Woheee... Sudah lama sekali saya gak update disini. Tanpa banyak bicara, silahkan dinikmati :)
By the way, di FB ada yang bilang FFN gak bisa dibuka. Memang ada apa ya? ('_'?)
Title : Do for Kai
Episode : 14
Cast :
- Do Kyungsoo (women)
- Zhang Yixing as Do Yixing (women)
Support Cast :
- Xi Luhan as Luhan(women)
- Kim Jongin as Kai/Kim Jongin (men)
- Oh Sehun as Sehun(men)
Genre :
Romantic, Family, Drama, Comedy
Rating :
T, amanlah pokoknya. Kecuali Kai sudah mulai beraksi, itu bisa berubah lagi.
Inspired by :
Grey's Anatomy and Ai to Makoto (for Love's Sake)
Disclaimer :
Dua film tersebut milik produser dan sutradaranya, pemainnya milik management masing-masing, tapi cerita ini milik saya, dan saya milik Tuhan.
.
.
- Do For Kai -
.
.
Kyungsoo ingat, waktu itu masih jam tiga sore dan ia memutuskan untuk pulang bersama Chanyeol karena sudah tak ada jam belajar-mengajar. Aslinya sih, memang tak pernah ada jam seperti itu di Kkami.
"Kyungsoo-sshi." Panggil Chanyeol, gadis itu hanya bergumam tanpa memalingkan wajah dari buku catatannya, "kenapa kau sebegitunya pada Kai?"
Pertanyaan retoris itu datang lagi, Kyungsoo menutup bukunya dan benar-benar memandang Chanyeol. Pemuda itu sudah tahu jawabannya, tapi masih saja, kenapa harus sampai seperti ini? Kenapa harus sampai susah-payah masuk ke kandang singa, mencoba beramah-tamah dengan orang-orang yang mungkin malah tak kenal apa itu perdamaian.
"Aku hanya ingin menyelamatkan Kai, Chanyeol." Ujar Kyungsoo sambil tersenyum singkat, ia memandang jalan lagi. Namun pemuda itu masih tak putus asa.
"Kenapa tidak biarkan saja dia? Kau tahu, kau pasti tahu dengan pasti kalau Kai memang tak bisa dan tak peduli bahwa dirinya hidup atau mati. Kenapa kau harus seperti ini?" pemuda itu bertanya khawatir. Jawaban Kyungsoo di ruangan rektor beberapa saat yang lalu masih diingatnya.
"Karena aku mencintai Kim Jongin, Chanyeol-sshi." Kyungsoo tersenyum di akhir kalimatnya, terlihat manis dan tulus. Chanyeol hanya menghembuskan nafas kasar.
"Mencintai?" beo Chanyeol, ia mendengus pelan, "hanya orang bodoh yang bicara semacam itu pada seorang pembunuh."
"Panggil saja aku bodoh."
"Kyungsoo! Kau ini.. Benar-benar. Apa jangan-jangan kau punya masalah hutang piutang dengan Kai jadi kau harus mengikuti segala keinginannya begitu?" sergah Chanyeol kasar, "aku akan membayarnya Kyungsoo! Meskipun bahkan dengan nyawa, aku akan membayarnya!"
Tidak ada jawaban dari Kyungsoo, gadis itu masih tetap berjalan. Akhirnya Chanyeol berhenti dan menarik lengan Kyungsoo, membawa mereka saling bertatapan. Ia menatap sungguh-sungguh pada mata Kyungsoo, beberapa kali menghembuskan nafas grogi dan meninggalkan tanda tanya besar pada wajah Kyungsoo.
"Kyungsoo."
"Ya?"
"Aku menyukaimu. Maukah kau jadi..," Chanyeol tercekat, ini semua terlalu terburu-buru. Tidak seperti yang ia harapkan dan semua rencananya gagal berantakan. Kyungsoo menatap Chanyeol penuh tanya dengan alis yang terangkat tinggi, "..maukah kau jadi pendamping hidupku? Selama-lamanya?"
Chanyeol tiba-tiba menggenggam kedua tangan mungil Kyungsoo, gadis itu hanya terkejut melihat tangannya yang kini tergenggam oleh tangan besar milik pemuda itu dan kembali memandang wajah Chanyeol. Tak ada cengiran khas Chanyeol yang biasanya terpampang di wajah Presiden itu ketika sedang bercanda, yang ada hanya sorot mata yang tegas. Namun ia itu hanya tersenyum lalu melonggarkan eratan Chanyeol di pergelangan tangannya dan berkata lembut,
"Terimakasih telah mencintaiku, tapi, maaf Chanyeol-sshi. Aku mencintai Kim Jongin. Kau pantas mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dariku. Carilah gadis yang tak bodoh sepertiku, Chanyeol." Ucap Kyungsoo, sedangkan yang sudah ditolak masih terdiam memandang punggung kecil yang menjauhinya. Chanyeol tahu ia sudah kalah, dan bodohnya ia masih saja mencari celah untuk bisa menang.
Sebenarnya, yang pantas dipanggil bodoh itu dia, bukan Kyungsoo.
"Tapi.. Kau benar-benar tidak punya masalah hutang 'kan dengan Kai?" Chanyeol berhasil mengjear Kyungsoo, bertanya ringan seolah-olah tadi tak ada kejadian yang hampir membuatnya bunuh diri. Gadis itu hanya tertawa ringan.
"Secara material? Tidak. Namun sepertinya aku memang punya hutang padanya, Chanyeol." Ia tersenyum, tapi perih tergambar jelas di lekukan bibir itu, "aku yang membuatnya seperti itu. Aku merasa bersalah dan merasa bertanggung jawab untuknya. Kalau ada orang yang pantas untuk disalahkan, itu pasti aku. Jadi, aku memang berhak menerima semua kebencian dari Kai. Tapi aku tahu, bahwa Kai adalah orang yang baik. Maka aku akan berusaha membuatnya menjadi dia yang dulu."
Pemuda itu terdiam, apa yang telah dilakukan Kyungsoo pada Kai? Penyebab pemuda itu menjadi sebengal sekarang? Tidak mungkin, Kyungsoo tidak akan sejahat itu pada Kai 'kan? Maksudku, lihat saja wajah Kyungsoo! Akankah wanita selembut dia membuat orang menjadi setengah setan begitu?
"Hei.. Hei! Do Kyungsoo!"
Belum selesai Chanyeol tenggelam dalam keingintahuannya, seseorang memanggil Kyungsoo dengan kasar. Sontak langkah keduanya berhenti dan menatap lurus pada siapa yang berteriak barusan. Itu, Byun Baekhyun dan dua anak buahnya. Tengah menunggu dengan congkak di ujung gang dan menatap mereka tajam. Ketiganya lalu berjalan mendekat, sebenarnya Chanyeol akan mengajak Kyungsoo untuk berlari kembali, namun gadis itu hanya diam di tempat.
"Kau!" ucap Baekhyun saat sudah sampai di depan mereka, menunjuk Kyungsoo tepat di wajah, "ikut kami!" lalu menarik lengan kecil gadis itu kasar. Saat Kyungsoo memekik kecil, Chanyeol lalu menahan Baekhyun.
"Kalian mau apa? Lepaskan tangannya!" kata Chanyeol. Baekhyun memicingkan mata menatap pemuda itu lalu mendengus kecil.
"Ini bukan masalahmu, tiang listrik!"
"Meskipun bukan masalahku, tapi lepaskan lengan temanku! Kau tak boleh kasar begitu, dasar wanita!"
"Apa?! Jadi kau pikir karena aku wanita aku tak boleh melakukan hal semacam ini?!" hardik Baekhyun kasar, Kyungsoo masih meringis menahan sakit karena cengkeraman gadis itu semakin kuat, "kau lupa, tiang listrik? Aku baru saja menghajarmu tadi pagi di kelas. Mau kau kuhajar lagi sekarang?!"
Tangan Baekhyun sudah siap untuk melayang kalau Kyungsoo lalu tak berteriak, "cukup! Cukup! Bawa aku saja! Jangan sakiti Chanyeol! Baekhyun-sshi, bawa aku saja!"
Pukulannya berhenti di udara, ia memandang Kyungsoo cengiran mengejek lalu menariknya menjauh dari Chanyeol yang ditahan oleh kedua bawahannya.
"Memang itu 'kan tujuannya?" desis Baekhyun sambil berjalan kasar. Meskipun ia mencoba menarik balik Baekhyun agar berjalan lebih pelan, tetap saja tak bisa.
Saat sampai di sebuah belokan, Baekhyun berbalik menghadapnya dan mengeluarkan sapu tangan dari kantung rok. Kyungsoo mengerutkan kening dan akan bertanya apa yang terjadi namun tak sempat karena semuanya tiba-tiba menjadi gelap.
- Do For Kai –
Lintasan memori yang lalu terulang di kepala Kyungsoo, ia seperti bermimpi. Tidak, dia memang sedang bermimpi. Waktu itu Desember, akan natal. Keluarganya memutuskan untuk pergi ke Villa dan menghabiskan liburan disana.
Kyungsoo terkesima melihat gundukan lembah rendah dan ingin bermain ski.
Ia lalu buru-buru ke gudang Villa, dengan dibantu pelayan, dan mengambil alat-alat ski untuk bermain. Ketika ia melewati pintu depan, Yixing, adiknya, tengah duduk dan memandang kedua orang tua mereka tengah bermain lempar-salju-peluk-aku. Ia lalu menghampirinya.
"Xingiee…" panggilnya, "ayo main ski bersamaku."
"Tidak tertarik." Jawab Yixing. Adiknya tak pernah tertarik akan sesuatu yang tidak dia sendiri akan kerjakan. Tapi, untuk kali ini Kyungsoo harus memaksa. Masa iya, Yixing harus menjadi penonton acara romantis cheesy milik orang tuanya yang sedang berlangsung? Sebagai kakak yang baik, ia harus 'menyelamatkan' Yixing.
"Xingiiee.. Ayo..," Kyungsoo mencoba menarik Yixing turun dari kursi dan hampir berhasil membuatnya menjejakkan kaki di salju sebelum akhirnya Yixing menggeleng frontal dan mendorongnya lembut ke salju. Kyungsoo menertawakan wajah terganggu adiknya. Ia lalu berteriak pada Ayah dan Ibu bahwa ia akan bermain ski di lembah yang tak jauh dari Villa.
Salahnya gadis itu, ia tak pernah mencoba bermain ski sebelumnya. Namun dia berbakat dalam olahraga, jadi, gadis berumur 8 tahun itu dengan kepercayaan diri yang tinggi akan meluncur dari atas lembah ke dataran datar. Tak akan sulit 'kan?
Tapi, kau tahu takdir selalu menjengkelkan.
Kyungsoo awalnya berhasil menuruni bukit dengan sempurna, namun di tengah perjalanan, Kyungsoo baru sadar bahwa di ujung dataran rendah banyak pohon-pohon cemara yang sudah menunggu. Gadis itu sebenarnya tidak panic, kalau saja tongkat yang dibuat untuk memperlambat laju ski tak tiba-tiba menancap di salju dan tertinggal jauh di belakangnya. Sontak ia menjerit ketakutan, pasalnya dalam garis lurus yang sempurna, ia akan menabrak sebuah pohon besar yang sepertinya tua.
"Aku tak pernah takut mati," kata Kyungsoo saat umurnya 6 tahun dan terlalu berlebihan, "namun aku hanya takut merasakan sakitnya mati."
Dalam beberapa menit, apa yang ditakutkan Kyungsoo terjadi. Tubuhnya berhantaman dengan sesuatu dan menyemburkan salju kemana-mana. Ia menunggu datangnya rasa sakit, tapi tak ada yang terjadi. Malah sepertinya ada sesuatu yang memeluknya dari depan. Kyungsoo perlahan-lahan membuka matanya dan memandang kedua orbs yang tengah memperhatikannya. Namun, Kyungsoo terkesiap, ada tetesan darah diantara kedua mata anak lelaki itu dan turun terus hingga bibirnya.
"K-kau berdarah." Ujar Kyungsoo, namun anak laki-laki itu tak bergeming, ia hanya menjawab,
"Itu karena kau, dasar bodoh."
Anak laki-laki itu menarik kasar Kyungsoo untuk berdiri, gadis itu terkesima. Ia menelusuri wajah yang baru saja ia kenal. Mengamati kulit anak laki-laki yang lebih gelap dan sorotan mata kasar darinya, saat Kyungsoo berdiri ternyata kakinya terlalu terkejut karena apa yang barusan terjadi. Ia kembali jatuh terduduk sementara anak laki-laki itu memandangnya sambil berdesis, 'menyusahkan'.
Ia lalu berjongkok di depan Kyungsoo, menghadapkan punggung padanya.
"A-apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu saja membantumu! Memang kau pikir kau akan bisa kembali ke villamu yang besar itu disana?" sergahnya dengan nada tinggi. Kyungsoo berjengit terkejut dan lalu segera naik ke gendongan anak itu.
Kelihatannya umur mereka sama tapi tubuh anak itu benar-benar sangat tinggi dari Kyungsoo. Gadis itu menyelipkan kepala antara lekuk leher penolongnya. Meskipun ia khawatir karena darah menetes pelan dari wajah anak laki-laki itu, tapi yang bisa ia lakukan hanya terdiam dan mencengkeram pundak tegap miliknya.
"Orang kaya selalu menyusahkan," desis anak laki-laki itu tiba-tiba, Kyungsoo masih diam mendengarkan, "kalau saja kalian tak begitu egois untuk mengeruk harta, maka aku takkan seperti ini!"
"Tapi kau menolongku." Potong Kyungsoo.
Keheningan terjadi, namun Kyungsoo tak bisa memandang wajah anak itu.
"Siapa namamu?" tanya anak laki-laki itu. Kyungsoo menarik senyum, paling tidak ada yang bisa dibicarakan antara dia dan penolongnya,
"Do Kyungsoo, ka─" Kyungsoo akan bertanya balik siapa nama anak laki-laki ini sebelum ia memotongnya,
"Oke, Kyungsoo. kalau begitu, rahasiakan ini seumur hidupmu. Jangan pernah ada yang tahu kalau aku menolongmu sekalipun nyamuk dalam kamar. Mengerti?"
Hening sebentar.
"Kenapa?"
"Harusnya aku tak menolongmu. Karena aku membenci kalian."
Nadanya terdengar mengancam meskipun keluar dari bibir anak kecil. Kyungsoo mengangguk cepat meskipun alasannya terdengar tak rasional menurutnya. 'Kalian' siapa yang anak laki-laki ini maksud? Kenapa harus membenci padahal sebelumnya tak pernah bertemu. Kyungsoo tenggelam dalam pikirannya dan terkejut ketika suara anak perempuan memanggil namanya keras.
Yixing memeluknya sambil menangis ketika anak laki-laki itu menurunkannya hingga jatuh terduduk di tanah bersalju, bayangan wajah Yixing menjadi buram karena air matanya akan menetes. Belum sempat ia mengucapkan terimakasih lagi pada anak laki-laki itu, ia berlari menjauhi kedua saudari yang baru bertemu lagi. Kyungsoo lalu kembali memeluk adiknya sambil menangis.
Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu, ia telah jatuh cinta.
"Yixing…," panggilnya, "Yixing, aku menyukainya, Yixing. Aku menyukai anak itu."
- Do For Kai –
Kyungsoo menjerit dan membuka mata dengan terkejut. Rasa sakit begitu hebatnya ia rasakan saat Luhan menarik rambutnya kasar dan mendorongnya jatuh berlutut di atas lantai beton yang kasar. Luhan kembali menarik rambutnya dan berteriak pada Jongin yang berdiri dengan nafas teratur dan pakaian koyak serta percikan darah dimana-mana.
"Kau ingin ibumu mati sia-sia dan gadis ini tetap hidup begitu?!" jerit Luhan tak terima. Kai menarik satu sudut bibirnya, meludahkan darah yang berkumpul di mulut.
"Tak akan ada gunanya meskipun aku menyelamatkan wanita itu," ucap Kai berdesis. Kyungsoo menatapnya terkejut, tangisnya masih menetes.
"Pergilah, Jongin! Jangan hiraukan aku! Aku tak apa, aku tak—,"
"Berhenti berkata kau tak apa gadis bodoh!" bentak Kai, ia memandang Kyungsoo dengan tajam, "kalau kau pikir aku telah menghajar semua gadis yang menghalangi langkahku menyelamatkanmu karena aku tak punya kerjaan, maka lebih baik kau mati saja! Sekali-kali, kau harus egois pada dirimu sendiri dan berpikirlah soal keselamatanmu, bodoh!"
Kyungsoo terhenyak, pemuda itu ternyata selama ini tak seapatis yang ia duga. Kyungsoo tersenyum, air matanya kini berganti alasan untuk menetes. Ia tersentuh, ia semakin jatuh cinta pada orang yang membencinya. Kai mengalihkan pandangannya pada Luhan, sambil menekan-nekan tubuhnya yang memar dan tersayat.
"Terimakasih… Kim Jongin." Bisik Kyungsoo sambil menangis menunduk. Luhan lalu melirik Kyungsoo dan menghembuskan nafas tak suka, ia berdecih membuang ludah ke arah lain.
"Sudah cukup basa-basinya," katanya, ia lalu menoleh pada segerombolan pemuda yang datang melewati pintu yang lain, bisa dipastikan mereka adalah geng Sehun karena pemuda berwajah datar itu dengan santainya melenggang ke arah mereka. Luhan menarik satu sudut bibirnya meremehkan Kai.
"Selamat menemui kematianmu, Kai."
Tawa Luhan sambil menarik Kyungsoo menjauh ke sudut, membuat amarah Kai semakin mendidih. Saat pemuda itu menyeret langkah akan menghabisi Luhan, seperti yang disangka, anggota geng Sehun sudah menariknya duluan ke barikade mereka. Meskipun terlihat seperti tak seimbang, tapi perkelahian ini bisa menghasilkan sesuatu yang menakjubkan jika mereka salah langkah.
"Jadi kita bertemu lagi ya, Kai? Untuk kali ini, aku akan menghabisimu, lagi."
Saat Sehun menunjukkan kedua telunjuknya pada Kai, teriakan amarah dari kedua belah pihak memecah keheningan malam. Kyungsoo menangis di pojok sana, tetap dengan Luhan yang menarik rambut serta pundaknya, mencegah agar tak menjadi sok pahlawan kesiangan untuk Kai.
Satu dua pukulan sudah dilayangkan kesana kemari. Tak dipungkiri karena Kai sendirian, sempat juga kepayahan melayani belasan anggota Sehunkyungsoo berulang kali berteriak untuk menghentikan perkelahian itu tapi tetap saja seperti manusia tak punya telinga mereka terus-terusan menyarangkan pukulan, sabetan pada satu sama lain.
"Pergilah ke Neraka terlebih dahulu." Begitu pesan Kai pada anak buah terakhir Sehun yang ia patahkan rusuknya, lalu tergeletak tak berdaya di samping kaki pemuda itu.
Sehun dan Kai saling berpandangan, tak butuh waktu lama hingga Kai harus berlari dan berusaha memukul Sehun. Tapi, Sehun tetap Sehun, orang yang dulu pernah menjatuhkan Kai hingga tak berdaya. Tetap saja, bahkan menyentuh kerah Sehun, Kai harus pontang panting terjerembab ke lantai. Untuk apa? Untuk apa Kai bahkan merelakan tubuhnya terbanting begitu saja ke sana?
"BERHENTI! KUMOHON! KUMOHON! JANGAN SAKITI DIA! JANGAN SAKITI Di—"
Ditengah teriakan Kyungsoo untuk memohon, meskipun ia tahu itu sia-sia, Luhan mendorong Kyungsoo ke depan dan melepaskan segala cengkeramannya. Gadis berambut madu itu memandang Kyungsoo tanpa ekspresi sedang yang dilepaskan begitu lalu menoleh pada Luhan.
"Terimakasih. Terimakasih." Ucap Kyungsoo sambil berdiri dan menunduk bagaikan Luhan baru saja memberi permen padanya. Segera tanpa banyak omong, Kyungsoo berlari menuju Sehun dan Kai, tepat saat pemuda kesayangan Kyungsoo itu sudah jatuh terlentang di hadapan Sehun. Sebelum Sehun bisa menginjak perut Kai, Kyungsoo sudah datang dan mendorong Sehun sambil berkata.
"Tolong.. Tolong. Jangan pukul dia lagi… Sakiti aku saja! Sakiti aku saja! J-jangan dia… Kumohon. Kumohon.." kata Kyungsoo, menunduk berulang kali pada Sehun yang menatapnya aneh.
Gadis itu lalu menoleh pada Kai, ia berlutut di sampingnya dan memeluk Kai yang akan berdiri lagi. Dengan beberapa perlawanan tak juga membuat Kyungsoo melepaskan pelukannya.
"Lepaskan aku, lepaskan aku!" desis Kai sambil berusaha lepas dari cengkeraman pelukan itu, namun Kyungsoo tak bergemin dan menggeleng cepat.
"Tidak, aku takkan melepaskanmu. Aku takkan melepaskanmu!" ucap Kyungsoo. Itu membuat Kai berhenti sejenak, merasakan pelukan Kyungsoo mengitari tubuhnya membuatnya berhenti dan mendengar desir darahnya lebih keras. Jantungnya berpacu bukan karena perkelahian, nafasnya menjadi tenang bukan karena ia berhenti bergerak. Kai akhirnya tahu siapa penyebab semua ketenangan yang aneh ini.
"Kenapa…" ucap Kai pelan, menatap ujung sepatu Sehun yang jauh, "kenapa harus sampai sejauh ini?"
"Karena kau adalah pahlawanku. Kau adalah pahlawanku yang takkan pernah tergantikan!" kata Kyungsoo tak terima. Ia lalu melepaskan pelukannya dan segera menghadap ke arah Luhan yang menatap mereka dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan, sambil berlutut, ia berkata,
"Kumohon…," kata Kyungsoo, entah sudah berapa kali dia berkata seperti itu, "… kumohon lepaskan dia! Aku akan mengikuti segala keinginanmu, bahkan mati sekalipun! Tapi tolong lepaskan dia…, kumohon." Katanya diantara isak.
Luhan masih tak berekspresi, dalam dadanya bergemuruh api cemburu. Kenapa? Kenapa harus banyak orang bodoh yang mengorbankan dirinya untuk cinta yang semu? Bahkan kau tak tahu bentuknya. Orang-orang semacam itu memang harus disadarkan agar ia tak merembet menjalarkan perasaan konyol pada yang lain.
"Mati?" kata Luhan, membuka bukunya. Terlihat dalam bukunya bukanlah berisi kertas-kertas layaknya buku yang lain, ada rongga besar seukuran halaman dan berisikan puluhan dart beracun, "kalau begitu, kau memang pantas mati!"
Luhan melemparkan dart itu mengincar jantung dan leher serta bagian tubuh yang lain dari Kyungsoo, tapi itu sebelum Kai duduk meringsek maju di depan Kyungsoo dan berniat menangkis dart yang sekarang malah menancap di lengan dan dua di pundaknya.
"KAI!"
"Sehun…," amarah Luhan tak terbendung saat Kai jatuh ke lantai dengan darah mulai mengalir, "habisi mereka."
Teriakan pilu itu terdengar saat Sehun dengan bahagianya berkata 'ya' dan menginjak tangan Kai.
….
…
..
.
To Be Continued…
So.. Mind to leave comment, please?
Sorry, I can't reply it one bye one or if I dodn't write your name! Tapi aku lihat semua komen yang masuk dan saya sangat berterimakasih kalian semua mau meluangkan waktu untuk membaca sekaligus meninggalkan jejak. Komen, kritik, dan saran kalian sangat berarti untuk saya J
Menurut anda, Baekhyun sama Chanyeol atau sama Daehyun aja ya? XD
Thanks to :
Riesti . younlaycious88 . ParkRiRa . Riescha . emak lay . nobidokaita . ChocoMarshmallow . Sekaremes1. KaiSoo'sChild . Uchiha Tachi'4'Sora . Setyoningt . dokyungsoo21 . KaiSoo Fujoshi SNH . Brigitta Bukan Brigittiw . Ice14 . RaeMii . chenma . asuka kiddo . Kyungie Jae . jungssi . . Lee Eunsok . Deer Panda . berlindia . welcumbaek . HaeSan . IkaIkaHun11 . Guiltievil . BLUEFIRE0805 . lee kaisoo
Thanks for your attention, see ya at next update! J
