Well done! Ginger gak bisa meninggalkan FF ini. Serius. Maaf kalo yang ini sedikit agak maksa atau diluar perkiraan. Pokoknya, Ginger sudah mendedikasikan hasil terbaik Ginger untuk yang ini. Oh ya, omong omong, karena ternyata chapter ini terlalu panjang, I decided to make it be 2 part :D

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Title : Do for Kai

Episode : 9

Cast :

- Do Kyungsoo (women),

- Zhang Yixing as Do Yixing (women)

Support Cast :

- Xi Luhan as Luhan (women),

- Kim Jongin as Kai (men),

- Oh Sehun as Sehun (men),

Cameo :

- Bang Yongguk as Yong Guk (men),

- Pyo Ji Hoon as Ji Hoon (men),

Genre :

Romantic, Family, Drama, Comedy

Rating :

T, amanlah pokoknya. Kecuali kalo Kai sudah mulai beraksi, itu bisa berubah lagi.

Inspired by:

Grey's Anatomy and Ai To Makoto (for Love's Sake)

Disclaimer :

Kita semua punya Tuhan. Tuhan punya kita. Cerita punya saya, dan Tuhan. #plak

.

.

- Do For Kai -

.

.

"Untuk apa kau membawaku kemari, Luhan?!" bentak Kai. Tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang sekilas memandangya karena berteriak. Gadis berambut madu itu tidak mengindahkan teriakan Kai, malah terus menyeretnya masuk lebih dalam dan membuka satu pintu yang berada di sisi lorong tersebut.

Kai terdorong masuk dan Luhan membanting tertutup pintu serta menguncinya.

"AKU SUNGGUH SUNGGUH TAK MENGERTI JALAN PIKIRANMU! KELUAR!" teriak Kai, sambil menerjang Luhan yang bersandar di pintu untuk segera membukanya. Tapi Luhan malah mendorongnya sekuat tenaga hingga ia jatuh tersungkur di lantai.

Kai menggeram marah dan kembali menerjang Luhan, pikirannya sedang tidak enak dan Luhan membawanya bagaikan dia membutuhkan ini semua untuk melampiaskan kalut dipikirannya. Bagaimana tidak terganggu? Luhan membawanya kesebuah motel dengan titel 'Love Passion' dan aura sempit memuakkan karena lampu remang remang, warna cat serta ruangan yang membuat Kai ingin segera keluar menghirup udara luar.

"Apa yang kau lakukan!?" sekali lagi Kai menyuarakan protesnya. Tapi, Luhan tidak mendengarkan. Ia mengambil kunci yang masih menempel di lubang dan menaruhnya di saku rok. Kai masih terjatuh di lantai dan menatap gadis yang menatapnya dengan pandangan yang Kai sendiri belum pernah melihatnya.

"Aku tidak bisa menahannya lagi, Kai." Luhan maju satu langkah, dan Kai menyeret badannya mundur, "ketika aku mempunyai banyak pikiran dalam kepalaku, maka satu satunya perasaan yang keluar malah perasaan panas seperti ini."

Kai benar benar menyeret badannya mundur karena terlalu bingung dan terkejut tentang apa yang gadis ini lakukan. Semakin mendekat, Luhan melemparkan segala sesuatu yang berada di tubuhnya. Mulai tas, buku, sepatu, kaos kaki dan yang terakhir membuka satu persatu kancing bajunya.

"Menjauh dariku."

"Tidak." Luhan merangkak di atas Kai yang sudah tertahan sisi tempat tidur, membuatnya tak bisa mundur lagi, "paling tidak, kalau kau merasakan tubuhku, kau akan melupakan segalanya." Ujar Luhan dengan wajah meyakinkan.

Satu tangan Luhan berada di pipi Kai, sementara bibirnya melumat bibir Kai yang hanya diam karena terlalu terkejut. Kai berusaha untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi, meskipun matanya jatuh ke tubuh polos yang berbalut seragam terbuka dan underdress. Kai masih tidak mengerti apa yang terjadi di dalam otak gadis ini.

"Kau.." saat Kai membuka mulutnya, lidah Luhan masuk. Kai lalu memutuskan untuk mendorong kasar Luhan, lalu mengangkat dan membantingnya ke tempat tidur.

"Apa yang kau tunggu? Let's get there and bang me senseless!" kata Luhan yang tengah berbaring dan menatap Kai dengan nafas memburu. Kai hanya menatapnya tanpa perasaan, ia lalu naik ke tempat tidur dan menatap Luhan tepat dimatanya. Merasa mendapat angin, Luhan tersenyum menang lalu menarik kerah Kai agar wajahnya mendekat dan ia bisa menciumnya lagi.

Kai semakin jijik merasakannya.

"Kepalamu perlu udara segar, nona." Ucapnya dingin dan tanpa nada, satu tangan Kai menjalar ke rok Luhan dan masuk ke kantungnya, "aku tidak akan melakukan hal sehina ini meski kau telanjang bulat sekalipun." Kai mengambil kunci ruangan dan segera mendorong dirinya menjauh.

Saat Kai keluar dari kamar dan menutup pintu keras, Luhan bangkit duduk di tempat tidurnya. Menatap pintu itu untuk termenung sebentar.

Ia turun dan lalu berjalan pelan menuju barang barang yang tergeletak di lantai karena terlempar olehnya tadi. Sesaat setelah mengambil dan memeluk bukunya tanda penyesalan karena ia telah membuangnya, ia memandang lantai sembari berkata,

"Belum ada..," Luhan memeluk buku bersampul kulit tersebut erat, "..yang pernah menolakku sebelumnya."

- Do For Kai -

Keesokan harinya, Kai merasa beruntung gadis itu tak mengikutinya lagi. Biasanya, tiap pagi begini, dia selalu berdiri depan pagar rumah Kai dan mengikutinya berjalan menuju kampus. Ia bertanya tanya, kenapa Luhan tiba tiba bersikap seperti itu? Mengerikan. Ia tahu, wanita adalah makhluk yang mengerikan. Pikirannya tak tertebak dan perasaannya terlalu membingungkan. Seperti warna merah, tapi bukan merah atau ungu yang bercampur aduk. Kai jadi pusing berpikir soal itu.

Mengingatkannya pada seorang gadis dengan rambut panjang dan dua mata bulat di Hanh. Memaksanya ikut kemana saja ia pergi dan menjadikannya seperti apa yang gadis itu inginkan. Percaya bahwa dia orang baik seperti percaya bahwa teko bisa bicara seperti di kastil Beast. Menggelikan.

"Hei, masih berani kau datang kemari." Kata seorang tidak jauh di depannya saat ia baru saja melintasi gerbang terbuka Kkami. Kai menangkat wajahnya congkak dengan kedua tangan di saku jeans, ia mengangkat satu alisnya saat tahu siapa yang baru saja memanggilnya.

"Kau? Oh, harusnya aku yang berkata, masih berani kau muncul di depan wajahku setelah aku menginjak wajahmu kemarin, bocah?" katanya. Itu adalah pemuda anggota geng Sehun yang kemarin sempat ia 'habiskan'. Tapi kemudian, pemuda itu menoleh pada teman temannya dan tertawa keras.

"Aku? Kau! Kau yang kemarin hanya dipukul dan langsung jatuh tak berdaya di depan ketua Sehun harusnya yang malu, dasar bocah!" kata pemuda itu dengan congkak, Kai hanya berdecih pelan.

"Apa maumu?" tanya Kai masih dengan nada tidak enak dan pandangan meremehkan.

"Kita punya urusan yang belum selesai! Apalagi, kemarin berani beraninya kau masuk ke motel dengan kekasih ketua kami!" katanya marah dan menunjuk Kai, disambut sorakan setuju dari pengikutnya. Kai mengerutkan kening.

"Apa? Kekasih yang mana? Jadi, anak SMP itu sudah punya pacar? Katakan padanya, masih kecil belum waktunya berpacaran." Kali ini kata kata Kai memacu api yang lebih besar. Saat pengikut leader gang tersebut meringsek maju, pemuda yang pertama kali bicara dengan Kai merentangkan tangan menghadang mereka.

"Kau benar-benar.. Dasar tidak tahu diuntung!"

Setelah teriakan itu, mereka segera berlari menuju Kai entah dengan tangan kosong ataupun tidak. Kai hanya tersenyum setengah merenggangkan lengannya siap bertukar pukulan kembali.

Satu persatu datang pada Kai dan jatuh tersungkur di dekat kakinya. Menerima pukulan atau tendangan Kai di wajah, tangan, perut bahkan bagian paling sensitif milik mereka. Darah kembali di muntahkan oleh lawan lawan Kai. Sesekali Kai juga harus menerima sengatan sakit dari pukulan sampai sabetan benda keras yang mampir di tubuhnya.

Bagaikan bukan manusia, Kai kembali bangkit dari jatuhnya. Masih punya cukup kekuatan untuk merontokkan gigi atau membuat patah hidung orang yang menyerangnya. Tawa kepuasan meluncur dari mulutnya, teriakan untuk memperseru 'pertandingan' datang dari sekitar lapangan dan lantai dua hingga atap kampus.

Suasana main memanas ketika Kai berhasil menginjak injak perut terakhir lawannya. Dengan menstabilkan nafasnya, ia memandang satu persatu orang yang tadi mati matian mencoba untuk mematahkan tulangnya. Buktinya, bahkan mereka berhasil mencabut rambut Kai dari tempatnya saja tidak. Kai tersenyum puas, ia mendekati pemuda yang tadi mengkonfrontasi adanya peperangan kecil di pagi hari. Ia meletakkan kaki di dadanya dan menunduk menatap wajah kesakitan tersebut.

"Ini pelajaran untukmu, pengecut." Kata Kai, tatapannya masih ganas, "lain kali, gunakan otakmu sebelum otomu. Bodoh."

"O… Oh! Jadi, pagi pagi begini. Sudah ada yang buat ribut?!" teriak seseorang. Kai lalu memandang ke depan, senyumnya tertarik sinis ketika ia melihat leader itu telah berkacak pinggang seperti wanita dengan orang orang dibelakangnya. Kai tertawa kecil melihat anak SMP itu memandangnya dengan tatapan datar.

"Tanyakan pada ulat ulat di tanah ini. Kau salah bertanya, anak kecil." Kata Kai, mengerling anggota geng yang tadinya tergeletak di tanah kini perlahan lahan merayap mundur. Menyisakan ruangan kosong diantara Kai dan Sehun.

"SEKALI LAGI KAU MENYEBUTKU ANAK KECIL!" kata Sehun menunjuk Kai dengan amarah memuncak, tapi sedetik kemudian ia lalu menghirup nafas banyak banyak dan mengatur emosinya, "tenang Oh Sehun. Tenang Oh Sehun. Dia hanya preman yang tak tahu apa apa…" begitu terus hingga ia kehilangan emosi sesaatnya.

Kai hanya menatapnya tanpa ekspresi.

"Jangan menyebutku anak kecil lagi, kau Kim Jongin! Apa kau lupa kemarin kau tergeletak tak berdaya hanya dengan satu tamparanku?!" kata Sehun dengan senyum mengejek. Sementara yang lain tertawa, Kai menggeram rendah lantaran kesal.

"Apa maumu?"

"Urusan kita belum selesai, Kai." Kata Sehun, ia mulai maju mendekati Ka, lalu berjalan memutarinya dengan tatapan menghakimi, "kau, si anak baru Hanh itu ternyata banyak membuat masalah disini. Harusnya, kau punya sedikit sopan santun karena kau berulah di tempat kekuasaanku. Ku ulangi. Tempat. Kekuasaan. Milikku."

"Cih, berhenti berkata soal sopan santun. Kau sendiri bahkan tak tahu apa arti dari kata itu." balas Kai sengit. Sehun tertawa congkak.

"Aku! Oh Sehun! Pemimpin geng di Universitas ini tentu tahu sebuah kata yang aku ucapkan! Aku tak sebodoh kau, Kim. Jong-in!" katanya. Kai menarik satu sudut bibirnya meremehkan, "aku memberikan apelku pada dosen yang akan mengajar. Aku memberikan tempat dudukku untuk seorang nenek tua dalam bus. Dan aku memukul wajahmu untuk mengajarkanmu sopan santun!" teriak Sehun diiringi koor pendukungnya. Sehun ikut tertawa terbahak bersama orang orang tersebut.

Kai rasanya ingin muntah mendengar pembelaan diri yang aneh itu.

"HAHAHAHAHA… AHAHAHAHAHA.. uhuk.. ehem. Bawakan aku air," ucap Sehun saat ia tersedak di tawanya. Ia lalu berdehem untuk mengatasi rasa gatal di tenggorokannya dan lalu melihat Kai sengit, "jangan kira aku akan membiarkanmu pergi begitu saja, Kai. Apalagi tenang apa yang sudah kau lakukan bersama Luhannieku tersayang!"

Saat seorang membawakan segelas air pada Sehun dan meminumnya, Kai memicingkan mata.

"Apa maksudmu?" tanya Kai, mencoba tidak mengerti.

"Kau pasti mengerti! Kau… apa saja yang sudah kau lakukan dengan Hannie di motel mesum itu hah!?"

"Itu bukan urusanmu."

Sehun seperti tertohok, ia seperti kehilangan nafas dan memegang dadanya erat sembari berkata, "K-kau… AH! LUHANNIE! LUHAN SAYANG!"

Rasa sakit Sehun terinterupsi oleh seeorang dibelakang Kai yang tengah menatap keramaian. Kai ikut berbalik melihat Luhan tengah memandang mereka dengan pandangan datar sementara Sehun masih meneriakkan kata kata romantis dan melambai lambaikan tangannya. Kai menatap gadis itu sebentar tanpa ketertarikan, lalu menatap Sehun. Lambaian Sehun melemah dan wajahnya menekuk.

"Lihat? Lihat?! Kau membuat Luhanku marah dan pergi!" Sehun setengah merajuk. Kai tetap dengan pandangan dinginnya. Sehun menarik nafas dan menggelengkan kepala kecewa akan sesuatu. Ia lalu berjalan kembali ke depan kawanannya yang sudah mengeluarkan senjata serta aura siap bertempur. Dengan memijat keningnya ia berkata,

"Kau benar benar… Aish. Anak anak, ajarkan Kim ini sesuatu bagaimana caranya menghormati seseorang!"

Teriakan itu terdengar lagi, dan pukulan kembali melayang.

Para anggota geng Sehun mulai maju kembali dan memukul Kai. Satu persatu kembali menghantam tanah atau merasakan pukulan keras dari Kai. Memukul, menginjak, dan menghantam kembali. Dengan beberapa menit berjalan, Kai menghabiskan energinya. Nafasnya memburu dan pandangannya mulai mengabur. Walau masih ada perasaan ingin memukul seseorang lagi, tubuhnya tidak bisa berbohong.

"Kenapa? Mau ku permalukan lagi seperti kemarin, Kai?" Sehun berjalan mendekat. Sialan, batin Kai, selalu mencari kesempatan di akhir ketika tenanganya sudah terkuras. Kai mengatur nafasnya.

Wajah Sehun mendekat, suasana hening tapi Kai tidak melakukan apapun. Padahal itu adalah kesempatan emas dimana ia bisa membuat wajah putih pucat itu tidak bisa melengkungkan senyum. Nafas Kai sedikit tersengal, tangan Sehun mulai naik dan akan menghantam tubuhnya. Ia akan ambruk, ia akan dipermalukan lagi seperti kemarin.

Kai menutup matanya.

Tapi, pertanyaannya adalah, kenapa pukulan Sehun terasa seperti pelukan lembut di dada dan aroma familiar yang menggelitik menguar di hidungnya?

- Do for Kai –

Hari ini lagi lagi kelas free. Tidak ada kuliah, tidak ada kegiatan belajar mengajar, tidak ada bedah mayat lagi, tidak ada dan tidak ada. Yixing kembali menghabiskan waktunya di basecamp milik White Hair, kali ini ia mengajak Taeyeon unnie untuk berkenalan dengan Yongguk. Meskipun pada awalnya gadis bermata kecil itu menolak habis habisan, Yixing berusaha untuk meyakinkannya.

"Percayalah," katanya sambil menggeret Taeyeon yang masih tidak mau berjalan atas kemauannya sendiri, "kalau Yongguk menyakitimu, aku akan menggigit tangannya."

Untungnya Yongguk tidak perlu terkena gigitan mematikan dari Yixing. Jadilah kedua orang yang baru kenal itu saling bertukar kata dan percakapan sementara Yixing ngobrol berdua dengan Ji Hoon di bawah papan hijau depan kelas.

"Dua hari lagi, kau akan kembali ke Hanh." Kata si suara berat membuka percakapan. Yixing hanya tersenyum simpul, memandang kakinya yang berselonjor di sebelah Ji Hoon. Wuah, dia baru sadar, kaki Ji Hoon panjang sekali.

"Jangan merindukanku." Kata Yixing, setengah bercanda, setengah serius. Ji Hoon hanya tertawa datar, ia berkata sulit untuk tidak merindukan Yixing. Ji Hoon juga sedikit berharap bahwa Yixing tidak akan melupakannya.

"Aku takkan melupakanmu, Ji Hoon. Tentu saja dengan semua orang disini, aku takkan melupakannya." Yixing tersenyum, Ji Hoon sedikit kikuk dengan senyuman itu tapi lalu dibalas dengan senyum lebar lengkap dengan gigi gigi kecilnya.

"Yixing," panggil Ji Hoon, Yixing hanya berdehem menjawab karena sibuk memperhatikan sepatunya. "Ku lihat, kau dekat sekali dengan Yongguk hyung─,"

"Tidak, jangan dipikirkan. Maksudku.. Karena kau mengenalkannya padaku, tidak sopan kalau aku mengacuhkannya." Yixing cepat cepat mengelak dengan tawa ganjil. Membuat Ji Hoon mengerutkan alisnya tapi lalu mengacuhkan. Dua orang itu lalu terdiam lagi, sibuk dengan pikirannya masing masing.

"Eh.. Yixing."

"Ji Hoon."

Yixing dan Ji Hoon saling bertatapan. Lalu tertawa kecil.

"Kau duluan saja, Ji."

"T-tidak. Kau duluan, Yixing. Ladies first." Kata Ji Hoon. Yixing mengangguk pelan.

"Ini pertanyaan bodoh sih, tapi aku hanya ingin tahu saja. Ji Hoon," panggil Yixing, Ji Hoon mengangguk, "kenapa kau menyukaiku?"

Wajah Ji Hoon yang tadinya menyimpulkan tanda tanya besar, kini perlahan mulai memerah malu dan pandangannya terlempar ke sudut lain. Yixing menatapnya ingin tahu sekaligus ingin tertawa. Yongguk berkata, Ji Hoon anak yang sedikit temperamental dan tidak gampang akrab dengan orang lain. Pemuda itu akrab dengan Yongguk karena leader itu punya figur seperti ayahnya. Yongguk kemarin penasaran, apakah Yixing mirip seseorang dalam hidup Ji Hoon. Ia akan tertarik kalau misalkan Ji Hoon hanya menerima orang orang yang membuatnya nyaman dan mempunyai sifat yang disukai Ji Hoon.

"Ji Hoon?"

"K-karena kau cantik..," ucap Ji Hoon polos, "kau seperti kakakku."

Yixing hanya tersenyum, lalu melirik Yongguk yang tengah memperkenalkan Ren pada Taeyeon. 'Oh Bang Yongguk, kau memang pantas disebut psikolog.' Batinnya tanpa alasan.

"Terimakasih." Yixing hanya tertawa meskipun jantungnya sedikit berdebar, mengalihkan pandangan pada sepatunya. Ji Hoon juga ikut tertawa dengan suara beratnya. Suasana hening kembali diantara mereka. Yixing menoleh pada Ji Hoon, "kau ingin bertanya apa, Ji Hoon?"

Ji Hoon mengulum bibirnya ragu ragu, kemudia menatap Yixing. "Kalau aku bertanya ini, apakah kau akan membenciku?"

"Tergantung."

"Tidak jadi."

"Lho, kenapa?"

"Aku takut kau membenciku."

Yixing menatap Ji Hoon tidak mengerti, sementara pemuda itu memandang Yixing dengan pandangan takut. Bibir Yixing menekuk senyum, mengerti kegelisahan Ji Hoon yang tidak berdasar. "Aku takkan marah, Ji Hoon," ujar Yixing, "aku berjanji."

Ji Hoon menatap Yixing lebih lama, melarikan pandangannya ke satu titik seperti menimbang nimbang. Mengulum bibirnya ragu kembali, lalu menarik nafas pelan. Siap menanyakan hal yang mengganjal hatinya.

"Kau menolakku waktu itu," ucapnya menggantung. Yixing menaikkan satu alisnya, sepertinya ia tahu kemana arah bicara anak ini, "aku juga melihat banyak foto pemuda di ponselmu.. Apa dia kekasihmu?"

Yixing sudah tahu Ji Hoon akan bertanya hal semacam itu. Inginnya, Yixing berteriak pada Ji Hoon bahwa dia sangat amat super menyukai Junmyeon. Tapi, keinginan itu ia urungkan mengingat masih ada Bang Yongguk dan Taeyeon yang notabene mengenal Junmyeon. Selain itu…

Dia sendiri tak tahu apa arti Junmyeon untuk hatinya. Tak ada kepastian.

"Kami dekat," sangat dekat,

"tapi dia hanya temanku." Yang ku harapkan menjadi kekasih.

Yixing tersenyum singkat untuk jawabannya. Ji Hoon hanya diam dan mengangguk, seperti menerima jawaban begitu saja.

Sekarang, pikiran Yixing melayang.

Junmyeon.

Kadang kadang, ia merasa Junmyeon hanya menganggapnya sebagai adik karena ia lebih muda dari Junmyeon. Tiba tiba, terselip pikiran mengganggu bahwa nantinya Junmyeon akan menikah dengan Kyungie karena mereka adalah anak tertua dan seumuran.

Paling paling, Kyung akan menolak, lalu kabur dan Junmyeon akan mencarinya. Tidak mungkin 'kan Junmyeon akan mengejar Yixing? Perasaan Junmyeon saja ia tidak ta─

"Kau gadis yang baik, Yixing. Apa Junmyeon sudah memberitahumu kalau dia menyukaimu?"

Suara berat Yongguk terdengar, pipinya memanas. Mendengar kata kata seperti itu, rasanya Yixing sudah melayang ke langit langit kelas. Tapi Yongguk hanya menggodanya, Yixing menghembuskan nafas kembali.

Perasaan ini tumbuh sedari ia kecil. Sedari ia mengenal sosok Jung Junmyeon begitu dekat. Senyum malaikatnya, bagaimana ia memperlakukan Yixing dan Kyungie. Bagaimana ambisinya saat sudah dewasa nanti, segala mimpinya, segala kata kata menyejukkan untuk Yixing yang dikatakan Junmyeon selalu teringat untuknya. Gadis itu masih ingat bagaimana Junmyeon menatapnya dengan perasaan bingung saat malam kejadian tamparan yang berbekas hingga sekarang. Ia masih ingat hangatnya lengan Junmyeon ketika memeluknya erat.

Tapi, tak ada perkataan perasaan apapun dari Junmyeon. Yixing menolak pikiran bahwa Junmyeon membencinya, ia hanya menggapnya sebagai seorang yang Yixing tidak tahu apa itu. Adik? Sahabat? Atau.. yang paling (belum) mungkin terjadi adalah sebagai orang yang disukai?

Yixing menggelengkan kepalanya, dia terlalu dilema.

"Ah!" seseorang terpekik kaget di dekat jendela, membuat Yixing melupakan sedikit sisi sedihnya dan kembali ke masa sekarang, "ia akan mati! Ia akan mati!"

Aron. Sepertinya, pemuda itu tengah menikmati pertandingan di tengah lapangan. Yixing mengerutkan kening saat Yongguk memukul pelan kepala Aron karena berkata seperti itu. Aron mengelak, ia menunjuk ke lapangan bahwa anak baru yang namanya Kai itu akan mati di tangan Sehun.

Kai? Wah, ini pertunjukan bagus.

Yixing lalu berdiri dan ikut melihat ke lapangan. Kai sudah berdiri tak berdaya di depan Sehun yang akan melancarkan pukulan ringan mematikannya. Baru kali ini Yixing melihat iblis itu tak berdaya di depan seseorang, Sehun mulai melayangkan pukulannya dan…

Berhenti di udara.

Seorang gadis dengan rambut panjang tiba tiba berlari diantara mereka berdua dan memeluk Kai begitu eratnya. Yixing mengangkat satu alisnya, oh, ternyata di Kkami ini juga ada gadis gadis bodoh yang melindungi iblis? Hebat sekali. Pasti feromon yang dihasilkan oleh Kai tak sengaja masuk ke paru paru dan mengedarkan impuls salah untuk otak mereka. Harusnya, yang dihasilkan itu adalah impuls melarikan diri, bukan jatuh cinta.

"Wah, wah, lihat itu! Seorang gadis memeluk Kai!" teriak Aron. Yongguk dan Yixing melirik penonton yang histeris itu dan kembali ke lapangan. Tampaknya, tak cuma Aron yang menunjukkan histerianya. Baekhyun, yang notabene sudah di hajar habis habisan oleh Kai kemarin nampak menegeluarkan aura tak enak dan terkejut dengan kehadiran gadis itu. Yixing masih belum bisa melihat wajah gadis 'beruntung' tersebut karena wajahnya menempel didada Kai.

"Bodoh." Kata Yongguk tanpa emosi, "dia bisa terbunuh lho." Katanya.

Yixing masih memandang kejadian itu, sementara Sehun berhenti di udara dalam beberapa detik. Baru ia bicara pada kawanan dibelakangnya sembari menunjuk Kai,

"Oh.. Lihatlah! Lihat! Sekarang Kai punya pelindung! Perempuan pula!" ejek Sehun sambil menoleh pada anak buahnya dan menertawakan Kai. Pemuda berkulit tan itu lalu membuka matanya perlahan, mungkin bertanya tanya, kenapa tidak ada pukulan telak Sehun mampir di wajahnya. Ia lalu memandang kebawah, ke dadanya, dan mengerutkan kening terkejut.

"JANGAN!" teriak gadis itu teredam, dalam setengah detik kemudian ia berbalik dan merentangkan tangan seperti melindungi Kai di balik tubuhnya yang mungil dari Sehun dan Kai, "jangan sakiti Kai! Jangan berkelahi lagi!"

Mata Yixing melebar, ia menarik nafas pelan dan terhenti karena terkejut, membuka bibirnya juga karena ketidak percayaan. Ia kenal dengan gadis itu, terlalu kenal dan terlalu tahu. Harusnya Yixing sadar, satu satunya makhluk di dunia ini yang rela mati demi Kai hanya orang itu.

Yixing tak dapat berkata apapun. Tubuhnya tak bergerak.

Bagaimana dia tahu kalau Kai berada di Kkami?

Bukankah dia seharusnya ujian hari ini?

Kenapa dia disini?!

KENAPA SEORANG DO KYUNGSOO TIBA TIBA HADIR DISINI?!

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

...

...

..

.

To Be Continued...

So.. Mind to leave comment, please?