Title : Do for Kai

Episode : 15

Cast :

- Do Kyungsoo (women)

- Zhang Yixing as Do Yixing (women)

Support Cast :

- Xi Luhan as Luhan(women)

- Kim Jongin as Kai/Kim Jongin (men)

- Oh Sehun as Sehun(men)

- Lee Changsun a.k.a Lee Joon as Lee Changsun (men)

Genre :

Romantic, Family, Drama, Comedy

Rating :

T, amanlah pokoknya. Kecuali Kai sudah mulai beraksi, itu bisa berubah lagi.

Inspired by :

Grey's Anatomy and Ai to Makoto (for Love's Sake)

Disclaimer :

Dua film tersebut milik produser dan sutradaranya, pemainnya milik management masing-masing, tapi cerita ini milik saya, dan saya milik Tuhan.

.

.

- Do For Kai -

.

.

Meskipun kakinya berteriak untuk berhenti, tapi tetap tak bisa. Karena pikirannya terlalu dipenuhi hal yang bermacam-macam. Yang Yixing pikirkan hanyalah, bagaimana ia menyelamatkan kakaknya, itu saja. Berlari dengan Changsun dari Kkami menuju ke gedung bowling itu tak mudah, lumayan jauh.

Saking tak bisa berpikirnya, Yixing melupakan kendaraan yang bisa membawa mereka lebih cepat. Mesin beroda dua milik Changsun tertinggal begitu saja di pelataran kampus. Kalau hilang, Yixing berharap tabungannya cukup untuk mengganti kerugian milik supir pribadi keluarganya itu.

Dalam pikirannya saat berlari berkecamuk banyak hal, mulai dari keanehan Kyungsoo jatuh cinta pada seseorang tak jelas bernama Kai, pertemuannya dengan Professor Doojoon yang tak menghasilkan apa-apa untuknya kecuali kata 'percaya' dan kenyataan bahwa beliau berteman dekat dengan makhluk-rambut-pirang itu. Yixing tak mengerti kenapa dunianya harus serumit itu, tidak segaris lurus tanpa ada coretan apapun seperti apa yang diingikannya.

Satu belokan terlewati. Terlihat gedung tua tak terpakai yang dikenali sebagai tempat dimana Yixing menuju. Changsun yang berlari di depan Yixing, lalu menarik gadis itu lebih dekat dengannya untuk berlari lebih cepat. Yang ditarik begitu tak menujukkan reaksi apa-apa. Namun, di belakang Changsun, dia tersenyum. Supir pribadi keluarganya yang kocak ini sangat keren rupanya.

Duh, apa yang ia pikirkan.

"Kau yakin ini tempatnya?"

Mereka berdua berhenti di depan gerbang gedung olahraga indoor itu. Besi tua yang dulunya dibentuk megah kini tinggal seonggok sampah berkarat yang berbahaya. Yixing bertanya pada Changsun yang hanya menatap gerbang itu dan mendongak ke atas. Tanpa berkata apa-apa, pemuda itu mendorong terbuka gerbang dan menghasilkan bunyi berdecit yang nyaring. Sambil terus melindungi nona di belakangnya, Changsun memandang was-was daerah sekitar ketika menginjakkan kaki masuk.

Entah hanya Yixing atau Changsun juga merasakan, hawa tiba-tiba berubah dingin dan tak menyenangkan.

Setelah melewati pekarangan yang tak terurus, barulah mereka sampai di lobi depan. Tak ada seorang pun disana, tapi itu tak menurunkan kadar kewaspadaan keduanya. Tak ada yang menarik disini kecuali dinding berlumut dan terkelupas, tanah yang masuk dimana-mana serta atap yang mengancam untuk rubuh sewaktu-waktu. Pertanyaan terbesarnya, dimanakah ada makhluk hidup disini sementara bagian depan gedung ini sudah hampir-hampir tak layak diinjak.

"Nona, nona! Kesini! Saya melihat seseorang!" tiba-tiba Changsun menarik Yixing menuju ke satu lorong. Sepertinya lorong menuju ke arena bermain bowling dan setelah mendorong sebuah pintu untuk masuk, keduanya menarik nafas terkejut. Yixing menganga dan menutupnya dengan tangan sedangkan Changsun berdiri kaku sambil melihat satu persatu orang yang tengah terbujur tak sadarkan diri di lantai.

"Ini… Astaga, nona apa mereka mati?" Changsun bertanya tapi tak berani untuk bergerak saat Yixing sudah mengambil beberapa langkah maju, ia lalu mendekati salah satu gadis yang tergeletak di lantai dan memincingkan mata untuk melihat lebih jelas siapa gadis tersebut.

Baru saja ia tahu kalau gadis ini adalah teman satu kelasnya di Kkami, tiba-tiba gadis itu membuka mata dan menjulurkan tangan untuk mencekik Yixing kalau saja tak ada Changsun yang mendorong Yixing minggir lalu menahan kedua tangan gadis itu. Karena sepertinya gadis itu tak mau bicara, dan hanya berteriak kesetanan, maka Changsun memilih menarik kedua tangan gadis itu sampai ia terangkat ke udara dan membantingnya ke lantai.

Yixing terpekik kecil, sementara gadis itu kembali pingsan. Changsun menoleh ke belakang punggungnya, dimana Yixing masih melihat begitu terkagum atau terkejut atau takut pada apa yang terjadi di ruangan ini. Puluhan gadis-gadis Kkami, sepertinya bawahan Baekhyun, atau mungkin Luhan, terkapar tak berdaya disini. Saat ia kembali menatap Changsun, pemuda itu berkata.

"Nona, sepertinya nona Kyungsoo ada di atap. Anda tunggu disini saja, biar saya yang me—"

"Tidak." Potong Yixing cepat, ia lalu mendekati Changsun hingga mendongak menatap wajah supirnya tersebut, "kau temani aku ke atas."

"Tapi bisa saja diatas banyak orang yang berbahaya, nona," kata Changsun mendekap kedua lengan Yixing dengan telapaknya, "saya tak bisa membiarkan anda dalam bahaya."

"Kyungsoo yang berada dalam bahaya, dan bukan aku," Yixing menarik satu tangan Changsun di lengannya dan berhati-hati berjalan menuju tangga karena semakin ke dalam, semakin banyak orang yang terkapar, "jadi kau dan aku, yang akan menyelematkannya."

Yixing menuntun, atau menarik Changsun mengikuti instingnya ke atas. Jangan sampai ia salah jalan karena bisa jadi malu dihadapan Changsun. Tapi Professor Doojoon ada benarnya, dia memang harus percaya, entah pada Kyungsoo atau pada dirinya sendiri. Jadi, Yixing hanya yakin satu hal jika setiap tangga pasti akan membawanya ke lantai atas. Sepanjang perjalanan makin banyak manusia yang tergeletak, atau duduk tak berdaya seperti baru dihajar. Yixing benar-benar berhati-hati melangkahi seorang gadis, atau ketika tangga itu berakhir di sebuah lantai, ia kembali terpukau karena pasti ada satu-dua orang yang bernafas lemah disana. Adakah orang yang bisa menjatuhkan puluhan gadis hingga babak belur begitu?

Ada. Yixing mengingat namanya.

"Kim Jongin…," desisnya pelan dan menambah kecepatan Yixing berjalan dan merubahnya menjadi berlari ke atap. Menaiki langsung dua-dua anak tangga, Yixing berhenti tatkala mendengar suara nyaring berteriak di atas sana.

"Nona…"

"Kyungsoo!" kata Yixing, ia melepaskan genggaman tangannya pada Changsun dan berlari ke atas. Masih ada beberapa lantai lagi yang harus di capai. Tapi sepertinya kaki Yixing tak peduli, adrenalin yang terpacu di seluruh tubuh Yixing membuatnya tak kenal lelah. Dan saat tiba di lantai paling atas, ia hampir mencapai pintu yang terbuka dan keluar dari sana kalau saja Changsun tak menariknya dan memeluk Yixing dari belakang. Pemuda itu menabrakkan punggungnya sendiri ke dinding tepat di samping pintu dengan Yixing

"Kita tak boleh gegabah, Nona." Bisiknya sambil terengah-engah tadi mengejar Yixing, namun gadis itu begitu kalut. Ia mendengar kakaknya berteriak dan itu bukan hal yang bagus, Yixing berdesis 'lepaskan aku' pada Changsun tapi supir itu tak bisa melepasnya.

"Biar saya yang periksa dulu, Nona disini saja. Oke?" ujarnya sembari melepaskan Yixing,

"Tidak!" desis Yixing sedikit keras menarik Changsun yang hampir mencapai pintu dan menatapnya lekat-lekat, "tak ada yang boleh tersakiti lagi, Changsun. Tidak. Kau harus mengajakku, dan harus selalu mengajakku!"

Pemuda itu sepertinya bimbang, mata rubahnya menatap lantai sebentar sebelum akhirnya melihat Yixing sambil berkata, "tapi nona harus mendengarkan saya dan tetap dibelakang saya, mengerti?"

Yixing hanya mengangguk ketika Changsun kembali memandang waspada pada pintu, tangannya tak melepaskan genggaman dengan telapak kecil Yixing. Dengan berhati-hati dan tubuh merunduk, ia mengintip ke luar pintu. Beberapa box kayu yang berjejer bertingkat menghalangi pandangan tepat disamping pintu, maka Changsun berdiri tegak diikuti Yixing dan berjalan pelan dengan punggung merayap ke dinding dan box kayu tersebut. Untung saja tinggi box itu cukup menutupi Changsun dan Yixing. Dari balik sana Yixing bisa mendengar suara kakaknya bercampur antara menangis dan memohon pada Luhan… tunggu, dia ada disini? Luhan?

"Changsun…," bisik Yixing, "bisa kau katakan padaku siapa saja yang ada disana? Apa disana banyak orang?"

"Tidak, tapi pemuda yang dulu pernah membuat keributan dengan Tuan Yi Fan adan disini, lalu juga ada nona dan…. Ada seorang mahasiswa dan seorang mahasiswi. Apa nona tahu mereka?" kata Changsun berhati-hati menoleh pada Yixing dan kembali mengintip adegan kekerasan yang tak jauh dari mereka.

Seperti apa yang dikatakan oleh Changsun, berarti itu adalah Luhan dan Sehun. Kenapa Luhan sangat tertarik dengan kakaknya? Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Yixing menyesal dulu tak menyarankan Kyungsoo untuk meruwat diri karena nyatanya banyak orang jahat tertarik padanya. Suara pukulan tak berhenti terdengar dari sana, dan rintihan kakaknya memohon Kai untuk berhenti di pukuli juga tak berakhir.

Suara menyakitkan itu berhenti ketika Changsun berkata pemuda yang pernah membuat keributan di rumah, Kai, diangkat tak jauh dari tempat ia berpijak ke udara oleh Sehun. Kini ganti percakapan dengan suara rendah yang terdengar. Changsun berkata Kai benar-benar kehabisan nyawa, dia bahkan tak bisa berdiri dengan benar ditempat ia berpijak tadi.

Yixing kesal sendiri. Itu sebabnya dia tak seberapa suka mendengarkan radio, dia ingin sekali melihat Kai diambang batas hidupnya. Kalau memang dia itu hidup seperti manusia.

"Kenapa? Ha? Sudah tak punya nyawa lagi? Siap mati, huh?" kata Sehun. Tapi tak ada balasan dari Kai, kata Changsun pemuda yang mengangkat tubuhnya itu mengguncang badannya sebentar dan membuat anak-anak rambut Kai yang menutupi wajah terlempar kebelakang. Sehun, dari mulut Changsun, mendekati wajah Kai tertarik akan sesuatu.

Tiba-tiba, perasaan Yixing jadi tak menentu. Ia meringsek maju dan ikut mengintip apa yang dilihat Changsun.

"Oh… Oh. Lihat… kenapa kau punya tanda menjijikkan seperti itu di kepala? Kau mengingatkanku pada…,"

Jeda sebentar, Kai masih antara sadar dan tidak.

"Moonlight mask."

.

- Do For Kai –

.

"Yonghwa! Berhenti mengganggu dan pergi dari kamarku!"

Kakaknya hanya tertawa lepas, ia lalu duduk di tempat tidur Junmyeon dan memandang belakang kepala yang tengah sibuk membolak-balik buku setebal bantal di kamarnya. Yonghwa menyandarkan punggung di headboard, masih tertarik melihat adiknya belajar keras untuk ujian akhir semester.

"Aku kan hanya bertanya soal Yixing… Kenapa kau marah sekali?" goda Yonghwa. Junmyeon yang biasanya kesabarannya tak pernah habis, atau mungkin hilang setengah karena Seungho sering membuatnya naik pitam di kampus, entah kenapa jadi ingin memukul Yonghwa pakai penggaris besi sampai berdarah kalau dia masih terus saja tanya-tanya masalahnya dengan Yixing. Sebenarnya tidak apa-apa kalau dia hanya sekedar tanya biasa, masalahnya Yonghwa terus saja bertanya,

"Jadi kapan kau dan Yixing mau pacaran?"

Pertanyaan yang dilontarkan Yonghwa barusan itu sudah kesekian kalinya. Senyuman Yonghwa mengembang tatkala akhirnya Junmyeon menoleh bengis padanya yang ada di tempat tidur. Namun kemudian Jung termuda itu menutup buku dan berjalan ke arah kakaknya lalu menjatuhkan diri di tempat kosong disamping Yonghwa. Menekuk satu kaki, Yonghwa menolehkan kepala pada si adik.

"Sebenarnya aku ingin sekali berkata seperti itu…," kata Junmyeon memandang langit-langit, berkhayal ada stiker wajah Yixing menempel disana, "tapi kalau dia menolakku bagaimana? Bagaimana kalau ternyata dia masih tak ingin menjalin hubungan? Kalau dia sibuk dengan urusannya sendiri?"

"Well, hati orang nggak ada yang tahu. Aku dan kau sama-sama tak tahu karena tak mencari tahu. Mau kuberitahu cara biar kau tidak ragu untuk mengungkapkan perasaan?" usul Yonghwa itu membuat Junmyeon lalu menaikkan tubuh untuk bersandar sama seperti Yonghwa namun tatapannya hanya ditujukan untuk si sulung tersebut.

"Apa?"

"Kau beritahu saja perasaanmu pada Yixing. Nah… Kita akan tahu bagaimana perasaannya 'kan?"

Dua-duanya terdiam, Yonghwa tersenyum lebar sementara Junmyeon menutup mata dan kembali membanting diri ke tempat tidur.

"Ada saran yang lebih berguna daripada itu tidak?" keluh Junmyeon. Harusnya sekali-kali kakaknya itu member tahu caranya bagaimana bisa mendekati dan meluluhkan hati seorang wanita. Jung Yonghwa itu terkenal flamboyan di kampusnya, kenapa barang hanya mengajari untuk mengetuk pintu hati Yixing saja dia tak bisa?

"Itu sarang paling bagus, tahu. Kalau kau tak pernah mencobanya, mana bisa kau tahu isi hati Yixing. Memang aku cenayang yang bisa lihat-lihat perasaan wanita? Tentu tidak! Yang namanya ditolak itu urusan terakhir, yang penting kau tak penasaran setengah mati dengan perasaan Yixing. Suka atau tidak 'kan bukan salahnya, bukan salahmu juga suka dengan Yixing. Jadi paling tidak kalian berdua tahu perasaan masing-masing." Omel Yonghwa panjang lebar, sambil menatap ke langit-langit seperti yang dilakukan adiknya, dia menambahkan,

"Berarti selama ini kau ngomong cinta sana-sini itu benar-benar bilang atau bagaimana?"

"Ngomong cinta kepalamu." Kata Yonghwa dan memukul wajah tampan adiknya pelan dengan bantal, dan menerima erangan dari si korban, "aku tak ngomong cinta sana-sini tahu. Yang aku bilang ke wanita yang aku suka itu memang benar! Hanya saja aku beruntung karena mereka menerimaku."

"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Junmyeon putus asa sekali lagi, "aku… Aku hanya benar-benar takut kalau tiba-tiba dia tak menyukaiku."

"Tanyakan saja." Dan Yonghwa menunjuk ponsel yang tergeletak di meja belajar. Junmyeon lalu duduk dan mengangkat satu alis memandang Yonghwa.

"Kalau tak dicoba mana tahu 'kan?"

Itu kalimat terakhir Yonghwa sebelum akhirnya dia menyelonjorkan diri lalu berbalik untuk menutup mata mencuri tidur. Junmyeon melihat ponsel dan Yonghwa bergantian, sebelum akhirnya menurunkan kaki dan melangkah untuk meraih ponsel touchscreennya. Seraya menekan nomor yang familiar di layar, kata-kata Yonghwa tadi ada benarnya juga.

Lagipula, kakaknya itu tidak selamanya memberikan nasehat yang sia-sia.

"Halo? Ah… Ya. Bibi Go? Ini aku, Junmyeon…. Ya, lama tak bertemu juga," Junmyeon tersenyum hingga menyentuh matanya, "begini… Ehm… Apa Yixing ada di rumah?"

Hening sebentar. Jemari Junmyeon yang awalnya bermain dengan pensil lalu berhenti dan wajahnya mengerut bingung. Kemudian ia berdiri setelah berkata 'terimakasih' dan cepat-cepat menutup telfon. Junmyeon meloncat ke tempat tidur dan mengguncang hebat kakaknya yang lalu terbangun terkejut.

"Kita harus ke rumah Yixing, sekarang!"

"What? Astaga, Junmyeon, simpan kobaran asmaramu itu besok pagi. Sekarang jam Sembilan malam dan aku baru saja makan malam lalu aku ingin ti—"

Yonghwa tak pernah tahu kalau adiknya yang kecil dan pendek ini bisa menggeretnya hingga jatuh berguling dari atas tempat tidur yang empuk.

.

- Do For Kai –

"Kau bilang apa barusan?"

Kai menggeram, dagunya mengeras dan tatapannya tak sesayu yang tadi. Maka itu membuat Sehun terkiki mengejek dan mendekatkan wajah mereka berdua lebih dekat, mengatakan hal yang baru saja membuat Kai naik pitam secara perlahan dengan nada lebih mengejek.

"Moon. Light. Mask," desis pemuda berkulit putih susu itu, satu sudut bibirnya naik ke atas, "perlukah aku mengej—"

Sehun tak pernah menyelesaikan kalimat itu, tidak karena Kai telah membenturkan dahi mereka kuat-kuat hingga Yixing merasa mendengar suara 'krak' kecil dari aksi tersebut. Itu membuat Sehun melepaskan Kai hingga pemuda yang berkulit lebih gelap itu jatuh dan Sehun sendiri tersungkur dengan memegangi dahinya kesakitan.

"Keparat! Kubunuh kau!" sumpah Sehun dan ia menghambur ke arah Kai. Ajaibnya, Kai yang sebelumnya terlalu tak berdaya untuk berdiri, kini sudah tegak dan menyarangkan satu kepalan tangan keras ke wajah Sehun. Membuat pemuda itu terbanting kembali ke lantai tak lantas Kai berhenti menyerang, berjalan tergesa menujunya dan mencengkeram kerah Sehun, ia menunduk hingga wajah mereka sejajar lalu berkata,

"Orang-orang yang memanggilku itu akan menyesal," desisnya tapi masih terdengar.

Itu terakhir kalinya Kai berkata-kata pada Sehun, karena selanjutnya yang dia lakukan hanya memukul, menginjak, menendang Sehun yang awalnya berlaku bak seorang fghter tak terkalahkan. Namun akhirnya harus berakhir tak sadarkan diri dibawah rentetan pukulan yang Kai masih teruskan pada tubuhnya. Kai mengambil satu balok yang tak jauh darinya dan akan memukulkannya pada Sehun sebelum seseorang memeluknya dadanya dari belakang dan Yixing cukup mengenal siapa manusia tak tahu takut itu.

"S-sudah. K-Kai. Berhenti, berhenti. Sudah cukup!" Kyungsoo terisak di punggung Kai, antara menginginkan pemuda itu untuk berhenti memukuli si tubuh pingsan dan bahagia karena Kai terlihat baik-baik saja. Dalam hitungan detik, Yixing menaikkan kedua alisnya, Kai melempar balok kayu tersebut. Terlihat dia mengatur nafas dan memandang Sehun bengis dengan Kyungsoo yang masih tersedu di belakangnya.

Yixing menaikkan satu sudut bibirnya pelan ke atas, mungkin memang sudah terlambat untuk menghentikan Kyungsoo jatuh cinta terlalu dalam pada Jongin as known as Kai. Mungkin membiarkan Kyungsoo untuk melakukan apa yang dia inginkan termasuk dalam kategori karena Yixing mencintainya, ia terlalu sayang pada kakaknya. Perkataan Professor Doojoon mungkin saat di ruangan itu benar, Yixing sekarang mulai percaya kalau kakaknya punya dunianya sendiri dan Yixing, sebagai adik yang baik, harus menghargainya.

Namun pandangan mata Yixing menangkap gerakan ganjil dari seseorang yang Yixing lupa kehadirannya disana. Xi Luhan telah mengangkat tangan dengan empat dart di genggaman. Sepersekian detik Yixing seperti melayang karena dia tahu siapa yang akan menjadi 'papan sasaran'nya, setelahnya Yixing baru sadar kalau dia tengah berlari menuju Kyungsoo dan berteriak bersamaan dengan Changsun,

"NONA!"

"KYUNGSOO AWAS!"

Tapi Yixing hanya setengah jalan untuk bisa mencapai Kyungsoo, dan kenyataannya dua dart yang terlempar itu menancap di lengan Kyungsoo yang sudah melepaskan pelukannya pada Kai dan menatap Yixing terkejut, sementara lainnya tepat di lutut bagian luar dan daerah sekitar mata kakinya. Kyungsoo yang langsung ambruk ke pelukan Kai itu membuat langkah Yixing semakin cepat. Gadis Do paling muda itu jatuh terduduk di samping Kyungsoo dan mengguncang tubuh kakaknya namun berhati-hati agar tak menyenggol benda-benda yang menusuk Kyungsoo.

"Oh, oh! Pertunjukan semakin menyenangkan bukan, Do Yixing!" jerit Luhan seperti maniak. Yixing menoleh padanya dengan tatapan benci. Sementara gadis manis berambut madu itu masih tertawa seperti hampir membunuh orang itu adalah lawakan paling lucu di hidupnya.

"KALIAN SEMUA AKAN MATI! KALIAN SEMUA YANG HIDUP DALAM MIMPI AKAN MATI! AKU AKAN MEMBAWA KALIAN SEMUA DALAM KENYATAAN! KENYATAAN PEDIH YANG JUGA AKU RASAKAN! KALIAN SEMUA HARUS MERASAKANNYA!"

Luhan menjerit kesakitan dan tertawa bersamaan, sangat gila dan membuat Yixing ingin menyurungkan setrika panas dalam tenggorokannya. Tak peduli dengan Luhan bersama kegilaannya, Yixing mengambil alih Kyungsoo dari pelukan Kai agar kepala gadis yang kini diambang sadar itu tertidur diatas pangkuannya. Berkali-kali ia memanggil Kyungsoo untuk membuatnya tetap membuka mata, tapi Kyungsoo hanya melenguh sakit dan mencengkeram tangan Yixing yang mendekapnya.

"MATI KALIAN SEMUA!"

Gadis gila itu menjerit lagi, tapi kali ini mengundang perhatian Yixing karena tiba-tiba Kai berdiri dan beralih seperti memeluk Yixing dari belakang. Awalnya Yixing tak mengerti apa yang sedang ia lakukan tapi ketika cipratan darah mengenai wajahnya, barulah ia sadar Luhan telah melempar dartnya lagi. Kyungsoo memekik nama Kai pelan di pelukan Yixing, air matanya menetes lagi.

"Kai… Kai!" jerit Kyungsoo akan menggapai Kai yang sekarang berdiri dan membalikkan badan berjalan mendekati Luhan. Namun itu hanya membuat dart-dart yang menancap di tubuhnya semakin dalam. Jadi Yixing menahannya untuk pergi kemanapun, pandangan Yixing kini menoleh cemas pada orang yang baru menyelamatkannya barusan.

Kai mendekati Luhan yang kini tengah mengacungkan satu dartnya berbahaya pada Kai, tapi pemuda itu tak ambil pusing, tangannya mengayun cepat ke wajah gadis itu membuat Luhan terhuyung dan jatuh ke tanah. Tak peduli mulutnya mengeluarkan darah segar, Luhan berdiri dan berhambur pada Kai dengan berteriak. Kai juga nampaknya tak peduli, lagipula orang ini memang tak punya rasa peduli, dengan luka Luhan, kembali menghantamkan genggaman telapaknya telak di wajah perempuan tersebut. Membuat Luhan tersungkur di tanah.

"MATI, MATI!" begitu yang diteriakkan Luhan saat ia kembali bangkit untuk mencoba mencekik Kai, melemparkan buku dan dart di gengamannya. Jadi, dengan tendangan terakhir Kai di perutnya, membuat punggung Luhan berdebam keras mengenai lantai dan terlentang kehabisan tenaga.

Darah berceceran dimana-mana dan membuat Yixing yang sebelumnya tak pernah merasa mual, ingin memuntahkan apa yang ada di perutnya. Sambil terus menahan Kyungsoo yang kini lepas dari pelukan di pangkuannya, ia menatap apa yang dilakukan oleh Kai. Pemuda itu berjalan terseok mengambil dart yang tergeletak tak jauh dari Luhan. Setelahnya, berjalan dengan penuh emosi dan jatuh berlutut di samping Luhan yang kini seperti mencari nafas dan kesadarannya.

"Bukan salah siapa-siapa kalau hidupmu menjadi tak berguna dan dipenuhi kesedihan. Kalau otakmu terbuka lebar, kau tak akan terkungkung di masa yang sakit itu. Melemparkan semua yang kau rasakan pada orang lain tak akan membuat kesedihanmu terangkat. Jadi… Setelah ini…," kata Kai lalumencengkeram satu pergelangan Luhan erat-erat seperti akan menghancurkannya. Satu tangan lainnya terangkat ke udara dengan dart di tangan.

"… kau takkan bisa melemparkan apapun lagi."

Tinggal seinchi lagi, mungkin Luhan akan merasakan rasa sakit yang luar biasa di telapak tangannya. Tapi tak ada yang terjadi, tangan Kai kaku di udara. Pelukan hangat dari belakang tubuhnya lagi-lagi menghentikannya. Tepat saat Luhan menutup mata, entah mati atau pingsan, Kai menolehkan kepalanya sebatas bahu. Gadis yang awalnya bahkan tak bisa berdiri itu, Kyungsoo, sudah memeluknya lagi dan menangis.

"H-hentikan. K-Kai. S-sudah cu-cukup. Berhentilah," kata Kyungsoo. Kembali seperti apa yang terjadi tadi, Kai mengambil nafasnya untuk menenangkan diri dan melempar dartnya jauh-jauh. Ia lalu berbalik dan meraup Kyungsoo yang langsung ambruk dipelukannya. Masih menangis dan menatap wajah Kai, Kyungsoo memberanikan diri menyentuh wajah kaku yang menatapnya khawatir tersebut.

"Terimakasih… Terimakasih untuk terus melindungiku… ," dan Kyungsoo terbatuk, tak bisa menyelesaikan kalimatnya. Lalu Kai mendongak menatap Yixing yang juga sudah dibanjiri air mata, adik Kyungsoo tersebut lalu kembali berlutut disamping kakaknya dan masih menangis. Saat Kyungsoo menutup matanya pelan, Yixing menjerit dan menggoyangkan tubuh Kyungsoo.

….

..

.

To Be Continued…

Well, hahaha, sorry untuk keterlambatan updatenya. Ginger sengaja untuk kasih sambutan di akhir cerita. Tenang! Tenang! Ini belum berakhir, jadi… Maaf sekali lagi kalian harus menunggu T^T Nah, omong-omong, saya mau kasih pengunguman. Mulai hari ini, Ginger nggak akan mengupdate fanfiction dengan genre screenplays kecuali untuk 'Do for Kai'. Ginger akan ngelanjutin cerita ini sampai tamat, nah, baru deh, setelah itu kalau mau menikmati fanfiction Ginger, ada di ( .com .

Kalau mungkin ada yang mengikuti Kai-Min, atau fanfict Ginger yang lain… Nah, Ginger sudah pindah kesana. Karena awalnya kan screenplays itu sepertinya bukan untuk tokoh yang benar-benar ada ya? Fanfiction juga tidak untuk tokoh yang nyata. Hehe. Jadi, menghormati peraturan tersebut, Ginger pindah aja. Nah, akun ini setelah 'Do For Kai' selesai gak akan ditutup. Soalnya bisa jadi Ginger mau update fanfict yang juga tokohnya juga fiksi. Hahaha.

Omong-omong, tolong baca blog Ginger dan tinggalkan komentar ya! Untuk semua orang kok komentarnya! Jadi bebas! ^_^ Review anda soalnya sangat berarti. Jadi Ginger tahu mana yang kurang dan mana yang nggak. Mau ngebash? Juga boleeh! Serius! Boleh sekali ^_^ Kalau memang readers gak suka, juga silahkan tinggalkan kesan! Apapun yang kalian rasakan setelah membaca story Ginger deh, silahkan luapkan di kolom komentar di blog Ginger. Oke?

So.. Mind to leave comment, please?

fridaydayyy : Ahaha, terimakasih karena sudah mau membaca berulang kali! ^_^ Nah, karena sudah update tolong tinggalkan review lagi ya :D Terimakasih dan saranghae!

Andini taoris : Eiih… Ini nggak sekeren punya yang lain, tapi terimakasih telah meninggalkan kesan kalau story ini keren! :D Nggak papa, yang penting sudah meninggalkan review! Nggak masalah kalau telat. Hahaha. Ah, iya, apa seru pakai sudut pandang Yixing? Apa chapter depan akan lebih baik untuk kembali ke sudut pandang Yixing? XD Nah, ini sudah dilanjut. terimakasih reviewnya! Tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

berlindia : wah, memang ada versi yang laen dari film Ai to Makoto ('_'?) Ginger juga nonton Ai to Makoto versi Jepang kalau begitu. Hahaha. Oh, endingnya? Erhm… Ehm… Rahasia! Hehehe. Nah, Ginger juga gemes sama pemeran utama cewek itu! Yixing? Itu Yixingnya muncul! Hehehe. terimakasih reviewnya! Tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

Guest : terimakasih reviewnya! Tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

Luhan : Ah, Luhan! XD Maaf kamu jadi pemeran antagonis disini hahaha. Oh iya, memang banyak oyang suka sama SuLay, well, Ginger juga. Hahaha. Ini sudah dilanjutkan! :D terimakasih reviewnya! Tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

Sasskooooy : Terimakasih atas keseruannya! ^^ KaiSoo momen akan bertambah seiring waktu, tenang aja. Hahaha. Ini sudah dilanjutkan, dan terimakasih reviewnya! terimakasih reviewnya! Tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

Hunhan : Ooh terimakasih-terimakasih! Ini sudah dilanjutkan, jadi tolong kamu jangan kronis ya ^_^; terimakasih semangatnya! :D terimakasih reviewnya! Tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

halo : hai! Nama kamu lucu sekali. Hahaha. Yah, semacam itu… Bisa jadi hubungan timbal balik… Bisa jadi Luhan suka sama Kai… Coba kamu tanya sendiri, soalnya Ginger takut. Hahaha. Chanyeol sama Baekhyun? Ehm… Ahahaha. Okay, okay. Ini sudah dilanjutkan, terimakasih reviewnya! Tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

Ayvi EXO : Ah… Gak papa, yang penting sekarang sudah meninggalkan komentar. Hahaha. Kenapa gak sama Daehyun aja? XD Okay, okay ^^ ini sudah dilajutkan! :D terimakasih reviewnya! Tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

Guest2: ChanBaek again! Maaf, Daehyun, sepertinya semua orang lebih suka Baekhyun dengan Chanyeol XD Ini sudah dilanjutkan! terimakasih reviewnya! Tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

SangKi : Ahahaha. Tapi saya suka crack, gimana dong? Hahaha. Itu Ginger iseng aja tanya, belum tahu mau dibuat FF atau nggak. Hehe. Ini sudah update! terimakasih reviewnya! Tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

Justelf : oh! Kamu juga kece, sumpah! :D Hahaha. Nggak papa baru komentar sekarang, nggak masalah, pokoknya komen kan akhirnya ^^ seperti yang udah saya bilang, KaiSoo momen akan bertambah dengan seiringnya waktu… :D terimakasih reviewnya! Tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

Oppadeul : omg omg omg \^_^/ terimakasih reviewnya! Tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

KaiSa: kapan ya? Ehm… Nggak tahu. Hahaha. Mungkin nggak akan pernah habis karena cinta kamu juga gak akan pernah habis untuk mereka *ceilah* hahaha. Ini sudah update dan maaf sudah menunggu lama! terimakasih reviewnya! Tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

Channie : AH iya… Terimakasih sudah membaca :D Iya, jadi kakaknya Yixing, hehehe. Kita belum tahu, lihat saja nanti akhirnya bagaimana. Hehehe :D terimakasih reviewnya! Tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

Indhy : TERIMAKASIH REVIEWNYA! Hahahaha. Iya, ini sudah dilanjutkan ceritanya… Kamu juga yang baik hati dan tidak sombong tolong review lagi untuk chapter ini ya! Terimakasih dan saranghae!

Dan untuk yang lain…

Junghyema, Flowerdyo, KIMJUNMONEY, Uchiha Tachi'4'Sora. BLUEFIRE0805, Dear Panda, Kyungie Jae, , Bamoebbang, RaeMii, Chenma, Brigitta Bukan Brigittiw, Dyos, Welcumbaek, Dragonpeach, Yixingcom, HaseSan, IkaIkaHun11, heerinsslayeol, , KaiSoo Fujoshi SNH, guest, emak lay, soldyk, uwiechan92, riesti, younlaycious88, ParkRira, riescha, nobidokaita, ChocoMarshmallow, sekaremes1, KaiSoo'sChild, setyoningt, dokyungsoo21, ICE14, RaeMii, asuka kiddo, KimbujaSuho, , Lee Eunsook, Deer Panda, dll….

Maaf, gak bisa balas satu-satu, karena pasti akan lebih panjang dari storynya entar. Hahahaha.

Everyone, thanks for your attention! Please relax again and wait for the next chapter!