harus pulang sekarang. Lagipula pestanya sudah berakhir. Jadi, oyasumi" Kiku lalu langsung berlari menuju pintu keluar mansion keluarga Kirkland itu.
"Hei! Kiku!" panggil Arthur "Kita akan bertemu lagi bukan~?" tanyanya dari kejauhan. Kiku menganggukkan kepalanya dan memasuki kereta kudanya yang ia gunakan saat pergi tadi.
Arthur hanya memandangi bayangan Kiku yang sudah hilang ditelan malam dari kejauhan. Dan melambaikan tangannya kearah sana. Dalam hatinya ia lega, karena ia bisa akan bertemu dengannya lagi.
"Ya, kita akan bertemu lagi, Kiku… Good night, have a nice sleep"
Tapi, mereka berdua tidak tahu. Bahwa merek aberdua, akan menemui takdir yang kelam.
~ Romeo and Juliet ~
Gupta meneguk teh-nya itu dengan perlahan. Ia sedang menikmati malamnya yang tenang. Ia merasa menjadi manusia paling suci didunia ini. Tempat ia beristirahat sekarang ini, dimandikan oleh sinar sang dewi malam, tentu saja pohon legendaris itu juga kebagian jatah sinar sang bulan.
Namun, keheningannya itu tiba-tiba terusik oleh kedatangan pemimpin Jepang yang bengis ini.
"Gupta.." desis Scott "Kau bohong padaku! Kau bilang anak Honda itu akan datang malam ini! MANA BUKTINYA! Tak satupun dari pasukanku yang melihatnya! Batang hidungnya saja tak kelihatan!" cerocosnya tanpa henti.
Gupta kembali meneguk tehnya. Sedikit merasa terganggu oleh tingkah kekanakan Scott
"GUPTA! JAWAB A—"
"Diam sedikit" sela Gupta kesal "Bodoh"
Scott geram. Ia sudah meremas-remas daun dibelakangnya. Malangnya.. "Maksudmu apa? Jangan membuang waktu"
"Anak itu datang.." ucap Gupta "Malah bertatap muka dengan adikmu itu"
Scott bertambah geram. Kenapa Arthur tidak melaporkannya?. 'Si bodoh itu…' Scott bertambah geram, itu bisa dilihat dari mukanya yang bertambah merah dan urat-urat nadinya yang terlihat dengan jelas.
"Huh sudahlah" Scott membalikkan badannya, dan melangkah menuju pintu tersembunyi yang menghubungkannya ke ruang pribadinya. "Gupta, kalau pohon itu ada apa-apa berita—"
Set. Tanpa Scott sadari, Gupta sudah berada tepat didepannya. Dan jarak mereka hanya, beberapa senti. Tolong para fujoshi dan fudanshi diluar sana, jangan berpikiran yang tidak-tidak dahulu!.
'Ce—cepat sekali. Penyihir ini..'
"Jangan belagu kau, putra Kirkland" ancam Gupta dengan penekanan saat berkata putra Kirkland. Ia memegangi kedua pipi putih mulus milik Scott, lalu menelusurinya dan berakhir memegang dadanya. "Kau hanyalah anak dari pasangan h—"
"JANGAN BERBICARA TENTANG MASALAH ITU LAGI" sergah Scott dengan penuh amarah. "Itu semua hanya masa lalu, tak perlu kau.. uggh.." ia kehabisan kata-kata
Gupta hanya menatap pemimpin negeri Jepang itu dengan tatapan kosong yang tak berarti. Ia menghela nafas, lalu melangkahkan kakinya untuk kembali ketempatnya lagi.
"Lebih baik, kau cepat kembali. Scott" Gupta memerintah si merah dengan nama kecilnya. "Dan jelaskan kepada adikmu mengenai hal ini"
"Eh?"
Tanpa Scott sadari lagi, ternyata Arthur sudah berdiri diambang pintu bercat putih tersebut
"Arthur, apa yang kau lakukan disini?"
~ Romeo and Juliet ~
"Nyu ~" ujar Bella tanpa arti "Tadi aku ketemu sama cowok cakep 3 Kyaaa ~" teriaknya kecil "Dan dia mengajakku untuk bertemu disana"
"Ke sana. Apa maksudmu Bella-san?" tanya Kiku penasaran
"Kiku ga tau sana ve ~?" tanya Feliciano "Itu adalah tempat dimana bangsawan dan rakyat jelata bisa berkumpul bersama ve ~" Feliciano menjelaskan kepada Kiku dengan penuh antusias
"Dan jangan lupa, itu adalah tempat dimana kita bisa memperoleh informasi juga! Termasuk kalau-kalau /cough/ ada pasangan yang /cough/ sesama lelaki /cough/ /cough/" tambah Elizaveta dengan muka mesum. Yang lainnya sweatdrop. Dasar hardcore fujoshi!.
"Ho.. begitu. " Kiku akhirnya mengerti "Memangnya tempatnya seperti apa?"
"Well.." Antonio akhirnya angkat bicara "Itu adalah hotel sih, Kiku..errr.."
"HAH, JANGAN BILANG BELLA-SAN MAU –piiiip- DENGAN ORANG YANG BARU DITEMUI BELLA-SAN? ANDA MASIH PERAWAN BELLA-SAN!" teriak Kiku dengan muka sedikit blushing. Readers, jangan berpikiran apa-apa dulu ya~.
Bella tertawa dengan keras "Tentu tidak Kiku ~ Hanya menemuinya disana kok! Lagian, aku bukan tipe cewek begituan" penjelasan Bella membuat Kiku—dan Antonio(?) sedikit lega.
"Bastard, cukup bercandanya. Kita kehilangan banyak waktu nih. Kita bisa dimarahi potato-bastard kalau sampai terlambat pulang"
"Oke deh, kalau buat mi tomato ~"
"HE—HENTIKAN BASTARD!"
Sementara di kursi belakang, Elizaveta sudah ber-kyaa kecil sambil mengguncang-guncang tubuh Kiku yang tak berdosa itu.
~ Romeo and Juliet ~
"Arthur-sama.." panggil seseorang dari belakang dengan suara monoton
Arthur—yang baru saja berpisah dengan Kiku, menoleh kebelakang dan didapatinya bahwa yang memanggilnya tadi adalah Hong, kepala Caribinieri-nya.
"Anda diperintahkan oleh Scott-sama agar segera menuju ruangannya" ucapnya dengan nada tetap MONOTON
"I..ia" respon Arthur dengan sedikit shock. Jujur, ia cukup tidak nyaman dengan perilaku Hong yang selalu berformal-formal ria padahal umurnya jauh dibawahnya. Mau gimana lagi, sikapnya memang seperti itu sih.
Arthur lalu berlari kecil menuju ruangan pribadi kakaknya itu. Cukup melelahkan, mengingat ruangan kakaknya itu berada dilantai tiga—dan pada saat itu belum ada lift maupun escalator. Jadi harus pakai tangga. Dan Arthur cukup membenci itu.
'Kriiiet' dibukanya pintu berwarna merah besar itu dengan perlahan-lahan, takut mengganggu kakaknya. Namun, ia mendapati ruangan itu kosong melompong. Dimana gerangan kakaknya?
"Kakak?" panggil Arthur. Namun tidak ada siapapun yang menjawab.
Arthur lalu menyusuri ruangan kakaknya—yang lumayan luas itu. Harum kemenyan—maksudnya mawar menerpa Arthur. 'Mawar ya..' Arthur tiba-tiba dengan kakak-kakaknya yang pergi meninggalkannya dan Scott.
"Eh?" Arthur terkejut ketika pintu berwarna putih yang ditutupi oleh daun-daun liar itu mendadak terbuka. Penasaran, Arthur akhirnya memasuki pintu itu.
'Gelap' begitulah pikir Kiku ketika memasuki pintu putih tersebut. Ia menerka kalau dindingnya pasti bewarna putih dan ditumbuhi tumbuhan liar. Arthur baru mengetahui kalau ada ruangan macam begini di mansionnya.
"GUPTA JAWAB A—"
"Eto, kakak?" Arthur terkejut ketika ia mendengar suara khas si rambut merah itu. Dilihatnya bahwa ia sedang berbicara dengan seseorang yang memakai topi yang ada kainnya disamping—Arthur—dan author—lupa namanya. Ia juga berkulit gelap, dan matanya… soulless jika harus ia katakan. Arthur lalu berniat untuk menguping pembicaraan mereka.
Hei, tak mungkinkan, pria itu, ehem—kekasihnya?. Arthur tertawa tertahan terhadap imajinasinya yang sedikit berlebihan itu.
"Anak itu datang.." ucap orang itu "Malah bertatap muka dengan adikmu itu"
Eh, bertatap muka, tunggu. Arthur berfikir siapa saja yang bertatap muka dengannya, dan tentu banyak sekali bodohnya ia. Namun, yang bicara dengannya hanya Gilbert, Alfred, Hong, dan..
..Kiku. Honda Kiku. Jangan bilang kalau dia yang dimaksudnya.
'Ga..gawat kalau aku ketahuan disini' Arthur bermaksud untuk kabur, namun kakinya menginjak ranting kecil (dan darimana ranting itu berasal?). Arthur nyaris berteriak, namun ia tahan mulutnya itu dengan tangannya. Ia melirik sedikit, dan ia dapati pria itu melihatnya dalam-dalam.
'Orang itu, mengerikan..'
"Lebih baik, kau cepat kembali. Scott" pria itu memerintah kakaknya dengan nama kecilnya. Bayangkan, nama kecilnya. Hubungan apa yang kakaknya dan orang itu jalani?. "Dan jelaskan kepada adikmu mengenai hal ini"
"Eh?" Arthur dan Scott sama-sama terkejut. Scott lalu menoleh kearah belakang—kearah Arthur.
"Arthur, apa yang kau lakukan disini?" tanya Scott dengan terkejut
"E.. Eto, ano… Errr…" Arthur bingung sendiri
"Apa saja yang sudah kau dengar Arthur?" tanya Scott dengan seram
"Tidak ada, kakak…" jawab Arthur lirih "Maaf, Hong bilang kakak mencariku jadi.."
"Sudahlah" potong Scott "Lebih baik kita segera bersiap-siap. Kau tahu kan, jadwal setelah pesta apa?"
Arthur mengangguk, lalu melangkahkan kakinya dari sana. Diikuti Scott dibelakngnya.
'Kenapa kakak semarah itu. Apa yang disembunyikannya?' batin Arthur
~ Romeo and Juliet ~
-Time skip-
"Oke, rapat akan dimulai sekarang…"
Ngomong-ngomong, author pasti membingungkan kalian lagi. Tepat dua hari setelah pesta semalam selesai, Scott—dan bengsawan lainnya, memutuskan untuk menggelar rapat. Rapat untuk apa? Rakyat-rakyat bodoh itu kalau Scott yang menjawabnya.
Scott memandangi rekan-rekan(?) bangsawannya yang sekarang sedang berdebat ria tentang hal-hal yang.. oke, abaikan itu. Sementara Arthur, duduk tepat disamping belakang kursi Scott dengan wajah murung. Ya, Arthur tidak pernah betah dengan keadaan seperti ini.
"Warga-warga sekarang ini suka sekali memberontak" kata seorang jaksa membuka rapat tersebut. Memangnya jaman itu sudah ada jaksa, hakim, dan sebagainya? Jangan tanya saya. "Untuk itu, saya, dan raja Scott, meminta saran kalian"
Para bangsawan lalu berdiskusi. Beberapa dari mereka memberikan pendapat mereka (dan langsung ditolak mentah-mentah entah kenapa). Dikejauhan, Arthur bisa melihat kedua temannya, Gilbert dan Alfred malah berdiskusi tentang hal lain. Arthur sweatdrop melihat kelakuan 'lancang mereka'.
"Ehem, Beillschmidt" panggil Scott yang nampaknya sudah menyadari 'kelancangan' yang dilakukan oleh Gilbert "Saya asumsikan bahwa, diskusi anda dengan Jones telah berakhir dengan suatu keputusan. Jadi, bagaimana caranya anda menyelesaikan ini" Mati kau Gil, Arthur lalu berdoa demi keselamatan teman sok asem-nya yang satu ini.
Glek
"Te—tentu saja saya sudah menemukan solusinya, sir" ucap Gilbert sedikit bergetar. "Me—menurut saya, kita harus lebih terbuka dengan masyarakat. Dan berlaku lebih adil. Mengingat banyaknya rakyat yang memberontak akhir-akhir ini."
"AHAHAHAHAHA" Scott tertawa terbahak-bahak, disambut dengan tawa bangsawan yang lainnya—bahkan Alfred juga. 'Dasar temen ga awesome!' batin Gilbert
"Dia pikir dia siapa.." hina salah satu bangsawan. Gilbert geram, dan tanpa sadar ia menghajar bangsawan itu. Scott kaget, lalu ia memerintahkan Hong untuk segera membawa Gilbert keluar. Arthur berusaha menghentikan tindakan Scott, namun ia menolaknya.
"Diam Arthur, keluarga Beillschmidt itu sudah dipandang sebagai salah satu keluarga paling menjijikan di Istana ini" seru Scott "Mereka lebih memilih untuk memihak keluarga Honda—setidaknya adiknya yang satu itu. Mulai sekarang, keluarga Beillschmidt saya cabut hak dan wewenangnya sebagai salah satu bangsawan!"
Arthur hanya mendesah perlahan. 'Maaf Gil..'
~ Romeo and Juliet ~
Kiku meletakkan handuknya ditempat di gantungan didekat pintu toiletnya. Ia lalu memakaikan bajunya, dan melangkah menuju ruang makan, untuk makan siang. Terlihat Elizaveta dan Feliciano sedang merapihkan makanan. Sementara Antonio sibuk menyeruput jus tomatnya. Lovino tidak terlihat, kemana ia?
"Kalau kau mencari Lovi, ma Cherie ~. Ia sedang keluar bersama Bella~" ucap Francis. Nampaknya ia bisa membaca pikiran Kiku layaknya paranormal!.
Kiku mengangguk tanda ia mengerti. Ia melirik kesana-kemari lagi, dan ia dapatkan Ludwig sedang mencoret-coret kertas, seperti sedang menyusun rencana.
"Ano, Ludwig-san" panggil Kiku "Kau, sedang apa?"
"Ah, Kiku.." Ludwig membetulkan letak kacamatanya yang miring "Saya sedang menyusun rencana" balasnya formal. Sungguh, mereka sudah bersama lebih dari 10 tahun dan masih pakai bahasa formal?. Membosankan.
"Rencana?"
"Ya.."Ludwig lalu meneguk teh-nya "Mata-mata kita yang berada di istana, Alfred F. Jones, tadi mengirim surat lewat merpatinya." Ludwig menjelaskan "Katanya, minggu depan, Scott Kirkland akan pergi ke perbatasan. Maka dari itu, saya bersiap-siap" terangnya
"Tapi.. apa tidak terlalu cepat" Kiku ragu-ragu dengan keputusan Ludwig "Lagipula, memang kita mempunyai cukup orang?"
"Tenang saja Kiku ~" Antonio sekarang angkat bicara "Kita punya banyak bantuan ~. Kau tak perlu khawatir ~." Antonio lalu melahap tomatnya yang kesekian kalinya
"Tetap saja.."
"Nanti malam saya akan pergi keperbatasan, untuk memastikan kelancaran rencana saya. Anda keberatan atau tidak?" Ludwig meminta persetujuan Kiku. Kiku hanya menghela nafas menghadapi orang satu ini.
"Baiklah" Kiku setuju "Namun, nanti aku harus ikut, Elizaveta-san dan Antonio-san juga" Elizaveta tersenyum sumrigah seraya memamerkan frying pan legendarisnya.
"Lovi juga ikut?"
"Terserah Antonio-san"
Antonio langsung berlari menuju keluar rumah, menyusul Lovino Vargas-nya tercinta.
"Nah sekarang, pastanya sudah siap ve ~"
~ Romeo and Juliet ~
Gilbert memandangi mansion milik keluarga Kirkland—dan beberapa bangsawan lain itu dengan tatapan… sedih? Ah tidak, sulit mengekspresikan perasaannya saat ini. Ia, penerus keluarga Beillschmidt yang terakhir, baru saja ditendang dari mansion itu hanya karena usulnya yang menurut mereka menggelikan. Gilbert tertawa pelan. Konyol sekali, hanya karena itu. Hahahaah..
"Gil, keretamu sudah siap.." ujar Arthur sembari menghapus airmatanya.
"Hei, Kirkland? Jangan bilang kau nangis! Nggak awesome kau!" Gilbert berusaha mengejek Arthur, tapi yang ada Arthur makin menjadi-jadi. Terpaksa Alfred membantu menenangkan Arthur yang kelewat OOC itu.
"Ta..tapi.." Arthur sesegukan "Gara-gara kakakku, kamu jadi diusir, Gil.." OOC sangat. Gilbert menghela nafas atas perilaku teman—eh, sahabatnya yang satu ini. Tidak disangka dirinya begitu disayang banyak orang. 'Diriku memang awesome!' begitu pikir Gilbert narsis.
"Jadi, ini pertemuan terakhir kita Gil.." Alfred akhirnya angkat bicara "Hati-hati disana ya"
Gilbert mengangguk, lalu memasuki kereta kuda yang nanti akan mengantarnya menuju keluar gerbang mansion tersebut. Namun, ia menghentikan langkahnya, dan menatap kedua sahabatnya itu "Hei, jaga Gilbird ya, bilang padanya, maaf aku hanya bisa membawa Gilbird"
Arthur dan Alfred diam sejenak. "Gil, kau mengatakan Gilbird dua kali.. Dan, BAGAIMANA CARANYA KAU MENINGGALKAN GILBIRD DAN MEMBAWA GILBIRD PADA WAKTU YANG BERSAMAAN?" Alfred berteriak kepada sahabat albinonya yang satu itu.
"Gilbird yang kumaksud yang ini ~" Gilbert lalu mengeluarkan seekor anak ayam berbulu kuning dari balik bajunya "Tara~ anak ayam yang awesome kan ~?" Arthur dan Alfred hanya jawdrop.
"Ini… hadiah dari adikmu?" tanya Alfred. Gilbert lalu mengangguk dengan antusias. Dasar brocom!. Alfed berani bertaruh, pasti ia menamakan semua binatang peliharaanna Gilbird gara-gara adiknya itu.
Kereta kuda lalu berangkat. Arthur dan Alfred melambaikan tangan mereka, melepas keperian sahabat—sok awesome—mereka yang dicabut statusnya beberapa jam yang lalu itu. Gilbert hanya tersenyum dan membalas lambaian mereka. Makin lama, kereta kuda makin menghilang dari hadapan mereka.
'Aku tak sabar ~ Kehidupan awesome apa yang menungguku diluar ~?' Gilbert excited sendiri dalam hati.
~ Romeo and Juliet ~
Kereta kuda lalu berangkat. Arthur dan Alfred melambaikan tangan mereka, melepas keperian sahabat—sok awesome—mereka yang dicabut statusnya beberapa jam yang lalu itu. Gilbert hanya tersenyum dan membalas lambaian mereka. Makin lama, kereta kuda makin menghilang dari hadapan mereka.
"Bye Gil.." ucap Arthur dengan nada sedih
"Oh c'mon Artie!" Alfred berteriak kearah Arthur "Kau tak mungkin jatuh hati pada Gil kan? Sampe-sampe dia pergi kau sedih begitu ~?" Alfred menggoda Arthur. Muka Arthur memerah tanpa sebab, dan itu membuat Alfred semakin ingin menggodanya.
"Ahaha ~ Artie suka Gilbert!"
"Bu—" Athur menyangkal perkataan Alfred, namun, ngomong-ngomong soal seseorang yang disukai, Arthur tiba-tiba mengingat…
Pemuda itu, ahh—ia sekarang sudah tahu namanya. Honda Kiku.
Blush. Pipi Arthur makin merah saja.
"AHA! Artie pasti sedang mikirin orang ya~?" Alfred menggoda Arthur lagi. Arthur—yang ngambek—kepaa Alfred hanya cemberut saja. Alfred tertawa terbahak-bahak, dan itu membuat Arthur merasa terhina.
"Hah… sudah ya Artie.." Alfred melangkah meninggalkan Arthur "Aku ditugasi kakakmu ikut pasukan Caribinieri ke perbatasan, well, minggu depan sih. Cuma aku harus siap-siap" Alfred lalu membetulkan letak kacamatanya "Dah"
"Dah" Arthur membalas Alfred. Ia mendongakkan kepalanya kelangit, melihat sepasang burung—err.. apa itu? Seperti gagak namun Arthur yakin itu bukan gagak—melintas diatas kepalanya. Ia teringat lagi oleh Kiku.
'Hah.. Kayaknya aku suka—eh, jatuh cinta dengan Kiku deh' Arthur mendesah—sambil tersenyum dan memasuki mansionnya.
~ Romeo and Juliet ~
-Time skip again-
Kuk.. kuk.. kuk..
Ah, jika kalian bisa menebak suara diatas, dan menjawabnya suara burung hantu, artinya kalian pintar!. Dan jika kalian bisa menebak waktunya saat ini dan kalian bilang malam, artinya kalian cerdas!. Hah, nggak penting banget deh. Kembali kecerita.
Sesuai yang dijanjikan Ludwig tadi, ia, Kiku, Antonio, Elizaveta, dan jangan lupakan Lovino—yang notabene ikut karena dipaksa oleh sem—maksudnya Antonio—pergi menuju ke perbatasan. Kata Ludwig memantau perihal informasi yang diberikan oleh kenalannya itu, Alfred F****** Jones. Abaikan saja bintangnya.
"Kalau minggu depan Scott Kirkland berencana untuk ke kerajaan sebelah dan melewati perbatasan ini, maka panjagaan pasti makin ketat" ujar Ludwig berbicara pada dirinya sendiri
"Nani?"
"Nein"
Mereka lalu mengendap-endap, melihat sekeliling pintu perbatasan. Memang benar, banyak sekali penjagaan—padahal masih seminggu lagi—tetapi tidak seketat yang dibayangkan Ludwig.
"Nah, Ludwig, sekarang kita ngapain?" Tanya Elizaveta yang tampaknya mulai tidak nyaman
"Iya potato-bastard," Lovino ikut nimbrung "Gue udah capek nih" dan dengan sigap, Antonio langsung mengunci bibir cowok ber-ahoge itu dengan…. Dengan… Dengan…
Ayo, apa fujoshi dan fudanshi disana bisa menebak?
Dengan ciu—eh, bukan, dengan tomat ternyata.
'Sial' umpat Elizaveta dalam hati sambil meremas-remas benda disekitarnya 'Sebentar lagi tuh'
"Ssst.. Bisa diam tidak sih?" bentak Ludwig kecil "Ah, ada kereta kuda yang kesitu" dan langsung ditanggapi dengan tatapan 'mana-?-minggir-gua-mau-liat' oleh Elizaveta, Antonio, Lovino, dan Kiku. Ludwig tidak bergeming dari tempatnya. Ia mengamati lencana—karena setiap keluarga bangsawan punya lencana mereka masing-masing—yang ada di kereta kuda tersebut.
Semakin lama Ludwig menatap kereta itu, semakin membulat pupil matanya. Peluh perlahan mulai membasahi badannya. Nampaknya ia terkejut sekali.
'Ti.. tidak mungkin. Lencananya.. itu..'
"Ludwig..-san?" panggil Kiku. Namun Ludwig tidak menggubrisnya. Kiku memanggiil Ludwig sekali lagi "Ludwig-san? Daijoubu desuka?"
"A..h.. Maaf Kiku, aku hanya.." Ludwig menarik nafas, lalu menghembuskannya secara perlahan "Lupakan, ayo kita focus ke kereta itu." Kiku mengangguk tanda setuju.
'Kriieet' kereta kuda itu lalu berhenti. Pintunya mulai terbuka dan seseorang turun dari keretanya. Seorang albino—setidaknya rambutnya, matanya berwarna merah ruby, membawa anak ayam atau apalah itu diatas kepalanya yang ber'cip cip' ria. Ada lencana berbentuk cross dibajunya, bentuknya sama dengan yang dipakai Ludwig saat ini.
'Tunggu, itu.. Bruder?' kata Ludwig yang terkejut melihat orang itu.
To Be Continued
A/N : Maaf Minna, baru update. Ahaha padahal banyak waktu luang saat liburan, tapi Mochiyo harus belajar lantaran UN kan tanggal 25 April QAQ. Emm… masalahnya Fisika Mochiyo jelek jadi harus belajar #curcol Ada yang mau ngajarin fisika kelas 7 – 8? #mintadihajar
Jadi.. gimana chapter ini?. Sudah saya panjangin sesuai permintaan seseorang. Kesesese ~ Kayaknya ini makin jelek aja ya.. Alur juga kayaknya kecepetan ._. #pundung. Tapi jujur, saya paling enjoy ngerjain chapter ini X3 ~. Dan, maaf genre-nya diganti, karena author sendiri merasa mungkin Romance-nya akan sangat sedikit, lebih ke drama ini mah.
Ah, anyway! REVIEWS ARE LOVE!. Maaf, masih tidak ada kuis. Dan, update mungkin akan agak (baca : sangat) lama. Gomen QAQ
~Sign
Mochiyo-sama
