Serius, Ginger itu lagi nggarap FF yang laen. Tapi yang ini lebih cepet update juga Ginger nggak tahu kenapa. Mungkin banyak banget cinta yang datang, dan Ginger nggak bisa menyimpen ide lama lama di otak. Well, this is it! Do for Kai chapter 7!
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Title : Do for Kai
Episode : 7
Cast :
- Do Kyungsoo (women),
- Zhang Yixing as Do Yixing (women)
Support Cast :
- Wu Yi Fan as Do Yi Fan (men),
- Huang Zi Tao as Do Zi Tao (women),
- Kim Jongin as Kai (men),
- Park Chanyeolas Chanyeol (men)
Cameo :
- Leejon as Changsun (men),
- Yoon Doo Joon as Profesor Doo Joon (men),
- Pyo Ji Hoon as Ji Hoon (men)
- Choi Minki as Ren (men),
- Aron Kwak as Aron (men),
- Kang Dong Ho as Baek Ho (men),
- Bang Yongguk as Yong Guk (men),
- Oh Sehun as Sehun (men),
- Xi Luhan as Luhan (women)
Genre :
Romantic, Family, Drama, Comedy
Rating :
T, amanlah pokoknya. Kecuali kalo Kai sudah mulai beraksi, itu bisa berubah lagi.
Inspired by:
Grey's Anatomy and Ai To Makoto (for Love's Sake)
Disclaimer :
Kita semua punya Tuhan. Tuhan punya kita. Cerita punya saya, dan Tuhan. #plak
.
.
- Do For Kai -
.
.
Minggu ke dua dan untuk Yixing tidak ada kesulitan yang berarti. Yang dilakukannya hanya ke kampus, bermain bersama Ji Hoon atau mengunjungi kelas Taeyeon di sebelah, lalu pulang ke rumah pukul satu siang. Dia tidak kenal banyak orang. Mungkin ia tahu siapa si A, atau si B. Sebatas tahu, itupun karena Ji Hoon, yang sudah bertahun tahun disini memperkenalkannya pada Yixing.
Anyway, kemarin Ji Hoon menyatakan perasaannya pada Yixing dan sekarang Yixing tengah menyelesaikan origami burung bangau kesepuluhnya, untuk menyatakan pada Ji Hoon kalau dia menolaknya.
Saat Yixing memberikannya pada Ji Hoon,
"Terimakasih Yixing." ia menatap Yixing dengan penuh perhatian, Yixing tersenyum, "s-setidaknya. A-aku masih terus bisa menyimpan bangau ini darimu." dan satu air mata mengalir. Yixing tersenyum kecut, bukan itu yang dia harapkan.
"Tidak, Ji Hoon. Kau boleh membuangnya, well, jangan, aku membuat itu seharian. Tapi, ini bukan berarti kau akan berhenti padaku. Kau harus move on, cari orang yang benar benar mencintaimu. Bukan orang yang kau perhatikan dari satu sisi tanpa membalas perasaanmu." kata Yixing lembut. Setidaknya, setelah sepuluh detik ia berkata begitu, persimpangan samar hadir di sudut keningnya.
Itu harusnya menjadi kalimat utama Yixing pada Kyungie yang tak kunjung berhenti mencari Kai di kampus Hanh. Beruntung Yixing kini sudah pindah, dan akan kembali seminggu lagi.
"Jangan lupa. Luluslah dengan nilai baik." tambah Yixing. Ji Hoon ini empat tahun lebih tua darinya dan harusnya sudah lulus dua tahun yang lalu. Ji Hoon mengangguk cepat, setidaknya, Yixing bisa membuat satu orang pergi dari neraka ini.
Kadang kadang, waktu istirahat, tidak sih, setiap waktu itu istirahat, Yixing suka tidak berani keluar kelas. Ia seperti merasakan ada aura mencekam berjalan disekitar kelasnya. Saat ia buru buru menempel di tembok dan mengintip siapa yang lewat...
Itu Kai.
Tapi, kali ini Yixing kehilangan Dewi Fortunanya. Ia sedang mengeluarkan meja ringsek dimana ia biasa duduk diatasnya karena tertendang oleh salah seorang temannya. Yixing iseng mengeluarkannya saja, tidak lebih. Tapi, ia tidak akan menjadi iseng seperti itu lagi kalau ia tahu seseorang menahan dorongan mejanya saat ia mendorong meja melintasi lorong yang sedang sepi.
Yixing menyusuri tangan berkulit lebih gelap darinya itu, dan kengerian menjalar ke wajah Yixing saat ia tahu siapa pemilik tangan tersebut.
Kai.
Tidak ada yang bicara atau bergerak. Yixing mencengkeram kuat kuat meja yang ada di bawahnya sementara Kai berusaha menariknya. Suatu detik kemudian, akhirnya Kai berhasil menarik meja itu dan menggeret hingga mejanya menabrak dinding di seberang Yixing. Mereka masih berdiri dan saling berpandangan benci. Tidak jelas siapa membenci siapa, tapi Yixing muak melihat mata dan wajah itu.
"Kenapa kau ada disini?" suara itu merasuk ke gendang telinga Yixing. Lebih bersahabat satu persen dari terakhir kali mereka bertemu dan bicara. Yixing mengangkat satu bibirnya sinis, masih menusuk tajam melawan tatapan Kai.
"Harusnya, aku yang bertanya, kenapa kau ada disini." kata Yixing hampir hampir tidak menggerakkan bibirnya. Terlalu marah dan benci. Kai tertawa ringan, tawa setan.
"Appamu berkata ini tempat yang cocok untukku. Dan.. Yah. Aku harus berterimakasih sepertinya." senyuman sinis di wajah Kai berangsur angsung menghilang dan menjadi senyuman bahaya. Yixing mengarahkan satu kakinya kebelakang, mengambil ancang ancang untuk kabur kalau kalau Kai melakukan sesuatu diluar kemauan.
Hening kembali. Tidak ada yang bicara. Kai masih senang memandang wajah keras Yixing yang dibalas tatapan tak bersahabat Yixing melihat wajah bengis iblis.
"Kakakmu. Aku penasaran soal dia yang ada di Hanh, " kata Kai pada akhirnya, "..tanpaku." dan senyumnya berubah menjadi lebih mengerikan. Yixing menatapnya tidak senang,
"Keluar dari hidupnya, Kai." kata Yixing, memandang Kai tajam, "kau membawa pengaruh buruk untuk kakakku."
"Aku tidak pernah bermaksud untuk masuk ke kehidupan siapapun. Yet, I'm not interest." ujar Kai, sembari melangkah satu jenjang mendekat pada Yixing, mendekatkan wajah padanya, "pikir sekali lagi. Siapa yang masuk ke kehidupan siapa."
Yixing mengeratkan genggamannya, ingin sekali meludahi wajah busuk di depannya. Tapi, ia harus jaga sikap. Kalau dia melakukan itu, berarti dia sama rendahnya dengan iblis ini. Yixing sedikit tersentak ketika ia sadar satu tangan Kai menjalar ke pipi kanannya, menyalurkan panas yang Yixing benci. Mengingatkannya ketika sebuah tangan juga mampir ke wajahnya, dengan keras. Meninggalkan panas menyengat yang tidak menghilang dalam ingatannya.
"Sakit..Kah?" kata Kai, masih memandang Yixing dengan tatapan garang tepat di matanya. Senyuman Kai tidak berubah menjadi lembut atau kasihan. Lebih ke mengejek dan membuat Yixing ingin membenturkan kepala mereka mengingat jarak dekat yang Kai ciptakan diantaranya.
Kai terkekeh, mengelus pelan pipi itu dan membiarkan punggung jemarinya merasakan kulit lembut Yixing sebelum meninggalkan wajah yang lama kelamaan merah menahan amarah tersebut. Kai tertawa iblis lagi.
"Kau masih beruntung. Dia menamparmu karena tidak sengaja, Yixing." kata Kai, tapi wajahnya mengeras dan mengancam ketika ia berkata, "kau belum merasakan berada di tempat Kyungsoomu kan? Bagaimana kalau kau merasakannya sekarang?"
Yixing tidak menjawab. Ia berulang kali menelan ludahnya untuk tidak berteriak pada Kai. Mengatur emosi adalah tugas tidak tertulis untuk seorang perawat. Tapi, ia tidak bisa janji jikalau orang yang dihadapi macam iblis begini.
"Kulit lembutmu akan lebih bewarna. Dan itu...," Kai bergerak mendekat lagi berbisik di telinganya, "..akan terlihat lebih indah 'kan, hei, Nona Manis?"
"Brengsek, kau. Kai." desis Yixing penuh makian. Kai menjauhkan dirinya lagi dan tertawa puas, matanya tak meninggalkan gadis yang kuku jemarinya mulai memutih itu.
"Oh, kurasa Junmyeon akan sedih kalau aku menyakitimu, benar?"
"JANGAN! Jangan berani beraninya, SEKALI LAGI, kau! Menyakiti orang orang yang berada di sekitarku! PERGI. DARI. KEHIDUPAN. KAKAKKU!" kali ini Yixing tidak bisa menahan amarahnya. Kai masih tersenyum sadis, dan berbalik meninggalkan Yixing.
"You deserved it, honey. You deserved it."
Sialan. Shot. Damn. Duck.
- Do for Kai -
"Kapan di kampusmu akan ujian akhir, Yixing?" tanya Chanyeol. Yixing hanya mengangkat wajahnya malas dari buku Filsafat Kesehatan lalu kembali lagi membaca paragraf yang ditinggalkan,
"Minggu depan." dan Yixing berbisik 'mungkin' selirih lirihnya. Ia sendiri tak yakin bakal ada ujian kenaikan tingkat di Kkami. Toh, Yixing pasti tidak akan ikut ujian itu. Untuk apa? Dia tidak punya keinginan untuk tetap tinggal disana. Meskipun pasti menyenangkan sih.
Duh, bodoh. Bicara apa sih dia? Tinggal disana dan menghabiskan sisa masa kuliah dengan Kai? Tidak. Tidak akan.
Chanyeol, Kyungsoo dan Yixing kini berada di ruang baca milik Kyungsoo. Kyung dan Chanyeol sedang belajar untuk menghadapi ujian akhir nanti, mereka berdua duduk berhadap hadapan di meja, sementara Yixing malas malasan sambil menekuk kedua kaki diatas kursi sembari membaca bukunya. Untuk apa, sekali lagi, Yixing bertanya. Dia sudah membaca buku ini empat kali. Itu karena di kampusnya yang baru tidak ada kerjaan sih.
"Xingie," panggil Kyungsoo. Hanya deheman yang di dapat olehnya, "kapan kau akan kembali ke Hanh?" tanyanya. Yixing menerawang dan menaikkan alis.
"Kurasa, dua minggu lagi. Kenapa?" tanya Yixing. Kyungsoo lalu mengatakan soal Junmyeon yang berulang kali mengecek pada Kyungsoo soal kepulangan adiknya dari Kkami. Yixing merasakan wajahnya menghangat lagi, ia menunduk dan tidak menghiraukan tawa Chanyeol dan Kyungsoo menggodanya.
Pintu ruang baca terbuka, terlihatlah seorang wanita paruh baya dengan kulit putih dan rambut sesiku bewarna hitam legam memasuki ruangan. Chanyeol buru buru berdiri, Kyungsoo tersenyum padanya, dan Yixing tidak memperdulikan apapun. Kecuali ketika Changsung, supir pribadi mereka, datang menunduk hormat sambil membawa senampan teko teh dan cangkir serta sepiring kecil irisan buah kiwi di meja kecil dekat kursinya.
"Chanyeol. Wah, aku tidak tahu kalau kau datang kemari." kata Tao tersenyum ketika Chanyeol kembali duduk. Suara berat Chanyeol yang sedang tertawa mengisi ruangan tersebut. "Oh, kalian akan belajar untuk ujian? Baguslah. Belajarlah yang rajin, ya?" Tao mengelus rambut Kyungsoo dan tersenyum pada Chanyeol. Sementara Yixing sibuk dengan buah kiwi dan bukunya.
Hening merajai mereka. Hanya suara gesekan antar kertas dari buku Yixing dan Kyungsoo memenuhi udara.
"Untuk apa ya, nilai bagus nantinya ketika lulus ujian?" tiba tiba pertanyaan itu memecah keheningan diantara keempat orang di ruangan baca. Yixing mendongakkan wajahnya ketika wajah kakaknya tengah berpikir keras, dan itu bukan soal hitung menghitung buku kas negara. Yixing lalu menoleh pada Ibunya yang tengah duduk di sampingnya yang menatapnya balik. Yixing kembali berkonsentrasi pada kakaknya, menunggu ia bicara lagi.
"Untuk apa ya, Yeol?" mata bulat Kyungsoo menatap pada Chanyeol yang menatapnya takjub. Segera Chanyeol sadar dan berdehem.
"Tentu saja, agar kita mudah mendapatkan pekerjaan 'kan? Orang orang, pasti akan memandang kita karena kita punya nilai tambah di mata mereka." kata Chanyeol menganggukkan kepalanya serius. Gumaman setuju muncul dari bibir Tao. "Lagipula, siapa sih yang mau menerima lulusan dengan nilai jelek?"
"Begitu?"
"Dan itu berarti kau harus berusaha keras, Kyungsoo." kata Tao. Kyungsoo menatap ibunya, lalu menoleh pada Chanyeol. Melihat paper tasknya lagi.
"Untuk apa... Untuk apa berusaha keras? Apa yang akan kita dapat?"
"Jika kita berusaha keras," kali ini Chanyeol yang menjawab, menatap Kyungsoo lekat lekat, "yang kita harapkan pasti akan menjadi nyata."
Kyungsoo tampak berfikir keras. Tidak bisa begitu saja menerima jawaban Chanyeol.
"Tapi, harusnya tidak seperti itu 'kan?" kata Kyungsoo akhirnya, meskipun masih dengan wajah berfikir, "kalau kita hidup hanya berdasarkan itu semua. Itu tidak ada artinya." gadis itu menatap ke luar jendela, melewati kepala Yixing.
"Chanyeol-sshi," panggil Kyungsoo, manusia tinggi itu hanya mengangkat kedua alisnya, "menurutmu, apa kebahagiaan itu?"
Kini ganti Chanyeol yang berfikir. Tapi, ia lalu tersenyum, gagal menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Kebahagiaan adalah ketika apa yang kita cintai itu bahagia. Itulah kebahagiaan yang sebenarnya."
Kyungsoo tersenyum, menoleh pada Chanyeol, Ibunya dan terakhir pada adiknya.
"Kita harus hidup dengan apa yang kita cintai, begitu 'kan maksudmu?"
Pandangan Yixing bertemu dengan Kyungsoo yang tersenyum. Yixing membalasnya lembut. Meskipun sulit, sedikit demi sedikit, ia akan membiarkan kakaknya berjalan pada jalannya sendiri. Lama kelamaan, juga Yixing sudah terbiasa tanpa kakaknya. Ia sadar, suatu hari nanti, mereka berdua akan bertemu dengan takdirnya masing masing. Entah itu mereka sadari, atau tidak. Tapi, untuk sekarang Yixing masih sekuat tenaga mengubah takdir Kyungie yang mulai masuk ke singgasana istana Iblis semakin jauh.
Yixing melihatnya, tatapan kosong yang selalu Kyungsoo buat ketika makan malam, dimana Kyung pulang dari kampus. Kyungsoo tidak bisa menemukan Kai dimanapun, itu bagus untuk jantung dan tubuhnya, tapi tidak untuk hatinya. Hati dalam arti lain. Dimana Kyung selalu berusaha membagi perasaannya pada Kai, tapi memang Kai tidak punya perasaan dalam dirinya. Kyungsoo mungkin rindu pada Kai, tapi..
Sialan, mengingat apa yang dilakukan Kai tadi siang membuat amarah Yixing naik lagi. Belum lagi ketika ada seseorang masuk ke ruangan.
"Oh, Tao. Aku mencari──"
"Aku ke kamar dulu."
Ketika Yifan memasuki ruangan dan berjalan mendekati meja Kyungsoo. Yixing buru buru berdiri dan segera keluar dari ruang baca. Yifan mengikuti bayangan putrinya dengan menghela nafas berat. Tao lalu berdiri di sebelahnya dan mengelus lengannya pelan.
"Dia masih marah padaku." ucap Yifan, menyesal rupanya. Kyungsoo mencibir sembunyi sembunyi.
"Tentu dia masih marah pada appa. Kau menamparnya. Oke? Menamparnya di wajahnya." protes Kyungsoo. Yifan tidak menanggapinya, hanya menoleh memandang pintu terbuka dimana tadi Yixing keluar melewatinya. Tao mengisyaratkan pada Kyungsoo agar tidak membahas itu lagi, tapi Kyung, sebagai kakaknya, tentu masih merasa sedikit kesal karena gara gara appanya,.
Yixing berubah menjadi sedikit dingin ketika mereka berkumpul berempat. Bahkan Yixing sering melewatkan 'rapat keluarga' hari Sabtu atau Minggu dengan bersantai di ruang tengah. Kyungsoo sedikit menyesal kenapa dia tidak menghentikan appanya dan bukan Yunho ahjusshi.
Chanyeol memandang Kyungsoo tidak mengerti dengan kedua mata terbelalak, "appa beberapa minggu yang lalu telah menampar Yixing. Kau tahu, di wajahnya."
"Ha?" kata Chanyeol terperangah. Kini Yifan beralih pada Kyungsoo yang menatap bukunya kesal sembari berkata,
"Tentu. Iya, kaget saja. Dan kalau kau saja begitu, memangnya aku juga dengan semudah saja berdamai dengan orang yang menyakiti adikku?"
- Do for Kai -
Ji Hoon memutuskan memperkenalkan Yixing ke kawanan gengnya. Ren, Aron, Baek Ho dan sang leader Yong Guk. Ada kira kira sepuluh hingga lima belas orang yang sedang berada di basecamp mereka, salah satu ruangan bobrok dengan sudut penuh dengan kursi serta meja kayu yang tidak terpakai. Sementara ada sofa, kulkas kusam, dan orang orang yang tengah duduk di lantai, di atas tumpukan meja kursi, bermain, bicara serius lalu sebagainya. Ji Hoon berkata nama geng mereka adalah 'White Hair'.
Yixing mengedarkan pandangan ketika Ji Hoon mengenalkan Yixing pada kawan kawannya. Mereka berambut putih, memang. SEMUANYA! Yixing lalu menoleh pada Ji Hoon, bertanya.
"Rambutmu hitam, Ji Hoon-ah." kata Yixing. Ji Hoon tertawa gugup dan menggaruk belakang kepalanya. Wajahnya bersemu merah.
"A-aku tak sengaja melihat ponselmu beberapa waktu yang lalu. Dan.. Dan.. kau menyimpan banyak sekali foto pemuda dengan rambut hitam.. Jadi.. Aku.. Meminta ijin dari Yong Guk leader untuk mengecat rambutku."
Gadis itu membelalakkan mata, akhirnya dengan samar samar ia ingat kalau dulu saat awal bertemu, rambut Ji Hoon bewarna putih. Ia lalu menggigitnya meminta maaf, "maafkan aku, Ji Hoon."
"Tidak apa apa! Sungguh. Dengan begini, aku bisa punya alasan mengecat rambut." Ji Hoon berbisik di kalimat terakhirnya, Yixing tertawa pelan meskipun melihat ekspresi terluka dari Ji Hoon. Gadis itu hanya berharap ketua Ji Hoon tidak membunuhnya karena telah menolak seorang anggota geng yang sudah berkorban demi apapun untuknya.
Well, mengecat rambut itu fatal. Kau bukan bagian dari 'White Hair' kalau rambutmu warna merah 'kan? Make sense.
Yixing hanya bisa mengingat ingat mereka, orang orang yang disebutkan, karena penampilan mereka lebih aktraktif. Seperti Ren misalnya, Yixing tidak akan tahu bahwa Ren seorang namja sampai dia berkata pada Yixing kalau dia namja. Rambut putih panjang dengan wajah kalem itu mengaburkan bayangan Yixing soal anggota geng yang selalu berwajah kasar plus menakutkan.
Ji Hoon berkata, Ren pernah membunuh orang. Yixing menarik kata kata 'menakutkan' untuk bayangan Yixing soal anggota geng.
Baek Ho yang seperti lost puppy (warna putih. Well, namanya 'kan Baek Ho─anjing putih) dan selalu menempel dengan Yong Guk yang entah kenapa suka bergelantungan di salah satu lengan milik leadernya tersebut. Yixing tidak berani menanyakan tentang Baek Ho lebih lanjut, itu akan membuat imej imut Baek Ho di mata Yixing akan hilang. Jadi, biarkan.
Yixing tersenyum manis saat melihat senyum gentleman milik Yong Guk. Saat Ji Hoon memperkenalkan Yixing, Ji Hoon tampak malu malu saat bertemu dengan leadernya. Yixing lebih gugup saat menegakkan diri setelah memberikan salam. Tidak salah juga, bergidik dengan aura yang dihasilkan orang orang disini ternyata tidak cukup. Yixing padahal dulu tidak sepenakut ini.
"Kau.. Do Yixing?" ucapnya. Suaranya berwibawa, tidak menyeramkan, atau membuat hati mendidih. Yixing tersenyum.
"Ya. Itu aku." kata Yixing mantap meskipun dengan nada sedikit bergetar. Bertemu dengan kawanan geng itu seperti bertemu satu orang Yakuza menurut Yixing. Padahal dia sendiri belum pernah bertemu dengan Yakuza.
"Jadi.. Kalian..," Yong Guk menatap bergantian antara Yixing dan Ji Hoon. Saat Ji Hoon merubah wajahnya jadi merah padam, Yixing berkata sesuatu sebelum Ji Hoon.
"Tidak. Kami.. Hanya berteman. Yah, begitu. Teman." kata Yixing memberi pengertian. Yong Guk bagaikan Ayah yang mengerti sesuatu, mengangguk paham dan tersenyum pengertian pada Ji Hoon. Yixing tertegun melihatnya, leader sebuah geng bisa jadi seperti ini ya? Sangat kebapakan dan hangat.
Yixing menerka nerka, jangan jangan makhluk-berambut-pirang itu dulunya juga seorang anggota geng. Mafia mungkin?
"Wah.. Wah.. Lihat itu. Ada yang akan berantem kayaknya." kata Aron, pemuda bermata tajam yang tengah duduk santai di atas jendela dengan kaki berayun di luar tersenyum memandang lapangan dibawahnya. Yixing yang penasaran ikut melihat apa yang diteriaki oleh Aron.
Lapangan sangat ramai, sepertinya semua mahasiswa dan mahasiswi keluar dari ruangan. Begitu juga dengan para dosen yang ingin tahu dan sepertinya takut. Yixing menemukan Prof. Doo Joon dengan kedua ajudannya berdiri terpisah dari kerumunan, lebih mendekat ke kawanan yang akan bertarung dengan dua tangan terlipat di depan dada. Profesor gila.
Yixing mengangkat alisnya ketika menemukan siapa yang akan mengubah lapangan ini menjadi Colleseum.
Itu Kai, berdiri di hadapan beberapa belas orang dengan sepertinya satu pemimpin di depan barisan itu.
"Apa dia anak baru? Apa dia anak Universitas Hanh, Yixing?" tanya Yong Guk, menyuruh Aron untuk turun dari jendela agar dia tidak terjatuh keluar. Yixing memandang Kai sebentar, berfikir. Yong Guk yang merasa tidak mendapat jawaban menoleh memandang gadis itu.
"Yixing?"
"I-Iya. Tidak juga sih. Dia dipindah kesini." oleh ayahku, tambahnya dalam hati. Yong Guk mengangguk kalem, memandang kumpulan orang itu. Sepertinya, si ketua mendekati Kai dan berkata sesuatu.
"Mereka siapa?" tanya Yixing ingin tahu.
"Leader Gang."
"Ha?" Yixing tidak mengerti. Yong Guk tertawa pelan dan mengacak sedikit rambut Yixing yang kemudian dibalas tatapan kesal. Oleh Ji Hoon. Jadi Yong Guk buru buru mengangkat tangannya dan tertawa pelan.
"Yang berdiri di depan anak baru itu.. Siapa itu namanya?"
"Kai." Yixing tidak menggerakkan bibirnya saat menyebut nama itu.
"Ya, Kai. Dia adalah Oh Sehun. Pemimpin geng. Mereka adalah geng yang ditakuti dan dihormati di kampus ini. Yah.. Semacam peraturan begitu."
Yixing memandang Yong Guk dan lapangan bergantian. Melihat lebih jelas si 'Pimpinan Leader Gang' itu dengan sangat amat jelas. Meskipun tidak mungkin karena mereka terpisah sangat amat jauh. Yixing tidak yakin karena yang namanya Oh Sehun itu terlihat seperti...
"..Anak SMP, benar 'kan?" Yixing menoleh pada Yong Guk dan mengangguk pelan. "Dia bilang itu baby face disease yang dipunyanya. Orang orang selalu salah mengira bahwa dia adalah anak SMP. Dan jangan tanyakan padaku tentang apa yang terjadi ketika mereka memanggilnya anak SMP."
"Oh, I won't." kedua orang itu tertawa lagi. Yixing sendiri sedikit terkejut karena begitu mudahnya dia dekat dengan seorang pimpinan geng. Wow. Satu pimpinan. Itu pun karena Yong Guk lebih berperikemanusiaan daripada yang lain. Wajahnya yang tegas, dan bagaimana dia menegur anak buahnya seperti adik atau anaknya sendiri.
Astaga, kenapa tiba tiba bayangan anak kedua keluarga Jung mampir ke pikirannya?
"Tapi.. Ji Hoon berkata padaku kalau geng milik Baekhyun adalah pimpinan?" kata Yixing mengerutkan kening sembari menggelengkan kepalanya pelan menghapus wajah Junmyeon. Yong Guk mengangkat kedua alisnya, dan berdesis 'Black Dahlia' sambil mengangguk mengerti.
"Seperti begini, mereka juga 'pemimpin', tapi Leader Gang itu pemimpinnya pemimpin. Yah. Begitulah. Susah mengatakannya, Yixing-ah."
"Namanya apa tadi, geng itu." Yixing menunjuk kumpulan orang di tengah lapangan itu. Sehun, si ketua, sedang bicara dengan Kai.
"Leader gang."
"Oh, make sense." ujar Yixing kalem. Tapi setelah itu matanya terbuka lebar saat belasan orang itu mulai maju dan menyerang Kai.
- Do for Kai -
Di kehidupan Kai, semua itu jahat.
Di kehidupan Kai, semua itu adalah hal yang ia benci.
Di kehidupan nyata, Kai adalah hal jahat yang orang orang benci.
Tidak ada yang salah dan berbeda dengan Kim Jongin, ia berjalan dengan dua kaki, bernafas dengan paru paru, memakan makanan manusia, bicara bahasa Korea dan Inggris secara lancar, belajar, berteman... Itu kalau dia punya, membaca, menulis, minum air.
Mungkin yang berbeda adalah, dia sedang berkelahi melawan kira kira 12 orang dengan tangan kosong. Sendirian.
Kai tidak pernah mencari masalah, semua masalah itu datang pada hidupnya seperti magnet. Kai tidak pernah memintanya. Kai tidak pernah meminta Ayahnya memukuli Ibunya hingga jatuh pingsan, Kai tidak pernah meminta Ibunya meninggalkan Ayah serta dirinya begitu saja. Kai tidak pernah meminta, menjerit pada Tuhan, untuk melenyapkan Ayahnya di kebakaran kedai soju itu karena terlalu terpuruk tentang keadaan single parent tanpa Ibu untuk Kai.
Kai tidak pernah meminta. Ia bahkan tidak tahu, untuk apa Tuhan menciptakannya. Untuk apa Dia mengeluarkan Kai dari rahim Ibunya. Seandainya Kai tahu bagaimana cara bertahan dalam perut Ibunya, maka dia akan melakukannya. Tapi, takdir selalu menggelikan.
"Ugh. Sialan." katanya, mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya saat salah seorang anggota geng memukul wajahnya. Kai membalasnya dengan membuat hidung pemuda itu berdarah hebat.
Kai kecil adalah anak yang ditakuti. Tidak saat masih bersama Ibu dan Ayahnya, saat mereka masih hidup, masih lengkap, Kai hanyalah anak biasa yang senang bermain dan jagung. Jagung apa saja. Dibakar, di goreng, di rebus, rasa pedas, manis, asam, intinya Jagung. Ia selalu menghabiskan jagung jagung yang diberikan ibunya sebelum ayahnya datang. Ayahnya tidak suka jagung, katanya itu membuat giginya sakit. Kai selalu memaksa Ayahnya makan jagung.
Saat ibunya tidak ada, Ayahnya selalu menyiapkan jagung mentah di atas meja makan setelah berangkat kerja. Nanti siang, Kai pulang, ia akan membakar jagung itu. Sendirian. Tanpa melihat ibunya menjemur pakaian. Sendirian. Tanpa ibunya menceritakan sesuatu yang lucu soal kemiripan Kai dengan ayahnya. Sendirian.
Karena ibunya kini sudah pergi. Lebih baik kalau dia pergi ke Surga Tuhan. Kai membenci ibunya. Karena ia pergi untuk meninggalkan Kai yang ia benci. Kai jadi tempramen, tidak ada yang menahannya. Ayahnya terlalu sibuk bekerja dan mabuk. Membuat akhirnya, dendam itu menumpuk di relung hati. Menjadi genangan kotor dan onggokan busuk yang merongrong menjadi kelam. Jika dia tidak dapat merasakan kebahagiaan, maka ibunya pun juga harus merasakan hal yang sama.
"Sialan." desis Kai karena ia terjatuh lagi. Tenaganya terkuras, hampir habis. Tinggal tiga orang lagi yang masih tersisa, dan dia sekarang tak sanggup untuk berdiri. Dengan nafas terengah engah, ia menyarangkan pukul sekali mati pada wajah musuh. Untung saja, musuhnya langsung ambruk, jika tidak, maka entah apa yang akan Kai lakukan sekarang.
Mati, mungkin? Ah.. Itu terlalu baik.
"Sudah. Sudah cukup anak anak. Kembali kembali. Nah.. Kau, Kai." Sehun, berjalan mendekatinya yang sudah berdiri. Kai menatap lekat lekat anak SMP ini. "Aku tahu, kau tidak puas dengan pertandingan ini. Jadi, besok, kutantang kau sekali lagi. Disini. Di tempat yang sama. Di jam yang sama."
Sehun, paras tampannya terlihat begitu dingin dengan V line tajam di wajahnya. Bibirnya yang kecil serta matanya yang picik itu tidak lantas membuat Kai berkecil hati. Menerima tantangan laki laki pucat yang penampilannya seperti anak SMP itu membuat Kai menaikkan satu sudut bibirnya.
"Kau itu masih anak SMP. Kenapa ada disini?" kata Kai datar. Sehun lalu berpikir sebentar.
"Yah, sepertinya kau tahu masalahku. Jadi, selamat tinggal." dan Sehun menyarangkan satu pukul di wajah Kai yang membuat tersungkur ke tanah. Ketika Kai akan membalasnya, dia dan kawanannya sudah berjalan keluar lapangan. Kai meludahkan isi mulutnya, darah dan air liur bercampur menjadi satu.
- Do For Kai -
Kai terperangkap. Dia tidak pernah sebodoh ini dan akhirnya masuk ke toilet wanita.
Itu kalau tidak tiba tiba setengah dari penonton yang ada di lapangan berteriak 'JADIKAN AKU ANGGOTA GENGMU!' dan berlari mengejarnya. Satu satunya ruangan yang pertama kali Kai lihat ketika memasuki gedung adalah toilet wanita. Jadilah ia berada disini.
Kai terperangkap. Dia tidak pernah sebodoh ini dan akhirnya bersembunyi di toilet wanita.
"Kau terlihat terluka." suara kecil dan manis tiba tiba terdengar di gendang telinga Kai. Kai cepat cepat menoleh dan melihat seorang gadis dengan rambut madu panjang sebahu membawa buku sedang menatapnya intens.
"Siapa kau?" Kai berjalan menjauh ketika gadis itu mendekat, membuat Kai merayap di dinding mengitari ruangan karena gadis aneh itu mulai mendekatinya lagi, mencoba menyentuh luka lukanya.
"Kim Jongin. Kau harusnya tidak sebodoh itu bertemu dengan Oh Sehun." katanya masih sibuk menatap Kai lagi. Yang ditatap begitu hanya tertawa mengejek.
"Bukan urusanmu, kecil! Sekarang, ming──"
"Kau punya banyak luka. Di matamu. Aku melihatnya." kata kata gadis itu menghentikan langkah Kai untuk sekali lagi menjauhinya. Kai bertatapan dengannya.
"Siapa kau?"
"Xi Luhan imnida." gadis itu tersenyum manis, "dan mulai sekarang, aku akan jadi temanmu."
"Aku tidak menerima anggota geng."
"Aku menjadi temanmu. Aku tidak menjadi anggota geng. Kau temanku 'kan?" Luhan berkata, membuat lekukan lekukan di ujung matanya ketika ia tersenyum.
Teman...
Teman ya?
"Aku tidak butuh teman," Kai menjawab, "mereka menyusahkan."
"Aku takkan menyusahkanmu. Aku akan selalu ada disampingmu ketika kau membutuhkan." Kata Luhan serius dengan kedua mata dibulatkan. Luhan mendekat dan Kai menjauh lagi. Pemuda itu lalu tertawa mengejek, kali ini sangat sarkastik.
"Jangan berteman denganku, anak kecil. Orang orang yang kukenal, sekarang dikutuk." katanya dingin. Luhan mendekat padanya, dan Kai semakin berjinjit menghindari aroma stroberi dari rambut gadis itu.
"Aku juga. Semua orang yang kukenal, mati. Jadi, maukah kau berteman denganku?" katanya pelan. Kai menaikkan satu sudut bibirnya sinis.
"Semua orang punya jalannya masing masing, Kai-sshi. Tapi, aku yakin, kita bisa melaluinya bersama sama." Kata Luhan.
"Berhenti bicara yang tidak ada artinya."
"Aku melihatnya, Kai. Melihat semua kesedihan dalam matamu. Kau sama denganku,"
"Tidak, kau terlihat normal. Dan aku tidak."
Mereka berputar satu putaran dalam ruangan kecil itu lagi. Luhan terkikik.
"Itu karena aku memakai baju yang baru saja dicuci dan di setrika diantara mereka. Itu yang membuatku berbeda." katanya, ia tersenyum manis lagi, "jadi temanku, ya?"
Kai menatap gadis yang ada dihadapannya ini. Mengingatkannya pada aroma vanilla, rambut panjang dan dua mata besar yang selalu menatapnya ingin tahu. Bicara yang tidak perlu. Mengganggu hidupnya, berbeda dengan adiknya, yang selalu menatapnya benci. Tapi, Kai menyukainya.
Ia kembali fokus pada Luhan yang menatapnya tanpa ekspresi. Kai tertawa kecil, mendengus lebih tepatnya. Sembari membuka pintu toilet dan keluar, ia berkata,
"You are such a sad chick." katanya.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
...
...
..
.
To Be Continued...
So.. Mind to leave comment, please?
BabySulayDo : Wohoo.. Itu terlalu tua. Kamu umurnya berapa? Ya.. Mungkin seumuran lah sama kamu. Hehehehe. Jangan, jangan, jangan tiru Do family. Mereka terlalu ekstrim, bukan? Hahaha. Kris itu menyayangi Yixing dengan caranya. Yixing juga sudah tahu appanya memang begitu. Jangan khawatir soal Yixing, she is the tough girl! Hehehe. Oh, baru sadar kalo Kai menakutkan? Well, Yixing sudah bilang dia titisan Iblis, jadi percaya saja ~ Terimakasih atas reviewnya, silahkan review lagi untuk chapter ini :)
Mitatitu : terimakasih atas perhatiannya :D . namanya juga orang marah, jadi ya.. sedikit kalap begitu deh. Hehehe. Yah, kan Suho suka sama Yixing, jadi ya begitu deh, agak cheesy lah. Hahahaha. Iya, maksudnya Yixing mungkin bunuh diri karena mau masuk KKami, mungkin. Hahahaha. Terimakasih perhatiannya, silahkan review lagi untuk chapter ini :D
DianaSangadji : penasaran kenapa nggak ada KaiSoonya? Itu karena save the best for the last. Hehehehe. Tunggu aja. Ini akan muncul perlahan lahan. Sekarang Kai, mungkin besok Kyungsoo? Atau mereka berdua? Siapa yang tahu : D . Yang jelas, silahkan review lagi untuk chapter ini, ya :D
Tania3424 : lha, lha. Battle? Kayak battle dance gitu? Ato gimana (?'_') hahahahaha. Terimakasih atas reviewnya! Silahkan review lagi untuk hari ini! ^^
SooBaby1213 : terus, apa yang mau diceritain kalo TBC ditaruh di awal -_- hahahaha. Oh, tenang aja. Ada waktunya sendiri Kyung sama Kai banyak. Hehehe. Terimakasih atas reviewnya, silahkan review lagi untuk ini! :D
Deer Panda : nah, namanya juga Kkami. Hahahaha. Baek kan ketua geng, jadi ya, jangan salah kaprah. Agak beringas begitu. Hehehehe. Oh, Kaisoo? Belum. Baekyeol? Bikin nggak yaaa… hahahaha. Kai bukan binatang buas, dia setan. DIA ITU SETAAAAN! *dicekik Kai*. Okelah, terimakasih dan silahkan jejeritan dan tinggalkan review karena ini sudah update! :D
Riyoung Kim : Whoaa? Serius? Padahal, ini terinspirasi dari Ai to Makoto loh! Belum pernah nonton Crow Zero, padahal pengen. Hahahaha. Ahahaha. Ini aku juga iri loh sama SuLay, sweet banget~~ terimakasih atas reviewnya! Silahkan review lagi untuk sekarang!
HaeSan : hahahaha. Tenang chingu, dia lagi khilaf. Biarin aja.. hehehehe. Oh, masa? Kai suka kali ya sama Yixing. Mungkin *berpikir keras*. Oke, terimakasih atas reviewnya, silahkan review lagi yaaa! :D
Septaaa : oke oke. Jangan smirk ala Kkamjong. Itu nggak ada yang ngalahin. Nggak mau coba puppy eyes Kyung? Hahahaha. Terimakasih atas keep cal keep and keep writing-nya! Hehehe. Keep review! For this chapter too!
Ayay : terimakasih terimakasih! Silahkan reviewlagi, okee!
Guest1 : ho? Itu bisa dipertimbangkan. Pengennya sih juga naruh begituan, tapi bingung mau ditaruh chap yang mana. Hehehe. Terimakasih sarannya! Silahkan datang lagi dan meninggalkan review! :D
Lana : oke oke! Serius deh, pasti nanti ada KaiSoo! Serius eriu! Ya namanya emang fighter lover, mau begimana dong. Hahahaha. Silahkan dibayangin. Ginger sendiri bergidik kalo liat bangunan begituan. -_-"
ICE14 : ya, kan. Kalo kucing udah biasa. Unicorn aja. Hahahaha. Nah, kebetulan nggak ada yang nggak sarap di Univ itu. Jadi.. terima aja. Hahahaha. Keliatannya sih makan beling makanya bisa jadi begitu. Hahaha. Terimakasih atas reviewnya, silahkan tinggalkan lagi ne! :D
Lee EunSeok : hahahaha. Terimakasih terimakasih atas perhatiannya terhadap hubungan antar karakter! Hehehehe. Yaay! Sulay shipper, *shipper bukan? Hehehe* . bisa aja loh, itu Kyuhyun *tambah ngawur*. Oke oke. Terimakasih atas semangatnya, dan semangat review lagi ya buat yang ini ! :D
EmakSehunKeceh : namanya lucu! Situ emaknya Sehun ya? Tuh, jeng, anaknya lagi gebukin orang tuh *nunjuk Sehun di FF* hahahaha. Terimakasih terimakasih, udah nggak usah sungkem, Ginger lagi gak masak opor ayam ih. Hahaha. Terimakasih reviewnya! Silahkan review lagi ya!
Miyuk: sudah sudah sudah ^_^ hehehe. Review lagi ya! :D
Lee kaisoo : hahaha. Aduh, maaf loh, pada Ginger itu bukan player. Ciyus deh! Hahahaha. Waduh, nggak tahu tuh setan sama iblis insapnya kapan? Waktu kiamat? Hahahaha. Terimakasih atas reviewnya! Silahkan review lagi! :D
Reita : nanti. Jadi, silahkan terus baca FF ini ya! Pelan pelan untuk KaiSoo. Hehehe. Silahkan tinggalkan komentar anda :D
TiKaiKyungsoo : nah, itu. Emang sadis banget si Kai. Nggak tahu. Puppy eyes aja nggak mempan ya. Ginger juga penasaran. Hahahaha. Silahkan menunggu, mudah mudahan ada bayaran untuk orang yang sudah menunggu dengan baik! Heheheh :) terimakasih atas reviewnya! Silahkan komen lagi yaaaa
Kim Haerin-ah : ini sudah lanjut ini sudah lanjutt! *mungutin bunga* hahaha. Silahkan review lagi ya :D
Uniquegals : nah begitu. Kenapa pakek penggiles baju? Soalnya, mungkin kalo digiles bersih, dia bakal jadi baju yang bagus dan bersih. Gitu O_O oke oke. Yixing dan sarkatis itu sodara kembar, jadi ya begitu deh… hahahaha. Ini sudah di update, silahkan komen lagi :D
Brigitta Bukan Brigittiw : jitakin ajaaaa.. tapi kalo dijitak pakek tangan nggak kerasa. Dijitaknya pakek piso aja gimana? Hahaha. Oh, Kris kayaknya nggak tahu karena Lay nggak kasih tahu karena Lay terlalu marah habis ditampar Kris. Hahahaha. Terimakasih komennya, silahkan komen lagi ya! :D
Jungssi : ahahah.. terimakasih! Ginger juga naksir SuLay. Hahahaha. Nah, begitu, doain aja ya mereka cepet jadian! :D hehehee. Nggak usah pacaran ya? Langsung nikah? OKE. Hahahahaha. Untuk Kai dan Kyungsoo, mereka indah pada waktunya. Itu pasti. Jangan khawatir… : ) ya, namanya juga seneng berantem. Nggak liat gender ato umur kayaknya. Aduh -_- terimakasih atas reviewnya! Silahkan review lagi ya :D
Xihun : hehehe. Kalo kesel, doain dia cepet sembuh yaaa.. hahahah. Silahkan komen lagi :D
Flory KaiSoo 121401 : oh.. chingu, sori nih sebelumnya. Galaunema apaan yak? (?'_') ('_'?)
thanks for attention! ^_^
