And this is it! Part 2. Jeng Jeng Jeng~~ Hahaha. Sekalian ini menjadi pengganjal jikalau Ginger lagi lagi lemot update karena tugas dari kampus. Well, silahkan nikmati ya :D
p.s : adakah yang baca FF saya yang lain?
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Title : Do for Kai
Episode : 10
Cast :
- Do Kyungsoo (women),
- Zhang Yixing as Do Yixing (women)
Support Cast :
- Park Chanyeol as Chanyeol (men),
- Xi Luhan as Luhan (women),
- Kim Jongin as Kai (men),
- Wu Yi Fan as Kris/Do Wu Fan (men)
Cameo :
- Bang Yongguk as Yong Guk (men),
- Pyo Ji Hoon as Ji Hoon (men),
- Kim Taeyeon as Taeyeon (women),
- Aron Kwak as Aron (men),
Genre :
Romantic, Family, Drama, Comedy
Rating :
T, amanlah pokoknya. Kecuali kalo Kai sudah mulai beraksi, itu bisa berubah lagi.
Inspired by:
Grey's Anatomy and Ai To Makoto (for Love's Sake)
Disclaimer :
Kita semua punya Tuhan. Tuhan punya kita. Cerita punya saya, dan Tuhan. #plak
.
.
- Do For Kai -
.
.
Yongguk berulang kali menoleh pada Kyungsoo, yang sedang merentangkan tangan dilapangan sana lalu beralih pada Yixing. Gadis berambut panjang yang digelung itu tampak tak bisa berkata kata melihat kakaknya tengha melakukan hal yang tidak semestinya di tengah lapangan.
"Yixing..,"
"Aku harus turun, Yongguk. Aku.. turun." Kata Yixing terbata dan lalu segera berlari keluar ruangan. Yongguk dan Ji Hoon bertukar pandangan bingung lalu berlari setelah Yixing.
Yixing tak habis pikir, itu kalau pikiran Yixing bisa habis. Bagaimana Kyungsoo bisa tahu keberadaan Kai disini. Bagaimana dengan ujiannya? Padahal Yixing tahu, tadi pagi Kyungsoo tengah membaca diktat tebal dan melupakan omelette hangat di piring gara gara terlalu sibuk dengan hafalan rumusnya. Lalu tiba tiba dia hadir disini, melakukan sesuatu yang bodoh seperti awal Kai dan Kyungsoo bertemu.
Takdir. Yixing sudah bilang, takdir itu menyebalkan. Yongguk saja yang terlalu ramah dengannya.
Di lantai kedua, Yixing berhenti di sebuah jendela yang mengarah ke lapangan. Terlihat Kyungsoo diusir kasar oleh Sehun hingga ia jatuh tersungkur ke tanah, tapi lalu ia bangkit berdiri dan menutup mata di antara Sehun dan Kai seolah menyerahkan dirinya untuk dipukul. Sehun hanya mendengus tertawa dan mendorongnya lagi.
Yixing tidak bisa tinggal diam, ia lalu berlari untuk mencapai tujuan. Hingga, ia menabrak seseorang.
"AH!"
"Oh."
Yixing tidak sengaja bertabrakan bahu dengan gadis itu, tapi karena tabrakan itu begitu cepat dan keras, Yixing takut gadis itu terpental ke lantai. Ia lalu dengan segera mencengkeram satu lengan gadis tersebut, begitu juga sebaliknya. Untung, hanya buku dan beberapa kertas yang jatuh ke lantai dari genggaman tangan gadis tersebut.
"M-maafkan aku. Kau tidak apa apa?" tanya Yixing panik, bukan karena tabrakan itu, dan mengecek singkat tubuh si gadis. Gadis berambut madu itu hanya tersenyum pada Yixing.
"Tidak apa apa. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku." Ujarnya. Yixing membalas senyumnya lalu cepat cepat merunduk untuk mengambil buku dan kertas kertas yang berserakan di lantai. Gadis tersebut tetap berdiri tanpa ada hasrat ingin membantu Yixing.
"Ini bukumu. Maafkan aku telah menabrakmu." Kata Yixing menunduk singkat setelah menyerahkan buku dan kertas tersebut. Saat akan berbalik, gadis itu mengulurkan tangannya.
"Luhan. Aku Xi Luhan, siapa namamu?" tanyanya. Yixing sedikit terperangah, lalu menoleh ke jendela dekat mereka untuk melihat sejauh mana kakaknya sedang 'beraksi'. Dengan sedikit senyum yang dipaksakan, ia menarik bibir.
"Do Yixing. Aku dari Hanh." Katanya sembari mengulurkan tangan menjabat tangan Luhan. Niat Yixing untuk tidak berlama lama dengan gadis berambut madu ini sepertinya terhalang. Ketika Yixing akan menarik tangannya dari Luhan, gadis itu malah mencengkeram erat tangannya.
"A-ap.."
"Kenapa kau begitu terburu buru?" tanya Luhan ingin tahu, memiringkan wajahnya yang manis dengan kedua mata deer yang seperti berair tersebut. Yixing masih tersenyum,
"Ada yang harus kuselesaikan." Yixing tidak sengaja melirik ke arah lapangan lagi. Saat pandangannya teralih pada Luhan, gadis itu masih menatapnya ingin tahu. Membuat bulu kuduk Yixing meremang, di hatinya berkata bahwa gadis ini bukan boneka Barbie yang cantik. Dia bisa jadi si boneka chuky yang terkutuk itu.
"Apakah begitu penting?" tanyanya sekali lagi. Yixing menghela nafas, mungkin lebih baik membiarkan Kyungsoo untuk sibuk dengan misi-penyelamatan-Kainya sebentar dulu. Yang utama sekarang adalah ia harus memutar otak menjauhi Luhan, setelah itu membereskan Kyungsoo.
"Lumayan." Kata Yixing santai, mengubah body languangenya tidak sekaku yang tadi. Luhan lalu tiba tiba melepas tangannya. Kesempatan bagus untuk lari, tapi Yixing tahu ia belum bebas.
"Apa ini soal gadis di lapangan itu?" tanya Luhan. Yixing hanya menoleh lagi ke jendela, melihat ke luar. Kali ini Sehun berhasil menyarangkan pukulan pukulan pada Kai di wajah dan tubuhnya, sementara Kyungsoo sibuk untuk melerai mereka. Sorakan keras dari para audience menambah teriakan kesenangan untuk Sehun. Yixing menoleh pada Luhan lagi tepat saat Kai memuntahkan darah dari mulutnya.
"Aku tidak tertarik untuk menyelamatkan Kai, atau bisa membuat Sehun berhenti dari kesenangannya bukan?" kata Yixing, senyumnya masih terpatri, "tapi kulihat kau satu satunya yang bisa membuat Sehun lupa akan kesenangannya memukul orang."
Kalimat itu adalah kalimat ringan, namun sepertinya membawa pengaruh besar untuk Luhan. Bahunya sedikit tergetar tanda ia terkejut menerima kalimat tersebut dari orang yang bukan orang dalam Kkami. Yixing melihat Luhan dari atas sampai bawah. Ada yang aneh dengan anak ini.
"Kau begitu—,"
"Rapi?"
"Bisa dibilang begitu." Yixing mencari kata yang lebih tepat, "lebih tampak normal." Kata Yixing memberi pujian. Luhan hanya tertawa.
"Terimakasih. Itu mungkin karena aku mengambil baju setelah disetrika dan dicuci." Kata Luhan. That's not make sense, oke, mungkin sedikit. Yixing masih tetap tersenyum. Suara gemuruh teriakan terdengar lagi dari luar, Yixing reflek menoleh ke lapangan.
Kyungsoo tersungkur dengan satu tangan menutupi mulut menahan teriakan dan tangis saat Sehun secara beringas dan bahagia menginjak lalu memukul berkali kali Kai yang sudah jatuh ke tanah.
Yixing kembali lagi menatap Luhan, yang mengejutkan, tatapan Luhan begitu terluka disana.
"Kau menyukainya?" tanya Yixing. Luhan seketika lalu menatap gadis dihadapannya tak mengerti,
"Kau menyukai Kai." tukas Yixing mengambil kesimpulan. Luhan hanya mendengus tertawa, seperti meremehkan hipotesis sesaat dari Yixing.
"Bukan. Sehun terlihat lebih tampan saat begitu."
Skak.
Yixing terdiam lalu mengangguk seperti setuju akan kalimat Luhan, meskipun dia sendiri tak tahu mana bagian yang harus ia setujui.
"Gadis itu..," Luhan menunjuk pada Kyungsoo yang kini tengah menarik Sehun agar ia tak memukuli Kai, tapi Sehun kembali mendorongnya kasar, "..apa kau terburu buru karenanya? Kau mengenalnya?"
"Bagaimana denganmu?" tanya Yixing berbalik, ia tak boleh membuka rahasia Kyungsoo maupun dirinya disini, "apa kau mengenalnya?"
"Dia bukan dari Kkami." Kata Luhan, lalu menatap Yixing penuh selidik, "dia berasal dari Hanh."
"Kau sepertinya sangat percaya diri, nona."
"Setiap anggota Kkami punya tanda, dan dia tidak."
Saat Luhan berkata seperti itu, senyum Yixing mendadak menghilang. Ia lalu melirik lagi kakaknya yang kini berhasil mengusir Sehun, atau mungkin karena pemuda itu sudah bosan memukuli Kai, lalu berusaha untuk membuat Kai sadar. Pandangan matanya bertemu lagi dengan kedua mata lucu tersebut, milik Luhan. Yixing menghela nafas tenang.
Aura Luhan menunjukkan ia bukan orang yang biasa saja. Dia danau yang tenang penuh dengan buaya dan piranha, salah salah, Yixing akan mencelupkan telapak tangannya ke dalamnya dan mengeluarkan tangannya saat ia hanya berupa tulang penuh dengan luka dan tak berbentuk.
"Apa kau sedang mengancamku, Luhan-sshi?" tanya Yixing berani. Luhan masih tersenyum bingung dengan mengerutkan kening.
"Tentu tidak. Aku sedang berpikir bahwa kau pantas menjadi temanku, Yixing. Kau cantik dan pintar, tak seperti gadis bodoh di lapangan yang sedang menyerahkan nyawanya pada malaikat kematian."
"Aku tak melihat salah satu dari mereka." Tukas Yixing, lagi lagi ada yang menghina kakaknya, "dia tidak bodoh. Urat nekatnya saja yang bermasalah."
Luhan tertawa pelan, Yixing hanya tersenyum setengah.
"Apa maumu, Xi Luhan?" tanya Yixing. Luhan hanya tersenyum.
"Aku selalu mendapatkan apa yang kumau, Do Yixing. Dan aku tidak akan menyerahkannya pada siapapun."
Yixing dan Luhan saling berpandangan, kali ini tidak ada pandangan polos yang tadi ia pancarkan. Ketika Luhan berusaha untuk membunuh mental Yixing lewat auranya, mungkin, Yixing hanya bisa bersembunyi di balik hembusan angin yang melewati mereka. Meredam tajamnya aura yang menusuk.
"Ku kira kita teman, Xi Luhan." Kata Yixing. Kali ini Luhan tersenyum tak bersahabat.
"Aku tidak bisa berteman denganmu ternyata, walaupun aku ingin." Kata Luhan. Yixing menelan ludah pelan, ia lalu berjalan mundur teratur. Masih dengan senyum dan menunduk singkat, ia berkata,
"Maafkan aku soal yang tadi," kata Yixing setelah menunduk, Luhan membalasnya pelan. Langkah Yixing masih berjalan kebelakang teratur dan tidak mengambil langkah lebar, "tapi itu keputusanmu. Kau yang mengambil keputusan, dan kau yang memutusnya. Senang bisa berkenalan denganmu."
Yixing membalik badan. Berlari secepat yang ia bisa. Ada dua alasan kenapa Yixing berani untuk berlari di lorong yang penuh dengan jebakan meja dan kursi itu.
Pertama. Kakaknya yang bodoh sedang melakukan hal bodoh yang menurutnya itu panggilan hatinya. Menurut Yixing, otak Kyungsoo pasti kini tengah merutuki nasib sial pemiliknya gara gara menurut panggilan hati.
Kedua.
Yixing bertemu dengan seorang malaikat pencabut nyawa berkostum rusa.
- Do For Kai -
Kyungsoo bukan tipe orang yang nekat seperti Yixing, atau tipe orang yang blak blakan seperti ayahnya. Cenderung ingin selalu damai dan tanpa masalah adalah tipikal Kyungsoo sehari hari. Tapi itu semua berubah pada suatu hari.
Saat Kyungsoo melihat Kai. Ada sesuatu yang berbeda dalam diri Kai yang menarik Kyungsoo untuk ingin tahu lebih dalam pada preman kampus Hanh tersebut. Kyungsoo lalu berusaha untuk masuk ke dalam hidup Kai, apapun caranya. Ia seperti tak menerima atau melihat penolakan besar dari dalam diri Kai, yang ia lihat hanya Kai belum terbiasa dengan metode hidup 'baik' seperti yang ia ajarkan.
Adiknya, Yixing, menolak mentah mentah alasan Kyungsoo untuk membantu Kai keluar dari hidup kelamnya. Alasan yang tidak masuk akal, alasan konyol, alasan bodoh dan sebagainya. Menurut Kyungsoo, itu alasan yang paling tulus, paling sederhana dan paling kuat.
Karena Kyungsoo mencintai Kai apapun keadaaannya.
Ia tak bisa memungkiri sengatan hangat ketika Kai pertama kali memandangannya, ia pun juga tak bisa mengingkari bahwa pemuda berkulit tan itu selalu terbayang hingga tidurnya. Aroma tubuhnya sepeerti melekat pada hidung Kyungsoo, dan setiap pagi ia selalu berdoa untuk dipertemukan dengan Kai.
Semua memang berubah di Hanh ketika Kai dipindahkan, tak ada yang tahu kemana perginya Kai, bahkan Yixing sekalipun. Kyungsoo tak punya banyak waktu mencari Kai, atau bicara dengan Yixing. Di satu sisi, Kyungsoo ingin sekali mnemukan keberadaan Kai, bisa saja ia datang ke rumahnya dan bertanya padanya dimana ia kuliah sekarang. Tapi, Ujian Tengah Semester menghalanginya untuk keluar rumah dengan alasan apapun. Terimakasih untuk Appa.
Sedangkan Yixing benar benar tak membantu, Kyungsoo bahkan sudah lupa bagaimana Yixing pergi keluar rumah dengan menggunakan model rambut apa, menggunakan baju apa atau makan malam apa di rumah. Yixing seperti berada di dunianya sendiri, ia sudah banyak waktu melewatkan rapat keluarga tiap Sabtu dan Minggu. Appa sepertinya juga tak ingin memulai rapat ketika melihat Yixing tak datang ke rapat tersebut.
Menurut Kyungsoo, Yixing berubah. Semenjak kejadian itu, ia menarik diri dari keluarga.
Karena itu, ia tak bisa mengorek informasi apapun darinya. Kyungsoo pun juga tak tahu siapa saja yang student exchange ke sana. Ia tak bisa menemukan Kai, tak bisa berpikir dengan tenang. Ia sedang jatuh cinta, ia setuju dengan pandangan orang orang bahwa ketika sedang jatuh cinta maka kau tidak akan tidak bisa tidak memikirkan dia sepanjang hari. Bayangan Kai, wajah, sampai aroma tubuhnya terus terusan melekat dalam pikiran Kyungsoo.
Awalnya, Kyungsoo akan menyerah. Ia akan berkata pada Yixing bahwa memang benar, dia yang salah. Mengejar sesuatu yang tak pasti, yang kemungkinan menjadi nyata kecil, hanya menyakitkan diri sendiri. Gadis itu juga sadar, selama ini pemuda itu tak mengerti. Pemuda itu hanya tahu Kyungsoo menyukainya, tapi Kai tidak pernah mengerti.
Hingga suatu ketika, hati Kyungsoo sadar.
"Kita harus hidup dengan apa yang kita cintai, begitu 'kan maksudmu?"
Hidup dengan apa yang kita cintai.
Kyungsoo sudah hidup dengan keluarga, teman bahkan buku yang ia cintai. Tapi tidak dengan hatinya yang merasa kurang. Ada yang hilang di bagiannya, sesuatu yang belum terisi, kosong dan masih ambigu. Itu bagian untuk Kai, dan ketika ia masuk maka segalanya berubah.
Kyungsoo menyadari sesuatu. Ia duduk di dalam kelas sekarang, bukan keinginannya.
Yang ia inginkan, bertemu dengan Kai, bicara dengannya lagi atau bahkan bisa menghirup aroma tubuhnya lagi.
Entah dari mana asalnya, kata kata it uterus membayangi kepala Kyungsoo. Mendengungkan kalimat tersebut seperti mantra. Hingga menggebrak meja dan berlari keluar kelas di tengah ujian menjadi blur dibadingkan dengan teriakan di pikirannya untuk menemukan Kai dan kebebasan kecilnya.
Dengan tanpa sadar Chanyeol mengikutinya (untuk berlari di tengah ujian), ia mencari bus menuju Kkami dengan terus bergumam kalimat tersebut. Ia tidak bisa berpikir jernih, nafasnya cepat dan pikirannya melayang. Kyungsoo di tengah perjalanan lalu menutup mata dan berdoa.
"Tuhan." Katanya, "aku telah jatuh cinta. Aku telah jatuh cinta begitu beratnya pada seorang Kim Jongin. Tuhan. Pertemukan aku dengannya. Kalaupun ia menolakku.."
Kyungsoo tersendat, lalu menarik nafas kembali.
"Aku tetap mencintainya."
Begitu sesampainya di Kkami. Tak perlu susah susah ia mencari Kai, orang yang ia rindukan beberapa minggu ini ada di tengah lapangan berhadapan dengan seorang pemuda berparas anak SMP. Meskipun dengan heroiknya (pikir Kyungsoo) ia ingin menyelamatkan Kai, tak ada gunanya.
Saat Kai jatuh dan mengerang, pemuda itu meninggalkannya begitu juga dengan keramaian dan anggota geng. Kyungsoo lalu berhambur padanya, mengguncang pundak Kai brutal. Pemuda berkulit tan itu tak sadarkan diri, luka di sekujur tubuh dan wajahnya membuat Kyungsoo meneteskan air mata ketakutan.
"KYUNGSOO!" teriak Yixing. Kyungsoo hanya sebentar menengadah dan lalu menatap balik Kai. Gadis yang memanggilnya berusan tengah berlari menuju dirinya dan berhenti tepat di depannya.
"Apa yang kau lakukan?!" ujarnya panik sembari berlutut di depan Kyungsoo dengan Kai menjadi penghalang. Kyungsoo tidak dapat berpikir dengan jernih, matanya terus menangis.
"J-Jongin.. Yixing.. Bantu aku. Jo-Jongin."
Yixing tampak bingung, ia memandang Jongin dan Kyungsoo bergantian seperti berpikir. Ia lalu memutuskan sesuatu.
"Baiklah. Aku akan cari bantuan, kita akan membawanya ke rumah sa─"
"KYUNGSOO! KYUNGSOO!" teriak seseorang dari arah lain. Kedua Do itu menolehkan wajahnya, Yixing sedikit menghembuskan nafas ketika Chanyeol yang tengah berlari pada mereka. Sesampainya, Chanyeol mengatur nafas. Akan membuka mulut untuk bicara kalau Yixing tak memotong,
"Kita akan mengantar si brengsek ini ke rumah sakit di dekat sini. Dan kau, Park Chanyeol. Banyak yang harus kau katakan padaku." Ujar Yixing menusuk.
- Do For Kai –
"Kyungsoo tiba tiba keluar dari ruangan ujiannya, dan berteriak, 'disini bukan tempatku! Aku harus hidup dengan apa yang kucintai!'. Dia lalu berlari keluar, meninggalkan kertas ujiannya. Aku sempat berlari menyusulnya, tapi ia menghilang di parkiran. Segera aku mengambil mobil dan mencarinya."
"Darimana kau tahu kalau Kyungsoo akan ke Kkami?"
"Yixing. Aku tahu Kai dipindah ke Kkami. Tak ada alasan aku tak kesini."
Yixing terdiam, ia kembali menoleh ke dalam menembus kaca besar yang menjadi penghalang antara kamar dan lorong rumah sakit. Ia menghembuskan nafas dan memandang Chanyeol yang masih menolehkan matanya pada Kyungsoo. Gadis itu berada di dalam, masih setia duduk dan dan mengelus rambut kelam Kai yang masih tak sadarkan diri.
Menurut diagnosa dokter, Kai tidak mengalami cedera yang parah. Hanya kekurangan air dan beberapa cidera ringan lainnya. Untuk sementara, Kai tidak akan bangun karena kondisi fisiknya masih butuh istirahat.
Yixing lebih setuju Kai untuk tidak bangun selamanya.
"Kau yang memberitahunya bahwa Kai berada di Kkami?" tanya Yixing. Chanyeol menggeleng pelan, ia lalu menatap Yixing.
"Entahlah Yixing. Tapi, setahuku, tak ada yang tahu bahwa Kai dipindah ke Kkami." Ucap Chanyeol, tapi ia lalu mengerutkan kening ketika melihat Yixing tengah berpikir.
"Bagaimana dengan rumah?" lanjutnya, "mungkin saja Appamu tak sengaja bicara padanya."
Mendengar kata kata seperti itu, Yixing yang tadinya menatap lantai lalu cepat cepat beralih pada Chanyeol, ia menggigit bibirnya. Setelah menoleh pada Kyungsoo yang masih serius dengan apapun yang dilakukannya, Yixing lalu menyandarkan pundaknya pada kaca dinding.
"Aku tak tahu. Aku tak pernah bicara dengannya."
"Kau tak pernah pulang dari kampus?" tanya Chanyeol. Satu bibir Yixing menarik ke atas dengan sinis.
"Aku selalu pulang. Selalu. Tapi jiwaku tak pernah pulang." Katanya.
Yixing menyandarkan kepalanya, berpikir apa saja yang telah ia lakukan akhir akhir ini. Setelah kuliah, ia selalu pulang kerumah. Tidak pernah tidak. Tapi, sepertinya jiwa Yixing tak kunjung pulang. Ia sering melewatkan makan malam bersama keluarga. Ia lebih suka makan malam di dapur bersama Changsung, supir pribadi keluarga Do yang terkenal kocak itu atau bersama bibi Go, kepala pelayan di rumah. Changsung dan bibi Go sering meminta nona paling muda keluarga Do itu untuk makan malam bersama tuan Do.
Tapi, nampaknya, aura Kkami telah menyelubunyi Yixing. Mereka berada dalam satu atap, tapi rasanya Yixing tak menemukan kehangatan perapian bernama keluarga tersebut. Mereka berada dalam satu ruangan, tapi tidak dengan pikirannya.
Yixing menutup mata, ia yang salah. Ia yang selama ini tidak mau mendengar apapun, ia yang selama ini membutakan matanya. Ego memang memberinya jalan yang salah, amarah menulikan hatinya.
Belum selesai ia berefleksi untuk dirinya sendiri. Getaran di ponselnya terasa. Saat melihat layar ponsel, ia menaikkan kedua alis lalu menerimanya.
"Halo?" ujarnya sangsi.
"Halo! Kalian dimana saja! Ini sudah pukul 9 malam dan kalian tidak pulang ke rumah!" ujar suara panik di seberang telfon sana. Yixing melirik jam dinding yang berada di dekatnya. Ia menegakkan badan dan bicara dengan tenang.
"Kami di rumah sakit." katanya
"Siapa yang sakit? Apa Kyungsoo kecelakaan? Yixing, jawab aku!" suara di seberang sana mulai panik. Yixing menghembuskan nafas kasar dan mulai mengeluarkan kata kata sinisnya.
"Bagaimana kalau aku bilang aku yang kecelakaan sementara Kyungsoo sedang menemaniku dengan Chanyeol?" ucapnya marah. Keheningan karena terkejut sepertinya melanda orang diseberang telfon. Terbukti, tidak ada jawaban dari sana. Yixing lalu menghela nafas lagi. Pikirannya sedang buruk, moodnya ikut ikutan turun.
"Tidak, Dad. Aku bercanda. Chanyeol tadi tertabrak sepeda motor dan ia sedang ada di IGD sekarang." Yixing melirik Chanyeol yang menatapnya tak mengerti. Gadis itu lalu hanya mengisyaratkannya untuk diam. Chanyeol mengangguk.
"Apa kau yakin sedang bercanda?" tanya Kris dengan nada tak yakin. Yixing mengalihkan perhatian.
"Ya. Omong omong, darimana kau dapat nomor telfonku?" selama di Kkami, Yixing menggantinya. Hebat saja makhluk-rambut-pirang itu tahu nomor barunya.
"Aku Ayahmu bodoh. Tentu saja aku tahu nomor ponselmu." Terkesan. Yixing terkesan.
Hening merajai kembali.
"Ku kira kau telah menghapus nomorku dari ponselmu." Ucap Yixing kaku. Kalimat itu bermakna banyak, salah satunya seperti 'ku kira kau telah melupakanku sebagai anakmu'. Yixing tak bermaksud untuk melakukan hal itu, Yixing hanya…
Marah.
"Ying..," bisik Kris. Tapi Yixing hanya sibuk dengan misi menulikan-pendengaran-karena-marah nya.
"Maaf. Aku─," ucapan Yixing terpotong karena ia tiba tiba berhenti, keningnya berkerut. Meski hanya bisikan, Yixing tahu apa yang Kris katakan.
Apa dia tidak salah dengar? Makhluk-rambut-pirang itu tadi barusan memanggil dengan nama kecilnya. Yixing akhirnya memutuskan untuk melangkah lebih jauh dari Chanyeol, menyandarkan bahu di salah satu dinding kosong. Sibuk mencerna apa yang barusan dikatakan Kris.
Terakhir ia mendengar kata itu, mungkin sekitar….
10 tahun yang lalu?
Tidak ada yang bicara. Kedua orang itu saling memegang ponsel dan terdiam.
"Cepat pulang." Katanya singkat. Yixing masih ingin memastikan.
"Aku, atau Kyungsoo?"
"Kalian." Kris terdiam sebentar, "khususnya kau, Ying." Yixing mendengus tertawa.
"Dad, aku tak suka kalau kau bermellow begini. Menggelikan." Sergahnya. Kris ikut tertawa hambar.
"Begitukah? Haha." Ucapnya. Yixing tersenyum setengah, "tapi, itu benar." Kris lalu menghela nafas panjang.
"Maafkan aku, Ying."
Yixing tak merespon. Sedikit jeda hening kembali diantara kalimatnya. Yixing memberi Appanya kesempatan untuk bicara, membela dirinya. Selama ini, Yixing membela dirinya sendiri, tak mendengar apapun dari dunia luar.
Sekarang waktunya. Waktu yang tepat.
"Aku terbakar emosi waktu itu. Aku sedang marah, tidak ada satupun dari ucapanku yang.. Yah, mungkin bagian aku tak setuju Kyungsoo bersama Kai itu benar. Tapi, kau anakku. Aku juga menyayangimu."
Yixing menutup mata, menahan air mata yang akan tumpah.
"Sudah beberapa minggu aku tak melihatmu, padahal kita serumah. Itu menghinaku, tahu."
Yixing menarik sudut bibirnya tertawa tanpa suara, satu tetes air mata tumpah. Begitu juga berikutnya.
"Aku hanya ingin kau pulang. Duduk bersama di depan perapian dan meja makan. Bicara lagi, atau bahkan bertengkar lagi seperti dulu. Aku," terhenti, Kris berdehem membersihkan tenggorokannya.
"Ayah minta maaf Ying."
Yixing tersenyum penuh, air matanya jatuh. Hatinya hangat, meskipun hanya bertukar suara. Ia merindukan Dad, begitu juga dengan dia yang merindukan anak gadisnya yang paling muda. Mungkin sekarang, Kris juga tengah menangis.
Tapi, mereka bukan menangis sedih. Mereka menangis bahagia, telah menemukan kembali satu sama lain. Bagaikan romeo dan juliet yang mati dalam cinta yang tragis, mereka tetap bahagia. Begitu juga Yixing dan Kris, menyedihkan memang, tapi mereka merindukan satu sama lain.
Mencintai satu sama lain.
"Akhirnya kau menyebut dirimu Ayah lagi, Dad." kata Yixing, menahan getaran karena tangisnya. Kris tertawa, tak menyandari isakan ringan dari bibir Yixing.
"Aku juga minta maaf, kau tahu. Aku orangnya emosional." Katanya.
"Bisa kulihat itu menurun dari siapa." Yixing tertawa.
"Maafkan aku, Dad. Maksudku.. Aku minta maaf. Ini salahku. Aku terlalu emosional. Harusnya aku memaafkanmu. Well, aku memang memaafkanmu sebelum kau meminta maaf. Tapi, tamparan itu sakit." Kris tertawa pelan, "egoku terlalu besar untuk bicara lagi dengamu. Setiap aku melihatmu aku selalu marah. Masih terbayang bagaimana kau menamparku. Tiba tiba semuanya berja─"
Hening. Kris tak meminta Yixing untuk melanjutkan, Yixing tengah berusaha untuk tak menangis lebih keras, ia menghapus air matanya.
"Tiba tiba semuanya berjalan mundur. Semua memori masa lalu termainkan kembali. Aku seperti tak kau anggap, aku seperti terbuang. Aku.. aku seperti bukan kau. Aku seperti bukan bayanganmu. Aku." Yixing tercekat, "aku seperti bukan anakmu."
Diam. Hanya terdengar suara gesekan dan tarikan nafas dari mulut terdengar di seberang.
"Aku yang egois, Dad. Aku tak pernah mendengarkanmu."
"Maafkan aku."
Tangis Yixing menderas.
"Ying." Panggil Kris, Yixing hanya berdehem membalasnya, "aku dan Ibumu menunggu kalian." Yixing hanya berdehem setuju pelan.
"Cepatlah pulang, nak." ujar Kris.
"Secepatnya." Yixing mengangguk pelan, "aku akan pulang secepatnya."
Yixing menutup telfonnya. Ia lalu merosot kelantai, menangis ia telungkupkan di antara kedua siku yang menekuk menyentuh dadanya. Tangisnya sesegukan, dadanya sesak. Ia memeluk lututnya sendiri seakan tak ingin kehilangannya. Hatinya merasa lega dan sakit secara bersamaan.
Sentuhan hangat lalu mampir di kepalanya. Saat ia mendongak Chanyeol tengah duduk di sebelahnya dan mengusap kepalanya, menatapnya seperti bertanya ada-apa.
"What I was done.." kata Yixing, "… I just love him. Everything. For everything I just love him, for damn sake!"
Chanyeol lalu memeluk Yixing ke dadanya, menyandarkan dagu diatas ubun ubun gadis itu. Chanyeol tidak mengerti maksud sepatah kata pun yag Yixing katakan barusan. Tapi Chanyeol tak bisa membiarkannya menangis kacau seperti ini. Yang Chanyeol bisa rasakan dari Yixing saat ini adalah suasana yang unik.
Yixing menangis keras didadanya, sekaligus tertawa bahagia.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
...
...
..
.
To Be Continued...
So.. Mind to leave comment, please?
Sorry I can't reply it one by one or if I didn't write your name. But I know all of your reviews and I'm very thankfully about it. Sooo... Please being patient for next right! :D
uniquegals . HaeSan . EmakSehunkeceh . ikkyungss . Tania3424 . . ICE14 . baekyeolssi . BLUEFIRE0805 . KaiSoo Fujoshi SNH . exoneeeeeeeeeeee . nissaa . jungsssi . Deer Panda . BBCnindy . Lee EunSook . i putri . Brigitta Bukan Brigittiw . BabySulayDo . TiKaiKyungsoo . . SooBaby1213 2 . mitatitu . Riyoung Kim . Lee Kaisoo . DianaSangadji . kyeoptaegyo .
