Terimakasih atas segala support yang sudah diberikan. Sangat amat berarti untuk Ginger :). Hehehe.. Nggak usah berlama lama, ingin tahu kelanjutan kisahnya? Now, be patient and read this out! :)
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Title : Do for Kai
Episode : 3
Cast :
- Do Kyungsoo (women),
- Zhang Yixing as Do Yixing (women)
Support Cast :
- Wu Yi Fan as Do Yi Fan (men)
- Huang Zi Tao as Do Zi Tao (women)
- Kim Jongin (men)
- Jung Yonghwa (men)
- Kim Jumnyeon as Jung Junmyeon (men)
Cameo :
- Leejoon as Chansung (men)
- Lee Chaerin (women)
- Kwon Jiyong (men)
Genre :
Romantic, Family, Drama, Comedy
Rating :
T, amanlah pokoknya. Kecuali kalo Kai sudah mulai beraksi, itu bisa berubah lagi.
Inspired by:
Grey's Anatomy and Ai To Makoto (for Love's Sake)
Disclaimer :
Kita semua punya Tuhan. Tuhan punya kita. Cerita punya saya, dan Tuhan. #plak
.
.
- Do For Kai -
.
.
Sampai sekarang pun, aku tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Kyungsoo. Kudengar hari ini Kyungsoo memindahkan Kai ke jurusan bisnis yang itu berarti mereka akan satu kelas. Apa sih yang diharapkan Kyung dari Kai ini? Dia mau dilempar dari jendela kelas ya?
"Kyung," kataku saat makan siang, "sebenarnya, apa yang kau lakukan?"
Dia mengunyah saladnya dan menatapku dengan pandangan bertanya, "apa? Memang apa yang kulakukan?"
"Dengar ya. Kau meminta appa untuk menangguhkan hukuman drop out Kai, lalu sekarang, kau memindahkan Kai ke kelas Bisnis. Kau tahu, Kai tidak tertarik dengan bisnis." kataku berdesis, takut ada yang mendengar, "sebenarnya kenapa sih kau tertarik pada Kai ini?" dan sekarang aku frustasi.
"Aku tertarik untuk menolongnya."
"Dia tidak bisa ditolong lagi, Kyungie. Dia. Sudah. Jatuh."
"Kau bilang, semua orang bisa ditolong jika ada harapan. Aku mau menolongnya." katanya polos. Aku menepuk kening pelan.
"Itu lain masalah, Kyung. Sungguh." aku lalu melihat luka di pipi Kyung yang mulai memudar, "lukamu saja belum sembuh. Kau mau dia menamparmu lagi?"
"Yixingie. Dengarkan aku." katanya lalu tiba tiba menggenggam tanganku, menatapku dengan kedua matanya, aku menutup mata, "terserah kalau kau mau menutup matamu atau apalah. Tapi, yang jelas, aku tahu dia orang baik. Dan aku akan menolongnya. No offense."
Saat Kyungie melepaskan genggamanku, aku dengan takut takut membuka mata. Oh bagus, mata Kyungie sekarang normal lagi. Aku memandangnya dengan penuh perhatian dan sejuta tanda tanya berbagai ukuran di pikiran. Memikirkan apa yang sedang terjadi.
Yang terjadi adalah, Kyungsoo kemarin meminta appa untuk 'menangguhkan' hukuman Kai dan memintanya untuk mengeluarkan beasiswa perusahaannya untuk Kai. Jangan tanyakan padaku bagaimana Kyungsoo memintanya. Kau-tahu-apa-yang-dia-lakukan.
Tapi, appa memberikan satu syarat, yaitu jika Kai mau menerima beasiswa, maka dia harus pindah ke jurusan bisnis sama dengan Kyungie. Syarat disetujui dan Kai resmi jadi mahasiswa bisnis. Yang appa tahu adalah Kai salah satu sahabat baik Kyungie dan Kyungie harus membantu sahabatnya.
Kalau saja si makhluk-berambut-pirang itu tahu sahabat baik Kyungie adalah si pembuat luka lebam di pipi Kyungie, kurasa Kai sekarang tidak berada di dunia. Terlalu jauh bilang Neraka-Surga, mungkin ia akan terkatung katung diantara langit dan bumi, berteman dengan Jack-o'-lattern dan anak anak kecil akan berpakaian mirip Kai setiap malam Halloween.
"Aku hanya ingin mengubah hidupnya. Mengubah takdirnya." ujar Kyungsoo mengaduk salad, aku mengangkat alisku.
"Apa?" kataku memastikan. Sejak kapan kakakku terobsesi jadi Dewa pengubah takdir begini?
"Dia pasti bisa hidup dengan kehidupan yang lebih baik. Lebih banyak cinta." ujarnya. Aku mengerutkan kening. Lebih tidak bisa dimengerti. Apa yang bisa lebih baik? Apanya yang lebih banyak cinta? Aku menelan kata kata 'kau gila, Kyung'ku lagi dalam diam.
"Kyung, setelah ini kau ada kelas jam berapa?" tanyaku mengerling buku panduan Bisnis dan Budaya yang dijadikan tumpuan siku oleh Kyungsoo. Merasa tidak mendapat jawaban, aku mendongakkan kepala dan melihatnya memandang ke satu arah.
"Kyung?" kataku sembari mengayunkan tangan di depan wajahnya,
"Jam 2 dan, Xingie, sepertinya aku harus pergi duluan." katanya sembari buru buru berbenah barang barang yang ada di atas meja, aku lalu melihat jam tangannya,
"Tapi, ini 'kan masih jam 12 lebih- hei, Kyungie?! Kau mau kemana?!" teriakku ketika Kyungsoo sudah berjalan cepat meninggalkan meja kami,
"Aku melihat Kai. Kurasa dia akan ketaman belakang dan merokok lagi. Kau tahu 'kan rokok itu tidak baik untuk kesehatan?!" teriaknya dan berlari kencang. Aku memandang kibaran rambut hitam yang pelan pelan menghilang dari jangkauan mata.
Sebenarnya, Kyungie, yang tidak baik untuk kesehatan itu adalah makhluk bernama Kim Jongin. Dia tidak baik untuk kesehatanmu.
- Do for Kai -
Ini sudah jam setengah enam sore, dan Kyungsoo belum pulang kerumah. Hari ini kudengar dua dosen pembimbing tesis akhir Kyungsoo tidak hadir di kampus. Itu artinya, Kyungsoo seharusnya sudah pulang lebih dari dua jam yang lalu.
"Kau benar benar tidak tahu kemana Kyungie, Xingie?" tanya umma padaku, ia sedang berada di belakang bar dapur bersih, membuat kopi hangat untuk appa sementara aku duduk di kursi bar. Aku hanya menggeleng pelan.
"Mungkin ada kelas tambahan." jawabku sekenanya. Meskipun tidak yakin, kuharap itu bisa menenangkan umma yang terlihat khawatir. Aku lalu harus mencari cara bagaimana menemukan Kyungie, meskipun tidak jarang kami pulang terpisah tapi kali ini insting mengatakan hal lain.
"Ah.. Umma!" kataku berpura pura teringat sesuatu, ia hanya membalasku dengan deheman pelan, "sepertinya aku harus kembali ke kampus."
"Wae?"
"Eh.. Memeriksa hasil labku." ujarku menggarukkan kepala, memang kapan aku pernah masuk laboratorium biologi? "Sudah dulu ya, umma. Sebelum makan malam, aku pulang."
Aku meloncat dari kursi dan mencari cari kunci vespa milik appa yang tak pernah dipakai. Dia hanya membelinya karena dia suka, duh. Alhasil, aku yang iseng iseng selalu memakainya pergi ke kampus, atau kemana saja.
Setelah Chansung, supir pribadi kami yang kocak itu membukakan pintu pagar, aku langsung tancap gas menuju ke kampus. Kalau sudah sore begini, pasti jalanan ramai dan macet. Bisa bisa aku pulang waktu appa pulang nanti. Dan... Aku tidak mau berpikir soal makhluk-rambut-pirang itu.
Kira kira, kemana Kyungsoo pergi? Apa dia pergi dengan Kai? Kalau sampai si hitam itu berbuat aneh aneh pada kakakku. Habis nyawanya. Paling tidak, aku bisa menyuntikkan cairan euthanasia sementara ia main pukul. Kenapa sih kakakku harus berurusan dengan manusia setengah iblis pencabut kebahagiaan orang itu? Kenapa dia tidak berkutat dengan Chanyeol saja? Paling tidak 'kan, Chanyeol tidak akan melempar Kyungsoo meskipun tubuhnya lebih tinggi bersenti sentimeter dari Kyungie.
Satu belokan lagi, sudah sampai kampus. Padatnya kota terlihat jelas waktu aku berhenti di traffic light. Sekarang, aku tidak yakin bisa pulang sampai dengan waktu yang ditentukan. Suara mobil berisik yang menyeruak masuk ke telinga dan asap mobil serta motor yang kadang kadang membuatku malas naik motor vespa. Tapi, masih ada alasan lagi yang paling menyebalkan kalau kau naik motor sendirian begitu. Digoda orang.
"Hai, gadis manis." Tuh kan.. Oh tidak. Jangan menoleh Yixing, jangan menoleh
"Sombong sekali, bagi senyum dong." Aku menolehkan wajah jauh jauh dari suara yang datang dari mobil sedan BMW di sebelahku.
"Kalau tak mau bagi senyum, menoleh saja, cantik." aduh, mati aku. Aku mendongak ke lampu merah, masih merah. Cepat hijau.. Cepat hijau...
"Kalau kau ketus begitu, mana bisa jadi perawat yang disukai pasien?" dan aku menoleh pada orang disamping ini. Seketika itu wajahku jadi memanas, sepanas panasnya. Lebih merah dari tomat, kalau bisa, setelah menemukan si penggombal barusan.
"J-Junmyeon-sshi?" kataku terbata. Senyum malaikat diiringi tawa lonceng gereja itu (iya, aku tahu itu terlalu hiperbolis, ada masalah?) mengisi telingaku disela sela deru mobil dan motor yang menyesakkan.
"Hai." katanya manis, aku pura pura melihat traffic light yang masih merah karena malu dan menunduk melihatnya lagi.
"Darimana?" tanyaku.
"Dari kampus, dan... Jemput preman satu ini." ia menunjuk seseorang di kursi penumpang sebelahnya dengan ibu jari. Oh, Jung Yonghwa. Kakak satu satunya Junmyeon yang sedang tidur sambil menyandarkan kepala ke kaca mobil, "kau mau kemana?"
Aku melihat trrafic light, oh, merahlah selamanya!
"Mau ke kampus." ucapku memandang wajah malaikat yang menyiratkan kebingungan.
"Kau ada kuliah?" aku menggeleng, "lalu?"
"Mau lihat hasil lab." aku memandang jalan yang ramai dan memandangnya dengan senyum grogi. Tapi, Junmyeon adalah Junmyeon. Temanku dan Kyungie dari kecil, dia pasti tahu aku berbohong. Kali ini, aku percaya diri saja berbohong di depannya. Siapa tahu berhasil.
"Sejak kapan anak keperawatan pakai laboratorium?"
"Sejak kau bertanya." jawabku sekenanya, melihat trrafic light yang masih merah.
"Hei, Yixing. Kenapa kau kampus?" tanyanya lagi, aku menoleh padanya sebentar lalu tersenyum.
"Aku sudah bilang."
"Katakan begitu lagi, kucium kau disini." ujarnya percaya diri. Aku terkejut, wajahku memerah lagi, duh, Jumnyeon sialan.
"Cium saja kalau berani." dan dia membuka safety beltnya, hampir saja membuka pintu kalau aku tak berteriak,
"OKE OKE! Aku ke kampus, mencari Kyungie. Kau bertemu dengannya tidak?" kataku gugup. Junmyeon menggeleng, memakai safety beltnya lagi.
"Dia belum pulang?" tanyanya. Ganti aku yang menggeleng. Traffic light sudah berubah warna jadi hijau. Selamatlah aku, tapi, aku harus berpisah dengan Junmyeon dong?
"Sudah hijau! Anneyong, Junmyeon-sshi!" teriakku dan tancap gas. Kalau mau jujur, sebenarnya aku tak bisa mengendarai vespa lagi. Jantungku sudah tidak berdetak alias terlalu lelah untuk berdetak gara-gara tadi terlalu bersemangat berdetak.
Saking banyaknya darah yang dialirkan oleh jantung, sampai sampai aku harus tancap gas entah kemana. Melewati kampusku begitu saja, dan baru sadar kira kira 5 meter setelahnya.
"Duh," rutukku, "Junmyeon tampan yang sialan."
- Do for Kai -
Kampus sudah sepi, iyalah, jam berapa ini? Puul 6 lewat 15 menit sore. Hanya ada beberapa mahasiswa atau mahasiswi yang lalu lalang di sekitar taman kampus. Tidak jarang diantaranya berdiskusi soal tugas yang seenak jidat diberikan para dosen.
Aku bertanya tanya soal 'hilang'nya Kyungie. Kemana dia ya? Apa hang out dengan teman temannya? Ah, tapi Kyungie tipe orang yang hang out itu sama dengan baca buku di perpustakaan.
Perpustakaan!
Aku melarikan langkah ke perpustakaan, sedikit bergidik soalnya kampus sepi. Sesampainya, aku melongokkan kepala dan tersenyum pada Lee Chaerin, gadis manis penjaga perpustakaan. Omong omong, dia manusia.
"Chaerin, kau lihat kakakku tidak?" tanyaku. Chaerin, teman satu angkatanku tapi beda jurusan itu hanya menggeleng.
"Apa tadi dia kemari?" tanyanya. Aku menggidikkan bahu dan tersenyum,
"Kau kan yang jaga perpustakaan, mana aku tahu, Chae..," kataku. Chaerin lalu menepuk keningnya dan tersenyum membuat matanya menyipit. Saat aku mengedarkan pandangan ke sekitar perpustakaan, terlihat seorang mahasiswa dengan rambut putihnya sedang duduk di meja dekat kami. Aku lalu memandang Chaerin yang sibuk memeriksa daftar hadir.
"Chae, Jiyong serius sekali membacanya. Dia menungguimu ya?" tanyaku. Chae lalu mengangkat kepalanya dan menoleh pada Jiyong. Wajahnya lalu bersemu, dan aku tertawa pelan.
"Yang langgeng ya." kataku sambil tertawa pelan dan keluar dari perpustakaan. Tidak mengindahkan teriakan 'Ya! Do Yixing! dan terus keluar.
Kemanakah Kyungsoo? Sepertinya, aku benar benar harus memaksa Kyungsoo untuk beli ponsel. Okelah, kalau dia menolak membeli ponsel, segenggam pager pun tak apa. Pokoknya alat untuk mengetahui dimana Kyungsoo berada.
Ketika aku melewati kelas bisnis yang berada di pojok kampus itu, rasa merinding menelusup ke tengkuk dan punggung. Rasanya menyesal masuk ke gedung ini, karena ternyata tidak ada mahasiswa sama sekali. Tepat ketika aku keluar dari memeriksa salah satu ruangan, sebuah bayangan orang tengah duduk bersandar di dinding menyita perhatianku. Ketika aku mendekatinya...
"Kai?"
- Do for Kai -
Dulu aku tidak tahu bagaimana kisah Kai masuk universitas swasta yang mahal ini. Kupikir, karena aku masih junior, maka aku tidak akan pernah mengetahuinya. Tapi, aku salah. Kisah Kai bisa masuk ke universitas ini bagaikan sebuah kisah Cinderella yang mau tidak mau, suka tidak suka, semua orang tahu atau hafal dengan ceritanya.
Garis besarnya adalah, Kai menyelamatkan seorang kakek dari sekumpulan pemuda berandalan yang akan mengambil dompetnya. Dan ternyata kakek tersebut adalah si pendiri universitas ini. Mengharukan. Aku bertanya tanya, apakah Kai waktu itu terlihat polos hingga sang kakek mau memasukkannya ke universitas ini?
Ada dua versi. Kai memaksanya, atau Kai berwajah seperti Puss in Boots.
Lelaki tanpa ekspresi itu masih tetap memandangku, sekarang malah aku gemetaran. Pasti Kai itu titisan iblis, lihat saja bagaimana cara ia memandangku. Rasanya aneh kalau tidak melihat kedua iris hitam itu bewarna hitam, harusnya kan merah darah.
Iya, aku tahu aku hiperbolis, ada masalah?
Ia lalu berdiri, masih menatapku lurus lurus dan mulai melangkahkan kakinya kearahku. Herannya, aku tidak tertarik untuk pergi dari sana, atau lari, atau melemparinya dengan batu. Aku malah kulakukan sekarang adalah mencoba membaca Kai, karena memang tidak pernah melihatnya secara jelas atau memang aku saja yang malas melihatnya.
Ketika kakinya bergerak, ia seperti singa arogan yang mengincar mangsanya. Mungkin langkah itu akan jadi beringas kalau mangsanya berlari, tapi karena ini aku, Do Yixing, yang tidak apapun kecuali badut, kupikir singa itu hanya akan mengitariku dan menyergap dimana mataku tak bisa menangkap gerakannya. Mengerikan, bukan?
Kadang kadang, aku bertanya tanya dalam hati, sebenarnya Kai ini manusia bukan sih? Serius. Kalau ada yang bilang Kai itu titisan Setan, aku menolaknya. Dia itu titisan Iblis. Apa bedanya? Iblis itu kastanya lebih tinggi dari setan. Katanya sih. Aku kan tidak punya teman Iblis atau setan, mana kutahu. Yang jelas, ketika berada di dekat Kai, tidak ada yang tidak merasakan aura bunuh-membunuhnya. Bibirnya itu tidak pernah melengkungkan senyuman tulus. Jangan jangan dia lupa caranya tersenyum?
Tapi, kurasa aku tahu kapan saatnya dia tersenyum sangat lebar dan tertawa.
Waktu dia melihat musuhnya jatuh, merintih memohon dan bersimbah darah.
Masih mau bilang Kai itu manusia? Big no no.
Tak menghitung langkah, ia berada sangat sangat dekat denganku. Aku lalu mendongakkan kepala waktu pandanganku tertutup kemeja biru membungkus sebidang dada tegap dan keras, mungkin kalau aku mau menyentuhnya. Dua mata tanpa emosi itu menatapku penuh perhatian.
"Katakan pada kakakmu," ia mulai bicara dengan berbisik, menundukkan wajahnya sejajar dengan telingaku. Aku sampai bisa menghirup aroma yang menguar dari tubuhnya, "aku. Membencinya."
Ia lalu menarik diri dan berjalan melewatiku. Aku terpaku. Lebih kepada terkejut karena perlakuan Kai barusan padaku. Lantas, aku ingat kenapa aku berada di kampus ini.
"Dimana dia?" ujarku lalu berbalik menatap punggung yang tidak jauh dariku. Ia tidak menjawab dan terus berjalan, "dimana orang yang kau benci itu?" ucapku.
Ia lalu menoleh sebatas pundak, tapi aku bisa melihat satu tarikan mengerikan di bibirnya, "aku melenyapkan orang orang yang ku benci."
Kepalaku pening, rasanya aku ingin berteriak dan menghajar Kai saat ia mengatakan hal itu. Tidak.. Mungkin.. 'kan? Tapi, pertanyaan itu hanya berputar dikepalaku karena Kai menghilang dalam kelas yang tadi kumasuki. Saat aku akan berlari mengejar Kai, ponselku berdering tanda ada pesan masuk.
'Cepat pulang. Kyungsoo sudah pulang. Kau tidak mau keduluan appapulang 'kan?' dari umma. Aku mendongakkan kepala memandang jalan dimana Kai menyusurinya, lalu berbalik pulang. Sebuah fakta menggelitik di kepala.
Aroma yang bisa kuhirup saat Kai mendekatiku, tidak ada bau rokok yang tadi siang Kyungsoo katakan padaku.
- Do for Kai -
Aku tidak banyak bicara saat makan malam. Tidak juga sih, hanya gumaman gumaman kecil agar Kyungsoo mengambilkan lauk atau air untukku. Selebihnya, tidak. Ngobrol dengan appa pun malas. Ya ampun, rasanya aku ingin menyelesaikan makan malam yang entah kenapa jadi tidak berguna ini dan melenyapkan diri diantara kasur dan selimut.
"Yixing." panggil appa, aku memandangnya, "kenapa kau diam saja? Seperti baru bertemu setan saja." oh, tumben appa mengatakan hal yang sebenarnya.
"I saw," kataku, menelan sayur bulat bulat, "now."
Kyungsoo terkikik tertahan, dan umma menghembuskan nafas pasrah. Aku melirik appa yang menatapku dengan satu alis terangkat. Demi semua koleksi sepatu CL leader 2NE1 yang banyaknya sama seperti buku Kyungsoo, appa hanya memakan kembali saladnya tanpa komentar.
Aku kembali tenang.
Ketika Kyungsoo menyelesaikan makan malamnya, aku buru buru menyusulnya. Kata kata Kai terngiang lagi di telingaku. Aku juga ingin tahu kemana Kyungsoo pergi sepanjang sore. Jadi, aku mengikutinya masuk kekamar dan mulai menginterogasinya.
"Darimana saja kau?" tanyaku, Kyungsoo yang akan naik ke tempat tidurnya, lalu menoleh dan tersenyum. Ia lalu naik ke tempat tidurnya,
"Di kampus."
"Sedang apa?"
"Baca buku, di perpustakaan."
"Sampai jam berapa?"
"Ehm... Sampai aku pulang."
"Bertemu dengan Chaerin tidak?"
"Iya."
"Ada siapa saja disana?"
"Hanya Chaerin, aku dan Jiyong."
Aku mendekapkan tangan di dada, menatap menelisik kakakku yang memandangku dengan mata bulatnya yang bisa keluar kapan saja. Aku menghembuskan nafas dan mendekati tempat tidurnya, mungkin Kyungie harus tahu apa yang Kai katakan padaku.
"Dengar, Kyungie. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." kataku, duduk disampingnya. Ia menggeser duduknya, membuatku juga duduk diatas tempat tidur. Kyungie menatapku ingin tahu,
"Ya?"
"Jauhi Kai." kataku pelan dan singkat. Kyungie lalu menatapku lekat lekat, dan lalu mengangguk anggukkan kepalanya sambil tertawa pelan.
"Kau sudah mengisyaratkan padaku itu kira kira... 20 kali."
"Sepanjang kau berdiri untuk Kai. Aku sudah mengatakannya itu padamu," ujarku protes, "aku bertemu Kai hari ini. Dan kau tahu apa yang ia katakan padaku?" tanyaku. Ia menggeleng.
"Dia bilang, dia membencimu. See? Dia membencimu. Itu artinya, jauhi dia." kataku menekankan segala kata dalam kalimatku barusan. Ia tersenyum manis,
"Aku tidak akan menjauhinya, Xingie." katanya masih dengan senyum lembut, "aku akan berada di sisinya. Melakukan apapun yang bisa kulakukan untuk merubah hidupnya. Aku tahu, dia adalah orang baik Xingie. Sama sepertimu, kau juga orang baik 'kan? Maka, aku akan membantunya."
Seketika itu, aku tahu aku kalah.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
...
...
..
.
To Be Continued...
So.. Mind to leave comment, please?
Septaaa : Ahh… the one of my favourite author leave comment at my fanfiction! Hehehe.. Nggak papa nggak papa, karena Septa author favorit saya, jadi dimaafkan. Oh, si Kai udah nggak masuk kasar lagi, sadis iya. Hehehehe. Kok banyak yang suka Kris VS Lay ya? (?'_') Padahal kasian si Tao umma sama Kyungsoo loh, jadi korban. Hehehehe. Ini sudah dilanjutin! Chuuu balik~~
mizu aleynn : Ginger juga bingung kamu harus bilang apaaaa hahaha. Oh, semuanya juga tahu kalo Kai itu Kim Jongin, kamu baru tahu? Ciyus? #plak Ini sudah di update, terimakasih reviewnya dan jangan lupa tinggalkan komentar lagi, ya? (^_^)
widyaokta: Ini sudah di lanjut, hihihi. Terimakasih dan lanjutkan reviewnya, ya? :)
Flory KaiSoo 121401 : Terimakasih, silahkan review lagi :)
Nadya: Ngak mungkin Kai itu malaikat. Dia itu titisan iblis #DicekikKai waduh, masalah itu juga Kyungie nggak cerita sama aku, aku juga nggak tahu ('_') Ya iya dong, Tao kan everythingnya bapak Kris hahaha. Silahkan review lagi :)
myjongie : Itu saya milih Hoya tuh diluar kesadaran loh. Tapi maf ya kalo Hoyanya saya lempar lempar.. Nggak sih, yang ngelmpar kan si Kai. Kalo Hoya nggak ada, sama L aja gimana? #plak. Hehehe. Ini sudah dilanjut, silahkan review lagi :)
nicckendwi: Hubungan Kai dan Kyungsoo itu bagaikan sambungan telfon yang bertepuk sebelah tangan. Si Kyungsoo nyoba telfon Kai tapi nggak diangkat sama Kai. Kesian ya? #plak Memang susah nolak si Kyungie. Hebat aja tuh Kai bisa nolak Kyungie hahaha :D Silahakn review lagi! :)
Riyoung Kim : Nggak kok. Meskipun begitu, Kris sayang sama Yixing. Meskipun caranya aneh. Hehehe. Ini ada SuLay moment. Terimakasih penantiannya, silahkan review lagi! :)
Miyuk : Iya, Ginger heran, kenapa ya si Yixing mau punya bapak kayak Kris? #plak Ini sudah di update. Silahkan review lagi :)
Kazuma B'tomat: Kasian ya si Kris. :D Chanyeol emang malu maluin, ya nggak Poppy?
Poppy : GUK! *yes!*
Hehehe, ini sudah di update. Silahkan di review lagi :)
ICE14: Iya tuh, siapa suruh marahin Xingie. He-eh, si Yixing deg degan ketemu Jumnyeon *tebar bunga* hahaha. Nggak papa, silahkan review lagi, oke? :)
fresh salmon: Kalo Kainya munculnya lama, bisa bisa semua cast disini mati sia sia ditangannya dia #plak. Ada, bakal nambah kok. Tapi, ya.. Dikit dikit dulu, sesuai alur. Hehehe. Chanyeol.. Sama aku juga boleh. :D Sama Baek aja gimana? #hihihi ini sudah di update, silahkan review lagi, ya! :D
Kim Haerin-ah : Nggak papa kepo lagi! Mumpung kepo masih gratis! Hahaha. Iya si Kris nggak dapet jatah.. Jatah makan maksudnya. #ngakak Ini ada Su-Lay lagi. Hehe. Makasih supportnya, *terima kisseu* Silahkan review lagi :)
Lana : Nggak banting banting lagi, lempar lempar orang juga iye si Kai -_- Hahaha, ini sudah lanjut. Jangan lupa review lagi ya! :)
Seisheira : makasih makasih J Maunya sih juga gitu, cepet cepet bikin KaiDio bersatu.. Tapi yah.. hehehehe. Ok oke, ini sudah di update. Jangan lupa review lagi, ne?! :D
SooBaby1213: Iya TBC lagi.. hahaha. Ini sudah sekilat kilatnya, nggak pakek fedEx loh. Ciyus. *pakek kaca mata hitam biar nggak liat puppy eyes* Terimakasih reviewnya, dan jangan lupa lagi untuk yang ini :)
BabySuLayDo : Kalo masalah Yixing sama Kyungsoo tahu kalo Kai itu Kim Jongin, ya semua orang udah tahu. Nah.. Tapi, masalah si Kai yang nyelamatin Kyungsoo pas kecilnya dulu.. Nggak tahu lagi deh. Kalo Ginger sendiri, nggak yakin kalo si Kai a.k.a Kim Jongin ini yang nyelametin. Soalnya.. Kalo Kai, nggak mungkinkan si Kyungsoo digendong? Pasti digelundungin. #plak Jangan lupa review lagi ya untuk yang ini :)
BBCnindy : Nggak, itu Chanyeol ah. Itu pasti si Chanyeol! *Ini yang author siapa?* Oke oke, Chanyeol punya Baek. Kalo gitu, pasti si-anak-yang-menyelamatkannya-saat-ski=14-tahun-yang-lalu itu si Suho! *plak* *mian* Oh, kalo si Kai mah kasar sama semua orang. Nggak usah khawatir. Tau tuh, puppy eyesnya si Kyungie nggak mempan. Hebat banget. Thanks for your attention! Jangan lupa review lagi ya untuk yang ini :)
Thanks for love that you give for me! Now, leave comment and I'll prepare for the next chapter!
p.s : Silahkan datang ke FF Ginger yang lain. Terimakasih :)
