God! Terimakasih yang sudah menunggu FF ini... Kebetulan, Ginger lagi suffer suffernya sama tugas kampus. Hahahaha . Tapi, FF ini harus tetap berlanjut. Ginger nggak bisa meninggalkan Yixing tetap di Kkami dan Kyungsoo terombang ambing cintanya~~ Sorry, sepertinya ini chapternya pendek. Dan.. Yah.. Tinggalkan komen anda! :)

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Title : Do for Kai

Episode : 8

Cast :

- Do Kyungsoo (women),

- Zhang Yixing as Do Yixing (women)

Support Cast :

- Xi Luhan as Luhan (women),

- Kim Jongin as Kai (men),

Cameo :

- Bang Yongguk as Yong Guk (men),

-Kyung Lim as Pemilik Kedai Soba (women)

Genre :

Romantic, Family, Drama, Comedy

Rating :

T, amanlah pokoknya. Kecuali kalo Kai sudah mulai beraksi, itu bisa berubah lagi.

Inspired by:

Grey's Anatomy and Ai To Makoto (for Love's Sake)

Disclaimer :

Kita semua punya Tuhan. Tuhan punya kita. Cerita punya saya, dan Tuhan. #plak

.

.

- Do For Kai -

.

.

Tidak punya arah dan tujuan pulang.

Meskipun Kai punya gubuk, begitu dia biasa menyebut tempat untuk ditinggali miliknya, Kai merasa dia tidak pernah punya tujuan. Gubuk itu hanya gubuk, bukan rumahnya. Bukan tempat pulangnya.

Rumah, untuk Kai, adalah tempat hangat yang damai, berpendar sinar kuning matahari sore yang menentramkan. Dia tidak akan tinggal sendirian, bersama orang tua, mungkin adik atau kakaknya jika ia punya, atau temannya. Bahkan mungkin, istrinya?

Sayangnya, Kai tidak punya semua itu.

Hanya khayalan, di buku dongeng Kai saat kecil saja ia bisa menemukan rumah kecil nan hangat. Itu impian, yang entah, mungkin tidak akan pernah terwujud. Saat kecil, ia selalu percaya bahwa segala mimpinya akan terwujud, breanjak dewasa, lama kelamaan mimpi mimpi bodohnya hancur teriris kenyataan yang lebih kejam daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Kau mau kemana?" suara itu terdengar lagi di gendang telinga Kai. Ia tak tertarik untuk menjawab.

"Hei, kau terluka, kau tidak mau mampir ke rumahku?" rumah? Dia punya? Mungkin Kai harus datang ke rumahnya. Tapi, tidak, Kai tidak tertarik.

"Kai?"

Kai menendang nendang kaleng kaleng yang berada di jalannya. Membiarkan suara berisik aluminium itu menabrak dinding dan tanah. Tujuannya tak tentu meskipun sinar matahari terik membakar kulitnya yang tampak tak tertutup kemeja serta jeans lusuhnya.

Suara itu terdiam lagi, menjadi bukti bahwa Kai sepertinya tidak tertarik untuk menjawab pertanyaannya.

"Katanya, kau bukan asli dari Seoul. Apa itu benar?" suara itu lagi. Kai menoleh sebentar, mendapati Xi Luhan masih kukuh mengikuti langkahnya pergi. Pemuda berkulit tan itu hanya tertawa hambar sebentar, masih terus berjalan menginjak injak sampah atau apapun yang ada di bawah sepatunya.

"Itu benar." Jawabnya dingin. Benar, Kai bahkan tidak pernah punya impian untuk bisa datang ke kota ini. Ia hanya ingin di tempat tinggal aslinya, tanpa hiruk pikuk kebisingan kota dan asap mobil yang mengganggu. Kai itu menyukai ketenangan, tapi keadaan membuatnya tak bisa tenang.

"Lalu, untuk apa kau kemari?" perlu jeda beberapa waktu untuk Luhan bertanya lagi.

"Balas dendam."

"Pada?"

"Orang yang menghancurkan hidupku." Kata Kai memandang aspal dengan wajah benci setelah menendang kaleng sungguh sungguh, senyum setengah yang tergambar terlihat mengerikan, "..dan aku akan menghancurkannya."

Ia akan menghancurkannya. Bukan main, pikir Luhan, sungguh seorang manusia yang menarik.

"Siapa? Siapa orang itu?" tanya Luhan. Kai berhenti dan menoleh padanya sebentar. Mengintimidasi Luhan dari atas sampai bawah, melihat dandanan rapinya, begitu kontras dengan Kai yang berperilaku bak pembunuh bayaran ini. Kai menghembuskan nafas dan membalikkan badan.

"Ikutlah denganku. Kau akan tahu siapa orang itu." Katanya. Hening lagi. Tidak ada yan bicara, hanya mendengarkan suara berisik padatnya kota. Luhan berkata kembali.

"Kenapa kau sangat terbuka padaku?" Kai lalu menolehkan wajahnya, lalu mendengus tertawa.

"I told you. You are like a sad chic."

Kai berjalan menjauh, tidak memperdulikan langkah langkah kaki kecil itu mengikutinya lagi atau tidak. Telinganya terlalu tuli dan tak peka untuk mendangarkan yang terjadi di sekitarnya. Luhan hanya menatap punggung itu dengan tatapan mata kosong, mempererat pegangan di buku di dekapannya.

"Aku.. sudah lama tak mendengar kata kata seperti itu." Ujarnya pelan.

- Do for Kai –

"Kenapa kita ada disini?" kata Luhan, mengerutkan kening mengingat bahwa ia sekarang berada di salah satu red line alias daerah prostistusi di kawasan tersebut. Sore sudah turun, dan itu berarti kawasan ini mulai ramai dan padat manusia

Meskipun Luhan yakin mereka tidak hanya sekedar lewat.

Pertanyaan Luhan tadi tidak mendapat jawaban, pemuda itu masih sibuk meliriki satu persatu kedai minuman keras, atau soba, atau motel yang berada sepanjang jalannya.

Luhan memilih diam, ia masih melangkahkan kakinya dibelakang Kai.

Kai melangkahkan kakinya masuk ke kedai mie soba, Luhan mengikutinya. Ia duduk di meja pemesanan yang sepi tanpa memesan. Si pemilik, Kyung Lim, begitu Luhan bisa membaca tag namenya, seorang ibu rumah tangga dengan tubuh kecil dan rambut ikal merah tengah membersihkan gelasnya.

Saat Kyung Lim menyadari ada pelanggan, ia buru buru menaruh kembali gelasnya.

"Mau pesan apa, nona? Tuan?" tanya Kyung Lim sopan dengan senyum. Luhan bingung gelagapan, lalu menoleh pada Kai dan Kyung Lim bergantian, pasalnya Kai tidak sedang melihat menu untuk memesan. Ia malah menolehkan wajahnya memandang kedai minuman keras di seberang jalan. Kyung Lim dan Luhan saling berpandangan dan mengikuti arah pandangan Kai.

Terlihat oleh mereka, seorang wanita tua, mungkin seumuran dengan Kyung Lim atau lebih tua beberapa tahun tengah menuangkan Liquor pada para pelanggannya di kedai kecil tersebut. Kyung Lim mendengus mengejek membuat Luhan menoleh padanya.

"Anda kenal wanita tersebut, ahjumma?" tanya Luhan sopan.

"Semua orang kenal dengannya." Kata Kyung Lim, "dia, Nyonya Kim. Pemilik kedai tersebut. Tidak hanya pelanggannya yang terkenal suka mabuk mabukan, dia sendiri sering menenggak alkohol jika kedainya sedang ramai."

Luhan kembali menoleh pada kedai tersebut, lalu ke belakang kepala Kai yang masih senantiasa menatap kedai tersebut. Luhan tidak bisa melihat wajah Kai sekarang, tapi yang bisa lihat adalah tangan Kai yang mengepal kuat di atas meja.

"Dia bukan orang yang baik. Yah… Dia memang baik, tapi aku rasa, dia tidak bisa dimasukkan ke kategori itu." Kyung Lim kembali membersihkan gelas dan piring di dekatnya, "kerjanya tiap malam hanya mabuk mabukkan. Untung saja dia tidak menjajakan dirinya sendiri."

Kai menoleh sedikit, tapi pandangannya kembali menatap kedai itu.

Kim, pemilik kedai itu, tengah menuangkan berbagai minuman keras ke gelas gelas kosong milik pelanggannya. Sesekali tertawa karena candaan yang dilontarkan oleh bibirnya sendiri, walaupun ia yakin, sudah habis rasa humornya dimakan oleh kekerasan hidup yang terlalu rakus mengambil semua kebahagiaan miliknya.

Nyonya Kim, begitu ia disapa, keluar dari kedainya sendiri, meminum gelas Liquor murahannya yang kesekian. Bernyanyi tak jelas tentang hidup dan lelaki yang meninggalkannya, melolong ketika lirik lagunya sama menyiratkan perasaan hatinya.

"Apakah nyonya Kim itu adalah orang lama disini, ahjumma?" tanya Luhan, mencuri lirik pada Kai yang masih terus memandang wanita yang duduk di depan kedainya tersebut, masih setia dengan nyanyiannya yang sungguh memekakkan telinga.

"Tidak. Tapi, yang kudengar, nyonya Kim kehilangan anaknya dan pindah kesini. Sementara suaminya… entah, mungkin pergi dengan wanita lain. Siapa juga yang tahan dengan wanita keras kepala dan bermulut kasar seperti itu?"

Luhan mengerti, ia merasakan ketegangan keluar dari aura Kai. Ia lalu ikut melihat wanita yang sudah cukup mabuk itu. Seorang pelanggan dengan baju kantoran menepuk pundaknya dan sepertinya sedikit protes dengan pelayanan yang ia dapatkan. Nyonya Kim berteriak padanya, menuangkan setengah botol jumbo minuman di tangan keatas kepala lelaki malang itu.

Lelaki itu berteriak, ia lalu keluar dari kedai dan berkata akan melaporkannya ke polisi di ujung jalan. Nyonya Kim sepertinya tak terganggu, karena sudah mabuk, ia lantas mengusir semua pelanggan yang ada di kedainya. Tiba tiba, Kai bangkit dari duduknya.

"Jangan, anak muda. Jangan berurusan dengannya, dia benar benar tidak baik. Lebih baik, kalau bisa, tinggalkan saja dia. Sesekali, dia memang harus jera dengan segala kelakuannya." Begitu kalimat Kyung Lim mencegah Kai. Pemuda tan itu sama sekali tak mengeluarkan suara, ia hanya menoleh pada Kyung Lim yang masih sibuk dengan piringnya dan kembali ke wanita tua di kedai seberang.

Penampilannya berantakan, tangisnya menjerit, sementara ia terus terusan menenggak alkohol. Luhan tidak tahu apa yang harus ia rasakan, berduka atau mengernyit jijik?

Kai lalu keluar dari kedai mie soba tersebut tanpa pamit, Luhan mewakilinya. Ia lalu berjalan penuh dengan amarah tergesa melewati kedai minuman tersebut. Berpapasan dengan seorang polisi yang tampaknya akan menangkap Nyonya Kim.

Kali ini, Luhan tidak membiarkan Kai berjalan di depannya. Ia lalu menarik tangan Kai dan menuntunnya cepat menuju ke sebuah tempat.

"Hei.. Ap..,"

"Jangan bicara." Kata Luhan singkat, "kau sudah berantakan begitu dan aku mengikutimu seharian ini. Kali ini, kau harus mengikutiku walaupun hanya sebentar saja."

- Do for Kai –

Tinggal tiga hari lagi, Yixing dan dua rekannya dari Hanh, Kyuhyun sunbaenim serta Taeyeon unnie akan keluar dari universitas Kkami. Sedikit melegakan begitu tahu akan keluar dari neraka ini begitu cepat, tapi untuk Yixing, setengah hatinya berharap Hanh mau memperpanjang masa exchangenya disini.

Banyak pelajaran hidup yang tidak ia dapatkan di Hanh, dimana semua mahasiswa atau mahasiswinya terlalu terlena dengan kekayaan fana milik keluarga atau bahkan hasil kerja keras mereka sendiri dan melupakan hal nyata yang terjadi disekitar mereka. Bagi Yixing, pengalaman hidup yang tidak pernah terbayangkan terjadi dalam otaknya dan diceritakan oleh orang orang yang baru dikenal oleh Yixing menjadi pelajaran terbaik yang pernah ia dapatkan.

Untuk hari ini, Yixing bolos masuk kelas. Memang ada dosen yang tengah mengajar, tapi pelajaran itu pelajaran semester I. Yixing merasa tak memerlukan pelajaran dasar seperti itu lagi. Yixing sudah hafal diluar kepala dimana itu otot frontalis dan tulang sternum, jadi ia pikir membolos sehari tidak akan jadi masalah.

Yixing sekarang duduk diatas sebuah meja dan bersebrangan dengan lelaki berambut putih tersenyum memperlihatkan gummy smilenya pada Yixing. Yongguk, pemimpin White Hair, yang semenjak perkenalannya yang pertama menjadi akrab begitu saja dengan Yixing.

"Terimakasih atas semua cerita yang kau bagi denganku, Yongguk. Harusnya, aku mengenalmu dari awal." Kata Yixing tersenyum, sambil memainkan kakinya yang tidak menyentuh lantai. Mendengar cerita soal beberapa anggota White Hair dan beberapa filosofi hidup milik Yongguk membuat Yixing belajar banyak. Yixing tiba tiba menyayangkan orang seperti Yongguk bisa masuk ke Kkami.

Mereka bahkan membicarakan soal Ji Hoon.

"Bukan masalah Yixing. Aku yang harusnya berterimakasih padamu, Ji Hoon bukan anak yang suka cerita pada orang yang baru dikenalnya. Aku lega dia sekarang bisa belajar bersosialisasi."

"Itu.. Juga bukan masalah." Mereka berdua tertawa. Suara ringan milik Yixing bergema dengan suara berat nan dalam milik Yongguk.

Mereka berdua lalu terdiam, Yixing tetap memainkan kakinya dan pandangannya terlempar jauh ke langit biru di luar jendela tanpa kaca. Sejenak ia tiba tiba teringat soal keluarganya. Ah, dia seperti ini memang menyesakkan, membuatnya teringat tentang sesuatu yang tidak ingin ia ingat. Saat gadis itu menolehkan wajahnya pada Yongguk, pemuda bermata tajam itu tengah memandangnya intens. Yixing menaikkan kedua alisnya ingin tahu.

"Ya?" katanya. Yongguk tertawa kecil dengan suara dalamnya.

"Apa kau tidak mengenaliku, Yixing?" tanyanya. Yixing mengerutkan keningnya.

"Tentu aku mengenalmu. Maksudku─,"

"Kau benar benar melupakanku, Do Yixing?" tanyanya sekali lagi. Kali ini ia menyandarkan punggungnya di kursi kayu yang lumayan reyot itu, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Yixing benar benar tidak mengerti,

"Apa? Apa maksudmu, Yongguk?" Yixing berhenti memainkan kakinya dan berkacak pinggang, menuntut Yongguk untuk menjelaskan yang baru ia katakan.

"Oh, malangnya aku. Ternyata aku mudah dilupakan." Kata Yongguk dengan wajah mengernyit menahan sakit. Yixing tidak menjawab, wajahnya meminta penjelasan lebih dari pemuda tersebut. Yongguk kembali menatapkan pandangannya pada Yixing, ia menghela nafas pelan sebelum bicara.

"Do Yixing. Lahir di Kanada tanggal 12 Desember. Anak kedua dan terakhir dari pasangan Do Yifan dan Do Zitao. Punya satu orang kakak bernama Do Kyungsoo yang sekarang kuliah di Universitas Hanh mengambil jurusan bisnis agar bisa melanjutkan perusahaan milik ayahnya. Sedangkan kau tertarik untuk melanjutkan studi menjadi perawat yang awalnya di tentang oleh ayahmu, tuan Do, atau Kris karena ia lebih suka kau menjadi seorang bussines woman daripada harus berkutat dengan orang sakit." Yongguk menyelesaikan kalimat dengan senyuman bibir tebalnya.

"Benar begitu?" tanyanya seakan mencari penegasan. Yixing tidak menjawab, terlalu terpana dengan orang yang berada di depannya. Dia baru kenal Yongguk kira kira selama seminggu lebih beberapa hari dan dia tahu garis besar kronologi hidup Yixing?

Harusnya Yixing tahu, berteman dengan anggota geng saja cukup menyeramkan, apalagi dengan lead mereka.

"K-kau tahu?" kata Yixing. Kali ini ia meloncat ke lantai, membuat kedua kakinya berdiri agar ia bisa berlari kalau kalau Yongguk ternyata bukan orang baik baik. Yixing berusaha mengerti, ini Kkami, bukan Hanh.

"Yixing, apa kau tidak ingin tahu nama keluargaku?" tanya Yongguk sekali lagi. Yixing menggeleng masih dengan tatapannya yang mencurigai.

"Siapa?" balas Yixing singkat. Yongguk tersenyum, ia lalu berdiri lalu berjalan mendekati Yixing yang sudah tidak bisa berlari kemana mana karena terhalang oleh meja di belakangnya.

"Bang. Bang Yongguk imnida." Dan Yongguk menunduk singkat. Yixing lalu mengerutkan kening, berpikir sebentar apakah itu membantu. Setelah itu raut wajahnya berubah menjadi mengerti dan senyumnya melebar.

"Ah!" Yixing menjetikkan jemarinya karena teringat sesuatu,"pantas aku sepertinya familiar dengan wajahmu... Tapi tidak dengan rambutmu." Kata Yixing menunjuk rambut Yongguk.

Ya.. ya.., Yixing ingat. Dia anak keluarga Bang. Rekan kerja Dad, maksudnya, makhluk-rambut-pirang itu. Keluarga Bang sering datang ketika ada acara makan siang bersama kolega atau family gathering. Yixing ingat sekarang, bagaimana dia bisa lupa dengan teman mainnya saat kecil? Wajar jika Yixing tidak mengignat Yongguk. Waktu kecil, dia terbiasa memanggil Yongguk dengan Bang. Sampai beberapa waktu yang lalu saat terakhir makan siang bersama. Yongguk tertawa kecil.

"Yongnam memang punya rambut hitam, bukan putih." Kata Yongguk menunjuk rambutnya. Yixing mengernyitkan alis.

"Oh, kalian bersaudara?"

"Kembar."

"Cute." Dan Yixing tertawa lagi, lalu menggeleng menyadari kesalahannya, "aku tidak menyangka.. Kau.. Anak dari keluarga Bang! Lalu.. Kenapa kau terperangkap disini?" ucapnya ingin tahu. Ingin tahu yang jelas. Untuk apa?

"Aku tidak terperangkap, Yixing. Aku menerangkapkan diriku." Kali ini Yongguk berjalan menuju salah satu jendela di dekat mereka, memandang ke arah luar yang sepi. Yixing mengikutinya.

"Apa? Kenapa?" ucapnya saat sudah menyandar di salah satu bingkai jendela, berhadap hadapan dengan Yongguk.

"Untuk menyelamatkan mereka." Yongguk melihat ke salah satu titik. Yixing mengikutinya. Sekelompok pemuda dengan rambut putih tengah saling berbincang dan bercanda dengan para pemuda lainnya. Yongguk menarik satu sudut bibirnya.

"Anggotamu?"

"Mereka punya jalan yang lebih baik. Punya masa depan yang cerah. Rata rata, mereka baru kemarin masuk tahun ajaran baru." Yongguk kembali menatap Yixing dengan senyum setengahnya,"aku akan membawa mereka keluar dari KKami."

Yixing tersenyum akibat ketulusan, atau kepolosan, milik Yongguk. Ia lalu berucap, "tapi sebelum kau meluluskan mereka, kau harus meluluskan dirimu sendiri."

"Aku sudah lulus." Yongguk berkata datar dan memalingkan wajah menatap ke bawah, ke sekumpulan mahasiswa tersebut. Yixing lagi lagi dibuat mengerutkan kening.

"Apa?"

"Aku alumni Hanh. Jurusan psikologi." Yixing menatapnya apa-yang-kau-bicarakan?, tapi Yongguk hanya tertawa dan melanjutkan,"tidak percaya? Tanyakan nama Bang Yongguk tahun ajaran 3 tahun diatasmu, kau akan menemukannya di buku kemahasiswaan lulus."

"Astaga Yongguk, aku tak tahu kau punya banyak rahasia. Lalu? Siapa saja yang tahu soal ini?"

"Tidak ada."

"Apa?" Yongguk terlalu banyak membuat Yixing berkata 'apa'. Tapi, menurut Yixing, tidak ada kata yang pantas untuk digunakan lagi selain itu.

"Aku berpura pura menjadi mahasiswa dari kampus ini. Tidak ada satupun dari anggota geng yang tahu bahwa aku bukan mahasiswa disini. Mereka tidak akan curiga. Saat mereka pergi masuk kelas, mereka pasti berpikir bahwa aku juga masuk ke kelas. Tidak ada yang mengikuti atau satu kelas denganku. Mereka tidak akan mengetahuinya."

"Kau licik sekali, Yongguk." Yixing melirik Yongguk dengan pandangan menggoda dan tertawa. Yongguk masih tersenyum.

"Apa saja untuk mereka." Senyum Yongguk masih terpatri di wajahnya, bukan senyum memamerkan gummynya, lebih pada senyum bijaksana yang menenangkan hati.

Hening sebentar. Yixing lalu bertanya,

"Sampai kapan kau mau disini? Mereka punya jalan takdirnya, dan kau punya jalan takdirmu." Kata Yixing, "kau bisa mati sia sia disini, Yongguk."

Yongguk sepertinya tidak tertarik untuk mengikuti ajakan Yixing keluar dari Kkami. Ia menjawabnya, "sampai aku bosan. Sampai aku melihat tidak ada yang harus kuselamatkan lagi. Aku akan pergi. Keluar."

"Keluarlah secepat mungkin. Kau benar benar akan mati sia sia disini." Kata Yixing sambil tersenyum dan mengelus pelan lengan berotot milik Yongguk. Pemuda itu menoleh dan masih merobek bibirnya dengan senyum.

"Kau gadis yang baik, Yixing. Apa Junmyeon sudah memberitahumu kalau dia menyukaimu?"

"Terima─ Apa?!" ini sudah yang ke… er… tidak tahu.

"Ups, lupakan. Wah, sepertinya aku harus meminta maaf pada Junmyeon, aku merusak rencananya." Yongguk berpura pura kaget dan lalu memandang ke arah lain dengan tawa geli. Yixing ikut mendengus tertawa dan memandang ke lapangan.

"Kau mengenal Junmyeon." Tiba tiba Yixing rindu setengah mati pada anak kedua keluarga Jung itu.

"Ketika ada acara pesta kebun atau makan malam atau makan siang bersama aku sesekali datang. Dan kau pasti hadir dengan kakakmu. Junmyeon sesekali juga hadir dengan kakaknya. Apa kau lupa bertemu denganku?" tuntut Yongguk sekali lagi. Yixing hanya meringis dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Entah aku lupa pernah bertemu denganmu atau ingat bertemu dengan Yongnam. Terlalu bercampur aduk." Kata Yixing menggelengkan kepala. Mereka saja yang tak pernah hadir berdua, Yixing jadi lupa kalau mereka kembar. Yongguk tertawa lagi.

"Teh tumpah di atas mawar di dekat meja makan siangmu. Waktu itu makan siang di hotel Hilton." Kata Yongguk mencoba mengambil satu momen dimana Yixing berada di dekatnya. Yixing mengerutkan kening mengingat ingat, ia lalu menjetikkan jemari lagi.

"Oh! Kau yang membersihkan gaun dari nona Choi itu?"

"Junhong."

"Ey.. Kalian sudah pacaran?" goda Yixing. Yongguk mengerutkan kening lalu melirik Yixing dengan menaikkan satu alisnya

"Kau dan Junmyeon sudah?" senyum Yixing lalu menghilang dan memukul lengan Yongguk dengan kepalan tangannya.

"Aishh.. Kau. Lupakan." Yongguk tertawa.

Mereka terdiam kembali, mencoba meresapi apa yang baru saja terjadi. Yixing lalu menoleh pada Yongguk,

"Apa kita bisa bertemu lagi?" tanyanya, ia menyayangkan perpisahan itu datang terlalu cepat. Ia baru mengenal Yongguk. Pemimpin geng itu, dengan wajah tampannya memandang lurus lurus pada Yixing,

"Takdir selalu berkata hal yang menggelikan. Kuharap, ia punya keputusan lain soal kita." Kata Yongguk,

"Ya, kau benar. Kadang kadang, bicara dengan takdir itu menjengkelkan hingga kau ingin meludahinya."

"Tidak. Kau saja yang merasakan itu nona Do." Yongguk tertawa, suara beratnya terdengar merdu. Yixing hanya tersenyum setengah. Setelah hening beberapa saat, Yongguk menatap keluar bersama dengan Yixing.

"Bulan depan Yongnam menikah, kuharap kau datang bersama kakakmu." Kata Yongguk tanpa memandang Yixing.

"Kalau kalian mengundangku, aku akan datang, tuan Bang." Yixing menoleh pada Yongguk begitu juga sebaliknya.

Terkadang, pertemuan itu yang paling manis. Tapi, perpisahan lah yang paling mengesankan.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

...

...

..

.

To Be Continued...

So.. Mind to leave comment, please?

anyway, thanks for you comment. Sorry I can't reply it one by one :)

i putri , EmakSehunKeceh , berlin , EXONEEEEEEEEEEEE , kim eunjin , Tikaikyungsoo , ayay , nissaa , Deer Panda , Septaaa , Kim Haerin-ah , Lee Dong Hwa , KaiSoo Fujoshi SNH , Tania3424 , HaeSan , Riyoung Kim , Choi Youmin , Etruscan , jungsssi , ICE14 , Lee EunSeok , Brigitta Bukan Brigittiw , Reita , lee kaisoo , Lana , BabySuLayDo , Annaun , Kazuma B'tomat , mitatitu , BLUEFIRE0805 , uniquegals , Xihun , Flory KaiSoo 121401 , Kim Haerin-ah , TiKaiKyungsoo , Reita , lee kaisoo , miyuk , Lee EunSeok ,

and the other's. Sorry if I'm not write your name! :) Please leave a comment, thanks for your love! *chu*