Hahaha. It's meagain! Bener bener nih FF daebak banget bikin Ginger terus terusan pengen nulis! Hehehe, terimakasih untuk segala review yang diberikan. Hehehe. Silahkan review lagi! :)
Oh iya, omong omong, Ginger kan masih nulis nih, kalo misalkan, misalkan, ada chapter yang POVnya itu orang ketiga atau pembaca gitu.. Gimana ya? Saran! ^^
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Title : Do for Kai
Episode : 4
Cast :
- Do Kyungsoo (women),
- Zhang Yixing as Do Yixing (women)
Support Cast :
- Wu Yi Fan as Do Yi Fan (men)
- Huang Zi Tao as Do Zi Tao (women)
- Park Chanyeol as Park Chanyeol (men)
- Kim Jongin as Kai (men)
Cameo :
- Lee Taemin as Taemin (men)
- Kim Hyu Ah as Hyuna (women)
- Sandara Park as Sandara Park (women)
- Park Bom as Park Bom (women)
- T.O.P as Seunghyun (men)
Genre :
Romantic, Family, Drama, Comedy
Rating :
T, amanlah pokoknya. Kecuali kalo Kai sudah mulai beraksi, itu bisa berubah lagi.
Inspired by:
Grey's Anatomy and Ai To Makoto (for Love's Sake)
Disclaimer :
Kita semua punya Tuhan. Tuhan punya kita. Cerita punya saya, dan Tuhan. #plak
.
.
- Do For Kai -
.
.
Sebulan.
Kira kira sudah sebulan aku memergoki Kyungie pulang tepat sebelum makan malam atau sebelum appa pulang. Aku mungkin mengerti kenapa dia pulang selarut itu, bimbingan dengan dosen untuk tesis akhir-nya yang akan disidangkan dua bulan lagi itu pasti menguras tenaga.
Tapi, yang tidak aku mengerti adalah, kenapa dia selalu pulang dengan wajah lelah begitu? Maksudku, bukan lelah karena berfikir. Lebih ke yang dia menggunakan kekuatan fisiknya untuk sesuatu. Ah, masa iya dia dan dosennya selalu berolahraga sebelum mengerjakan tesis?
"Yixing," panggil seorang temanku di kantin. Kami sedang istirahat, menunggu mata kuliah Farmakologi II yang akan berlangsung setengah jam lagi, "kira kira, kenapa kakakmu dekat sekali dengan Kai ya?"
"Jangan tanyakan itu padaku. Aku sendiri juga tidak tahu, Hyuna." kataku memandang Hyuna yang memandangku ingin tahu. Cewek bersifat 'tiger' ini lalu memiringkan kepalanya bingung, lebih mirip kucing anggora daripada harimau sumatra.
"Tapi, selama kita kuliah disini. Kulihat, kakakmu benar benar tidak memperdulikannya lho. Kurasa, malah mengenalnya saja tidak." katanya, memandang langit menerawang sesuatu, "apa jangan jangan Kai melakukan sesuatu padanya?" tanya Hyuna entah pada siapa. Kini aku yang mengerutkan kening.
"Ha? Melakukan apa?"
"Bisa saja," seseorang tiba tiba menaruh nampan besi di depanku dan Hyuna lalu duduk, "mungkin Kai berencana menghamili kakakmu?"
Aku lalu menusuk tangan putih itu dengan garpu, dan orang itu, Taemin, berteriak dan menampar tanganku. Hyuna tertawa.
"Kai mungkin brengsek," kataku, "tapi kurasa, dia tidak tertarik dengan gadis." sekali lagi mencoba menusuk tangan Taemin yang di dekapkannya di dada. Cowok berambut madu itu menunjukkan mehrongnya padaku saat aku gagal menusukkan garpu. Besok besok, aku bawa pisau saja. Biar bisa menusuk lebih dalam.
"Benar juga. Tidak ada tuh, gadis disini yang mau dekat dengannya." kata Hyuna kembali mengaduk aduk supnya. Aku menghela nafas prihatin, sekarang dalam sejarah hidup Kai, mungkin nama Do Kyungsoo menjadi satu satunya nama wanita yang pernah 'dekat' dengannya selain ibunya sendiri.
Mungkin juga satu satunya nama manusia yang dekat dengannya, aku ragu dia dekat dengan ibunya.
"Kemarin saja aku melihatnya bersama dengan Kai di perpustakaan." kata Taemin. Aku dan Hyuna lalu memandangnya dan mengangkat alis ingin tahu.
"Sebenarnya sih lebih kepada, Kyungsoo membaca buku dan Kai hanya duduk disana. Saat Kai akan pergi, Kyungsoo menarik tangannya untuk duduk. Tapi, Kai menghempaskannya, lalu Kyungsoo terhuyung. Kyungsoo tidak menyerah dan akhirnya membawa Kai duduk kembali," kata Taemin sambil meminum teh kotaknya dan bercerita seolah olah itu adalah hal yang wajar terjadi seperti siang dan malam, "tapi, dua puluh detik kemudian. Kai benar benar pergi."
"Kau menghitung waktu Kai pergi?" tanya Hyuna. Taemin memandangnya malas,
"Aku sedang belajar menghitung tetesan IV, di hitungan ke duapuluh, Kai pergi." katanya bersungut sungut. Hyuna lalu menertawainya dan berkata sesuatu, kembalilah terjadi perang mulut kecil antara Hyuna dan Taemin.
"O-oh... Apa kau tidak tahu? Iya, anak fakultas bisnis itu. Ya ampun, ku kira dia anak baik baik. Ternyata.. Iiih!" ujar seseorang dengan nadanya yang centil. Aku tidak memperdulikannya ketika aku tahu bahwa si empunya suara adalah salah satu dari devil Park sister dari kelas Bahasa, Sandara. Si bersaudara yang punya mulut sepedas wasabi, dan selalu mendapatkan berita gosip entah darimana asalnya.
"Yeah. Dan temannya yang tinggi itu, siapa namanya? Duh, karena terlalu aneh, jadi malas mengingatnya," balas yang lain, Bom. Saat kulirik, ia memegang jijik tisue penuh minyak yang baru ia buat mengelap piringnya yang kotor, "..nah, pokoknya si aneh itu. Dia juga menemani gadis itu ke kafe loh."
"Kau tahu 'kan kalau kafe itu bukan kafe biasa." kata Sandara berbisik, apanya yang berbisik. Dia hanya pura pura berbisik, kalau dia benar benar berbisik, tidak mungkin orang yang berjarak dua meter darinya bisa mendengar patah demi patah kata yang dia ucapkan.
"Tentu saja. Kafe itu 'kan reputasinya jelek sekali. Apa jangan jangan dia seorang..," Bom dan Sandara saling berpandangan dan lalu mengeluarkan mengeluarkan suara 'Iuuh..' dengan keras dan menyebalkan. Seperti kau ingin memasukkan burger yang ada di depan mereka bulat bulat ke mulutnya agar mereka tak mengoceh lagi.
Kedua gadis itu masih mengobrol tentang sesuatu yang tidak ingin aku tahu, suaranya tidak normal seperti sedang menyindir orang. Hyuna sedikit sedikit melirik mereka dan memandang Taemin resah. Pemuda baby face itu juga menukar pandangan dengan Hyuna yang diartikan olehku kalau itu pandangan cemas. Aku menaruh sendok dan memandang mereka berdua menyelidik.
"Ada apa?" tanyaku. Taemin dan Hyuna kompak hanya menggeleng dan melanjutkan aktivitasnya lagi meskipun terlihat kaku,
"Ada apa?" tanyaku sekali lagi, kali ini lebih menuntut. Taemin dan Hyuna lalu berhenti melakukan kegiatan mereka, membaca buku dan makan, lalu memandang satu sama lain. Baru setelahnya, mereka memandangku.
"Sebenarnya.. Ini masalah Kyungsoo." kata Hyuna berhati hati. Pikiranku yang awalnya terpecah pecah kemana mana, kini langsung fokus ke gadis berlensa abu abu itu. Aku lalu memandang Taemin yang menyiratkan ke khawatiran.
Astaga, bodohnya aku. Kenapa aku jadi apatis begini? Devil Park sisters itu pasti, PASTI membicarakan soal kakakku. Dan, teman tinggi itu.. Itu pasti Park Chanyeol. Tidak salah lagi. Itu pasti mereka.
Saat aku menoleh perlahan ke arah kedua gadis metropolitan itu, mereka tengah memandangku dengan pandangan meremehkan. Aku benci mengakuinya, tapi kurasa mereka terlihat cantik kalau tidak punya sifat devil dalam darahnya. Sejenak lalu kembali lagi ke realita untuk mendapatkan apa yang Kyungie selama ini sembunyikan dariku. Sandara memandangku dengan penuh dengki dan bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu tanpa suara.
Yang kutahu, saat aku meninggalkan tempat duduk kantin lalu melewati meja dua gadis gila gosip itu, salah satu dari devil Park sisters itu berteriak dan menjerit histeris dengan salah satu saudari bodohnya memandangi saudarinya yang wajahnya kini penuh dengan daging, mustard, sambal, saos dan bahan bahan burger lainnya.
- Do for Kai -
Apa yang disembunyikan Kyungie dariku? Kenapa dia tidak mau berterus terang? Kafe apa yang diomongkan oleh Park bersaudara itu?
Intinya,
Apa yang sedang Kyungie lakukan?
Aku berhenti di depan gedung fakultas Bisnis. Kalau aku menemui Kyungie sekarang, ia pasti tidak akan mau mengakuinya. Lalu tujuanku berubah. Saat ingat Park bersaudara itu mengatakan sesuatu tentang 'Tinggi', kurasa itu pasti Chanyeol. Maka targetku kini berubah menjadi Park Chanyeol.
Beruntungnya, si Presiden Ekskutif Mahasiswa itu berdiri tidak jauh dariku.
Segera kularikan langkah ke arahnya yang sedang berbincang dengan seorang teman dengan membawa buku yang terbuka. Seketika aku menutup bukunya membuat ia dan temannya menunduk menatapku.
"Y-Yixing?"
"Hai, Chanyeol." sapaku, lalu beralih ke teman yang berada di sampingnya, "hai Seunghyun." pemuda dengan mata tajam itu hanya memandangku lalu mengangguk pelan.
"Kau mencari Kyungie?" tanyanya. Aku menggeleng dan tersenyum.
"Aku mencarimu."
Sontak Chanyeol mengangkat kedua alisnya terkejut, ia lalu memandang Seunghyun yang sama bingungnya. Setelahnya memandangku kembali.
"Aku?"
"Ne. Jadi, bisa waktunya sebentar?" kataku, lalu memalingkan wajah pada Seunghyun yang masih tidak mendapat gambaran sama sekali tentang aku yang datang tiba tiba, "boleh ya, oppa?" tanyaku. Sedikit merajuk.
Kini ganti Seunghyun yang memandangku tidak mengerti. Pemuda itu hanya menatapku, lalu menatap Chanyeol mencari pencerahan. Lalu mengerlingku lagi dan mengangguk kaku.
"Ten-tentu saja, Yixing." katanya, lalu mengangguk singkat dan buru buru pergi. Ini mataku, atau tadi pipinya bersemu merah? Oh, lupakan. Yang lebih penting adalah mengorek rahasia dari Jerapah Berkacamata ini dulu.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku." kataku menghakiminya. Chanyeol mengerutkan kening.
"Aku tidak mengerti maksudmu." bantahnya. Aku memutar mata, terus saja mengelak. Kalau ketahuan, habis kau.
"Kau mengerti maksudku. Kau, Park Chanyeol, menyembunyikan sesuatu dariku!" kataku sembari menggeretnya ke satu sudut yang lebih tenang. Tidak enak memaksa orang yang lebih tinggi sambil menggengam satu lengannya di depan koridor.
"Aku.. Aku tidak menyembunyikan apapun, Do Yixing!" ucapnya membantahku. Menatap lurus lurus langsung ke mata. Aku mendengus sambil tertawa kecil.
"Ya. Aku tahu. Katakan padaku, Park Chanyeol!" desisku dengan nada lebih tinggi. Chanyeol sepertinya mulai geram, ia akan menghempaskan genggamanku tapi aku memegangnya lebih erat membuat buku di pegangannya terjatuh.
"Ya! Yixing!"
"Jangan berteriak padaku atau aku akan bilang pada Kyungie kalau kau menyukainya!" ancamku. Chanyeol lalu terpaku dan memandangku. Aku tersenyum manis dengan bumbu licik terpatri di wajahku. Aku tahu, sangat tahu, kalau Chanyeol menyukai kakakku. Kyungie juga pasti mengetahuinya.
Tapi selebihnya, kalau aku berkata pada Kyungie terlebih dulu kalau Chanyeol menyukainya. Itu akan merusak rencana Chanyeol yang (katanya) akan menyatakan perasaannya pada Kyungie di hari ulang tahunnya saat ia (katanya akan) menyewa seluruh area Lotte Park agar terkesan romantis. Kita lihat saja kebenarannya.
"Jangan.. Yixing. J-jangan begitu!" rajuknya. Aku tertawa lepas, kalau begitu, rumor bodoh itu benar. Ya ampun, Chanyeol, kau lebih dari cheesy ternyata.
"Kalau begitu, katakan padaku apa yang kau sembunyikan." ujarku. Chanyeol melarikan pandangannya ke segala arah, lalu menatapku grogi. Ia lalu menghembuskan nafas.
"Oke.. Oke.. Aku akan mengatakannya." ia menghadapkan telapak tangannya padaku untuk menenangkan diri. Aku mengangguk pelan.
"Aku.. Eh.. Aku...,"
"Ya? Kau?"
"Ehmm.."
"Ya ampun, Park Chanyeol! Kenapa kau jadi gagap begini?! Kuadukan-,"
"Oke! Oke! Oke! Aku takut dengan Poppy, anjing Pomeranian milikmu dan Kyungie! PUAS?!"
Eh?
Aku memandangnya dengan satu alis terangkat, ia memandangku dengan nafas terengah engah bagaikan habis berlari berkilo kilo meter jauhnya. Aku masih tidak mengerti kenapa dia berkata padaku tentang Poppy.
"Poppy?"
"Ne, ne! Anjing kalian yang tingginya 20 inchi itu! Aku takut dengannya! KAU PUAS DO YIXING?!"
Terlalu terkejut soal pengakuan Chanyeol, aku melepas genggamanku. Ia lalu mengusap upsanya dan bergumam menggerutu. Apa yang barusan Chanyeol katakan?
"Tidak, aku tidak puas. Lagipula, Poppy itu tingginya 12 inchi dasar tiang listrik! Kenapa kau katakan sesuatu yang sangat amat aku tidak ingin tahu?!" ucapku menghardiknya. Chanyeol yang berdiri setelah menunduk mengambil bukunya kini ganti menatapku terkejut.
"Hah?"
"Dengar ya, aku tidak peduli bagaimana takutnya kau dengan Poppy. Tapi, tak apalah itu artinya aku bisa selalu melepaskan Poppy untuk berada didekatmu agar kau jauh jauh dari Kyungie. Well, ITU BUKAN SESUATU YANG INGIN KU TAHU!" teriakku kesal.
"J-jadi.. Kau.. Kau?" katanya tergagap lagi. Aku memutar mataku, menyedikapkan tangan di depan dada. Menatapnya malas, sementara Chanyeol lalu tertawa lepas dan lega.
"Cepat, katakan padaku." kataku lagi, Chanyeol berhenti dari tawanya tapi masih menimbulkan sedikit kekehan,
"Apa?"
"Rahasiamu."
"Aku sudah mengatakannya kok." ucapnya dengan senyum lebar. Ugh, derp!
"Rahasianmu.. Dan Kyungie, kakakku." seketika itu langsung tawanya berhenti. Ia memandangku horor, sesekali meneguk salivanya.
"Erh.. Eh..," ia gugup. Kali ini aku tidak ingin bercanda, Chanyeol. Bilang sekali lagi kalimat yang tidak ada hubungannya, kupastikan kau menyesal mengenal anak jurusan keperawatan.
"Jangan berbohong padaku." kataku, "dia kakakku. Aku berhak tahu apa yang dia lakukan selama ini. Dan, kau, hanya pemuda dari luar yang mengenalnya. Jadi, apapun yang dikerjakan kakakku sekarang, aku tahu itu bukan hal yang baik."
Chanyeol bergumam pada diri sendiri, ia menggaruk tengkuknya. Bergerak gelisah dalam berdiri, matanya masih menjauhiku. Masih mau berbohong dengan bertingkah begitu?
"Chanyeol. Katakan padaku. Katakan padaku apa yang terjadi, antara kau dan kakakku." kali ini aku memegang kedua lengan Chanyeol, menyuruhnya menatapku. Mata lebar itu akhirnya menetapkan perhatian padaku. Ia lalu menghembuskan nafas, wajahnya sedikit mengeras.
"Kalau itu maumu, baik. Aku akan menceritakannya." katanya dengan suara berat dan berwibawa.
- Do for Kai -
"Mau tambah kiwinya, sayang?"
"Ani, Mom. Ini sudah cukup."
Di luar hujan deras, tidak deras deras sekali sih. Cukup ramailah air menghantam tanah. Kyungie belum pulang tapi si makhluk-berambut-pirang itu ternyata sudah pulang duluan. Sesekali dia bertanya kemana Kyungie, sesekali pula aku menjawab gadis itu masih di kampus.
Karena makan malam masih lama, maka aku, umma dan appa berada di ruang keluarga sambil menyalakan penghangat. Aku menekuk kaki dan bergelung nyaman di salah satu kursi besar dekat penghangat sambil baca buku, sementara appa duduk di sofa panjang sembari menunduk mengetik kerjaannya di notebook yang diletakkan di atas meja. Umma bolak balik dapur-ruang keluarga untuk mengambil makanan atau membuat kopi appa.
Sebenarnya, tidak sepenuhnya pikiranku menuju ke huruf huruf yang tersusun di buku dan menjadi untaian kalimat anatomi itu. Setengah darinya berlari menuju ke kejadian siang tadi saat aku berhasil tahu soal apa yang dilakukan Kyungie. Aku mengerling ke arah appa dan umma yang sedang berlovey dovey ria di depanku, khawatir apa yang akan dilakukan mereka jika mereka memergoki apa yang sedang Kyungie lakukan sekarang.
Aku menghembuskan nafas, menjulur tangan dan memakan satu potong kiwi.
"Sungguh, kemana Kyungie? Ini sudah hampir pukul 6 sore." kata appa frustasi. Umma kembali hilang, kurasa mengambil majalah.
"Dia masih dikampus. Mungkin saja menunggu hujan reda." pembohong. Kau pembohong ulung, Do Yixing.
"Kenapa dia tidak pulang bersamamu, Yixing?" tanyanya, memandangku seakan akan ketika aku menjawab tidak sesuai dengan keinginannya maka aku akan mendapatkan nilai E di mata kuliah anatomi. Aku membalasnya dengan pandangan malas.
"Bagaimana aku bisa pulang bersamanya? Ketemu saja tid-, maksudku, aku pulang duluan. Dia masih ada kelas dan itu artinya aku harus menunggu kurang lebih tiga jam di depan kelasnya. Appa ingin aku duduk di depan kelasnya, begitu?" tanyaku bersungut sungut, ditambahi kebohongan, tentu saja. Sejujurnya, aku tidak bertemu Kyungie dari tadi siang.
"Ya. Atau mungkin lebih baik kau duduk bersama dengannya di dalam kelas." Appa menggidikkan bahunya dan kembali mengetik di notebook. Oh, astaga, makhluk-berambut-pirang ini! Demi Tuhan!
Aku tidak membalasnya, sedang tidak dalam mood untuk perang lagi dengannya.
"Kemana anak itu pergi?" desisnya. Aku menghembuskan nafas, membalik satu halaman.
"Belikan dia ponsel kalau begitu." kataku tanpa melepas pandangan ke buku, "dengan begitu, appa tidak perlu menerka-nerka kemana si Kyungie pergi."
"Untuk apa aku membelikannya ponsel kalau dia tidak mau?" tanyanya, "kalau masih ada kau di sekitarnya. Kurasa, ponsel masih tidak diperlukan."
Aku memandangnya malas, dia juga memandangku. Sedetik kemudian, kami kembali ke kesibukan masing masing. Serius, aku sedang dalam mood yang tidak ingin mengajak perang siapapun, bahkan musuh besarku.
"Aku pulang." kata satu suara lembut diiringi pintu yang tertutup. Aku dan appa sama sama mengucapkan 'selamat datang' dengan lirih dan menoleh memandang siapa yang pulang. Oh, tentu saja, memang siapa lagi yang akan pulang ke rumah ini? Kyungie.
"Kyung? Darimana saja kau? Lihat, sampai basah begini." kata umma yang lalu memberikan handuk kecil pada Kyungie. Kyung hanya tersenyum dan berkata bahwa dosennya hari ini datang agak terlambat, jadi memberikan bimbingan sampai terlalu larut malam.
Astaga, Kyungie, kalau kau mau memberikan dua orang ini pencerahan apa arti kata 'larut malam' itu, mereka akan membuat kita berdua punya jam malam. Selama ini, yang kupunya (dan kulanggar) adalan jam sore, pukul 5.
"Cepat ganti baju, kita akan segera makan malam." titah appa. Kyungie hanya mengangguk cepat dan melesat ke kamarnya. Segera aku meloncat dari kursi, mengikuti Kyungie yang buru buru masuk ke kamar. Hari ini, Kyungie harus mengatakan segalanya padaku. Tidak boleh ada yang terlewatkan, bahkan titik sekalipun.
Saat Kyungie akan menutup pintunya, sedikit celah kumanfaatkan untuk mencegah pintunya tertutup sempurna dengan buku anatomi. Kyungsoo berhenti dan lalu membuka pintunya, menatapku dengan pandangan heran.
"Aku tak ingat pernah membelikanmu buku untuk dijadikan pengganjal pintu?"
"Aku juga tak ingat kau pernah mengatakan sesuatu soal 'silahkan berbohong di depan adikmu'?" ia mengerutkan kening.
"Apa maksudmu, Xingie?" kata Kyungie dan kali ini ia berkacak pinggang.
"Kau, Kyungie, mengerti maksudku. Apa yang selama ini kau lakukan setelah pulang kuliah?" kataku menuntut,
"Bimbingan dengan dosen."
"Deng! Jawabanmu salah!"
Ia tertawa pelan, membuka pintu lebar lebar dan menyuruhku masuk. Masih dengan tawa yang lembut ia berkata, "kau ini ada ada saja. Yang kuliah kan aku, yang bimbingan juga aku. Memang kau tahu darimana kalau jawabanku salah?" tanyanya, lalu menutup pintu.
"Pernah lihat kuis tidak? Kalau si penanya berkata jawaban yang dilontarkan adalah salah, itu berarti penanya tahu jawaban yang sebenarnya, Kyungie." kataku melempar pelan bukuku ke atas meja, menatapnya dengan tangan bersedikap di depan dada.
"Xingie.. Sungguh, aku tak mengerti maksudmu!" katanya dengan mata lebar. Aku berdengus kecil.
"Kau bekerja di Akai Cafe kan? Kafe sebelah kampus kita itu." dan Kyungie sedikit memudarkan tawanya tapi masih tersenyum lembut.
"Lalu? Tidak apa 'kan kalau aku bekerja tanpa memberitahu appa dan umma."
"Dengar, Kyungie. Tidak masalah kalau kau melakukan ini karena jiwa berontakmu untuk appa dan umma yang memperlakukan kita bagai balita umur 2 setengah tahun. Tapi, yang masalah adalah alasanmu sekarang kenapa kau bekerja disana." kataku menghakimi. Kyungie masih tidak bergeming, tapi senyumnya melebar,
"Ada yang berkata tadi siang adikku bertingkah aneh di kantin, apa itu kau?" kini ganti ia yang menghakimiku, aku membuang wajah.
"Sandara mengataimu pelacur. Haruskah aku hanya diam saja disana? Membuatnya berkata pada orang orang lain kalau kau bekerja di Akai Cafe, tempat yang tidak punya reputasi baik, tempat yang hanya didatangi oleh para lelaki dan berkata kalau kau gadis murahan? Kalau memang aku marah padamu, Kyungie, tapi aku takkan setega itu membiarkan gadis bermulut tong itu mengataimu yang macam macam." tukasku. Saat aku melihat mata Kyungie yang berkaca kaca, aku memalingkan wajah lagi,
"Aku tersentuh, Xingie. Terimakasih."
Kami terdiam lagi. Aku lalu menghembuskan nafas, "jangan merubah topik pembicaraan. Masalahmu belum berakhir, Kyung."
"Alasanku untuk bekerja disana? Kau ada masalah dengan itu?" tanyanya menantangku. Aku menggeram kesal,
"Masalah! Tentu masalah! Kau bekerja disana untuk Kai, Kim Jongin, manusia setengah iblis itu!" ujarku sedikit keras. Kyungie menghembuskan nafas dan memandang ke arah lain. Ia lalu memandang padaku,
"Kau tidak tahu kenapa aku bekerja disana. Jongin tidak menyu-,"
"Aku tidak peduli, mau Jongin atau- Lihat! Lihat! Kau bahkan memanggilnya Jongin sekarang! Kyungie! Otakmu sudah dicuci olehnya!" ujarku frustasi, mulai berjalan mondar mandir di dalam kamar. Bagaimana tidak? Dia, Kyungie, memanggil nama Kai dengan nama aslinya. Orang ini.. Orang ini.. Tidak waras!
"Xingie..,"
"Kau bekerja disana dan uang yang kau hasilkan kau berikan semua untuk Kai! Apa sih maksudmu melakukan itu? Kenapa sih, kau tidak tinggalkan dia saja dan mulai hidup normal seperti dulu?!" tanyaku frustasi, mengusap wajah terlalu marah pada Kyungie. Gadis bermata bulat itu hanya tersenyum di seberang ruangan.
"Kai membutuhkan uang," mulainya, aku mendengus tertawa kecil, "appa mungkin memberinya beasiswa untuk tetap kuliah tapi ia tidak punya uang untuk hidup sehari hari. Aku hanya membantunya."
"Kau tidak membantunya, Kyungie! Kau tidak membantunya! Kau menyerahkan dirimu sendiri padanya!" ujarku, masih frustasi, dan kini duduk di tepi tempat tidurnya. Menatapnya penuh dengan tanda tanya besar.
"Aku tidak menyerahkan diriku, Xingie." ucapnya lalu berjalan pelan ke arahku, lalu duduk disampingku. Aku masih tidak mau memandangnya, "aku hanya membant-"
"Berhenti berkata kau membantunya. Selama ini, yang kulihat, dan yang kau lakukan adalah kau berusaha membantunya tapi dia menolakmu. Kenapa.. Kenapa kau harus memaksakan sesuatu yang sudah tidak berada di tempatnya sih?!" ucapnku marah pada lantai, lalu menoleh padanya yang memandangku sedih, tapi senyum masih merobek wajahnya. Segera aku cengkeram kedua lengannya dan mengguncangnya pelan,
"Katakan padaku, Kyungie. Katakan padaku alasan semua ini! SEMUA HAL MENGGELIKAN INI!"
"Kau tahu alasanku." tukasnya, aku mengerutkan kening.
"Alasan yang mana? Alasan kau ingin menjadikannya orang baik? Alasan karena kau yakin manusia itu adalah malaikat yang memakai kostum iblis? Alasan yang mana!" ucapku. Kini ganti ia yang tertawa mengejek pelan,
"Saat di ruangan rektor Choi. Oh, Xingie. Makanya, jangan terlalu sibuk dengan amarahmu sampai sampai kau tidak mendengar percakapan kami."
Awalnya aku hanya memandangnya sengit, tapi kemudian ingatan itu berangsur angsur datang padaku. Aku lalu memandangnya dengan pandangan kaget tidak percaya, berusaha mengucapkan sebuah kalimat, tapi gagal.
"Kau tidak bersungguh sungguh, 'kan, Kyungie?" tanyaku. Kyungie tersenyum lebar,
"Sayangnya aku bersungguh sungguh." katanya, membuatku terpaku sambil memandang kearah lain, menciptakan keheningan diantara kami. Selebihnya, ia menciptakan serangan jantung kecil padaku.
"Kau sudah selesai 'kan marahnya? Sekarang, keluar dari ruanganku..," ia akhirnya menggeretku dan mengambil bukuku di atas mejanya menuju pintu, lalu membukanya pelan, "...karena aku mau mandi. Kau tahan sekali mencium bauku dari tadi." setelah ia mendorongku keluar, ia menutup pintu.
Sial. Damn. Sial.
Aku masih terpaku di depan ruangan Kyungie yang tertutup dan terkunci. Mencoba mengingat ingat apa yang terjadi di ruangan rektor Choi, mencari kebohongan disana. Tapi, nihil. Tak ada yang bohong, Kyungie mengatakan hal yang sebenarnya. Lebih baik memikirkan ini di kamar sampai umma memanggil kami untuk makan malam.
Aku terlalu lemas untuk berdiri terlalu lama.
{{{ Rewind
"Katakan padaku nona Do Kyungsoo, kenapa aku tidak boleh mengeluarkan anak ini dari kampus kita!" kata rektor Choi dengan nada tingginya. Di ruangan rektorat ini, hanya ada aku, Kyungie, Kai dan Chanyeol. Kyungie dan Kai duduk di depan meja rektor, sementara aku dan Chanyeol berdiri di belakang sedikit menjauh. Kyung yang masih meringis karena sakit di matanya lalu menjawabnya tersenyum,
"Karena dia adalah orang baik. Aku yakin, Kai adalah orang baik," ia lalu menoleh pada Kai yang duduk seenaknya sendiri di depan kami, "jadi, beri dia satu lagi kesempatan rektor Choi." katanya.
"Maaf sebelumnya, nona. Meskipun Ayah anda adalah salah satu pemegang saham terbesar di kampus ini, tapi aku dengan sangat menyesal tidak bisa terus menerus menahan apa yang seharusnya tidak berada di kampus ini."
"Dengan segala hormat, rektor Choi," Kyungie mulai lagi, ia memegang pipinya yang sepertinya mulai sakit. Aku menatap benci pada Kai, "anda tentunya adalah rektor yang mengerti aturan, 'kan? Apakah anda lupa, bagaimana cerita Kai bisa masuk ke universitas ini? Jika anda mengeluarkan dia dari sini, tentu itu akan mengurangi rasa kepercayaan Tuan Hanh, pendiri universitas ini, pada anda, benar?"
"Aku bisa membuktikan pada Tuan Hanh kalau selama ini, dia hanya menghakimi anak ini dari saat ia menyelamatkan tuan Hanh di kejadian tersebut. Aku akan mengatakan segala yang diperbuat oleh anak ini," ia menunjuk Kai, "sudah tidak bisa dimaafkan lagi."
"Apa yang rektor Choi itu benar, Kyungsoo." kali ini Chanyeol menginterupsi, menyetujui kalimat rektor Choi yang dibalas oleh rektorat itu pandangan lihat-dia-juga-setuju pada Kyungsoo, "kenapa kau harus bersikukuh dengan alasan yang sebenarnya tidak masuk akal itu?"
Tiba tiba, Kai tertawa kecil, kami semua memandangnya,
"Hanya ada satu alasan," ini pertama kalinya aku mendengar suara iblis sedekat ini, "kenapa nona ini bersikukuh begitu."
"Apa maksudmu?" kata Chanyeol, Kai masih tersenyum setengah dan memandang sepatunya. Ia tertawa lagi,
"Hanya ada satu alasan kenapa nona cantik ini sangat ingin membantuku." Ia lalu memandang rektor Choi, dan melirik Kyungie, "karena dia sangat tergila gila padaku."
Seketika itu nafasku tercekat, aku memandang rektor Choi yang wajahnya mengeras sementara Chanyeol tertawa meremehkan.
"Oh, lihat. Siapa yang sedang berkhayal di siang bolong begini?" katanya masih tertawa. Kai menghilangkan senyumnya, melirik Chanyeol sengit,
"It takes one to know one." ucapnya. Seketika itu Chanyeol berhenti tertawa dan aku menaikkan kedua alisku terkejut. Apa Kai yang terlalu percaya diri dengan ucapannya, atau memang hanya halusinasiku saja?
"Benar 'kan?" Kai melanjutkan melirik Kyungie yang menatapnya terkejut, "dia mencintaiku. Tergila gila padaku, hingga melakukan semua untuk melindungiku."
"CUKUP! Chanyeol, pergi keluar sekarang dan panggil Sekertaris Kwon untuk mengurus berkas drop out anak ini. Katakan padanya untuk memangil polisi!" seketika itu rektor Choi berdiri, Kai dan Kyungsoo lalu ikut berdiri. Aku hanya memandang mereka semua terkejut. Saat Chanyeol akan mencapai pintu, Kyungie berteriak.
"Tidak! Tidak! Jangan rektor Choi!" katanya. Chanyeol berhenti dari gerakannya, memandang Kyungie begitu juga aku dan rektor Choi sementara Kai masih acuh tak acuh. Kyungie diam sebentar, sepertinya menetralisir nafasnya yang sedikit terengah.
"Ada apa? Tidak ada yang perlu dibela lagi darinya, nona Kyungsoo."
"Aku akan bertanggung jawab soal dirinya." kami minus Kai membelalakkan matanya, Kyungsoo tidak pernah bertanggung jawab soal diriku, "aku.. Akan membuatnya jadi orang yang baik."
Kai tertawa kecil meremehkan.
"Nona Kyungsoo!"
"Karena yang dia katakan itu benar!" ucapnya lagi, aku menatap Kyungsoo sambil berdoa dalam hati. Tidak, tidak, Kyungsoo pasti sedang bercanda 'kan?
"Anda.. Anda serius, nona?"
"Lebih dari itu." katanya, aku masih berdoa dalam hati, "karena aku mencintai Kai. Aku mencintainya."
}}} Foward
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
...
...
..
.
To Be Continued...
So.. Mind to leave comment, please?
Uniquegals : Terimakasih :) Iya, ini genderswitch, soalnya Ginger nggak bisa bikin boyxboy. Hahaha, kalo baca suka, bikinnya nggak bisa .. Terimakasih atas pujiannya. Doain aja tetap seperti ini dan tambah bagus. Hehehe. Ini sudah dibikin next chapternya. Silahkan menikmati dan reviewnya ditunggu lagi! :)
Nadya : emang aku kesel banget ama Kai, serius. Hahaha. Ah, udah pernah dilindes pakek ulekan kok aku, nggak usah khawatir. Hahaha :p. Ya.. Kalo mau jelas, silahkan dibaca terus sampe akhir, gimana? Heheh. Terimakasih reviewnya, silahkan review lagi. Keep review, oke?
BLUEFIRE0805 : Terimakasih Terimakasih pujiannya! Hehehe. Ah, nggak kok. Ini story masih kalah jauh sama Harry Potter ato Twilight, serius! :) Hehehe, oh, kamu orang pertama lho yang 'nggak suka' tengkarnya Yifan sama Yixing. Padahal yang laen demen banget liat ni dua orang tengkar. Hahahaha. Wah, belum tahu juga kalo orang yang bantuin Kyungsoo pas ski itu si Kai. Kyungsoo nggak cerita apa apa tuh sama aku. Aku juga suka adegan Junmyeon godain Yixing. Hehehe. Nggak papa kok ngoceh panjang lebar, aku seneng bacanya. Hahaha. Silahkan review lagi ya karena ini sudah diupdate!
Tania3424 : Hahaha.. Cie.. juga. Kyungsoo si pejuang cinta! Lucu ya liat Suho goda goda si Lay. Hahaha. Ini sudah dilanjut, silahkan review lagi, oke? :)
HaeSan : anneyong juga! :) Wah, si Kai mah lebih dari dingin, nggak punya hati iya tuh si Kai #DilindesTrukSamaKai yah, nantilah aku bikin mereka akur. Lebih seneng akur kan daripada berantem terus? Hehehe. Silahkan review lagi jika berkenan! :D
SooBaby1213 : Yah.. TBC dan FF itu memang hal yang tidak bisa dipisahkan, jadi terima aja. Hahaha. Terimakasih terimakasih. Ini saya pakek Pos Indonesia aja ya? Nggak papa 'kan? Silahkan review lagi!
BBCnindy : Tabok aja nggak papa. Aku rela kok kalo si Kai ditabok, di lempar apalagi. Hahaha. Wah, iya, lagi lemot nulisnya, makanya agak lama. Ini sudah di update, jadi silahkan review lagi ya! :)
Nicckendwi : Terbuat dari cintanya Kris sama Tao #cieee. Waduh, stoknya udah abis, adanya tinggal Kai, mau nggak? #ketawaSetan Oke, ini sudah dilanjut, silahkan review lagi ya! ^^
BabySulayDo : yah, Suho 'kan begitu begitu, juga manusia, suka gangguin orang. Apalagi gangguin si Yixing, boleh dong, siapa tahu lagi PDKT? Hehehehe. Nah, bener, mungkin aja bukan Kai, 'kan? Hahahaha. Jangan dibawa muter muter otaknya, udah, taruh kepala aja. Oke? :D Iya, ini sudah dilanjut, terimakasih reviewnya, silahkan review kembali ya! :)
ICE14 : Aku juga gemes sama Suho-Lay. Hahaha. Makhluk-berambut-pirang mungkin yang bener. Soalnya, pasti serem kalo ternyata kulitnya si Kris warnanya pirang. Kan.. Gimana ya… Hehehehe. Yah, kan turunan dari appanya. Hahahaha. Ini sudah dilanjut, silahkan review lagi, oke? :)
Riyoung Kim : Panggil Ginger aja, nggak papa. Hehehe. Wah, kan turunannya si Kris, makanya kepala batu, kayu dan sebagainya #lho? Ini sudah lanjut, silahkan review lagi, oke?
Lana : Terimakasih, terimakasih. Emang si Yixing seneng banget bikin Ayahnya ngamuk. Hehehe. Waduh, nggak tahu sampe kapan nih Kyungie tahan sama Kai. Tapi kalo cinta, mah, sampai kapanpun juga kayaknya tahan. Hahahaha. Oke, silahkan review lagi ya! :)
Septaaa : Hehehehe. Terimakasih terimakasih. Tapi, boleh tanya nggak? Itu black jack versi sponsbob itu ya apa ya? Gimana cerita? Nggak bisa bayangin (?'_') ('_'?) hehehe. Ini sudah di lanjut dan NEXT REVIEW SELALU DITUNGGU! :)
Terimakasih cintanya! silahkan datang berkunjug lagi ya! :)
