Selamat puasa bagi yang menjalankaaannn ~~~~ *ngedance Fall in Love* Yaaayy.. Akhirnya 2NE1 comeback dan EXO (dengan image idol ruined) tampil di Weekly Idol, itu semua membuat saya semakin semangat ngelanjutin FF ini XD Anyway, meskipun gak nyambung. I'll dedicated this writing for my beloved Grandmother who was passed away 1 week ago. Aku akan selalu mencintaimu, Nek, selalu. Anda sebagai Ibu keduaku yang ajaibnya selalu saya banggakan daripada Ibuku sendiri. Terimakasih atas 19 tahun ini, terimakasih :')
Anyway, please enjoy it! :D
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Title : Do for Kai
Episode : 12
Cast :
- Do Kyungsoo (women),
- Zhang Yixing as Do Yixing (women)
Support Cast :
- Park Chanyeol as Chanyeol (men),
- Xi Luhan as Luhan (women),
- Kim Jongin as Kai (men),
- Lee Changsun (Lee Joon) as Changsun (men)
Cameo :
- Yoon Doojoon as Professor Doojoon (men)
Genre :
Romantic, Family, Drama, Comedy
Rating :
T, amanlah pokoknya. Kecuali kalo Kai sudah mulai beraksi, itu bisa berubah lagi.
Inspired by:
Grey's Anatomy and Ai To Makoto (for Love's Sake)
Disclaimer :
Kita semua punya Tuhan. Tuhan punya kita. Cerita punya saya, dan Tuhan. #plak
.
.
- Do For Kai -
.
.
Yixing tak pernah sesibuk itu untuk belajar. Ia benar-benar mengejar ketinggalan selama beberapa minggu di Hanh. Sialan sekali dosen tak memberikan bahkan sejumput toleransi padanya. Akhirnya ia harus rela berhujan-hujan ria bersama Changsun, supir pribadi keluarganya yang kocak itu, naik vespa menuju rumah Hyuna untuk meminjam catatan.
Untungnya, saat pulang ke rumah, bibi Go sang kepala pelayan sigap memberikan Yixing segelas teh madu hangat dan teh hijau panas untuk Changsun. Sambil membuka catatan yang sudah dipinjamkan Hyuna di meja makan, ia menghirup tehnya pelan-pelan.
"Bibi," panggilnya pada wanita paruh baya yang tengah menyiapkan makanan untuk porsi dirinya sendiri, "kemana yang lain? Umma? Appa?"
"Oh, Tuan ditugaskan mendadak ke Busan. Nyonya lalu memutuskan untuk ikut, nona," katanya. Yixing mengerutkan wajah,
"Tumben sekali?"
"Kata Nyonya, ada perlu di Busan."
Percakapan berhenti, setelah Yixing mencoba mengajak bibi Go untuk makan bersama di meja makan yang besar dan sepi itu tapi gagal, ia memutuskan untuk makan sendiri. Pantas saja rumah kelihatan sepi, Yixing pulang duluan dari Kyungsoo karena katanya dia masih ada jam kuliah seni musik tradisional.
Tradisional apanya, pikir Yixing, satu-satunya alat musik yang Kyungsoo tahu hanya Janggo.
Saat Yixing memakan suapan terakhirnya, kesepian disekitarnya semakin aneh. Ia mengerling jam dan waktu sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Kemana Kyung? Tidak biasanya dia pulang malam begini. Biasanya selambat lambatnya di pulang, ya jam setengah enam. Yixing akhirnya memutuskan untuk menelfon Chanyeol.
"Halo?" setelah beberapa lama nada sambung terdengar, kini berganti dengan suara tenang karena telfon sudah diangkat, "Chanyeol, apa kau tahu ka─,"
"Y-Yixing." Suara berat di seberang terbata. Yixing mengangkat satu alisnya, kenapa Chanyeol terdengar ketakutan?
"Chanyeol? Apa kau tak apa-apa? Kenapa kau terdengar ketakutan?"
"K-kakakmu… K-Kyungsoo.." suaranya terputus putus lagi. Jantung Yixing mencelos, aduh sialan, apa lagi yang kakaknya lakukan? Mencium Kai? Tidak sengaja tertampar hingga jatuh dari lantai dua? Apa?
"Ada apa dengan kakakku?"
"Eh.. i-ini.."
Chanyeol masih berkata gagap, Yixing menunggu. Meskipun dalam diri, jantung sudah bertalu-talu ingin keluar dari tempatnya serta darah terpompa cepat. Yixing akan sabar menunggu. Kecuali Chanyeol ini sedang mempermainkannya, Yixing tak akan sabar menunggu memenggal kepalanya.
"Apa?" jawabanya sedikit tenang. Sedikit. Selebihnya ketakutan, cemas, dan berdebar.
"Di-dia.. Dia diculik, Yixing! Kyungsoo diculik!"
Yixing mencerna kata-kata tersebut. "Diculik?" tanyanya,
"Apa maksudmu seperti dia mulai masuk ke geng Black Da─"
"BUKAN! Yixing, aku serius!"
"Kau pikir aku tidak?" katanya, menghentikan jemarinya yang bermain dengan sumpit.
"Dia diculik, Yixing! Kakakmu diculik dalam artian sebenarnya, well, meskipun aku lebih suka dia bergabung dengan geng itu, tapi KENYATAANNYA TIDAK! Dia diculik!"
Yixing terdiam sebentar, mencari kesadaran dirinya yang tengah melayang entah kemana karena laporan Chanyeol. Ia menarik nafas dan akhirnya bernafas cepat.
"Astaga.. astaga." Katanya, lalu menutup telfon dan mulai meneriakkan nama Changsun keras, berharap setiap sudut rumah tahu dia sedang mencari supir pribadi keluarganya tersebut.
- Do for Kai –
Yixing berlari tergesa keluar dari rumah sembari membawa helm. Changsun telah siap memanaskan sebuah motor besar bewarna hitam yang Yixing sendiri tak tahu darimana ini berasal. Ia merasa pernah melihat motor ini, tapi bukan di pelataran rumahnya.
"Punya siapa ini?" tanya Yixing ketika sudah mendekat dan memandang motor itu takjub, lebih karena tak pernah melihatnya di garasi rumah.
"Motor saya, nona." Jawab Changsun dengan wajah polos dan teredam karena tertutup helm. Yixing menaikkan satu alisnya dan memainkan dagunya tanda bahwa dia tidak 'mengerti' maksud Changsun. Ia memandang Changsun sedikit lama lalu menggelengkan kepala dan langsung naik di belakang Changsun.
"Maafkan aku, Changsun," katanya sambil memakai helm. Pemuda itu mengerutkan kening tak mengerti sambil memandang ke kaca spion,
"Memangnya kenapa, nona?"
Ia diam sebentar, memastikan motor ini adalah motor yang pernah dilihatnya atau bukan. Setelah itu, ia berkata,
"Bahkan kau adalah anak insinyur Lee saja aku tak paham. Dasar aku apatis." Kata gadis itu, menutup kaca helmnya dan tertawa kecil. Tapi Changsun adalah pemuda humoris, ia hanya tertawa dan lalu mulai menyalakan motor menuju tempat tujuan.
Setelah kejadian teriak-teriak nama Changsun (pemuda ini sedang makan ramen, jadi tiba-tiba dia datang ke ruang tengah dengan cup ramennya), ia segera menyeretnya untuk mengatarkan dirinya ke Kkami. Pikirannya sudah kalut dan dia tidak bisa menjawab secara benar apa yang bibi Go tanyakan seperti, 'ada apa nona?', 'apa anda baik-baik saja?', 'kemana Nona Besar sekarang?', dengan jawaban yang lebih simpel.
"Kira-kira," Changsun berteriak ditengah perjalanan, Yixing mengeratkan pelukan di pinggang pemuda itu dan menempelkan bagian tubuh depannya di punggung Changsun berharap bisa mendengar teriakan pemuda itu, "dimana Nona Besar sekarang?"
"Aku tak tahu!" si penjawab berteriak frustasi dengan membuka kaca helmnya, "tapi kuharap dia baik-baik saja!"
Paling tidak, untuk sekarang, Yixing berusaha menenangkan pikirannya. Kyungsoo pasti akan baik baik saja, buktinya dia masih hidup setelah sekian lama dekat dengan iblis. Kalau hanya menculik begini, harusnya Kyungsoo masih bisa makan enak bersama para penculiknya. Sekilas Yixing mengerling ke arah speedometer, jarum merah itu sudah mencapai angka 80 km dan akan bertambah setiap putarannya. Gadis itu berterimakasih pada jam pulang kerja sekarang, jalan tak terlalu ramai dan padat seperti biasanya. Ia ingin sekali menangis, masalah culik-menculik itu bukan hal yang sering terjadi di sekitarnya, jelas saja pertama kali ia harus mendengar kata itu bahkan menimpa orang yang ia cintai, rasanya sakit mendera di dada dan dasar perutnya bergejolak.
Dalam beberapa menit, mereka akhirnya sampai di Kkami. Yixing langsung meloncat turun dan memberikan helm pada Changsun yang bahkan belum menurunkan gigi motornya. Ia berlari kedalam tak memperdulikan gelap yang menyerbu dan hanya diterangi lampu remang remang atau bayangan api dan biasan rembulan di kaca yang retak. Yixing mencari ke tempat tempat yang bisa ia cari, dari mulai kelas Kyungsoo, gudang yang Yixing sendiri harus berpikir berulang ulang untuk memasukinya, dan yang terakhir kelas miliknya sendiri.
Semuanya kosong.
"Dimana kau.. Dimana kau..," desis Yixing berulang ulang, memencet beberapa nomor di ponselnya berharap Chanyeol bisa dihubungi, lagi lagi ia merutuki nasib sial karena Kyungsoo tak punya alat komunikasi apapun untuk dikirimi pesan. Lucunya, dalam lubuk hati yang paling dalam ia menyesal tak menyimpan nomor Kai.
Itu akan berguna kedepannya kalau misalkan Yixing mulai bosan dengan hidupnya.
"Omo, sedang apa kau malam-malam disini?" sebuah suara menegurnya dari belakang. Yixing membalikkan badan, dengan ponsel yang masih menempel di telinga dan mendengarkan setiap nada yang keluar dari speaker.
"Professor Doojoon?" katanya mengerutkan kening. Pemilik Universitas ini hanya tersenyum dan mendekatinya sendirian, tanpa dua ajudan di belakangnya. Yixing harus berulang kali memicingkan mata untuk mengetahui siapakah orang tersebut karena remangnya sinar.
Lelaki berumur 28 tahun itu tersenyum lebar, memasukkan kedua tangan di saku depan jeans birunya dan berkata,
"Selamat malam, nona Do Yixing."
- Do for Kai –
Chanyeol berlari terengah, wajahnya sudah penuh dengan debu dan sedikit memar menghiasi beberapa sudutnya. Normalnya, Chanyeol akan berhenti jika kakinya sudah kesemutan karena berlari. Tapi, kenyataannya sekarang dia tidak bisa berhenti, larinya menyangkut nyawa seseorang yang ia sayang bahkan cintai. Ia tidak bisa berjalan begitu saja diantara semua kejaran keadaan.
'DELTA FOR FISHING'
Pemuda itu berhenti, dengan nafas terengah-engah ia meniti satu persatu huruf yang ada di papan besar yang berada tak jauh di depannya. Sekali lagi ia melarikan langkahnya meskipun tak secepat yang lalu, yang penting ia harus segera menemui orang yang ia cari dalam beberapa jam kebelakang ini.
"Jongin!" teriaknya setelah memasuki area pemancingan tersebut. Tidak ada orang kecuali satu orang yang tengah bersila tak jauh dari tempat Chanyeol berdiri. Jongin, orang yang ia teriaki namanya, hanya membuka mata dan meliriknya sebentar lalu kembali ke posisi awalnya.
Chanyeol berlari lagi, melupakan rasa sakit dan ngilu di sekujur tubuhnya hingga tak sengaja tersandung hingga terjatuh di samping Jongin alias Kai yang sepertinya tak terganggu dengan kegaduhan yang dihasilkannya.
"Kai! kau harus menolongku!" kata Chanyeol sembari duduk berlutut disebelah Kai, mengguncang tubuh yang lebih pendek darinya itu dengan kasar.
"Apa maumu." Jawab Kai datar dengan menghempaskan kedua tangan Chanyeol kasar melepaskan guncangannya.
"To-tolong.. Tolong, Kyungsoo.. Kyungsoo diculik!"
Sekejap kedua mata Kai terbuka, memandang air gelap dengan riak-riak kecil yang dihasilkan punggung ikan dibawahnya. Ia mengerjapkan matanya mencari pembenaran atas apa yang ia pikirkan, memikirkan apa yang harusnya ia lakukan atau bahkan peduli tentang apa yang Chanyeol katakan padanya.
"Lalu urusan denganku?" ucapnya masih dengan nada datar, tapi kali ini ia tak menutup matanya, "ini bagus kan untukmu? Kau menyukainya, tolong saja dia." Kata Kai sembari mendengus mengejek pada Chanyeol.
Pemuda itu menggeleng cepat, lalu sekali lagi mencengkeram kedua lengan Kai dan memutar badan itu kasar untuk berhadapan wajah dengannya. Dengan nafas terengah, ia berkata, "hanya kau yang bisa menolongnya, tolong.. kumoho─,"
"Aku tak peduli!" ia mendorong Chanyeol hingga pemuda tinggi itu kembali tersungkur, Kai menatap tajam, "aku bahkan tak tertarik jika ia mati di tangan para penculiknya."
"Kumohon! Kumohon, Kai!" ratap Chanyeol sekali lagi, ia menahan tangan Kai yang akan berdiri dan meninggalkannya, "hanya.. hanya kaulah satu-satunya harapanku. Aku… aku hanya ingin Kyungsoo selamat. Tolong dia, kumohon, tolong dia!"
Kai hanya menatapnya, pikirannya berkecamuk. Baru kali ini dia berpikir tentang menanggapi sebuah ratapan. Biasanya, ia hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Tak peduli sekitar dan tak peduli apa yang terjadi pada orang lain. Tapi kali ini, situasinya tiba-tiba menjadi berbeda. Kai membuka mulutnya lagi,
"Kalau aku menolongnya," ucapnya, "itu hanya akan membuatnya semakin jatuh cinta kepadaku."
"AKU TAK PEDULI!" teriak Chanyeol dengan mata tertutup, ia lantas melepaskan tangan Kai dan berlutut di depannya, "bahkan jika kau menyelamatkannya, dan Kyungsoo akan melupakanku, aku tak peduli!"
Chanyeol membuka matanya, nafasnya terengah-engah seperti baru berlari lagi untuk mencari sesuatu yang tak pasti. Meskipun sakit di dada ini tidak bisa ditutupi karena apa yang diucapkan Kai adalah sebuah kebenaran, ia tak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah,
"Kyungsoo selamat dan dia hidup bahagia. Kalau ia bahagia bersamamu, maka aku tak punya pilihan lain. Jadi, Kai, tolong," Chanyeol menundukkan kepala dalam-dalam di depan Kai, "tolong Kyungsoo dan selamatkan dia. Hanya kau yang bisa menyelamatkannya."
Kai terdiam, wajahnya tak menunjukkan emosi apapun. Ia lalu berjalan melalui Chanyeol, "tunjukkan padaku dimana tempatnya."
Baru kali ini, dalam hidup seorang Park Chanyeol, ia sangat berterimakasih pada Kim Jongin. Hingga hampir-hampir ia percaya kalau Kim Jongin itu malaikat berwajah iblis.
- Do for Kai –
"Begini Professor, aku akan sangat senang bisa lebih lama bersama anda sekarang, tapi─"
"Ah, aku tak menerima penolakan, Yixing-ah."
"T-tapi, Professor.."
"Ayo, minumlah seteguk lagi."
"Professor."
"Minum."
Setelah bertemu tadi, Doojoon lalu menyeret Yixing ke ruangannya yang berada di salah satu sudut gedung kampus lantai paling atas. Gadis yang tengah kalut perasaannya itu tak bisa mengelak (dia sudah berusaha, tapi gagal. Doojoon kekuatannya berkali-kali lipat darinya), ia hanya pasrah diseret begitu saja oleh rektor Kkami tersebut. Namun, sedari tadi Doojoon menyurungkan satu gelas soda pada Yixing, sementara dia sendiri kembali menuangkan Guinnes dingin ke gelasnya.
Yixing sempat terpesona dengan ruangan Doojoon yang terkesan simpel namun rapi ini, berbeda 180 derajat ketika Yixing membuka pintu untuk keluar ruangan. Terkesan terang dan hangat serta lebih masuk akal untuk ditinggali adalah kata yang pantas dikeluarkan untuk ruangan ini.
Tapi, yang lebih penting sekarang, bukan mengangumi interior atau eksterior dari ruangan ini. Namun, Kyungsoo. astaga, mengingat hal seperti itu, membuat perutnya melilit lagi.
"Professor," kata Yixing setelah meneguk habis sodanya dan berdehem, membuat mata tajam itu beralih memandangnya, "ada yang harus saya kerjakan. Jadi.. kalau misalkan saya pergi dulu untuk─"
"Kenapa kau begitu terburu-buru?" tanya Doojoon, pandangannya beralih ke gelas kecil di tangannya. Yixing lalu memutuskan untuk memberitahu Doojoon tentang apa yang terjadi, ia mengambil nafas dan mulai membuka suara.
"Kakak saya diculik." Kata Yixing, berusaha mati-matian untuk tidak berteriak, "dan saya malam-malam kesini untuk mencarinya."
"Kyungsoo?" Doojoon seperti menebak, Yixing hanya menganggukkan kepalanya cepat. Ia lalu mencengkeram lengan kekar Professornya tersebut.
"Anda tahu dimana kakak saya?"
"Dia akan baik-baik saja Yixing."
Keheningan merajai pikiran Yixing, ia melepas genggaman di lengan Doojoon perlahan-lahan. Mencerna kata demi kata yang barusan keluar dari bibir rektor Kkami itu.
"Apa?"
Yixing mengerutkan keningnya, ia lalu mengangkat satu alis tanda terkejut serta tak percaya soal apa yang dia dengar. Kyungsoo akan baik-baik saja? Apa maksudnya?
"Professor saya ti─,"
"Kakakmu telah membuat keputusan, hanya saja kau tak pernah mencoba untuk percaya padanya." Lagi-lagi Doojoon memutus kalimat Yixing, ia berdiri dan berjalan mendekati jendela, "kau memang mendengarnya, tapi sejatinya kau tak pernah untuk mencoba mengerti jalan pikirannya."
Yixing hanya terdiam, tangannya berkali kali meremas-remas ponsel yang digenggamnya, perasaannya sekarang campur aduk. Dari mulai takut hingga marah karena tak mengerti apa yang barusan dikatakan oleh lelaki di hadapannya ini.
"Kenapa kau tak mencoba untuk mencoba mengertinya? Kenapa kau tidak mencoba," Doojoon menoleh memandang, "untuk percaya kepadanya."
"Anda bicara seolah-olah anda mengenal baik saya dan kakak saya," Yixing masih cukup bersabar, "anda tidak tahu apa yang sedang anda bicarakan."
"Aku tahu, Yixing. Sayangnya, aku sangat amat tahu dan paham apa yang tengah kukatakan padamu." Jawab Doojoon, senyumnya masih terkembang sambil memandang keluar, "karena aku mengerti, maka aku memberitahumu."
"Professor," Yixing menahan amarahnya setengah batas, ia duduk tegak berdempet dengan meja, "saya hanya ingin Kyungsoo tahu bahwa semua pilihannya tentang masalah ini adalah salah. Sejak ia bertemu dengan Kai, atau semua pilihan gila yang sudah ia pilih adalah─,"
"Salah. Begitu?" Doojoon berbalik, menyandarkan punggung lebarnya di kaca jendela, "sekarang kutanya. Siapa yang hidup di dunia Kyungsoo? Kau, atau dia?"
"Professor, saya benar-benar tidak mengerti. Kita sedang apa sekarang?!" Yixing berdiri, ia menatap Doojoon dan kerutan keningnya semakin dalam, "kakak saya dalam bahaya, saya tidak tahu dimana dia berada dan sekarang saya terjebak dengan anda minum soda!"
Ia lalu berbalik kasar, membuat kursi berderit keras dan bergeser ke samping. Saat gadis itu mencoba membuka pintu ruangan, ia gagal. Gagang pintu hanya berputar di tempatnya, tak menunjukkan ia bisa mendorong terbuka pintu tersebut.
"Professor," Yixing berbalik, kali ini ia benar-benar marah, "saya tidak bermaksud untuk bertindak tidak sopan, tapi Professor saya akan benar-benar memukul anda kalau anda tidak membuka pintu ini."
Doojoon hanya menatap Yixing yang sibuk menarik-mendobrak-memukul-menendang pintu itu, mata elangnya bagaikan menunggu tikus makan malamnya berhenti mencoba melarikan diri. Dengan tangan tersilang di depan dada. Doojoon terus menunggu.
"Saya tahu, saya egois." Pada akhirnya, Yixing berhenti. Ia menyandarkan tangan di pintu dan menumpu keningnya, "tapi saya menyayangi Kyungsoo. Saya hanya tak ingin dia terluka,"
Hanya suara tarikan nafas cepat Yixing yang bercampur lelah yang terdengar di semua sudut ruangan.
"Jadi kalau anda punya alasan yang tepat mengunci saya disini," Yixing membalikkan badan dan menyandarkan, "saya harap itu bukan kata-kata kosong." Doojoon mengangguk, dan mengangkat satu jemarinya.
"Hana," katanya, "kau disini, kakakmu diculik, terkunci di ruangan. Itu semua bukan kebetulan, Yixing."
- Do For Kai –
Seorang Kim Jongin tak pernah bermimpi menyelamatkan seseorang diambang kematian hidupnya. Setahunya, ia yang selalu menjadi peran malaikat pencabut nyawa. Orang-orang akan berlari menjauhinya bagaikan ia membawa sabit bertuliskan nama manusia yang akan mati. Kai tak pernah peduli pada orang lain.
Tapi, kali ini tidak. Seorang Do Kyungsoo merubah pemikirannya.
Sekalipun dalam hidupnya tak pernah ada cahaya yang masuk karena tertutup gorden kebencian serta Kai tak pernah ingin lagi melihat masa lalunya yang cerah, Kyungsoo hebatnya dapat berdiam diri di sana tanpa merubah apapun yang telah terpaku.
Secara tak langsung, Kai candu akan kehadiran Kyungsoo di hidupnya.
Kai menaruh gelasnya yang tadi berisi setengah alkohol dingin, menelan semua minuman di mulut sekaligus meredam rasa menggelinyar aneh di dada. Ia menoleh pada gadis berambut madu yang tengah menegak gelas kesekiannya.
"Jadi," kata Kai, "apa maumu?"
Gadis itu membanting pelan gelas diatas meja, lalu tertawa pelan. Ia terdiam sebentar, mengambil jeda untuk menarik nafas.
"Dulu, aku tidak seperti ini," Luhan, gadis itu, mengangkat gelas kosong di tangannya, "aku lahir tanpa mengetahui siapa Ayahku. Aku hanya hidup bersama perempuan jalang yang kupanggil Ibu."
Kai memasang telinga tapi tak tertarik untuk melihat, ia menuangkan kembali isi alkohol dari botol ke gelasnya lalu berdesis pelan setelah menelan minumannya.
"Wanita jalang itu.. ah, maksudku Ibu," Luhan menuangkan minuman, "Ibu suka mabuk-mabukkan, malah kupikir karena hidupnya hanya minum alkohol, darahnya pasti alkohol. Lalu setelah dia pergi minum dan pulang, ia akan memukulku hingga aku tak sadarkan diri. Ia tak pernah menganggapku sebagai anak, atau mungkin tak tahu aku eksis di dunia ini sebagai manusia yang keluar dari rahimnya. Bertahun-tahun selalu kujalani seperti ini. Awalnya aku bertahan, selalu berusaha menjadi anak manis yang berbakat di depan matanya.
"Tapi aku selalu gagal. Tak ada yang menganggapku, bahkan aku tak punya teman saat duduk di bangku sekolah. Mereka selalu melemperiku dengna apapun, penghapus, pensil, bahkan.. batu. Aku masih kuat karena kupikir aku masih bisa merubah si jalang itu. Hingga suatu saat, aku tak bisa menahannya.
"Aku pernah memukulnya hingga ia pingsan. Pagi berikutnya, ia mencoba membunuhku dengan memasukkan kepalaku ke bak mandi." Luhan tertawa, tapi hampa, "tak pernah ada yang mengajariku sopan santun, bagaimana makan dengan benar atau bahkan peduli saat aku sakit demam. Semuanya maya, tak ada yang nyata. Aku, dengan mental anak kecil, hanya bisa percaya pada Tuhan. Tapi, setelah itupun, aku tahu bahwa Tuhan pun sepertinya tak mau mengabulkan bahkan satu doaku yang paling sederhana. Aku sudah dikutuk mungkin.
"lalu, suatu hari saat aku masih di Sekolah Dasar, seorang bos besar Yakuza memanggil ibuku, karena dia perempuan jalang, untuk memuaskannya di ranjang. Setelah itu.."
Luhan menenggak isi gelasnya.
"..aku membunuh keduanya dengan tanganku sendiri. Aku menyelinap masuk ke kamar mereka, lalu menusuk mereka dengan tragis. Polisi lalu menahanku."
Kai hanya melirik gadis di sebelahnya. Sial, batinnya, ternyata dia tidak sepintar itu menilai seseorang. Apalagi gadis ini, dia kira, Luhan adalah anak rusa yang manis. Kenyataannya, dia serigala kanibal yang berjaket Bambi.
"Lalu? Kau kabur dari penjara?" tanya Kai. Luhan tersenyum manis sambil menoleh padanya, ia senang bahwa ceritanya tak mengambang di udara.
"Seorang bos Yakuza lain membebaskanku dan mengasuhku, hingga sekarang."
Kai menaruh gelas kosongnya di meja bar, ia menoleh dan menyandarkan punggungnya sendiri.
"Kau adalah otak dari semua kejadian di Kkami." Pangkas Kai, Luhan hanya tersenyum datar.
"Aku hanya ingin punya teman." Katanya, "aku hanya ingin punya teman yang bisa mengertiku dan tak pernah menolakku."
"Dasar sad chick." Kata Kai, memandang lurus bar kosong yang usang tersebut, "mati saja, kalau begitu yang kau inginkan. Kau tak akan pernah hidup dalam kondisi seperti itu. Kau takkan pernah tahu mana yang benar dan salah kalau tak ada yang membencimu."
"Kau bicara bagaikan seorang yang suci, Kai."
"Paling tidak, hidupku tak seegois dirimu. Xi Luhan." Ujar Kai, turun dari kursi tingginya.
Niat Kai dari awal setelah Chanyeol menunjukkan sebuah gedung bowling tak terpakai di dekat Kkami adalah hanya membebaskan seorang gadis bodoh bernama Do Kyungsoo dengan tebusan seorang Kai datang pada Luhan. Setelah ia masuk ke sini, tidak ada siapapun dan hanya ada Luhan yang minum-minum sendiri di bar tua, kotor dan tak terawat. Kai tak punya pilihan dan ia hanya bisa duduk 'ngobrol' dengan Luhan untuk menggali informasi.
Baru kali ini, Kai dalam lubuk hatinya yang paling dalam, berkata,
'Terimakasih, Tuhan.' Karena ada orang yang hidup lebih parah dari hidupnya.
"Apa kau membenciku, Kai?" tanya Luhan, kali ini memutar kursinya untuk benar-benar menghadap Kai yang menatapnya malas.
"Apa pertanyaan itu harus dijawab?"
"Ya, kalau niatmu datang kesini hanya untuk membebaskan dia," Luhan menunjuk sebuah arah di sampingnya dengan ibu jari. Kai mengikuti arah itu dan matanya terbelalak lebar. Do Kyungsoo, gadis yang dicarinya itu, tubuhnya tengah tergantung dan dia tak sadarkan diri. Tiba-tiba tubuh Kai menegang, sebuah aliran menyengat mengalir hingga tengkuknya. Ia lalu memandang Luhan lagi, kali ini sedikit agresif.
"Aku hanya ingin membantumu, Kai." kata Luhan, "aku hanya ingin membantumu untuk melenyapkan orang-orang yang kau benci. Bukankah dia salah satu yang kau benci?"
Kai hanya menatap Luhan dalam ketidak mengertian, baru beberapa menit ia menarik nafas dan menahannya. Matanya menyipit tak suka dan darah mulai berkumpul di tangannya siap menghajar sesuatu.
"Kau.."
"Sekarang, pilih. Kim Jongin." Kata Luhan bersamaan dengan tiba-tiba banyak mahasiswi Kkami yang membawa benda-benda tajam muncul dari semua arah di ruangan seakan mereka siap untuk tawuran dengan mahasiswi lain dengan jumlah banyak.
"Kau selamatkan dia..," Luhan menunjuk Kyungsoo malas dengan dagunya, dan menatap Kai tersenyum licik,
"..atau kau selamatkan Ibumu."
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
...
...
..
.
To Be Continued...
So.. Mind to leave comment, please?
Sorry I can't reply it one by one or if I didn't write your name. But I know all of your reviews and I'm very thankfully about it. Sooo... Please being patient for next right! :D Sekalian, selamat puasa! :D
Kim Jongmi . MinSeulELFSparFishy . dokyungsoo21 . regitata . Tikaikyungsoo . kyeoptaegyo . BearLin . dyokyungsoo . vickykezia23 . lana . Uchiha Tachi'4'Sora . jungsssi . BLUEFIRE0805 . exoneeeeeeeeeeee . ICE14 . Riyoung Kim . UnknownBanget . Brigitta Bukan Brigittiw . lee kaisoo . chenma fridaydayyy . nissaa . Deer Panda . DianaSangadji . just minlee . KaiSoo Fujoshi SNH . kyeoptafadila . baekyeolssi . Lee EunSook . Kazuma B'tomat . Kim Hye Soo . mitatitu . Tania3424 . Milky Andromeda . Bii . HaeSan
