A/N : BULAN FEBRUARI! *tebarconfetti*. Janji(?) saya untuk hiatus selama sebulan di fb terpenuhi sudah ~. Yak, sekarang kita memasuki chappie kelima!. Semoga teka-teki(?) kemarin berhasil dijawab disini. Nah, enjoy this chapter~

Disclaimer : Hetalia Axis Powers / World Series © Himaruya Hidekaz. Romeo and Juliet © William Shakespeare

Warnings : AU, parody! Romeo and Juliet, OOC, misstypo(s), shonen-ai, SLIGHT PAIRS FOR FUTURE CHAPTERS, dsb. DON'T LIKE DON'T READ! (kayaknya warnings selalu berubah ya?)


'Kriieet' kereta kuda itu lalu berhenti. Pintunya mulai terbuka dan seseorang turun dari keretanya. Seorang albino—setidaknya rambutnya, matanya berwarna merah ruby, membawa anak ayam atau apalah itu diatas kepalanya yang ber'cip cip' ria. Ada lencana berbentuk cross dibajunya, bentuknya sama dengan yang dipakai Ludwig saat ini.

'Tunggu, itu.. Bruder?' kata Ludwig yang terkejut melihat orang itu.

"Potato bastard? Oy lo nggak apa-apa—Potato Bastard? Ludwig?" panggil Lovino ke pria bertubuh tegap itu. Ia berani sumpah, ini pertama kalinya ia melihat Ludwig bergetar hebat seakan baru melihat hantu seperti ini. Apa yang terjadi dengannya?.

Elizaveta, teman sepermainan Ludwig itu menyadari kejanggalan yang ada pada diri Ludwig. Elizaveta yang merasa khawatir itu akhirnya mengusap punggungnya seraya bertanya "Ludwig ~, jól vagy?. Nem néz ki egészséges. Valami zavaró?"

" Ich binokayElizaveta, alles in Ordnung.[2]" Balas Ludwig sambil memijit dahinya "Aber..[3]"

"Tetapi apa, Ludwig-san?" Kiku ikut-ikutan khawatir. Ludwig menggelengkan kepala, Kiku memaklumi keputusan Ludwig yang tak mau memberitahukannya. Apapun itu, pasti itu penting sekali bagi pimpinan pasukan pelindung keluarga Honda tersebut.

"Hei teman-teman, cepat kesini" seru Antonio. Elizaveta, Lovino, Kiku, dan Ludwig kontan langsung menghampiri Antonio. Terlihat bahwa para Caribinieri tersebut siap menerjang pria bermata ruby bersama anak ayamnya itu.

"Gawat.." panik Elizaveta "Apa yang harus kita lakukan? Kasihan pria itu.. Tapi, dia terlihat najong sih tapi jadi ga apa-apa deh dia habisi" dan Elizaveta langsung mendapat jitakan cantik dari Antonio dan Lovino.

"Tentu saja kita menolongnya!. Lho, Ludwig-san? Kamu mau kema—LUDWIG-SAN!"

Ludwig mengabaikan perintah Kiku dan langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Lovino yang berdecak kesal itu, akhirnya ikut keluar dengan alasan kalau dia terluka, adik kembarnya itu pasti bakal menangis dan pasti merepotkan. Caribinieri yang melihat hal itu pun, langsung mengarah kearha mereka dan menyerang mereka.

Kiku, Elizaveta, dan Antonio akhirnya ikut turun tangan juga.

Pertempuran sengit pun terjadi. Ludwig mengeluarkan pedang perak bertorehkan kata 'Beillschmidt' itu kearah Caribinieri yang jumlahnya kalah banyak dengannya. 'Trang!' satu Caribineri jatuh dan seorang lagi berusaha untuk menjatuhkan Ludwig, namun dengan sigap Ludwig langsung menghindarinya.

'PTUUUUUUUNGGG' tiga orang jatuh terkena frying pan maut milik Elizaveta. Semangat Elizaveta semakin mambara sehingga ia kembali memukul orang—sampai pingsan dengan membabi buta. Kiku tak mau kalah, ia melancarkan serangan-serangan kepada musuh-musuhnya menggunakan teknik yang sempat ia pelajari lewat buku Ludwig—dengan diam-diam tentunya. Kiku mengayunkan pedangnya kesana-kemari dengan lemah gemulai, seakan ia sedang menari.

Beda lagi dengan duo tomato itu. Mereka saling back-up satu sama lain. Lovino yang menggunakan shotgun, dan Antonio yang menggunakan kapak membuat kolaborasi yang indah sekali. Lovino yang mahir sekali memakai senjatanya, menembak kesana kemari sehingga satu persatu lawannya tumbang. Begitu juga dengan Antonio, sesekali ia mengayunkannya, lalu melemparnya sehingga makin banyak saja yang tumbang.

Namun serangan grup kecil tersebut sama sekali tak berpengaruh, nampaknya Caribinieri tersebut tak ada habis-habisnya.

"SIAL!" umpat Elizaveta kesal "Kenapa mereka tak habis-habis sih? Padahal aku sudah pakai dua frying pan!". Yang lainnya mengangguk setuju

'Nah, sekarang bagaimana?' pikir Kiku dalam hati

"KYAAAAAAAAAAAA(?)!" teriak seseorang, disusul oleh ciapan sang anak ayam. What the?

Mereka menoleh kebelakang dengan serentak, dan didapatinya pemuda albino tersebut disandera oleh seorang bermata soulless. Sepertinya ia adalah kepala Caribinierinya.

"Hong.." desis Ludwig "Lepaskan orang itu" perintahnya dengan tegas

"Tidak akan, senior Ludwig. Ah. Kau bukan lagi seniorku lagi, kau yang sekarang hanyalah pengkhianat" ujar Hong dengan datar dan tak berekspresi "Taruh senjata kalian, dan serahkan Honda Kiku sekarang juga, atau orang ini kubunuh" Hong semakin memperdekat jarak pedangnya keleher pria albino tersebut. Sementara orang itu hanya mendesah perlahan dengan mata menyeringai.

"BANGS—"

"Cepat, atau aku benar-benar akan membunuhnya. Senior. Kau punya waktu 5 detik" ancam Hong. "5.."

Ludwig bingung, tak tahu harus bagaimana, haruskah ia menyerahkan Kiku, atau mengorbankannya?. Kakaknya. Brudernya.

'Bruder..'

"4.."

"West.. Luddie..Kau kah disana?" panggil pria bermata ruby itu dengan lembut

Ludwig terperajat mendengar suara kakaknya. Masih ingatkah ia akannya?. Ahh, betapa Ludwig merindukan suara itu. Suara milik orang yang selama ini merawatnya, melindunginya, mengajarinya..

"3..."

"Aku senang jika itu benar-benar kau, kleine bruder.." desahnya "Aku mencarimu selama ini, dasar nggak awesome, hehehe.."

..Sekaligus, yang ia tinggalkan. Demi tugas yang ia emban. Demi menyelamatkan Kiku. Demi kerajaan. demi Jepang. Demi.. demi..

"2.."

Sudahlah itu tak penting, yang penting bagaimana cara menyelamatkannya.

"Ludwig-san, aku.." Kiku angkat bicara "Jika ia sangat berarti bagi Ludwig-san, tak apa-apa. Aku akan—„

"1. Waktu habis. Bunuh mereka" sahut Hong dengan MONOTON dan tegas

Sekumpulan Caribineri tersebut langsung menerjang mereka tanpa pandang bulu. Kiku terkejut, sementara Lovino bingung harus berbuat apa. Antonio malah semakin mempererat genggamannya terhadap kapaknya seraya terus menjaga jaraknya dengan Lovino. Elizaveta sudah ketakutan, ia menyilangkan tangannya diatas kepala, agar itu bisa melindunginya.

Saat dirasa mata pedang pasukan itu sudah menembus tubuh mereka, tiba-tiba mereka mendengar bunyi mata anak panah meluncur dan satu persatu mengenai korbannya.

Kiku lalu mendongakkan matanya kearah langit, dan didapatinya seorang pria berambut sedikit emas kecoklatan, bermata hijau, sedang menunggangi naga berbulu biru yang terbang melintasi langit malam sembari memegang panah.

"Kau.."

~ Romeo and Juliet ~

Alfred sekarang sedang duduk menikmati night coffee(?) di jendela kamarnya yang besar itu. Sesekali ia menatap langit biru tua, dan mendengarkan bunyi burung hantu yang saling sahut-menyahut. Samar-samar, ia dapat mendengar suara pertarungan di sebelah barat. Ahahaha... tentu ia hanya berimajinasi, iya kan?. Masa beneran kedengaran, kalau iya, berarti tandanya ia sudah jadi HERO! HAAHAHAHA ~. Ujar Alfred narsis.

Alfred lalu memicingkan matanya, seakan ada suatu objek yang begitu menarik perhatiannya. Objek itu terbang, mengepakkan sayap menuju kearahnya. Lama ia perhatikan, dan barulah ia sadar kalau itu adalah merpati yang ia kirimkan untuk memberitahu Ludwig.

Merpati itu lalu hinggap di jendela kamar Alfred. Alfred melihat ada secarik keras yang menempel dikaki burung itu. Tentu saja bodohnya ia, tandanya Ludwig membalas kirimannya. Ia lalu melepaskan kertas itu dari ujung kaki merpati putih itu, lalu membacanya isinya.

'Ichhabeeserhaltenwerde. Heute Abendwerde ichan die Grenzegehen. Vielen Dank fürdieInformationen, ich hoffe,das ist wahr.[4]

-Ludwig Beillschmidt-'

"Geez.. Sampai-sampai ia memakai bahasa asal keluarganya.." Alfred terkekeh-kekeh sejenak. Ia lalu menunduk sedikit, lalu kembali menatap sang dewi malam. "Tak kusangka, rencanaku berhasil. HAHAHAHAHAHA.. BAHKAN SEORANG PIMPINAN PASUKAN KHUSUS TERBAIK PUN BISA AKU MANIPULASI! HAHAHAHA" Alfred tertawa terbahak-bahak layaknya orang gila. Alfred lalu menghela nafas sejenak, dan kembali menatap langit.

"Sepertinya aku telah berbuat dosa lagi. Gupta Muhammad Hassan-kun" ucap Alfred lirih "Aku tak bisa membangkitkan pohon itu lagi, terlalu mustahil sekarang...". Alfred terdiam lalu meneruskan kata-katanya "Tapi anak itu. Pemuda berambut hitam tersebut bisa kan?. Untuk itu aku harus cepat membawanya.. harus.." Alfred lalu menutup matanya, merasakan angin malam.

Sementara diruang bawah tanah, dimana kedua—sekarang satu—pohon eustachius itu hidup, Gupta sedang memandangi kolam dibawah pohon itu, sembari bersenandung.

"Saat semua kisah ini berakhir, akan segera tiba. Wahai putri penyelamat umat, pembawa benih kesuburan, cepatlah kemari. Persembahkanlah dirimu untukku, korbankanlah dirimu untuk negeri malang ini.. Cepatlah.."

Gupta kembali bersenandung. Kali ini, ia bersenandung dengan lagu yang bernada lebih seram.

~ Romeo and Juliet ~

" Nessun dorma! Nessun dorma! Tu pure, o, Principessa, nella tua fredda stanza, guardi le stelleche tremano d'amoree di speranza.[*]" Feliciano bernyanyi dengan nada seriosa sambil mencuci piring, dan sukses membuat Francis kaget.

"Feli.. Kau bisa.. menyanyi... seriosa? Bahkan sambil cuci piring?" tanya Francis dengan sedikit kaget

"Ve ~ Nggak juga ve ~" jawab Feliciano sambil tersenyum "Aku hanya khawatir, makanya jadi mempengaruhi suaraku(?)" lanjutnya nggak nyambung. Francis mengangguk-angguk

"Khawatir kenapa?. Ahem ~ Pasti Ludwig ya ~" Goda Francis. Feliciano sukses menjadi merah padam. "Sudahlah mereka pasti ba—"

'PRAAAAAAAAANG'

"—ik-baik, saja..?" Francis ragu dengan kata-katanya

"Ve ~" Feliciano memungut serpihan-serpihan gelas itu "Ini gelas Ludwig ve ~. Aduh ve ~ Aku benar-benar khawatir ve ~. Bagaimana kalau Ludwig kenapa-napa ve ~" Feliciano mulai menangis. Francis menjadi kalap, dan berusaha menenangkannya.

"Tenanglah Feli, aku yakin Ludwig baik-baik saja.." Francis berusaha menengangkan orang yang sudah ia anggap adik itu "Kalau kau menangis, Ludwig nanti jadinya malah nambah khawatir.." tumben Francis jadi bijak!.

Feliciano mengangguk perlahan. Lalu membersihkan serpihan-serpihan gelas itu dengan perasaan sedikit tenang.

'Kuharap mereka beneran baik-baik saja...' harap Francis dalam hati

~ Romeo and Juliet ~

"Kau.."

Pria itu tidak menjawab pertanyaan Kiku. Dengan sigap ia langsung memanahi pasukan Caribinieri itu satu persatu dengan panahnya (dan sekali panah ajaibnya bisa empat!). Dalam waktu lima menit, sudah banyak orang yang tumbang.

Merasa tak mau kalah, Antonio juga ikut beraksi. Diayunkannya kapak silver kesayangannya itu dengan cepat layaknya Ievan Polka(?). Dalam ritme serangannya itu, sesekali pula ia melempar kapaknya layaknya melempar bumerang, dan 'sreeeeeeeeet' banyak juga yang jatuh.

Elizaveta makin semangat mengayun-ayunkan frying pan legendarisnya itu. 'Tuuung' 'Tuuung' 'Tuuung' begitulah nada yang berhasil dihasilkan oleh penggorengan itu. Kali ini Lovino ikut membantu, ia menembakkan shotgun-nya kearah Elizaveta, dan dengan tangkasnya Elizaveta memukul arah peluru itu agar mengenai yang lain. Berbahaya namun kolaborasi yang amat menakjubkan!. Kedatangan pria misterius itu ternyata berhasil membangkitkan semangat mereka!.

Hanya sedikit sekali Caribinieri yang tersisa, dan itu membuat Hong terpaksa mundur. Ia lalu memerintahkan pasukannya untuk kembali ke istana, dan melepaskan pria albino yang tadi disekapnya. Dilemparkannya tubuh sang albino ketanah—dan Ludwig dengan sigap menangkapnya.

"Bruder? Bruder! Sie sindokay?[5]. BRUDER! GILBERT BEILLSCHMIDT!" panggil Ludwig sembari mengguncang-guncangkan pemilik mata ruby tersebut. Si empu badannya itu hanya mendesah perlahan, dan membuka matanya sedikit.

"West..." ucap Gilbert lirih "Syukurlah itu kau.. Luddie.." Gilbert lalu memeluk Ludwig sambil menangis. Ludwig—yang kaget dan memerah?—membalas pelukan kakaknya itu dengan berderai airmata. Kedua kakak beradik itu saling melepas rindu. "Aku rindu, west"

"Maaf, kakak" Ludwig meminta maaf "Aku harus melindungi Kiku Honda. Maaf, karena aku panik saat itu. Maaf kakak.."

Gilbert menggelengkan kepalanya. "Honda Kiku.. ya?. Ah benar, anak itu. Yang selama ini selalu disukai oleh si alis tebal" Gilbert terkekeh sembari mendelik kearah Kiku yang sudah memerah layaknya kepiting rebus.

Sementara kedua kakak beradik itu sedang saling merindukan satu sama lain. Kiku mulai mencara sosok pria yang menurutnya mirip Arthur itu. Setelah menoleh kesana kemari, ia menemukan pria itu seang menaiki naganya.

"Terima kasih sudah menolong kami. Tanpa kamu, kami mungkin sudah tamat" Kiku tersenyum kearah pria itu. Pria itu hanya menatap Kiku dengan tatapan tajam (dan bisa saja menakuti semua orang). Kiku yang penasaran dengan pria itu, lalu bertanya "Ah, kalau boleh tahu. Siapa namamu?."

"Will" jawab pria berambut coklat keemasan itu "William Kirkland. Panggil saja aku Will" katanya pendek. Kiku hanya tersenyum melihat tingkah laku bocah(?) Kirkland itu yang sedikit mirip dengan Arthur.

Will lalu menepuk pantat(?) naganya, dan naganya langsung bersiap untuk terbang. Kiku menutupi matanya dengan tangannya, agar debu-debu tak masuk lewat matanya. Sang naga berbulu biru itu dengan perlahan namun pasti, semakin terangkat menuju udara, membawa Will menuju kediamannya. Namun sebelum pergi, Will mengatakan sesuatu.

"Janganlah terlalu terburu-buru dalam menyerang, Honda. Atau itu nanti akan berakibat buruk bagimu" nasihatnya, dan Kiku tak mengerti. Will mendesah perlahan "Suatu saat kau juga akan mengerti."

Sudah dirasa cukup, Will lalu menuntun naganya untuk segera pergi dari situ. Kiku hanya memandangi punggung naga itu—dan penunggangnya dari kejauhan.

'Apa maksudnya Will-san ya?' batin Kiku. Namun ia tak peduli. Ia melangkahkan kakinya, dan berlari menuju arah teman-temannya yang sedang membantu Ludwig memapah kakak albino-nya dan jangan lupa anak ayam berbentuk bulat kuning itu.

Mereka tak sadar, bahwa penentuan kemana takdir akan mengarahkan mereka akan semakin dekat tanggal mainnya..

To Be Continued


~ Sesi Kamus(?) ~ (Kalau salah, hajar om gugle! #dibuang)

[1] Ludwig~, jól vagy?. Nem néz ki egészséges. Valami zavaró? (Magyar/Hungarian) = Ludwig, kau tak apa?. Kau tampak tak baik-baik saja, sesuatu mengganggumu?

[2] Ich binokayElizaveta, alles in Ordnung (German) = Aku tak apa Elizaveta, semua baik-baik saja

[3]Aber.. (German) = Tetapi.../Tapi...

[4] 'Ichhabeeserhaltenwerde. Heute Abendwerde ichan die Grenzegehen. Vielen Dank fürdieInformationen, ich hoffe,das ist wahr(German) = Aku sudah terima pesanmu. Malam ini aku akan pergi keperbatasan. Terima kasih atas informasinya, kuharap ini benar.

[5] Bruder? Bruder! Sie sindokay? (German) = Kakak? Kakak! Kau baik-baik saja?"

[*] Nessun Dorma, lagu seriosa penutup opera bernama Turandot yang dinyanyikan oleh... Pettucini (ITU NAMA MAKANAN BEG*!). OK, saya lupa yang nanyinya namanya siapa, tapi lagu ini pernah dinyanyiin Putri Ayu di IMB


A/N : Yahaha, pendek lagi. Sebenernya sengaja sih, soalnya saya masih menyimpan hal selanjutnya di chapter depan. Chapter depan kita sudah mulai masuk ke inti cerita! HOREEEE *tebarmawar* #disambet

OK, sekian bacot (singkat) saya, sekarang ripiu please~ Onegai ~. MAaf A/N ga bisa panjang-panjang m(_)m

~Sign

Mochiyo-sama