Minal aidzin wal faidzin. Sebagai pengganti ketupat, dan setelah sekian hari, akhirnya bisa posting juga. Whooo! Ini chapter sebenernya paling aneh, Ginger yakin waktu itu masih jam tiga pagi. Ginger udah biasa kebangun jam segitu, tapi anehnya, langsung buka laptop dan bikin percakapan Doojoon sama Yixing. Habis itu tidur lagi, lupa sholat -_-+. Paginya Ginger buka lagi, dan baca... Ini kok aneh banget. Kalo ada yang ngerasa percakapan itu aneh, Ginger juga ngerasa. Serius, itu gak tahu kenapa ada percakapan kayak begitu. Spooky for me. In the end, please enjoy it!

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Title : Do for Kai

Episode : 12

Cast :

- Do Kyungsoo (women),

- Zhang Yixing as Do Yixing (women)

Support Cast :

- Xi Luhan as Luhan (women),

- Kim Jongin as Kai/Kim Jongin (men),

- Lee Changsun (Lee Joon) as Changsun (men)

Cameo :

- Yoon Doojoon as Professor Doojoon (men)

Genre :

Romantic, Family, Drama, Comedy

Rating :

T, amanlah pokoknya. Kecuali kalo Kai sudah mulai beraksi, itu bisa berubah lagi.

Inspired by:

Grey's Anatomy and Ai To Makoto (for Love's Sake)

Disclaimer :

Kita semua punya Tuhan. Tuhan punya kita. Cerita punya saya, dan Tuhan. #plak

.

.

- Do For Kai -

.

.

Kai menggeram marah, ia lalu melirik gadis yang masih tak sadarkan diri tergantung tak jauh darinya lalu menatap Luhan sengit.

"Kau sama sekali tak membantuku," desisnya. Luhan hanya tersenyum, memeluk buku tebal bewarna hitamnya dengan satu tangan.

"Karena kau menolakku," katanya, "aku tak punya pilihan lain selain hanya memaksamu untuk menerimaku. Lagipula─"

"Erhm…"

Suara erangan pelan terdengar dari tengah ruangan. Kai menoleh, Kyungsoo sudah mulai menggeliatkan badannya tak nyaman diatas udara.

"Eh.. EH! Kenapa aku tergantung begini? T-tolong! Tolong aku!" Gadis itu panik, ia berputar-putar di udara seperti laba-laba yang akan membangun rumahnya. Menggerakkan badannya untuk lepas tapi sakit yang ia dapatkan. Tapi rengekannya berhenti ketika melihat sesosok pemuda yang ia harapkan tengah berdiri menatapnya dingin.

"K-Kai! Kai!" teriaknya, "t-tolong aku! Tolong aku!" teriaknya, masih berputar di udara. Kai masih menatapnya tanpa suara, sementara Kyungsoo masih berusaha untuk lepas dari cengkeraman tali tersebut.

"Dasar gadis bodoh," ujar Luhan menyipitkan mata dan mendekati korbannya, "berulang kali kau berusaha melarikan diri. Kau takkan bisa bahkan hanya berharap untuk menyentuh tanah."

"Aku percaya!" ujar Kyungsoo, menunduk menatap Luhan dengan tatapan penuh, "Kai ada disini. Dia kemari untuk menolongku 'kan? Tentu saja! Buktinya, dia kemarin dan akan menolongku dan─,"

"Kau terlalu percaya diri." Suara Kai masih datar namun penuh dengan kebencian dan dinginnya musim dingin yang menggigit, "bisakah kau tak percaya pada apapun yang tak akan terjadi?"

"Tapi.. Aku percaya." Katanya pelan, tanpa berfikir. Ia mengalihkan pandangan dari wajah Kai turun menuju lantai di dekat kaki pemuda itu. Meskipun sedikit menohok, namun Kyungsoo berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia tahu akan ditolak seperti ini lagi, tapi senyum masih terekmbang di wajahnya.

"Aku percaya padamu, Jongin."

Dada Kai terasa dicengekeram sesuatu yang terlihat, kakinya tertarik gravitasi bumi bahkan ia tak bisa menahan apapun lagi. Ia berulang kali mendengar kata seperti itu dari Kyungsoo, tapi tak pernah sehebat ini efeknya. Melihat Kyungsoo disana saja membuat perasaan anyir asing di dada Kai yang tak pernah merasakan apapun.

"DIAM!" teriak Kai, ia terlalu frustasi. Tiba-tiba semua pemikiran datang begitu saja, nafasnya tersengal karena paru-parunya seperti ditahan sesuatu yang tak dimengerti. Kai menatap Kyungsoo yang mengangkat wajahnya terkejut.

"KAU!" Kai maju selangkah, menunjuk Kyungsoo, "saat kau datang kehidupku semuanya menjadi masalah! Kenapa kau harus datang ke hidupku! Kenapa! Kenapa tak kau biarkan aku tenang dalam hidupku sendiri?! Kenapa kau harus mencampurinya! Aku bahkan tak pernah suka bahkan sudi padamu!"

Kyungsoo terdiam, ia memandang Kai nanar namun masih terdiam. Gadis itu menggigit bibir bawahnya lemah. Kata-kata itu memang menyakitkan, tapi ia tak pernah membayangkan Kai akan mengatakan itu semua padanya. Selama ini Kyungsoo menutup telinga karena Yixing selalu mengatakan hal yang sama tapi dalam versi yang lebih lembut. Namun, Kai, kali ini,

"Aku mengerti." Katanya, matanya berair. Bahkan tak ada yang sadar Kyungsoo sudah menggunakan puppy eyesnya, "bahkan jika kau melemparkan semua barang padaku. Aku takkan mengubah pendirianku."

"GADIS BODOH!" teriak Kai, ia mencengkeram rambutnya sendiri dan menatap Kyungsoo, "KALAU KAU TAK TERLALU BODOH UNTUK MENGIKUTI DAN AKHIRNYA TERJEBAK DISINI, KAU TAKKAN MENYUSAHKAN DIRIKU!"

Kyungsoo kali ini terdiam, ia menarik nafas pelan lalu berkata.

"Kalau cinta menyusahkan untukmu, Kai. Maka aku akan memusnahkannya." Katanya, "aku akan…. berusaha." Kali ini suaranya melemah.

Kai masih terengah-engah, kemarahan yang meledak dan emosi meluap membuat semuanya blur. Hanya, saat Kyungsoo mengatakan bahwa ia akan berusaha keluar dari hidup Kai, perasaan aneh itu datang lagi. Perasaaan seperti tak ingin ditinggalkan tapi tak punya pilihan, ingin mendekat tapi tak bisa karena terlalu kaku merasakannya. Aliran darah Kai rasanya menghangat namun perasaannya mendingin. Ada apa ini?

"Tapi kau harus tahu Kai!" Kyungsoo membentak, membuat Kai terkejut dan mendongak padanya. Baru kali ini dia melihat gadis ini begitu emosional. Kyungsoo tak berani menghadapkan wajahnya pada Kai, ia menunduk dan membiarkan rambut hitamnya berurai menutupi wajah.

"KAU HARUS TAHU KALAU AKU MENCINTAIMU, KAU HARUS TAHU BAHWA AKU PERCAYA KAU ORANG BAIK! KAU S─,"

"Diam! Aku tak suka kau berteriak, suara cempreng!" Luhan mengambil salah satu pin bowling dan melemparkannya pada Kyungsoo yang lalu meringkuk kesakitan dan mengerang.

"Dari tadi bicara cinta, cinta, cinta! Seperti kau mengerti apa itu!" hardik Luhan, ia lalu mendekat pada gadis yang tegantung itu dan mendongak menatapnya benci.

"Harusnya kau mengerti apa arti kata sebuah penolakan itu. Kau harus mengerti arti 'ditolak' dan bukan hanya mengetahuinya. Jangan membodohi dirimu sendiri. Apa yang kau cari? Belas kasihan dari Kai?" Luhan menekankan nada mengancam disetiap artikulasi kata-katanya.

"Aku tak mencari belas kasihannya." Kyungsoo terbatuk dan masih berputar, "aku hanya menaruh kepercayaan bahwa dia.. Dia adalah orang yang baik, Luhan." Pandangannya yang dari tadi hanya menatap lantai kini beralih pada gadis berambut coklat madu di bawah.

"Aku juga percaya kalau kau orang yang baik."

Luhan menggeram kesal dan kembali melemparkan sebuah pin bowling lagi, "jangan berlagak sok malaikat kau dihadapanku, DO KYUNGSOO! Aku muak dari awal ketika kau menjejakkan kaki di wilayahku! kau─"

Sebuah tangan kasar mencengkeram lengan Luhan yang akan melemparkan pin bowling lagi. Gadis itu menoleh karena terkejut. Kedua pasang mata tengah menatapnya sengit dan buas.

"Hentikan," kata Kai berbahaya,

"apa yang kau inginkan?"

- Do for Kai –

Yixing berlari menyusuri lorong lantai tiga. Meskipun gelap, tak ada rasa takut yang menyelubungi hatinya. Nafasnya terengah-engah dan mencari seseorang di setiap ruangan. Ah, dasar Professor nyentrik, Changsun tak ada hubungannya dengan masalah ini tapi kenapa dia yang harus disembunyikan di gedung mengerikan ini sih? Lagipula, kenapa pemuda itu tak mengeluarkan suara? Biasanya dia selalu berteriak-teriak tak jelas kalau sudah ada yang aneh terjadi padanya.

Nafas Yixing mulai menipis, ia sudah lelah berlari dari lantai satu dan menyusuri tiap ruangan di lantai tiga. Di tangga turun, ia terduduk, mengambil dan mengatur nafas. Mengingat ingat clue apa yang diberikan professor Doojoon padanya. Lelaki itu berkata bahwa Changsun ada di ruangan dimana kau pertama kali mengenang masa lalu di Kkami. Kapan dia pernah mengenang masa lalu di Kkami? Apa dia l─

"Ah." Yixing menghela nafas, ia ingat. Ruangan basecamp White Hair. Dimana dia dan Yongguk bercakap soal masalalu keduanya. Apa itu berarti professor itu tahu kalau Yongguk bukan bagian dari Kkami?

Dengan langkah gontai, ia berjalan pelan menuruni anak tangga. Mengingat ingat kata demi kata professor Doojoon untuknya saat ia 'disekap' di ruangan minimalis itu. Menghabiskan bergelas-gelas soda dan bertukar perasaan. Ia baru tahu, bahwa professor itu tak segarang parasnya. Wajah itu juga lelah, banyak emosi yang bercerita dibalik mata tajamnya. Memori itu terputar kembali, menemani langkah Yixing 'membebaskan' supir pribadi keluarganya.

"Duduk, Yixing." Ujar Doojoon, menarik kursi berhadap hadapan dengan gadis yang tengah bersandar pasrah di pintu yang terkunci. Ia tak punya pilihan, ia lalu segera duduk di seberang professornya. Tak ada kata yang tertukar dari mulut keduanya, hanya mata hazel Yixing bertubrukan pandangan dengan mata beriris hitam seperti langit malam yang dingin.

"Anda bilang anda mengenal Ayah saya." Yixing memulai berkata dengan pandangan menuju meja, lalu kembali pada Doojoon, "anda benar-benar mengenalnya?"

"Ya. Aku mengenalnya seperti punggung tanganku sendiri." Jawab Doojoon dengan senyum setengah tertarik ke atas, "aku melihat wajah Yifan pada dirimu. Senang sekali bisa bernostalgia."

Tidak ada kata yang terucap lagi setelah itu. Doojoon berinisiatif menuangkan soda dingin pada gelas kosong Yixing dan untuk dirinya sendiri. Lelaki itu mengangkat gelasnya ke udara, masih dengan senyum setengah yang manis.

"For life." Ujarnya. Yixing tersenyum tipis dan mengangkat gelasnya, membenturkan pelan dengan gelas Doojoon dengan berbisik 'for life' lalu meneguk isinya. Ia menunggu lagi, Doojoon menuangkan soda ke gelas setengah kosongnya.

"Saya menunggu, Professor." Ucap Yixing, menatap lelaki tersebut. Doojoon lalu tersenyum penuh, melipat tangan menatap Yixing.

"Apa yang ingin kau ketahui, Yixing?" tanyanya.

"Banyak." Sangat amat banyak. Ia ingin bertanya kenapa kakaknya begitu terobsesi dengan Kai, apakah Kai itu seorang manusia, apa Ayahnya dulu anggota gangster, apa Ibunya terpaksa menikah dengan Ayahnya, atau apakah Changsun itu seorang alien? Namun, pertanyaan yang lebih realistis meluncur dari bibir Yixing.

"Kenapa anda menyekap saya disini?" tanya Yixing yang hanya disambut senyum oleh Doojoon.

"Ada seseorang yang memintaku bicara."

"Kakak saya menginginkan anda untuk mengubah cara pikir saya terhadap masalah cintanya?" yixing mengerutkan kening, begitukah besar kekuatan 'gila' Kyungsoo hingga membuat rektor ini mendekapnya di ruangan hanya untuk memberi pengertian pada Yixing?

"Tidak. Bukan dia." Jawab Doojoon, menyangga wajah tampannya dengan satu tangan. Masih lekat-lekat memandang Yixing.

"Lalu siapa?"

Doojoon membalik sebuah pigura dan menunjukkan foto dua orang tengah berpelukan hangat di tengah rintikan hujan salju. Yixing mengerutkan kening menatap foto tersebut, si pemuda, ia yakin sekali kalau itu adalah Yoon Doojoon yang tengah duduk di depannya. Sedangkan gadis muda yang tersenyum ceria menatapnya itu sepertinya Yixing pernah melihatnya. Tapi, dimana? Di majalah? Koran? Televisi?

"Aku tahu siapa dia." Kata Yixing terkejut setelah beberapa saat, sebuah berita menyedihkan mampir ke memorinya dari siaran langsung televisi. Begitu juga headline koran yang sempat jadi buah bibir orang-orang dirumahnya sekitar sebulan, tidak lupa dengan ketertarikan Changsun pada gadis yang setelah dua minggu ia baru sadar kalau gadis itu adalah korban.

Korban pembunuhan tragis.

Waktu itu Yixing baru masuk kuliah. Seoul seperti diancam oleh pembunuhan tak kasat mata. Gadis itu salah satu korbannya, menurut keterangan polisi ia sempat diperkosa dan akhirnya dibunuh secara tidak manusiawi lalu mayatnya di lempar ke rel kereta api. Itu benar-benar mengerikan, Yixing masih ingat salah satu stasiun TV lupa untuk mem-blur-kan video mayat. Masih teringat jelas bagaimana tangan serta tubuh gadis itu terpisah. Tenggelam dalam pikirannya sendiri, gadis itu tak sadar Doojoon masih memandangnya lamat-lamat.

"Kau mengenalnya, Yixing?" tanyanya pelan. Yixing menatap Doojoon perlahan-lahan, bibirnya terbuka tak yakin.

"Harusnya aku yang bertanya, Professor. Anda mengenalnya?"

"Lebih dari mengenalnya, Yixing. Dia malaikat kecilku yang cantik. Bagaimana bisa aku melupakannya?" senyum Doojoon menekuk. Yixing menatap foto itu lagi, lalu memandang professornya yang masih tersenyum perih.

"Yoon Soo Young. Dia anak anda professor?" kata Yixing setelah mencoba mengingat-ingat nama gadis tersebut.

"Teman-temannya lebih suka memanggilnya Lizzy." Ucap Doojoon berbisik, ia menarik pigura itu dan membaliknya. Menatap foto itu dengan senyum hangat, sementara jemarinya mengusap kacanya pelan. "Aku hanya tak ingin kau akan berakhir sepertiku, Yixing."

Tapi, Yixing tak mengerti. Apa maksud Doojoon? Kyungsoo juga akan mati seperti anaknya begitu? Ternyata Kai adalah kekasih Lizzy yang dulu? Bagian mana yang seharusnya Yixing tak menjadi seperti Doojoon? Masih dengan beribu pertanyaan, Yixing hanya diam. Pelan-pelan merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan begitu. Saat memandang wajah Doojoon, ia bersumpah mata laki-laki itu siap mengeluarkan air mata. Namun, ketika mata mereka bertatapan, tak ada air mata yang mengalir.

"Kalau saja waktu itu.. Kalau saja waktu itu aku membiarkannya membawa mobilku. Mungkin tak akan begini jadinya." Kata Doojoon. Yixing masih khidmat mendengarkan.

"Saat itu salju turun. Pagi begitu mencekam dan aku tak ingin mengajar kuliah. Oh, omong-omong aku mengajar di Hanh. Soo Young, anakku yang manis merengek untuk membiarkannya membawa mobilku. Aku memang tak terbiasa menyetir untuk berangkat mengajar, tapi waktu itu aku benar-benar belum bisa mempercayainya membawa mobil. Saat itu yang kupikirkan adalah belum saatnya dia menyetir sendiri. Di hari-hari sebelumnya, dia selalu meyakinkanku agar aku membiarkannya. Bahwa dia adalah gadis yang tumbuh dewasa. Dia takkan melakukan hal yang bodoh. Hanya masalah menyetir saja, dia bahkan berkata bahwa hatinya telah siap!

"Tapi kejadian setahun sebelumnya masih tak terhapus. Ibu Soo Young, meninggal saat menyetir. Bannya meletus dan mobilnya oleng. Ia sempat menabrak pembatas jalan dan akhirnya jatuh ke sungai Han. Aku hanya tak ingin membuat diriku kehilangan seseorang lagi. Aku egois untuk masalah itu. Lalu hari hari dimana Soo Young beranjak dewasa, aku semakin protektif dan tak membiarkannya melakukan sesuatu yang menurutku tak perlu. Aku berusaha membuatnya berjalan seperti apa yang kupikirkan, tapi hasilnya adalah aku mendapatkan ini semua. Kalau saja.. kalau saja waktu itu aku tak egois dan percaya padanya, Yixing. Satu hal yang harus kulakukan adalah aku harus percaya padanya. Bahwa gadis itu pendengar hatinya yang baik. Aku sadar bahwa duniaku berbeda dengannya. Kami bernafas dalam dunia yang berputar namun tidak dengan hidup kami. Jalanku dan jalannya berbeda itulah kenapa aku tak bisa memaksakan peraturan jalanku padanya."

Yixing termenung. Percaya? Begitukah? Satu kata itu akan membawa Kyungsoo tidak dalam bahaya? Gadis itu menghembuskan nafas, memandang professor Doojoon yang memandangnya lekat-lekat.

"Anda ingin saya percaya pada kakakku, begitu?" tanya Yixing, tak ada jawaban dari Doojoon, "professor. Ini tak sesimpel apa yang anda pikirkan. Apa yang dipilih kakakku bukanlah jalan yang benar! Orang normal yang melihatnya juga pasti akan sadar kalau Kyungsoo terlalu sakit untuk mencintai seseorang yang tak mencintainya!"

"Untuk seseorang yang kita tak tahu kalau dia mencintai kakakmu atau tidak, Yixing," ralat Doojoon untuk kalimat terakhir, "kau tak tahu apa sikap Kai pada Kyungsoo bukan?"

"Saya mengetahuinya, professor. Saya terlalu mengetahuinya!"

"Kau mengetahuinya sebagai pihak ketiga. Kau bukan Kyungsoo ataupun Kai."

"Saya tidak mengerti professor!" tukas Yixing marah, "saya tidak mengerti. Anda menyuruh saya untuk percaya pada apapun yang kakak saya pilih namun kenyataannya apa yang Kyungsoo pilih sekarang adalah salah! Salah besar! Kyungsoo bukanlah Lizzy yang memilih sesuatu yang wajar. Saya bukanlah anda yang mengekang Kyungsoo untuk melakukan hal yang ia inginkan. Yang saya inginkan adalah Kyungsoo menjauh dari Kai dan melupakan segalanya!"

Yixing berkata berapi-api. Tentu saja, itu benar. Yixing bukanlah Doojoon manusia protektif yang melarang Soo Young untuk melakukan apa yang ia inginkan, Yixing hanya ingin satu hal dari Kyungsoo pergi dan menghilang. Yixing hanya akan menjadi super duper protektif jika Kai masih terus-terusan berada di hidup Kyungsoo. Lalu tiba-tiba professor ini menyuruhnya untuk percaya begitu saja pada Kai?

"Namun apa yang terjadi kalau kau membiarkan Kai bersama kakakmu, Yixing? Bagaimana kalau kau untuk kali ini percaya pada kakakmu?"

"Saya selalu per─"

"Kau bukan percaya." Doojoon menggeleng, menatap Yixing lebih lekat, "kau tidak peduli apa yang dilakukan Kyungsoo. Kau mungkin menyayanginya sebagai adik, tapi kau tidak peduli pada apapun pilihannya. Itu tidak dinamai percaya, Yixing, itu bernama tak peduli."

"Saya percaya pada kakak saya." Desis Yixing tak suka. Doojoon tersenyum.

"Lalu dimana kau saat ia bingung memilih makanan seafood dan daging saat pesta tahun baru? Dimana kau saat dia bimbang memilih jurusan kuliah? Dimanakah kau ketika ia berjuang untuk memilih menemui takdirnya sendiri atau mengikuti kata-kata Yifan? Dimana kau, Yixing?"

"Saya hanya membiarkan dia memilih apa yang dia suka." Kata Yixing, "saya percaya padanya pada apa yang dia inginkan!"

"Kau tahu kakakmu tidak bisa makan seafood lalu ia terpaksa memakannya dan kau bilang kau percaya padanya? Kau tahu kakakmu sebenarnya tak ingin mengambil jurusan bisnis itu dan hatimu percaya itu pilihannya? Yang paling tragis ketika ia butuh dirimu untuk bicara pada Yifan dan kau membiarkannya sendirian. Yixing, membiarkan dia memilih sendiri, tanpa ada kau, tanpa kau bicara bahwa itu baik atau tidak untuknya, tanpa kau memberitahu apa yang ada di dalam kepalamu itu bukan peduli.

"Tapi akan berbeda masalahnya kalau kau percaya padanya. Saat kau percaya bahwa bisnis bukan keinginannya kau akan ikut membantunya. Kalau kau percaya seafood itu tak baik untuknya kau akan menjaganya untuk tak makan ikan laut. Lalu sekarang? Apa yang kau lakukan? Mencegahnya melakukan sesuatu yang ia inginkan? Kali ini kau peduli padanya, tapi kau tak percaya padanya."

Yixing terdiam, lama mencerna kata-kata professor dikepala. Ia memandang tangan kekar yang ada di atas meja lalu naik ke wajah laki-laki itu. Ia membuang nafas dan bersandar kasar di kursi.

"Saya selalu percaya padanya, professor. Saya selalu percaya padanya." Kata Yixing pelan, memandang meja dengan tatapan sedih. Ia lalu memandang Doojoon, "tapi saya tak mau kehilangan Kyungsoo."

"Kalau kau terlalu menggenggam pasir itu, mereka akan lari, Yixing. Kau tahu itu."

Keheningan merajai mereka. Gadis itu menghembuskan nafas kembali dan menatap Doojoon.

"Saya tidak mengerti apa yang anda katakan Professor. Saya benar-benar tak mengerti." Katanya mengeleng pelan, "tak ada satu pun kata-kata anda kecuali 'percaya' yang bisa saya cerna disini."

"Suatu saat nanti kau akan mengerti, nak." Kata Doojoon tersenyum. Yixing menarik sudut bibirnya keatas, ini pertama kalinya Yixing tersenyum di ruangan walaupun samar.

"Saya juga tak mengerti kenapa anda begitu inginnya saya percaya pada kakak saya. Saya tak tahu. Kenapa Professor? Hanya… Kenapa?" tanya Yixing menatap Doojoon yang masih tersenyum.

"Aku sudah berkata padamu kalau aku mengenal Yifan kan?" kali ini nada bicaranya sangat ringan. Yixing awalnya tak mengerti. Namun lama-lama ia membuka mulut, mengerutkan kening dan akhirnya wajahnya jadi mengerti dan ia memejamkan mata.

"Ya. Ya, saya tahu anda mengenalnya."

"Yifan bahkan menemaniku saat putriku meninggal. Oh, Ibumu juga. Zitao." Ucap Doojoon. Yixing buru-buru membuka mata menatap Doojoon lekat-lekat.

"Anda bahkan mengenal Ibu saya." Kata Yixing sambil bertanya-tanya dalam hati kenapa dua orang itu tak pernah membahas soal professor ini. Doojoon hanya mengangguk.

"Aku mengenal Yifan lebih dari yang kau dan bahkan Ibumu pernah tahu. Itu kenapa aku duduk disini dan bicara padamu."

"Lizzy bukan alasan utama." Sergah Yixing.

Doojoon hanya tersenyum dan menggeleng. Yixing mengumpat dalam hati, "tapi aku ingin kau tahu bagaimana keadaanku sekarang. Ayahmu benar, dia tak ingin kau terjebak sepertiku."

Hening. Doojoon tahu, gadis dihadapannya masih susah payah menelan keterkejutan dan amarah dari kerongkongan menuju hatinya.

"Saat kau akan ke Kkami. Aku meminta semuanya menuliskan nomor ponsel masing-masing, bukan?" tambah Doojoon lagi, "aku tahu kau mengganti nomor ponselmu agar Yifan tak bisa menghubungimu, benar?"

Yixing menarik nafas lalu berkata, "itu hanya akal-akalan anda juga?"

"Tepat."

Ia menghembuskan nafas kasar, memejamkan mata erat dan menenangkan pikiran. Ia membuka mata lagi dan menatap Doojoon.

"Kami sudah baikan." Kata Yixing. Doojoon mengangguk senang dan berkata, 'bagus'. Yixing lagi-lagi mengatur emosinya, jantungnya berdebar semakin cepat.

"Tapi anda tak bilang kalau Kyungsoo diculik 'kan?"

"Tidak. Kau ingin aku dihajar Ayahmu? Tidak Yixing. Aku tak sepolos itu." Kata Doojoon. Yixing hanya tertawa mendengus, ia lalu berdiri. Menatap Doojoon dengan pandangan pasti.

"Lagipula. Ayahmu tetap seorang Ayah. Dia sudah menjalankan tugasnya dengan baik, bukan?" tukas Doojoon. Gadis itu hanya menghembuskan nafas pelan, hari ini kegilaannya tak berakhir. Ia sempat berpikir apakah ada diantara tiga ratus enam puluh lima harinya dalam setahun yang berjalan normal? Ia tak tahu. Yixing tak pernah tahu kalau takdir akan begitu sangat menggelikan seperti ini. Ia lalu memutuskan sesuatu.

"Baik. Saya percaya pada kakak saya. Tapi saya harus tetap menyelamatkannya, saya akan percaya kalau Kai menyelamatkannya tapi saya butuh melihat Kyungsoo. Jadi, anda punya jawabannya?" namun Doojoon tak langsung menjawab, ia tersenyum manis masih menatap Yixing.

"Tentu Yixing, tentu. Aku tak menahanmu tanpa alasan. Kakakmu ada di gedung bowling tak terpakai di ujung jalan. Kau bisa kesana."

"Terimakasih. Professor." Kata Yixing tersenyum. Ia lalu berbalik, sebelum mencapai pintu, Doojoon berkata,

"Tapi sepertinya kau harus menemui Changsun dulu. Dia tak akan suka ruangan gelap kan?"

"Tidak ada hints yang lebih baik dari pada itu?"

"Kau akan menemukannya di ruangan dimana kau membicarakan masa lalu di Kkami."

Oh iya, supirnya. Kenapa dia bisa lupa? Yixing menatap Doojoon masih tersenyum, ia mengangguk pelan tanda setuju akan menyelematkan Changsun. Gadis itu tak mau repot-repot bertanya kenapa Changsun bisa ada di ruangan gelap atau bagaimana Doojoon mengetahuinya. Yang jelas, ia hanya ingin membuat orang-orang disekitarnya aman.

"Dan.. Professor."

"Ya?"

"I'm sorry for your lost." Katanya dengan senyum sepenuh hati.

Doojoon hanya mengangguk, ia lalu mengibaskan tangannya tanda mengusir Yixing. Ajaibnya, pintu itu lalu terbuka dengan mudahnya. Yixing lalu berbalik menatap Doojoon namun laki-laki itu sibuk meminum soda di gelasnya. Yixing tahu ia kalah, dan selamanya akan kalah. Dia sudah kalah. Jadi dia hanya tertawa kecil dan keluar dari ruangan.

Yixing akhirnya mengerti. Ketika dia mencoba menghindari takdir, maka takdir akan memaksanya mengikutinya. Meskipun dengan cara sekurang ajar pun.

- Do for Kai –

Kai masih menggenggam tangan Luhan erat-erat. Ia yakin, jika ia melonggarkan pegangannya maka akan ada pin bowling akan terlempar lagi. Gadis yang terikat di udara itu juga masih merintih menahan sakit lemparan dan ikatan kuat tali di sekitar tubuhnya.

"Aku memintamu untuk memilih, Kai. Begitu susahnya kau untuk memilih dia dan ibumu?" tanya Luhan dengan suara manis, tapi Kai tahu itu benar-benar beracun. Kai menghempaskan tangan Lu kasar hingga membuat benda di genggamannya jatuh berdenting keras.

"Apa maksudmu, Xi Luhan. Kenapa kau membuatku seperti ini?" desis Kai mengancam. Ia tak tahu kenapa harus dia yang menjadi taruhan diantara kedua pilihan yang sebenarnya tak pernah mampir dalam pikirannya. Gadis berambut madu ini benar-benar mengacaukan perasaannya. Desir hangat itu kembali merayap ketika matanya secara tak sengaja bertubrukan dengan pandangan sedih Kyungsoo.

"Masih tak ingin menjawab, Kai? Baiklah. Akan ku permudah pilihanmu." Kata Luhan, ia lalu berbalik dan berteriak, "turunkan dia!"

Kyungsoo diturunkan secara kasar hingga tubuhnya berdebam tengkurap menabrak lantai, Kai mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia harus menahan diri untuk memukuli para gadis yang sedang menatap bengis pada Kyungsoo serta dirinya. Nafas Kai sebenarnya sudah tak karuan, namun ia memutuskan untuk tetap bertahan.

Bahkan Kai sendiri tak tahu kenapa dia begitu emosi ketika gadis-gadis itu melukai Kyungsoo.

"Bawa botol itu kemari." Ucap Luhan, lalu berbalik dan tersenyum bengis pada Kai. Lama menamati pandangan itu, Kai menarik satu kesimpulan.

Akhirnya ia menemukan jawaban untuk pertanyaannya sendiri. Luhan tak mau ada punya saingan di Kkami, ia hanya ingin semua berputar berpusat pada dirinya. Ia hanya ingin Kai dan Kyungsoo keluar dari sarangnya. Atau kalau tidak, Kai harus tunduk pada aturannya dan Kyungsoo harus pergi. Ugh, wanita, mereka memang setengah menyusahkan.

"Sekarang, Kai," kata Luhan manis setelah menerima sebuah botol kecil dengan menatap Kai, "atau perlu kupanggil, Jongin -ah?" tanyanya. Kai masih tak bergerak, ia menatap waspada pada Luhan. Walau sesekali mencuri lirik ke arah Kyungsoo.

"Ibumu sering sekali memanggilmu begitu ketika mabuk." Katanya. Nafas Kai sedikit tercekat, ia akan membuka mulut ketika suara Kyungsoo terdengar lagi.

"Tolong! Kumohon jangan sakiti Ibu Kai! kai! pergilah, pergilah. Aku tak apa." Pinta Kyungsoo, wajahnya basah, rambutnya panjangnya menempel di kulit Kyungsoo yang terlihat karena air mata dan keringat. Namun gadis yang membawa botol asam sulfur dan berdiri di depannya itu hanya mencibir.

"Apakah itu rencana kalian untuk kabur dariku?"

"Tidak!" Kyungsoo menjerit lagi, ia mengigit bibirnya dan menatap Kai penuh dengan lembut, "tak apa, Kai. pergi─"

"Diam!" bentak Kai. Membuat para bawahan Luhan yang sudah memenuhi ruangan dengan senjata tajam bergerak maju, "kau hanya membuatnya semakin rumit!"

Dalam hati, Kai hanya berharap bahwa gadis itu tak sebodoh yang ia pikirkan. Kyungsoo mencoba untuk duduk lalu menatap Kai.

"Aku percaya," suara Kyungsoo tercekat, wajahnya masih penuh dengan air mata namun senyum tak meninggalkan bibirnya, "aku percaya bahwa kau bukanlah seorang lelaki yang akan membiarkan Ibunya disakiti orang lain, Jongin."

Ketika panggilan itu keluar dari bibir Kyungsoo, rambatan perasaan hangat mejalar di dada Kai.

"Karena aku akan selalu percaya.. aku akan selalu percaya bahwa kau adalah orang yang baik."

"CUKUP!" jerit Luhan tak tahan lagi, "berikan apa yang gadis ini mau! Lalu singkirkan dia!" perintahnya dengan mata siap membunuh. Luhan memberikan botol asam sulfat pada salah satu gadis di sekitarnya yang lalu tersenyum mengejek pada Kai. ia membuka botolnya, terlihat asap kecil saat zat kimia itu menyentuh oksigen di udara. Kai masih membeku di tempat berdirinya.

Gadis itu akan menyiramkan isi botol pada Kyungsoo yang menutup matanya.

"Sialan!"

Kai berlari dan menendang tangan gadis tersebut. Membuat isi cairan mengenai wajah anak buah Luhan sendiri. Sementara gadis itu menjerit karena panas sudah mulai mejalar, seluruh gadis preman di ruangan mulai menyerang Kai. Luhan tak tinggal diam, melihat Kai yang sudah mulai menunjukkan taringnya, ia melempaskan tali pengikat Kyungsoo dan menjambak rambutnya. Ia memberi kode untuk beberapa gadis agar mengikutinya dan Kyungsoo yang masih ia tarik rambutnya.

Kai bukanlah pecinta wanita, itu benar. Ia tak pernah melihat wanita seperti orang kebanyakan. Lagipula sepertinya berguna untuknya sekarang, ia tak memperdulikan jika para gadis-gadis di ruangan ini menjerit kesakitan karena pukulan, tendangan atau bahkan bantingannya. Sebuah hal aneh terjadi di otaknya, alasan kenapa dia tak membiarkan gadis-gadis itu menghalangi jalannya. Dia hanya memikirkan sebuah nama dan berjanji akan membawanya pergi dari sini. Nama yang terus menghantui pikirannya tanpa sadar, menumbuhkan sebuah rasa yang baru ia sadari saat nama itu digeret pergi dari ruangan.

Do Kyungsoo.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

...

...

..

.

To Be Continued...

So.. Mind to leave comment, please?

Sorry I can't reply it one by one or if I didn't write your name. But I know all of your reviews and I'm very thankfully about it. Sooo... Please being patient for next right! :D Sekalian, Minal Aidzin, Mohon maaf lahir dan batin! :)

Thanks to :

Kaisoo ship . nissaa . LeeEunin . KaiSoo'sChild . Kim Leera . jungsssi . HaeSan . baekyeolssi . dokyungsoo21 . Lee Eunsook . fishelf . FidayDayyyy . Kyungie Jae . BertaburCinta . AbigailWoo . Kim Jongmi . cicaalamanda1 . ICE14 . Deer Panda . Uchiha Tachi'4'Sora . Kazuma B'tomat . chenma . Chris1004 . lana . BBCnindy . Brigitta Bukan Brigittiw . KaiSoo Fujoshi SNH . RaeMii . Tania3424 . MinSeulELFSparFishy . BLUEFIRE0805 .