Hehe.. Otak lagi nyambung sama ini FF, jadinya ini dulu yang apdet. Hahaha... Oh iya, kalo ada yang menemukan FF ini di FB dengan akun Fingers Golden, itu saya. Hahahaha.. Okelah, let's move on!
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Title : Do for Kai
Episode : 2
Cast :
- Do Kyungsoo (women),
- Zhang Yixing as Do Yixing (women)
Support Cast :
- Wu Yi Fan as Do Yi Fan (men)
- Huang Zi Tao as Do Zi Tao (women)
- Park Chanyeol (men)
- Kim Jumnyeon as Jung Junmyeon (men)
- Kim Jongin (men)
Cameo :
- Lee Ho Won as Hoya (men)
Genre :
Romantic, Family, Drama
Rating :
T, amanlah pokoknya
Disclaimer :
Kita semua punya Tuhan. Tuhan punya kita. Cerita punya saya, dan Tuhan. #plak
.
.
- Do For Kai -
.
.
Aku menunggu Kyungsoo di kantin setelah mata kuliah Anatomi Dasar III selesai. Kantin tidak banyak orang, mengingat memang jam makan siang sudah selesai beberapa menit yang lalu, dan aku baru keluar ruangan. Tadi, Kyungsoo berkata jadwalnya juga selesai jam segini.
Lalu, disinilah aku, menunggu Kyungieku tersayang. Aku malas beranjak dari tempat duduk untuk ke kelas Kyungie. Karena paling paling, kalau Kyungie belum keluar dari kelas ketika jam sudah selesai, berarti masih ada tugas yang harus dikerjakan. Lalu, ketika aku ke kelasnya dan mengajaknya makan siang, teman temannya, apalagi Park Chanyeol yang itu akan menjauhkanku dari kelas dan berkata bahwa Kyungie sedang ditraktir makan siang di kelas.
Padahal yang kutahu, Kyungie berkutat dengan buku tebal disekitarnya. Aku tidak melihat bahan bahan yang bisa dimakan disekitar Kyungie.
Jam menunjukkan hari semakin sore. Aku terganggu, dan perutku lapar. Kyungie belum datang datang juga. Lama lama, aku akan menyuntik mati teman teman Kyungie, dan Park Chanyeol yang itu, kalau mereka menghadangku bertemu dengan kakakku lagi.
Kau mau tahu tidak, kenapa aku tidak menghubungi Kyungsoo supaya cepat datang?
Percaya atau tidak, cewek bernama Do Kyungsoo itu tidak punya ponsel. Dia mungkin tahu bagaimana cara mengetik dengan sepuluh jari di atas keyboard laptop atau komputer. Tapi, kutekankan sekali lagi, Kyungie tidak punya ponsel.
Dia beranggapan bahwa ponsel hanya membuat hidup orang susah, itu salahku sih, karena waktu ponselku terselip di sofa ruang tamu, aku panik tidak karuan. Tapi, Kyungsoo tidak tahu penyebabku panik. Jadi, dia beranggapan bahwa ponsel hanya membawa sengsara.
Kuharap dia tahu, yang sekarang sedang sengsara gara gara dia tidak punya ponsel adalah, kami semua. Orang orang disekitar Kyungsoo yang kadang kadang berusaha untuk menemukannya. Kurasa, kalau ponsel membuatnya sengsara, itu lebih baik daripada membuat setengah mahasiswa dan mahasiswi di kelasnya bingung mencar-
"Astaga!" aku berteriak dan berdiri dari dudukku. Menatap horor sesuatu yang baru saja terjatuh dan menimbulkan suara keras diatas mejaku.
Ada seorang pemuda-entah-dari-mana jatuh diatas mejaku. Jatuh diatas mejaku, kuulangi.
"Aarghh.." dan dia jatuh ke lantai. Aku terdiam sebentar, dan menoleh ke arah datangnya pemuda ini. Setelah mendapatkan jawaban, aku hanya mengangkat kedua alis malas.
'Kai.' kataku dalam hati. Mahasiswa jurusan Art, si pembuat onar kampus itu sedang berdiri dengan senyum sadisnya menatap 'mangsa' yang sudah jatuh kesakitan didekat kakiku. Tidak salah lagi, fighter itu yang baru saja melempar pemuda malang ini ke atas mejaku. Padahal, jarak antara kami lebih kurang dua meter. Hebat saja dia main lempar begitu.
Aku baru saja akan berteriak padanya untuk minggir ketika ada orang lain yang sudah siap dengan botol kaca menyabetkan ke kepalanya. Tapi kuurungkan niat begitu kulihat dia sudah mematahkan hidung dan merontokkan satu gigi depan orang itu bahkan sebelum orang itu bisa mengayunkan botol kaca tersebut.
Kai itu mengerikan.
"Arrghh.. Engghh."
Aku menunduk, melihat korban Kai yang ini. Maunya sih pergi begitu saja, apalagi dengan penduduk kantin yang sudah terpekik kaget dan memandang horor peristiwa lempar-orang-berdarah di tengah kantin. Beberapa barang di sekitar Kai yang berada di tengah kantin sudah tidak karuan, ada yang terbalik, bergeser jauh, juga patah. Bahkan tidak ada lagi mahasiswa atau mahasiswi yang ada di tengah area kantin, kecuali Kai dan 'musuh musuh'nya.
Dan aku.
Tapi tidak bisa, korban Kai yang ini menghalangi jalanku. Karena kasihan, kucoba untuk menolongnya. Kucoba. Hei! Aku ini anak jurusan keperawatan. Mau apa lagi aku selain menolong korban?
"Siapa namamu?"
"H-Hoya.. Aduh.. Sst.." ia meringis, memegangi rusuk kanannya. Wajahnya lebam dan sedikit memar di sana sini.
"Mana yang sakit?" tanyaku, ia lalu menunjuk rusuk kanannya. Berdesis 'ini benar benar sakit, dasar Kai sialan'.
"Kuharap kau tidak menyumpahinya. Oh.. Dan ini sepertinya..," saat aku menekan rusuknya lebih dalam, dia baru berteriak kencang, "..patah."
"Ibuku bisa menghukumku.. Ba-bagaimana ini?" tanya Hyoya pada dirinya sendiri. Aku menoleh pada Kai yang sibuk 'melayani' teman teman Hoya yang lain. Memukul, menendang, melempar. Memukul lagi, menendang, dan.. Dasar gila, dia tertawa.
"Tanyakan pada dirimu sendiri. Dan, lain kali, jangan berurusan dengan Kai. Besok besok, mungkin dia akan melemparmu keluar jendela." desisku dan berdiri lagi. Aku melangkahi Hoya dan akan berjalan ke luar kantin dengan sedikit merunduk sebelum aku menyadari ada seorang mahasiswi tengah memegang lengan Kai yang akan memukul sambil berkata,
"Hentikan, Kai! Kumohon! Jangan ada kekerasan lagi."
Astaga, itu Kyungie.
-Do for Kai-
"Hentikan, Kai! Kumohon! Jangan ada kekerasan lagi."
Kyungie mengatakan itu lagi. Pemuda berkulit gelap itu memandang Kyungie dengan pandangan ganasnya. Astaga, kupikir Hoya saja yang punya masalah dengan orang tuanya. Kurasa, setelah ini, kalau Kyungie punya satu luka lecet di tubuhnya-
"Jangan ganggu aku." Kai berkata dingin mendorong Kyungie kasar hingga ia menabrak meja.
-appa akan benar benar memindahkanku ke jurusan bisnis.
"Tidak! Tidak! Sudah cukup!" jerit Kyungsoo. Ya ampun, gadis ini sedang apa sih? Otaknya tidak waras ya?! Segera kuedarkan pandangan ke sekeliling kantin. Tidak hanya aku, orang orang disekitar juga memandang Kyungsoo dengan pandangan kau-bosan-hidup-ya? atau apa-yang-kau-lakukan-idiot! mereka. Kutemukai si tinggi, Park Chanyeol yang menatap kejadian itu mematung.
Chanyeol saja mematung, aku ingin menghajar Kai karena melukai kakakku.
"Jangan kira karena kau gadis manis yang cantik, lalu akan luluh padamu, nona. Tapi, kau memang manis dan cantik. Sekarang, pergilah!" kata Kai datar memandang Kyungie. Yang dikata begitu hanya memandang Kai tidak mengerti dan menoleh ke belakang. Mencari orang yang dimaksud Kai.
"Aku bicara padamu, nona." kata Kai lagi. Kyungie buru buru memandang Kai lagi, lalu menunjuk dirinya sendiri. Tapi, Kai tidak bereaksi apa apa. Demi apapun yang kupunya, aku tahu Kyungsoo sedang memerah pipinya gara gara ucapan Kai.
Setelah Kai membanting kakakku begitu, dia menggodanya? Aish... This man! Ketika aku akan melangkahkan kaki menuju Kai dan Kyungsoo. Suara Chanyeol menghentikan langkahku.
"Sebaiknya kau pergi dari sini sekarang, Kai-sshi." ujarnya dengan suara berat yang tangguh, aku melirik padanya. Boleh juga. Paling tidak, badannya lebih tinggi daripada Kai.
Sepertinya, Kai punya mangsa baru. Ia yang awalnya hanya menoleh pada Chanyeol lalu membalikkan badan menghadapnya dan memandang sembari tersenyum remeh. Itu dibuat kesempatan oleh para 'musuh' Kai yang tadi baru dibuat babak belur untuk cepat cepat kabur dari sana. Hoya membisikkan 'terimakasih' dan aku hanya mengangguk kecil. Ia segera berlari terseok seok seperti anak macan kalah bertanding.
"Bagaimana, kalau aku tidak mau pergi? Hei, pak Presiden Mahasiswa?" ujarnya benar benar mengajak rusuh. Aku memandang horor si presiden. Dia memang presiden, dia bisa melakukan semuanya, tapi Kai lebih bisa menghentikan ia untuk bernafas sebelum si presiden melakukan semuanya.
"Tidak seharusnya, kau membuat keributan disini, Kim Jongin!"
"Kau tidak punya hak berkata padaku, mata empat." Kai menendang kursi ke samping. Suara tabrakannya membuatku bergidik kaget. Ia berjalan angkuh pada Chanyeol, "kau benar benar tidak punya hak."
"Kau-"
Belum sempat Chanyeol menghabiskan kalimatnya. Tangan terkepal Kai sudah melayang dan... Dan tidak mengenai Chanyeol. Pukulan itu mendarat mulus di wajah gadis yang.. KYUNGSOO!
"KYUNGSOO!" teriakku. Kedua lelaki itu menoleh padaku tapi lalu fokus kembali ke gadis yang tersungkur diantara mereka.
"S-sungguh, Kai. Berhentilah memukul orang..," katanya saat aku berlari mendekat, mendorong dan menjejak meja yang menghalangi jalanku. "..aku tahu kau orang yang baik." katanya melanjutkan, sementara aku dan Chanyeol menolongnya berdiri.
Kai tidak berkata apapun, hanya memandang kami bertiga dengan dingin. Tidak meminta maaf pula! Apa apaan orang ini!
"YA! KAU! KIM JONGIN! SEDANG BERBUAT ONAR APALAGI KAU!" aku, Chanyeol dan Kyungsoo menoleh kebelakang. Terlihat, profesor Oh, dosen Kwon dan rektor Choi sedang berlari dengan wajah garang ke arah kami. Aku menoleh sedikit pada Kai yang tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Aku tidak berbuat apa-apa."
"YA! KAU.."
"Sabar, rektor Choi. Bersabarlah sedikit." kata dosen Kwon, dosen cantik pembimbingku untuk tesis akhir itu menarik lengan rektor Choi agar lelaki paruh baya itu tenang sedikit saat mereka sudah berhenti di sekitar kami.
"Aku tidak bisa tenang! Anak ini.. ANAK INI SUNGGUH KETERLALUAN! Sudah berapa kali kau berbuat onar disini, hah?! Kau ini niat kuliah atau hanya memukuli teman temanmu?!" teriak rektor Choi lagi, kurasa ini sudah diambang kesabarannya. Aku bisa melihat urat nadi keluar di kening dan wajahnya berubah merah.
"Mereka bukan teman temanku." ujar Kai dingin.
"KAU.. KAU DIKE-"
"Tidak! Jangan keluarkan, Kai, rektor Choi!" peganganku terlepas, dan orang yang harusnya ada di genggaman tanganku itu sekarang berdiri merentangkan tangan dramatis di depan Kai menghadap ke rektor Choi.
EEH?!
Itu koor yang semua orang di kantin, termasuk aku, keluarkan untuk adegan paling konyol yang pernah kulihat.
Kakakku, Do Kyungsoo, si kutu buku yang akan jadi pebisnis unggulan dan lulusan terbaik kampus melindungi fighter kampus yang sudah tidak bisa diampuni lagi? Dia?
Kyungsoo? Ini benar kau yang kukenal atau kau yang sedang kerasukan arwah?
-Do for Kai-
Tidak, dia bukan kakakku. Dia pasti kerasukan arwah saat dikelasnya. Apalagi kelas bisnis itu berada di area paling pojok di kampus. Dia pasti kerasukan arwah.
Tapi, tidak mungkin orang kerasukan arwah bisa berkata soal hak asasi mahasiswa yang masih bisa kuliah di universitas 'kan? Mungkin saja, dan itu bernama Do Kyungsoo.
"Kau gila, Kyung. Kau gila." kataku, membersihkan luka di sekitar mata hingga pipinya. Tadi sih samar samar, tapi sekarang darahnya mulai membeku dan menampilkan warna biru merah yang bercampur menjadi ungu. Aku mengusapkan pelan alkohol di pipinya.
"Kau sudah berkata itu puluhan kali, Xingie." katanya dan memperbaiki posisi kepalanya di atas bantal, "aku tidak gila. Aku sudah bilang, kalau dia orang baik, Xingie."
"Orang baik tidak akan melempar orang lain ke atas meja dan membuat tulang rusuknya patah."
"Ah! Kau menekannya terlalu keras!" kata Kyungsoo berjengit memegang tanganku. Aku mengangkat kedua alis dan menghembuskan nafas menyerah. Membuang kapas alkohol ke tempat sampah,
"Sori." kataku. Aku memunggungi Kyungie dan menatap kaca rias besar di seberang kamar berhadapan dengan tempat tidur merah jambu princess a la Kyungsoo. Berharap ini semua hanya mimpi dan tidak ada yang memukul Kyung tadi.
"Sekarang jelaskan padaku." aku lalu berbalik menatap gadis yang bermain dengan ujung selimutnya itu, "kenapa kau membela Kai didepan rektor Choi?" ucapku menghakimi.
Kyungsoo tidak menjawab, ia diam dan tetap bermain dengan ujung selimutnya. Lalu menatapku dengan mata bulat dan berkilau itu. Astaga, apa tadi? Berkilau?
"Tidak. TIDAK! Kyung! JANGAN GUNAKAN TATAPAN ITU! OKE OKE! AKU TIDAK AKAN MENANYAKAN ALASANMU, PUAS?!" ujarku menjerit, berdiri dan menutup wajah dari puppy eyes Kyungsoo barusan. Kyung hanya tertawa kecil melihat reaksiku.
Kyung punya puppy eyes yang siapapun tak bisa menolaknya, untuk kasus ini mungkin Kai punya tamengnya. Ketika ia sudah memandangmu begitu, tidak akan kau berkata 'tidak' pada anak anjing hilang yang mencari rumahnya. Dulu, ketika pertama kali Kyung melakukannya itu padaku, ketika aku sadar, aku sedang membuat semangkuk mie ramen dan membuatku terlambat sekolah. Waktu itu Kyung sakit dan aku sudah menolaknya ketika ia minta dibuatkan ramen. Penjaga pintu gerbang sekolah menyuruhku jalan jongkok ke kelasku di lantai 3.
Aku benci puppy eyes milik Kyungsoo.
"Xingie.. Jangan memunggungiku terus. Kau marah padaku ya?" katanya memelas. Aku tidak bisa tidak menghiraukannya. Saat aku berbalik ia menatapku tersenyum.
"Oke, kalau aku tidak bisa mendapatkan jawaban kenapa kau membela Kai. Sekarang, berikan aku sebuah alasan untuk appa ketika ia pulang kerja dan melihatmu lebam."
"Kau sudah menceritakannya pada umma 'kan?"
"Oh! Tentu, aku sudah menceritakannya pada umma. Apalagi bagian dimana kau dipukul Kai di depan mataku. Aku heran, kenapa aku masih bisa ada di kamarmu ya?" ujarku sarkastik. Memangnya umma akan membiarkanku selamat begitu saja ketika dia tahu aku tidak melakukan apa apa saat Kyung terlempar di depanku. Tidak. Umma adalah mata mata si makhluk berambut pirang itu. Jadi, kupikir, tidak.
"Xingie.. Jangan galak galak begitu dong."
"Aku tidak galak padamu, Kyung. Aku cuma-"
"Permisi, apa boleh aku masuk?" suara itu. Langsung aku menghentikan acara frustasiku karena Kyung tepat saat lelaki itu membuka pintu kamar. Aku tersontak, tubuhku kaku, menolehkan kepalaku derajat demi derajat.
"Anneyong, Junmyeon-sshi. Silahkan masuk." kata Kyung dengan suara ringan. Aku mengangguk dan tersenyum kaku. Ya ampun, ya ampun. Dia ada disini, dia ada disini! Harus bagaimana? Aku harus bagaimana? Tanganku berkeringat dingin, perutku sudah melepaskan kupu kupunya yang menggelitik.
"Anneyong, Kyungsoo-sshi. Yixing." katanya tersenyum lembut padaku. Aku menjawab 'anneyong Jumnyeon-sshi' lirih saat ia masuk ke kamar mendekati Kyungsoo.
"Wah, kau benar benar jatuh dari tangga kampus, ya?" kata Jumnyeon melihat wajah lebam Kyungsoo. Yang ditanya begitu hanya meringis. Jumnyeon, si calon dokter muda itu (dia calon dokterku juga) memeriksa Kyungsoo sembari duduk di tempat tidur di samping Kyungsoo. Memandang lebam itu, menyentuhnya sedikit.
"Boleh aku tahu diagnosanya, Yixing?" ujarnya tidak lepas dari tatapannya di lebam itu.
"Eh.. Err.. T-tidak luka laserasi, dan.. Er.. Pembengkakan yang sekarang itu kategori normal." kataku, mataku tidak lepas dari belakang kepala Jonmyun yang sedang memeriksa Kyungsoo. Lelaki itu melepaskan sentuhannya di pipi Kyungsoo dan tersenyum malaikat pada kami berdua.
"Ibumu menceritakan soal jatuhnya Kyungsoo tadi saat berbincang degan Ibuku. Aku yang kaget lalu kemari dan melihat sendiri. Sepertinya, lumayan parah..," kata Jumnyeon masih memandang Kyungsoo lalu memandangku, "..tapi aku senang kau baik baik saja."
Aku tersenyum kaku membalas ucapan Junmyeon sementara Kyungsoo terbatuk batuk buatan kecil sembari melirikku. Junmyeon lalu berdiri dan akan keluar dari ruangan jikalau tidak tiba tiba pintu terbuka kasar dan menampakkan raksasa yang tadi bersamaku membopong Kyungsoo pulang dari kampus.
"K-Kyungsoo-sshi! A-apa kau baik baik saja?" tanya Chanyeol dengan wajah lelah seperti berlari dari kejaran anjing penjaga di depan rumah. Seingatku, kami tidak punya anjing penjaga.
"Oh.. Chanyeol-sshi.. Anneyong. Aku tidak apa apa, Xingie sudah menjagaku, kok." kata Kyungsoo tersenyum lembut. Jumnyeon mengangkat kedua alis terkejut melihat kedatangan hoobaenya yang langsung menerjang masuk ke dalam kamar.
Dan kegiatan Jumnyeon itu kuikuti setelah tiba tiba Chanyeol menutup pintu kamar dengan kasar.
"Ada apa, Chanyeol?" tanya Jumnyeon. Chanyeol lalu memandang Jumnyeon dan menunduk memberikan salam, setelah itu kembali berdiri tegak lagi menempel pada pintu.
"Ada yang mengejarku, sunbaenim." katanya pelan. Aku dan Junmnyeon saling berpandangan heran,
"Siapa?" tanyaku. Memang ada pelayan disini yang suka dengan Chanyeol ya? Mengingat dia sering datang kemari untuk belajar bersama kakakku. Itu modus, aku tahu. Dia sering melontarkan kata kata cheesynya pada Kyungie.
"I-Itu..,"
"GUK!"
"Poppy?" kata kami bertiga berbarengan. Anjing Pomeranian milik Kyungie dan aku itu memang suka mengejar orang lain mengajak bermain. Tapi Poppy itu tingginya 12 inchi, dan raksasa ini 6 kaki. Apa yang harus ditakutkan?
"Nah.. Dia... Mengejarku."
Aku lalu menoleh kebelakang menatap Kyungsoo yang mengeluarkan mata bola pingpongnya tidak percaya melihat kejadian itu. Ketika aku menatap Jumnyeon.. Aku melihat malaikat. Tapi, ketika aku melihat Chanyeol, dia menyedihkan. Titik.
-Do for Kai-
Aku menyesal tidak menggeret Kyungsoo untuk turun dan makan malam dengan appa dan umma. Semenjak tadi aku memakan main course, pandangan makhluk-berambut-pirang itu sudah seperti menggerayangi leherku menunggu untuk mencekik.
"Apa yang terjadi pada Kyungsoo, Yixing?" katanya pelan, aku menoleh dan menghapus sisa bumbu di bibir.
"Dia terjatuh."
"Saat?"
"Saat mau makan siang denganku." kataku kembali lagi menyayat nyayat daging diatas piring. Sekarang, aku tidak mau memakannya.
"Aku tidak tahu ceritanya. Chanyeol datang padaku dan bilang Kyung sudah di ruang perawatan," ujarku sekenanya, memandang piring dan appa bergantian, "jangan perlihatkan pandangan menyalahkanku lagi, Dad."
"Sudah, sudah, jangan bertengkar lagi." ujar umma menengahi, tapi Kyungie benar, aku dan appa adalah orang orang dengan kepala batu.
"Kalau kau menjemputnya, mungkin akan lain ceritanya. Dia tidak akan terjatuh."
"Kris, berhenti menyalahkan, Yix-"
"Memang Dad mengharapkanku menjadi bodyguard Kyungie terus menerus di kampus? Aku juga punya kesibukan sendiri."
"Xingie, jangan kasar begitu pada-"
"Sebagai adik yang baik, harusnya kau tahu kakakmu gampang terluka."
"Kris, ja-"
"Oh, kupikir selama ini latihan ski Kyungsoo tidak membuatnya gampang terluka."
"Yixing."
"Dia memakai pelindung untuk latiahan ski. Memangnya dia juga harus memakai itu semua di kampus begitu maksudmu?"
"Yifan."
"Entahlah, kalau-."
Duk.
Suara pelan dari sebuah tangan memukul meja makan itu menarik perhatian kami yang sedang bertengkar. Umma memandangku dan appa bergantian lalu menghembuskan nafas menyerah. Ia lalu kembali memotong daging diatas piring.
"Berhentilah bertengkar, kalian berdua. Makan malam kalian."
"Tapi.." appa dan aku akan menyanggah kalau tidak tiba tiba umma berkata,
"Tidak ada tapi-tapian, kecuali kau, Yixing, mau uang sakumu kupotong setahun. Dan kau, Do Yifan, tidak ada jatah untuk selamanya sampai aku tak kesal padamu."
Aku terdiam, uang saku dipotong sih tidak masalah. Tapi, yang masalah adalah umma tahu aku mengincar iPod terbaru Apple dan itu berarti aku tidak bisa menabung untuk setahun. Dan untuk hukuman appa...
"Chagiya.. Jangan begitu dong.. Aku kan berkata begitu pada Yixing hanya bercanda... Chagi..," kata appa mencolek colek lengan umma yang sibuk makan daripada memperhatikannya. Wajah garang itu menghilang dan sekarang menjadi wajah anak kecil yang meminta permen pada ibunya. Appa terus terusan mencolek colek lengan, telinga, pipi dan dagu umma hingga wanita berparas ayu dengan kantung mata seperti panda itu menoleh padanya. Tapi, tidak ada yang terjadi.
Untuk hukuman appa, biar itu jadi hukumannya saja. Ujarku sambil menahan tawa.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
...
...
..
.
To Be Continued...
So.. Mind to leave comment, please?
Oh iya, ini sekalian Ginger mau bales Review. Terimakasih reviewnya, jangan sungkan untuk mereview karya Ginger yang lain :)
Nadya : Iya, hahaha... Yang di FB nggak papa nggak di komen, di wakilin disini ninggalin jejak. Hahaha.. Jangan lupa RnR lagi untuk chapter ini! :)
nickkendewi : Beneran nih Soo sama siapapun boleh? Sama aku boleh nggak? Hahaha... Jangan lupa RnR lagi untuk chap ini :)
BabySulayDo : Oh, nggak. SuLaynya nggak lewa, cuma nyebrang aja. #Plak. Ha? Nggak, sebenernya si Kyungsoo belajar bisnis ya karena dia seneng aja. Dan kebetulan si Kris juga seneng anaknya belajar bisnis. Gitu... Hehe. Jangan lupa RnR for this chapter! :)
Salmon : ini dia udah muncul! hahaha.. Jangan lupa RnR lagi ya! :)
BBCnindy : gimana kalo si-anak-yang-menyelamatkannya-saat-ski-14-tahun-yang-lalu ternyata Chanyeol? Takdir bisa berubah loh. APAKAH DIA MEMANG BENAR BENAR KAI? #digorok Hahaha.. Terimakasih reviewnya, jangan lupa RnR lagi :)
Lana : Ini udah! Hahaha *kibar bendera SuLay*
SooBaby1213 : Ya.. Kalo nggak ada TBC, jari Ginger bisa keriting dong. Hahaha. Ini udah kilat, dibantu sama petirnya abang Chen! :) Jangan lupa RnR! :D
Kazuma B'tomat : Ini udah ditambah. Lagipula, si Lay sama Kris pasti 'perang' terus kok kalo ketemu. Hahaha... Tapi Kris sayang kok sama Yixing. Sayang.. Sebagai anak maksudnya *dipelototin Tao*. Oke, jangan lupa RnR :D
Kim Haerin-ah : Nggak papa kepo, mumpung kepo masih gratis. Hahaha.. Oh, teriak? Ya.. Dia kan pamer suara. Suaranya bagus. Hahaha. Oke oke, jangan lupa RnR, ne? .
littleyeoja : kamu juga reader daebak udah ninggalin komen! Hahahaha.. Ini udah di update, silahkan dibaca dan jangan lupa RnR! :)
Everyone, thanks for your attention! Please relax again and wait for the next chapter!
