Uh - oh! Ini sudah update, apa ada yang menunggu? Ini hadiah ulang tahun dari saya, untuk saya dan readers, terimakasih atas cintanya untuk FF ini. Mudah mudahan ini tidak akan berubah dan akan terus menjadi yang bai. Hahaha. Silahkan baca lagi, okay?!

p.s : Semua hanya pinjem nama, beberapa fakta kecil dari yang bersangkutan. Selebihnya itu hanya imajinasi aja. Nggak ada maksud untuk memojokkan siapapun. Hahaha. Dan saya buka Kai haters atau 2NE1 haters. Okay -_- I love all people, but people didn't lovemeee

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Title : Do for Kai

Episode : 5

Cast :

- Do Kyungsoo (women),

- Zhang Yixing as Do Yixing (women)

Support Cast :

- Wu Yi Fan as Do Yi Fan (men),

- Huang Zi Tao as Do Zi Tao (women),

- Kim Jongin as Kai (men),

- Kim Junmyeon as Jung Junmyeon (men)

Cameo :

- Lee Taemin as Taemin (men),

- Kim Hyu Ah as Hyuna (women),

- Kim Jaejoong as Jung Jaejoong (women),

- Jung Yonghwa as Jung Yonghwa (men),

- Jung Yunho as Jung Yunho (men),

- Jung Byunhee as Byunhee (men),

- Yang Seungho as Seungho (men),

- Kim Myung Soo as Myungsoo (men)

Genre :

Romantic, Family, Drama, Comedy

Rating :

T, amanlah pokoknya. Kecuali kalo Kai sudah mulai beraksi, itu bisa berubah lagi.

Inspired by:

Grey's Anatomy and Ai To Makoto (for Love's Sake)

Disclaimer :

Kita semua punya Tuhan. Tuhan punya kita. Cerita punya saya, dan Tuhan. #plak

.

.

- Do For Kai -

.

.

"Kau diam saja dari tadi, Yixing?"

"Tidak apa apa. Hanya tidak ada topik bicara saja." kataku, lalu menoleh pada pemuda tampan yang sedang menyetir mobil ini, "kenapa kau tiba tiba menjemputku, Junmyeon?"

"Hanya ingin jemput saja. Kenapa?"

"Tidak. Tidak apa apa."

Diam lagi.

Hari ini, Kyungie dan aku berangkat terpisah. Bukan karena aku bertengkar dengannya juga sih.. Oke, aku memang marah dengannya. Jadi, selama sarapan, aku benar benar tidak melakukan komunikasi dengan siapapun. Dengan Kyungie, umma atau appa.

Beruntungnya aku, Junmyeon tiba tiba datang menjemput. Menjemputku. Sedikit bersalah karena meninggalkan Kyungsoo, tapi tidak apa apa. Karena pangeran dengan senyum malaikat ini menjemputku. Kutegaskan sekali lagi, menjemputku. Membuat sedikit rasa kesal pada Kyungie menguap begitu saja. Tapi, setiap kali memutar memori soal Junmyeon menjemputku tadi pagi, membuat tanganku otomatis merengkuh satu pipi. Merasakan hangat menjalar perlahan kesana.

Mengingat senyumnya tadi pagi meminta ijin pada appa dan umma untuk mengantarku ke kampus membuatku merona merah. Wajahnya tenang dan berwibawa, bagaimana ya kalau dia meminta ijin pada appa, umma dan Kyungie untuk menikahiku?

Aduh, wajahku memanas.

"Eh.. Begini Yixing." katanya memulai percakapan. Aku menoleh, Junmyeon menggaruk kepalanya, "sebenarnya ada yang ingin ku katakan." katanya, mencuri pandang dan masih tersenyum.

"Tentu, katakan saja." kataku tenang, padahal jantung ini sudah berdetak tak karuan. Bilang kalau kau ingin menjadikanku kekasihmu, Jung Junmyeon! Astaga, Yixing. Kadar kepercayaan dirimu itu sudah tinggi dan tidak bisa dimaafkan!

"Ehm.. Begini.. Aku.. Tidak tidak. Ya, sih, seperti itu. Begini, Yixing." ia mulai gugup, aku mengangkat satu alis, apa yang akan kau katakan sih? Kalau aku boleh menebak, kau mau menjadikanku kekasihmu ya? Duh. Kalau salah, jatuh dari langit ketujuh kau, Yixing.

"Eh.. Aku..,"

"Aku?"

"Ya.. Aku..." Ia lalu berdehem pelan, "..aku hanya ingin bilang kalau nanti malam appa dan aku akan datang untuk makan malam."

Aku terdiam, masih memandangnya dengan pandangan bingung. Sementara ia memainkan tangan di setir mobil, memandang resah ke luar mobil dan akhirnya menoleh padaku. Aku yang melihat wajah bingung itu lalu tertawa pelan.

"Kau sudah bilang itu pada umma tadi. Baik, aku akan menunggumu malam ini." kataku masih tertawa. Ia tertawa canggung, menyetir lagi dalam diam.

"Kulihat kau sedang bertengkar dengan Kyungsoo?" tanyanya tanpa melepas pandangan dari jalan.

"Tidak. Aku tidak bertengkar dengannya." jawabku tanpa melepas pandangan dari pemandangan di luar kaca. Ia tertawa pelan.

"Kupikir sih, kau bertengkar. Kalian tidak bicara selama pakai sepatu tadi pagi." katanya yang membuatku lalu tertawa lagi.

"Kami memang biasa seperti itu." kataku mengelak, sebenarnya sih tidak juga. Junmyeon hanya mengangkat satu alisnya sangsi dan menoleh padaku sekilas, "hei! Memang benar kok. Jangan melihatku begitu, Junmyeon! Lagipula, kau perhatian sekali padaku." ucapku menggodanya. Hitung hitung balas dendam yang kemarin.

"Aku memang selalu perhatian padamu, nona manis." katanya tersenyum, aku menoleh padanya dan tertawa kecil,

"Berhenti menggodaku, Junmyeon."

"Aku tidak menggodamu kok, kau 'kan memang manis." katanya melirik padaku, senyuman malaikat itu masih terpatri di wajahnya. Aku tertawa lagi, sebenarnya untuk menyembunyikan detak jantung yang berdetak keras dan mungkin terdengar dari luar.

"Oke.. Oke.. Aku kalah. Terimakasih pujiannya, tuan Jung Junmyeon."

"With my pleasure, nona Do Yixing." kami berdua lalu tertawa. Hening kembali.

Aku memutar ingatan saat aku berteriak pada Kyungie kemarin. Mungkin salahku, harusnya, aku tidak berteriak padanya seperti itu. Setelah itu rasanya pikiranku tidak karuan, bahkan aku melewatkan makan malam. Rasanya ingin meminta maaf pada Kyungie, tapi satu rasa lainnya berkata bahwa Kyungie tidak marah padaku jadi keinginanku minta maaf akan tidak berarti. Belum lagi perasaan aneh yang menjalar saat aku bangun tidur hari ini, rasanya semua jadi satu. Aku memandang Junmyeon sebentar dan kembali fokus ke jalan.

"Aku hari ini malas kuliah." kataku pelan, "I have a feeling."

Aku memainkan jemari, hari ini, rasanya bangkit dari tempat tidur saja malas. Apalagi berangkat ke kampus. Seperti ada perasaan yang mengatakan bahwa lebih baik hari ini aku berada di kamar, harusnya aku berpura pura sakit agar semua orang memperhatikanku. Pokoknya, tidak keluar rumah, meskipun Junmyeon datang menjemputku.

Harusnya.

Junmyeon hanya diam sesekali melirik padaku yang juga sesekali memandangnya. Antara memang hanya ingin memandangnya, atau kecanduan juga aku tidak tahu. Yang jelas, ketika aku jengah dan pikiranku membuat jantung berpacu karena takut, aku lalu memandang Junmyeon.

"Di rumah sakit, mereka bilang kau akan tahu..," kataku, memandang jalan, benar, ini bukan candaan. Perasaan ini, menyiksa, " ..kau akan tahu bagaimana pasien meninggal dunia."

Junmyeon hanya tidak bereaksi apa apa, hanya sesekali melirikku yang sesekali memandangnya.

"Beberapa bilang, ada aroma tersendiri. Mereka bilang, orang orang itu terselubung aroma kematian..," tiba tiba aku membayangkan ruangan dokter Huang, dokter gigiku saat masih kecil, "..Ketika sesuatu yang diluar kendalimu begitu besar mulai mendekatimu dan kau merasakannya," aku memandang jemari lagi.

"...Itu menakutkan."

...Yixing Point of View. End...

... ... ...

... ... ... ...

... ... ...

...3rdPoint of View...

Junmyeon sebenarnya belum ingin menutup pintu lokernya sebelum seseorang tiba tiba meloncat ke samping pintu yang terbuka dan membanting besi itu tertutup. Awalnya, Junmyeon hanya akan menoleh pada makhluk yang menutup pintunya, tapi kemudian wajahnya berubah menjadi terganggu ketika ia mendapati siapa yang menutup pintunya.

"Jauh jauh dariku, Yang Seungho. Ini masih pagi." katanya lalu berbalik meninggalkan mahasiswa kedokteran berambut merah itu. Setelah beberapa langkah dan teriakan, Seungho berhasil merangkul pundak Junmyeon.

"Hei.. Hei.. Sensi sekali sih, pagi pagi begini. PMS ya?"

"Kalau itu berarti Pre-Mad Seungho. Itu benar." kata Junmyeon masih terus berjalan tanpa terganggu rangkulan di pundaknya yang kini sudah menghilang. Sahabatnya itu hanya tertawa renyah, siapa bilang suara Seungho mengganggu? Kelakuannya saja yang seperti kingkong lepas kandang.

"Aku kan begitu hanya ingin memberikan selamat." kata Seungho bersandar di papan pengumuman dimana Junmyeon berhenti saat melihat ada kertas pengunguman baru yang tertempel di sana,

"Oh, jadi, kalau kau tak ingin memberikan selamat, kau tidak mendatangiku, begitu?" ujar Junmyeon tanpa melihat Seungho. Matanya terfokus pada poster 'Student College Exchange' besar besar disana, menaikkan satu alisnya heran.

"Eyy! Dasar dokter arogan. Kau itu yang tak pernah mendatangiku, aku kan selalu apel ke kelasmu! Mengajakmu makan siang, ke perpustakaan, menon-,"

"Oke oke, berhenti soal selalu mengajakku keluar. Kau terdengar mesum, Seungho."

"Just for you, baby." dan Junmyeon menampar Seungho dengan buku Taksonominya, yang ditampar pelan begitu hanya meringis, "tapi, serius. Aku mau mengucapkan selamat untukmu, Junmyeooon!" kata Seungho mengguncang satu lengan Junmyeon yang sekarang membaca baris 'Universitas Hanh dengan Universitas Kkami' dengan kedua alis terangkat,

"Memang ada apa sih kau mau bilang selamat begitu padaku?" tanya Junmyeon yang akhirnya memandang Seungho dengan kening berkerut, Seungho lalu tersenyum lebar.

"Aku hanya ingin memberi selamat, akhirnya sahabatku ini bisa mendapatkan cintanya yang selama ini diincarnya akhirnya jatuh ke pelukannnyaaaa~~~." ujarnya sedikit melagukan akhir kalimat yang menurut Junmyeon itu norak sekali.

"Apa maksudmu?" kata Junmyeon tidak mengerti. Seungho tertawa dan menepuk lengannya.

"Yixing. Kau hari ini berangkat dengan Yixing 'kan? Ahh.. Sudahlah Junmyeon. Dari SMP juga aku tahu kau menyukainya. Masa kau mau menyangkalnya sih?" goda Seungho. Junmyeon hanya menghembuskan tawa putus asa dan memandang papan lagi.

"Jangan jangan, kalau aku berpelukan dengan Yixing di depanmu, kau akan bilang kalau aku sudah menikah dengannya?"

"Betul!"

"Salah!" ujar Junmyeon menampik Seungho yang kini sudah tertawa keras hingga berlutut. Tapi, kemudian, si jago berkelahi itu menatap Junmyeon serius.

"Tapi.. Kau sudah pacaran dengannya 'kan?" Junmyeon menatapnya sebentar lalu menggeleng pelan. Seungho menghembuskan nafas dan menggelengkan kepala sok prihatin, "aku ikut sedih denganmu Junmyeon. Mudah mudahan, kau cepat cepat pacaran dengannya."

Junmyeon lalu tertawa bersama Seungho. Tapi, benar juga yang dikatakan Seungho. Doa dari sahabatnya satu itu diperlukan kalau usaha Junmyeon nyatanya menghasilkan kata gagal semua. Contoh kecilnya adalah tadi pagi, harusnya Junmyeon berkata 'aku menyukaimu', tapi jadi 'aku hanya ingin bilang kalau nanti malam appa dan aku akan datang untuk makan malam'. Apa apaan itu.

"Dari tadi, kau lihat poster ini, memang kenapa sih?" tanya Seungho pada Junmyeon yang memandang kosong poster di depannya. Junmyeon menggelengkan kepala menghapus ingatan tadi pagi.

"Tidak.. Ini. Apa maksudnya? Kita akan mengadakan pertukaran pelajar?"

"Dengan kampus lain, well, yeah." kata Seungho mengangguk anggukkan kepala, memandang poster lain, "dan bagian mengerikannya adalah dengan Universitas Kkami."

Junmyeon mengangguk setuju.

"Kenapa harus dengan kampus suram begitu?" tanya Junmyeon. Matanya kini mengarah ke jurusan jurusan apa saja yang akan ikut andil dalam pertukaran pelajar ini, matanya memincing ketika ia menemukan kalimat 'College of Nursing'.

"Katanya sih, tuan Hanh simpati dengan kampus itu. Kau tahu 'kan, bahkan sepertinya tiap hari tidak ada mata kuliah disana. Hanya datang, bermain, well, bermain dalam arti mereka, berkelahi." Seungho mengangkat kedua pundaknya dengan muka tak acuh. membenarkan pada Junmyeon bahwa kampus itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi.

"Dan, beberapa murid beruntung.." Junmyeon tertawa kecil mendengar nada sarkatis dalam ucapan Seungho, "..akan menukarkan ilmu di kampus itu. Tapi, kayaknya sih, lebih ke yang kita memberikan ilmu di kampus itu."

"Kita?" lirik Junmyeon, mengangkat satu alisnya seakan akan mengulang nada sarkatis dari Seungho.

"Oke, mereka." kata Seungho menunjuk nama nama mahasiswa beruntung yang akan ikut pertukaran pelajar. Awalnya, Seungho dan Junmyeon masih larut tertawa, menertawakan nasib sial teman temannya yang akan berangkat ke kampus Kkami. Tapi, tawa Junmyeon tiba tiba menyurut, menjadi seutas senyum dan akhirnya lenyap ketika ia mendapati satu nama yang juga akan berangkat ke kampus Kkami.

'College of Nursing - Do Yixing'.

- Do for Kai -

Wajah Junmyeon masih tidak enak sampai mata kuliah Taksonomi selesai, aura kelam itu masih menyelubunginya hingga saat mereka dikantin memesan 4 roti isi daging, 2 kotak susu dan 2 botol air mineral. Yang Seungho, Jung Byunhee dan Kim Myungsoo saling menatap dan melihat salah satu calon dokter ini sedang memandang roti isinya tanpa nafsu makan sama sekali.

"Junmyeon, sudahlah. Jangan dipikirkan." kata Byunhee mulai menyobek bungkus roti isinya sendiri diikuti yang lain.

"Aku tidak memikirkannya!" ujar Junmyeon menggidikkan bahu dan membuka bungkus roti dengan semangat, lalu kecepatannya berubah perlahan lahan. Saat ia mengatakan hal itu, ketiga rekannya hanya menatap apa-kau-bilang? padanya.

"Oke, oke. Aku memirkannya. Memang, kalian tidak berpikir apa kalau misalkan orang yang kalian sukai ternyata akan dikirim ke kandang macan dalam waktu dekat?! Ha? Kau, Myungsoo! Pikirkan, kalau misalkan kau tidak bisa makan Kimchichigae selama sebulan? Atau.. Atau kau Byunghee! Bagaimana kalau misalkan seluruh folder Pigeon yang besarnya sampa 5 gigabytes itu ternyata hilang sia sia.. Atau.. Kau! Yang Seungho! Kalau.. Kalau kau tidak bisa bertemu Saerommu lagi yang katanya akan pindah ke London. Selamanya! Hah?! Apa yang kalian akan lakukan?"

Ketiga pemuda tampan tersebut hanya menatap Junmyeon dengan tatapan tidak mengerti setelah dihakimi begitu oleh orang yang sekarang menaruh keningnya diatas meja dan menggeram frustasi.

"Dia mulai lagi." dengung Seungho,

"Oh.. Dasar tempramen." Byunghee mengigit roti isinya,

"Aku.. Tidak bisa makan Kimchichigae?" Myungsoo meratapi nasib. Seungho dan Byunghee lalu menatapnya. Myungsoo lalu melihat kedua orang itu dengan pandangan sedih dan terluka, seakan akan dia adalah anak kucing yang baru kehilangan induknya mati setelah tertabrak mobil.

"Aku.. Tidak bisa makan Kimchichigae?" ucapnya lagi. Matanya mulai berair. Seungho dan Byunghee lalu saling berpandangan panik dan menoleh pada Junmyeon.

"Ya.. Ya! Junmyeon! Katakan padanya kalau tadi ucapanmu itu hanya khayalan saja!" kata Byunghee panik. Myungsoo bisa menangis seharian kalau magnae itu membayangkan hidupnya tanpa Kimchichigae. Junmyeon malah menggeleng.

"Aku memintanya untuk membaya-,"

Plak!

"SEUNGHO!" Junmyeon memegang kepala belakangnya yang baru ditampar keras oleh Seungho. Ia menatap pelaku itu dengan tatapan kesal, sementara Seungho menunjuk Myungsoo yang berulang kali bergumam 'Aku tidak bisa makan Kimchichigae' dengan Byunghee sedang berusaha menenangkannya.

"Katakan padanya."

"Tidak."

"Katakan padanya!"

"Tidak, Seungho!"

"Katakan padanya, Jung Junmyeon. Atau kau akan merasakan kepalan tanganku!" ujar Seungho menatap bengis pada Junmyeon, yang ditatap begitu awalnya menatap balik Seungho dengan perasaan yang sama karena sakit di belakang kepala lalu berubah jadi kasian ketika pemuda yang lebih muda pertahun itu sedang beraura lebih mendung dari dirinya.

"Myungsoo." panggil Junmyeon.

"Aku tidak bisa makan Kimchichigae lagi?"

"Kau bisa memakannya. Sekarang juga kalau kau mau." kata Junmyeon memegang pundak Myungsoo, "tapi setidaknya, itu yang harus kau pahami sekarang."

"Kalau aku bisa memakan Kimchichigae sekarang?"

"Bukan, perasaanku jika Yixing pergi ke kampus Kkami." Junmyeon menggigit roti isinya dan menyingkirkan tangan dari pundak Myungsoo. Fokus pada makanannya.

"Oh, Yixing juga rasa Kimchichigae?"

Byunghee hanya menoleh pada Myungsoo, Seungho meletakkan botol air mineralnya karena ia sudah selesai makan dengan sedikit kasar, sementara Junmyeon masih fokus makan roti isinya.

"Kau benar benar akan dilarang makan Kimchichigae lagi, Myungsoo." kata Byunghee. Myungsoo mengangkat alisnya.

"Selamanya."

Junmyeon benar benar tidak memperdulikan tangisan Myungsoo yang meraung pada Byunghee, tersangka pelarang Myungsoo makan Kimchichigae. Yixing dan Yixing. Hanya nama itu yang berputar di pikirannya. Sulit menerima kenyataan bahwa Yixing akan ikut pertukaran pelajar tersebut. Oke, mungkin Junmyeon sedikit keterlaluan karena terlalu egois untuk terus membuat Yixing berada di sekitarnya, paling tidak masih dalam area kampus yang sama dengannya.

Ini bukan soal Yixing yang ikut pertukaran pelajar... Itu juga sih, tapi bukan itu masalahnya. Kampus yang dituju adalah masalah utamanya. Kenapa harus kampus Kkami?

"Kalau tidak salah, dari kelas kita, si Cho Kyuhyun itu ikut dalam pertukaran pelajar kali ini." kata Seungho menegak air mineralnya lagi, "yah, mudah mudahan dia dapat pencerahan disana."

"Aku heran, kenapa tiba tiba nama mereka muncul di papan pengumuman itu?" tanya Byunghee entah pada siapa, ia menggigit roti isinya lagi tapi masih dengan kerutan di kening.

"Itu...," terisak,"..karena mereka telah mendaftarkan diri di..," terisak, suara ingus dibuang di tissue,"..di bagian kesiswaan beberapa bulan yang lalu." Myungsoo menjelaskan dengan sedikit isakan karena tangisnya barusan. Beruntung moodnya sedang baik jadi tidak terlalu lama menangis.

The power of Kimchichigae. Batin Junmyeon.

"Oh? Pendaftaran pertukaran pelajar itu? Seingatku, mereka tidak menyebutkan Universitas Kkami?" kata Byunghee, kembali berpikir dengan mengunyah roti isinya. Myungsoo menyeka air matanya lalu memakan roti isi di atas piring.

"Kalau ada nama Kkami disana. Bahkan, mahasiswa disini berpikir untuk ikut pun, jawabannya pasti tidak. Makanya, rektor Choi mencoba 'menjebak' para mahasiswa itu untuk ikut pertukaran pelajar ini." Myungsoo berkata ringan. Seolah tadi tidak kerasukan setan yang membuatnya menangis gara gara Kimchichigae. Junmyeon lalu memandang Myungsoo yang sepertinya tahu banyak soal pertukaran pelajar ini.

"Bagaimana jika mahasiswa tersebut mengundurkan diri?" tanya Junmyeon

"Aku tidak tahu, masalahnya kan ti-, hei! Junmyeon hyung! Mau kemana?"

Junmyeon buru buru membereskan barang barangnya, berdiri dan segera pergi dari meja makan sebelum Myungsoo bisa menyelesaikan kalimatnya. Tujuannya sekarang hanya satu. Ia akan mengeluarkan Yixingnya dari neraka bernama program student exchange itu.

"Junmyeon, kau mau kemana?!" teriak Seungho. Tanpa berbalik, Junmyeon berteriak.

"Kalau aku tidak bisa membawanya untuk tidak melakukan transfer pelajar itu..," ia berteriak mantap, lalu berbalik sebentar pada Seungho untuk berteriak, "..Maka aku benar benar akan menikahinya!"

Seungho lalu berpandangan heran pada Byunghee dan Myungsoo yang juga melempar pandangan aneh.

"Bodoh," kata Myungsoo, "si Junmyeon hyung itu. Tentu saja dia akan menikah dengan Yixing noona 'kan?"

"Yeah, suatu saat nanti." kata Byunghee meneguk susunya.

"Itu pun kalau Junmyeon berhasil mengatakan pada Yixing kalau dia mencintainya, bukan ia akan memberi anjing Pomeranian milik Yixing sebuah kandang baru." kini Seungho yang memandang ke arah dimana bayangan Junmyeon menghilang di dekat pintu kantin.

- Do for Kai -

Junmyeon setengah berlari menuju ke satu sudut gedung keperawatan dimana Yixing dan teman temanna biasa berada. Ia menemukan gadis berkacamata dengan rambut digelung tengah membaca bersama dengan dua temannya yang lain.

Satu gadis disebelahnya, Hyuna, kalau Junmyeon tak salah ingat, menyenggol lengan Yixing dan membisikkan sesuatu. Yixing menoleh ke arahnya, wajahnya sedikit kaget dan tersenyum melihat Junmyeon yang sedikit tergesa mendatanginya.

"Yixing.." ujar Junmyeon setelah berdiri di sampingnya yang duduk, "..kenapa kau tak bilang padaku kalau kau ikut petukaran pelajar dengan Universitas Kkami?"

Realitanya adalah bukan jawaban positif yang didapat Junmyeon. Malah pekikan kaget Hyuna dan perkataan bernada tinggi 'APA' dari Taemin yang membuat Junmyeon yakin bahwa Yixing tidak memberitahukan siapa siapa soal student exchange. Tapi, kerutan tidak mengerti sekaligus terkejut terpatri di wajah Yixing membuatnya semakin tidak mengerti, sebenarnya dia tahu tidak sih kalau namanya terpampang menjadi peserta student exchange ini?

"Kau tahu darimana, Junmyeon?"

"Ya ampun, YIXING! KAU SUDAH GILA YA?!" pekik suara sopran dengan mengguncang lengan Yixing yang menatap Junmyeon.

"Aku tahu Yixing pasti sangat marah pada Kyungsoo noona." kali ini suara bariton itu yang menggeleng gelengkan kepala sambil menepuk keningnya.

"Kau bilang aku diterima student exchange itu dan akan berangkat ke KKami?" sekarang ganti suara normal yang terdengar di telinga Junmyeon, lebih menenangkan.

"Ya, dan apa kau tidak tahu soal itu?" Junmyeon memilih duduk di samping Taemin yang masih memandang Yixing antara pandangan jijik dan tidak percaya.

"Tidak. Memang sih rektor Choi bilang namanya akan diumumkan lewat papan. Tapi, sungguh! Aku tidak tahu kalau tujuannya akan menjadi Kkami!" katanya memandang kedua teman disampingnya yang masih tidak percaya.

Alhasil, Yixing menjelaskan dari awal kronologi kejadian. Tertarik ikut student exchange antar kampus, lalu mendaftar, melewati tes yang sedikit aneh dan menunggu 3 bulan untuk akhirnya mengetahui hasilnya. Junmyeon memandang Yixing penuh perhatian sementara Hyuna featuring Taemin masih menunjukkan gelagat tidak suka dan menyela setiap kalimat Yixing dengan kalimat protes.

"Aku tidak akan mundur kalau begitu." kata Yixing menggidikkan bahunya acuh, membaca bukunya lagi. Sementara Hyuna dan Taemin saling berpandangan dia-sudah-gila, Junmyeon membelalakkan mata. Jantungnya mencelos.

"A-apa?" ulang Junmyeon. Yixing mendongakkan wajahnya masih dengan senyum, menampakkan lesung pipi di pipi kanannya.

"Bagus kan? Berarti sebulan ke depan aku akan ngampus disana. Hebat." ucapnya. Tragisnya, di kalimat itu Junmyeon tidak bisa menemukan nada sarkatis atau majas hiperbola. Semuanya diucapkan dengan nada biasa yang menyenangkan. Tapi, tidak menyenangkan mengingat itu berarti Yixing seperti memberi cap jempol berdarah sebagai tanda bukti perjanjian ia setuju menuntut ilmu di neraka.

"Kau tidak berniat untuk mengundurkan diri?" tawar Junmyeon sambil menyunggingkan senyum. Mudah mudahan ini berhasil. Menurut tips dari Tao ahjumma, Yixing adalah pecinta senyuman malaikat Junmyeon sejati. Senyuman itu makin lebar tatkala Yixing memandang Junmyeon, mengedipkan mata beberapa kali karena terpaku lalu memandang ke arah lain. Pipinya bersemu merah.

Setelah sekian detik.

"Tidak." jawab Yixing datar dan kembali membaca bukunya. Kali ini dengan tundukan sedikit dalam dari yang tadi.

"Ya ampun, Yixing!" sekarang Hyuna yang berteriak, "kau tahu bagaimana parahnya Kkami, 'kan?! Ada yang berkata bahwa mereka meng-kadaver orang yang masih hidup!"

Junmyeon terpaku memandang Hyuna, dikepalanya kini berputar soal kata kata Hyuna yang barusa. Kadaver sendiri adalah sebuah media pembelajaran langsung untuk mengetahui seluk beluk tubuh manusia yang ajaib itu secara nyata. Sejatinya, itu hanya dilakukan pada manusia yang sudah meninggal. Mati. Tidak berdetak. Dead brain.

Kkami melakukannya dengan makhluk hidup?

Itu bukan kampus, itu tempat penjagalan manusia dan itu legal! Lebih dari Mengerikan.

Hyuna kembali merecoki Yixing dengan desas desus yang ia dengar dari orang orang yang tidak ia kenal. Desas desusnya saja sudah mengerikan. Astaga, tega nian Tuhan memberikan Kkami sebagai tempat paling horor di muka Korea Selatan dan Yixing harus jadi orang yang dikorbankan. Sementara yang direcoki begitu, Yixing, menghembuskan nafas kesal dan memutar mata.

"Berhenti, Hyuna." katanya lalu menunjuk Junmyeon dengan ibu jarinya, "Kau hanya menakut nakuti dokter ini." ucapnya yang merujuk pada wajah Junmyeon yang memang awalnya memang pucat menjadi sangat pucat seperti darah enggan melewati wajahnya.

"Dia benar, lho, Yixing." kali ini Taemin yang bicara, "mereka benar benar membuatmu praktek dengan makhluk hidup."

"Mereka membuatmu, atau akan, merobek dada temanmu dan mengambil cairan perikardium dari jantung tanpa menggunakan anastesi!" teriak Hyuna lagi.

"Atau menyayat tangan mencari venamu." tambah Taemin dengan wajah mengerikan. Maksudnya, dia mencoba menghayati kalimat itu.

"Melakukan awake brain surgery tanpa bius."

"Membuat ostomi tanpa membelah perut?"

Yixing mulai kehabisan kesabaran. Ia memandang kedua temannya ini geram, "Bisakah kalian diam?! Junmyeon semakin pucat mendengarnya!" sergahnya. Hyuna dan Taemin hanya memandang Yixing lalu akhirnya beredebat sendiri soal segala yang terjadi di Kkami Universitas versi mereka sendiri. Lama kelamaan kalau mendengarkan mereka, dua anak itu bisa menjadi creative idea untuk sekuel film SAW selanjutnya.

"Tidak apa apa. YIxing.. Tapi.. Sungguh, Apakah kau tidak mau mengundurkan diri?" kali ini Junmyeon melunak. Yixing menatapnya, tidak mengindahkan suara suara berisik dari kedua temannya yang kini sedang berpikir apakah Kkami berisi pembunuh pembunuh sadis dari seluruh dunia. Bahkan mungkin si Adolf Hitler itu masih hidup dan sekarang jadi dosen disana.

"Tidak, Junmyeon. Serius."

"Apa yang akan appamu katakan kalau dia tahu kau akan kuliah di Kkami?" kata Junmyeon. Yixing menatapnya, sebenarnya sedikit tersentuh karena Junmyeon berkata selembut dan sekhawatir itu.

"Dia akan tahu kalau kau memberi tahukannya soal ini, Junmyeon." ujarnya, memandang taman bunga kecil di sekitar tempat mereka duduk.

"Baik. Aku tidak mengatakannya pada Kris ahjusshi. Tapi bagaimana dengan Kyungsoo?"

"Unnie tidak tahu atau mengatakan apapun tanpa mengatakan atau memberitahuku dulu." kata Yixing, ia menghembuskan nafas dan memandang Junmyeon, "aku tidak berniat untuk mengundurkan diri. Oke, aku tahu aku egois, sekarang aku sedang marah dengan Kyungie. Aku sedikit muak disini, melihat Kyungie terus terusan dengan iblis itu. Aku tidak akan mengganggunya, aku akan membiarkan Kyungie melakukan apa yang ia inginkan. Aku akan membiarkannya."

Junmyeon akhirnya tahu kenapa Yixing dan Kyungsoo bertengkar pagi ini. Mungkin Yixing sedang dalam batasnya menerima kenyataan bahwa Kyungsoo memaksakan diri masuk ke dunia seorang Kai. Tapi, senyum Junmyeon tidak hilang ketika Yixing berkata, "bahkan kalau kau menggodaku untuk mengundurkan diri. Aku tidak akan mundur."

Entah Yixing sedang menggodanya, entah karena Junmyeon terlalu putus asa menarik gadis itu dari student exchange sialan itu, atau memang Junmyeon menyukai menggoda Yixing. Maka Junmyeon setengah bercanda tapi lebih banyak serius saat mengatakan, "Cantik, lebih baik kau mengundurkan diri dari pertukaran pelajar itu,"

Hyuna dan Taemin berhenti bertengkar ketika Junmyeon menaikkan nada suaranya agar kedua teman serta Yixing mendengar apa yang dikatakan Junmyeon. Dua anak manusia yang tadi bertengkar itu tersenyum menahan tawa sementara Yixing menatap Junmyeon terkejut,

"A-apa? Kau tadi memanggilku apa?"

"Baiklah, sepertinya tidak suka cantik ya? Bagaimana dengan nona manis? Ah, tapi kau kan cantik. Oke lah, Nona Manis, bagaimana kalau kau mundur saja dari program itu?" kata Junmyeon masih dengan senyum tampannya. Membuat Yixing merona dan kedua temannya tertawa dan bersiul menggoda.

"Cieee.. Nona Manis..," Taemin dan Hyuna saling berhigh five di udara lalu tertawa menggoda Yixing. Sementara sang korban menatap benci pada para pelaku penggodaan. Junmyeon menaikkan alisnya

"Nona manis. Jadi, lebih baik kau hentikan saja keinginanmu untuk pertukaran pelajar itu." akhirinya. Yixing terdiam, terlalu malu mengatakan sesuatu. Tahu begitu dia tidak akan menyuruh Junmyeon menggodanya.

Meskipun dalam hati ia menjerit bahagia.

"Nona manis..," Panggil Junmyeon.

"Berhenti memanggilku begitu. Kalau kau memanggilku begitu, aku akan tetap berangkat." ancam Yixing. Junmyeon pura pura terkejut mengangkat kedua tangannya.

"Oke oke. Yixing...,"

"Nah, seorang Yixing tidak akan mundur. Jadi, maaf Junmyeon. Usahamu sia sia." dan Junmyeon menatap Yixing yang tesenyum dengan tidak percaya. Ia akhirnya sampai pada batasnya.

"Yixing! Ya Tuhan, itu benar benar tidak baik untukmu. Kau bisa celaka!" katanya. Apalagi ia semakin sedikit jengkel ketika melihat Yixing membereskan buku dan tasnya, lalu berdiri akan meninggalkan tempat tersebut. Yixing lalu berkata,

"Kalau kau mau bilang begitu. Tolong katakan itu pada Kyungie saja."

"Apa?"

"Katakan padanya, kalau makhluk bernama Kai itu mencelakainya. Tidak baik untuknya."

- Do for Kai -

"Junmyeon, nanti malam kau jadi kan pergi dengan appa ke rumah Kris?"

"Ne, appa." jawab Junmyeon sopan. Matanya tidak beralih dari tayangan televisi sementara Ayahnya, Jung Yunho, masih sibuk berkutat dengan notebook di meja yang tidak jauh dari ruang bersantai. Tapi pikirannya melayang kemana mana karena kejadian tadi siang. Baik, dia menyerah soal Yixing yang akan tetap masuk Kkami minggu depan. Lain dengan hatinya, dia tidak menyerah untuk mendapatkan cinta Yixing.

"Heii.. Pak dokter! Ngelamun saja kau." seseorang tiba tiba rusuh mendatangi Junmyeon, mengacak rambutnya dan mendorongnya minggir dari sofa lalu merebut remote TV dari tangan Junmyeon. Yonghwa, kakak Junmyeon, satu satunya, memang benar benar si pembuat rusuh ulung.

Junmyeon menoleh pada jam klasik setinggi Ayahnya yang tidak sopan itu lalu memandang Yonghwa dengan alis terangkat, "ku kira hyung ada latihan band hari ini."

"Tidak. Aku mau bersiap siap saja. Kan nanti aku mau ngedate dengan cewek cantiiiikkk..," katanya menggoda sambil mengerling appanya. Yunho lalu mendongakkan wajah dan memandang Yonghwa datar.

"Dengar ya, Yonghwa," kata Yunho, "kalau sampai ummamu kenapa-napa-,"

"Tidak akan! Aku janji akan menjaga umma sebaaik yang kubisa! Kan aku mau ngedate dengannya." kalimat Yonghwa penuh dengan nada bercanda, Junmyeon mendengus tertawa.

"Bilang sekali lagi kau ngedate dengan istri appa. Habis kau." kata Junmyeon memperingatkan Yonghwa, sedang si arsitek vokalis itu hanya tertawa geli.

Malam ini, Junmyeon sebenarnya tidak minat ikut makan malam di rumah keluarga Do. Tapi, karena Yonghwa dan ummanya akan pergi 'ngedate' menonton film Berlin, jadi lebih baik Junmyeon ikut makan malam bersama appa daripada sendirian di rumah. Lebih baik 'kan? Lagipula, kalau selama makan malam dihidangkan sepiring pemandangan indah dan segelas senyuman one dimple milik Yixing maka Junmyeon tidak keberatan.

"Yunho," panggil seseorang memenuhi ruang keluarga yang diberisiki oleh gumaman rendah televisi, "lebih baik, aku pakai ini atau ini?"

Ketiga pangeran itu menoleh pada asal suara. Memandang seorang wanita cantik yang diketahui berperan sebagai umma dan istri mereka, Jaejoong, sedang menunjukkan di tangan kanan gaun rancangan Karen Miller warna biru selutut, berlengan tipis sesiku dihiasi motif bunga. Lalu di tangan kiri ada dress warna merah marun berlengan sampai siku, dengan dada sedikit terbuka koleksi dari ASOS. Junmyeon dan Yonghwa saling menatap lalu berbalik lagi memandang ummanya, sementara Yunho menatap serius memilih kedua baju tersebut.

"Aku pilih yang biru." kata Yunho singkat lalu kembali ke pekerjaannya. Jae memandang ragu pada pilihan Yunho lalu mengamati gaun biru itu., bergumam 'biru?' lalu mengangguk anggukkan kepalanya percaya dengan pilihan sang suami. Tapi, kemudian ia sadar masih ada 2 pasang mata yang memperhatikannya. Dengan senyum keibuan yang meminta pendapat, ia akhirnya bertanya.

"Kalau menurutmu, Yonghwa?" tanya Jae pada orang yang akan mengajaknya 'berkencan' hari ini. Yonghwa terdiam, lalu berpikir sebentar.

"Tidak. Ya ampun, umma. Tidak semuanya!" kata Yonghwa lalu meloncat berdiri dan menghampiri ummanya. Junmyeon masih diam saja, sementara Yunho sudah memandang Yonghwa dengan menguarkan aura tidak enak.

"Eh, kenapa tidak semua? Bukankah yang ini bagus?" Jae menyurungkan gaun warna biru pada Yonghwa, tapi anak lelaki tertuanya itu menggeleng cepat dan mengibas kibaskan tangannya.

"Umma, ini terlalu tua dan tidak akan cocok kalau dipakai umma! Begini saja, kupilihkan baju untuk umma, jadi kita bisa couple baju. Bagaimana?"

"Hei hei.. Tidak bisa. Yang biru itu saja." kali ini Yunho benar benar menutup pekerjaannya. Tidak rela kalau anak sulungnya mendadani ibunya seperti pakaian model sekarang yang terbuka kemana mana. Memang Yunho rela 'membagi' tubuh Jae ke orang orang? Jawabannnya absulotely big no.

"Eyy.. Appa tidak punya selera fashion sekali sih!" tegur Yonghwa yang sudah berada di samping ummanya. Ia lalu mengambil kedua baju tersebut dan memberikan penjelasannya yang garing pada appa. Dasar, batin Junmyeon, hyung sedang mengajak perang seekor beruang Grizzly.

"Baju yang biru ini hanya akan membuat umma semakin lebih pendek, nah, kalau yang ini..," ia menyodorkan yang merah, "..tidak. Terlalu terbuka dan tidak pantas kalau dipakai dengan anak muda sepertiku. Aku akan mendadani umma supaya terlihat sangat anak muda!"

"Tapi, Yong," kata Jae memandang baju yang berada di tangan Yonghwa, "ini 'kan baju pemberian appamu."

"Nah, appa membelikannya untuk umma karena itu memang pantas kalau keluar dengan appa. Tapi, denganku? No. No. Aku kan tidak setua appa. Lagipula, umma selalu kelihatan 10 tahun lebih muda dari appa kalau keluar rumah."

"Ya, ya! Kau mau bilang kalau appamu ini sudah tua?" sanggah Yunho. Yonghwa tersenyum lebar dan menggeret ummanya dengan satu tangan.

"Syukur deh kalau appa sadar!" teriaknya sambil membawa lari Jae menuju kamar baju. Memilihkan baju yang pantas menurut Yonghwa untuk Jae.

Yonghwa masih mengoceh panjang lebar soal baju yang terlalu tua dipakai oleh orang secantik dan semuda Jae untuk pergi nonton film. Mau tidak mau, kuping Yunho panas juga mendengar Yonghwa bicara agak keras begitu seakan akan memang sengaja membuatnya cemburu karena Yongwa akan keluar dengan istrinya. Yang dimana istri Yunho itu, ya, ibu Yonghwa sendiri.

"Jadi, Junmyeon," tiba tiba Yunho berkata lalu menghembuskan nafas, kembali sibuk dengan berkas berkasnya. Junmyeon yang dipanggil begitu lalu menoleh pada appanya, "kalau kau sudah pacaran dengan Yixing nanti. Pintar pintar saja membuat dia selalu percaya padamu."

Junmyeon yang mendengar itu sedikit merona di wajah, tapi lalu menaikkan alisnya.

"Kenapa harus Yixing?"

"Karena appa pikir kau tidak tertarik dengan si mata owl itu."

"Ya ampun, appa, tidak sopan menyebut anak orang jadi burung hantu begitu."

"Kris menyebut Yonghwa, si sad eye. So, what's the point?"

- Do for Kai -

Sudah pukul setengah delapan malam saat Yunho dan Junmyeon sampai di kediaman keluarga Do. Junmyeon keluar duluan sementara appanya mengirim pesan pada umma. Junmyeon menggeleng pelan dan dalam hati berkata, 'dasar cemburuan'.

Pasalnya, itu sudah pesan ke sekian kalinya setelah tadi Yonghwa buru buru menarik Jae keluar rumah karena takut kehabisan tiket. Junmyeon juga tidak sebodoh itu percaya, Yonghwa semalam beli tiket elektrik, jadi untuk apa buru buru?

Jawabannya, menghindari amuk beruang Grizzly. Kelihatannya sih, Yunho tidak terlalu senang dengan baju yang dipilihkan Yonghwa pada Jae.

Terlalu berantakan menurut Yunho tapi menurut Junmyeon itu keren sekali. Jae mengenakan T-shirt berukuran setengah lebih kecil dari biasanya warna putih gading dengan tulisan 'BAD BOY' font Ruach LET, dilapisi jaket kulit dari V Ave, bercelana Jeans ketat koleksi Levis yang sedikit hampir robek di lututnya dan bersepatu boot semata kaki punya Prada. Yunho hampir, hampir saja akan membuat Jae mengganti bajunya kalau tidak Yonghwa menarik Jae masuk ke mobilnya dengan tawa puas.

Kadang kadang, Yunho menyesali perbuatannya membiarkan Yonghwa membeli mobilnya sendiri.

"Kau tampan kok, Junmyeon." kata Yunho yang tiba tiba sudah ada di samping Junmyeon, menunjukkan perbedaan tinggi yang kurang ajar sekali menurut si anak. Tapi, ia hanya pasrah ketika Ayahnya mengunci leher dan menariknya bersama mengetuk pintu rumah keluarga Do.

"Oh. Selamat malam, Tao. Apa Kris sudah pulang?" tanya Yunho tepat saat Zitao, Nyonya Do, membukakan pintu.

"Selamat malam, oppa! Oh, Junmyeon juga ikut? Yonghwa dan Jae unnie mana?" tanya Tao sembari membalas bungkukan badan Junmyeon singkat dan mempersilahkan dua tamunya masuk.

"Yonghwa hyung dan umma sedang kencan. Jadinya, aku ikut kesini, ahjumma." kata Junmyeon sekedarnya. Yang ia tidak tahu, appanya mati matian tidak memutar mata karena kesal telah diingatkan kemana anak tertua dan istrinya pergi. Tao tertawa pelan.

"Pasti oppa cemburu sekali ya, dengan Yonghwa. Aduh, maaf lho, gara gara kami, jadinya oppa harus berpisah dengan Jae unnie." kata Tao bercanda. Ia memimpin langkah kedua pria tersebut menuju ke meja makan.

"Tidak apa apa, Tao. Jangan begitu. Kau kan sudah lama mengundangku, jadinya, aku harus datang. Lho, Yifan belum pulang?" tanya Yunho ketika hanya mendapati Kyungsoo yang menaruh beberapa potongan buah di atas meja makan. Kyungie menunduk singkat pada Yunho dan Junmyeon.

Tao berkata bahwa Yifan tepat setelah pulang tadi langsung menemui seorang tamu di ruang bacanya, bahkan ia sendiri juga belum bertemu dengannya. Jadilah, mereka dipersilahkan untuk mencicipi hidangan makan malam terlebih dahulu. Maka, Kyungie, Junmyeon, Yunho dan Tao makan duluan dengan diselingi obrolan hangat antara mereka.

"Lho, Kyungsoo," tanya Junmyeon saat main course sudah diantar oleh para pelayan sementara Yunho dan Tao masih berbincang, "Yixing kemana?"

"Yixing?" kata Kyungsoo balik bertanya, ia meminum airnya baru menjawab, "tadi dia makan duluan di dapur. Ada tugas katanya. Bukannya dia mau berangkat ke kampus baru 'kan besok?" Junmyeon menganggukkan kepala malas. Mengingat 'debat' kecilnya dengan Yixing tadi siang.

"Aduh, sepertinya, ada yang rindu dengan adikku." Kyungsoo kembali bicara dengan senyum menggoda Junmyeon. Yang digoda begitu hanya tertawa kecil, dalam hati memang itu alasan dia kesini 'kan? Kalau tidak ada hidangan itu sih, jadi malas.

"Umma," panggil Kyungsoo ketika Tao sudah selesai tertawa dengan Yunho, "memang siapa sih tamu yang datang?" tanyanya.

Seketika pandangan yang di dapat oleh Junmyeon adalah wajah Tao ahjumma yang sedikit menegang. Matanya tak fokus melihat ke satu arah dan mencoba menghindari pandangan Kyungsoo yang ingin tahu, seketika Junmyeon mengerutkan kening melirik appanya. Tapi, dasar Yunho yang tidak peka atau memang kelaparan, ia masih mengunyah steak dari piringnya.

"Umma?"

"Hanya.. Hanya tamu biasa, sayang. Ada apa memang?" tanya Tao balik, Junmyeon kembali menaikkan satu alisnya. Sepertinya tamu itu bukan tamu biasa yang diartikan oleh Kyungsoo. Terlalu biasa untuk bersikap seperti itu.

Kira kira Junmyeon akan memakan suapannya yang terakhir. Terdengar suara pintu terbanting dan teriakan marah dari seseorang. Semua orang yang berada di meja makan saling berpandangan bertanya, tapi ketika mata Junmyeon beralih pada Tao ahjumma, ia tahu, teriakan itu bukan pertanda baik.

"A-aku akan mengeceknya. Kyungie, kau tunggu disini dengan Yunho ahjusshi dan Junmyeon, oke?" dan Tao langsung melesat pergi dari kursinya. Junmyeon memandang appanya yang kini meminum wine masih dengan pandangan tak acuh. Tapi ketika menit kesekian ia masih memandangnya, Yunho lalu berdiri.

"Ayo kita lihat, jagoan. Kau mau tahu 'kan?" kata Yunho ringan, tersenyum pada Kyungsoo terlebih dahulu dan membuat Junmyeon ikut berdiri. Mengekor dibelakang Yunho, yang dibelakangnya ada Kyungsoo ikut serta. Terdengar gumaman gumaman debat sengit di ruang tamu. Yunho sampai terlebih dahulu dengan kening berkerut karena melihat Yifan sudah berada disana dan sedang berdesis keras pada Tao yang tampaknya berusaha menenangkan suaminya.

"Yifan?" panggil Yunho, saat Yifan menoleh Yunho hampir saja mengangkat tangan mengucapkan selamat malam kalau saja tidak tiba tiba Yifan menunjuk ke arahnya.

"Kau! Jelaskan pada appa apa yang sebenarnya terjadi!" secara tiba tiba, Yifan berteriak marah. Saat akan melangkah maju, Tao menahan tangan dan dadanya. Tentu saja Yunho dan Junmyeon saling memandang tidak mengerti.

"Yifan..," Tao berbisik,

"Jangan cegah aku, Tao. Do Kyungsoo, kau harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi!" teriak Yifan sekali lagi. Yunho lalu buru buru menggeret Junmyeon untuk minggir, karena ia rasa bukan saat yang tepat ikut campur dalam masalah yang sepertinya internal antara keluarga ini.

"Appa? Kenapa? Kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Kyungsoo dengan nada lembut dan maju tanpa rasa takut.

"Kenapa kau mempermalukan appa dengan bekerja ke tempat murahan seperti Akai Cafe itu, hah?!"

Yifan lalu melempar beberapa lembar foto polaroid ke lantai dekat kaki Kyungsoo. Junmyeon terkejut, itu berarti desas desus di kampus memang benar adanya. Tapi, untuk apa Kyungsoo bekerja di kafe yang tidak 'biasa' itu? Itukah yang membuat Yixing bertengkar dengannya?

"Appa..," kata Kyungsoo mengambil foto foto tersebut, lalu memandang appanya lembut, "..kau harus dengarkan penjelasanku dulu."

"Tidak! Kyungsoo! Kau tidak perlu menjelaskan apapun! Anak kurang ajar bernama Kim Jongin itu telah menjelaskan padaku segalanya dan memberikan foto itu! KENAPA KYUNGSOO! APA TIDAK CUKUP SEGALA YANG APPA BERIKAN PADAMU!?"

"Appa. Bukan begitu. Aku tidak mungkin meminta uang tambahan pada appa. Aku hanya membantu Jo-,"

"Kau bilang dia sahabatmu, iya?! Bahkan kau tidak mengenalnya saat kau masuk ke Universitas, Kyungsoo! Berhenti berbohong!"

"Ada apa ini?" suara lain datang dari belakang Kyungsoo. Junmyeon menoleh dan jantungnya berdebar keras. Yixing datang dan mengerutkan kening melihat kekacauan di lantai dekat kaki kakaknya. Tapi, saat ia menemukan Yunho dan Junmyeon ia tersenyum singkat.

"Appa, ada ap..," ia melihat salah satu polaroid yang diambilnya, "oh." karena ia terlalu mengerti. Foto Kyungsoo sedang melayani semeja para lelaki mabuk. Ini pasti foto Kyungsoo saat di bekerja.

"Siapa yang memberikan ini padamu, Dad?" tanya Yixing. Wajah Yixing lalu mengeras saat mendengar kata 'Kim Jongin', tapi lalu melunak ketika ia teringat sesuatu.

"Lalu apa yang akan Dad lakukan sekarang?" Yixing kini berjalan ke depan Kyungsoo, "sudah terlewat 'kan? Kyungsoo sudah bekerja disana, lalu apa?" tanyanya kalem walau Junmyeon menemukan amarah yang terpendam dibalik genggaman tangan Yixing.

"Kyungsoo harus berhenti dari pekerjaannya! Atau kalau tidak, ia akan pindah ke Kanada tinggal bersama grandma disana!" bentak Yifan. Tao memandang kedua anak gadisnya dengan pandangan sedih, ia sudah menangis dalam diam. Sementara Yunho dan Junmyeon masih dalam posisi silent mode mereka.

"Tapi, appa.." Kyungsoo akan menyela,

"Appa sudah mencabut beasiswa Kim Jongin, Kyungsoo. Apapun yang kau lakukan sekarang tak ada gunanya. Dia adalah anak kurang ajar yang membuat wajahmu lebam. Apa lagi yang kau harapkan. KATAKAN APA LAGI YANG KAU HARAPKAN!" nada Yifan meninggi.

"Tapi, appa. Kalau dia tidak mendapat beasiswa itu. Lalu bagaimana-"

"Dia sudah dipindahkan ke tempat yang seharusnya." Yifan berkata sengit, lalu tertawa mengejek, "anak seperti itu tidak pantas, Kyungsoo, tidak pantas berada di sekitar kita. Tidak tahu sopan santun, kasar, tidak berpendidikan-"

"Appa!" Sergah Kyungsoo, tapi lalu Yifan meneriakinya.

"Dan kau, Kyungsoo. Akan kembali ke Kanada dan tinggal bersama grandma sampai kuliahmu selesai!" katanya, "setelah itu, kau akan kembali kesini, dan melanjutkan bisnis appa lalu melupakan masalah Kim Jongin!"

Yixing menoleh pada kakaknya yang kini sedang menahan tangis. Wajah Kyungsoo memerah, menunduk menatap lantai. Menatap foto foto polaroid yang bertebaran disana. Kali ini, Yixing yang berjalan mendekati appanya.

"Kyungie tidak akan pergi kemana mana." ancam Yixing, "dia tidak akan pergi kemana mana. Jangan berani beraninya kau memisahkan kami, Dad!"

"Kau tidak mengerti masalahnya, Yixing. Kau tidak mengerti." desis Yifan, mulai maju selanghkah memandang putrinya, "aku tahu selama ini kau melindungi Kyungsoo. Lebih baik kalau kalian dipisahkan saja. Mengerti?"

"Tidak! Aku tidak mengerti apapun yang kau bicarakan!" kata Yixing sengit, "BERHENTI MEMERINTAH KAKAKKU UNTUK MELAKUKAN APA YANG INGIN KAU LAKUKAN!"

Semua orang di ruangan itu menarik nafas terkejut. Junmyeon dan Yunho saling melirik, tidak tahu harus berbuat apa. Sementara Tao berbisik sedih, 'Yixing, nak'.

"Kau tidak mengerti, Yixing! Berhenti. Membantahku." kali ini amarah Yifan sampai di puncaknya. Ia berkata dengan nada rendah dan aura yang mengancam. Yixing tidak peduli, ia terlalu acuh dengan sekitarnya. Yang ia inginkan sekarang adalah kebahagiaan kakaknya, tidak peduli apa yang akan terjadi. Meskipun itu bodoh.

Yixing sudah tertular Kyungsoo. Dia gila.

"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, Dad! Selama ini.. Kau tahu... Selama ini aku hidup dengan Kyungsoo dan yang kulihat adalah dia menderita dengan semua ocehan impianmu untuk menjadikannya pewaris tung-"

PLAK!

"Jangan jadi anak durhaka, kau, Do Yixing."

Junmyeon, Yunho, Tao dan Kyungsoo yang berada di sana hanya terdiam terpaku. Yunho menatap Yifan dengan pandangan tidak percaya, sementara Tao dan Kyungsoo terpekik, untuk Kyungsoo ia menangis menutup mulut dengan kedua tangan. Jumnyeon memandang Yixing yang masih menolehkan kepalanya karena tamparan keras Kris di pipi kanannya.

Rasanya sakit, dan panas.

YIxing lalu perlahan menjalarkan tangannya ke pipi lalu mendongakkan pandangannya pada orang yang jauh lebih tinggi darinya tersebut. Tidak ada air mata yang mengalir dari mata indahnya, meskipun sungguh, menurut Junmyeon akan lebih baik kalau Yixing menangis.

Paling tidak, itu akan dijadikannya alasan untuk meneriaki Yifan ahjusshi di depan keluarganya dan Yunho.

"Maaf." Yixing berkata lirih, menatap kedua bola mata amarah milik ayahnya, "aku harusnya berkata 'selamat datang' karena kau pulang dari kantor, bukannya berteriak padamu." ucapnya lirih. Junmyeon lalu menoleh pada Yunho, mencari dukungan. Tapi, Yunho menggeleng samar.

"Xingie..," ujar Kyungsoo mendekat. Tapi tertahan karena gerakan lambat adiknya yang mulai menjauhi Yifan serta akan melewati dirinya.

"Umma sudah menyiapkan makan malam." kata Yixing masih memegang pipinya, lalu berjalan mundur teratur, masih tidak ada air mata yang mengalir. Ia menatap ayahnya seperti tidak ada yang terjadi, "aku sudah makan. Jadi.."

Ia lalu memandang Junmyeon yang menatapnya perhatian, satu bibirnya terangkat sedikit. Ia berkata,

"I have a feeling."

Ia lalu memandang appanya lagi, yang masih terselimuti amarah luar biasa.

"Have a good night." ucapnya.

Yixing lalu berbalik dan berjalan cepat, berlari menaiki tangga dan hal yang terakhir Junmyeon dengar adalah bantingan pintu di lantai atas.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

...

...

..

.

To Be Continued...

So.. Mind to leave comment, please?

Tania3424 : Ini sudah ada SuLay sidenya : ) Banyak yang suka ya pas Suho godain Yixing, tapi emang si Suho begitu juga kalo godain -_- Karena di chapter ini sudah ada SuLay side, jadi, review lagi ya! :D Terimakasih~~

ICE14 : Nah, aku juga nggak percaya tiba tiba si Kyung bilang gitu. Padahal nggak ada di script loh *bolak balik naskah* hahahaha. Ini sudah ada SuLay, silahkan komen lagi, Okay! :D

Lana : Demi.. Demi Tao cinta mati sama Kris. Iya, dia cinta sama Kai. Gila ya. Padahal belum ketemu. Mungkin Kyungsoo korban love at the first punch kali ya? Hahaha. Ini sudah di update, silahkan review lagi :D

Mitatitu : Silahkan review lagi. Ini aku pakek GS soalnya nggak bisa bikin boyxboy. Hahahaha :D

Blackjack : No! I'm totally Blackjack same as you! :D Hehehe, pemilihan nama Park Bom sama Sandara ini sebenarnya iseng aja. Karena mungkin seru aja kalau mereka jadi antagonis. So, mind to review again?

Widyaokta : Nggak papa. Hahaha, ini sudah diperbanyak. Silahkan review lagi, oke? : )

BabySuLayDo : Kok bisa? Ketawanya ini dibagian mana? Nangisnya? (?'_') Sori, jadi kepo saya. Hahaha. Pengennya sih juga gitu, tapi Yixing terlalu benci sama Kai, jadinya mungkin dia pikir percuma mukul Iblis. Hahahaha #dicekikKai. Tapi kalo SuD.O Lay ama siapa? Ama aku aja kali ya~~ Hahahaha. Tapi, ini sudah dilanjut. Silahkan komen lagi :D

SooBaby1213 : Nah, emang gitu. Tolong tambahin, bagaikan Kris dengan Alpacanya, Sehun dan Luhan dengan bubble teanya.. Oke oke, ini jadi kemana mana. Hahaha. Ini sudah dianter sama teleportasinya Kai, mudah mudahan cepet. Silahkan review lagi :D

Septaaa : Maunya sih gitu, tapi… Normal POV ya? Akan diusahkan. Ini ada Normal POV, jadi, silahkan di review. Tapi kayaknya nggak condong kearah KAIDO ya :p Makasih Kece Badai Cetarnya. :D Silahkan review yang membahana lagi ya :D

Nickkendwi : Nah, makanya, aku juga heran kenapa Kyung bilang begono. Ya udahlah ya, kalo penasaran, silahkan tetap ikuti FF ini. Hahaha. Silahkan review lagi! :D

Fresh salmon: ini sudah dilanjut. Chanyeol? Sama aku aja boleh? #plak hahahaha Mereka sudah bersatu.. tapi.. Ya gitu lah. Hahahaha

Chen Clouds : Kalo POVnya Kai mah… Isinya kosong. Berantem mulu. Ratenya nggak cukup M. Hahahahaha. Waduh, aku nggak pernah ngobrol sama Kai, jadinya nggak tahu tuh dia suka sama Kyung apa nggak. Hahaha. Silahkan review lagi ya! Terimakasih kembali : )

HaeSan : Nah, gitu. Bilangin aja ke Kai. Tapi ati ati ya kalo mau ngomong sama Kai, harus pinter paling nggak Taekwondo dulu. Biar nggak diterbangin sama Kai, hahahahaha. Ini si Kris udah tengkar cetar membahana sama Lay, gimana? Sudah next, reviewnya juga next next ya! :D

Lee kaisoo : Kyungie sudah bahagia.. Tapi kita yang nggak ngerti kenapa dia bisa bahagia ya digituin sama Kai? Gila (?'_') #KetularanYixing hahaha. Ayo, kalo kamu mau Kyung bahagia, silahkan tetap review ya! Terimakasih~~

BLUEFIRE0805 : Wah wah, terimakasih atas waktunya! Tapi, jangan sering sering begandang ya, entar sakit loh! :D Anda special, semuanya special! Hahahaha. Ini ada Yixing sama Junmyeon. Kan ada jatahnya masing masing, ya? Hahahaha. Yah, namanya juga karakter, tapi mereka aslinya nggak gini kok. Ya kan kamu nggak pernah liat Kai nerbang nerbangin orang toh? Nah.. tenang aja, mereka hanya karakter disini. Hahaha. Iya sih, tapi kalo tiap hari Yixing rebut mulu sama Yifan, ya.. Bikin budeg juga. Hahahaha. Nggak papa, silahkan ngoceh lagi yang banyak sekarang! Review again, okay?!

GALAUnema200071999 : Waduh waduh.. Hahaha. Sebegitu bencinyakah pada Kai? Bencinya sama Kai yang disini aja ya.. Jangan benci sama Kai yang asli, kalo Kai yang asli dia nggak tahu apa apa loh, seriuss… hahahaha. Oh iya, besok besok, pakai bahasa Indonesia aja ya kalau komen, saya sebenernya nggak tahu chingu bilang apa sampe aku tanya temen aku yang lain. Ahahha. Silahkan review lagi ya! :D

Nadya : Sensi cetar membahana lah sama Kai. Hahahaha. Ya.. kan emang si Kai tengil. Nah, bilangin si Kyungie gih, cowok kan banyak ya. Kenapa harus Kai coba? Hahahaha. Ini sudah dilanjut, silahkan review lagi!

Riyoung Kim : Hahaha. Wah, jangan rebut Kyung, entar kamu dilempar sama Kai, mau? Hahahah. Ini sudah dilanjut, silahkan review lagi! :D

Uniquegals : aku juga gemes nulisnya. Oh, ini POVnya ada yang 3rd. Gimana? Silahan komen lagi ya! :d

MiraMira : Hai! Wah, aku seneng bange tkamu jug abaca FF aku! :D Ya ampun, ini dia salah satu penduku Kyungsoo, 'Kai pasti orang baik' virusnya udah mulai nyebar. Hahahaha. Dia udah nggak maniak lagi.. lebih dari itu. Hahaha. Ketularan Yixing? Kok bisa? Ini sudah update, jadi silahkan review lagi, okay? :D

Deer Panda : waduh, bahagia? Terimakasih loh, terimakasih (^_^) hahahaha. Ini sudah update, silahkan komen lagi! :D

Tikaikyungsoo: ini sudah di update, silahkan komen lagi, dan terimakasih komenannya :D