Title : Do for Kai

Episode : 16

Cast :

- Do Kyungsoo (women)

- Zhang Yixing as Do Yixing (women)

Support Cast :

- Xi Luhan as Luhan(women)

- Kim Jongin as Kai/Kim Jongin (men)

- Jung Yonghwa as Jung Yonghwa (men)

- Kim Junmyeon as Jung Junmyeon (men)

- Lee Changsun a.k.a Lee Joon as Lee Changsun (men)

Genre :

Romantic, Family, Drama, Comedy

Rating :

T, amanlah pokoknya. Kecuali Kai sudah mulai beraksi, itu bisa berubah lagi.

Inspired by :

Grey's Anatomy and Ai to Makoto (for Love's Sake)

Disclaimer :

Dua film tersebut milik produser dan sutradaranya, pemainnya milik management masing-masing, tapi cerita ini milik saya, dan saya milik Tuhan.

previously on Do For Kai

.

Aku dan Kyungsoo duduk sambil berpelukan, masih tetap menangis. Dan saat itu, Kyungsoo berkata di sela tangisannya,

"Yixing.. Aku menyukainya, Yixing. Aku menyukai anak itu."

.

"Hanya ada satu alasan kenapa nona cantik ini sangat ingin membantuku." Ia lalu memandang rektor Choi, dan melirik Kyungie, "karena dia sangat tergila gila padaku."

.

Yixing yang masih menolehkan kepalanya karena tamparan keras Kris di pipi kanannya. Rasanya sakit, dan panas.

.

"Ya, kau benar. Kadang kadang, bicara dengan takdir itu menjengkelkan hingga kau ingin meludahinya."

.

"Belum ada..," Luhan memeluk buku bersampul kulit tersebut erat, "..yang pernah menolakku sebelumnya."

.

"JANGAN!" teriak gadis itu teredam, dalam setengah detik kemudian ia berbalik dan merentangkan tangan seperti melindungi Kai di balik tubuhnya yang mungil dari Sehun dan Kai, "jangan sakiti Kai! Jangan berkelahi lagi!"

.

"Ayah minta maaf Ying."

.

"Sinarnya, menyilaukan ya?" Luhan masih bergumam, memandang punggung Kai yang menghilang di belokan koridor, "sayang, hati itu tak seterang tangannya."

.

"Aku percaya padamu, Jongin."

.

Sebuah tangan kasar mencengkeram lengan Luhan yang akan melemparkan pin bowling lagi. Gadis itu menoleh karena terkejut. Kedua pasang mata tengah menatapnya sengit dan buas."Hentikan," kata Kai berbahaya, "apa yang kau inginkan?"

.

"Kau bukan percaya." Doojoon menggeleng, menatap Yixing lebih lekat, "kau tidak peduli apa yang dilakukan Kyungsoo. Kau mungkin menyayanginya sebagai adik, tapi kau tidak peduli pada apapun pilihannya. Itu tidak dinamai percaya, Yixing, itu bernama tak peduli."

.

"Oke, Kyungsoo. kalau begitu, rahasiakan ini seumur hidupmu. Jangan pernah ada yang tahu kalau aku menolongmu sekalipun nyamuk dalam kamar. Mengerti?"

.

"Kita harus ke rumah Yixing, sekarang!"

.

"Terimakasih… Terimakasih untuk terus melindungiku… ," dan Kyungsoo terbatuk, tak bisa menyelesaikan kalimatnya. Lalu Kai mendongak menatap Yixing yang juga sudah dibanjiri air mata, adik Kyungsoo tersebut lalu kembali berlutut disamping kakaknya dan masih menangis. Saat Kyungsoo menutup matanya pelan, Yixing menjerit dan menggoyangkan tubuh Kyungsoo.

.

.

- Do For Kai -

.

.

Junmyeon menelfon ke rumah Yixing dengan maksud mengajaknya untuk makan siang besok, karena dia tahu Yixing akan kembali ke Hanh, lalu sekalian mengungkapkan perasaannya. Tapi semuanya berubah saat bibi Go, kepala pelayan keluarga Do, berkata dengan nada gemetar kalau kedua nona muda itu belum kembali hingga selarut ini. Sebelumnya Kyungsoo yang belum pulang lalu disusul Yixing yang lalu menyeret Changsun dengan cup ramen untuk pergi menjemput Kyungsoo. Tapi perempuan paruh baya itu mendengar jelas kalau ada kata-kata 'dalam bahaya' dan 'diculik' atau semacam itu saat nona Yixing menerima telfon di makan malam.

"Jadi kemana kita akan pergi?" kata Yonghwa menarik rem, menunggu lampu jalan berubah jadi hijau.

"Tentu saja ke rumah Yixing 'kan?" jawab Junmyeon tapi sedikit tak yakin, berulang kali menelfon Yixing tapi hanya nada sambung yang di dapatkannya. Yonghwa mendecakkan lidah dan mengusap dagunya, sekaligus khawatir tentang apa yang terjadi. Ia mendengar setengah cerita Junmyeon dan rasa kantuknya tiba-tiba menghilang. Nyonya Jung, sekaligus ibu dari kedua anak itu, begitu terkejut melihat mereka turun dari kamar terburu-buru dan menyambar kunci mobil. Sial sekali Yunho masih bertugas dan pulang sedikit larut, kalau ada Ayah mereka mungkin bisa terbantu.

"Itu akan sia-sia Junmyeon, kalau kita ke rumah Yixing, kau tahu kita tak akan dapat apa-apa. Jadi pikirkan saja, kita harus menemui dua gadis itu. Secepatnya. Sekarang." Kata Yonghwa, melirik lampu hijau lalu menurunkan rem dan memasukkan gigi setelahnya menekan pedal gas cepat, Junmyeon harus berpegangan ke pegangan pintu karena Yonghwa terlalu terburu-buru.

"Lalu kemana? Bibi Go tak punya bayangan akan kemana perginya Yixing menyusul kakaknya!" kata Junmyeon frustasi sendiri karena Yixing tak mengangkat telfonnya. Jantungnya berdegup bertalu-talu, entah kenapa bayangan wajah gadis itu berputar-putar di pikiran Junmyeon, senyumannya, segalanya.

Dia akan benar-benar menyalahkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada Yixing.

"Bagaimana dengan Kkami?" usul Yonghwa melirik Junmyeon. Adiknya menoleh penuh-penuh pada sang kakak, mengerutkan kening berpikir kembali. Kkami?

"Kenapa Kkami?"

"Kalau begitu beritahu padaku dimana tempat yang punya potensi besar menarik segala roh-roh jahat, dan segala keburukan sekaligus bisa menarik anak-anak gadis keluarga Do? Memang kau pernah lihat mereka masuk ke klub malam dan mulai bertengkar?" sergah Yonghwa, sebenarnya dia juga mulai putus asa. Itu hanya hipotesa awal, tapi dia tak punya hipotesa lainnya. Jadi sebenarnya itu bukan penarikan kesimpulan awal, itu adalah jawaban.

"Yeah, kau benar," kata Junmyeon wajahnya mulai memucat, "aku dengar memang Kyungsoo pindah ke Kkami beberapa hari yang lalu… Astaga, Yonghwa!" Junmyeon berkata dengan nada tinggi karena baru saja menarik segala titik-titik blur di pikirannya.

Tak perlu diminta, anak sulung Jung itu sudah menekan pedal gas hingga mungkin bisa menyentuh lantai mobil.

Do for Kai

Yixing masih mengguncang tubuh kakaknya, luka-luka karena dart itu mengeluarkan darah tapi tak seberapa banyak. Hanya saja lumayan banyak dart yang menusuk ditambah lagi adanya racun-racun di ujung jarum-jarum itu. Yixing lalu melemparkan pandangan tak suka pada gadis rambut madu yang tengah terbaring dan tertawa-tawa gila. Dengan segenap kesadaran hati, Yixing lalu mendongak menatap wajah yang sungguh-sungguh dia benci dan dia harap mati akhir-akhr ini, lalu berkata,

"Bisakah kau membuatnya diam?" kata Yixing.

Kai tak banyak bicara, ia juga melihat ke belakang pundaknya, gadis yang bergulung pelan sambil tertawa dan mata terpejam. Maka Kai berdiri sambil berjalan terseok untuk mengambil sebuah balok kayu ringan, ia mendatangi Luhan dan membalikkan tubuh gadis itu membuat punggung Luhan menjadi pemandangan untuk Kai.

"Kalau bisa, mati sekalian." Desis Kai sambil melayangkan sebuah pukulan telak di tengkuk Luhan.

Seperti kecoa yang harus dipukul berkali-kali hingga benar-benar tak bergerak mati, begitu juga yang dilakukan Kai. Di tengkuk, di punggung, di pinggang, kembali lagi ke punggung, berkali-kali sampai Yixing seram sendiri melihatnya. Pukulan pukulan itu benar-benar sepenuh hati, teriakan Kai tiap melayangkan balok itu terdengar keras.

"Kai, berhenti." Kata Yixing, tapi pemuda itu belum mau berhenti, maka Yixing menjerit, "BERHENTI! KAI BERHENTI!"

Maka Kai berhenti, tangannya berada di udara. Dadanya naik turun melihat gadis yang tergeletak di lantai dengan punggung baju dipenuhi bercak-bercak darah. Tak ada yang bicara, hanya dengusan nafas Kai dan lemparan balok kayu yang menghantam lantai dari tangan Kai. Hening, hingga sepertinya Yixing bisa mendengar suara angin malam tengah tertawa-tawa di telinganya.

Air mata Yixing menetes lagi ketika menunduk dan menatap wajah yang kini menutup mata di pangkuannya. Isakannya tak mau berhenti dan Changsun tak ada tanda-tanda akan menunjukkan batang hidungnya, jadi Yixing mengumpat dalam hati, padahal baru saja dia menilai sopir pribadi keluarganya yang kocak itu sangat awesome dengan segala ketangguhannya menemani Yixing sampai kemari. Beurlang kali ia mengusap wajah Kyungsoo untuk membangunkannya, tapi nihil. Kyungsoo masih bernafas tapi it uterus melemah.

Sebuah bayangan bergerak mendekati mereka, Yixing mendongak menatap wajah Kai yang dingin tanpa perasaan tengah menunduk menatapnya. Melihat noda-noda darah di pundak dan tubuhnya, Yixing tak bersuara. Meskipun dalam hati yang palint terdalam ia ingin orang ini terjun ke lantai dasar untuk meneui ajalnya, tapi barusan saja dia mengorbankan punggungnya sendiri untuk menyelamatkan Yixing.

Seorang Setan menyelamatkan manusia dari sabetan pedang Malaikat Maut. How tragic it is.

"Bawa dia ke rumah sakit." Kai akhirnya memecah keheningan dengan suaranya yang dalam, tak gemetar. Yixing menelan ludah untuk membasahi keringnya kerongkongan karena terlalu banyak menangis, tapi sebelum Yixing bisa mengucapkan sebuah kata. Kai berjalan terseok meninggalkan mereka berdua.

"Kau mau pergi kemana?!" kata Yixing. Ini bodoh tapi Yixing tak ingin sendirian disini, dia tak akan sanggup. Bahkan berdiri dan membopong Kyungsoo. Keberaniannya menguap entah kemana. Ia mengutuk rasa terkejut dalam dirinya.

Kai berhenti, menoleh sebatas pundak, "membereskan urusanku yang belum selesai."

Pemuda itu memang tak punya hati, begitu pikir Yixing, meskipun dia sudah menyelamatkan Yixing dan Kyungsoo, tetap saja dia meninggalkan kakaknya yang sekarang dengan dia yang sudah tak punya nyali apapun. Kai melanjutkan langkahnya yang bergema di lantai. Maunya, Yixing kembali berteriak pada Kai untuk tetap disini atau mungkin punya belas kasihan menolongnya membawa Kyungsoo ke rumah sakit.

"Terimakasih."

Tapi malah itu yang keluar dari bibirnya.

Ucapan itu membuat langkah kaki Kai tak terdengar sebentar. Jadi Yixing kembali mengulangi kata 'Terimakasih' tapi kali ini disela-sela tangisnya memeluk Kyungsoo yang entah sadar atau tidak. Gadis itu memeluk Kyungsoo erat-erat, seperti kejadian belasan tahun yang lalu terulang kembali dibenak Yixing. Saat Kyungsoo juga berada di pelukannya seperti ini, dengan perasaan yang kalut dan tak tenang.

Dan lalu Yixing sadar hanya ada dia dan Kyungsoo di atas atap ini. Sendirian.

- Do For Kai –

"Bisa tidak kau lebih pelan sedikit?!"

"Kalau disaat genting macam begini, biasanya orang akan lapar kecepatan."

"Iya, tapi kau sudah melanggar empat lampu merah, bodoh!"

"Kenapa? Ayah akan membebas-tilangkan kita 'kan?"

"Tapi Ayah tidak akan membebas-kecelakaan kita! Awas!"

Yonghwa langsung membanting setir ke arah kiri ketika ada seseorang tiba-tiba muncul menyebrang menuju ke kampus Kkami. Mobil sedan Hyundai silver itu berhenti sejenak dan kedua penumpang di dalamnya terengah-engah seperti telah berlari bermeter-meter jauhnya. Junmyeon menoleh pada Yonghwa yang masih mencengkeram setir dan melotot melihat ke luar jendela di hadapannya.

"Ku bunuh kau, Jung Yonghwa." Desis Junmyeon tapi tak dihiraukan oleh kakaknya tersebut. Yonghwa lalu keluar dari mobil dan segera melangkah cepat ke korban yang sekarang tengah jatuh terduduk di tengah jalan itu. Junmyeon mengikuti Yonghwa dan terperangah ketika tahu siapa yang sedang ditanya keadaannya oleh Yonghwa.

"Changsun?" kata Junmyeon sedikit bergetar. Changsun yang dipanggil lalu menoleh dan wajahnya begitu senang sekaligus was-was ketika mendapati Junmyeon juga ikut membantunya berdiri.

"Ah! Makanya saya familiar dengan wajah Anda. Anda Jung Yonghwa? Benar?" kata Changsun dan Yonghwa lalu tersenyum pasrah sambil berkata minta maaf lagi, tpai kemudian supir keluarga Do itu lalu menggelengkan kepala kecil seperti tak mengindahkan fakta yang baru ia dapat, "tak apa-apa! Saya baik-baik saja! Daripada itu, Junmyeon-ssi!"

Waktu Chansung memanggilnya, jantungnya mencelos ke dasar perut. Pemuda itu menceritakan detail awal kenapa dia disini dan sampai misi penyelamatan Kyungsoo di atas gedung bioskop tak terpakai di ujung jalan tersebut. Tak sampai hati mendengarkan hingga selesai, Junmyeon merogoh kasar saku jeansnya mengambil ponsel dan mulai memencet layar dengan jemari yang gemetar.

Kontak nama Yixing seperti disinari ribuan lampu. Terang tapi membuat resah.

"Junmyeon!" teriak Yixing dari seberang telfon setelah nada sambung pertama, dipanggil menjerit begitu anak kedua keluarga Jung tersebut menarik nafas cepat.

"Yixing?! Kau dimana? Apa kau baik-baik saja?! Yixing!"

"A-ku… Aku baik-baik saja! Tolong kemari! Kemarilah! Cepat!" diselingi dengan tangis menyesakkan dada, "Kyungsoo pingsan, tubuhnya tertancap dart beracun dan aku tak tahu harus berbuat apa! Junmyeon kemarilah… tolong!"

"Aku akan kesana, aku akan segera kesana! Tunggu aku, Yixing, tunggu aku!"

Sambungan terputus, entah kenapa, tapi sambungan telfon itu terputus. Junmyeon berteriak 'Halo' sampai akhirnya Yonghwa dan Changsun menghampirinya. Mata pemuda itu lalu mengarah terburu kepada Changsun dan ia mendekap kedua lengan orang yang hampir jadi korban tabrak lari Yonghwa tersebut.

"Di… Dimana Yixing?! Dimana dia?!" tuntut Junmyeon sedikit mengguncang tubuh Changsun, Yonghwa menyuruhnya untuk tenang sejenak.

"Aku tak bisa tenang! Dia memutuskan sambungan telfon! Ada apa disana?! Changsun beri tahu aku ada apa disana!" kali ini Junmyeon sedikit menjerit dan masih

"Nona Kyu—"

"Kenapa kau meninggalkan mereka sendirian?! KENAPA KAU MENINGGALKAN MEREKA DALAM BAHAYA?! A-apa kau mau kabur?! Kenapa?" Junmyeon lebih menuntut dan kali ini bukan hanya lengan yang di cengkeram, kedua tangannya berpindah ke kerah baju Changsun.

"Ti-tidak, bukan itu. Saya kemari… Saya kemari mencari bantuan dan mengambil motor dan…"

"Apa motormu lebih penting dari Yixing? Kau bre—"

"JUNMYEON!" dan Yonghwa mendorong Junmyeon yang akan memukul wajah Changsun, ia melemparkan dirinya sendiri untuk membarikade adiknya yang sedang kalap dilahap perasaan kalut dan ketakutan. Wajah Junmyeon yang biasanya tenang kini memerah dan dadanya naik turun karena emosi, jadi Yonghwa berulang-ulang mengatakan hal yang sama.

"Tenang! Sudah kubilang, tenang dulu! Changsun kemari untuk mencari bantuan karena bukannya tidak mungkin dia tak akan bisa lolos dari-entah-apa-yang-ada-disana! Junmyeon dinginkan kepalamu terlebih dahulu!" kata Yonghwa lalu mendorong satu langkah mundur Junmyeon. Kalau begini, Junmyeon harus mengakui kakaknya punya wibawa Ayahnya yang menakutkan.

"Changsun." Kata Yonghwa berbalik melihat Changsun yang sedikit terkejut dengan Junmyeon barusan, "maafkan dia. Dia hanya khawatir pada Yixing. Jadi begini saja, kau ambil motormu, cepat karena kita tidak punya banyak waktu dan lalu antarkan kami ke gedung tak terpakai itu. Oke?"

Diminta begitu, Changsun mengangguk dan lalu berlari memasuki halaman depan universitas Kkami. Yonghwa menghembuskan nafas dan kali ini menoleh pada Junmyeon. Pemuda itu masih menggigiti bawah bibirnya dan berulang kali mencoba menelfon Yixing meskipun tak ada respon kecuali mailbox.

"Junmyeon…,"

"Aku mengkhawatirkannya." Kata Junmyeon memunggungi Yonghwa, tapi pemuda dibelakangnya itu tahu dia sedang mencoba menahan tangis. "Aku hanya ingin memberitahunya kalau aku mencintainya tapi bukan begini caranya."

"Yeah." Yonghwa menyetujuinya, lalu matanya menyusuri jalan di depannya yang sepi dan hanya disinari lampu jalan tua yang redup.

"Ini adalah cara terburuk memberitahu kalau kau ingin mengajak seorang wanita berkencan."

- Do For Kai -

Yixing masih menangis. Telfon Junmyeon barusan putus karena ponselnya mati. Baterai dan sinyal adalah dua alasan paling konyol jika Kyungsoo tak terselamatkan disini.

Tidak. Kyungsoo akan baik-baik saja.

Jadi Yixing kembali mengguncang Kyungsoo, gadis yang kepalanya ada di pangkuannya, karena matanya akan menutup lagi. Yixing berkata padanya kalau dia tak boleh tidur dan harus tetap waspada. Kyungsoo harus bicara, bicara apapun. Pokoknya memberitahu Yixing kalau dia tak apa dan cukup kuat untuk melihat matahari besok, karena Yixing tak mau harus menghadiri pemakaman kakaknya.

"Aku hanya mau menghadiri pernikahanmu. Aku anti dengan hal-hal sedih macam begitu." Harusnya itu jadi kalimat paling lucu, tapi Yixing mengatakannya sambil menangis sesegukan. Atas nama kesopanan, Kyungsoo terkekeh sedikit diatas pangkuan adiknya tersebut.

Hening sebentar tapi Yixing tahu Kyungsoo masih selamat karena mata kakaknya tersebut mengedip lambat melihat bintang-bintang menghias langit gelap.

"Dia adalah…," awal Kyungsoo, sedikit batuk di sela kalimatnya, "kau harus tahu Yixing. Kau harus tahu."

Yixing mengerutkan kening tak mengerti apa yang dikatakan kakaknya.

"Apa?"

"Kalau Kai…," terhenti karena batuk lagi, tapi kali ini lebih keras, "adalah orang yang menyelamatkanku 14 tahun yang lalu."

Tak ada petir yang menyambar kepala Yixing, tapi anehnya bungsu keluarga Do itu sudah tahu, entarh darimana, tapi dia bisa merasakan di tulang-tulanngnya. Yixing mengeluarkan tawa mendengus, berbeda dengan Kyungsoo yang tertawa pelan.

"Kau tahu... Aku begitu mencintainya.. Hehe, pasti kau berpikir.." kembali tersela batuk, "..aku ini bodoh, iya kan?"

"Ya. Ya. Kau orang paling bodoh yang pernah ku kenal."

"Tapi aku sudah benar. Yixing. Aku menepati perkataanku sendiri kalau aku harus bersama seseorang yang aku sayang." Kyungsoo menarik nafas dalam dan menghembuskannya. "Kalau itu adalah bodoh, aku memang bodoh. Sangat amat bodoh."

Yixing kembali menangis, tapi Kyungsoo tersenyum lembut seakan tidak ada benda-benda tajam yang kini menembus kulit dan mungkin merobek pembuluh darahnya.

"..Xingie..," panggil Kyungsoo disela batuknya, dan kali ini sedikit ada darah yang keluar, "..kalau kau jadi perawat nanti.. Tolong rawat Jongin, ne?"

"T-tidak.. Aku t-tidak mau merawatnya, Kyungie." Kata Yixing dengan tangis meluber di wajahnya, suaranya bergetar, "..aku tidak mau merawatnya kalau kau tidak ada bersamaku."

"Kau.. Kan.. Adikku yang paling.." ia batuk, darah kembali keluar, tapi lalu bicaranya melembut,"..yang paling manis. Mau ya?"

Yixing menggeleng cepat lagi, kepalanya berputar dan dia memeluk Kyungsoo erat-erat ke dadanya. Meminta Kyungsoo berhenti bicara seakan-akan dia tak bisa melihatnya keesokan hari. Sudah dibilang Yixing tak mau datang ke pemakaman Kyungsoo, jadi dia tak boleh meninggalkan Yixing sendirian.

"K-kau bilang padaku kalau kau harus bersama orang yang kau sayang! Tidakkah kau menyayangiku?! Tidakkah kau ingin melakukan apa yang sudah kau lakukan pada Kai padaku?!" kata Yixing marah dalam tangisnya. Kyungsoo hanya terdiam, tapi senyumnya tak lepas.

"Kau tidak boleh egois! Kau harusnya tahu kalau aku menyayangimu! Aku tak ingin kau meninggalkanku! Kau harus tetap disini! Kau harus tetap disini bersamaku! Kau…" dan Yixing menangis keras-keras, dalam kepalanya seperti ada roler coaster dan kini isi perutnya merambat naik keatas. Gadis mendekati wajah Kyungsoo dan menempelkan kening mereka satu sama lain lalu memejamkan matanya.

"Aku mencintamu, Yixing." Ujar Kyungsoo pelan, tangannya yang kotor dan terdapat darah kering mengelus wajah Yixing, menghapus air mata yang jatuh. YIxing menggeleng seperti tak menerima fakta kalimat Kyungsoo mencintainya. Tapi kemudian, Yixing membuka matanya, melihat Kyungsoo yang juga berurai air mata, diantara debu dan percikan darah di pipi.

"Aku… Aku juga mencintaimu, unnie." Yixing menatap mata kakaknya lamat-lamat, mencoba membaca apa yang sudah dilaluinya selama ini. Tapi kelopak mata Kyungsoo perlahan-lahan menutup seperti kehangatan di pipi Yixing yang merambat menghilang. Yixing panik, matanya bergerak-gerak liar di tubuh Kyungsoo lalu mengguncangkannya.

"Kyungsoo?" panggil Yixing, masih mengguncang-guncang kakaknya, "KYUNGSOO!"

Diantara tangisnya, Yixing memanggil Kyungsoo, mencoba membuatnya sadar. Diantara paniknya, ia membaringkan Kyungsoo diatas lantai, memeriksa nadinya dan nafasnya. Tidak berpikir panjang, Yixing menumpukan kedua tangan diatas dada Kyungsoo dan mulai menekan-nekannya melakukan resusitasi sambil memanggil-manggil nama gadis yang kini tengah menutup mata itu diantara tekanan pundaknya.

"Kyungsoo. Kyungsoo. Kyungsoo! Bangun!" kata Yixing seirama dengan lengannya bergerak, kepalanya makin pusing dan Yixing sudah terbatuk-batuk karena isi perutnya seperti sudah mencapai dada. "Kau. Harus. Bangun!"

Pijatan Yixing di dada Kyungsoo itu melemah, pandangan matanya sudah kabur dan nafasnya mulai sesak. Ia mengangkat tangan dari tubuh gadis di lantai itu untuk mengatur nafas tapi ternyata makin parah. Yixing bernafas makin cepat. Entah sekarang tubuhnya yang melemah dan membuat dia berhalusinasi mendengar suara-suara di telinganya, dia tak tahu. Tapi dia dengar sesuatu, dia mendengar ada yang berteriak tapi tak tahu apa maksudnya, siapa yang diteriaki.

Yang jelas, ketika tubuh Yixing seperti melayang dan akan jatuh ke lantai, Yixing baru tahu kalau lantai di bawahnya itu tak sekeras dan sedingin apa yang dia kira.

- Do For Kai -

Wanita itu berjalan terseok, grafitasi bumi menariknya untuk langsung menghantam tanah berkerikil tapi keinginannya untuk tetap berdiri dan melangkahkan kaki sepertinya mengalahkan takdir alam. Matanya tak fokus, tak ada air mata yang keluar tapi hatinya sakit. Melewati palang pintu kereta yang mulai turun, ia tak peduli bahkan ketika kakinya tersandung dan salah satu sandal buluknya terlepas.

Toh, itu bukan hal yang harus dipedulikan kalau kau berniat untuk menabrakkan diri ke kereta api.

Ia lalu jatuh terduduk, tepat di tengah jalur kereta api. Tak ada yang dilakukan olehnya, sama sekali. Hanya duduk, dengan pose lunglai, dan menatpa batu-batu kecil yang tak jauh darisana. Lalu kemudian satu sudut bibirnya terangkat, mengeluarkan tawa sedih. Menertawakan semua kebodohan dirinya, masa lalu dia meratapi seorang lelaki yang tak akan pernah kembali pada dirinya. Semua kebohongan untuk dirinya sendiri, menguatkan diri, tapi tetap saja, mereka tak pernah menjadi nyata.

"Aku lebih baik mati." Bisiknya pelan, matanya lalu menatap kedepan, dimana kereta api akan muncul nantinya, lalu suaranya menjadi lebih lantang, "aku lebih baik mati!"

Teriak-teriakan tak sinkron keluar dari tenggorokannya, air mata akhirnya keluar lebih deras. Seperti menumpahkan semua ketidak inginannya untuk hidup lebih dari semenit mulai dari sekarang. Berkata-kata kurang ajar pada Tuhan, pada semua yang Agung, untuk mengambil nyawanya yang tak berharga, dari hidupnya, yang tak berguna.

"KAU!" ia menunjuk langit, berkata marah, "KAU! Ambil nyawaku sekarang! Kau keparat! Kenapa Kau membuatku menderita! Kenapa aku harus lahir! BUNUH AKU! Aku tak berguna! Aku lebih baik mati!"

Di akhir teriakannya, ia berhenti tiba-tiba. Seorang pemuda memeluknya erat-erat, seperti kalau ia melepasnya, wanita itu akan pecah berkeping-keping. Wanita itu sepertinya tahu apa yang membuat si pemuda memeluknya, maka dengan gerakan cepat mencoba melepaskan kuncian lengan di tubuhnya, ia menjerit lagi,

"Kau takkan bisa menghentikanku!" katanya, "kalau kau hanya mencoba menghentikanku, kau sia-sia! Pergi saja! Aku ingin mati! Aku ingin mati!"

Pemuda dengan wajah stoik dan penuh emosi tersebut lalu berdesis marah, "aku tak berniat untuk menghentikanmu."

Maka percobaan kabur dari lengan pemeluknya berhenti, wanita dengan nafas cepat itu menatap tak percaya apa yang baru dikatakan orang yang tengah memeluknya ini. Merasa diperhatikan, sang pemuda menaikkan satu sudut bibirnya, tak menggubris atau barang melirik wanita yang tengah menatapnya. Antara takjub, takut, dan mencoba menggali informasi apa yang sebenarnya anak itu katakan.

"Kalau kau bilang hidupmu menyedihkan, aku juga. Kalau kau bilang hidupmu tak berguna, aku juga." Kata si pemuda, dengan tekanan emosi di setiap kata, lalu menambahkan dengan suara pelan, "dan itu yang membuatku meninggalkan semua keindahan hidupku sebelumnya."

Jauh dari mereka, berkilo-kilo dari mereka, terdengar bunyi kereta api mendekat. Tiga titik kecil itu menjadi bukti kalau mereka sudah mendekati malaikat kematian mereka. Maka dengan tawa mendengus, eratan di tubuh wanita itu mengerat, Kim Jongin berkata,

"Sudah siap untuk mati?"

….

..

.

To Be Continued…

Omo omo... Hahaha! Hallo! Bertemu lagi dengan Gingeeer. :D Maaf atas sangat amat keterlambatan updatenyaa :) Tugas kuliah membunuh waktu (dan distraksi-distraksi lainnya :3) Tapi here, ini sudah ada nomor kelanjutannya :) Maafkan sekali lagi yaaa. Oh iya, saya nggak akan cuma update Do For Kai hanya disini, saya juga update Do FOr Kai di blog pribadi saya (udah pindah akun dari blogger ke wordpress :3) yaitu hazelgretelz-wordpress-com, tanda (-) diganti dengan titik aja :) Soalnya kalo update disini aja susaaaah. Kadang harus dibuka pakek aplikasi biar nggak diblokir. Serius, itu bikin stress -_- Daaan... Kalo sudah buka blog wordpress saya, boleh tuh tinggalkan komentar buat story yang sudah saya tulis disana :) Terimakasih! Sekalian, mungkin ada yang berminat untuk jadi berteman di akun social media yang lain, bisa dilihat di biodata di depan :) Silahkan tinggalkan komentar anda sekalian disini. Maaf kalo yang disebutin di thanks to nggak lengkap, terus nggak diblaes komennya satu-satu bukan karena sombong, tapi karena nggak ada waktu :D hehehehe. Terimakasih lagi!

So.. Mind to leave comment, please?

Special Matur Nuwun ditujukan untuk...

Aulaulya23 . latifaadlta . humaira9394 . exonderwar . kim ryeosa wardhani . 12 . ErnasTiaraa . lulufika . dyodudu . xing mae30 . KIMINRA . pssttKaiSoo . kaisoo . febri annisa . Airi Park . ffuXOXO . guardian-xing . Princess Zhang . yehetsehunnie . exo 90-94 . WeOweOHSHN . lu to the han . ggaepseong . KaisooSAN . Kim Leera . indi1004 . unicorn ajol . luhan . pororo13 . SophiaWu . oh chaca . KaiSoo Fujoshi SNH . amalia . berlindia . Uchiha Tachi'4'Sora . dragopeach . miraiocha . LeeEunin . chenma . flowerdyo . younlaycious88 . Kazuma B'tomat . KaiSa . BLUEFIRE0805 . junghyema . yoo araa . fridaydayyy . omgkaisoo . BBCnindy . andini taoris . justelf . Al . rossadilla17 . Brigitta Bukan Brigittiw . sluthunkai . Ying Mei Kim . sasskooooy . hunhan . halo .

Maaf, gak bisa balas satu-satu, karena pasti akan lebih panjang dari storynya entar. Hahahaha.

Everyone, thanks for your attention! Please relax again and wait for the next chapter!